Family Indonesia

Sibling Rivalry: Pendekatan Tenang, Tegas, dan Efektif untuk Orang Tua

Sibling Rivalry: Pendekatan Tenang, Tegas, dan Efektif untuk Orang Tua

Rivalitas antar saudara bukan sekadar fase lucu yang akan hilang dengan sendirinya. Kalau dibiarkan tanpa arahan yang tepat, pola saling berebut, cemburu, atau merasa tidak didengar bisa terbawa sampai mereka dewasa. Masalahnya, banyak orang tua tidak tahu harus menengahi, diam, atau menegur siapa. Oleh karena itu, parents perlu hadir dengan cara yang lebih terarah dengan membantu anak belajar mengelola konflik dan membangun relasi yang lebih sehat satu sama lain.

Tanda-Tanda Sibling Rivalry

Persaingan antar saudara kandung juga dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada usia dan kepribadian masing-masing anak. Mengenali tanda-tandanya dapat membantu parents membimbing mereka ke arah yang positif. Olsson (2025) beberapa tanda umum yang perlu parents waspadai:

  • Pertengkaran atau konflik berulang: Anak bisa saling memperebutkan hal kecil seperti tempat duduk, giliran main, atau benda yang sebenarnya tidak penting. Nada yang muncul biasanya defensif atau ingin menang sendiri.
  • Mengeluh atau mengadu: Salah satu anak terus-menerus melaporkan perilaku saudaranya karena ingin terlihat sebagai “pihak yang benar” di mata orang tua. Ini tanda bahwa mereka mencari pengakuan, bukan sekadar melaporkan masalah.
  • Perkelahian fisik: Mendorong, memukul, menggigit, atau merebut mainan satu sama lain adalah tanda umum, terutama pada anak yang belum mampu mengekspresikan frustasi secara verbal.
  • Persaingan untuk mendapatkan pujian: Pernyataan seperti “Aku lebih – hebat” mengindikasikan kebutuhan untuk diakui sebagai yang lebih baik.
  • Perilaku mencari perhatian: Anak bisa tiba-tiba mengganggu, memamerkan sesuatu atau meminta perhatian saat saudaranya mendapat perhatian Anda. Ini reaksi umum ketika mereka merasa tertutupi oleh saudara kandungnya.
  • Merengut atau menarik diri: Jika seorang anak sering terlihat menarik diri atau sedih setelah berinteraksi dengan saudara kandungnya, hal ini mungkin disebabkan oleh persaingan atau cemburu.

Penyebab Sibling Rivalry

Banyak konflik antar saudara sebenarnya berasal dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, bukan sekadar “anak bandel” atau “saling iri”. Maka dari itu, memahami penyebab mendasarnya menjadi langkah penting sebelum menentukan cara menangani konflik di rumah. Whiteman (2024) menjelaskan beberapa faktor umum yang memicu persaingan antar saudara:

  • Perhatian orang tua: Saudara kandung sering bersaing untuk mendapatkan perhatian dari anggota keluarga, termasuk orang tua. Persepsi tentang perlakuan dan perhatian yang berbeda dapat menyebabkan rasa iri dan persaingan di antara saudara kandung.
  • Perbedaan individu. Perbedaan usia, kepribadian, dan minat sering menciptakan gesekan. Ketika masing-masing anak mulai membangun identitasnya, mereka bisa berusaha menonjol dengan cara mengikuti aktivitas yang berbeda dengan saudara mereka.
  • Perasaan ketidakadilan. Anak sangat peka soal perlakuan yang menurut mereka tidak setara. Sedikit saja ada keputusan atau konsekuensi yang terasa timpang, konflik bisa cepat menyala.
  • Perasaan dibandingkan oleh orang tua. Komentar kecil seperti “kakakmu lebih rapi” atau “adikmu lebih berani” bisa dianggap sebagai penilaian. Perbandingan seperti ini memupuk rasa tidak aman dan memicu rivalitas yang lebih dalam.

Panduan untuk Orang Tua

Konflik antar saudara memang perlu dihentikan, tetapi tujuan parents tidak berhenti pada meredakan keributan. Dengan pendekatan yang tepat, parents juga dapat membangun budaya keluarga yang meningkatkan rasa hormat antara anak-anak dan mengurangi kecenderungan untuk bertengkar. McBride (2020) membagikan empat praktik berbasis riset yang dapat membantu parents membangun budaya keluarga yang lebih sehat:

     1. Tetapkan Aturan dan Konsekuensi

Parents perlu membuat aturan keluarga yang jelas, sehingga anak memahami perilaku mana yang diterima dan mana yang tidak. Misalnya, anak yang lebih muda mungkin membutuhkan aturan sederhana, seperti “berbaik hati”. Ketika mereka mengambil mainan dari orang lain, parents dapat bertanya, “Apakah menurutmu ini baik? Bagaimana perasaan saudaramu?”. Seiring bertambah besar, aturan bisa dibuat lebih spesifik sesuai budaya keluarga, seperti tidak menyela, meminta izin sebelum meminjam, atau menggunakan kata-kata yang membangun, bukan menjatuhkan. Penjelasan mengenai mengapa aturan itu ada sama pentingnya dengan aturan itu sendiri, anak perlu memahami bahwa batasan dibuat untuk kebaikan mereka.

