Family Indonesia

Kegiatan Membaca Bersama Anak, Kebiasaan Sederhana untuk Manfaat Besar

Kegiatan Membaca Bersama Anak, Kebiasaan Sederhana untuk Manfaat Besar

Parents, bila ada satu kebiasaan baik yang ingin anda tanamkan sejak anak kecil, kebiasan baik  apa yang akan dipilih?

Kebiasaan baik ini bisa beragam sekali, namun ada satu kebiasaan yang memiliki dampak yang sangat signifikan untuk si kecil, yaitu kebiasaan membaca buku.

The Power of Books

Penelitian menyebutkan bahwa membaca buku bersama antara orang tua dan anak memberikan fondasi yang penting untuk hasil bahasa dan literasi anak di kemudian hari (Demir‐Lira et al., 2018). Membaca dan berinteraksi dengan kata-kata membantu anak-anak mengembangkan kemampuan bahasa dan kognitif mereka secara optimal. Juga, pengalaman sensorik seperti memegang atau menyentuh buku turut berkontribusi pada perkembangan kognitif mereka. Membacakan buku kepada anak sejak usia dini, bahkan sebelum mereka mampu berkomunikasi secara verbal turut membantu dalam membangun fondasi neurologis yang penting bagi keterampilan berbahasa, membaca, dan menulis. Salah satu alasannya adalah karena buku memperkenalkan anak pada ragam kosakata dan struktur bahasa yang jarang mereka dengar dalam percakapan sehari-hari. Buku memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal kata-kata baru dan berbagai cara merangkai kata, sehingga memperluas kemampuan mereka dalam memahami dan menggunakan bahasa. Segala bentuk interaksi dengan buku memberi kesempatan bagi anak-anak untuk memperkaya kosa kata dan meningkatkan pemahaman terhadap beragam jenis teks yang akan mereka hadapi seiring bertambahnya usia, baik dalam konteks pembelajaran di sekolah maupun di lingkungan luar sekolah.

Kegiatan membaca turut membantu anak-anak membangun pondasi pengetahuan yang luas, yang akan sangat bermanfaat ketika mereka memasuki dunia sekolah. Anak-anak memperoleh pengetahuan tidak hanya dari isi buku itu sendiri, tetapi juga dari interaksi dan percakapan dengan orang tua selama sesi membaca. Anak akan memiliki pengetahuan umum yang lebih beragam dari buku, baik mengenai geografi, transportasi, alam, maupun berbagai topik lainnya. Pengalaman ini membantu anak memiliki konteks yang lebih kaya untuk memahami informasi yang akan ditemui di sekolah, sehingga memudahkan mereka dalam mempelajari materi baru.

Kompetensi bahasa dan literasi anak dimulai jauh sebelum mereka masuk ke sekolah formal, anak-anak telah menunjukkan sensitivitas terhadap bahasa lisan bahkan sejak masih dalam kandungan (Moon et al., 2012). Orang tua memegang peranan penting dalam tahap awal pembelajaran anak, interaksi antara orang tua dan anak terjadi secara intensif dan berkelanjutan. Studi menunjukkan bahwa lingkungan literasi di rumah atau home literacy environment (HLE) menjadi wadah pertama bagi anak-anak dalam mengembangkan keterampilan bahasa dan literasi yang mendukung mereka dalam memahami, mendeskripsikan, serta berpartisipasi di lingkungan sekitar (Liebeskind et al., 2013). Menurut Vygotsky, anak-anak memperoleh pengetahuan melalui pengamatan dan interaksi sosial dengan individu yang lebih berpengalaman. Dalam konteks pembelajaran bahasa dan literasi, peran orang tua sangat penting dalam memberikan contoh aktivitas literasi dan mendukung perkembangan keterampilan literasi anak mereka. Lingkungan literasi di rumah mencakup berbagai aspek, mulai dari kebiasaan membaca orang tua, kunjungan ke perpustakaan, pengajaran huruf dan bunyi, hingga kepemilikan buku di rumah. Meski demikian, kegiatan membacakan buku kepada anak dianggap sebagai komponen utama dalam HLE (Niklas et al., 2016).

Beragam manfaat yang bisa diperoleh anak dari aktivitas membaca dalam mendukung perkembangan mereka, di antaranya:

  • Mendorong perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif mencakup cara kita memahami dan memproses dunia di sekitar kita, yang berkaitan dengan kecerdasan, kemampuan berpikir, keterampilan bahasa, serta pengolahan informasi. Membacakan buku untuk anak, orang tua membantu memperluas pemahaman anak tentang lingkungan dan memperkaya wawasan mereka. Pengetahuan yang diperoleh dari bacaan ini kemudian digunakan anak untuk menafsirkan apa yang mereka lihat, dengar, dan baca, sehingga turut mendorong pertumbuhan kognitif mereka.

  • Memperluas wawasan

Buku memungkinkan anak menjelajahi berbagai tempat, baik kota, negara lain, bahkan dunia imajinatif yang mungkin tidak mereka alami secara langsung. Melalui bacaan, anak memperoleh pemahaman yang lebih kaya tentang orang, tempat, budaya, dan peristiwa yang berbeda dari lingkungan mereka sendiri, sehingga memperluas pandangan mereka terhadap dunia.

  • Mendorong kreativitas dan imajinasi

Saat membaca, anak menggunakan imajinasi mereka untuk membayangkan karakter, latar, dan alur cerita, serta memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Pengembangan imajinasi ini kemudian mendorong kreativitas yang lebih tinggi karena anak menggunakan ide-ide yang mereka bayangkan untuk mendukung aktivitas atau karya mereka sendiri.

  • Mengasah empati

Saat membaca, anak akan seolah-olah masuk ke dalam cerita dan melihat dunia dari sudut pandang tokoh-tokohnya. Hal ini melatih kemampuan empati anak karena mereka dapat merasakan dan memahami pengalaman emosional karakter dalam cerita. Pengalaman ini kemudian diterapkan dalam kehidupan nyata, membantu anak lebih mudah berempati dengan orang lain. Selain itu, mereka juga menjadi lebih peka terhadap berbagai emosi, yang bermanfaat untuk memahami perasaan diri sendiri maupun orang lain, sekaligus mendukung perkembangan sosial mereka.

  • Memperkuat hubungan emosional

Membaca bersama secara rutin menciptakan momen berkualitas yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi aktivitas yang menyenangkan dan dinantikan bersama.

“Children fall in love with books because of the memories created when they snuggle up and read with someone they love.” – Raising Readers

 

  • Meningkatkan konsentrasi

Membaca secara teratur membantu anak mengembangkan kemampuan untuk fokus dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hal ini juga melatih mereka untuk duduk tenang dan mendengarkan yang merupakan keterampilan penting saat mereka mulai bersekolah.

How Parents Can Read with Their Child

Ketika orang tua meluangkan waktu untuk membaca bersama anak di rumah. Beberapa hal ini dapat dilakukan agar sesi membaca berjalan optimal dan bermanfaat:

1 . Mulai sejak usia dini

Sejak bayi, anak sudah mampu memperhatikan gambar dan mendengarkan suara orang tua mereka. Parents dapat mulai dengan membacakan cerita dengan suara lantang sambil menunjukkan gambar di usia dini. 

2. Jadikan membaca sebagai rutinitas

Usahakan untuk membacakan buku setiap hari secara konsisten. Libatkan kegiatan ini dalam rutinitas harian agar menjadi kebiasaan, seperti halnya menyikat gigi. Namun, parents tidak perlu khawatir jika ada hari yang terlewat, cukup lanjutkan kembali kegiatan membaca di hari berikutnya.

3. Variasi buku bacaan

Memberikan variasi bacaan kepada anak merupakan strategi penting dalam pengembangan kemampuan literasi dan wawasan mereka. Parents dapat menyajikan berbagai jenis buku, seperti cerita fiksi, nonfiksi, puisi, buku bergambar, ensiklopedia anak, maupun cerita rakyat dari berbagai budaya. Hal ini memperkenalkan dan memperluas pengetahuan anak pada berbagai perspektif serta pemahaman lintas budaya. Semakin luas cakupan bacaan yang diperoleh anak, semakin besar kemampuan mereka dalam berpikir fleksibel, memahami perbedaan, dan mengembangkan empati. 

