Family Indonesia

Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Parents, apakah anda pernah mendengar istilah inner child wounds?

Beberapa dari kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah ini karena banyaknya unggahan yang membahas mengenai inner child. Langkah ini menjadi bukti bahwa banyak orang yang mulai menyadari kehadiran anak kecil yang menjadi bagian dalam diri setiap individu. Bahkan ketika seseorang menjadi dewasa, inner child akan selalu ada bersama kita, entah itu sebagai sumber kreativitas dan kegembiraan atau sebagai trauma masa lalu.

Apa itu Inner Child?

Inner child adalah kumpulan peristiwa baik dan buruk yang terjadi selama masa pengasuhan oleh orang tua dan lingkungan sekitar, yang mempengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan seseorang di masa dewasa (Raniyah & Nasution, 2024). Ketika inner child seseorang sehat, maka ia akan menjadi sumber kreativitas, kegembiraan, dan inspirasi. Namun, pada inner child yang terluka, hal ini dapat berujung pada rendahnya harga diri, kesulitan untuk mempercayai orang lain, atau kesulitan dalam mengekspresikan emosi saat seseorang tumbuh menjadi individu dewasa.

Inner child yang terluka dapat terjadi karena pengasuhan yang melibatkan pengabaian, kekerasan, kurangnya kasih sayang, dan minimnya kehadiran orang tua yang meninggalkan luka batin pada anak (Surianti, 2022). Cara orang tua membesarkan atau mengasuh anak dapat memengaruhi perkembangan anak, baik dalam aspek intelektual, emosional, kepribadian, sosial, dan psikologis. Setiap orang tua tentu ingin anaknya hidup sesuai harapan mereka, sehingga para orang tua berusaha sebaik mungkin memberikan pengasuhan, pendidikan, dan bimbingan agar anaknya memenuhi ekspektasi tersebut. Namun, dalam kenyataannya, sering kali terdapat penyimpangan atau bahkan kontradiksi antara harapan dan kenyataan dalam pola pengasuhan, yang dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Ketika seorang anak tidak merasa aman, dicintai, atau diakui, mereka akan sangat mungkin mengalami luka batin yang dapat bertahan hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka memandang dunia, diri mereka sendiri, dan hubungan yang mereka miliki.

Seseorang dengan inner child yang terluka sering kali mencoba menghindari rasa sakit tersebut, dengan mengabaikan, menekan, atau menghindari perasaan yang ada, dan mendorongnya ke alam bawah sadar dengan harapan penderitaan itu akan hilang. Namun, inner child yang terluka tidak akan hilang begitu saja tanpa proses penyembuhan, dan dapat muncul pada individu dewasa dalam bentuk perilaku atau kondisi emosional yang seringkali tidak disadari. Proses penyembuhan inner child berfokus untuk memastikan bahwa seseorang merasakan nilai, cinta, dan perlindungan yang tidak ia dapatkan selama masa kanak-kanak.

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki pengalaman masa kanak-kanak yang membentuk siapa kita sekarang. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa selama masa tumbuh kembang, kita mungkin mengalami berbagai peristiwa atau perlakuan yang membekas, baik itu berupa pengabaian, kekerasan, atau pengalaman emosional lainnya. Meskipun, saat ini kita sudah menjadi orang dewasa dan berperan sebagai orang tua, luka batin yang belum sepenuhnya sembuh di masa lalu bisa tetap mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan anak-anak kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menyadari luka batin ini agar kita bisa melakukan proses penyembuhan, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi agar kita bisa memberikan pengasuhan yang lebih baik kepada anak-anak kita saat ini.

“The wound is not my fault. But, the healing is my responsibility.” – Marianne Williamson

Empat Tipe Inner Child Wound

  1. Neglect Wounds

Luka ini berkembang ketika kebutuhan dasar emosional atau fisik seorang anak tidak terpenuhi secara konsisten. Hal ini bisa berupa pengabaian kebutuhan fisik (makanan, pakaian, dan tempat tinggal) atau kebutuhan emosional (kasih sayang, pengakuan, dan bimbingan). Kondisi ini merupakan akibat langsung dari ketidakmampuan orang tua atau orang dewasa lain dalam memenuhi kebutuhan anak selama masa kanak-kanak. Misalnya, orang tua mungkin tidak hadir secara fisik untuk mengawasi atau melindungi anak dari bahaya fisik, atau anak mungkin tidak diberikan barang-barang dasar yang diperlukan, seperti pakaian, makanan, atau tempat tinggal yang layak. Luka pengabaian juga dapat disebut luka prioritas, dimana anak dan kebutuhannya tidak diperlakukan sebagai prioritas.

