Parents, hari ini anak Anda bisa bertanya pada AI tentang apa saja, dari PR matematika sampai cara menulis puisi. Hanya dengan satu klik, mereka bisa mendapatkan jawaban instan dari ChatGPT, menonton video buatan AI, atau berinteraksi dengan asisten virtual. Dunia digital kini bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak Anda.
Menurut laporan GoodStats (2025), hampir semua masyarakat Indonesia mengenal kecerdasan buatan (AI). Kemudian, sebanyak 42% di antaranya menggunakan AI untuk keperluan profesional maupun pribadi. Menariknya, sebagian besar pengguna aktif AI berasal dari Gen Z yang menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses belajar, bekerja, bahkan berinteraksi.
Di balik semua kemudahan itu, teknologi perlahan mengubah cara anak berpikir, belajar, dan berelasi. Segala sesuatu menjadi serba cepat dan instan, hingga ruang untuk merenung dan berempati terasa semakin sempit. Dalam perubahan besar ini, peran orang tua menjadi semakin penting dalam menuntun anak-anak agar mampu hidup dengan bijak di tengah arus kemajuan digital. Orang tua dipanggil untuk menanamkan nilai, iman, dan kasih yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mana pun.
Peran Kritis Orang Tua
Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menuntut kebijaksanaan baru dari orang tua. Di tengah dunia digital yang terus berubah, anak-anak membutuhkan pendamping untuk tetap hidup dengan nilai-nilai yang benar. Toth (2025) membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua di era AI untuk menuntun anak-anak menggunakan teknologi dengan bijak:
1. Fokus pada kelebihan manusia
Di tengah kemajuan AI yang mampu mengolah data, mengenali pola, dan mengotomatiskan banyak hal, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin, yaitu sisi kemanusiaan kita. Di era AI seperti ini, keterampilan yang paling berharga bagi anak-anak bukan lagi seberapa cepat mereka bisa menggunakan teknologi, tetapi bagaimana mereka bisa tetap berpikir kreatif, berempati, dan memiliki penilaian moral yang benar. Kedepannya, soft skill ini kemungkinan besar akan menjadi hard skill baru.
2. Mengembangkan growth mindset
Perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat dunia kerja, industri, bahkan cara hidup manusia berubah dengan sangat dinamis. Di tengah perubahan ini, anak-anak perlu lebih dari sekadar pengetahuan, mereka perlu kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Sikap mau belajar dan percaya bahwa kemampuan bisa berkembang melalui usaha dan ketekunan disebut growth mindset. Dengan menanamkan pola pikir ini, parents menolong anak Anda melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari proses bertumbuh.
3. Mengajarkan literasi digital dan kecerdasan buatan (AI)
Literasi digital dan kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana teknologi bekerja, apa batasannya, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan kita. Parents dapat mengajarkan anak Anda bahwa teknologi tetap memiliki keterbatasan dan bahkan dapat disalahgunakan. Maka dari itu itu, anak harus tahu pentingnya melindungi privasi mereka, mengidentifikasi informasi yang salah, dan mempertimbangkan nilai-nilai etis dalam penggunaan AI. Dengan menumbuhkan literasi ini, parents menolong anak Anda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pribadi bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.
4. Mendorong pemikiran kritis
AI dilatih menggunakan data yang sudah ada. Hal ini membuatnya unggul dalam pengenalan pola dan tugas yang berulang, tetapi tidak bisa benar-benar berpikir kritis atau menemukan konsep yang benar-benar baru. Kreativitas dan inovasi manusia melibatkan intuisi dan kemampuan berpikir di luar pola data yang tidak dapat ditiru AI. Oleh karena itu, mengasah keterampilan berpikir kritis dan kreativitas anak akan menolong mereka menghadapi masa depan yang dipenuhi teknologi dan keputusan berbasis data.
