Champs, apakah kamu pernah merasa sangat terpuruk selama seharian karena mengalami satu hal buruk? Padahal di hari yang sama, kamu juga mengalami banyak hal baik. Namun, hal-hal baik tersebut tidak membuat kamu terkesan dan sebaliknya, kamu cenderung terpengaruh dengan hal buruk yang terjadi. Hal ini dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa negatif daripada peristiwa positif.
Apa itu Negativity Bias
Negativity bias atau bias negatif mengacu pada kecenderungan seseorang untuk memperhatikan, mempelajari, dan menggunakan informasi negatif jauh lebih banyak daripada informasi positif (Vaish et al., 2008). Bias negatif juga merujuk pada kecenderungan kita untuk tidak hanya lebih mudah mencatat rangsangan negatif, tapi juga memikirkan kejadian-kejadian tersebut. Kita bisa melihat hal ini sebagai ketidakseimbangan dalam cara manusia memproses peristiwa negatif dan positif untuk memahami tentang dunianya. Ini berkaitan dengan peristiwa negatif yang cenderung memicu respons yang lebih cepat dan lebih menonjol dibandingkan peristiwa non-negatif (Carretié et al., 2001).
Fenomena psikologis ini dapat menjelaskan mengapa kesan pertama yang buruk bisa sangat sulit untuk dilupakan dan mengapa trauma masa lalu dapat memiliki efek jangka panjang bagi seseorang. Dalam hampir semua interaksi, kita lebih cenderung memperhatikan hal-hal negatif dan kemudian mengingatnya dengan lebih jelas. Oleh karena itu, kita juga memiliki kecenderungan bereaksi terhadap teguran daripada pujian. Kadang kita tidak sadar bahwa selama ini kita sangat mudah terjebak dengan bias negatif. Berikut merupakan karakteristik orang yang memiliki negativity bias:
- Individu akan lebih cenderung untuk mengingat pengalaman traumatis dibanding pencapaian diri.
- Bereaksi lebih kuat pada stimulus/peristiwa negatif.
- Cenderung untuk berpikir negatif (negative thinking).
- Lebih senang jika membahas hal-hal negatif.
Hal ini dapat membuat kita terus-menerus merenungkan hal-hal kecil, perasaan khawatir karena telah membuat kesan yang buruk, dan berlama-lama memikirkan komentar negatif (Lupfer et al., 2000).
“Negative thoughts might try to come into your mind, but it doesn’t mean you have to invite them to stay there.”
Otak manusia memiliki kecenderungan bawaan yang dikenal sebagai “bias negatif”, yang diduga memiliki akar dari sejarah evolusi. Pada awal sejarah manusia, memperhatikan ancaman, bahaya, dan hal-hal negatif di dunia merupakan masalah antara hidup dan mati. Mereka yang lebih peka terhadap potensi bahaya dan lebih fokus pada hal-hal buruk di sekitar mereka cenderung memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup. Nenek moyang kita harus sangat waspada terhadap potensi bahaya dan ancaman di lingkungan mereka untuk bertahan hidup. Misal, nenek moyang kita berada di lapangan terbuka dengan banyak sumber makanan, namun ada satu harimau yang berbahaya. Untuk bertahan hidup, mereka perlu lebih memperhatikan ancaman daripada peluang positif. Inilah yang dikenal sebagai bias negatif atau penghindaran risiko. Otak manusia tidak dirancang untuk membuat seseorang bahagia, melainkan untuk memastikan kita bertahan hidup cukup lama untuk dapat bereproduksi. Saat seseorang berfokus pada rangsangan negatif, kita dapat merespons dengan lebih cepat untuk menghindari bahaya atau situasi berisiko. Namun, dalam kehidupan modern saat ini, bias negatif dapat memengaruhi cara kita memandang realitas dan meningkatkan sensitivitas terhadap peristiwa atau informasi negatif.
Dampak Negativity Bias
Bias negatif dapat menjadi salah satu penyebab mengapa seseorang kesulitan untuk mencintai diri sendiri dan terus-menerus terjebak dalam emosi negatif. Bias negatif yang selama ini kita miliki memiliki dampak besar, baik terhadap diri kita sendiri, orang di sekitar kita, maupun pada kesehatan mental kita.
1. Kesulitan dalam Membuat Keputusan
Ketika seseorang dihadapkan pada sebuah pilihan, mereka cenderung merasa kesulitan untuk mengambil keputusan karena bias negatif ini membuat orang lebih fokus pada kemungkinan terburuk dari setiap opsi yang ada. Di satu sisi, hal ini bisa menguntungkan karena mencegah keputusan yang terburu-buru. Namun, jika rasa takut untuk mengambil keputusan terlalu besar, hal tersebut akan menyulitkan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Kecenderungan untuk terlalu menekankan hal-hal negatif ini dapat memengaruhi pilihan yang dibuat dan risiko yang bersedia diambil oleh seseorang.
2. Motivasi
Penelitian psikologis menunjukkan bahwa bias negatif berdampak pada motivasi dan kemampuan dalam menyelesaikan tugas. Kita lebih terdorong untuk menyelesaikan suatu pekerjaan ketika kita berusaha menghindari kerugian dibandingkan jika kita termotivasi untuk mendapatkan sesuatu. Berdasarkan apakah suatu tindakan dibingkai dalam konteks positif atau negatif dapat mengubah seberapa besar dorongan kita untuk menyelesaikan tugas tersebut (Goldsmith & Dhar, 2013).