Tanda-tanda dari Luka Pengabaian:

  • Kesulitan mengekspresikan emosi.
  • Harga diri yang rendah.
  • Merasa tidak terlihat atau tidak penting.
  • Kesulitan menetapkan batasan.
  • Kecenderungan untuk menyenangkan orang lain

2. Guilt Wounds

Luka ini berasal dari perasaan bersalah atas kesalahan di masa lalu, yang mengendap dan terus melekat pada diri seseorang sepanjang kehidupan dewasa mereka. Perasaan bersalah ini bisa timbul karena anak dibesarkan dalam lingkungan di mana disiplin yang diterapkan orang tua mengandalkan rasa bersalah dan malu yang dirasakan oleh anak.

Tanda-tanda dari Luka Rasa Bersalah:

  • Menggunakan rasa bersalah untuk memenuhi kebutuhan emosional.
  • Tidak mengungkapkan apa yang dirasakan atau diinginkan.
  • Kesulitan meminta apa yang mereka butuhkan.
  • Menggunakan rasa bersalah untuk memanipulasi orang lain.
  • Takut menerapkan batasan.
  • Menekan atau mengabaikan perasaan sendiri.
  • Cenderung menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu, kritis terhadap diri sendiri

3. Abandonment Wounds

Luka ini berasal dari pengalaman yang dirasakan atau pengalaman nyata tentang ditinggalkan, tidak diinginkan, atau tidak dicintai. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidakhadiran fisik misalnya orang tua yang bekerja berjam-jam, ketidakhadiran emosional seperti orang tua yang tinggal jauh, atau bahkan ancaman pengabaian yang terjadi berulang kali.

Tanda-tanda dari Luka Pengabaian:

  • Takut akan keintiman dan komitmen.
  • Sering merasa sendirian meski sedang berada di keramaian.
  • Ketakutan akan ditinggalkan orang terdekat.
  • Kesulitan memercayai orang lain.
  • Perilaku melekat dalam hubungan atau malah terlalu mandiri.
  • Posesif dan cemburu.
  • Perasaan takut ditolak.

4. Trust Wounds

Luka ini muncul akibat pengalaman masa kecil di mana kepercayaan dan rasa aman dilanggar atau hilang. Luka ini menyebabkan seseorang kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat, serta kesulitan memercayai diri sendiri dan orang lain.

Tanda-tanda dari Luka Kepercayaan:

  • Sulit memercayai diri sendiri.
  • Perasaan curiga yang intens saat berada dalam suatu hubungan.
  • Merasa tidak aman dan membutuhkan validasi orang lain.
  • Takut membuka diri kepada orang lain.
  • Pikiran negatif bahwa orang lain akan memanfaatkan dirinya.
  • Kesulitan masuk ke dalam lingkungan yang benar-benar baru.

Jika parents, sebagai individu atau juga anak anda merasakan salah satu dari luka-luka tersebut, anda dapat mengambil langkah penyembuhan dengan pertama-tama mengakui rasa sakit yang dimiliki. Ketika individu dapat mengenali dampak dari pengalaman masa kecil mereka, ini adalah langkah pertama menuju penyembuhan. Kedua, mencari dukungan baik melalui orang terdekat ataupun terapi bersama profesional untuk memberikan ruang aman saat mengeksplorasi luka batin dan mengembangkan mekanisme koping yang lebih sehat. Terakhir, adalah mengembangkan belas kasih kepada diri sendiri. Diri kita sendiri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan kebaikan dan pengertian yang kita butuhkan.

Ingatlah, bahwa anda tidak sendirian dalam hal ini dan ada banyak orang yang siap membantu, serta mendukung proses penyembuhan diri ini. Percayalah, bahwa proses penyembuhan diri bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan untuk pulih dan akhirnya menemukan kedamaian diri.

“Your inner child deserves to feel safe, loved, and heard.”

Jika parents tertarik untuk mengeksplorasi dan mengenal inner child, parents dapat berkomunikasi dengan terapis atau profesional untuk memahami pentingnya masa kecil dalam membentuk kehidupan anak. Focus on the Family Indonesia juga siap membantu parents yang masih berproses dan menyembuhkan inner child diri anda melalui program konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Raniyah, Q., & Nasution, N. (2024). THE INNER CHILD PHENOMENON: PARENTING STYLE AS a PREDICTOR OF THE INNER CHILD. Raniyah | Proceeding International Seminar of Islamic Studies. https://doi.org/10.3059/insis.v0i1.18622

Surianti, S. (2022). Inner Child: Memahami dan Mengatasi Luka MasaKecil. Jurnal Mimbar Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani, 8(2), 10–18. https://doi.org/10.47435/mimbar.v8i2.123