5. Membangun ketangguhan
Masa depan yang dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI) penuh dengan ketidakpastian, perubahan cepat, serta kegagalan yang tak terhindarkan. Oleh karena itu, kemampuan untuk bangkit kembali dan beradaptasi dengan perubahan menjadi keterampilan penting yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Keterampilan ini dimulai dengan membiarkan anak-anak menghadapi tantangan dan memecahkan masalah sendiri. Ketika mereka menghadapi kesulitan, dorong mereka untuk melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Momen-momen tersebut mengajarkan mereka bahwa kegagalan adalah bagian alami dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
6. Etika dan tanggung jawab
AI dapat memberikan solusi berbasis data, tetapi tidak memiliki kompas moral yang diperlukan anak untuk membedakan mana yang benar dan salah. Maka dari itu, parents perlu membantu anak memahami bahwa di balik teknologi yang canggih, selalu ada nilai kemanusiaan yang harus dijaga. Seiring pertumbuhan anak Anda, kenalkan mereka pada konsep keadilan dan konsep tanggung jawab. Bantu anak Anda memahami bahwa tindakan mereka dan alat yang mereka gunakan memiliki konsekuensi. Dengan terlibat secara aktif, parents dapat menolong anak Anda menikmati manfaat AI sambil tetap berpegang pada nilai-nilai kasih, keadilan, dan tanggung jawab.
7. Mendorong kolaborasi dan kerja sama tim
Parents mungkin pernah mendengar pepatah “Jika ingin cepat, pergi sendirian; jika ingin jauh, pergi bersama”. Di masa depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi kemampuan seseorang untuk bekerja sama dengan orang lain untuk memecahkan masalah atau membuat inovasi baru. Parents perlu membantu anak Anda mengembangkan keterampilan interpersonal dan mindset yang diperlukan untuk kolaborasi yang bermakna.
8. Menyiapkan diri untuk belajar seumur hidup
Dalam dunia yang terus berubah akibat kemajuan kecerdasan buatan (AI), keterampilan yang dibutuhkan hari ini bisa saja tidak lagi relevan esok hari. Banyak industri sedang bertransformasi dan peluang karier baru bermunculan dengan cepat. Maka dari itu, anak perlu memiliki sikap terbuka terhadap perubahan, semangat untuk terus berkembang, dan keingintahuan yang tak pernah padam.
Dorong anak Anda untuk menjelajahi berbagai minat tanpa tekanan untuk langsung menjadi ahli. Entah itu belajar memainkan alat musik, bereksperimen, atau mendalami sejarah, tekankan bahwa proses belajar sama berharganya dengan hasilnya. Rayakan usaha dan rasa ingin tahu mereka, agar anak memahami bahwa kebahagiaan sejati dalam belajar muncul dari eksplorasi dan pertumbuhan, bukan dari kesempurnaan.
9. Kesehatan fisik dan mental
Membangun fondasi yang kuat dalam kesehatan fisik dan mental adalah kunci bagi perkembangan anak di era modern. Kesehatan fisik dapat ditanamkan dengan membiasakan anak untuk tetap aktif bermain di luar, berolahraga, dan bergerak bebas. Meski teknologi akan menjadi bagian dari keseharian mereka, penting untuk tetap memberi ruang bagi aktivitas yang melibatkan tubuh dan alam.
Parents juga dapat membantu anak mengembangkan kesehatan mental yang seimbang. Dunia yang bergerak cepat di bawah pengaruh kecerdasan buatan (AI) bisa menimbulkan tekanan bahkan bagi anak-anak. Bantu mereka mengenali dan mengelola emosi. Dengan menanamkan kebiasaan sehat sejak dini, anak akan memiliki bekal untuk menjaga keseimbangan diri di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks.
10. Jadilah teladan
Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi contoh nyata dalam penggunaan teknologi yang bijak. Perhatikan penggunaan teknologi Anda sendiri dan berusahalah untuk menjadi teladan dalam bagi anak-anak Anda. Tunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk belajar, berkreasi, dan membangun kebiasaan positif.
Terakhir, luangkan waktu bersama mereka. Hadirlah, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional. Dengarkan cerita mereka, sambut rasa ingin tahu mereka, dan nikmati momen kebersamaan tanpa distraksi. Di dunia yang penuh dengan notifikasi dan gangguan, perhatian penuh Anda adalah hadiah paling berharga yang dapat Anda berikan.
Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti yaitu Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi
- (2025, 15 Oktober). Understanding AI usage today. GoodStats. https://goodstats.id/publication/understanding-ai-usage-today-IM0Gx
- Tóth, B. A. (2025, Januari 5). Future-proof parenting: 10 ways to prepare our children for the AI era. Medium. https://bence-a-toth.medium.com/future-proof-parenting-10-ways-to-prepare-our-children-for-the-ai-era-37b74acc10f2












