Bagi pasangan yang telah lama menikah, pasti pernah merasakan masa-masa di mana hubungan terasa renggang dan melelahkan. Perasaan ini bisa muncul karena berbagai alasan, seperti perbedaan pandangan, rutinitas yang membosankan, atau tekanan dari luar yang memengaruhi hubungan anda. Pada saat-saat seperti ini, banyak pasangan yang mulai meragukan masa depan pernikahan mereka dan merasa sulit untuk menemukan kebahagiaan lagi. Namun, penting untuk diingat bahwa perasaan tersebut adalah bagian dari dinamika hubungan yang dapat diatasi bersama. Masa-masa sulit ini sebenarnya dapat menjadi peluang untuk memperkuat hubungan dalam pernikahan, jika kedua belah pihak berkomitmen untuk bekerja sama dan memupuk kembali cinta yang ada.
Apa itu Marital Burnout?
Kelelahan dalam pernikahan dapat didefinisikan sebagai keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi ketika tekanan dan tuntutan dalam sebuah hubungan secara kronis lebih besar daripada imbalan dan pengalaman positif. Menurut Zamani et al. (2023), kelelahan dalam pernikahan terjadi ketika pasangan menyadari bahwa realitas pernikahan tidak seperti yang apa yang diharapkan. Kelelahan dalam pernikahan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya perselisihan dan berkurangnya keintiman antara pasangan. Kelelahan ini juga berkaitan dengan cara pasangan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, serta keterampilan dalam memecahkan masalah. Pasangan yang lebih terampil dalam hal-hal tersebut cenderung mengalami kelelahan yang lebih sedikit dalam pernikahan yang dijalani. Burnout dalam pernikahan dapat berdampak pada kualitas hubungan dan meningkatnya ketidakpuasan di dalam pernikahan yang meliputi perasaan salah satu atau kedua pasangan, seperti keterpisahan emosional, berkurangnya kepuasan, dan rasa putus asa terhadap masa depan hubungan mereka.
“Burnout is the result of too much energy output and not enough energy self-invested. In other words, it’s burning too much fuel than you’ve put in your tank.” – Melissa Steginus
Penyebab dari Marital Burnout
Berbagai penyebab dari marital burnout, baik yang bersifat internal maupun eksternal, dapat menyebabkan pasangan merasa terjebak dalam rutinitas yang membosankan dan kehilangan koneksi emosional satu sama lain. Dengan mengetahui penyebab-penyebab tersebut, couples dapat lebih mudah menemukan jalan keluar untuk mengembalikan keharmonisan dalam hubungan pernikahan anda.
-
- Komunikasi yang Tidak Efektif
Ketika pola komunikasi pasangan seringkali berupa kritik yang tajam, sikap defensif, atau selalu menghindari percakapan penting, hal ini bisa memicu kesalahpahaman dan memperburuk hubungan. Kritik yang menyakitkan dapat merusak rasa saling menghormati, sementara sikap defensif hanya menutup kesempatan untuk berdiskusi dengan jujur dan saling memahami. Selain itu, menghindari pembicaraan yang penting dapat menambah jarak emosional di antara pasangan, di mana salah satu pihak mungkin merasa masalah yang mereka hadapi diabaikan atau tidak dianggap penting. Semua hal ini dapat meningkatkan ketegangan dalam hubungan dan secara keseluruhan merusak kualitas hubungan. - Konflik yang Tidak Terselesaikan
Konflik yang tidak ditangani dengan baik daapt berdampak jangka panjang pada kelangsungan hubungan. Ketika masalah yang sama terus berulang tanpa ada solusi yang jelas, pasangan bisa merasa frustrasi dan kehilangan harapan. Konflik yang berlarut-larut ini dapat menumbuhkan rasa kebencian dan ketegangan yang berlangsung lama, sehingga menciptakan jarak emosional yang semakin besar di antara keduanya. - Kebutuhan dan Harapan yang Tidak Terpenuhi
