Family Indonesia

Demand-Withdraw Pattern dalam Hubungan: Mengapa Satu Ingin Membahas, yang Lain Menjauh?

Demand-Withdraw Pattern dalam Hubungan

Demand-Withdraw Pattern dalam Hubungan: Mengapa Satu Ingin Membahas, yang Lain Menjauh?

Couples, pernahkah Anda merasa setiap kali ingin membicarakan sesuatu yang penting, pasangan justru terlihat menghindar? Atau sebaliknya, ketika pasangan mulai membuka topik yang serius, Anda justru ingin diam, menunda, atau menjauh dari percakapan? Situasi ini sering kali terasa membingungkan, bahkan melelahkan. Semakin satu pihak mendekat, semakin pihak lain menjauh.

Dalam banyak hubungan, dinamika ini bukan sekadar perbedaan cara berkomunikasi biasa. Ada pola interaksi tertentu yang sedang berlangsung di baliknya. Pola ini dikenal sebagai demand-withdraw pattern dalam hubungan, yaitu ketika satu pihak mendorong pembicaraan, misalnya dengan mengkritik, menuntut, atau mencari kejelasan, sementara pihak lain merespons dengan menarik diri, menghindar, atau menutup komunikasi (Eldridge et al., 2017). Pola komunikasi pasangan ini tidak jarang terjadi dan sering kali muncul tanpa disadari oleh kedua belah pihak.

Yang membuatnya sulit, pola ini bukan hanya terjadi sekali. Ia cenderung berulang dan saling memperkuat. Ketika satu pihak semakin menekan untuk membahas masalah, pasangan justru semakin menjauh. Penarikan diri tersebut sering kali membuat pihak yang lain semakin meningkatkan tuntutannya (Eldridge et al., 2017). Tanpa disadari, hubungan mulai dipenuhi oleh siklus yang sama, sementara rasa terhubung justru perlahan berkurang.

Lebih dari Sekadar “Gaya Komunikasi” Pasangan

Pola demand-withdraw bukan sekadar perbedaan kepribadian atau kebiasaan berbicara. Ini adalah pola interaksi yang terbentuk dari cara kedua pasangan merespons kebutuhan emosional masing-masing.

Dalam perspektif keterikatan (attachment), penelitian menunjukkan bahwa pasangan dapat memiliki kebutuhan kedekatan yang berbeda dalam hubungan (Millwood & Waltz, 2008). Sebagian pasangan mungkin membutuhkan lebih banyak kejelasan, kehadiran, atau respons emosional, sementara yang lain justru merasa kewalahan ketika percakapan menjadi terlalu intens atau menuntut (Millwood & Waltz, 2008).

Perbedaan kebutuhan ini dapat memunculkan ketegangan dalam hubungan. Pihak yang membutuhkan kedekatan cenderung mendorong percakapan untuk mendapatkan kepastian, sementara pihak yang merasa tertekan justru menarik diri untuk mengurangi ketegangan (Millwood & Waltz, 2008). Dalam banyak kasus, dorongan dan penarikan ini sebenarnya bukan tentang menolak pasangan, melainkan cara masing-masing individu mencoba merasa aman dalam hubungan (Millwood & Waltz, 2008).

Bagaimana Pola Demand-Withdraw Pattern Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari?

Couples, pola komunikasi ini sering muncul dalam situasi yang tampak sederhana. Misalnya, ketika satu pasangan ingin membicarakan kurangnya waktu bersama, sementara pasangan lain merasa topik tersebut terlalu berat untuk dibahas saat itu. Percakapan yang awalnya biasa bisa berubah menjadi tegang. Bukan karena topiknya, tetapi karena cara kedua pihak merespons satu sama lain.

Penelitian Papp et al. (2009) menunjukkan bahwa demand-withdraw pattern dalam konflik pasangan berkaitan dengan meningkatnya emosi negatif seperti marah dan sedih dalam interaksi pasangan. Pada saat yang sama, pola ini juga berkaitan dengan menurunnya interaksi positif, seperti dukungan, kerja sama, dan upaya mencari solusi bersama (Papp et al., 2009). Akibatnya, konflik tidak hanya menjadi lebih emosional, tetapi juga kurang produktif. Pasangan cenderung lebih sedikit melakukan problem solving dalam hubungan atau kompromi, sehingga masalah yang dibicarakan sering kali tidak benar-benar terselesaikan (Papp et al., 2009). Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuat konflik terasa berulang tanpa arah penyelesaian yang jelas.

Dampak Demand-Withdraw Pattern terhadap Hubungan

Jika pola ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya pada konflik tertentu, tetapi juga pada kualitas hubungan secara keseluruhan. Pola demand-withdraw berkaitan dengan penurunan kepuasan hubungan (Hasani-Moghadam et al., 2022). Artinya, semakin sering pasangan terjebak dalam pola ini, semakin rendah tingkat kecocokan dan kepuasan yang mereka rasakan dalam hubungan.

Hal ini bukan berarti hubungan pasti akan berakhir. Namun, pola ini dapat menjadi sinyal bahwa ada dinamika komunikasi dalam hubungan yang perlu dipahami dan diperbaiki. Tanpa kesadaran, pasangan bisa merasa semakin jauh. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak merasa dipahami.

Memahami Pola Komunikasi, Bukan Menyalahkan Pasangan

Couples, penting untuk melihat bahwa pola ini bukan tentang siapa yang “terlalu menuntut” atau siapa yang “terlalu menghindar”. Pola demand-withdraw terbentuk dari interaksi dua orang yang sama-sama berusaha memenuhi kebutuhan emosionalnya, tetapi dengan cara yang berbeda.

Di balik dorongan untuk membahas masalah, sering kali ada kebutuhan untuk didengar, dipahami, atau merasa aman. Di balik penarikan diri, sering kali ada kebutuhan untuk mengurangi tekanan, menjaga emosi tetap stabil, atau menghindari konflik yang terasa terlalu intens.

Ketika Couples mulai melihat pola ini sebagai sesuatu yang terjadi di antara keduanya, bukan sebagai kesalahan salah satu pihak, cara pandang terhadap hubungan dapat mulai berubah: dari saling menyalahkan menjadi saling memahami.

Keluar dari Siklus yang Sama

Kabar baiknya, pola komunikasi dalam hubungan ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Perubahan tidak selalu membutuhkan langkah besar, melainkan sering dimulai dari kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi dalam interaksi sehari-hari. Menurut Fay (2017), berikut langkah-langkah yang dapat membantu Couples memutus demand-withdraw pattern dalam hubungan:

1. Memetakan pola interaksi

Langkah awal adalah mengenali bagaimana pola tersebut terjadi. Couples dapat mulai dengan memperhatikan:

  • Bagaimana respons satu sama lain saling memengaruhi?
  • Dalam situasi apa masing-masing cenderung mendorong atau justru menghindar?
  • Bagaimana kecemasan berperan dalam dinamika tersebut?

Memahami pola ini membantu melihat bagaimana siklus terbentuk, sehingga perubahan menjadi lebih mungkin dilakukan.

2. Mengakui kontribusi masing-masing

Setelah pola mulai terlihat, penting bagi kedua pihak untuk menyadari bahwa masing-masing memiliki peran dalam mempertahankan siklus tersebut. Hal ini membantu melihat bahwa yang menjadi masalah bukan salah satu pihak, melainkan pola interaksi yang terjadi di antara keduanya.

3. Memilih respons yang berbeda dalam momen yang sama

Perubahan dapat dimulai ketika Couples secara sadar memilih untuk merespons dengan cara yang berbeda saat pola itu muncul. Kesadaran sederhana seperti menyadari bahwa pola yang sama sedang terulang dapat membantu Couples menghentikan respons otomatis dan mencoba pendekatan yang berbeda.

4. Mengubah cara merespons sesuai peran masing-masing

Couples dapat melakukan penyesuaian kecil:

  • Pihak yang cenderung menarik diri dapat mencoba tetap hadir dan menyampaikan pandangannya.
  • Pihak yang cenderung menuntut dapat memberi ruang atau menunda percakapan ke waktu yang lebih tepat.

Langkah-langkah ini membantu mengurangi ketegangan dan membuka kemungkinan interaksi yang lebih konstruktif.

Couples, Mungkin Ini Saatnya Bertanya:

Apakah selama ini kita benar-benar membicarakan masalah… atau justru terjebak dalam pola komunikasi yang sama?

Kadang, hubungan tidak membutuhkan solusi yang sempurna. Cukup kesadaran untuk memahami apa yang sedang terjadi di antara kita, dan mencoba merespons dengan cara yang sedikit berbeda. Karena dalam hubungan, perubahan tidak selalu datang dari percakapan besar, tetapi dari cara kita hadir dalam percakapan kecil, berulang, dan sehari-hari.

Jika Couples merasa membutuhkan ruang yang lebih aman untuk memahami dinamika hubungan, Focus on the Family Indonesia menyediakan berbagai layanan seperti Journey to Us, seminar pernikahan, konseling pasangan, serta Reconnected untuk membantu membangun kembali komunikasi yang sehat dan koneksi emosional dalam hubungan. Couples dapat menjangkau kami melalui Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Eldridge, K., Cencirulo, J., & Edwards, E. (2017). Demand-Withdraw Patterns of Communication in Couple Relationships. In J. Fitzgerald (Ed.), Foundations for Couples’ Therapy Edition (1st ed., pp. 112–122). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315678610-12

Fay, L. (2017, July 10). Caught in the Demand-Withdraw Cycle? Here’s A Guide for Getting Unstuck. Laurel Fay & Associates. https://laurelfay.com/caught-demand-withdraw-cycle-heres-guide-getting-unstuck/

Hasani-Moghadam, S., Ganji, J., Nia, H. S., Aarabi, M., & Khani, S. (2022). The prevalence and related factors with demand or withdraw couples communication pattern. Journal of Nursing and Midwifery Sciences, 9(2), 140–145. https://doi.org/10.4103/jnms.jnms_53_20

Millwood, M., & Waltz, J. (2008). Demand-Withdraw Communication in Couples: An Attachment Perspective. Journal of Couple & Relationship Therapy, 7(4), 297–320. https://doi.org/10.1080/15332690802368287

Papp, L. M., Kouros, C. D., & Cummings, E. M. (2009). Demand-Withdraw Patterns in Marital Conflict in the Home. Personal Relationships, 16(2), 285–300. https://doi.org/10.1111/j.1475-6811.2009.01223.x