Di era digital saat ini, unggahan seputar “marriage is scary” atau “pernikahan itu menakutkan” semakin viral di berbagai platform media sosial. Unggahan-unggahan ini mengangkat kisah-kisah perselingkuhan, kekerasan, beban finansial yang dialami pasangan, dan tantangan rumah tangga yang seringkali mendominasi feed media sosial kita. Masifnya paparan informasi tersebut, menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat untuk menikah. Namun, apakah benar pernikahan itu seseram yang digambarkan di setiap tayangan yang kita tonton?
Memahami Tagar “Marriage is Scary“
Tagar “marriage is scary” menggambarkan kekhawatiran banyak kalangan muda dalam memilih pasangan atau memutuskan untuk menikah. Dalam berbagai unggahan konten, pihak perempuan banyak mengungkapkan kekhawatiran tentang kemungkinan mendapatkan suami yang bersikap toxic, melakukan kekerasan, tidak menghormati istri, enggan membantu dalam pekerjaan rumah tangga serta pengasuhan anak, tidak mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, atau lebih mengutamakan ibu dan keluarga asalnya dibandingkan keluarganya sendiri. Di sisi lain, pihak pria biasanya merasa cemas akan mendapatkan istri yang tidak terampil mengurus rumah tangga, seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak, tidak menunjukkan kepatuhan pada suami, serta tidak menghargai keluarga suami.
Ketakutan terhadap pernikahan di kalangan muda-mudi ini bisa jadi dipicu oleh paparan yang intens di media sosial, mengenai kisah-kisah pernikahan yang berujung pada ketidakbahagiaan. Ketakutan ini dapat menjadi lebih besar, apabila individu yang bersangkutan memiliki pengalaman traumatis terkait pernikahan, seperti perceraian orang tuanya atau menyaksikan langsung hubungan pernikahan yang dipenuhi kekerasan. Ketakutan terhadap pernikahan tidak hanya dipengaruhi oleh pengalaman negatif yang dilihat atau dialami, tetapi juga oleh ekspektasi dan harapan yang tidak realistis tentang kehidupan pernikahan. Banyak orang membayangkan pernikahan sebagai hubungan yang sempurna, seperti dalam cerita dongeng, di mana kebahagiaan tercapai tanpa adanya konflik atau tantangan besar. Ketika ekspektasi ini bertabrakan dengan kenyataan bahwa pernikahan membutuhkan komitmen, kerja sama, dan usaha terus-menerus dari kedua belah pihak, muncul rasa takut dan kekhawatiran mengenai pernikahan yang gagal.
Faktor Penyebab Ketakutan mengenai Pernikahan
Ketakutan seseorang akan pernikahan bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti diri sendiri, lingkungan, dan media sosial. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya ketakutan untuk menikah, yaitu sebagai berikut.
1 .Trauma masa lalu
Ketakutan akan pernikahan sering kali berakar dari trauma masa lalu atau pengalaman buruk yang dialami oleh orang-orang terdekat. Sebagai contoh, seseorang yang pernah menyaksikan perceraian orang tuanya mungkin akan merasa ketakutan yang lebih besar terhadap pernikahan. Bagi seorang anak, perceraian bukan hanya berarti perpisahan kedua orang tuanya, tetapi juga dapat menimbulkan rasa tidak aman, ketidakpercayaan terhadap stabilitas hubungan, serta ketakutan akan konflik dan kegagalan yang serupa di masa depan. Pengalaman ini, meskipun terjadi saat kecil atau remaja, dapat membentuk pola pikir dan emosi seseorang terhadap pernikahan. Individu tersebut mungkin mengembangkan keyakinan bahwa pernikahan pada akhirnya akan berujung pada penderitaan, konflik, atau perpisahan, sehingga membuat mereka ragu atau takut untuk membangun komitmen jangka panjang. Selain itu, trauma serupa bisa juga muncul dari pengalaman menyaksikan hubungan tidak sehat di lingkungan sekitar, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, atau hubungan yang penuh ketidakbahagiaan.
