Family Indonesia

Flexing Bikin Pusing: Saatnya Mengelola Gaya Hidup Hedon di Era Sosmed

Flexing Bikin Pusing: Saatnya Mengelola Gaya Hidup Hedon di Era Sosmed

Hai Champs! Sekarang ini, flexing kayaknya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari remaja. Outfit baru harus dipamerkan, nongkrong di coffee shop wajib difoto, liburan pun rasanya sayang kalau tidak di-posting. Tanpa sadar, ada tekanan yang bikin kita merasa harus selalu terlihat seru dan bahagia di sosmed. Kalau nggak update, takutnya dikira nggak gaul atau hidupnya membosankan.

Pola ini dekat dengan hedonisme, yaitu dorongan untuk selalu mencari hal yang bikin kita merasa senang. Namun, apakah kesenangan yang champs tunjukkan benar-benar bikin bahagia? Kalau kita terus menaruh kesenangan pribadi di atas semuanya, bisa-bisa hal yang benar-benar penting malah hilang dari hidup kita. Pada akhirnya, kesenangan tanpa batas dapat menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri di masa depan.

Apa Itu Hedonisme?

 

Istilah hedonisme berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti “kesenangan”. Dalam ranah filsafat, hedonisme dipahami sebagai pandangan yang menempatkan kebahagiaan sebagai tujuan tertinggi dalam hidup. Artinya, seseorang dianggap menjalani hidup dengan baik ketika ia mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Segala sesuatu dinilai baik sejauh hal itu memberikan rasa bahagia bagi individu.

Dalam perkembangan modern, hedonisme lebih sering dikaitkan dengan gaya hidup yang berfokus pada pemuasan keinginan pribadi, seperti konsumsi makanan dan minuman secara berlebihan, belanja impulsif, hingga menghabiskan waktu serta uang untuk aktivitas yang semata-mata memberi kesenangan sesaat. Hedonisme dapat disimpulkan sebagai orientasi hidup yang kesenangan untuk diri sendiri. Akibatnya, dampak jangka panjang terhadap diri sendiri maupun orang lain sering diabaikan.

Apa Dampaknya?

 

Perubahan sosial yang terjadi saat ini membawa konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Ketika seseorang terjebak dalam gaya hidup hedonis, dampaknya tidak hanya dirasakan pada kondisi keuangan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kualitas relasi dengan orang lain. Saputro (2023) menjelaskan bahwa terdapat sejumlah konsekuensi yang umum muncul:

1. Individualisme: Mereka yang terlalu fokus pada kesenangan pribadi cenderung memprioritaskan diri sendiri dan mengabaikan        kepentingan orang lain, sehingga hubungan sosial menjadi renggang.

2. Konsumtif: Keinginan untuk selalu menikmati hal-hal menyenangkan membuat seseorang sering menghamburkan uang tanpa pertimbangan. Tanpa disadari, pola ini dapat memicu masalah finansial, bahkan utang.

3. Egois: Hedonisme membuat seseorang lebih memprioritaskan kesenangan pribadi di atas segalanya. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk menjadi individu yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri.

4. Pemalas: Sebagian orang yang terjerumus hedonisme biasanya cenderung lebih memilih aktivitas yang menyenangkan, tugas dan tanggung jawab yang terasa sulit atau tidak nyaman sering diabaikan.

5. Kurang bertanggung jawab: Ketidakmampuan mengelola waktu, uang, dan komitmen dapat membuat seseorang tidak lagi memikirkan konsekuensi dari tindakannya, bahkan terhadap dirinya sendiri.

6. Boros: Untuk mengikuti tren atau memenuhi keinginan sesaat, uang dihabiskan tanpa memikirkan manfaat atau kebutuhan yang sebenarnya.

7. Korupsi: Dalam kasus ekstrem, dorongan untuk terus menikmati kesenangan dapat membuat seseorang menghalalkan segala cara, seperti menyalahgunakan waktu kerja, mengabaikan tugas, bahkan korupsi.

