Parents, apakah pernah mendengar istilah labelling pada anak?
Labelling pada anak seringkali terjadi tanpa disadari, baik oleh orang tua, guru, atau lingkungan di sekitar anak. Contohnya adalah anak yang tidak membereskan tempat tidurnya akan dicap sebagai “Anak malas”. Bagi anak yang tidak bisa diam, akan diberikan label sebagai “Anak nakal”, tapi mereka yang tidak suka berbicara juga akan diberikan label “Anak pendiam”. Pemberian label-label ini pada anak dapat memengaruhi cara mereka melihat dirinya sendiri dan cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Labelling bukan hanya akan berdampak pada bagaimana anak melihat dirinya, tapi juga bagaimana orang tua atau orang sekitarnya melihat anak tersebut. Meskipun niatnya mungkin baik, seperti memberikan motivasi atau menjelaskan sifat anak, label yang diberikan seringkali memberikan dampak yang negatif bagi anak
Apa itu Labelling?
Labelling merupakan pemberian cap atau julukan kepada seseorang yang memiliki gejala-gejala perilaku tertentu. Pemberian label berarti menggunakan kata sifat untuk menggambarkan karakter anak. Dengan demikian, orang yang diberikan label seringkali dinilai secara keseluruhan berdasarkan label tersebut tanpa memerhatikan perilaku-perilaku spesifiknya (Ahmadi & Nuraini, 2005). Akibatnya, individu yang diberi label cenderung mengalami perubahan peran dan lebih cenderung berperilaku sesuai dengan label yang telah diberikan kepadanya (Anggraeni & Khusumadewi, 2018). Hal ini juga berlaku pada label negatif yang diberikan kepada anak, yang bisa membentuk konsep diri anak tersebut hingga mereka dewasa. Seperti yang dijelaskan oleh Sigmund Freud, konsep diri berkembang melalui pengalaman, termasuk perilaku orang lain terhadap dirinya yang terjadi secara konsisten atau berulang (Kushendar & Maba, 2017).
Sebagian besar label, baik yang positif maupun negatif, cenderung menghasilkan dampak yang negatif. Hal ini terjadi karena label memiliki sifat yang membatasi. Label memberi tahu anak-anak karakteristik apa yang “seharusnya” mereka miliki (sesuai dengan label) dan karakteristik yang “tidak seharusnya” mereka miliki (yang umumnya tidak berhubungan dengan label tersebut). Label sering kali membatasi anak pada peran atau perilaku tertentu. Anak yang sering disebut “nakal” atau “pembuat onar” akan menganggap dirinya demikian dan hidup sesuai dengan label tersebut. Hal ini lama kelamaan akan membentuk pola pikir yang meyakinkannya bahwa itulah identitas dirinya. Hal ini terjadi karena anak cenderung menginterpretasikan diri mereka berdasarkan apa yang dikatakan oleh lingkungan mereka, sehingga mereka akhirnya menginternalisasi label tersebut dan berperilaku sesuai dengan apa yang diasumsikan.
Fenomena ini bisa dijelaskan melalui “Pygmalion Effect”. Efek ini menggambarkan bagaimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh keyakinan yang dimiliki orang lain atau diri kita sendiri tentang kemampuan kita serta apa yang bisa atau tidak bisa kita capai. Misalnya, jika kita menganggap seorang anak lebih cakap dalam berolahraga, kita cenderung memberinya lebih banyak kesempatan untuk berlatih, lebih banyak dukungan, dan waktu lebih untuk meningkatkan keterampilannya. Anak tersebut kemudian akan merespons dengan mengonfirmasi harapan kita dengan melakukan lebih banyak olahraga dan akhirnya mencapai hasil yang positif. Sebaliknya, jika kita memberi label negatif, seperti menganggap anak tidak pandai berolahraga dan menghalangi dia untuk melakukannya, anggapan tersebut bisa jadi menjadi kenyataan.
“Children become what they are told they are.” –Dorothy Delay
Dampak Negatif Label Pada Anak
1.Generalisasi Sifat Anak
Anak-anak tidak selalu berperilaku dengan cara yang sama, namun, karena kita sering memberikan label, kita cenderung menggeneralisasi dan beranggapan bahwa mereka akan berperilaku seperti itu dalam semua situasi dan sepanjang waktu, padahal hal tersebut tidaklah benar.
