Family Indonesia

Mengenalkan Tugas Rumah pada Anak

Mengenalkan Tugas Rumah pada Anak

Banyak orang tua sering merasa lebih cepat dan lebih rapi jika mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Akhirnya, anak hanya diminta menyingkir agar tidak mengganggu. Padahal, di balik aktivitas sederhana seperti merapikan mainan atau menata meja makan, ada kesempatan besar untuk menanamkan kemandirian dan rasa tanggung jawab sejak dini.

Mengapa Anak Perlu Diberikan Tugas Rumah?

 

Memberikan tugas rumah bukan sekadar membagi pekerjaan, tetapi membantu anak belajar bahwa ia adalah bagian penting dari keluarga. Bischoff (2023) menjelaskan bahwa membagi tugas rumah tangga dengan anak-anak membawa banyak manfaat penting bagi perkembangan mereka. Berikut 9 manfaat membagi tugas rumah tangga dengan anak-anak:

     1. Ada Tugas yang Tepat untuk Setiap Usia Anak

Pekerjaan rumah tangga jumlahnya banyak dan beragam. Setiap tugas juga dapat bervariasi tergantung pada usia anak dan situasi tertentu, misalnya parents mungkin membutuhkan lebih banyak bantuan di dapur ketika ada tamu. Meskipun kemampuan anak berbeda di setiap tahap perkembangan, semua anak sebenarnya bisa dilibatkan. Balita dapat mulai dari tugas sederhana seperti merapikan mainan setelah bermain. Anak usia sekolah bisa membantu menyiapkan makanan, mengatur meja makan, atau membuang sampah. Sementara itu, remaja dapat memikul tanggung jawab yang lebih besar, seperti membersihkan area rumah tertentu atau menyiapkan makanan ringan.

     2. Anak Belajar Mengambil Tanggung Jawab

Banyak orang tua merasa bahwa anak-anak masih terlalu kecil untuk dilibatkan dalam tugas rumah. Padahal, sejak dini anak sudah mulai menghadapi berbagai bentuk tanggung jawab, mulai dari merapikan barang-barangnya sendiri, mengerjakan PR, hingga bekerja sama dengan teman-teman di sekolah. Tugas rumah tangga akan menjadi salah satu tanggung jawab pertama yang dimiliki anak-anak. Melalui tugas sederhana inilah anak belajar menyelesaikan kewajiban, memahami peran mereka dalam keluarga, dan mengembangkan keterampilan penting untuk masa depan.

     3. Anak Belajar Keterampilan Dasar Sejak Dini

Masa anak-anak adalah satu-satunya waktu ketika mereka hidup tanpa banyak tanggung jawab. Ketika dewasa nanti, mereka harus mengurus diri sendiri dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika sejak kecil mereka tidak pernah terlibat dalam pekerjaan rumah, proses belajar keterampilan dasar ini bisa terasa sulit dan membuat frustasi saat dewasa. Melibatkan anak sejak usia dini dapat memberi mereka pemahaman tentang seberapa banyak pekerjaan yang ada di dalam rumah tangga. Pengalaman ini membantu mereka lebih siap menghadapi kehidupan mandiri di masa depan.

     4. Membantu Membangun Rasa Percaya Diri Anak

Setiap kali anak diberi tanggung jawab, baik di sekolah maupun di rumah, mereka sedang belajar cara mengatasi tantangan yang akan muncul secara rutin. Ketika anak berhasil menyelesaikan sebuah tugas, seberapa pun sederhananya, mereka mendapatkan pengalaman penting. Memulai dari hal-hal kecil seperti merapikan tempat tidur, menata meja makan, atau menaruh piring kotor ke tempatnya, memberikan pesan bahwa kontribusi mereka berdampak pada kenyamanan keluarga. Anak akan merasa dirinya dibutuhkan dan dipercaya, bukan hanya dianggap sebagai penonton dalam rutinitas rumah tangga.

     5. Perasaan Tertantang dan Bangga Ketika Berhasil Menyelesaikan Tugas Rumah

Tidak sedikit orang tua yang mengalami kesulitan ketika meminta anak mengerjakan tugas rumah tangga. Salah satu alasannya adalah karena anak sering melihat tugas rumah sebagai beban. Di mata mereka, terdapat pilihan antara melakukan pekerjaan rumah atau melakukan aktivitas yang lebih seru. Tentu saja mereka cenderung memilih aktivitas yang membuat mereka merasa senang. Daripada langsung melarang kegiatan yang menyenangkan, orang tua dapat membantu dengan memberi batas waktu kapan tugas harus selesai. Ketika anak berhasil menyelesaikan tugasnya dalam batas waktu tersebut, penting bagi orang tua untuk mengakui usahanya. Penghargaan sederhana, baik berupa pujian verbal, senyuman, atau apresiasi kecil dapat membuat anak merasa telah mencapai sesuatu yang positif.

     6. Meningkatkan Kesehatan Mental Anak

Kegiatan rumah tangga dapat memiliki efek terapeutik bagi anak. Tugas rumah tidak hanya sekadar cara untuk membuat anak sibuk, tetapi juga memberikan manfaat emosional yang penting. Ketika anak diajak terlibat dalam membersihkan dan merawat lingkungan sekitarnya, mereka tidak hanya merasa memiliki peran, tetapi juga merasakan bahwa mereka mampu memberi kontribusi nyata bagi keluarga. Selain itu, ketika anak banyak menghabiskan waktu di dalam rumah atau ruang bermain, mengajak mereka merawat dan membersihkan ruangan mereka sendiri dapat membantu mengurangi rasa jenuh dan stres.

