Couples, di rumah anda, siapa yang mendapatkan tugas untuk melakukan pekerjaan rumah? Di banyak hubungan pernikahan, tanggung jawab membersihkan rumah sering kali dilimpahkan kepada salah satu pihak saja. Meskipun ini sudah menjadi kebiasaan turun menurun bahwa tugas membereskan rumah banyak dipegang oleh pihak istri, para suami bukan berarti lepas dari tanggung jawab untuk membantu. Seperti kata pepatah, segala hal yang dilakukan bersama-sama akan menjadi lebih ringan dan mudah dikerjakan. Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas mengenai pembagian tugas rumah tangga yang adil untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan saling mendukung.
Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, membersihkan rumah, memasak, dan mengasuh anak dapat menjadi sumber stres dan ketegangan apabila tidak dibagi secara adil dan efisien antara pasangan. Ketimpangan pembagian peran dalam rumah tangga dapat memicu konflik karena rasa lelah yang berlebih dan perasaan tidak dihargai. Sebaliknya, pembagian tugas rumah tangga yang seimbang dan didasari oleh rasa saling pengertian dapat membantu mengurangi stres dan mempererat hubungan pasangan. Aktivitas sederhana yang dilakukan bersama seperti membersihkan rumah bisa menjadi bentuk dari kepedulian, kerja sama, dan kasih sayang terhadap pasangan kita. Terdapat dua jenis pendekatan dalam pembagian tugas rumah tangga:
- Tradisional
Dalam pembagian peran secara tradisional, peran dan tanggung jawab suami istri berbeda jelas. Para suami secara umum memiliki tugas sebagai pencari nafkah di luar rumah, sedangkan para istri bertugas untuk urusan domestik, seperti mengurus rumah tangga dan anak. Dalam perspektif tradisional, suami yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak dilihat sebagai hal yang tidak biasa, begitu juga bila istri bekerja di luar rumah. Kedua hal ini secara tradisional dirasa menyimpang dari peran dan stereotip gender yang “seharusnya”. Laki-laki sering diasosiasikan dengan karakter maskulin, kuat, dan dominan, sehingga lebih dianggap sesuai untuk memimpin dan bertanggung jawab atas urusan ekonomi dan keputusan keluarga. Di sisi lain, perempuan diasosiasikan dengan sifat feminin, lembut, dan penuh kasih, yang menjadikannya lebih “sesuai” untuk menjalankan peran domestik dan mengasuh anak di rumah. - Egaliter
Pada peran egaliter, pembagian peran dan tugas antara suami dan istri bersifat lebih fleksibel. Dimana tidak ada aturan sosial yang mengatakan bahwa suami kurang sesuai untuk menjaga anak dan istri tidak boleh bekerja. Suami dan istri memiliki kebebasan untuk menentukan peran dan tugas rumah tangga sesuai dengan kesepakatan bersama. “Berbagi” peran dan tugas adalah kunci utama dari pembagian peran secara egaliter, sehingga pasangan dapat saling membantu juga saling mendukung satu sama lain dalam menjalankan peran dan melakukan tugas.
Menurut penelitian oleh Olson et al. (2011), pasangan yang keduanya egaliter lebih bahagia dibandingkan dengan pasangan yang keduanya tradisional karena pembagian tugas yang dilakukan berdasarkan minat dan preferensi pribadi, bukan berdasarkan tuntutan tradisional.
“A good system is extremely important for a healthy marriage.” –Chelsi Jo
Berikut beberapa tips yang bisa couples terapkan untuk meningkatkan hubungan suami istri melalui pembagian peran dan tugas dalam rumah tangga:
1. Saling Memahami Kesibukan Masing-Masing
Baik suami maupun istri tentu memiliki tanggung jawab baik di dalam dan di luar rumah. Oleh karena itu, penting untuk dapat saling memahami ritme dan beban aktivitas satu sama lain agar pembagian tugas dilakukan dengan adil dan realistis.
2. Menentukan Skala Prioritas Secara Bijak
Dalam banyak bentuk, pembagian yang dianggap rata adalah 50:50, tetapi dalam pembagian tugas rumah tangga hal ini bisa jadi berbeda. Couples perlu mempertimbangkan kesibukan, batas kekuatan, kapasitas, dan minat/preferensi masing-masing pihak. Couples dapat membuka ruang diskusi dan bekerja sama menentukan prioritas dalam menyusun pembagian tugas rumah tangga.
