Family Indonesia

Kesadaran Finansial, Tips Menabung untuk Para Usia 20-an

Kesadaran Finansial, Tips Menabung untuk Para Usia 20-an

Champs, beberapa waktu lalu ada salah satu film yang sedang tayang di bioskop dengan judul, “Home Sweet Loan”. Mungkin banyak dari champs yang sudah mengetahui atau bahkan menonton film tersebut. Pada kesempatan kali ini, mari bersama-sama kita menelusuri pembelajaran yang bisa didapatkan dari film “Home Sweet Loan”, terutama terkait dengan pengelolaan keuangan.

Film “Home Sweet Loan” menceritakan tentang Kaluna, seorang pekerja kantoran yang baru saja merintis kariernya. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara di rumah itu. Ia tinggal bersama orang tuanya dan dua keluarga kakaknya yang sudah menikah. Kondisi itu membuat rumah Kaluna sangat ramai dan membuatnya sering merasa terganggu. Kaluna memiliki mimpi sederhana yang menjadi tujuan utama dalam hidupnya, yakni ingin memiliki rumah pribadi. Tetapi, meskipun telah bekerja keras dan hidup sederhana untuk mencapai impiannya itu, banyak tantangan finansial dan tekanan dari keluarganya yang harus Kaluna lalui. Cerita ini menggambarkan perjalanannya sebagai bagian dari generasi sandwich, di mana dia harus menyeimbangkan tanggung jawab merawat orang tua dengan usaha menabung untuk masa depannya.

Generasi sandwich merujuk pada kelompok orang dewasa yang harus menanggung dan bertanggung jawab atas biaya hidup, dua generasi sekaligus. Di satu sisi, mereka merawat orang tua yang semakin tua dan membutuhkan dukungan baik finansial maupun emosional. Di sisi lain, mereka juga bertanggung jawab atas keluarga inti, seperti anak atau saudara yang masih membutuhkan perhatian penuh. Maka, bisa dikatakan generasi sandwich ini harus membiayai dirinya sendiri, generasi di atasnya, dan juga generasi di bawahnya. Berdasarkan laporan survei Tirto.id (2023), sebanyak 50,60 persen dari 1.500 responden mengidentifikasikan diri sebagai generasi sandwich, yang 47,04 persennya kebanyakan memberi sokongan finansial kepada anak dan orang tua mereka.

Perjuangan Kaluna untuk mewujudkan cita-citanya memiliki rumah sendiri, tentu bukan hal yang mudah. Kaluna rela menyisihkan sebagian besar penghasilannya untuk menabung agar dapat mewujudkan impian tersebut. Hal yang dilakukan Kaluna tentu bukan hal yang asing lagi bagi kita, yang juga merupakan pekerja yang baru merintis karier dan mencoba mencapai stabilitas finansial. Di tengah era modern ini, ketika biaya hidup menjadi semakin tinggi, ditambah dengan perubahan ekonomi yang tidak menentu, juga dibebani dengan tanggung jawab generasi sandwich, membuat banyak generasi muda dihadapkan pada dilema keuangan yang kompleks.

Berdasarkan dari perjalanan Kaluna, ada beberapa tips penting terkait menabung yang dapat kita aplikasikan, yaitu sebagai berikut.

1 . Menetapkan Tujuan Keuangan yang Jelas 

Senduk (2009) menyatakan bahwa pengelolaan keuangan pribadi adalah proses mengolah semua aset yang dimiliki dengan menentukan terlebih dahulu tujuan-tujuan keuangan jangka pendek, serta jangka panjang. Champs dapat membuat daftar impian-impian yang ingin dicapai secara jelas dan terperinci dengan metode 5W+1H. Membuat tujuan yang spesifik akan membuat kita lebih termotivasi untuk menabung dan merealisasikan tujuan tersebut. 

  • What: Apa impianmu secara spesifik?
    Contoh: Saya ingin memiliki rumah impian saya sendiri.
  • Why: Mengapa impian ini penting bagi kamu?
    Contoh: Karena saya ingin memiliki tempat untuk beristirahat yang tenang dan nyaman.
  • Who: Siapa saja yang bisa membantumu mencapai impian ini?
    Contoh: Teman terdekat dan komunitas pekerja yang saya ikuti.
  • When: Kapan kamu ingin mewujudkan impian ini? Buatlah tenggat waktu yang realistis.
    Contoh: Dalam 7 tahun ke depan, saya ingin mulai mencicil pembayaran rumah.
  • Where: Di mana kamu akan memulai langkah-langkah untuk mencapai impian ini?
    Contoh: Saya akan mulai dengan menabung setiap bulannya dari penghasilan saya dan mencari rumah-rumah dengan harga sesuai dengan penghasilan saya.
  • How: Bagaimana kamu akan mencapai impian ini? Buatlah rencana yang mendetail.
    Contoh: Saya akan menghitung pengeluaran dan pemasukan setiap minggu, menghitung berapa biaya yang diperlukan untuk mewujudkannya mimpi saya, dan beberapa langkah lainnya.

Baca juga: Membangun Kebiasaan Baru yang Positif: Menjadi Versi Terbaik Diri

2.  Membuat Anggaran yang Realistis

Membuat anggaran yang realistis adalah langkah pertama untuk mencapai tujuan dari keuangan kita. Mulailah dengan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran secara detail, baik itu tunai maupun non-tunai. Ada baiknya juga untuk mengategorikan pengeluaran, misalnya untuk makanan, transportasi, ataupun hiburan agar kita lebih mudah menganalisis pengeluaran. Champs dapat menggunakan bantuan teknologi, seperti aplikasi keuangan atau software spreadsheet untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran secara otomatis. Fitur pelacakan pengeluaran ini akan sangat membantu kita mengidentifikasi area-area pengeluaran yang perlu dikurangi. Perlu diingat bahwa anggaran bukanlah sesuatu yang kaku, jadi champs tentu dapat melakukan penyesuaian anggaran secara berkala sesuai dengan perubahan kondisi lingkungan atau keuangan yang terjadi.

