Anak laki-laki sering kali mendapat perhatian, kasih sayang, dan bimbingan dari ibunya. Namun, mereka juga merindukan figur ayah yang hadir mendampingi perjalanan hidup mereka. Kehadiran ayah bukan sekadar memberi nafkah, melainkan fondasi penting dalam membentuk identitas dan keberanian putranya.
Sayangnya, di tengah kesibukan pekerjaan dan rutinitas harian, banyak ayah yang tanpa sadar hadir secara fisik, namun jauh secara emosional. Fenomena ini dikenal dengan istilah fatherless, di mana anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan ayah. Ketidakhadiran sosok ayah membawa dampak serius bagi perkembangan anak, baik secara psikologis maupun emosional.
Dampak Fatherless
Fenomena fatherless terjadi karena berkurangnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan. Kehilangan figur ayah bukan sekadar ketiadaan seseorang di rumah, tetapi juga hilangnya dukungan emosional, arahan, dan rasa aman yang penting bagi tumbuh kembang anak. McLanahan et al. (2013) mengidentifikasi beberapa dampak negatif yang kerap muncul pada anak yang tumbuh tanpa ayah:
1. Kesehatan Mental
Ketidakhadiran ayah baik karena perceraian, perpisahan, maupun faktor lain sering kali berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak. Mereka lebih rentan mengalami stres, cemas hingga gejala depresi. Ketidakstabilan emosi yang muncul juga dapat menghambat fokus belajar, menurunkan motivasi, serta mengganggu kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
2. Masalah Sosial-Emosional
Ketidakhadiran ayah dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai perilaku bermasalah, seperti agresi dan sikap menentang. Anak juga bisa merasa kesepian dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, mereka sering menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis, seperti kesulitan menjalin pertemanan, harga diri yang rendah, serta kurangnya kemampuan pengendalian diri.
3. Risiko Perilaku Menyimpang
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah risiko terjadinya perilaku menyimpang seperti merokok, penggunaan narkoba, dan konsumsi alkohol. Menurut Aswarani & Khoiryasdien (2022), ketidakhadiran figur ayah juga dapat berkaitan dengan kecenderungan kenakalan remaja. Kurangnya bimbingan dan teladan dari sosok ayah dapat membuat remaja lebih rentan mencari pelarian melalui perilaku berisiko atau melanggar norma.
Peran Ayah
Ayah memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan arah hidup anak laki-laki. Melalui bimbingan, kasih sayang, dan teladan, seorang ayah membantu putranya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat. Stanton (2025) menyebutkan empat hal utama yang dapat diajarkan ayah kepada putranya:
1. Ayah Sebagai Role Model
Sejak hari-hari pertama kehidupannya, bayi mulai belajar membedakan antara ibu dan ayah. Bagi anak laki-laki, kehadiran ayah membantu mereka memahami bahwa mereka berbeda dari ibu maupun saudara perempuan. Sosok ayah menjadi fondasi awal dalam membentuk identitas putranya.
Kehadiran ayah menjadi teladan maskulinitas yang sehat. Bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan emosi, menunjukkan kasih sayang, dan tanggung jawab. Anak laki-laki akan meniru perilaku ayah dalam cara berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
2. Ayah Mengembangkan Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri seorang anak laki-laki berasal dari ayahnya. Hal ini karena ayah lebih cenderung mendorong anak laki-lakinya untuk mengambil risiko. Berbeda dengan ibu yang biasanya lebih mengutamakan keamanan, ayah cenderung memberi tantangan dan mengajak putranya mencoba hal-hal baru. Misalnya saat anak belajar memanjat pohon, ayah akan mendorong anaknya untuk berani naik lebih tinggi.
Apa yang dilakukan ayah untuk anak laki-lakinya adalah membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri dengan mengambil risiko dan menghadapi tantangan. Saat mereka berani mengambil risiko dan berhasil melewatinya, anak belajar bahwa mereka mampu menghadapi kesulitan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi anak laki-laki dalam memecahkan masalah, menjalin relasi, mencari pekerjaan, dan mengambil peran kepemimpinan di lingkungannya.
3. Ayah Mengajarkan Ketekunan
Anak laki-laki belajar mengenai pentingnya ketekunan bukan hanya lewat nasihat, tetapi juga melalui contoh dan dorongan yang mereka lihat dari ayahnya. Sosok ayah menjadi teladan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat menghadapi masa-masa sulit. Keteladanan itu sering hadir dalam bentuk yang sederhana, seperti pekerjaan tangan, memecahkan masalah, atau menghadapi tantangan dalam hubungan dengan orang lain.
Saat anak sedang mengerjakan sesuatu, seperti soal matematika yang sulit atau memperbaiki sepedanya, ayah biasanya akan mendorongnya untuk tidak menyerah. Ayah mengajaknya untuk berhenti sejenak, melihat kembali masalah yang ada, mencari solusi, lalu menuntaskannya. Melalui proses itu, anak bukan hanya menyelesaikan tugasnya, tetapi juga mempelajari keterampilan, kesabaran, dan nilai ketekunan yang akan membantunya di berbagai aspek kehidupan.
4. Ayah Membentuk Identitas Anak Laki-Laki
Sama seperti dunia perempuan, dunia laki-laki memiliki dinamika dan cara khas dalam melakukan berbagai hal. Kehadiran ayah memberi putranya “akses” untuk memahami dan masuk ke dalam dunia tersebut. Maccoby (1998) dalam bukunya The Two Sexes menjelaskan bahwa di berbagai budaya, anak laki-laki membutuhkan kehadiran ayah agar mereka tahu bagaimana dan mengapa seorang pria bertindak, serta bagaimana belajar melakukannya sendiri.
Ayah juga mengajarkan hal-hal yang dianggap sebagai “urusan pria”, sekaligus menunjukkan batasan tentang perilaku yang tidak pantas dilakukan. Seiring berjalannya waktu, ayah akan mengenalkan anaknya kepada figur laki-laki lain yang dapat menjadi teladan, seperti seorang guru atau pelatih. Sosok ayah menjadi orang terdekat yang membantu putranya membangun jaringan dalam komunitas.
“It is not biology that determines fatherhood. It is love.” —Kristin Hannah
Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan program Intentional Fathering untuk memperlengkapi para ayah di Indonesia agar hadir seutuhnya dalam perjalanan hidup anak. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi
- Aswarani, B. G., & Khoiryasdien, A. D. (2022). Kecenderungan kenakalan remaja laki-laki ditinjau dari persepsi terhadap peran ayah dalam pengasuhan di Yogyakarta. Jurnal Sudut Pandang, 2(12), 220-228.
- Maccoby, E. E. (1998). The two sexes: Growing up apart, coming together. Belknap Press/Harvard University Press.
- McLanahan, S., Tach, L., & Schneider, D. (2013). The Causal Effects of Father Absence. Annual review of sociology, 39, 399–427. https://doi.org/10.1146/annurev-soc-071312-145704
- Stanton, G. T. (2025, Juli 29). What fathers do for sons. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/what-fathers-do-for-sons/












