Family Indonesia

Mengenal Positive Discipline, Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

Mengenal Positive Discipline, Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan

Parents, tentu tidak asing dengan kata disiplin selama mendampingi anak melalui tahapan berkembang dan mengeksplorasi. Disiplin sering diberikan ketika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan, maka anak akan mendapatkan pendisiplinan dari orang tua atau orang di sekitarnya. Bentuk disiplin yang diberikan ini bisa dalam bentuk hukuman atau juga dukungan. Dukungan yang diberikan dapat diaplikasikan melalui disiplin positif. Meski begitu, parents perlu memahami bahwa disiplin tidak sama dengan hukuman. Hukuman merupakan pemberian konsekuensi atas perilaku yang tidak diinginkan, sedangkan disiplin memandu individu untuk melakukan tindakan yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

Apa itu Positive Discipline?

Disiplin positif adalah metode pengasuhan yang berfokus pada mengajarkan dan membimbing perilaku anak dengan tetap menghargai hak mereka untuk tumbuh dengan sehat, mendapatkan perlindungan dari kekerasan, serta berpartisipasi dalam proses belajar mereka. Pendekatan ini bukan berarti membiarkan anak bertindak sesuka hati, juga bukan tentang memberikan hukuman. Tindakan kekerasan fisik seperti memukul, menyakiti, atau mempermalukan, dapat melukai anak baik secara fisik maupun emosional, yang seharusnya tidak dilakukan oleh para orang tua. Ada banyak cara lain yang lebih efektif untuk mendisiplinkan anak, salah satunya dengan disiplin positif. Disiplin positif menekankan pembelajaran yang bebas dari kekerasan, mengutamakan empati, membangun rasa percaya diri, menjunjung hak asasi manusia, serta menghargai orang lain.

Disiplin positif berfokus pada mendorong perilaku yang baik melalui penguatan positif, empati, serta penerapan batasan yang jelas dan konsisten. Pendekatan ini bertujuan menjadi solusi jangka panjang dengan membangun disiplin diri dan keterampilan hidup anak. Disiplin yang diterapkan harus adil dan konsisten, supaya anak mengerti mana perilaku yang benar dan mana yang tidak. Memberi tahu anak apa yang kita harapkan untuk mereka lakukan jauh lebih efektif, daripada sekadar melarang mereka melakukan sesuatu. Saat orang tua meminta anak untuk “jangan berantakan” atau “bersikap baik,” anak mungkin belum memahami tindakan spesifik yang diinginkan. Sebaliknya, instruksi yang jelas, seperti “Tolong ambil semua mainannya dan masukkan ke dalam kotak,” memberikan arahan yang konkret dan memperbesar peluang anak untuk mengikuti permintaan tersebut. Bila parents bersikap berbeda untuk perilaku yang sama, anak akan menjadi bingung dan tidak memahami apa yang sebenarnya diharapkan dari mereka. Selain itu, orang tua perlu memahami kapasitas perkembangan anak karena sering kali ekspektasi yang diberikan melampaui kemampuan anak sesuai usianya.

“Kids don’t learn when they’re feeling threatened.”  –  Jane Nelsen

 

Disiplin Positif dan Temperamen Anak

Memahami temperamen anak (perbedaan individu dalam proses emosional dan perilaku, yang muncul di awal perkembangan) adalah bagian penting dalam menciptakan ikatan yang kuat antara parents dengan anak. Temperamen juga menjadi petunjuk utama dalam menentukan bagaimana anak merespons arahan serta jenis disiplin yang paling efektif untuknya. Memperhatikan perilaku anak kita, seperti tingkat aktivitas, intensitas emosi, kemampuan bersosialisasi, fleksibilitas, dan ketekunan, sehingga orang tua bisa memprediksi situasi mana yang akan mudah atau lebih menantang baginya. Setelah memahami temperamen anak, penting juga untuk menyesuaikannya dengan temperamen orang tua sendiri. Kadang-kadang bisa terjadi benturan antara temperamen orang tua dan anak. Untuk mencapai “kecocokan” yang baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh parents, antara lain:

  • Mengenali dan menghargai keunikan temperamen anak.
  • Berkomunikasi dengan jelas dan sederhana.
  • Menjadi teladan bagi anak. 
  • Menyesuaikan metode disiplin dengan usia dan tahap perkembangan anak.
  • Mendengarkan pendapat anak dan memahami dari sudut pandang mereka.
  • Menetapkan batasan yang membantu anak mengembangkan kontrol diri.
  • Memberikan konsekuensi alami dan logis yang segera terkait dengan perilaku anak.

Konsekuensi diberikan kepada anak untuk membantu mereka memahami bahwa setiap pilihan atau hal yang dilakukan mempunyai hasil, baik itu positif maupun negatif. Konsekuensi membantu anak untuk belajar bertanggung jawab dan mengembangkan kemampuan untuk membuat pilihan yang lebih baik di masa depan. Konsekuensi juga membentuk perilaku anak dan memotivasi mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Contoh pemberian konsekuensi yang logis adalah ketika anak merusak mainannya, maka ia tidak diberikan mainan pengganti atau anak yang mencoret-coret dinding, diminta untuk membersihkan coretan tersebut.

Menggunakan teknik disiplin yang positif tidak hanya membantu membimbing anak-anak, tetapi juga memperkuat hubungan antara orang tua dengan anak, melalui pendekatan yang lebih empatik.