Dalam hubungan pernikahan, setiap pasangan tentu memiliki kebutuhan dan harapan tertentu yang ingin dipenuhi. Ketika pasangan merasa bahwa harapan mereka tidak dipenuhi atau kebutuhan emosional mereka tidak dihargai, perasaan kecewa bisa tumbuh menjadi rasa lelah atau frustrasi. Salah satu pihak mungkin merasa tidak didengarkan atau tidak diprioritaskan oleh pasangannya, yang dapat memicu perasaan putus asa dan mengurangi kedekatan emosional antara pasangan. - Stres dan Kewalahan
Stres eksternal, seperti masalah keuangan, tekanan pekerjaan, atau tanggung jawab keluarga yang besar, bisa menjadi beban yang berat bagi individu. Ketika individu merasa kewalahan oleh tuntutan-tuntutan ini, seseorang mungkin tidak memiliki energi untuk merawat hubungan pernikahan. Stres semacam itu bisa mengarah pada kelelahan emosional, di mana individu merasa tertekan dan tidak mampu menghadapi tantangan dalam hubungan bersama pasangan. Ketika pasangan tidak memiliki strategi koping yang sehat atau sistem dukungan yang memadai, stres dapat merusak kualitas interaksi mereka, menyebabkan mereka saling menyalahkan atau tidak mendukung satu sama lain. Hal ini bisa memperburuk kelelahan emosional dalam pernikahan, membuat pasangan semakin merasa terpisah dan cemas tentang masa depan hubungan mereka. - Kurangnya Kedekatan Emosional
Keintiman emosional adalah elemen penting dalam pernikahan yang sehat dan langgeng. Ketika pasangan kehilangan kedekatan emosional, misal karena kurangnya komunikasi yang mendalam, ketidakmampuan untuk berbagi perasaan, atau hilangnya rasa percaya, hubungan bisa terasa kosong dan terputus. Tanpa kedekatan emosional yang kuat, pasangan dapat merasa kesepian meskipun secara fisik berada di dekat satu sama lain. Keintiman emosional yang hilang sering kali menjadikan pernikahan lebih rentan terhadap konflik dan perasaan putus asa. - Kurangnya Kedekatan Emosional
Kelelahan dalam pernikahan juga dapat disebabkan oleh ketidakcocokan dalam bahasa cinta. Salah satu pasangan mungkin mencoba untuk terhubung dengan menggunakan word of affirmation, dengan asumsi bahwa pendekatan tersebut akan sesuai dengan pasangannya. Namun, pasangan yang lain cenderung tersentuh dengan bahasa cinta sentuhan fisik, bukan dengan kata-kata. Dalam hal ini, tidak ada pasangan yang mengisi ember pasangannya karena metode yang mereka pilih tidak cocok satu sama lain. Ketidakcocokan seperti ini sering kali menyebabkan kelelahan dalam pernikahan, meskipun masing-masing pasangan memiliki niat baik dan upaya yang tulus untuk menjaga pasangannya.
- Komunikasi yang Tidak Efektif
How to Heal from Marital Burnout
Setelah mengetahui berbagai penyebab dari marital burnout, pasangan dapat bekerja sama mencari langkah yang sesuai dalam menghadapi kelelahan yang dimiliki. Bahkan jika couples merasa pernikahan tersebut telah mencapai titik akhir, couples masih bisa bangkit dan memperbaiki hubungan Anda. Beberapa metode di bawah ini dapat digunakan untuk mengembalikan harapan dan cinta untuk pernikahan yang lebih kuat dan dapat bertahan dalam masa-masa sulit.
- Meningkatkan Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menyadari perasaan, mengekspresikannya, dan mengendalikan perasaan dengan bijaksana. Kecerdasan emosional yang tinggi memungkinkan seseorang untuk mengelola komunikasi dengan lebih baik dan terhubung dengan orang lain dengan lebih banyak empati dan pengertian. Ketika seseorang mampu terhubung dengan perasaan diri, baik yang positif maupun negatif, mereka dapat lebih memahami jenis interaksi yang membuatnya merasa nyaman, marah, sedih, atau frustrasi dalam sebuah hubungan. Individu yang memiliki dasar emosional yang kuat cenderung lebih mudah mengatasi tantangan dalam hubungan dibandingkan dengan mereka yang kurang terhubung dengan pusat emosinya. Dengan mengenali perasaan diri, kita dapat lebih mudah memproses dan mengungkapkan perasaan tersebut dengan pasangan kita.