3. Menyusun Daftar Tugas Rumah Tangga
Saat melakukan diskusi bersama, suami dan istri juga dapat mencatat semua tugas domestik, mulai dari yang pekerjaan kecil seperti menyapu lantai hingga pekerjaan yang besar seperti memasak dan mencuci pakaian. Pembagian tugas dapat berdasarkan preferensi dan keterampilan masing-masing, misalkan suami lebih nyaman untuk mencuci pakaian, maka tugas ini dipegang oleh suami.
4. Menggunakan Sistem Rotasi
Pembagian tugas yang dilakukan secara tetap mungkin akan terasa monoton dan menjadi berat untuk dilakukan, couples dapat menggunakan sistem rotasi sebagai solusi untuk terhindar dari kebosanan melakukan pekerjaan rumah. Misalnya, couples bisa secara bergantian mencuci piring setiap hari atau membersihkan kamar mandi setiap minggu.
5. Menyepakati Standar Kebersihan
Pihak pria dan wanita seringkali memiliki preferensi bentuk dan standar kebersihan yang berbeda-beda. Perbedaan dalam standar kebersihan kadang kalau dapat menjadi pemicu konflik jika tidak dibicarakan dengan lugas. Contohnya, jadwal menyapu rumah harus dilakukan setiap hari agar rumah bersih, tapi di sisi lain pihak yang memegang tugas menyapu memilih melakukannya dua hari sekali. Suami dan istri dapat mendiskusikan juga harapan masing-masing mengenai kebersihan rumah dan membuat kesepakatan, seperti area mana yang harus selalu bersih dan mana yang bisa lebih fleksibel.
6 . Fleksibel dan Siap Berkompromi
Meskipun pasangan sudah merancang dan menjadwalkan pembagian tugas rumah dengan sebaik mungkin, kadang kala rencana ini bisa tidak berjalan mulus. Saat salah satu pasangan sedang sering lembur karena pekerjaan di kantor atau karena sedang sakit dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Maka, penting bagi pasangan lainnya untuk saling menyesuaikan dan mendukung dalam menggantikan peran dalam rumah tangga. Sifat fleksibel dan kemampuan berkompromi ini adalah kunci untuk menjaga keharmonisan jangka panjang, perlu diingat juga bahwa suami istri merupakan partnership yang bekerja sama sepanjang perjalanan pernikahan.
7. Menunjukkan Apresiasi
Setelah melakukan kerja sama tim dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, jangan lupa untuk saling memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas usaha pasangan kita melakukan peran mereka. Sekecil apa pun kontribusi dan pekerjaan yang mereka lakukan, pemberian apresiasi merupakan fondasi untuk membangun hubungan yang sehat, saling mendukung, dan koneksi emosional yang lebih kuat di antara suami istri. Ketika seseorang merasa dihargai, mereka akan lebih mungkin termotivasi untuk terus berkontribusi dan merasa bahwa apa yang mereka lakukan bermakna dalam hubungan tersebut.
Berbagi tanggung jawab rumah tangga bukan hanya sekadar pembagian tugas bersama, tetapi juga tentang membangun rasa kesetaraan dan saling mendukung dalam hubungan. Ketika couples sama-sama memberikan berkontribusi dalam pekerjaan rumah tangga. Hal ini dapat memperkuat kepercayaan, rasa dihargai, mengurangi ketegangan, dan menumbuhkan semangat kerja sama. Pembagian tugas rumah tangga juga dapat menjadi contoh positif bagi anak-anak kelak. Mereka akan memiliki contoh bagaimana kedua orang tuanya bekerja sama dalam mengelola rumah tangga, yang mengajarkan nilai-nilai penting seperti kerja tim dan tanggung jawab bersama.
Kunci keberhasilan dalam pembagian peran dan tanggung jawab terletak pada komunikasi pasangan yang dilakukan secara terbuka, rasa pengertian, dan saling menghargai. Beberapa tips di atas diharapkan dapat membantu couples menciptakan sistem pembagian tugas yang adil, efisien, dan memuaskan bagi kedua belah pihak. Terakhir, ingatlah bahwa rumah tangga yang bahagia dan harmonis adalah hasil dari kerjasama dan pengertian yang tulus antara suami dan istri.
“Shared joy is a double joy; shared sorrow is half a sorrow. The same goes for housework.” – Swedish Proverb
Bila couples sedang merasa kewalahan dengan tanggung jawab dalam rumah tangga dan kesulitan untuk membawa topik ini dengan pasangan anda. Focus on the Family Indonesia siap mendukung para couple melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memperkuat komunikasi dan menciptakan kemitraan yang lebih seimbang untuk memelihara hubungan pernikahan yang harmonis. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Olson, D.H., DeFrain, J., Skogrand, L. (2011). Marriages and Families: Intimacy, Diversity and Strength. New York: Mc-Graw Hill, hal. 192-218