“Marriage doesn’t scare me. Marrying the wrong person does”
2 . Ketidakpastian mengenai masa depan
Seseorang yang merasa masa depannya tidak jelas, baik dari sisi karier, keuangan, maupun stabilitas emosional, akan lebih ragu untuk membangun komitmen jangka panjang seperti pernikahan. Individu mungkin memiliki kekhawatiran tidak mampu memenuhi tanggung jawab dalam membangun keluarga, seperti mencukupi kebutuhan ekonomi, memberikan stabilitas emosional, atau membesarkan anak. Rasa ketidakpastian ini juga diperparah oleh eksposur terhadap narasi-narasi negatif di media sosial. Banyak konten di media sosial yang menyoroti sisi rumit dari pernikahan, seperti konflik rumah tangga, beban finansial, kegagalan komunikasi, hingga perceraian. Konsumsi berlebihan terhadap informasi semacam ini tanpa melihat gambaran yang utuh dapat memicu kecemasan, memperkuat rasa takut, dan menanamkan keyakinan bahwa pernikahan cenderung membawa lebih banyak masalah daripada kebahagiaan.
3. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial
Dalam banyak budaya, pernikahan bukan hanya dilihat sebagai hubungan personal antara dua individu, tetapi juga sebagai pencapaian sosial yang harus memenuhi standar tertentu. Alih-alih memandang pernikahan sebagai perjalanan bersama untuk tumbuh dan saling mendukung, banyak individu yang dituntut untuk menjadi “sempurna” dulu sebelum layak menikah. Ekspektasi sosial juga bisa berupa tekanan untuk segera menikah pada usia tertentu, memiliki anak segera setelah menikah, atau memenuhi norma tradisional terkait peran gender dalam keluarga. Ekspetasi-ekspetasi ini yang seringkali membuat seseorang merasa tidak mampu, cemas, dan takut terhadap gagasan pernikahan bisa muncul di masyarakat.
4. Ketakutan akan kehilangan kebebasan pribadi
Beberapa orang mungkin merasa cemas bahwa pernikahan dapat membatasi ruang gerak individu, baik dalam hal bersosialisasi, mengejar impian pribadi, membuat keputusan secara independen, atau mengelola waktu dan aktivitas sehari-hari. Kekhawatiran ini muncul dari anggapan bahwa pernikahan menuntut kompromi terus-menerus, tanggung jawab tambahan, serta prioritas yang bergeser dari diri sendiri ke pasangan dan keluarga. Komitmen jangka panjang yang melekat pada pernikahan bisa terasa menakutkan bagi mereka yang menghargai kemandirian dan fleksibilitas dalam hidupnya. Akibatnya, ada individu yang memilih untuk tidak menikah, hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, atau bahkan memilih untuk tetap melajang seumur hidup.
5. Tekanan ekonomi dan tingginya biaya hidup
Dalam situasi di mana kondisi ekonomi sedang tidak stabil, misalnya akibat ketidakpastian karier, inflasi, dan kenaikan harga kebutuhan pokok, membuat banyak individu merasa tidak siap secara finansial untuk membangun rumah tangga. Ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup yang layak setelah menikah atau bahkan hanya untuk mengadakan pesta pernikahan sesuai ekspektasi sosial, seringkali menimbulkan tekanan besar bagi individu. Banyak orang takut pernikahan akan memperparah kesulitan ekonomi yang sudah mereka alami, bukan justru membawa kestabilan.
6. Kurangnya pendidikan tentang persiapan pernikahan yang matang.
Minimnya pengetahuan dan pembekalan terkait kesiapan menghadapi pernikahan membuat banyak orang tidak siap secara emosional, finansial, dan psikologis, yang pada akhirnya memperbesar ketakutan untuk menikah. Pernikahan pada dasarnya merupakan proses yang penuh tantangan bukan sesuatu yang menakutkan, karena itu dibutuhkan persiapan yang matang. Persiapan ini tidak sebatas memilih tema resepsi atau menentukan jumlah tamu undangan, melainkan mencakup kesiapan fisik dan mental untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Selain itu, penting bagi setiap individu yang akan menikah untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan pernikahan mereka.