3. Menyisihkan Uang untuk Tabungan

Setiap dari kita tentu memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda terkait keuangan. Namun, langkah paling penting yang dapat dilakukan adalah menentukan alokasi gaji untuk membuat persentase pengalokasian dari pendapatan itu sendiri. Pengelolaan keuangan yang baik akan membantu seseorang terhindar dari jebakan perilaku memenuhi keinginan yang tidak terbatas (Afandy & Niangsih, 2020). Pada dasarnya, persentase alokasi gaji bersifat fleksibel yang artinya persentase tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Ada beberapa metode persentase alokasi gaji yang dapat champs gunakan, seperti formula 40/30/20/10, metode 50/30/20, metode 45/25/20/10, dan metode lainnya yang dapat disesuaikan dengan situasi diri masing-masing.

Metode rincian persentase tabungan dari gaji yang paling umum digunakan dalam alokasi gaji bulanan adalah metode 45/25/20/10. 45% dari gaji digunakan untuk kebutuhan pokok, 25% untuk tabungan, 20% untuk pembayaran cicilan/utang, dan 10% untuk dana darurat.

“It’s not your salary that makes you rich, it’s your spending habits.” –  Charles A. Jaffe

 

4. Memprioritaskan Kebutuhan

Pengelolaan keuangan didasarkan pada prioritas kebutuhan. Prioritas kebutuhan adalah fondasi dari keuangan yang sehat, dimana kita memahami mana yang menjadi kebutuhan utama dan mana yang sekadar keinginan semata. Membuat skala prioritas dapat menghindari kita dari pengeluaran yang tidak perlu dan memastikan setiap penghasilan yang kita miliki digunakan secara efektif dan terfokus pada kebutuhan dasar. Gaya hidup frugal living dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan hidup sederhana dan menghindari pemborosan, sehingga kita dapat lebih bijak dalam mengatur pengeluaran.

  • Menghindari Perilaku FOMO: Aktivitas di media sosial sekarang ini membuat banyak orang mengalami Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut ketinggalan sesuatu yang menyenangkan atau penting yang sedang dialami orang lain. FOMO dapat mendorong seseorang untuk melakukan pembelian impulsif karena terpengaruh oleh tren atau keinginan untuk memiliki barang-barang terbaru. Maka, champs perlu mengingat untuk selalu bijak menggunakan uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan utama yaitu sandang, pangan, dan papan serta pembayaran penting lainnya terlebih dahulu. Apabila masih ada sisa, alokasikan dana tersebut untuk ditabung atau disimpan sebagai dana darurat. Perilaku FOMO dan konsumtif hanya akan membuat kita melakukan pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu atau urgent
  • Masak di Rumah: Membawa bekal dari rumah atau masak di rumah akan jauh lebih hemat dibandingkan kita selalu membeli makanan di luar. 
  • Memanfaatkan Promo: Mencari promo atau diskon untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan harga yang lebih murah.

5.  Mencari Sumber Pendapatan Tambahan

Jika champs merasa pendapatan saat ini tidak mencukupi, cobalah untuk mencari pekerjaan sampingan atau side hustle. Side hustle diartikan sebagai pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama yang sifatnya fleksibel. Beberapa pekerjaan sampingan yang dapat dilakukan adalah menjadi freelancer dalam bidang tertentu, seperti menulis, mengajar, membuat konten media sosial, dan lainnya.

6.  Konsisten dan Disiplin

Konsisten dan disiplin adalah kunci menuju kebebasan finansial. Komitmen dengan diri sendiri untuk menabung mulai dari hal yang kecil dan melakukannya secara konsisten. Ketika kita disiplin dalam menabung, hal ini akan mengajarkan kita untuk menghargai setiap pendapatan yang dihasilkan. Kita akan menjadi lebih bijak dalam membelanjakan dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.

 

Cara terbaik untuk menabung adalah dengan menemukan cara yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita. Semakin mudah bagi kita untuk berkomitmen dalam menabung, semakin rutin kita akan melakukannya dan semakin cepat kita dapat mencapai tujuan yang diimpikan. Langkah pentingnya adalah membuat menabung menjadi sebuah kebiasaan dalam keseharian kita. 

Champs yang ingin mendapatkan info beragam terkait pengembangan diri, life skills, dan tips-tips aplikatif lainnya. Champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

“Financial freedom is available to those who learn about it and work for it.” – Robert Kiyosaki

Referensi:

Afandy, C., & Niangsih, F. F. (2020). LITERASI KEUANGAN DAN MANAJEMEN KEUANGAN PRIBADI MAHASISWA DI PROVINSI BENGKULU. The Manager Review, 2(2), 68–98. https://doi.org/10.33369/tmr.v2i2.16329

Rohmah, F. N., & Susanty, F. (2023, October 20). Riset: Separuh Responden Usia Produktif Adalah Generasi Sandwich tirto.id. https://tirto.id/riset-lebih-dari-separuh-usia-produktif-jadi-generasi-isandwichi-gRin

Senduk, S. 2009. Mengelola Keuangan Keluarga. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo