Family Indonesia

Ketika Hati Terasa Sepi di Tengah Keramaian

Ketika Hati Terasa Sepi di Tengah Keramaian

Champs, pernah nggak kamu lagi bercanda bareng teman-teman, notifikasi grup chat ramai, story Instagram penuh, atau bahkan punya followers cukup banyak di media sosial, tapi… di dalam hati tetap terasa kosong? Kamu ada di tengah keramaian, tapi rasanya seperti tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun.

Kadang perasaan ini muncul saat scrolling media sosial. Kenalanmu lagi hangout bareng circle yang solid, atau merayakan pencapaian mereka. Tanpa sadar muncul pertanyaan kecil di kepala: Kenapa hidup mereka terlihat lebih penuh daripada hidupku?

Perasaan seperti ini sering dikaitkan dengan kesepian (loneliness). Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua rasa kosong atau sendiri otomatis berarti kita sedang mengalami kesepian kronis. Emosi bisa datang dan pergi, tergantung situasi yang sedang kita hadapi. Karena itu, alih-alih langsung memberi label, kita bisa mulai dengan mengenali dan memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.

Kesepian sendiri tidak selalu berarti seseorang benar-benar sendirian. Seseorang bisa memiliki banyak teman atau berada di lingkungan yang ramai, tetapi tetap merasa hubungan yang dimilikinya belum cukup memenuhi kebutuhan emosionalnya (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Lebih dari seratus penelitian menemukan bahwa kesepian pada remaja dan dewasa awal dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari hubungan dengan teman sebaya, kondisi psikologis, hingga lingkungan sosial tempat seseorang bertumbuh (Buecker et al., 2024). Jadi, kesepian bukan hanya tentang “punya teman atau tidak”, tetapi juga soal seberapa terhubung kita dengan orang lain secara emosional.

Kesepian Datang dalam Bentuk Berbeda

Champs, kesepian ternyata tidak selalu muncul dengan cara yang sama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengalaman ini setidaknya dapat muncul dalam dua bentuk utama (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023):

1. Kesepian sosial (social loneliness) muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki jaringan pertemanan atau hubungan sosial yang cukup luas.

2. Kesepian emosional (emotional loneliness) terjadi ketika seseorang merasa tidak memiliki hubungan yang benar-benar dekat dan mendalam dengan orang lain.

Itulah sebabnya kamu bisa saja memiliki banyak teman, tapi tetap merasa kesepian. Kamu tidak sendirian secara sosial, tetapi kamu belum merasa benar-benar dipahami secara emosional.

Kedua jenis kesepian ini juga dapat berkembang secara berbeda sepanjang kehidupan. Kesepian emosional cenderung meningkat dari masa remaja menuju dewasa awal, sedangkan kesepian sosial biasanya tidak banyak berubah setelah seseorang memasuki usia dewasa awal (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Mengapa Anak Muda Lebih Rentan Merasa Kesepian?

Masa remaja dan dewasa awal adalah periode kehidupan yang penuh perubahan. Banyak hal yang sedang dibangun sekaligus, mulai dari identitas diri, relasi baru, pendidikan, karier, hingga ekspektasi sosial. Di fase ini, hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan teman berkaitan erat dengan pengalaman kesepian (Buecker et al., 2024).

Yang paling berpengaruh bukan jumlah teman, tetapi kualitas hubungan tersebut. Hubungan yang hangat, suportif, dan saling menerima dapat membantu mengurangi kesepian. Sebaliknya, hubungan yang penuh konflik atau terasa tidak dekat dapat membuat seseorang merasa semakin terisolasi (Buecker et al., 2024). Pengalaman negatif dalam relasi sosial, seperti perundungan, penolakan, atau perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya, juga berkaitan dengan meningkatnya kesepian dari waktu ke waktu dan dapat membuat seseorang merasa kurang aman untuk membangun hubungan baru (Buecker et al., 2024).

Kesepian Tidak Hanya Soal Orang Lain, Tapi Juga Cara Kita Melihat Diri Sendiri

Champs, kesepian tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Cara seseorang memandang dirinya juga memiliki peran penting dalam pengalaman ini.

Beberapa kondisi psikologis diketahui berkaitan dengan kesepian pada remaja dan dewasa awal, seperti kepercayaan diri yang rendah, rasa malu dalam situasi sosial, serta kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial (Buecker et al., 2024). Misalnya, ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup menarik atau tidak cukup berharga, ia mungkin menjadi lebih ragu untuk mendekati orang lain atau membangun hubungan baru. Keraguan ini dapat membuat seseorang semakin sulit merasa terhubung dengan orang lain.

Dalam jangka waktu tertentu, kesepian yang terus berlangsung juga dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis. Champs dapat mengalami penurunan kepuasan hidup, menurunnya kesejahteraan psikologis, hingga meningkatnya risiko masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023; Buecker et al., 2024).

Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk merasa terhubung merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia.

Peran Keluarga: Tempat Pertama Belajar Merasa Terhubung

Selain teman sebaya, hubungan dengan keluarga juga berpengaruh, lho! Dalam tinjauan penelitian tentang kesepian pada anak muda, Binte Mohammad Adib dan Sabharwal (2023) menemukan beberapa hal penting terkait peran keluarga:

1. Hubungan yang hangat dengan orang tua dapat membantu mengurangi kesepian

Anak muda yang merasa didukung, dihargai, dan diperhatikan oleh orang tua cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah.

2. Hubungan keluarga yang hangat menjadi dasar rasa aman dalam menjalin relasi

Ketika seseorang merasa diterima di rumah, ia cenderung lebih percaya diri untuk membangun hubungan di luar. Rasa aman ini membantu kita lebih nyaman untuk terbuka, mempercayai orang lain, dan membangun koneksi yang lebih bermakna.

3. Dari rasa aman tersebut, seseorang dapat berkembang lebih sehat dalam relasi sosial

Termasuk kemampuan untuk menjadi lebih mandiri sekaligus tetap merasa terhubung dengan orang lain. Hal ini menjadi bekal penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan.

4. Pengalaman pengasuhan yang penuh dukungan dapat berdampak hingga masa dewasa awal

Kenangan tentang hubungan yang hangat dengan orang tua di masa lalu dapat tetap memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang ketika ia memasuki masa dewasa awal.

Media Sosial: Penghubung yang Membantu atau Pembanding yang Melelahkan?

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa durasi penggunaan media sosial tidak selalu berkaitan langsung dengan kesepian (Buecker et al., 2024). Dalam beberapa situasi, interaksi online justru dapat menjadi sumber dukungan sosial, terutama bagi individu yang merasa kesulitan membangun hubungan secara langsung (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Namun, penting untuk memahami bahwa media sosial pada dasarnya hanyalah sarana, bukan pengganti koneksi yang nyata. Ketika interaksi online mulai menggantikan pertemuan langsung atau digunakan untuk menghindari relasi di dunia nyata, hal ini justru dapat berkaitan dengan meningkatnya kesepian (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Artinya, yang lebih penting bukan berapa lama kita online, tetapi bagaimana kita menggunakan media sosial tersebut. Media sosial bisa membantu membuka koneksi, tetapi hubungan yang lebih dalam tetap perlu dibangun melalui interaksi yang lebih autentik di kehidupan sehari-hari.

Kesepian Bukan Kelemahan, Yuk Hadapi Bersama!

Champs, jika kamu pernah merasa kesepian, penting untuk diingat bahwa perasaan ini bukan berarti kamu gagal bersosialisasi. Kesepian adalah pengalaman yang cukup umum dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari hubungan sosial, kondisi psikologis, hingga lingkungan tempat seseorang bertumbuh (Buecker et al., 2024). 

Kesepian bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan. Perasaan ini justru bisa menjadi sinyal bahwa kita sedang membutuhkan koneksi yang lebih bermakna. Namun, tidak semua perasaan sendiri harus langsung dianggap sebagai kondisi kesepian yang serius. Ada kalanya perasaan ini muncul sebagai respons sementara, misalnya saat kita sedang lelah, menghadapi perubahan, atau merasa tidak sepenuhnya dipahami. Karena itu, daripada terburu-buru memberi label, kita bisa mulai dengan memahami kebutuhan yang mungkin ada di balik perasaan tersebut.

Menurut Adelia Khrisna Putri, akademisi dan peneliti dari Universitas Gadjah Mada, ada beberapa langkah sederhana yang dapat kamu coba untuk mulai menghadapi kesepian (Nathania & Universitas Gadjah Mada, 2025):

1. Akui perasaan yang sedang kamu rasakan

Menyadari dan menerima perasaan kesepian dapat menjadi langkah awal untuk memahami apa yang sebenarnya kamu butuhkan.

2. Hubungi orang yang kamu percaya

Mengirim pesan, menelepon, atau mengajak bertemu keluarga, mentor atau sahabat bisa membantu mengurangi rasa terisolasi.

3. Ikuti aktivitas yang kamu minati

Bergabung dalam kegiatan yang kamu sukai dapat membuka kesempatan untuk bertemu orang baru dan membangun koneksi.

4. Kurangi waktu di media sosial

Mengurangi paparan media sosial dan memperbanyak interaksi langsung dapat membantu memperkuat hubungan nyata.

5. Rawat diri dengan baik

Hal-hal sederhana seperti makan dengan teratur, berolahraga ringan, dan tidur yang cukup juga penting untuk menjaga kesejahteraan emosional.

6. Pertimbangkan mencari bantuan profesional

Konselor atau psikolog dapat membantu memberikan dukungan dan cara yang lebih tepat untuk menghadapi kesepian.

Champs, Mungkin Ini Saatnya Mendengarkan Diri Sendiri

Di tengah kesibukan, notifikasi, dan percakapan yang terus berjalan, ada satu suara yang sering terlewat: suara dari dalam diri kita sendiri.

Sering kali kita sibuk menjaga hubungan dengan banyak orang, tapi jarang benar-benar berhenti untuk memahami apa yang sedang kita rasakan. Padahal, kesepian kadang bukan hanya soal ketiadaan orang lain, tetapi tentang kebutuhan untuk didengar, dipahami, dan diterima apa adanya.

Mungkin selama ini kamu terlihat baik-baik saja di luar. Kamu tetap bercanda, tetap aktif di media sosial, dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Namun jauh di dalam hati, ada pertanyaan yang sesekali muncul pelan-pelan:

Apakah aku benar-benar merasa terhubung dengan orang-orang di sekitarku?

Apakah ada seseorang yang benar-benar mengenalku apa adanya?

Kebutuhan untuk merasa dipahami, diterima, dan terhubung adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Jadi jika saat ini kamu sedang merasa kesepian, ingatlah bahwa perasaan itu valid dan kamu tidak sendirian mengalaminya. Berilah ruang untuk mengenalinya dengan lebih jujur.

Kadang perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar: satu pesan singkat kepada teman lama, satu percakapan jujur dengan orang yang kamu percaya, atau satu keberanian kecil untuk berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Langkah-langkah kecil seperti itu bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih hangat dan bermakna.

Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, dimana Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.

Ingat, merasa kesepian bukan berarti kamu lemah. Itu hanya salah satu bagian dari perjalanan manusia untuk mencari koneksi, makna, dan tempat untuk merasa dimengerti.

Referensi

Binte Mohammad Adib, N. A., & Sabharwal, J. K. (2023). Experience of loneliness on well-being among young individuals: A systematic scoping review. Current Psychology, 43(3), 1965–1985. https://doi.org/10.1007/s12144-023-04445-z

Buecker, S., Petersen, K., Neuber, A., Zheng, Y., Hayes, D., & Qualter, P. (2024). A systematic review of longitudinal risk and protective factors for loneliness in youth. Annals of the New York Academy of Sciences, 1542(1), 620–637. https://doi.org/10.1111/nyas.15266

Nathania, K. D. & Universitas Gadjah Mada. (2025, August 15). Psychology Expert at UGM Explains Causes of Loneliness and How to Overcome It (G. Grehenson, Ed.). Universitas Gadjah Mada. Retrieved March 13, 2026, from https://ugm.ac.id/en/news/psychology-expert-at-ugm-explains-causes-of-loneliness-and-how-to-overcome-it/