2 .Tidak Melihat Perilaku Anak yang Lain
Saat kita memberi label pada anak, perhatian kita cenderung terfokus pada perilaku-perilaku yang mengonfirmasi label yang diberikan, sehingga menjadi lebih sulit untuk melihat perilaku-perilaku positif atau yang bertentangan dengan label tersebut. Juga, faktanya bahwa setiap karakteristik anak memiliki dua sisi yang dapat diasah. Ketika kita hanya memusatkan perhatian pada sisi negatif dari perilaku anak, kita melewatkan kenyataan bahwa sifat-sifat tersebut juga bisa memiliki aspek yang positif. Misalnya:
- Anak yang “suka memerintah” bisa menjadi pemimpin yang hebat.
- Anak yang “enerjik” adalah anak yang penuh semangat.
- Anak yang “suka berimajinasi” adalah anak yang kreatif dan berbakat dalam berimajinasi.
- Anak yang “suka menentang” adalah anak yang tegas dan memiliki pendirian.
3.Anak Bersikap Berdasarkan Label
Anak-anak akan bertindak berdasarkan apa yang diharapkan dari mereka dan peran yang diberikan kepada mereka, anak akan menyesuaikan tindakan mereka untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Hal ini berkaitan dengan konsep “self-fulfilling prophecy” atau ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya, di mana harapan atau label yang diberikan pada anak bisa memengaruhi cara mereka berperilaku, dan seiring waktu, anak tersebut akan mulai berperilaku sesuai dengan peran atau harapan yang telah ditetapkan. Misalnya, jika seorang anak sering dipandang sebagai pemimpin atau yang cakap dalam memimpin, mereka akan lebih cenderung untuk mengambil peran tersebut dan menunjukkan perilaku kepemimpinan.
4.Memengaruhi Self-Esteem Anak
Ketika anak-anak terus mendengar label yang diberikan kepada mereka, terutama label negatif, mereka mulai menginternalisasi label tersebut dan menganggapnya sebagai bagian dari identitas diri mereka. Jika anak sering diberi label seperti “nakal,” “tidak pandai,” atau “pemalas,” mereka mungkin mulai percaya bahwa label tersebut menggambarkan siapa mereka sebenarnya. Hal ini dapat merusak harga diri dan berdampak buruk bagi perkembangan emosional psikologis anak karena mereka cenderung melihat diri mereka hanya dari sudut pandang yang negatif. Anak-anak perlu memahami bahwa mereka lebih dari sekadar satu atau dua sifat negatif.
Baca juga: Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh
5. Pelabelan Membatasi Potensi Anak
Meskipun label positif dapat memberikan dorongan bagi anak-anak, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelabelan positif tetap dapat membatasi potensi mereka. Meskipun label seperti “Anak pintar,” “Anak bijaksana,” atau “Anak baik hati” terdengar baik, label ini tetap membatasi anak-anak menjadi satu sifat tertentu, yang dapat membebani mereka dengan harapan atau tekanan yang berlebihan untuk selalu menunjukkan sifat tersebut. Contoh lainnya, bila anak diberi label “kreatif” akan mungkin membuat anak merasa harus selalu berkreasi dan terjun pada bidang seni, meskipun mereka memiliki ketertarikan pada bidang lain. Labelling membuat anak tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai minat dan aktivitas yang diinginkannya karena sudah dibatasi oleh label-label yang ada.
Cara Mencegah Labelling
- Choosing the Right Words
Orang tua dapat lebih berfokus pada tindakan anak daripada memberikan label pada karakter anak. Misalnya, saat anak tidak membereskan tempat tidurnya, coba katakan bahwa itu adalah “tindakan yang kurang bertanggung jawab” agar anak menyadari bahwa perilaku tersebut bisa diperbaiki, tanpa merendahkan dirinya sebagai pribadi yang “malas.” Hal ini memberi anak kesempatan untuk memperbaiki perilakunya tanpa merasa dihukum atau dipermalukan. Begitu juga saat anak mencapai prestasi positif, coba berikan pujian yang menekankan pada usaha dan bukan pada hasil atau karakter anak. Contohnya, “Kamu sudah melakukannya dengan baik hingga akhir”, alih-alih mengatakan, “Kamu anak terpintar”. Kalimat pertama akan memberikan dorongan yang lebih positif dan mengajarkan anak untuk terus berusaha, tanpa terbebani pada tekanan atau harapan yang berlebihan. Pendekatan ini akan membantu anak mengembangkan pandangan yang lebih sehat tentang dirinya dan membantu mereka memahami bahwa perilaku yang mereka lakukan dapat diperbaiki atau ditingkatkan tanpa mengaitkannya dengan identitas diri mereka.