     7. Pembagian Tugas Membuat Kehidupan Keluarga Lebih Ringan

Ketika pekerjaan rumah hanya ditanggung oleh satu atau dua orang saja, beban tersebut dapat terasa sangat melelahkan dan bahkan memicu stres. Maka dari itu, idealnya tugas rumah dibagi secara proporsional kepada seluruh anggota keluarga. Rumah menjadi tempat yang lebih menyenangkan ketika setiap orang turut menjaga kebersihan dan kerapian. Hasilnya, keluarga punya lebih banyak waktu luang untuk bersantai, bermain, dan membangun kedekatan.

     8. Bekerja Sama Memperkuat Hubungan Keluarga

Anak perlu melihat bahwa mereka bukan satu-satunya yang mengerjakan tugas yang mungkin kurang menyenangkan. Setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Jika satu anggota tidak melakukan bagiannya, tujuan tidak akan tercapai. Salah satu cara yang efektif adalah membicarakan pembagian tugas rumah tangga secara terbuka dan membuat daftar tugas yang harus dilakukan setiap orang untuk minggu berikutnya. Hal ini juga memberi kesempatan kepada anak untuk memilih tugas favoritnya daripada melakukan sesuatu yang tidak disukainya.

     9. Anak Belajar Menghargai Usaha Orang Tua di Rumah

Saat anak mulai merasakan sendiri berapa banyak waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, mereka cenderung lebih menghargai apa yang selama ini dilakukan orang tua. Melibatkan anak dalam tugas sehari-hari membantu mereka memahami bahwa menjaga rumah tetap rapi bukanlah hal yang terjadi “dengan sendirinya”, melainkan hasil dari kerja keras semua anggota keluarga.

Agar anak benar-benar memahami dan menghargai prosesnya, orang tua perlu memberikan penjelasan yang jelas serta membagi tugas sesuai usia. Setiap usaha anak juga perlu diakui agar mereka merasa dihargai. Sebagian orang tua memilih memberikan upah untuk beberapa jenis tugas sebagai bentuk penghargaan, tetapi ada pula pekerjaan yang sebaiknya dilakukan tanpa imbalan, sebagai bagian dari tanggung jawab dan proses belajar dalam keluarga.

Tugas Rumah Berdasarkan Usia

 

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda sesuai tahap perkembangannya, sehingga tugas rumah pun perlu disesuaikan dengan usia mereka. Memberikan tugas yang terlalu sulit bisa membuat anak frustasi, sementara tugas yang terlalu mudah membuat mereka tidak tertantang. Stuart (2024) memberikan panduan yang membantu orang tua mengetahui tugas rumah apa saja yang cocok untuk anak di setiap kelompok usia:

Anak usia 2-3 tahun

  • Menyimpan mainan
  • Mengisi mangkuk makanan hewan peliharaan
  • Menaruh pakaian di keranjang cucian
  • Membersihkan tumpahan
  • Membersihkan debu
  • Menumpuk buku dan majalah

Anak usia 4-5 tahun

  • Menyusun tempat tidur
  • Mengosongkan tempat sampah
  • Mengambil surat atau koran
  • Membersihkan meja
  • Mencabut rumput liar, jika memiliki kebun
  • Menggunakan vacuum cleaner tangan untuk membersihkan remah-remah
  • Menyiram bunga
  • Mengambil peralatan makan
  • Mencuci piring plastik di wastafel
  • Membuat sereal sendiri di mangkuk

Anak usia 6-7 tahun

  • Memisahkan pakaian kotor
  • Menyapu lantai
  • Menyiapkan dan membersihkan meja
  • Membantu menyiapkan makan siang
  • Mencabut rumput dan menyapu daun
  • Menjaga kamar tidur tetap rapi

Anak usia 8-9 tahun

  • Mencuci piring
  • Menyimpan belanjaan
  • Membersihkan debu dengan vacuum cleaner
  • Membantu menyiapkan makan malam
  • Membuat camilan sendiri
  • Membersihkan meja setelah makan
  • Menyimpan pakaian sendiri
  • Menjahit kancing
  • Membuat sarapan sendiri
  • Mengupas sayuran
  • Memasak makanan sederhana, seperti roti panggang
  • Membersihkan lantai dengan pel
  • Membawa hewan peliharaan berjalan-jalan

Anak usia 10 tahun keatas

  • Mengeluarkan peralatan makan yang sudah dicuci
  • Menyetrika pakaian
  • Membersihkan kamar mandi
  • Membersihkan jendela
  • Mencuci mobil
  • Memasak makanan sederhana dengan pengawasan
  • Mencuci pakaian
  • Menjaga adik-adik yang lebih muda (dengan didampingi orang dewasa di rumah)
  • Membersihkan dapur
  • Mengganti seprai tempat tidur mereka

Memberikan tugas rumah pada anak bukan hanya membantu menjaga rumah tetap rapi, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, dan keterampilan dasar yang akan mereka bawa hingga dewasa. Orang tua tidak perlu memulai dengan sesuatu yang besar. Langkah kecil seperti mengajak anak merapikan mainan atau menata meja makan sudah cukup untuk membangun kebiasaan baik. Ketika seluruh anggota keluarga terlibat dan bekerja sebagai satu tim, rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat anak bertumbuh dan merasa berarti.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti yaitu Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Stuart, A. (2024, Februari 28). Divide and Conquer Household Chores. WebMD. https://www.webmd.com/parenting/features/chores-for-children
  • Bischoff, A. (2023, Maret 15). 9 reasons why household chores are important for children. The Circular. https://thecircular.org/9-reasons-why-household-chores-are-important-for-children/