Family Indonesia

Mendidik Anak Laki-Laki untuk Menghargai Perempuan

Mendidik Anak Laki-Laki untuk Menghargai Perempuan

Berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak (2024), terdapat 31.947 kasus kekerasan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 27.658 korbannya merupakan perempuan, sementara korban laki-laki tercatat sebanyak 6.894 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan masih sering menjadi korban dari perilaku yang tidak menghormati martabat dan nilai kemanusiaannya.

Di tengah budaya yang kerap menormalkan perilaku merendahkan perempuan, banyak anak-anak laki-laki tumbuh dengan pandangan yang keliru tentang bagaimana memperlakukan perempuan. Padahal, sikap menghargai perempuan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari pola asuh yang ditanamkan sejak kecil. Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam membimbing anak laki-laki belajar bagaimana seorang pria seharusnya memperlakukan perempuan.

Mengajarkan Anak Laki-Laki Menghargai Perempuan

 

Mendidik anak laki-laki untuk menghormati perempuan bukan hanya sekadar soal sopan santun, tetapi tentang membentuk hati dan karakter yang menghormati sesama. Nilai ini tidak dapat muncul dalam semalam, melainkan perlu ditanamkan secara konsisten sesuai dengan tahap perkembangan anak. Coulson (2020) membagikan panduan untuk orang tua dapat mengajarkan anak laki-laki menghargai perempuan  ke dalam beberapa kelompok usia:

Anak Laki-Laki Usia 1-5 Tahun

  • Peran Ayah dan Ibu Sebagai Teladan Utama

Anak laki-laki meniru perilaku, bahasa, dan sikap dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah. Maka dari itu, cara ayah memperlakukan ibu menjadi pelajaran pertama bagi anak tentang bagaimana menghormati perempuan. Anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan yang merendahkan perempuan akan memiliki cara pandang berbeda dari anak yang dibesarkan dengan teladan menghormati perempuan.

Ketika parents menunjukkan sikap menghormati, maka anak pun akan belajar melakukan hal yang sama. Rasa hormat adalah fondasi dari rumah tangga yang sehat. Sikap ini tidak hanya ditunjukkan kepada perempuan, tetapi juga kepada anak-anak, orang dewasa, maupun penyandang disabilitas. Menghormati berarti menahan diri dari ucapan atau tindakan yang menyakiti, seperti menghina, meremehkan, mengabaikan, mengejek, mencemarkan nama baik atau mempermalukan orang lain.

  • 3 Kata Ajaib: Maaf, Tolong, dan Terimakasih

Kata-kata sederhana seperti “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” mungkin terdengar sepele, tetapi justru menjadi dasar penting dalam membentuk karakter anak. Di usia berapa pun, mengucapkan kata-kata ini menunjukkan kesopanan dan rasa hormat kepada orang lain. Saat anak belajar menggunakan tiga kata ajaib ini dengan tulus, mereka juga sedang belajar bagaimana menghargai dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

  • Membantu Orang Lain

Parents dapat mengajarkan anak-anak Anda untuk peka saat seseorang membutuhkan bantuan atau dukungan. Tunjukkan cara sederhana untuk menolong, seperti menawarkan bantuan atau mendengarkan dengan empati. Dengan begitu, anak belajar menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Anak Laki-Laki Usia 5-12 Tahun

  • Media Kekerasan

Konten media yang mengandung kekerasan kini semakin mudah diakses. Anak yang awalnya menolak adegan kekerasan bisa jadi terbiasa saat semakin besar. Hal ini karena paparan berulang terhadap tontonan atau permainan yang penuh kekerasan dapat menurunkan empati anak. Maka dari itu, penting untuk parents membatasi tontonan dan permainan yang menampilkan kekerasan atau unsur seksual berlebihan.