Memahami tujuan pernikahan adalah hal yang sangat penting karena akan menjadi dasar dari komitmen dan arah hubungan yang akan dibangun. Ketika seseorang memiliki pemahaman yang jelas tentang mengapa ia ingin menikah, maka keputusan untuk menikah tidak hanya didasarkan pada tekanan sosial, emosi sesaat, atau ekspektasi orang lain, tetapi berasal dari kesadaran pribadi yang mendalam. Tujuan pernikahan ini bisa sangat beragam dan bersifat individual, misalnya untuk membangun kehidupan yang saling mendukung, menjalankan nilai-nilai keagamaan, menciptakan keluarga yang harmonis, berbagi tanggung jawab hidup, atau bahkan mencapai stabilitas emosional dan finansial. Individu yang mengetahui tujuan menikah akan lebih siap dalam menghadapi tantangan pernikahan karena ia memiliki arah dan alasan yang kuat untuk bertahan dan bertumbuh bersama pasangannya.
Pernikahan memang penuh dengan tanggung jawab, tetapi pada dasarnya semua hubungan membutuhkan usaha, pengorbanan, dan kompromi agar dapat bertahan dan berkembang. Pernikahan juga bisa terasa sangat menakutkan dan membosankan, namun di sisi lain juga bisa menjadi pengalaman yang luar biasa indah. Sebagian besar hari-hari dalam pernikahan mungkin akan berjalan biasa saja, bahkan kadang membosankan dan terasa kaku. Namun, di antara rutinitas itu, akan ada momen-momen di mana kita merasa begitu tersentuh oleh cinta dan perhatian dari pasangan. Saat kita bertemu dengan orang yang tepat dan memilih untuk menikah dengannya, kita sebenarnya sedang membangun hidup bersama orang terbaik untuk menemani perjalanan di sisa hidup ini. Memang, perjalanan ini membutuhkan usaha dan kerja keras, tetapi di dalamnya juga akan terdapat momen-momen berharga, penuh kebahagiaan, tawa, dan kegembiraan yang begitu mendalam. Hal-hal ini akan membuat kita merasa takjub, bahwa kita telah berani mengambil keputusan besar untuk menikahi cinta sejati dalam hidup ini, dan terus berkomitmen untuk memilih mencintai pasangan kita setiap harinya.
Suatu hal yang wajar jika kita merasa takut terhadap pernikahan karena setiap orang pasti memiliki kekhawatiran tentang bagaimana kehidupan mereka akan berjalan di masa depan.
Lalu, apakah pernikahan benar-benar semenakutkan itu? Bisa jadi tidak. Pernikahan tidak akan menjadi semenakutkan itu bila kita sebagai individu sudah mempersiapkan diri secara matang dan terus mengupayakan membangun hubungan di atas dasar komitmen, kasih, dan kepercayaan. Dengan kesiapan emosional, komunikasi yang terbuka, serta kesediaan untuk tumbuh bersama, pernikahan bisa menjadi ruang aman yang menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dalam perjalanan hidup seorang individu.
Jika saat ini couples merasa yakin sepenuh hati untuk bersama cinta sejati anda selamanya, ambil langkah berani untuk melangkah ke masa depan bersama dengannya. Bahkan, akan lebih baik jika kita menghadapi segala ketakutan itu sambil saling menggenggam tangan mereka yang kita cintai. Sebab kenyataannya, rasa takut mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, tetapi kita tak harus menanggungnya sendirian lagi. Pada akhirnya, esensi dari pernikahan adalah membangun sebuah kemitraan untuk perjalanan hidup yang dijalani bersama, menghadapi tantangan dan harapan sebagai satu kesatuan.
“Taking chances is scary, but there is something that should scare you far more than anything. Missing out on something truly wonderful because you were scared.” – Katherine Matheson
Bagi couples yang sedang berkutat dengan ketakutan mengenai pernikahan. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan untuk memperlengkapi pasangan mempersiapkan diri untuk pernikahan yang harmonis. Program “Marriage Preparation” yang terdiri dari sesi belajar dan juga konseling pranikah dapat couples dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.












