Di dunia dengan akses internet yang sangat cepat dan teknologi yang terus maju, membuat berbagai alat elektronik menjadi lebih efektif sebagai sarana menggunakan aplikasi game online. Hal ini mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam aktivitas gaming, terutama pada anak-anak dan remaja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, mencatat anak usia 0-18 tahun mendominasi pasar game online dengan persentase 46,2% di Indonesia. Aktivitas bermain game online/video game yang awalnya hanya untuk mencari hiburan, lama kelamaan dapat membuat seseorang mengalami kecanduan bermain game.
Apa itu video game addiction?
Kecanduan video game juga disebut gangguan permainan internet, adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkurangnya kontrol atas kebiasaan bermain game yang mengakibatkan dampak negatif dalam berbagai aspek kehidupan, seperti merawat diri, hubungan, sekolah, dan pekerjaan. Kecanduan ini bisa meliputi bermain game di internet atau pada perangkat elektronik lainnya, tetapi umumnya individu yang menghadapi masalah bermain game adalah mayoritas yang bermain secara online.
Para peneliti berpendapat bahwa bermain dan meraih kemenangan dalam video game dapat memicu pelepasan dopamin. Dopamin merupakan senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk dalam memberikan rangsangan menyenangkan dan dorongan motivasi. Dopamin merupakan neurotransmitter yang juga terlibat dalam gangguan penggunaan lainnya, seperti gangguan perjudian dan gangguan penggunaan zat. Banyak peneliti menganggap kecanduan video game sebagai kecanduan perilaku yang mirip dengan gangguan judi, di mana dorongan untuk menang menjadi salah satu alasan utama untuk terus bermain. Namun, banyak juga peneliti yang membedakan keduanya sebagai kecanduan yang sama. Penting untuk mencari bantuan jika merasa bahwa kebiasaan bermain video game telah menguasai hidup dan sebagian besar waktu kita. Terlepas dari perdebatan ini, aktivitas atau kebiasaan apa pun yang menyita waktu dan berdampak negatif pada fungsi harian seseorang dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, sosial, dan fisik yang signifikan. Penting untuk mencari bantuan medis jika merasa bahwa kebiasaan bermain video game telah menguasai hidup dan sebagian besar waktu kita.
Video game/game online sendiri sebenarnya memiliki dampak positif apabila digunakan untuk hiburan karena dapat menghilangkan rasa lelah dan mengurangi stres pada seseorang. Namun, yang sering kali terjadi adalah banyak orang yang bermain game online secara berlebihan dan menjadikannya sebagai pelarian dari kehidupan nyata, sehingga menyebabkan kecanduan bermain game online. Kecanduan bermain game online akan memberikan dampak yang buruk, terutama dari segi akademis dan sosial. Dampak dari kecanduan game online dapat menurunkan motivasi dan mengganggu konsentrasi belajar. Konsentrasi terganggu saat belajar karena siswa tidak semangat belajar dan mengantuk akibat begadang semalaman hingga pagi untuk bermain game online. Selain itu, fokus siswa saat belajar tidak lagi pada materi pelajaran melainkan pada game online.
Permainan daring juga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan anak sekolah dasar atau karakter seseorang (Amran et al., 2020). Walaupun kita bisa berinteraksi dalam permainan daring dengan pengguna lainnya. Akan tetapi, permainan daring sering kali membuat para pemain melupakan kehidupan sosial di dunia nyata (Rahmi et al., 2020). Dampak dari kecanduan diyakini membuat anak sering terlibat dalam permainan game yang dapat mengurangi aktivitas positif, seperti belajar dan berinteraksi dengan teman sebaya. Anak yang kecanduan game online akan mengurangi waktu bersosialisasi dengan teman sebaya karena game berpotensi besar mengisolasi anak dari lingkungan sosial (Ulya et al., 2021). Dari segi perkembangan moral, anak yang kecanduan bermain gawai akan menjadi malas melakukan sesuatu, meninggalkan kewajiban beribadah, dan berkurangnya waktu belajar karena terlalu sering bermain game (Syifa et al., 2019). Bermain game online juga memberikan pengaruh buruk bagi perkembangan emosi dan sosial anak, diantaranya anak menjadi mudah tersinggung, lebih agresif, dan kurang berinteraksi dengan orang di sekitarnya.
Apa saja tanda dan gejala kecanduan video game?
Tanda dan gejala kecanduan game online adalah sebagai berikut. Namun, perlu dilakukan pemeriksaan ke ahli, seperti psikolog atau psikiater untuk memastikan apakah seseorang sudah termasuk mengalami kecanduan game online atau tidak.
- Gejala penarikan diri, seperti kesedihan, kecemasan, atau lekas marah, ketika game diambil atau tidak bisa bermain game.
- Menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game tanpa menjalani aktivitas lain, seperti makan, mandi, belajar, atau bekerja.
- Mengalami masalah di rumah, sekolah, atau kantor terkait kebiasaan bermain
- Kebutuhan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bermain video game untuk mendapatkan tingkat kenikmatan yang sama.
- Meninggalkan aktivitas lain yang sebelumnya dinikmati dan/atau hubungan sosial karena bermain game.
- Tidak dapat mengurangi waktu bermain dan tidak berhasil berhenti bermain game meskipun telah mengetahui konsekuensi negatif yang ditimbulkannya.
- Menggunakan video game sebagai cara untuk melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan di tempat kerja atau sekolah atau untuk menghindari konflik di rumah.
- Menggunakan video game untuk meredakan suasana hati yang negatif, seperti rasa bersalah atau putus asa.
- Memiliki keinginan bermain game setiap waktu.
Selain beberapa gejala psikologis tersebut, individu yang kecanduan permainan daring juga dapat mengalami gejala fisik, seperti cepat lelah, sakit kepala atau migrain, nyeri pada punggung, dan penglihatan berkunang-kunang. Dalam situasi yang sudah ekstrem, pemain game online bisa mengalami masalah saraf di tangan akibat bermain game terlalu lama secara berlebihan.
Cara Mengatasi Kecanduan Game Online
Apabila individu sudah mengalami kecanduan bermain game online, berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan parents untuk membantu anak anda.
- Membatasi Waktu Bermain Game dan Memberikan Pendampingan
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah sekaligus mengatasi masalah kecanduan game online adalah dengan membatasi waktu bermain. Jika anak sering menghabiskan waktu terlalu lama untuk bermain game, parents dapat mengajak anak berbicara dari hati ke hati untuk menanyakan mengapa mereka suka bermain game, lalu jelaskan dampak positif dan negatifnya. Parents dapat membuat kesepakatan bersama tentang durasi bermain game dan konsekuensi bila anak tidak menaati aturan tersebut. Cobalah untuk membuat jadwal bermain game dan beri batas waktu bermain, misalnya hanya 1-2 jam per hari. Saat anak bermain game, parents dapat duduk menemani anak untuk memberikan pendampingan dan tidak membiarkan anak menghabiskan terlalu lama waktu bermain game. Adanya jadwal yang teratur dapat membantu anak membagi waktu antara bermain game dan menyelesaikan tugas dan kewajiban lainnya. Parents juga dapat menggunakan alarm atau fitur parental control untuk secara otomatis menghentikan akses bermain game anak saat waktu habis.
- Melakukan Kegiatan Baru
Untuk mengurangi obsesi bermain game, parents bisa mengajak anak melakukan kegiatan fisik di luar rumah, seperti bersepeda atau olahraga di taman. Anda juga bisa membantu anak mencari kegiatan atau hobi baru, seperti melukis, bermain alat musik, memasak, berkebun, atau mengikuti les coding, agar anak memiliki kesenangan lain untuk mengalihkan perhatian dari bermain game. Hal ini bisa dilakukan, bukan hanya untuk mengurangi kecanduan game online, tetapi aktivitas fisik atau olahraga rutin juga dapat menjaga tubuh tetap sehat dan fit, serta meringankan masalah kesehatan karena terlalu sering bermain game, misalnya nyeri punggung.
- Mengubah Lokasi Perangkat Game
Kamar tidur sering kali menjadi tempat yang nyaman untuk bermain game online. Jika sudah kecanduan, Anda mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam hingga larut malam untuk bermain game di kamar.
4. Konsultasi dengan Tenaga Profesional
Jika anak kesulitan berhenti, meski sudah diberi batasan, aktivitas alternatif, dan pendampingan. Parents dapat membawa anak ke psikolog anak untuk mendapatkan intervensi, seperti cognitive behavioral therapy (CBT) sebagai metode yang efektif untuk mengurangi kecanduan bermain games.
Kecanduan game online merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang belakangan banyak terjadi, terutama pada anak-anak kita. Apabila anak sudah mengalami kecanduan game online hingga mengganggu waktu istirahat, sekolah, atau kegiatan lain sehari-hari, orang tua dapat mengakses bantuan ke tenaga profesional. Penting untuk diingat bahwa orang tua memiliki peran krusial dalam mengembalikan keseimbangan dalam hidup anak, melalui komunikasi yang empatik, pendampingan saat bermain, penetapan aturan yang disepakati bersama, serta dorongan untuk mengeksplorasi minat, selain menghabiskan waktu untuk bermain game.
Focus on the Family Indonesia memperlengkapi keluarga dengan nilai-nilai dan kompetensi untuk membangun keluarga yang sehat. Oleh sebab itu, FOFI menyediakan program konseling untuk parents agar bisa berdiskusi dengan tenaga profesional untuk perkembangan keluarga Anda. FOFI juga menyediakan berbagai seminar parenting yang dapat membekali parents mendampingi pertumbuhan anak. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Amran, A., Marheni, E., Sin, T. H., & Yenes, R. (2020). KECANDUAN GAME ONLINE MOBILE LEGENDS DAN EMOSI SISWA SMAN3 BATUSANGKAR. Jurnal Patriot, 2(4), 1118–1130. https://doi.org/10.24036/patriot.v2i4.733
Rahmi, N., Syahril, S., & Adlin, A. (2021). Game Online dan Produktivitas pada Remaja Desa Gunong Kleng Kecamatan Meureubo. Jurnal Sosial Teknologi, 1(10). https://doi.org/10.36418/jurnalsostech.v1i10.213
Syifa, L., Setianingsih, E. S., & Sulianto, J. (2019). Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perkembangan Psikologi pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 3(4), 538. https://doi.org/10.23887/jisd.v3i4.22310
Ulya, L., Sucipto, S., & Fathurohman, I. (2021). Analisis Kecanduan game online terhadap Kepribadian sosial anak. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 7(3), 1112–1119. https://doi.org/10.31949/educatio.v7i3.1347












