Parents, pernahkah anda melihat anak kecil yang begitu percaya diri saat tampil di depan kelas? Atau mungkin anda mengenal seorang anak yang selalu ragu dengan kemampuan dirinya?
Kedua contoh di atas merupakan bentuk nyata dari perbedaan tingkat kepercayaan diri pada anak, nyatanya rasa percaya diri adalah fondasi yang penting untuk masa depannya.
Kepercayaan diri adalah kemampuan untuk percaya pada diri sendiri dan pada kemampuan yang dimiliki (Messaoud, 2022). Orang yang percaya diri adalah mereka yang yakin akan kemampuannya dan memiliki harapan yang realistis, sekalipun harapannya tidak terwujud, mereka tetap positif dan dapat menerimanya. Maka, saat mereka dihadapi oleh kegagalan, mereka dapat menerima kesalahan dan kekurangannya tanpa merasa takut akan hal tersebut. Sedangkan, orang yang tidak percaya diri adalah mereka yang memiliki konsep diri yang negatif, juga kurang yakin akan kemampuan yang dimilikinya karena mereka seringkali bersikap menutup diri.
Kepercayaan diri adalah salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam diri seseorang. Hal ini dikarenakan rasa percaya diri dapat membuat seseorang mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya dan memungkinkan seseorang untuk mengambil risiko, serta mencoba hal-hal baru yang akan membawanya pada kesuksesan.
Setiap manusia diciptakan dengan rasa percaya diri, namun rasa percaya diri yang dimiliki berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap orang dapat hidup dengan penuh percaya diri selama mereka terus melatih dan mengembangkannya. Pada anak, kepercayaan diri dapat dikembangkan atau dirangsang melalui lingkungan keluarga (Hulukati, 2016). Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Salah satu upaya pembentukan karakter adalah dengan membangun rasa percaya diri pada anak. Pola asuh yang diberikan kepada anak dengan baik akan membuat anak merasa berharga dan percaya diri (Rahman et al., 2022).
Peran orang tua dalam membangun kepercayaan diri anak, antara lain adalah dengan menjadi pendengar yang baik bagi anak, menunjukkan respek, memberikan anak kesempatan untuk membantu, melatih kemandirian anak, memberi pujian kepada anak, membantu anak untuk lebih optimis, menumbuhkan minat dan bakat anak, mengajak anak untuk memecahkan masalah, memberi kesempatan anak untuk berkumpul dengan orang dewasa, dan mengarahkan anak untuk mempersiapkan masa depan (Rahman, 2013). Percaya diri penting untuk anak dapat beradaptasi di lingkungan baru terlebih saat anak masuk ke lingkungan sekolah, anak harus menghadapi situasi baru, seperti bertemu dengan teman dan guru baru.
Baca juga: Terlalu Sayang? Waspada Overparenting pada Anak
Adapun, anak yang memiliki kepercayaan diri yang rendah akan memiliki ciri-ciri dan perilaku antara lain (Adywibowo, 2010).
- Tidak mau mencoba hal-hal baru.
- Merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan.
- Memiliki kecenderungan menyalahkan orang lain.
- Memiliki emosi yang kaku dan disembunyikan.
- Mudah frustasi dan meremehkan bakat, serta kemampuan diri sendiri.
- Mudah dipengaruhi oleh orang lain.
Tips Membangun Kepercayaan Diri Anak
Parents, membangun kepercayaan diri pada anak-anak adalah bagian penting dalam membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tangguh dan memiliki keterampilan sosial yang baik.
1. Mengutamakan proses daripada hasil
Daripada hanya menilai hasil akhirnya, tunjukkan apresiasi kita pada usaha keras yang dilakukan anak. Pujilah setiap langkah yang mereka ambil, setiap tantangan yang mereka hadapi, dan setiap upaya yang telah mereka lakukan. Ketika kita memuji proses yang mereka lalui, mereka akan terdorong untuk terus mencoba dan belajar, terlepas dari apakah mereka berhasil atau tidak. Sebagai contoh, saat anak membuat sebuah karya seni cobalah untuk memuji pilihan gambar atau cara mereka membuat karya tersebut.
2. Mendukung kebranian mengambil risiko
Memberikan dukungan kepada anak saat mereka mencoba hal baru atau memiliki ide baru, dengan menekankan bahwa kegagalan bukanlah masalah dan merupakan bagian dari proses belajar. Dorongan ini dapat membantu mereka belajar bahwa kegagalan dapat menjadi langkah penting menuju kesuksesan. Menciptakan lingkungan yang aman dimana anak dapat menguji batas kemampuan mereka dan belajar dari kesalahan tanpa takut dikritik.
