Champs, pernah nggak kamu buka satu video “sebentar aja”, lalu tiba-tiba sadar sudah hampir satu jam scroll tanpa henti? Rasanya fokus kita gampang sekali berpindah dari satu hal ke hal lain: notifikasi, video pendek, chat, sampai tab tugas yang belum selesai. Ternyata, rasa sulit fokus ini bukan sekadar keluhan generasi digital, tetapi juga menjadi topik yang banyak diteliti.
Apa itu Attention Span?
Attention span adalah kemampuan seseorang mempertahankan fokus pada satu tugas atau alur pikiran dalam jangka waktu tertentu sebelum terdistraksi oleh hal lain, yang dipengaruhi oleh fungsi otak, minat terhadap aktivitas, kondisi emosional, kesehatan fisik, pengalaman hidup, lingkungan sekitar, hingga paparan stimulus digital yang terus berubah cepat (Ungvarsky, 2024).
Di kehidupan sehari-hari, otak sebenarnya terus memilah informasi mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang harus diabaikan. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa paparan smartphone dan media digital yang serba cepat dapat memengaruhi kemampuan kita mempertahankan fokus.
Kenapa Fokus Mudah Teralihkan?
Teknologi bukan otomatis “musuh” fokus. Smartphone dan media digital tetap membantu proses belajar, komunikasi, dan kualitas hidup, namun penggunaan yang berlebihan berkaitan dengan menurunnya kemampuan mempertahankan fokus dan meningkatnya distraksi (Nugroho, 2026; Siyami et al., 2022).
Siyami et al. (2022) menemukan bahwa mahasiswa dengan penggunaan ponsel yang sangat tinggi mengalami penurunan fokus dibandingkan pengguna dengan intensitas lebih rendah. Penggunaan ponsel berlebihan juga dikaitkan dengan menurunnya fokus akademik, gangguan working memory, dan perilaku yang lebih mudah terdistraksi (Siyami et al., 2022).
Hal ini terjadi karena kapasitas fokus manusia sebenarnya terbatas. Ketika beberapa aktivitas berebut sumber perhatian yang sama, sebagian sumber daya mental terserap tanpa disadari sehingga fokus untuk tugas utama menjadi berkurang (Siyami et al., 2022). Karena itu, kebiasaan mengecek notifikasi, berpindah aplikasi, atau multitasking dapat mengambil ruang fokus yang sebenarnya dibutuhkan untuk belajar atau bekerja (Siyami et al., 2022).
Konten Video di Media Sosial dan Attention Span: Apa Hubungannya?
Short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts sering menjadi sorotan dalam diskusi mengenai attention span karena karakteristiknya yang singkat, cepat, dan terus berganti. Dalam beberapa penelitian, pola konsumsi konten seperti ini mulai dikaitkan dengan tantangan dalam mempertahankan fokus. Misalnya, Aljehani et al. (2025) menemukan bahwa sebagian mahasiswa melaporkan kesulitan mempertahankan konsentrasi penuh selama perkuliahan, dengan gangguan distraksi yang cukup sering muncul, serta adanya keterkaitan antara penggunaan TikTok yang berlebihan dan penurunan fokus, meskipun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti.
Hal serupa juga terlihat pada studi tentang short-form video seperti Instagram Reels. Paparan konten yang terus-menerus dan cepat berganti ini ditemukan berkaitan dengan penurunan kemampuan mempertahankan perhatian serta performa akademik. Haliti-Sylaj dan Sadiku (2024) menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan short reels, semakin besar kemungkinan terganggunya kontrol fokus dan meningkatnya distraksi, yang pada akhirnya berhubungan dengan penurunan capaian akademik. Sejalan dengan itu, Asif dan Kazi (2024) juga menemukan bahwa intensitas penggunaan short video yang lebih tinggi cenderung diikuti dengan penurunan performa belajar, terutama pada pengguna dengan durasi konsumsi yang tinggi.
Di Indonesia, pola yang mirip juga terlihat. Nugroho (2026) menemukan bahwa semakin tinggi screen time dan durasi penggunaan TikTok, semakin besar kesulitan mahasiswa dalam mempertahankan fokus saat belajar. Konten yang cepat, padat, dan sangat menarik secara visual ini juga dikaitkan dengan kecenderungan konsumsi informasi yang lebih singkat, serta berkurangnya keterlibatan mendalam dalam aktivitas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan (Nugroho, 2026; Opara et al., 2025).
Namun, penelitian tentang media sosial dan attention span tidak sepenuhnya negatif. Dalam kondisi tertentu, short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts juga dapat mendukung perhatian visual, keterlibatan belajar, serta pembelajaran yang lebih interaktif ketika digunakan untuk konten edukatif (Opara et al., 2025; Rahma, 2025). Generasi Z cenderung lebih mudah memahami materi melalui video edukatif singkat karena formatnya yang ringkas, visual, dan mudah diulang, sesuai dengan gaya belajar mereka yang lebih visual dan cepat (Rahma, 2025). Rahma (2025) menemukan bahwa banyak siswa sering mengulang video untuk memperkuat pemahaman, serta secara tidak sengaja menemukan konten edukatif saat berselancar di media sosial, yang kemudian turut membantu proses belajar mereka. Artinya, bukan hanya aplikasinya yang berpengaruh, tetapi juga cara kita menggunakannya.
Cara Meningkatkan Fokus di Tengah Distraksi Digital
Kalau fokus terasa mudah pecah, ada beberapa strategi sederhana yang bisa Champs coba:
1. Mengurangi distraksi
Menurut Burrows (2026), mengurangi distraksi membantu fokus tetap berada pada tugas utama. Saat belajar atau bekerja, mematikan notifikasi, menjauhkan ponsel, atau membatasi akses internet yang tidak diperlukan dapat membantu menjaga fokus (Burrows, 2026).
2. Fokus pada satu tugas
Multitasking sering dianggap produktif, padahal perhatian manusia terbatas (Burrows, 2026). Karena itu, menyelesaikan satu tugas penting terlebih dahulu sebelum berpindah ke aktivitas lain dapat membantu menjaga fokus tetap stabil (Burrows, 2026).
3. Beri otak waktu istirahat
Otak dapat mengalami kelelahan setelah mempertahankan fokus dalam waktu lama. Karena itu, jeda singkat di tengah sesi belajar atau bekerja membantu otak kembali segar sebelum melanjutkan aktivitas (Burrows, 2026).
4. Tidur yang cukup
Gloria Mark, peneliti attention span dan penulis, menekankan pentingnya tidur yang cukup agar otak memulai hari dengan sumber daya kognitif yang lebih siap (Onque, 2026). Tidur berkualitas membantu otak tetap segar dan lebih siap mempertahankan fokus sepanjang hari (Onque, 2026).
5. Buat tujuan yang jelas
Tujuan yang spesifik membantu fokus lebih terarah pada apa yang ingin dicapai. Karena itu, membuat target realistis dan langkah yang jelas dapat membantu perhatian tidak mudah teralihkan (Onque, 2026).
6. Kenali waktu fokus terbaikmu
Menurut Gloria Mark, fokus manusia memiliki pola naik turun sepanjang hari (Onque, 2026). Mengenali waktu ketika kamu paling fokus dapat membantu menyusun aktivitas secara lebih efektif (Onque, 2026).
7. Biasakan membaca buku
Membaca membantu melatih working memory karena otak perlu menyimpan sekaligus menghubungkan informasi selama proses membaca berlangsung (Onque, 2026). Semakin sering membaca, semakin terlatih kemampuan otak mempertahankan fokus dalam waktu lebih lama (Onque, 2026).
8. Melatih meta-awareness
Meta-awareness berarti menyadari ke mana fokus kita bergerak ketika distraksi muncul (Onque, 2026). Saat fokus mulai teralihkan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah distraksi tersebut benar-benar perlu ditanggapi saat itu juga (Onque, 2026).
