Family Indonesia

Memahami Diri Sendiri: Kunci Kesiapan Berkomitmen

Memahami Diri Sendiri: Kunci Kesiapan Berkomitmen

Couples, banyak orang yang tentu menginginkan hubungan yang sehat dan serius, tetapi menginginkannya bukan berarti tanda bahwa kita benar-benar siap untuk itu. Ketidaksiapan berkomitmen dalam hubungan akan menimbulkan berbagai konsekuensi, antara lain kita tidak dapat melangkah ke suatu hubungan sama sekali, atau kita akan masuk ke dalam hubungan jangka pendek, atau bahkan kita dapat berakhir ke dalam toxic relationship.

Banyak orang yang masuk ke dalam komitmen serius dengan pikiran bahwa mereka sudah siap karena mereka menginginkannya atau karena merasa tertekan dengan tuntutan dari sekitar. Memiliki kesiapan lebih dari sekadar merasa nyaman ketika bersama pasangan. Hal ini melibatkan kesiapan mental dan emosional untuk mendukung kebahagiaan orang lain seperti halnya kebahagiaan diri kita sendiri. Kesiapan yang sejati tidak hanya ditemukan begitu saja, tetapi membutuhkan refleksi diri yang mendalam sebelumnya.

Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa orang-orang yang memasuki hubungan dengan kesiapan yang lebih tinggi menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap hubungan tersebut. Kesiapan yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan penggunaan strategi pemeliharaan hubungan yang lebih besar (Agnew et al., 2019), yang tidak hanya meningkatkan komitmen individu terhadap suatu hubungan, tetapi juga dikaitkan dengan pemberlakuan perilaku yang terbuka, seperti respons yang tidak begitu destruktif dalam menghadapi konflik.

Jadi, bagaimana caranya mengetahui, apakah kita sudah siap untuk menjalin hubungan jangka panjang?

1 . You love yourself

Kita mungkin tidak akan merasa siap untuk mencintai orang lain, sebelum kita belajar untuk mencintai diri sendiri. Menerima dan mencintai diri sendiri sebagai manusia seutuhnya dan merasa nyaman dengan diri sendiri, berarti melihat diri sendiri dengan jujur, percaya diri, penuh kasih, memaafkan diri sendiri, serta menghormati batasan dan waktu yang dimiliki. Ketika kita sudah sepenuhnya nyaman dan memahami bahwa diri berharga, kita tidak lagi menjalin hubungan untuk sekadar mencari validasi atau pengakuan dari orang lain. Berangkat dari ruang yang positif dalam diri, bisa jadi penting karena hal ini dapat membuat kita lebih mudah untuk mencintai seseorang dan melanjutkan hubungan yang sehat dan tahan lama. Mencintai diri sendiri juga dapat membantu menetapkan batasan-batasan yang sehat untuk diri.

“If you have the ability to love, love yourself first” – Charles Bukowski

 

2.  Kamu memiliki harapan yang realistis

Pemahaman bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, kemudian memiliki kesiapan untuk menghadapi tantangan bersama adalah hal yang sangat penting dalam hubungan jangka panjang. Menerima ketidaksempurnaan dalam diri sendiri dan pasangan, menunjukkan pendekatan yang matang terhadap hubungan dan membentuk harapan yang realistis untuk membangun hubungan menjadi lebih sehat dan bahagia.

3. Kesetaraan dalam hubungan 

Hubungan yang sehat adalah ketika kita mengizinkan orang lain untuk memberikan perhatian, cinta, dan dukungan mereka kepada kita. Alih-alih berada dalam hubungan, di mana kita yang terus memberikan perhatian, cinta, dan dukungan kepada orang lain, tetapi kita tidak mendapatkan balasannya. Ketika kita dapat menikmati diperhatikan sebagaimana kita memperhatikan orang lain, maka kita siap untuk menjalin hubungan yang sehat.

4. Kehidupan yang Stabil

Stabilitas dalam kehidupan pribadi dan karier memberikan fondasi yang kuat untuk hubungan jangka panjang. Ketika kita memiliki pekerjaan tetap, rutinitas yang konsisten, dan dapat mengelola tanggung jawab dengan baik, maka hal tersebut dapat dikatakan kehidupan yang stabil. Dimana kita dapat menangani komitmen hubungan jangka panjang   karena sudah siap menerima dan menjalankan tanggung jawab baru sebagai pasangan

5.  You can communicate effectively

Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah landasan dari setiap hubungan yang bertahan lama. Jika kita merasa mudah untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, serta merupakan pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif juga dapat membantu pasangan ketika menyelesaikan konflik dan memperdalam pemahaman di antara pasangan. Ketidaksepakatan tentu tidak dapat dihindari dalam hubungan apa pun. Menangani perbedaan pendapat dengan tenang dan konstruktif, tanpa menyimpan dendam menunjukkan kedewasaan emosional kita. Konflik yang dikelola dengan baik, dapat memperdalam pemahaman dan komitmen di antara pasangan. Cara kita berkomunikasi dan mengelola perselisihan dalam suatu hubungan menentukan masa hubungan yang akan dijalani.

Baca juga: Embracing Changes: Menyikapi Peralihan dari Pacaran ke Pernikahan

6. Memiliki growth mindset

Pola pikir yang berkembang berarti kita terbuka dan mencari informasi yang akan meningkatkan kehidupan kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bahagia, lebih sehat, dan tidak mudah stres. Individu dengan growth mindset melihat konflik sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki hubungan, bukan sebagai hal yang harus dihindari atau dihindarkan. Juga, individu akan berusaha untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pasangan yang lebih baik, serta berusaha untuk lebih memahami perasaan dan perspektif satu sama lain.

7. Memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang diinginkan di masa depan

Gambaran yang jelas tentang kehidupan akan membantu dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hubungan, seperti keputusan untuk menikah, memiliki anak, atau membeli rumah untuk ditinggali. Ketika visi tersebut sejalan, potensi konflik karena perbedaan tujuan akan berkurang dan  dapat mencegah kekecewaan di kemudian hari.

8.  Sudah berdamai dari hubungan terakhir

Kita hanya akan siap untuk seseorang yang baru jika kita telah mengatasi putus cinta, melewati kesedihan, meninggalkan kenangan-kenangan lalu, serta berdamai dengan masa tersebut. Ketika kita sudah tidak memiliki penyesalan, kebencian, atau perasaan romantis yang tersisa terhadap hubungan di masa lalu. Memulai hubungan yang baru artinya tidak membawa-bawa segala hal di masa lalu untuk menghindari kemungkinan membanding-bandingkan di masa depan.

9. You can trust and be trusted

Kepercayaan adalah hal mendasar dalam hubungan apa pun. Jika kita dapat mempercayai dan dipercaya, hal ini akan menjadi dasar yang kuat untuk sebuah komitmen jangka panjang. Mengetahui bahwa pasangan dapat mengandalkan satu sama lain akan membangun ikatan yang kuat dan langgeng. Kepercayaan sering kali menjadi inti dari pembahasan mengenai apakah hubungan jangka panjang itu sepadan.

10. Kematangan Emosional

Kematangan emosi adalah ketika individu mempunyai kemampuan dalam mengendalikan atau mengatur emosinya tanpa mudah terganggu oleh rangsangan emosi internal atau eksternal. Orang yang matang secara emosional mampu bereaksi dan bertindak secara tepat dan wajar sesuai situasi, serta keadaan yang ada. Kematangan emosi pada individu dapat membantu dirinya untuk mengelola konflik secara bijak dan memungkinkan seseorang untuk tetap tenang, objektif, dan rasional dalam situasi yang menantang, terutama ketika berkonflik dalam suatu hubungan.

Coba luangkan waktu sejenak untuk benar-benar memahami diri sendiri secara emosional dan pribadi. Menjadi bagian dari sebuah hubungan yang sehat membutuhkan seorang pribadi yang utuh dan sehat. Meskipun sangat menyenangkan untuk memiliki pendamping di hidup kita, penting untuk merasa nyaman dengan diri sendiri dan dengan kehidupan ketika kita sendirian, sebelum memutuskan untuk memasuki hubungan baru. Mengetahui apakah diri kita siap adalah hal yang sangat penting sebelum memulai sebuah hubungan yang serius. Apakah kita benar-benar telah siap untuk peduli dengan kebahagiaan orang lain seperti halnya kebahagiaan kita sendiri?

“Never go in search of love, go in search of life, and life will find you the love you seek” – Atticus

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para individu dan pasangan untuk mempersiapkan diri menjalin komitmen untuk hubungan yang harmonis. Kami berkomitmen untuk membantu setiap individu agar dapat memelihara hubungan dengan premarital program yang kami miliki. Anda dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Agnew, C. R., Hadden, B. W., & Tan, K. (2019). It’s About Time: Readiness, Commitment, and Stability in Close Relationships. Social Psychological and Personality Science, 10(8), 1046–1055. https://doi.org/10.1177/1948550619829060

Cantor, C. (2022, January 15). 1. When chaos is a turn-off, not a turn-on. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/modern-sex/202201/how-to-tell-youre-ready-for-a-serious-relationship

Winslow, C. (2024, May 21). How Do You Know You’re Ready for a Long-Term Relationship? Marriage Advice – Expert Marriage Tips & Advice. https://www.marriage.com/advice/relationship/how-do-you-know-if-youre-ready-for-a-relationship/