3. Orang tua Sebagai Role Model
Sebagai orang tua, penting untuk menunjukkan rasa percaya diri dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil, terutama ketika menghadapi tantangan dan kegagalan dengan penuh keteguhan. Berbagi proses berpikir kita kepada anak, dalam membuat keputusan atau menyelesaikan masalah dapat mengajarkan anak bahwa merasa ragu atau tidak yakin adalah hal yang wajar. Dengan memberi contoh nyata tentang bagaimana mengatasi kesulitan dengan sikap positif, kita dapat mengajarkan anak-anak cara menghadapi tantangan dengan percaya diri.
4. Berikan Dukungan Tanpa Syarat
Tunjukkan cinta dan dukungan tanpa syarat kepada anak kita, terlepas dari keberhasilan atau kegagalan mereka. Membiarkan mereka mengeksplorasi kemampuan dan minat mereka secara bebas dapat membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri.
5. Dorong interaksi sosial anak
Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, seperti olahraga, klub, atau teman bermain dapat membantu mereka membangun keterampilan komunikasi, memahami isyarat sosial, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berhubungan dengan orang lain. Lalu, diskusikan pengalaman mereka dengan fokus pada apa yang mereka nikmati dan pelajari saat berinteraksi dengan orang lain.
6. Mengajarkan keterampilan problem-solving
Membimbing anak untuk mengembangkan solusi mereka sendiri daripada terburu-buru ingin menyelesaikan masalah untuk mereka. Hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dan berpikir kritis anak, serta mendorong kemandirian anak. Hal ini bisa dimulai dengan meminta anak memecahkan masalah sederhana di rumah atau pekerjaan rumah, lalu mendiskusikan solusi yang memungkinkan.
7. Mendukung anak untuk mengutarakan pendapatnya
Ajak anak untuk berbagi pemikiran dan pendapat mereka tentang berbagai hal. Saat mereka menyampaikan pendapatnya, tunjukkan ketertarikan yang tulus, dan ikuti saran mereka kapan pun kita bisa untuk menunjukkan bahwa pendapat mereka dihargai.
8. Mendukung anak mencoba hal baru
Ketika anak mencoba hal-hal baru, mereka akan belajar untuk keluar dari zona nyaman mereka. Doronglah anak untuk mengeksplorasi minat dan hobi baru yang positif sebagai sarana untuk tumbuh dan mengekspresikan diri. Saat mereka mencapai hal-hal baru dari proses ini, anak akan merasa mampu dan percaya diri karena mereka telah memiliki keberanian untuk menghadapinya.
9. Biarkan anak mengalami kegagalan
Kegagalan adalah proses untuk anak dapat belajar dan mengetahui cara untuk dapat bangkit kembali. Belajar untuk berani gagal akan mengajarkan anak menjadi percaya diri menghadapi apa pun yang terjadi. Hal ini juga dapat mendorong anak-anak untuk berusaha lebih keras, yang akan sangat berguna bagi mereka saat dewasa.
10. Menerima ketidaksempurnaan
Sebagai orang dewasa, kita tahu bahwa kesempurnaan adalah hal yang tidak realistis. Penting bagi anak untuk mengetahui fakta tersebut sedini mungkin. Sampaikan kepada anak bahwa menjadi tidak sempurna adalah hal yang manusiawi.
Parents, membangun rasa percaya diri pada anak bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses. Dengan memberikan dukungan, penguatan positif, dan kesempatan untuk berkembang, kita membantu mereka mengembangkan potensi terbaik yang ada dalam diri mereka. Jadi, jangan pernah lelah untuk memberikan dukungan kepada anak, baik di saat-saat terbaik maupun terburuknya. Katakan pada anak kita, bahwa kita akan selalu mendukung dan berada di sisinya.
“Confidence isn’t about feeling good about yourself, it’s about trusting yourself no matter what you’re feeling.”
Untuk parents yang mengalami hambatan membangun kepercayaan diri anak dan ingin berkonsultasi dengan tenaga ahli, FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Adywibowo, I. P. (2010). Memperkuat Kepercayaan Diri Anak melalui Percakapan Referensial. Jurnal Pendidikan Penabur, 37
Hulukati, W. (2016, April 9). Buku Pengembangan Diri Siswa Sma. Ung Repository. https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/569/buku-pengembangan-diri-siswa-sma.html
Messaoud, H. E. B. (2022). A Review on Self-Confidence and How to Improve It. Global Journal of Human Resource Management, 10(5), 26-32.
Rahman, M. M. (2013). Peran Orang Tua Dalam Membangun Kepercayaan Diri Pada Anak Usia Dini. Edukasia Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 8(2). https://doi.org/10.21043/edukasia.v8i2.759
Sitepu, D. L., Opod, H., & Pali, C. (2016). Hubungan tingkat kepercayaan diri dengan obesitas pada siswa SMA Negeri 1 Manado. eBiomedik, 4(1).












