Dalam kehidupan rumah tangga, menyatukan dua individu dengan latar belakang dan pola pikir yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Perbedaan pendapat sering kali muncul dan jika tidak ditangani dengan bijak, dapat memicu konflik berkepanjangan di hubungan pernikahan.
Konflik sendiri merupakan bagian wajar dari hubungan yang sehat dan langgeng. Akan tetapi, konflik yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan akan menimbulkan stres hingga merusak ikatan yang di antara pasangan (Overall & McNulty, 2016). Penting bagi couples untuk menemukan cara positif dalam resolusi konflik rumah tangga guna memastikan kesehatan hubungan tetap terjaga (Grieger, 2015). Di sisi lain konflik dalam hubungan (romantis atau tidak) yang diselesaikan dengan cara yang sehat dapat mendorong pertumbuhan, pemahaman yang lebih dalam, komunikasi yang lebih baik, dan kemajuan dalam mencapai tujuan bersama. Namun, agar konflik membawa dampak positif, penting untuk memastikan bahwa dalam penyelesaiannya tidak meninggalkan luka emosional atau kebencian yang terpendam pada salah satu pihak.
Grieger (2015) menyebutkan bahwa terdapat empat kemungkinan hasil dari penyelesaian suatu konflik:
- Menang-Kalah (Win-Lose): Konflik selesai dengan salah satu pihak mencapai keinginannya, sementara pihak lain merasa dirugikan yang mungkin juga merasa sakit hati, marah, dan kecewa. Situasi ini berpotensi memicu konflik lanjutan atau ketegangan dalam aspek lain di hubungan.
- Kalah-Menang (Lose-Win): Kebalikan dari skenario pertama, di mana pihak yang sebelumnya diuntungkan kini merasa dirugikan.
- Kalah-Kalah (Lose-Lose): Kedua pihak tidak dapat mencapai solusi yang memuaskan untuk keduanya. Hal ini sering kali terjadi akibat dari sikap keras kepala atau keengganan untuk berkompromi, sehingga tidak ada yang mau mengambil langkah awal atau mengalah. Hal ini dapat merusak hubungan secara keseluruhan dan, jika terus berlanjut dapat menjadi bom waktu untuk kelangsungan hubungan jangka panjang.
- Menang-Menang (Win-Win): Kedua pasangan bekerja sama untuk menemukan solusi yang menguntungkan semua pihak, tanpa ada yang merasa dirugikan atau dikalahkan. Pendekatan konflik ini membantu memperkuat kepercayaan, komunikasi, dan kedekatan emosional dalam hubungan. Pendekatan menang-menang dianggap sebagai hasil yang paling ideal dalam penyelesaian konflik karena mendorong pertumbuhan dan kemajuan bersama. Dengan mengedepankan kerja sama dan empati, pasangan akan dapat mengatasi perbedaan secara konstruktif dan memperkuat ikatan di antara mereka.
“If conflict is about winning, you both have already lost.”
- Unknown
Couples bisa menggunakan tips berikut untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif dalam hubungan pernikahan anda. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
- Menghindar bukanlah Jalan Keluar
Kadang saat sedang bertengkar dengan pasangan, ada pihak yang mungkin ingin sekali menghindar agar tak perlu berdebat dan menumpuk masalah. Namun, ternyata ini bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Ketika masalah dibiarkan berlarut-larut, masalah tersebut akan muncul lagi dan pada akhirnya dapat merusak kepercayaan juga kedekatan emosional antara pasangan. Makin cepat couples duduk bersama untuk berdiskusi dengan kepala dingin dan menyepakati hal bersama, makin cepat juga masalah tersebut menemukan titik terangnya. Jika tidak memungkinkan untuk segera membahasnya, penting untuk menyepakati waktu yang tepat untuk melakukan diskusi tersebut.
“Relationship are strengthened by learning to repair ruptures, not by avoiding conflict all together.”
- Unknown
- Menciptakan Ruang Aman untuk Komunikasi Terbuka
Menyelesaikan konflik dimulai dengan lingkungan di mana kedua pasangan dapat merasa aman untuk mengekspresikan pikiran dan emosi mereka, tanpa takut dihakimi atau dikritik. Jika salah satu pihak merasa diserang atau diremehkan, akan mustahil untuk mencapai penyelesaian konflik yang konstruktif. Oleh karena itu, coba untuk menggunakan kalimat “Aku merasa”, ketimbang langsung menjatuhkan pihak lain dengan kata “Kamu”. Pernyataan yang diawali dengan “Kamu” cenderung membuat pasangan merasa disalahkan atau diserang, yang dapat memicu respons defensif dan memperburuk konflik. Sebaliknya, dengan menyatakan perasaan sendiri dapat menghasilkan komunikasi yang lebih baik dan empatik. Alih-alih mengatakan, “Kamu tidak pernah membantu pekerjaan rumah,” coba mengatakan, “Aku merasa kewalahan bila harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian.”
Ruang yang aman juga dapat dibuat dengan menyesuaikan lingkungan sekitar, seperti berbicara tanpa gangguan smartphone, TV, atau gangguan lainnya. Biarkan momen ini berjalan sebagai ruang berbagi secara terbuka dan saling mendengarkan tanpa ada yang menyela atau mengganggu pembicaraan.
- Memvalidasi Perasaan Satu Sama Lain
Terkadang beberapa konflik muncul karena salah satu atau kedua pasangan merasa tidak didengar atau tidak dihargai. Mengakui perasaan pasangan bahkan bila kita tidak sepenuhnya setuju, dapat meredakan ketegangan dan menunjukkan empati kepada pasangan kita. Hal ini bukan berarti kita menyetujui semua hal yang disampaikan, tetapi tentang mengenali perspektif dan membuat mereka merasa dimengerti. Ketika pasangan sedang berbagi perasaan mereka, kita bisa memberikan respon seperti, “Aku mengerti perasaanmu” atau “Aku memahami kenapa kamu merasa seperti itu”. Selain kata-kata, bahasa tubuh seperti kontak mata, sentuhan lembut, atau nada suara yang tenang dapat menunjukkan bahwa kita benar-benar peduli dan memahami perasaan mereka.
- Satu Argumen pada Satu Waktu
Terkadang argumen yang dimulai dari satu topik dapat melebar ke topik-topik lainnya. Jika couples beralih dari satu topik ke topik lainnya, argumen yang sudah dibangun mungkin akan hilang atau tercampur dengan isu-isu yang terkait namun tidak perlu, sehingga menyebabkan argumen tidak mengarah ke mana-mana. Pasangan yang berpegang teguh pada satu argumen memiliki kesempatan yang jauh lebih baik untuk menemukan satu solusi di waktu tersebut.
- Waktu Jeda untuk Mencegah Argumen yang Memanas
Mengambil jeda saat konflik sedang sangat memanas bukanlah tanda menghindari masalah, melainkan strategi bijak untuk menjaga komunikasi tetap sehat dan mencegah mengatakan sesuatu dalam kemarahan yang mungkin akan disesali di kemudian hari. Ketika emosi sedang memuncak, mengambil jeda dapat memberikan waktu bagi kedua pihak untuk menenangkan diri, merenung, dan kembali lagi dengan perspektif yang lebih jernih. Dalam praktiknya, jika keadaan mulai memanas, couples dapat menyarankan kalimat seperti, “Aku butuh beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan ini. Mari kembali lagi saat kita sudah lebih tenang.” Pastikan untuk kembali ke diskusi ketika emosi sudah mereda dengan sikap terbuka dan empati.
6. Meminta Saran dari Pihak Penengah
Apabila konflik di dalam hubungan sulit untuk diselesaikan bersama dan tidak menemukan jalan tengah, ada baiknya couples meminta bantuan dari pihak ketiga melalui konseling pernikahan (marriage counseling). Konseling yang melibatkan tenaga profesional bisa menjadi penengah diskusi untuk membantu mengidentifikasi pola negatif perilaku atau komunikasi yang merugikan hubungan. Terapis juga bisa menyediakan ruang dimana pasangan bisa benar-benar saling mendengarkan satu sama lain dan memberikan strategi atau alat untuk mendukung proses penyelesaian konflik.
Selain tips di atas, poin penting yang perlu ada ketika pasangan sedang menyelesaikan konflik adalah membangun komunikasi yang sehat dan kemampuan untuk mendengarkan secara aktif. Mendengarkan secara aktif bukan hanya tentang mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi juga memahami makna dan emosi di balik apa yang disampaikan oleh pasangan kita. Mendengarkan secara aktif adalah proses memberikan perhatian penuh kepada pasangan saat mereka berbicara, tanpa interupsi, dan dengan niat untuk benar-benar memahami apa yang mereka sampaikan.
Baca juga: Pola Komunikasi Pasangan: Seni Mendengarkan
Penting untuk diingat bahwa konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar dan dapat menjadi peluang untuk memperkuat hubungan jika dikelola dengan cara yang sehat. Kunci utamanya terletak pada komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan kesediaan untuk memahami perspektif pasangan. Dengan pendekatan yang tepat, setiap perbedaan dapat menjadi jembatan menuju kedewasaan emosional dan keharmonisan keluarga. Ingatlah, membangun rumah tangga yang kokoh bukan tentang menghindari konflik, tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama dengan pasangan mengatasi setiap tantangan dengan cinta dan komitmen.
“Conflict is an opportunity to learn to love our partner better over time.”
- Julie Gottman
Focus on the Family Indonesia mendukung para couple melalui layanan konseling pasangan dan program khusus bagi anda dan pasangan yaitu Journey to Us. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Grieger, R. (2015). The Couples Therapy Companion: A Cognitive Behavior Workbook. https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-030-02723-0_13
Overall, N. C., & McNulty, J. K. (2016). What type of communication during conflict is beneficial for intimate relationships? Current Opinion in Psychology, 13, 1–5. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2016.03.002












