Hai Champs! Setiap orang punya pasti memiliki teknik belajar favorit. Mungkin champs suka membaca buku, menonton video, mendengarkan penjelasan, atau rajin bikin catatan warna-warni. Tapi ada pertanyaan penting yang sering kita lewatkan, yaitu apakah cara belajar yang kita pilih benar-benar efektif?
Penelitian Dunlosky et al,. (2013) justru menemukan bahwa kebanyakan siswa mengandalkan strategi belajar yang paling lemah, seperti membaca ulang atau menyorot teks. Teknik-teknik ini mudah dilakukan, tetapi tidak selalu membantu kita memahami atau mengingat materi dengan lebih baik. Padahal, ada banyak strategi belajar yang jauh lebih efektif. Teknik-teknik ini jarang diajarkan dan banyak guru pun belum familiar dengannya.
5 Teknik Belajar
Sekolah mengajarkan banyak hal seperti materi, rumus, dan konsep dasar. Namun, sekolah tidak pernah mengajarkan teknik-teknik yang sebenarnya membuat belajar menjadi lebih mudah. Berikut lima teknik belajar yang akan membantu champs memahami dan mengingat materi dengan lebih baik:
1. Feynman Technique
Teknik Feynman adalah cara belajar yang membantu kita memahami konsep secara cepat dengan menjelaskannya kembali dalam bahasa yang sangat sederhana, seolah-olah kita sedang mengajar anak kecil. Teknik Feynman memecah hal yang rumit menjadi bagian kecil yang mudah dimengerti, sehingga seorang anak kecil dapat memahami setiap aspek konsep tersebut. Prinsip utamanya sederhana, jika champs ingin memahami sesuatu dengan baik, cobalah menjelaskannya dengan sesederhana mungkin. Saat mencoba menjelaskan suatu konsep dengan kata-kata sendiri, champs akan cenderung memahaminya jauh lebih cepat. Bloom (2023) menjelaskan langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Tulis semua hal yang champs tahu tentang topik atau konsep yang sedang ingin dipelajari.
- Jelaskan kembali dengan kata-kata sendiri, seolah-olah champs sedang mengajar seseorang yang benar-benar baru pertama kali mendengarnya.
- Cek ulang tulisanmu dan tandai bagian yang masih salah. Cari penjelasan yang benar dari catatan atau materi belajar, lalu perbaiki bagian yang keliru.
- Setelah itu, baca ulang versi yang sudah diperbaiki untuk memastikan champs benar-benar memahaminya.
2. Active Recall
Active recall adalah cara belajar dengan mengambil kembali informasi dari ingatan, bukan hanya memasukkan informasi seperti metode belajar tradisional. Active recall dilakukan dengan cara memilih topik/konsep yang ingin dipelajari, membuat pertanyaan, dan kemudian menguji diri sendiri secara berulang kali dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan memaksa otak mengingat jawaban, champs sedang belajar secara aktif, bukan sekadar membaca secara pasif. Teknik ini bukan hanya memperkuat ingatan, tetapi juga membantu champs melihat bagian mana yang sudah dikuasai dan mana yang masih perlu dipelajari lagi. Owen (2025) menjelaskan langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Gunakan bahan belajar apapun yang champs punya (slide, video, atau catatan), lalu buat daftar pertanyaan singkat dari isi materi tersebut.
- Saat mengulang pelajaran, coba jawab semua pertanyaan itu tanpa melihat catatan.
- Kalau ada jawaban yang salah, buka kembali materi dan pelajari sampai champs bisa menjawabnya dengan benar.
- Champs bisa memberi warna berbeda pada pertanyaan yang sudah benar atau salah untuk memantau progres (misalnya hijau untuk benar, merah untuk salah).
- Dengan mengulang pertanyaan-pertanyaan itu secara berkala, ingatan champs akan jadi lebih kuat.
3. Pomodoro
Teknik pomodoro adalah pola belajar dan istirahat yang teratur. Champs menetapkan satu sesi belajar selama 25 menit diikuti dengan istirahat selama 5 menit. Pada waktu istirahat ini, penting untuk benar-benar menjauh dari materi. Champs bisa jalan-jalan sebentar, minum air, atau sekadar mengalihkan pikiran. Teknik ini memberi kesempatan bagi otak untuk memproses dan menyimpan informasi dari sesi 25 menit sebelumnya. Selain itu, jeda singkat ini membuat Champs tetap mempertahankan fokus lebih lama saat masuk ke sesi Pomodoro berikutnya. Cirillo (2018) menjelaskan langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Pilih aktivitas yang mau champs kerjakan, urutkan sesuai prioritas, lalu tulis di To Do List.
