Family Indonesia

Keadilan dalam Pernikahan Tidak Selalu Harus 50-50

Keadilan dalam Pernikahan Tidak Selalu Harus 50-50

Pernahkan couples merasa kecewa karena kontribusi Anda terasa lebih besar dibandingkan pasangan? Banyak pasangan mengira bahwa keadilan dalam pernikahan berarti membagi tugas, peran, atau tanggung jawab secara sama rata. Konsep ini memang terdengar ideal, di mana dua orang berjalan berdampingan dengan kontribusi yang seimbang. Namun, keadilan dalam pernikahan tidak selalu berarti 50-50.

Mitos 50-50 dalam Pernikahan

 

Pernikahan adalah ikatan yang membutuhkan pengorbanan. Ada hari-hari di mana couples akan kehabisan tenaga, dan ada hari-hari di mana pasangan Anda yang akan kehabisan tenaga. Jika couples sibuk menghitung siapa yang melakukan apa, siapa yang mencuci piring atau mengantar anak-anak ke sekolah, Anda tidak sedang membangun pernikahan, melainkan sedang membangun transaksi bisnis. Jika couples ingin hubungan bertahan, Anda harus melepaskan ekspektasi bahwa segalanya harus “seimbang”.

Penulis Klemp & Klemp (2021) juga menyimpulkan bahwa konsep 50-50 ini sangat tidak realistis dan hanya menimbulkan kekecewaan dan pertengkaran. Pembagian 50-50 adalah konsep yang mengajarkan kita untuk menjadi rasional daripada romantis, adil daripada murah hati, dan menang secara individu daripada bersama-sama. Daripada terjebak pada pembagian 50-50, mereka mendorong pasangan untuk bersikap murah hati satu sama lain dan berkontribusi lebih dari bagian yang adil.

Tips Praktis untuk Pasangan

 

Melepaskan pola pikir 50-50 memang tidak mudah. Maka dari itu, couples perlu melatih cara-cara sederhana untuk menjaga hubungan tetap sehat dan penuh kasih, bahkan dalam keadaan yang tampak tidak seimbang. Hong (2025) membagikan beberapa perspektif yang dapat membantu pasangan menemukan keseimbangan yang lebih baik:

     1. Menghargai Diri Sendiri

Ada kalanya pasangan tidak hadir untuk berbagi beban, sehingga Anda merasa seperti sedang menanggung semuanya sendirian. Di momen seperti ini, berhentilah sejenak dan ingatkan diri Anda bahwa perasaan itu normal. Jika hari ini terasa sangat berat, luangkan waktu untuk memperhatikan bagaimana tubuh Anda merespon, akui emosi yang Anda rasakan, dan hargai diri Anda karena telah melewatinya.

Ingatlah, setiap upaya couples hari ini adalah investasi dalam hubungan yang sedang dibangun bersama pasangan Anda. Pengingat semacam ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pikiran negatif dan tidak sehat menjadi pikiran yang lebih positif. Couples dapat belajar menjadi pendukung terbaik bagi diri sendiri, bahkan ketika keadaan belum memenuhi harapan Anda.

     2. Menghargai Pasangan Anda

Sering kali kita terfokus pada semua hal baik yang kita lakukan, sementara relatif tidak menyadari kebaikan yang dilakukan pasangan. Padahal, memperhatikan dan merenungkan kontribusi pasangan Anda terhadap keluarga dapat membantu couples melihat pasangan Anda sebagai rekan satu tim dalam perjalanan pernikahan. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda, couples akan lebih mudah menyadari dan menghargai kontribusi tak terhitung dari pasangan Anda.

Mengingat kontribusi pasangan Anda akan membantu couples untuk terus memberi dengan tulus dan terbuka pada pertumbuhan, baik di masa damai maupun saat menghadapi tantangan. Ketika couples melihat mereka melakukan kontribusi, yang perlu Anda lakukan hanyalah mengekspresikan apresiasi Anda. Apresiasi adalah salah satu cara paling kuat untuk memperkuat ikatan pernikahan Anda. Pernikahan tidak dibangun di atas keheningan, melainkan di atas pemahaman bersama.

     3. Melakukan Percakapan Terbuka

Pernikahan dapat bertumbuh ketika kedua pasangan terbiasa mengkomunikasikan kebutuhan mereka secara terbuka. Tidak setiap pembicaraan harus berat, kadang cukup berupa pengingat kecil tentang tugas rumah tangga atau proaktif dalam membantu di rumah. Saat membicarakan pembagian tanggung jawab, penting bagi pasangan untuk saling menghormati dan menemukan solusi yang adil bersama. Dengan begitu, pasangan bisa menemukan cara berbagi tanggung jawab yang membawa kebahagiaan pernikahan.

Ada kalanya kita perlu bersikap lembut dan memberi toleransi pada kesalahan pasangan. Namun, menahan masalah-masalah penting, justru berisiko meledak di kemudian hari dalam bentuk kekesalan atau ketidaknyamanan. Saat menghadapi masa-masa penuh stres, cobalah minta bantuan pasangan Anda dalam urusan rumah tangga. Langkah ini membantu pasangan lebih memahami kebutuhan Anda dan menyesuaikan diri, sehingga hubungan tetap selaras.

     4. Melengkapi Pasangan

Daripada membagi rata, alangkah lebih baik jika masing-masing pasangan berusaha untuk saling menopang dan melengkapi. Saat kedua belah pihak bersedia memberikan lebih dari porsi yang “adil”, maka hubungan akan terbangun atas dasar kemurahan hati, bukan perhitungan. Ada hari-hari di mana couples harus mendukung pasangan Anda, dan ada hari-hari di mana mereka akan mendukung Anda. Inilah yang disebut kerja sama tim.

Pernikahan yang dibangun di atas pengorbanan, kasih sayang, dan perhatian memungkinkan kedua pasangan untuk bertumbuh bersama. Tidak setiap masa akan terasa seimbang, tetapi komitmen untuk saling melengkapi membuat hubungan tetap kuat. Dengan begitu, baik couples maupun pasangan Anda bisa merasa lebih ringan, puas, dan siap menghadapi perjalanan hidup bersama.

Pada dasarnya, keadilan bukanlah tujuan pernikahan. Pernikahan adalah janji untuk saling mencintai dan menghargai, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan. Sedangkan pasangan adalah satu tim yang bekerja sama untuk membangun kehidupan pernikahan bersama. Jadi mulailah hadir, berikan lebih dari yang Anda mampu, dan percayalah bahwa seiring waktu, cinta yang Anda berikan akan kembali dalam cara yang tidak pernah Anda duga.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Hong, J. (2025, 2 Juni). Fairness in Marriage Need Not Always Be 50-50. Focus on the Family Singapore. https://family.org.sg/articles/fairness-in-marriage-need-not-always-be-50-50/?recommId=bde83626-38c8-4cee-bd5e-ff34a33230c5
  • Klemp, N., & Klemp, K. (2021). The 80/80 marriage: A new model for a happier, stronger relationship. Penguin Life.