Champs, Fokus Bukan Sekadar Soal Disiplin
Mungkin kemampuan fokus kita memang hidup di tengah dunia yang jauh lebih ramai dibanding generasi sebelumnya. Fokus bukan lagi sekadar kemampuan diam dan berkonsentrasi, tetapi juga kemampuan memilih apa yang layak mendapat ruang dalam pikiran kita. Di tengah video singkat, notifikasi tanpa henti, dan kebiasaan berpindah cepat dari satu layar ke layar lain, fokus menjadi sesuatu yang perlu dirawat secara sadar.
Coba tanya pada dirimu sendiri:
Apakah aku benar-benar fokus saat belajar, atau hanya terus berpindah layar?
Berapa kali aku mengecek notifikasi saat mengerjakan tugas?
Apakah aku memberi otak waktu istirahat yang cukup?
Kapan terakhir aku melakukan sesuatu tanpa membuka aplikasi lain di saat bersamaan?
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa sulit fokus, bukan berarti kamu malas atau gagal disiplin. Bisa jadi, otakmu sedang terlalu penuh dengan distraksi yang terus berebut perhatianmu.
Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, tempat Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.
Referensi
Aljehani, D., Almaabadi, W., Alshamrani, L., Alshehri, Y., Ghamdi, R., Alzahrani, T., Alsubhi, A., Almutaani, G., Alsulami, S., & Alghamdi, W. (2025). The relationship between TikTok addiction and abnormal attention span among young adults: a cross-sectional study. International Journal of Medicine in Developing Countries, 1561–1569. https://doi.org/10.24911/ijmdc.51-1750323668
Asif, M., & Kazi, S. (2024). Examining the Influence of Short Videos on Attention Span and its Relationship with Academic Performance. International Journal of Science and Research (IJSR), 13(4), 1877–1883. https://doi.org/10.21275/sr24428105200
Burrows, S. (2026, March 7). How to Increase Attention Span. University of Rochester Medicine. https://www.urmc.rochester.edu/news/publications/health-matters/how-to-increase-attention-span#:~:text=Simple%20ways%20to%20improve%20attention,breaks%20to%20retrain%20your%20brain.
Haliti-Sylaj, T., & Sadiku, A. (2024). Impact of Short Reels on Attention Span and Academic Performance of Undergraduate Students. Eurasian Journal of Applied Linguistics, 10(3), 60–68. http://dx.doi.org/10.32601/ejal.10306
Nugroho, L. A. (2026). Structural Equation Modeling to Understand the Dynamics of Technology’s Impact on Attention Span: Indonesian Case. International Journal of Instructional Technology and Educational Studies, 7(1), 30–36. https://doi.org/10.21608/ihites.2025.399582.1253
Onque, R. (2026, March 12). Maintaining deep focus really is harder these days—how to improve your attention span, from a top researcher. CNBC. https://www.cnbc.com/2026/03/12/5-ways-to-maintain-deep-focus-from-an-attention-span-expert.html
Opara, E., Adalikwu, T. M., & Tolorunleke, C. A. (2025). The Impact of Tiktok’s Fast-Paced Content on Attention Span of Students. Preprints. https://doi.org/10.20944/preprints202501.0269.v1
Rahma, V. (2025). Learning Style Adaptation of Generation Z to Short Educational Videos on Social Media. Journal of Education in Specific Purpose, 1(2), 97–108. https://www.journal.uruborospublishing.com/index.php/jesp/article/view/382
Siyami, M., Moghadam, M. R., & Avaz, K. A. (2022). Investigating the effect of mobile phone use on students’ attention span and academic performance. Journal of Fundamentals of Mental Health, 25(4), 271–277. https://journals.mums.ac.ir/article_23043_cf040b3f088dd5fa21e64ae945f03215.pdf
Ungvarsky, J. (2024). Attention span. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/health-and-medicine/attention-span