- Penilaian yang Menyeluruh
Melihat anak secara utuh termasuk berbagai aspek dan potensi dalam diri mereka, bukan hanya berdasarkan satu sifat atau tindakan saja. Hal ini dapat menghindari perilaku pemberian label negatif atau positif yang berlebihan pada anak, yang nantinya dapat memengaruhi persepsi dan rasa percaya diri mereka.
- Hindari Perbandingan
Tidak membandingkan anak dengan saudara kandung, sepupu, teman, atau orang lain karena setiap anak memiliki kepribadian, minat, dan cara belajar yang berbeda. Meskipun dua anak mungkin berada dalam situasi yang serupa, cara mereka merespons, berkembang, atau berperilaku bisa sangat berbeda. Perbandingan semacam ini dapat memicu rasa tidak aman, stres, atau rasa tidak dihargai pada anak. Selain itu, setiap anak memiliki waktu dan cara yang berbeda dalam mencapai tujuan atau mengatasi tantangan. Beberapa anak mungkin lebih cepat berkembang dalam aspek tertentu, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak waktu atau pendekatan yang berbeda untuk dapat berkembang. Dengan menghindari perbandingan kepada anak, orang tua memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi mereka, tanpa merasa terbebani oleh standar atau ekspektasi yang tidak relevan.
Parents, anak-anak kita akan terus tumbuh, berkembang, dan memiliki potensi yang tak terbatas. Penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk tumbuh tanpa dibatasi oleh label. Kita perlu melihat mereka sebagai individu yang berkembang, dimana kita memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi diri, belajar dari pengalaman, dan berusaha mencapai potensi terbaik mereka, tanpa ada rasa takut atau ragu akibat label yang menyakitkan. Maka dari itu, dibutuhkan dukungan penuh kasih oleh orang tua dan pemahaman bahwa setiap anak memiliki perjalanannya masing-masing. Penting bagi kita untuk tidak menghalangi hal ini dengan memberikan label yang berbahaya atau menyakitkan bagi anak.
“Children learn by doing, and doing is noisy, untidy, messy, and unpredictable.” – Maggie Dent
Focus on the Family Indonesia mendukung parents, memperlengkapi anak dengan nilai-nilai dan kasih untuk anak dapat berkembang dan mengeksplorasi potensi yang mereka inginkan. Oleh sebab itu, FOFI menyediakan program konseling untuk parents agar bisa berdiskusi dengan tenaga profesional terkait parenting. FOFI juga menyediakan program parenting ‘Raising Future Ready Kids’ yang dapat membekali parents dengan skills untuk mendampingi pertumbuhan anak dalam membangun komunikasi yang efektif. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Ahmadi, D., & Nuraini, A. (2005). Teori penjulukan. MediaTor (Jurnal Komunikasi), 6(2), 297–306. https://doi.org/10.29313/mediator.v6i2.1209
Anggraeni, A., & Khusumadewi, A. (2018). BIBLIOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN LABELLING NEGATIF PADA SISWA SMP. Jurnal Bikotetik (Bimbingan Dan Konseling Teori Dan Praktik), 2(1), 109. https://doi.org/10.26740/bikotetik.v2n1.p109-114
Avoid labeling your child | Extension | University of Nevada, Reno. (n.d.). Extension | University of Nevada, Reno. https://extension.unr.edu/publication.aspx?PubID=3011#:~:text=Labeling%20affects%20the%20way%20children,goodby%20putting%20children%20in%20boxes
Fireman, P. (2024, August 16). 10 reasons parents should stop labeling their children. Childrens Health Council. https://www.chconline.org/resourcelibrary/10-reasons-parents-should-stop-labeling-their-children
Kushendar, K., & Maba, A. P. (2017). Bahaya label negatif terhadap pembentukan konsep diri anak dengan gangguan belajar. Nidhomul Haq Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(3), 95–102. https://doi.org/10.31538/nidhomulhaq.v2i3.52












