Couples, apa ada dari anda yang menyaksikan serial drama korea “When Life Gives You Tangerines”?
Secara harfiah judul drama ini merupakan terjemahan dari frasa dalam dialek Jeju, “Pokssak Sogatsuda,” yang berarti “Kamu sudah bekerja keras.” Jika ditelaah lebih jauh, makna yang terkandung dalam judul ini sejalan dengan pepatah bahasa Inggris yang cukup populer, “When life gives you lemons, make lemonade.” Keduanya menyiratkan pesan yang sama, yaitu ketika hidup memberimu sesuatu yang mungkin asam, sulit, atau pahit, ubahlah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berarti. Namun, alih-alih lemons, drama ini memilih tangerines sebagai simbol yang lebih dekat dengan latar budaya dan geografis cerita, yaitu Pulau Jeju yang terkenal sebagai penghasil jeruk keprok terbaik di Korea Selatan.
Melalui simbol buah tangerines, drama ini menyampaikan bahwa kehidupan yang dijalani dengan ketulusan hati dan kerja keras akan membuahkan hasil. Seperti pohon jeruk yang dirawat dengan sepenuh hati akan menghasilkan buah yang manis dan menyegarkan di waktu yang tepat. Demikian pula kisah para karakter dalam drama ini, yang meski hidup dalam keterbatasan, tetap mampu menunjukkan cinta dan upaya terbaik bagi keluarga dan pernikahan mereka.
Perjalanan pernikahan Gwan-sik dan Ae-sun bukan sekadar kisah tentang sepasang suami istri yang hidup dalam kemiskinan dan berjuang untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Lebih dari itu, hubungan mereka tumbuh dari cinta yang tulus, pengorbanan yang senyap, dan keteguhan hati untuk selalu saling menjaga. Kisah mereka mengajarkan kita tentang makna cinta sejati, kesabaran, dan kesetiaan yang tidak bergantung pada kata-kata, melainkan tampak dari tindakan kecil sehari-hari. Mari bersama-sama menyelami setiap pelajaran berharga dari kisah perjalanan pernikahan Gwan-sik dan Ae-sun
1. Cinta bukan Hanya Tentang Kesempurnaan
Pernikahan bukanlah perjalanan yang selalu dipenuhi dengan kebahagiaan. Seperti hidup itu sendiri, pernikahan juga terkadang diwarnai oleh berbagai kesedihan, kesulitan, dan tantangan. Namun, fase-fase ini tidak akan terasa terlalu berat jika kita menjalaninya bersama orang yang tepat, seseorang yang bersedia mendampingi kita dalam suka maupun duka, tetap setia, dan mau berjuang bersama melewati segala rintangan. Inti dari sebuah pernikahan yang kuat bukan hanya terletak pada janji yang diucapkan di hari pernikahan atau pada peran sebagai orang tua nantinya, tapi merupakan komitmen yang terus diperbarui berkali-kali bersama pasangan. Komitmen untuk terus memilih satu sama lain, bukan hanya saat semuanya terasa mudah, menyenangkan, atau sempurna, tapi juga saat keadaan sedang terasa sulit, membosankan, atau bahkan melelahkan. Pernikahan yang berumur panjang dibangun dari setiap keputusan kecil yang konsisten, yaitu untuk tetap saling memilih di setiap waktu, tanpa lelah.
“Was our time together good? It was more than perfect. It was wonderful that I couldn’t have asked for more” – Ae-sun
2. Menemukan Seseorang yang Penuh Cinta
Sebagai seorang suami, Gwan-sik adalah sosok yang telah menetapkan standar begitu tinggi tentang bagaimana ia mencintai Ae-sun dengan segala cara terbaik yang bisa dilakukan. Gwan-sik mendapat julukan “hati baja” yang merupakan gambaran dari cinta yang penuh dedikasi, kesetiaan, dan keteguhan hatinya kepada Ae-sun. Seluruh hidupnya ia curahkan demi kebahagiaan Ae-sun dan kesejahteraan anak-anak mereka, meskipun ia harus menanggung banyak beban dan luka batin secara diam-diam. Cintanya pada Ae-sun tidak dalam bentuk kata-kata romantis, tetapi selalu tampak dalam tindakan nyata baik dalam hal-hal besar, maupun dalam hal-hal sederhana, seperti menyediakan jepit rambut untuk sang istri. Gwan-sik juga dengan tegas menegur putrinya ketika Ae-sun terluka oleh ucapan sang anak. Seperti yang kemudian diungkapkan oleh Geum-myeong (sang putri), meskipun ia menjadi “nomor satu” di hati sang ayah, ia tahu betul bahwa ibunya, Ae-sun adalah “nomor nol”, seseorang yang tak tergantikan dan selalu berada di posisi paling istimewa dalam hati Gwan-sik.