- Setel timer pomodoro selama 25 menit dan kerjakan aktivitas pertama di daftar tersebut.
- Begitu timer berbunyi, beri tanda X pada tugas yang sedang dikerjakan lalu ambil istirahat singkat selama 3–5 menit. Bunyi timer menandakan bahwa satu sesi kerja sudah selesai, walaupun tugasnya belum tuntas.
- Kalau sesi pomodoro terpotong oleh gangguan dan benar-benar berhenti, sesi itu dianggap hangus dan tidak dihitung. Champs perlu memulai kembali dengan Pomodoro yang baru.
4. Interleaved Practice
Saat mempelajari dua atau lebih topik yang mirip, daripada cuma fokus pada satu topik seharian penuh, champs dapat mempelajari keduanya. Misalnya, jika champs sedang mempelajari topik A dan topik B, daripada berlatih hanya A pada satu hari dan hanya B pada hari berikutnya, champs dapat berlatih keduanya dihari yang sama dengan mempelajari A dan B secara bergantian. Cara ini membantu otak membedakan dan memahami setiap topik dengan lebih baik (Taylor & Rohrer, 2010).
Contohnya :
- 20 menit Matematika
- 20 menit Sains
- 20 menit Bahasa Inggris
Champs juga bisa mencoba versi yang lebih kecil, bukan ganti mata pelajaran, tapi ganti bab atau topik di pelajaran yang sama. Teknik ini bekerja karena otak gampang “mati rasa” kalau mengerjakan satu hal terlalu lama. Dengan membagi waktu dan berpindah pelajaran, champs menjaga otak tetap fokus. Saat pindah ke mata pelajaran lain, bagian otak yang sebelumnya bekerja bisa “istirahat”, tapi informasi yang baru dipelajari tetap diproses di latar belakang.
5. Spaced Repetition
Spaced Repetition adalah salah satu cara paling efektif untuk memahami materi yang sulit. Metode ini mendorong siswa untuk belajar secara bertahap selama periode yang lebih lama daripada belajar dadakan semalam sebelum ujian. Dengan menjadwalkan waktu khusus untuk mempelajari dan mengulang pelajaran, champs bertanggung jawab atas proses belajar. Ketika otak kita hampir melupakan informasi, otak bekerja lebih keras untuk mengingatnya kembali. Dengan membagi waktu belajar, otak punya kesempatan menghubungkan ide-ide dan membangun pengetahuan yang dapat dengan mudah diingat kembali di kemudian hari (Yuan, 2022).
Contohnya :
- Hari 1: Pelajari materi di kelas.
- Hari 2: Ulangi dan tinjau.
- Hari 3: Ulangi dan ulas kembali.
- Setelah satu minggu: Ulangi dan ulas kembali.
- Setelah dua minggu: Ulangi dan ulas kembali.
Apabila champs merasa butuh tempat bercerita atau butuh arahan lebih lanjut, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.
Referensi
- Bloom, S. (2023, April 5). The Feynman Technique. The Curiosity Chronicle. https://www.sahilbloom.com/newsletter/the-feynman-technique
- Cirillo, F. (2018). The Pomodoro technique: The acclaimed time-management system that has transformed how we work. Crown Currency.
- Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh, E. J., Nathan, M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving students’ learning with effective learning techniques: Promising directions from cognitive and educational psychology. Psychological Science in the Public interest, 14(1), 4-58.
- Taylor, K., & Rohrer, D. (2010). The effects of interleaved practice. Applied cognitive psychology, 24(6), 837-848.
- Owen, M. (2025, September 5). Active Recall: The most effective high-yield learning technique. Osmosis Blog. https://www.osmosis.org/blog/active-recall-the-most-effective-high-yield-learning-technique
- Yuan X. (2022). Evidence of the Spacing Effect and Influences on Perceptions of Learning and Science Curricula. Cureus, 14(1), e21201. https://doi.org/10.7759/cureus.21201