3. Emosi Negatif
Ketika seseorang terus-menerus terfokus pada peristiwa negatif atau potensi ancaman, mereka akan mulai melihat dunia secara lebih pesimis dan merasa cemas tentang apa yang bisa terjadi. Hal ini menciptakan lingkaran perasaan negatif yang mengarah pada penurunan suasana hati dan peningkatan stres. Meskipun bias negatif dapat membantu kita mengidentifikasi kesalahan, tapi terlalu fokus dan memberikan perhatian lebih pada informasi negatif. Hal ini dapat membentuk keyakinan yang merugikan tentang kemampuan dan kompetensi diri kita yang menyebabkan harga diri yang rendah dan kecemasan.
How to Overcome Negative Bias
Cara yang bisa digunakan untuk mengubah pandangan kita dan melawan kecenderungan berpikir negatif adalah sebagai berikut.
- Menghentikan Negative Self Talk
Hal ini di mulai dari memperhatikan jenis pikiran yang muncul di benak kita setelah kita melakukan sesuatu. Pemikiran seperti, “Seharusnya aku tidak melakukan itu” atau “Sepertinya orang-orang tadi tidak menyukaiku”. Pikiran negatif semacam ini dapat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Sebagai gantinya, cara yang lebih baik adalah menghentikan pikiran-pikiran tersebut begitu mereka muncul agar tidak terus-menerus terfokus pada kesalahan masa lalu yang tidak bisa diubah. Kita bisa mencoba merenungkan apa yang telah dipelajari dan bagaimana kita bisa mengaplikasikannya di masa depan. Sebagai contoh, jika kita mendapati diri terus-menerus memikirkan peristiwa atau hasil yang tidak menyenangkan, cobalah dengan sengaja mengalihkan perhatian ke hal lain atau melakukan aktivitas yang dapat membuat kita merasa senang dan tenang, seperti berjalan, membaca buku, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
- Reframe the Situation
Cara kita berbicara kepada diri sendiri tentang peristiwa, pengalaman, dan orang-orang memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara kita menafsirkan situasi yang ada. Ketika seseorang mendapati dirinya melihat sesuatu secara negatif atau hanya fokus pada sisi buruk, cobalah untuk menemukan cara memandang peristiwa tersebut dengan sudut pandang yang lebih positif. Hal ini bukan berarti mengabaikan potensi bahaya atau melihat segalanya dengan sikap optimis yang berlebihan, melainkan memberikan bobot yang seimbang juga pada peristiwa-peristiwa positif yang terjadi.
“If we move through our day with an open awareness of the many good things around us. We correct the brain’s built-in negativity bias.” – Dr. Rick Hanson
- Menulis Hal-hal yang Disyukuri
Upaya yang bisa dilakukan untuk membantu keluar dari zona negatif adalah dengan menuliskan hal-hal yang disyukuri pada hari itu. Saat kita menuliskan rasa syukur, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, ini dapat membantu mengalihkan fokus kita dari pikiran negatif ke hal-hal positif dalam hidup. Tulisan ini bisa mencakup hal-hal sederhana seperti cuaca yang baik, makanan yang lezat, atau percakapan menyenangkan dengan seseorang. Cara ini dapat melatih otak kita untuk lebih menghargai aspek positif dalam kehidupan, yang lama kelamaan dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati.
Bias negatif dapat memengaruhi perilaku, perasaan, dan pandangan kita secara keseluruhan. Mengambil langkah-langkah untuk mengadopsi pandangan yang lebih positif terhadap kehidupan dapat meningkatkan kesejahteraan mental kita. Meskipun bias negatif adalah bagian alami dari cara otak kita bekerja, tapi bias negatif yang dikelola dengan baik, dapat membantu kita untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik. Usahakan untuk selalu memberikan keseimbangan dalam cara kita melihat dunia. Dengan pendekatan yang lebih positif, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, penuh rasa syukur, dan lebih memuaskan.
“You are the creator of your life and each of your thoughts creates your reality. Be vigilant and don’t let negative thoughts take over your happiness.” – Dominique Jeanneret
Bila champs menemukan kesulitan dalam proses mengadopsi pemikiran positif dan terus bergumul dengan kecenderungan pemikiran negatif. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs menyusuri pengalaman-pengalaman dan menemukan cara yang efektif dalam menghidupkan pemikiran positif dalam melihat dunia. Champs dapat berkonsultasi bersama tenaga ahli, melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Carretié, L., Mercado, F., Tapia, M., & Hinojosa, J. A. (2001). Emotion, attention, and the ‘negativity bias’, studied through event-related potentials. International Journal of Psychophysiology, 41(1), 75–85. https://doi.org/10.1016/s0167-8760(00)00195-1
Goldsmith, K., & Dhar, R. (2013). Negativity bias and task motivation: Testing the effectiveness of positively versus negatively framed incentives. Journal of Experimental Psychology Applied, 19(4), 358–366. https://doi.org/10.1037/a0034415
Lupfer, M. B., Weeks, M., & Dupuis, S. (2000). How Pervasive is the Negativity Bias in Judgments Based on Character Appraisal? Personality and Social Psychology