3. Masalah Keungan bukan Masalah Besar
Gwan-sik dan Ae-sun menjalani kehidupan yang penuh tantangan, terutama karena kondisi ekonomi mereka yang terbatas. Namun, di tengah kesulitan itu, mereka tidak pernah menyerah terhadap satu sama lain. Justru, kepercayaan dan keyakinan mereka terhadap pasangan menjadi kekuatan utama yang membuat mereka terus bertahan. Masalah keuangan, meskipun berat, bukanlah sesuatu yang harus meruntuhkan pernikahan, selama pasangan mampu berbagi beban dan berjuang bersama untuk bangkit. Dalam banyak kasus, tanggung jawab keuangan memang lebih banyak dipegang oleh suami. Namun, ketika suami memilih untuk memendam semua masalah keuangan seorang diri dan menyembunyikannya dari istri, beban itu bisa terasa semakin berat. Perasaan tertekan, sendirian, dan tak ada tempat bersandar bisa membuat suami menjadi mudah untuk menyalahkan keadaan, bahkan orang lain karena merasa tak ada yang mengerti dan membantu di situasi tersebut. Dalam situasi seperti ini, istri bisa menjadi tempat bagi suami untuk mencurahkan isi hati, menjadi sumber kekuatan emosional, serta menjadi rekan yang turut mencari jalan keluar. Ketika pasangan saling mendukung dalam menghadapi kesulitan, mereka tidak hanya memperkuat ikatan cinta, tetapi juga membangun fondasi pernikahan yang lebih kokoh dan tahan uji.
“I don’t mind if it’s a stuffy apartment or your parents’ spare room. You are my home, that’s enough for me.” – Ae-sun
4.Pentingnya Kesetiaan dan Kesabaran
Di sepanjang episode yang telah tayang, kita semua dapat melihat banyak bentuk kesetiaan dan kesabaran oleh Gwan-sik dan Ae-sun. Gwan-sik yang mencintai Ae-sun sejak kecil dan tak pernah berpaling, meskipun banyak hal berubah seiring waktu dan banyak hal yang dilewati mereka berdua, perasaan Gwan-sik terhadap Ae-sun tetap sama hingga akhir hayatnya. Gwan-sik tidak pernah berhenti memperjuangkan Ae-sun, kesetiaan Gwan-sik terlihat dari hal-hal sederhana, seperti menghadiahkan jepit rambut untuk Ae-sun atau mengirimkan ikan makarel saat Ae-sun kesulitan makan. Gwan-sik menunjukkan kesetiaannya, bukan hanya dalam cinta besar, tapi juga dalam perhatian kecil di setiap hari. Kesabaran dan kesetiaan Ae-sun juga tergambar dari bagaimana ia tetap memilih untuk bersama dengan Gwan-sik di setiap musim kehidupan yang keluarga mereka alami. Mereka berdua adalah sosok yang tidak sempurna dan bertolak belakang dalam kepribadian, tapi mereka selalu kembali untuk saling memilih. Ketika masalah datang, mereka tidak lari atau saling menyalahkan, melainkan berusaha bertahan, belajar, dan mencari jalan bersama.
Selama enam puluh lima tahun Gwan-sik selalu ada, setia di sisi Ae-sun. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, mereka menemukan jutaan cara untuk menunjukkan cinta yang tak terbatas hanya dalam ungkapan cinta. Cinta mereka tidak dinyatakan lewat kata-kata manis, tetapi melalui tindakan-tindakan kecil yang penuh makna, perhatian yang tulus, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan perlindungan yang konsisten.
Bersama-sama, Gwan-sik dan Ae-sun melewati berbagai musim kehidupan yang ada, baik dalam suka dan duka, terang dan gelap dengan hati serta komitmen untuk tetap saling memilih. Dalam setiap kesulitan yang datang, Gwan-sik terus membuktikan dedikasinya kepada Ae-sun, tak hanya sebagai suami, tetapi juga sebagai sahabat dalam perjalanan hidup. Keteguhan dan ketenangannya menjadi jangkar yang membantu Ae-sun tetap berdiri di saat badai kehidupan datang silih berganti.
Hubungan antara Ae-sun dan Gwan-sik menunjukkan betapa pentingnya memiliki seseorang yang selalu mendukung dan memahami kita. Sekalipun mereka tidak sempurna dan pernah melakukan kesalahan di masa lalu, Ae-sun dan Gwan-sik terus bertahan dan memperjuangkan pernikahan hingga maut memisahkan mereka. Karena pernikahan itu terlalu berharga, maka mari bersama-sama dengan pasangan, kembali mencari alasan mengapa kita memilih mengarungi perjalanan pernikahan bersama pasangan kita saat ini. Jadikan hal tersebut sebagai komitmen untuk tetap saling memilih, bahkan di tengah badai dan menjadi versi yang lebih baik lagi untuk satu sama lain.
“Whatever path we take, life is hard anyway. Be with someone you’d be happy to see each morning, so when life gives you tangerines, you wouldn’t be afraid to face the bitter, sweet, and sour mix life has to offer”
Focus on the Family Indonesia mendukung para couple melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.












