Bagi banyak orang tua, tantrum sering terasa seperti badai kecil yang datang tanpa peringatan. Anak yang tadinya baik-baik saja bisa tiba-tiba menangis keras, berteriak, menendang, atau melempar benda. Situasi ini kerap membuat orang tua panik, malu, atau merasa gagal mengendalikan anak. Perasaan tersebut wajar untuk muncul, namun penting untuk dipahami bahwa tantrum bukanlah tanda anak nakal, dan juga bukan bukti bahwa orang tua telah gagal.
Pada anak-anak kecil, terutama balita, tantrum adalah bagian normal dari proses perkembangan. Di usia ini, anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola emosi kuat seperti marah, kecewa, atau frustrasi. Akibatnya, tantrum muncul sebagai bentuk keterbatasan anak dalam mengekspresikan perasaannya dengan baik.
Di balik perilaku yang tampak melelahkan, anak sebenarnya sedang mempelajari keterampilan penting, seperti mengenali perasaan, belajar menunggu, mengikuti aturan, berinteraksi dengan orang lain, serta mengekspresikan diri dengan cara yang lebih tepat. Karena itu, alih-alih melihat tantrum sebagai krisis yang harus segera “dihentikan”, momen ini justru dapat menjadi kesempatan berharga untuk mendidik anak. Lalu, bagaimana parents dapat menghadapi tantrum anak?
Cara Menangani Tantrum Anak
Menangani tantrum anak tidak cukup dengan reaksi spontan atau cara instan untuk menghentikan tangisan. Parents perlu pendekatan yang terarah agar tantrum tidak hanya berhenti sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar anak. Miller (2025) membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan parents untuk menangani tantrum anak:
1. Melakukan Penilaian
Langkah awal yang perlu dilakukan parents adalah memahami apa yang memicu tantrum pada anak. Parents dapat mengamati apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah tantrum muncul. Dari pola-pola inilah parents dapat melihat situasi apa saja yang sering memicu ledakan emosi.
Sebagian besar tantrum sebenarnya cukup bisa diprediksi. Tantrum biasanya muncul saat anak diminta melakukan hal yang menuntut kontrol diri, seperti berhenti bermain, mengerjakan PR, atau bersiap tidur. Ledakan emosi ini sering kali menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami ketidaknyamanan yang belum mampu mereka atasi. Namun, jika tantrum muncul secara berlebihan atau tidak wajar, hal ini bisa menjadi sinyal adanya masalah yang perlu diperhatikan lebih lanjut, seperti pengalaman traumatis, kecemasan, kesulitan belajar, ADHD, atau tantangan perkembangan lainnya.
2. Mengelola Pemicu Tantrum
Tidak semua pemicu tantrum bisa dihilangkan, seperti kewajiban belajar atau mengerjakan PR. Namun, parents dapat mengatur pendekatan baru agar anak mau terlibat dalam aktivitas tersebut. Langkah sederhana seperti mengatur rutinitas dengan lebih jelas atau menyesuaikan tuntutan dengan kemampuan anak dapat membantu mencegah tantrum. Misalnya, jika anak kesulitan mengerjakan PR, parents dapat membuat tugas terasa lebih ringan dengan memberi waktu istirahat singkat, membagi tugas besar menjadi bagian-bagian kecil, dan memberikan dukungan di bagian yang terasa sulit bagi anak. Pendekatan ini membantu anak merasa lebih mampu menghadapi tantangan.
3. Menanggapi Tantrum
Tantrum juga bisa menjadi perilaku yang dipelajari anak. Ketika parents merasa tidak tahan menghadapi tantrum dan akhirnya mengalah, anak dapat belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, penting bagi parents untuk tidak menghentikan tantrum dengan langsung menuruti keinginan anak. Bahkan respons seperti menegur, memarahi, atau berusaha membujuk anak dapat memperkuat perilaku tantrum.
Daripada memberi perhatian pada tantrum, parents perlu mengarahkan perhatian pada perilaku yang ingin dibangun. Berikan apresiasi saat anak mulai menenangkan diri, mengikuti arahan, atau mencoba menyampaikan keinginannya dengan cara yang lebih baik. Dengan begitu, anak belajar bahwa respons yang tepat terhadap rasa frustasi akan mendapatkan perhatian positif.
Selain itu, parents sebaiknya tidak bernegosiasi dengan anak saat emosi masih memuncak. Anak yang sedang marah belum berada dalam kondisi yang siap untuk berdiskusi. Latihan bernegosiasi, menyelesaikan masalah, dan mengungkapkan perasaan sebaiknya dilakukan ketika anak sudah tenang.
4. Mencontohkan Perilaku Tenang
Parents perlu menjadi contoh dari sikap tenang dan cara berkomunikasi yang ingin diajarkan kepada anak. Ketika parents mampu menjaga emosi dan menyampaikan harapan dengan jelas, anak lebih mudah memahami apa yang diharapkan dari dirinya. Oleh karena itu, parents dapat menyampaikan arahan dengan lebih spesifik. Misalnya, menjelaskan bahwa anak diharapkan duduk dengan tenang saat makan, menjaga tangan tetap pada tempatnya, dan menggunakan kata-kata yang sopan. Parents juga dapat memberikan pujian atau hadiah saat anak berhasil melakukannya.
Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi
- Miller, C. (2025, Mei 5). How to handle tantrums and meltdowns. Child Mind Institute. https://childmind.org/article/how-to-handle-tantrums-and-meltdowns/