- Menyelesaikan Trauma Masa Lalu
Seseorang yang memiliki trauma masa lalu memiliki kecenderungan untuk tinggal di masa lalu, jika hal tersebut tidak diselesaikan. Jika seseorang mengalami kesulitan emosional atau pelecehan di masa lalu, kemungkinan besar hal itu akan terus muncul di masa sekarang secara langsung atau tidak langsung. Sangat penting untuk menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum seseorang dapat menyembuhkan hubungan pernikahannya. Faktor-faktor dari masa lalu, seperti trauma, sangat mempengaruhi cara kita bereaksi di masa ini. Jika seseorang pernah mengalami pengabaian dan penolakan saat masih anak-anak, dan di masa sekarang pasangan juga terus-menerus membuat kita merasa ditolak, hal ini bisa menyebabkan kelelahan karena kenangan lama dan respons terhadap penolakan tersebut kembali muncul. Akan lebih sulit mengatasi penolakan dalam pernikahan jika seseorang belum menyelesaikan masalah yang terkait dengan pengabaian di masa lalu.
- Memprioritaskan Waktu Bersama Pasangan
Saat ini banyak orang yang kesulitan untuk meluangkan waktu bersama pasangan karena tuntutan pekerjaan dan keluarga yang terus-menerus. Namun, menginvestasikan waktu dan energi ke dalam pernikahan juga sama pentingnya dan harus diprioritaskan. Ketika pasangan terus berusaha dan mempertahankan hubungan, pernikahan akan tetap kuat dan sehat sekalipun pernikahan sudah berjalan lama. Hal ini berarti mengalokasikan waktu di kalender untuk pergi kencan dan melakukan aktivitas yang menyenangkan, sesederhana mengirim pesan singkat di sela kesibukan atau berjalan-jalan di hari libur. Saat kita dapat menjadikan waktu bersama pasangan sebagai prioritas, kita akan secara signifikan menurunkan risiko kelelahan dalam pernikahan.dan dapat memperkuat hubungan emosional bersama pasangan.
- Mendapatkan Dukungan Profesional
Mencari bantuan profesional melalui terapi pasangan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi pasangan untuk mengeksplorasi perasaan mereka, mengidentifikasi masalah mendasar, dan mempelajari cara komunikasi yang efektif. Seorang konselor pernikahan berpengalaman dapat memandu dalam proses pemulihan dan membekali pasangan dengan strategi yang praktis untuk membina hubungan dengan lebih baik lagi.
Mengatasi kelelahan dalam pernikahan, mengharuskan pasangan untuk menghadapi masalah yang sudah ada sejak lama dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai satu sama lain, serta membangun jalur komunikasi yang lebih efektif. Maka, dibutuhkan banyak kesabaran, usaha, dan konsistensi, serta pendekatan baru untuk merawat hubungan pernikahan yang sehat dan lebih kuat.
Setiap pernikahan layak untuk diperjuangkan.. Kelelahan adalah hal yang wajar dan umum terjadi, terutama dengan banyaknya kesibukan yang dihadapi. Namun, kelelahan tersebut menjadi tanda, bahwa hubungan bersama orang terkasih sedang membutuhkan perhatian ekstra dan pemeliharaan segera. Meskipun melelahkan, kejenuhan dalam pernikahan sering kali menjadi titik awal pasangan untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan seimbang.
Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda, terutama bagi pasangan yang sedang mengalami marital burnout. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Zamani, S., Hasani, J., Hatami, M., & Tadros, E. (2023). Emotion Dysregulation and Alexithymia within Marital Burnout through an Emotion-Focused Therapy Lens. Journal of Couple & Relationship Therapy, 22(3), 201–226. https://doi.org/10.1080/15332691.2023.2165206