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

 

Gaya hidup yang terlalu berpusat pada kesenangan sebenarnya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Ada berbagai langkah sederhana namun efektif untuk keluar dari hedonisme dan membangun kebahagiaan yang lebih sehat serta bertahan lama. Schaffner (2016) mengungkapkan beberapa strategi yang dapat diterapkan:

     1. Belajar Bersyukur

Selalu ada hal baik dalam hidup yang mungkin selama ini luput dari perhatianmu. Meluangkan waktu untuk menyadari dan menghargai hal-hal kecil yang dimiliki dapat meningkatkan rasa bahagia dan kepuasan hidup. Mengucapkan terima kasih kepada orang lain juga memperkuat relasi dan emosi positif.

     2. Membangun Relasi yang Bermakna

Lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap karakter dan pilihan hidup. Ketika pertemanan justru mendorong gaya hidup konsumtif dan pamer, penting untuk mulai mencari komunitas yang mendukung pertumbuhan diri dan nilai hidup yang positif. Relasi yang sehat akan membantu champs lebih fokus pada nilai hidup yang positif, bukan sekadar gengsi atau pamer di sosial media.

     3. Berbuat Baik

Melakukan kebaikan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain tetapi juga meningkatkan kebahagiaan champs sendiri. Bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membantu teman, terlibat dalam kegiatan sosial, atau berbagi tanpa mengharapkan imbalan. Semakin sering berbuat baik, semakin kuat juga rasa empati dan tujuan hidup yang champs rasakan.

     4. Kesadaran Diri dan Self-Care yang Sehat

Kesadaran diri berarti tahu apa yang champs rasakan dan butuhkan saat ini. Dengan memahami kondisi diri, champs bisa membedakan mana kebutuhan yang penting dan mana keinginan yang hanya sesaat. Dengan memberi waktu untuk istirahat dan melakukan aktivitas yang menenangkan pikiran, stres dapat berkurang secara signifikan. Ketika mampu memahami diri sendiri dengan baik, kebahagiaan yang dirasakan pun menjadi lebih stabil dan tidak bergantung pada hal-hal eksternal.

     5. Fokus pada Pertumbuhan Pribadi

Luangkan waktu sejenak untuk memikirkan dan mendefinisikan ulang tujuan hidup yang ingin champs capai. Fokuslah pada hal tidak hanya dapat memberikan kebahagiaan tetapi juga memberikan makna jangka panjang dalam hidup champs. Mengeksplorasi kemampuan baru, menantang diri, dan fokus pada proses perkembangan diri akan membantu champs merasa bangga dengan setiap langkah kemajuan yang dicapai.

     6. Membatasi Dorongan Materialistik

Barang baru bisa memberi kesenangan instan, tetapi jarang menghadirkan kebahagiaan yang bertahan lama. Oleh karena itu, cobalah hindari aktivitas yang tidak memberikan manfaat bagi champs. Lebih baik memprioritaskan pengalaman, pengembangan diri, dan membangun hubungan yang sehat daripada sekadar mengumpulkan benda.

     7. Menikmati Setiap Momen Dengan Penuh Kesadaran

Belajarlah untuk menikmati pengalaman positif dan momen kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Perlambat langkah, libatkan indra Anda, dan nikmati sepenuhnya kesederhanaan di sekitar Anda. Cari kebahagiaan dalam hal-hal sederhana namun penuh makna. Misalnya, membaca buku, berbicara dengan orang-orang terdekat atau keluarga tercinta, berkebun, berolahraga, atau membantu orang lain.

Apabila champs merasa terjebak dalam tekanan gaya hidup hedonisme, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

 

Referensi

  • Saputro, J. S. (2023, 12 Juni). Mengapa Terjebak Gaya Hidup Hedonisme. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan Republik Indonesia. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-rsk/baca-artikel/16189/Mengapa-Terjebak-Gaya-Hidup-Hedonisme.html
  • Schaffner, A. K. (2016, September 5). How to escape the hedonic treadmill and be happier. PositivePsychology.com. https://positivepsychology.com/hedonic-treadmill/#how-to-become-happier