Keluarga juga perlu menyepakati konsekuensi untuk setiap pelanggaran agar anak memahami bahwa batasan bukan sekadar kata-kata. Parents bisa mulai dengan pengingat, tetapi jika perilaku yang sama terus terulang, konsekuensi yang sudah disepakati harus diberlakukan agar anak belajar konsistensi. Ketika konflik muncul, parents dapat memediasi dengan meminta setiap anak menjelaskan apa yang terjadi, mendengar perasaan satu sama lain, dan mencari solusi bersama. Proses ini bukan hanya menyelesaikan masalah saat itu, tetapi juga melatih mereka menghadapi konflik di masa depan. Dengan pola seperti ini, parents menumbuhkan rasa hormat dan kerja sama antar saudara.

     2. Hindari Perbandingan Antara Saudara

Perbandingan yang diucapkan terang-terangan maupun hanya tersirat lewat sikap dapat memicu rasa iri dan menjauhkan anak satu sama lain. Kalimat seperti “Kakak lebih nurut” atau “Adik lebih rajin” mungkin terdengar sepele, tetapi bagi anak itu terasa seperti penilaian yang menetapkan siapa yang lebih unggul. Parents perlu mengingat bahwa setiap anak punya kemampuan, keahlian, dan kepribadian yang berbeda. Ketika perbedaan ini dihormati, parents bisa menetapkan ekspektasi yang lebih realistis tanpa menempatkan anak dalam kompetisi yang tidak perlu. Fokuskan apresiasi pada usaha dan perkembangan masing-masing anak, bukan pada siapa yang “lebih baik”. Pendekatan ini membantu menurunkan kecenderungan anak untuk bersaing demi pengakuan dan membuka ruang bagi hubungan yang lebih sehat antar saudara.

     3. Jangan Memilih Favorit

Dalam keluarga, perbedaan perlakuan hampir tidak terhindarkan. Misalnya, anak yang lebih tua biasanya mendapat izin untuk begadang lebih lama atau pergi keluar bersama teman-teman. Di sinilah parents perlu menjelaskan bahwa keadilan bukan berarti semua anak mendapat perlakuan yang sama, melainkan setiap anak diperlakukan sesuai usia, kemampuan, dan tingkat tanggung jawabnya. Saat mereka tumbuh dan menunjukkan kesiapan yang sama, hak yang mereka terima pun akan ikut bertambah. Pembicaraan ini mencegah anak berasumsi bahwa parents memihak salah satu saudara.

Meski penjelasan penting, anak tetap menilai dari apa yang parents lakukan. Tindakan cenderung memiliki pengaruh lebih besar dalam menghilangkan persepsi negatif yang salah. Maka dari itu, parents perlu menunjukkan secara nyata bahwa kasih sayang Anda pada tiap anak tidak bersyarat dan tidak terbagi. Parents dapat secara sengaja memberikan waktu untuk setiap anak untuk menguatkan harga diri, nilai, dan keunikan setiap anak. Momen ketika anak bisa berbicara secara pribadi dan mendapatkan perhatian penuh membantu mereka merasa dihargai dan dicintai.

     4. Dorong Waktu Bersama Saudara dan Waktu Sendiri

Parents perlu menciptakan situasi di mana anak-anak bisa bekerja sama dan bersenang-senang bersama. Kegiatan yang menuntut kolaborasi, baik permainan, tugas rumah, maupun proyek sederhana dapat membantu anak-anak menjalin ikatan dan memahami bahwa beberapa hal memerlukan usaha dan kontribusi dari semua orang. Interaksi semacam ini membentuk ikatan, menciptakan kenangan, dan memperkuat hubungan mereka satu sama lain yang dapat mengurangi pertengkaran.

Selain mendorong aktivitas bersama, parents juga perlu memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang secara mandiri. Waktu dan kegiatan terpisah membantu anak membangun pertemanan, menenangkan diri, dan menjaga batas pribadi. Di rumah, anak juga membutuhkan area yang jelas sebagai “ruang aman” untuk menarik diri ketika situasi menegang. Mainan atau barang pribadi yang memang ditujukan untuk satu anak pun dapat membantu membangun rasa memiliki. Meski tidak selalu mudah, upaya konsisten dari parents membantu anak memahami dinamika saudara kandung dengan lebih sehat dan membangun relasi yang lebih hangat seiring waktu.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • McBride, R. (2020). Overcoming Sibling Rivalry in Families. Family Perspectives, 1(2), 11.
  • Whiteman, S. (2024, Augustus 26). Ask an Expert — Navigating sibling rivalry: From conflict to connection. Utah State University Today. https://www.usu.edu/today/story/ask-an-expert–navigating-sibling-rivalry-from-conflict-to-connection
  • Olsson, R. (2025, Januari 3). 10 tips to manage sibling rivalry and build strong bonds. Banner Health. https://www.bannerhealth.com/healthcareblog/teach-me/sibling-rivalry