Cara Anak Berkomunikasi

Bagi anak-anak, perilaku yang ditunjukkan adalah cara mereka untuk berkomunikasi. Ketika seorang anak berperilaku dengan cara yang bertentangan, penting bagi orang tua untuk memahami apa yang menyebabkan perilaku tersebut. Beberapa pertanyaan yang bisa membantu di situasi ini, seperti: 

  • Apakah mereka membutuhkan sesuatu, makanan, tidur siang, atau waktu bermain dengan kita?
  • Apa yang terjadi sebelum dan tepat setelah perilaku tersebut?
  • Apakah anak melakukan ini sebagai bentuk merespons sesuatu di lingkungannya?
  • Apakah anak merasa stres atau terancam?
  • Apakah anak diharapkan untuk melakukan sesuatu yang berada di luar kemampuan atau tingkat perkembangan mereka?

Memahami penyebab perilaku anak, membantu kita memahami mereka dengan lebih baik dan dapat memutuskan bagaimana menanggapi perilaku yang mereka tunjukkan.

Cara Mengadaptasi Positive Discipline

Alih-alih fokus pada hukuman atau larangan, disiplin positif menekankan pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan anak dan menetapkan harapan yang jelas terhadap perilaku mereka. Beberapa langkah untuk mulai menerapkannya:

1 .Luangkan Waktu Khusus 

Meluangkan waktu khusus bersama anak memang sangat penting untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Meski hanya dengan 20 menit sehari atau bahkan 5 menit, interaksi tersebut sudah bisa memberikan dampak positif yang besar. Perlu diingat bahwa kualitas waktu yang dihabiskan bersama, lebih penting daripada durasi waktu itu sendiri. Menghabiskan waktu bersama anak juga tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar. Parents bisa menyelipkan momen berharga ini dalam kegiatan sehari-hari yang sederhana, seperti saat mencuci piring sambil bernyanyi atau berbincang santai. Momen-momen seperti ini dapat memberi kesempatan bagi anak untuk merasa didengarkan dan dihargai. Poin paling krusial saat berinteraksi adalah memberikan perhatian penuh kepada anak. Ini berarti menghindari gangguan seperti televisi atau ponsel, dan sepenuhnya hadir di momen tersebut.

2. Berikan Pujian untuk Perilaku Positif

Orang tua sering kali lebih cepat menyoroti perilaku buruk anak, yang justru bisa membuat anak mencari perhatian lewat perilaku negatif tersebut. Sebaliknya, memberi pujian pada perilaku positif anak bisa memberikan dampak yang jauh lebih konstruktif. Memberikan pujian untuk hal-hal positif, sekecil apapun itu akan memperkuat perilaku baik tersebut. Ketika anak merasa diberi pengakuan atas hal-hal baik yang mereka lakukan, mereka lebih termotivasi untuk terus melakukannya, sehingga proses pendisiplinan bisa menjadi lebih efektif.

3. Menerapkan Konsekuensi dengan Tenang
Salah satu aspek penting dalam perkembangan anak adalah memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Menjelaskan hal ini dengan cara yang mudah dimengerti, membantu anak belajar bertanggung jawab dan mengembangkan perilaku yang lebih baik.

Berikan anak kesempatan untuk memperbaiki perilakunya dengan mengkomunikasikan konsekuensi dari tindakan yang kurang tepat. Contohnya, jika anak sering mencoret-coret dinding, parents bisa memberitahunya bahwa jika perilaku itu berlanjut, waktu bermain mereka akan dibatasi. Pastikan konsekuensi yang diterapkan juga realistis dan dapat diterapkan secara konsisten. Ini memberikan anak peringatan dan kesempatan untuk berubah. Jika anak tetap melanjutkan perilakunya, terapkan konsekuensi dengan tenang tanpa menunjukkan emosi negatif. Sebaliknya, jika anak memperbaiki tindakannya, berikan pujian untuk memperkuat perilaku positif. Melalui cara ini, parents telah menciptakan umpan balik positif yang efektif dalam proses pembelajaran anak.

Setiap orang tua pasti pernah menghadapi tantangan dan tekanan dalam perjalanan membimbing anak-anak mereka. Dalam perjalanan ini, perhatian tidak hanya perlu diberikan kepada anak, tetapi juga kepada diri sendiri sebagai orang tua. Sering kali, orang tua lupa pentingnya merawat diri sendiri, seperti menyisihkan waktu untuk beristirahat atau melakukan hal-hal yang memberikan kebahagiaan dan ketenangan.

Ingatlah, parents tidak sendirian dalam perjalanan ini. Ada jutaan orang tua di seluruh dunia yang sedang berusaha dan kita semua kadang-kadang mengalami kegagalan saat mendampingi anak kita. Namun, yang terpenting adalah kita sebagai orang tua tidak menyerah dan terus mencoba dalam mempraktikkan disiplin positif. Tujuannya bukan sekadar membuat anak “patuh”, tapi membantu mereka belajar mengatur diri, memahami konsekuensi dari tindakannya, dan mengembangkan keterampilan sosial yang sehat.

“Discipline is not a matter of punishing children for what they don’t do, but a process of helping them learn what they can do.”  – Lori Petro

 

Bila parents mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan disiplin positif dalam proses membimbing anak. Focus on the Family Indonesia siap mendukung para parent untuk membekali dan menemani anda membimbing anak sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.