4. Lanjutkan percakapan setelah membaca

Setelah selesai membaca satu cerita atau buku, ajak anak untuk berdiskusi tentang cerita yang baru saja dibacakan. Parents dapat memberikan pertanyaan sederhana seperti, “Apakah suka dengan ceritanya?”, “Siapa tokoh favoritmu?” atau “Mengapa menurutmu tokoh-tokohnya senang di akhir cerita?”.

5. Ciptakan ruang dan suasana khusus untuk membaca

Parents dapat menyediakan area membaca yang nyaman dan kondusif di rumah untuk membangun kebiasaan literasi anak. Ruang khusus ini bisa dilengkapi dengan koleksi buku yang beragam, tempat duduk yang nyaman, dan pencahayaan yang memadai. Faktor-faktor tersebut dapat untuk menciptakan suasana yang membuat anak menikmati kegiatan membaca secara rutin. Selain itu, penting untuk meminimalkan gangguan eksternal dengan memilih tempat yang tenang dari suara televisi, radio, dan ponsel selama sesi membaca. Kondisi ini memungkinkan anak untuk fokus sepenuhnya pada buku dan suara orang tua, yang memperkuat keterhubungan emosional serta meningkatkan perhatian dan pemahaman terhadap isi bacaan. 

6. Gunakan ekspresi dan suara menarik

Gerakan tangan, ekspresi wajah, suara lucu, atau efek suara yang dilakukan parents bisa membuat sesi membaca lebih menarik dan membantu anak memahami makna kata-kata, sekaligus membuat aktivitas ini menyenangkan.

7. Biarkan anak memilih buku sendiri

Saat anak sudah cukup besar dan bisa memilih buku bacaan sendiri, izinkan mereka untuk menentukan buku favorit yang ingin mereka baca atau yang ingin dibacakan.

Beragam manfaat yang diperoleh dari membaca buku menjadi alasan utama mengapa buku sangatlah spesial, terutama bagi anak-anak. Dengan menanamkan kecintaan membaca sejak dini, parents bukan hanya membuka jendela pengetahuan anak, tetapi juga membekalinya dengan keterampilan dan imajinasi yang akan memperkaya perjalanan kehidupannya. Parents memiliki peran besar untuk menjadikan membaca sebagai aktivitas dan kebiasaan yang menyenangkan untuk anak. Seperti halnya kebiasaan lain, hal ini akan terbentuk bila melalui kegiatan yang konsisten dan berulang. Saat ketertarikan terhadap membaca mulai berkembang, anak akan cenderung lebih sering mengambil buku di waktu senggangnya. Yang terpenting adalah menanamkan kegemaran membaca yang akan bertahan sepanjang hidup.

“There are many little ways to enlarge  your child’s world. Love of books is the best of all.” – Jacqueline Kennedy

 

Focus on the Family Indonesia menyediakan berbagai konten dan informasi menarik seputar parenting yang dapat diakses melalui akun instagram @focusonthefamilyindonesia atau website kami. FOFI juga menyediakan berbagai program dan layanan parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Demir‐Lira, Ö. E., Applebaum, L. R., Goldin‐Meadow, S., & Levine, S. C. (2018). Parents’ early book reading to children: Relation to children’s later language and literacy outcomes controlling for other parent language input. Developmental Science, 22(3). https://doi.org/10.1111/desc.12764

Liebeskind, K. G., Piotrowski, J. T., Lapierre, M. A., & Linebarger, D. L. (2013). The home literacy environment: Exploring how media and parent–child interactions are associated with children’s language production. Journal of Early Childhood Literacy, 14(4), 482–509. https://doi.org/10.1177/1468798413512850

Moon, C., Lagercrantz, H., & Kuhl, P. K. (2012). Language experienced in utero affects vowel perception after birth: a two‐country study. Acta Paediatrica, 102(2), 156–160. https://doi.org/10.1111/apa.12098 

Niklas, F., Nguyen, C., Cloney, D. S., Tayler, C., & Adams, R. (2016). Self-report measures of the home learning environment in large scale research: Measurement properties and associations with key developmental outcomes. Learning Environments Research, 19(2), 181–202. https://doi.org/10.1007/s10984-016-9206-9