Family Indonesia

Screen Time Anak: Panduan Bijak untuk Orang Tua

Screen Time Anak: Panduan Bijak untuk Orang Tua

Parents, pernahkah Anda merasa kewalahan ketika anak lebih sibuk menatap layar gadget daripada bermain dengan teman-teman sebaya mereka? Gadget dapat menjadi media edukasi dan hiburan, namun penggunaan yang berlebihan sering membuat orang tua khawatir akan dampaknya pada tumbuh kembang anak. Pertanyaannya, bagaimana cara menemukan keseimbangan? Karena itu, orang tua membutuhkan panduan yang jelas dan bijak dalam mengatur screen time anak agar tumbuh kembang mereka tetap sehat.

Panduan Screen Time Berdasarkan Usia

 

Salah satu hal penting dalam penggunaan gadget adalah menetapkan batasan waktu yang diperbolehkan untuk anak. Dengan begitu, anak belajar disiplin sekaligus terhindar dari screen time berlebihan. Berikut panduannya:

  • Anak usia < 2 tahun: Tidak dianjurkan menggunakan gadget. Pada masa ini otak anak berkembang dengan cepat, sehingga sebaiknya anak-anak kecil belajar melalui interaksi dengan orang lain, bukan dari layar.
  • Anak usia 2 – 6 tahun: Menggunakan gadget atau bermain game sebaiknya dilakukan bersama orang tua.
  • Anak usia 7 – 9 tahun: Durasi layar maksimal 30 menit per hari. Penggunaan handphone hanya untuk menelepon, sedangkan bermain game dibatasi kurang dari 15 menit per hari.
  • Anak usia 10 – 12 tahun: Durasi layar maksimal 1 jam per hari. Bermain game dibatasi maksimal 3 jam per minggu.
  • Anak usia > 13 tahun: Anak memiliki kebebasan dalam menggunakan gadget, namun tetap dengan tanggung jawab pribadi dan diskusi aktif bersama orang tua

Mengapa Screen Time Perlu Diatur?

 

Masa kanak-kanak adalah fase penting ketika perkembangan fisik dan kognitif berlangsung sangat cepat. Pada periode ini, penggunaan gadget tanpa batas dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik, mental, maupun sosial anak. Menurut Anjani (2025), terdapat beberapa dampak yang dapat muncul jika anak terlalu sering menatap layar:

     1. Masalah Perilaku

Anak dapat meniru perilaku yang ditontonnya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, salah satu dampak yang paling sering muncul akibat screen time berlebihan adalah masalah perilaku, seperti sikap agresif, membangkang, berbohong, mencuri, atau kesulitan mengendalikan diri. Masalah ini biasanya terlihat jelas karena berdampak langsung pada orang lain. Beberapa perilaku bermasalah ini bisa semakin parah bila anak terlalu sering mengkonsumsi tayangan yang tidak mendidik.

     2. Masalah Emosional

Screen time yang berlebihan dapat memicu berbagai masalah emosional, seperti rasa cemas, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Anak yang terlalu sering menatap layar cenderung kehilangan kesempatan untuk belajar mengelola emosi melalui interaksi langsung dengan orang tua atau teman sebaya. Selain itu, paparan konten yang negatif atau tidak sesuai usia dapat memperburuk perasaan tidak aman dan rendah diri.

     3. Masalah Perkembangan

Screen time yang berlebihan dapat menghambat tercapainya tugas-tugas perkembangan anak. Setiap tahap usia memiliki pencapaian tertentu yang perlu dilatih, seperti kemampuan motorik, keterampilan bersosialisasi, hingga belajar mengelola emosi. Ketika terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar, kesempatan anak untuk melatih kemampuan-kemampuan ini bisa berkurang.

Penggunaan gadget yang berlebihan juga sering kali membuat anak lebih memilih berinteraksi dengan layar dibanding dengan orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, keterampilan sosial seperti berkomunikasi, kerja sama, dan empati tidak berkembang dengan optimal. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, anak bisa mengalami kesulitan dalam menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya maupun anggota keluarga.

Peran Pengawasan Orang Tua

 

Parents memegang peran penting sebagai pengawas sekaligus pendamping. Dengan pengawasan yang tepat, screen time dapat tetap terkendali dan tidak berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Menurut Munafiah & Latif (2022), terdapat beberapa bentuk pengawasan yang dapat dilakukan:

     1. Membatasi Waktu Screen Time

Parents dapat menentukan aturan yang jelas mengenai screen time pada anak di rumah, seperti menetapkan jam berapa anak boleh menggunakan gadget dan berapa lama diizinkan untuk melakukannya. Pastikan parents mengikuti panduan penggunaan screen time sebelum membuat kesepakatan bersama anak. Selain itu, parents juga bisa menggunakan time off untuk membantu anak lebih disiplin.

     2. Membatasi Tontonan Anak

Parents perlu lebih bijak dalam memilih aplikasi, permainan, tontonan dan program yang sesuai usia anak-anak Anda. Hindari tontonan yang sulit dipahami oleh anak-anak kecil, seperti konten kekerasan atau konten dewasa. Parents juga dapat mematikan iklan agar anak tidak terpapar konten yang tidak sesuai usianya.

     3. Mendampingi Anak

Jika anak-anak akan menghabiskan waktu di depan layar, hal terbaik yang dapat parents lakukan adalah menonton atau bermain bersama mereka. Setelah acara selesai, parents dapat mengajak anak berdiskusi atau mengingat kembali informasi yang ditonton. Hal ini dapat membantu anak untuk lebih memahami apa yang mereka lihat.

     4. Mengajak Anak Melakukan Kegiatan Bersama

Anak-anak sebaiknya lebih banyak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik berbasis permainan yang aman, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan bersama ini dapat mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Pastikan pula waktu tidur, waktu makan, dan waktu bersama keluarga bebas dari layar agar momen kebersamaan lebih berkualitas.

     5. Memberikan Teguran atau Sanksi

Biasanya ketika orang tua mengatakan “tidak” kepada anak, reaksi yang muncul sering kali tidak menyenangkan. Namun, parents perlu mengingat bahwa tugas utama Anda adalah menentukan apa yang terbaik bagi anak dan mengambil keputusan yang dapat menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak dalam jangka panjang. Berikan teguran ringan atau sanksi sederhana, namun sertai dengan penjelasan agar anak benar-benar mengerti alasan di balik aturan tersebut.

Ingatlah, parents perlu mengelola screen time anak dengan bijak. Gadget bisa memberi manfaat jika digunakan dengan tepat, tetapi penting bagi orang tua untuk memastikan anak tidak kehilangan momen berharga dalam kehidupan nyata. Parents dapat mendorong lebih banyak interaksi face-to-face dibanding face-to-screen. Makan bersama, bermain, berpetualang atau sekadar mengobrol bersama bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Anjani, R. (2025). Literature Review: Dampak Teknologi Digital terhadap Regulasi Emosi Anak Usia Dini dan Peran Pengawasan Orang Tua. Kumarottama: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 1–21. https://doi.org/10.53977/kumarottama.v4i2.2090
  • Munafiah, N., & Latif, M. A. (2022). Peran Orang tua pada Kegiatan Screen time Anak Usia Dini. Proceedings of The 6th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education, 6, 23–28. http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/aciece