Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi pelajar Indonesia masih tertinggal. Berdasarkan data yang dirilis GoodStats (2023), Indonesia menempati peringkat ke-69 dari 80 negara dengan skor total 1.108. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran dari kondisi proses belajar remaja yang masih perlu mendapat perhatian serius.
Bagi banyak remaja, belajar sering terasa melelahkan, membosankan, bahkan memicu frustasi. Saat kondisi ini muncul, otak secara alami berusaha menghindari ketidaknyamanan dan mencari pelarian yang lebih cepat serta menyenangkan. Tidak heran jika media sosial atau video game terasa jauh lebih menarik dibandingkan membuka buku atau mengerjakan tugas.
Situasi ini semakin diperparah oleh kehidupan modern yang penuh dengan distraksi. Notifikasi tanpa henti dan arus informasi yang cepat perlahan mengikis kemampuan untuk tetap fokus dan tekun. Akibatnya, banyak remaja sebenarnya bukan kehilangan kecerdasan, tetapi kehilangan daya tahan mental untuk tetap belajar ketika prosesnya tidak nyaman.
Padahal, otak manusia sebenarnya mampu bekerja secara optimal dalam suatu aktivitas ketika merasa tertantang dan memiliki tujuan yang jelas. Kondisi inilah yang membuat seseorang bisa tenggelam dalam suatu kegiatan tanpa harus dipaksa. Lalu, apakah belajar juga bisa demikian?
Cara Melatih Otak Agar Lebih Gigih Dalam Proses Belajar
Kegigihan dalam belajar tidak muncul dari motivasi sesaat, melainkan dari proses melatih otak untuk bertahan menghadapi tantangan. Fokus utamanya adalah melatih kemampuan untuk tetap melangkah meski proses belajar terasa tidak nyaman. Santhosh (2023) membagikan beberapa langkah yang dapat membantu otak membangun ketahanan dan konsistensi dalam belajar:
-
Menemukan Gaya Belajar yang Paling Sesuai
Memahami gaya belajar yang paling efektif bagi diri sendiri dapat membantu otak bertahan lebih lama dalam proses belajar. Sebagian remaja lebih mudah memahami materi melalui tampilan visual seperti gambar atau diagram, sementara yang lain mungkin lebih terbantu melalui diskusi, membaca, atau aktivitas langsung. Tidak ada gaya belajar yang paling benar. Oleh karena itu, carilah yang paling membantu champs memahami materi dan bertahan dalam proses belajar.
Salah satu metode yang sering digunakan adalah model VARK, yang membagi gaya belajar menjadi visual, auditory, reading/writing, dan kinesthetic. Mencoba berbagai pendekatan belajar dapat membantu champs mengenali metode mana yang paling mendukung fokus dan konsentrasi belajarmu. Dengan menyesuaikan metode belajar dengan cara kerja otak, proses belajar tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga lebih menyenangkan.
-
Menemukan Minat Belajar
Ketertarikan dapat menjadi pendorong yang kuat untuk membangun kegigihan dalam belajar. Ketika materi yang dipelajari dianggap penting atau menarik, otak cenderung lebih bertahan dalam prosesnya, bahkan saat menghadapi kesulitan. Maka dari itu, penting untuk mengenali topik-topik yang benar-benar memicu minat dan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang sederhana seperti ingin memahami suatu topik lebih dalam sudah cukup untuk membantu belajar terasa lebih bermakna. Ketika champs memiliki ketertarikan terhadap apa yang sedang dipelajari, belajar tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang membosankan, melainkan sebagai proses yang menarik untuk dijalani.
-
Belajar dari Pengalaman Langsung
Belajar akan lebih mudah dipertahankan ketika materi yang dipelajari terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Saat champs dapat melihat bagaimana pengetahuan digunakan dalam situasi nyata, otak cenderung lebih aktif memproses informasi. Mengaitkan teori dengan praktik tidak selalu harus melalui hal besar seperti magang atau proyek formal. Mencoba menerapkan konsep yang dipelajari dalam aktivitas sederhana seperti diskusi, studi kasus, atau pengamatan di sekitar sudah cukup untuk memperkuat pemahaman. Ketika belajar terasa dekat dengan realitas, prosesnya menjadi lebih bermakna dan mendorong keinginan untuk terus mendalami materi.
-
Terlibat dalam Pembelajaran Kolaboratif
Belajar tidak selalu harus dijalani sendirian. Berada di lingkungan dengan orang-orang yang memiliki tujuan belajar serupa dapat membantu menjaga konsistensi dan ketahanan dalam proses belajar. Interaksi dengan orang lain memberi ruang untuk saling menguatkan, terutama ketika motivasi mulai menurun. Diskusi, bertukar sudut pandang, dan belajar bersama membantu otak memproses materi secara lebih mendalam. Dengan adanya dukungan sosial, belajar tidak hanya terasa lebih bermakna, tetapi juga lebih mudah dijalani secara konsisten.
Apabila champs merasa kesulitan bertahan dalam proses belajar atau membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan diri secara lebih sehat, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.
Referensi
- Lubis, R. B. (2023, 10 Desember). Mengulik hasil PISA 2022 Indonesia: Peringkat naik, tapi tren penurunan skor berlanjut. GoodStats. https://goodstats.id/article/mengulik-hasil-pisa-2022-indonesia-peringkat-naik-tapi-tren-penurunan-skor-berlanjut-m6XDt
- Santhosh, D. (2023, Juni 22). How to get addicted to learning. Medium. https://medium.com/@dakshsanthosh/how-to-get-addicted-to-learning-abfc8100f7f












