Family Indonesia

Stop FOMO, Start JOMO

Stop FOMO, Start JOMO

Champs, coba bayangkan teman-temanmu sedang heboh membuat postingan dari liburan ke pantai, konser idola, atau hangout di kafe hits. Bagaimana perasaanmu ketika kamu cuman bisa melihat dari layar Handphone sambil rebahan? Kalau ada dorongan ingin juga berada di sana, berarti champs sedang merasakan Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO.

FOMO adalah perasaan takut atau cemas yang muncul ketika kita merasa ada pengalaman seru yang terjadi di luar sana tanpa melibatkan kita. Perasaan ini sering kali muncul saat kita menyaksikan aktivitas orang lain di media sosial. Akibatnya, kita bisa merasa takut tertinggal atau kurang puas dengan kehidupan sendiri.

Kabar baiknya, ada “penangkal” FOMO yang justru bikin kita hidup lebih tenang dan bahagia. Namanya Joy of Missing Out atau JOMO. Kalau FOMO bikin kita gelisah dan cemas karena merasa tertinggal, JOMO mengajak kita untuk keluar dari dunia maya dan kembali menikmati hal-hal sederhana di masa kini.

Apa itu FOMO?

 

FOMO mengacu pada perasaan takut atau cemas akan tertinggal dikarenakan orang lain mungkin sedang mengalami momen-momen tertentu tanpa kehadiran kita di dalamnya (Przybylski et al., 2013). Kalau dibiarkan, lama kelamaan FOMO bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan mental seperti cemas berlebihan, merasa rendah diri, sulit fokus pada apa yang ada di depan mata, bahkan sampai terlalu memaksakan diri untuk mengikuti semua kegiatan demi menghilangkan rasa tertinggal.

Kondisi ini paling sering dialami remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas dan penerimaan sosial. Kita ingin diakui, diterima, dan dianggap “part of circle”. Tapi, dunia maya membuat kita terpapar perbandingan sosial hampir 24/7. Akibatnya, kita jadi merasa harus selalu up-to-date biar nggak dicap “kudet” atau “nggak gaul”.

Tanya Dalton dalam bukunya yang berjudul The joy of missing out: Live more by doing less (2019) mengatakan bahwa tidak peduli sekeras apa pun kita mencoba mengikuti semua informasi dan kabar dari kehidupan orang lain, pada akhirnya kita pasti akan tertinggal juga. Ibaratnya, FOMO itu seperti lomba maraton yang nggak ada garis finish-nya. Kita terus berlari, tapi nggak pernah sampai.

Apa itu JOMO?

 

JOMO adalah rasa bahagia yang muncul saat kita memilih untuk lepas dari hiruk-pikuk update dunia maya, lalu fokus pada apa yang ada di depan mata. Menurut Tanya Dalton (2019), JOMO memberikan kesempatan untuk merasakan rasa syukur atas apa yang kita miliki saat ini. Bukan berarti kita menolak informasi atau menutup diri dari dunia luar, tetapi kita memberi ruang untuk diri sendiri tanpa harus membandingkan hidup kita dengan orang lain.

JOMO mengajarkan kita untuk tetap merasakan kedamaian meskipun “tertinggal”. Dengan JOMO, kita tidak lagi merasa takut saat memilih untuk tidak ikut dalam suatu kegiatan atau tren. Sebaliknya, kita belajar merayakan ruang kosong dalam hidup kita sebagai kesempatan untuk beristirahat, berefleksi, atau mengisi energi.

Siap untuk mengubah FOMO menjadi JOMO?

 

Daripada terus merasa cemas karena FOMO, champs dapat mencoba untuk belajar menikmati momen yang benar-benar membuat hidup lebih bermakna. Dengan begitu, champs bisa beralih dari perasaan takut ketinggalan menjadi rasa syukur atas apa yang sedang dijalani. Berikut 5 langkah praktis dari Tanya Dalton (2019) yang bisa membantu kita menemukan Joy of Missing Out:

1.     Membuat daftar aktivitas yang disenangi

Berhentilah mengkhawatirkan apa yang orang lain lakukan atau pikirkan, dan fokuslah pada dirimu serta kebahagiaanmu. Tanyakan pada dirimu, “Hal-hal apa yang memunculkan sukacita?”. Tulis semua aktivitas itu dalam daftar, lalu tempelkan di tempat yang mudah terlihat. Setelah itu, champs dapat meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif yang kamu sukai.

2.     Membuat rencana untuk waktu luang

Bagaimanapun, waktu adalah salah satu hal paling berharga yang kita miliki. Prioritaskan apa yang penting bagi champs seperti berolahraga, bertemu teman, atau menghabiskan waktu untuk hobi. Champs tidak perlu terlalu mengatur hidup secara kaku, cukup memberikan waktu untuk momen yang bermakna, kegiatan kreatif, atau apa pun yang membawa sukacita di luar dunia maya.

3.     Melakukan digital detox secara rutin

FOMO sering kali muncul akibat terlalu banyak waktu dihabiskan untuk scrolling media sosial. Pastikan champs memutuskan koneksi (unplug) untuk waktu tertentu setiap hari atau setiap minggu agar bisa kembali hadir di momen sekarang. Saat FOMO berkurang cukup banyak, champs akan mendapatkan kesempatan untuk lebih fokus pada tujuan, passion dan hal-hal yang meningkatkan rasa pemenuhan dalam dirimu.

4.     Membangun koneksi offline dengan orang lain

Melakukan aktivitas bersama adalah cara terbaik untuk membangun hubungan yang bermakna, dibandingkan menghabiskan waktu berinteraksi dengan orang asing di dunia maya. Champs bisa meluangkan waktu untuk terhubung dengan keluarga, pasangan, teman, dan tetangga. Tidak harus menghabiskan waktu yang banyak, yang penting ada momen kebersamaan.

5.     Menyediakan waktu untuk self-care

Bagian ini sering kali menjadi hal tersulit dilakukan bagi mereka yang memiliki hidup yang padat dan serba cepat, namun sangat penting untuk champs tetap menjaga kesehatan fisik maupun mental. Self-care bisa berupa meditasi, mendengarkan musik yang menenangkan, atau apa pun yang membuatmu merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Dengan begitu, champs akan kembali terhubung dengan diri sendiri dan memahami apa yang benar-benar cocok untuk dirimu.

Hidup tidak selalu tentang mengikuti setiap tren atau berada di semua tempat sekaligus. Kadang, kebahagiaan sejati justru datang saat kita berani melepas, menikmati momen, dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Berhenti membandingkan, mulai merayakan hidupmu sendiri. Karena pada akhirnya, hidup yang damai dan penuh makna adalah hadiah terbaik yang bisa champs berikan untuk dirimu sendiri.

Don’t let FOMO delay your goals, embrace JOMO achieve your goals” — Unknown

Apabila champs merasa aktivitas sehari-hari mulai terganggu karena sulit mengatur waktu atau terjebak dalam FOMO, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

Referensi

  • Dalton, T. (2019). The joy of missing out: Live more by doing less. Thomas Nelson.
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29, 1841-1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014