  • Pornografi

Kebanyakan anak laki-laki terpapar pornografi pada usia sekitar 10 hingga 11 tahun. Konten semacam ini sering kali menampilkan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, sehingga dapat menanamkan pandangan yang salah bahwa perempuan bisa diperlakukan tanpa hormat. Maka dari itu, penting bagi parents untuk mulai berbicara secara terbuka tentang topik ini sejak anak berusia 8 hingga 10 tahun.

Parents perlu menjelaskan bahwa pornografi mengajarkan hal-hal buruk, berbahaya, dan tidak sehat. Konten tersebut tidak mencerminkan apa yang orang inginkan dalam hubungan yang sehat dan setara. Parents juga dapat menyampaikan nilai-nilai keluarga mengenai cinta, relasi, dan seksualitas dengan jujur dan sesuai usia anak.

Dorong anak untuk selalu berbicara kepada Anda jika mereka tanpa sengaja melihat atau ditunjukkan konten pornografi. Pastikan mereka tahu bahwa melihat pornografi bukan hal yang normal atau “biasa dilakukan semua anak laki-laki”.  Sikap permisif terhadap hal ini justru dapat memperkuat budaya ketidakhormatan dan kekerasan terhadap perempuan.

  • Membentuk Empati dan Kesadaran Sosial

Ketika anak menyaksikan perilaku yang tidak menghormati orang lain, ajak mereka untuk membicarakannya. Tanyakan bagaimana perasaan mereka setelah melihat hal itu dan bagaimana kira-kira perasaan orang yang menjadi korban. Dorong anak untuk memikirkan cara yang lebih baik dalam merespons situasi seperti ini. Percakapan seperti ini membantu anak laki-laki belajar tentang empati, perspektif, kesetaraan, dan menumbuhkan rasa hormat terhadap sesama.

Anak Laki-Laki Usia 12-18 Tahun

  • Kedekatan Emosional

Anak laki-laki perlu belajar tentang hubungan yang sehat, di mana orang saling mencintai dengan cara yang sehat dan tulus. Mereka perlu melihat dan memahami bagaimana cinta dapat diekspresikan dengan cara saling menghormati, mengasihi, dan lewat komunikasi yang baik. Dengan begitu, anak belajar bahwa kedekatan emosional bukanlah suatu kelemahan, melainkan kekuatan untuk membentuk hubungan yang hangat dan penuh makna.

  • Batasan Dalam Hubungan

Penting bagi parents untuk menjelaskan apa itu batasan dan bagaimana menerapkannya dalam hubungan. Ajarkan kepada anak laki-laki Anda bahwa mereka tidak boleh menyentuh perempuan yang bukan saudara atau yang belum menjadi istrinya. Mereka juga perlu memahami pentingnya memiliki batasan yang sehat, serta menghormati batas pribadi orang lain. Sejak dini, tanamkan bahwa menjadi pria sejati berarti mampu bersikap lembut, menghargai orang lain, serta tidak egois.

  • Mencegah Diskriminasi

Komentar seperti “wanita harus kembali ke dapur” atau candaan yang merendahkan perempuan sering kali dianggap hal biasa. Padahal, kebiasaan kecil seperti ini dapat menanamkan pandangan yang keliru pada anak tentang bagaimana perempuan seharusnya diperlakukan. Saat anak laki-laki Anda membuat lelucon atau komentar yang bersifat merendahkan berdasarkan gender, parents perlu menegur dan menjelaskan bahwa sikap seperti itu tidak pantas dan bukan sesuatu yang lucu.

Pada akhirnya, bukan hanya kata-kata yang membentuk anak, tetapi teladan nyata yang mereka lihat setiap hari. Cara pria memperlakukan perempuan di sekitar mereka akan sangat memengaruhi bagaimana anak laki-laki belajar menghormati perempuan. Oleh karena itu, pastikan mereka dikelilingi oleh figur laki-laki yang menunjukkan sikap hormat dan menghargai perempuan.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Coulson, J. (2020, Maret 10). Teaching boys to respect women. Institute for Family Studies. https://ifstudies.org/blog/teaching-boys-to-respect-women
  • Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2025). SIMFONI-PPA: Ringkasan kekerasan. https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan