Family Indonesia

Peran Penting Kecerdasan Emosional (EI) dalam Tumbuh Kembang Anak

Peran Penting Kecerdasan Emosional (EI) dalam Tumbuh Kembang Anak

Parents, apakah pernah mendengar mengenai kecerdasan emosional pada anak? EI atau Emotional Intelligence merupakan bentuk kecerdasan yang tidak kalah pentingnya dari kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional pada anak terlihat dari cara mereka mengungkapkan perasaan melalui kata-kata atau tindakan, kemampuan mereka dalam mendengarkan orang lain, serta bagaimana mereka menenangkan diri setelah menangis atau saat sedang marah. Kecerdasan ini yang dapat membantu anak memahami dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, melalui kecerdasan emosional.

Pengertian Emotional Intelligence

Emotional intelligence adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memahami emosi dirinya sendiri dan orang lain dengan tujuan meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosional melibatkan kemampuan untuk memperhatikan, memahami, dan bertindak berdasarkan emosi dengan cara yang efektif. Seseorang dengan emotional intelligence yang baik akan mampu mengelola emosinya saat sedang merasa marah, peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki empati.

Emosi yang dirasakan individu dapat memengaruhi kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang lain, serta kesehatan fisik dan mental individu (Salovey & Mayer, 1990). Kecerdasan emosional yang dikembangkan dengan baik memungkinkan seseorang untuk mengelola emosi secara efektif dan menghindari luapan emosi yang tidak terkontrol, misalnya saat sedang marah. Menurut penelitian Raver et al. (2007), anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih mampu memusatkan perhatian, lebih aktif terlibat dalam kegiatan sekolah, menjalin hubungan yang lebih positif, dan menunjukkan empati yang lebih besar. Selain itu, mereka juga lebih baik dalam mengendalikan perilaku, serta cenderung meraih nilai akademik yang lebih tinggi (Rivers et al., 2012).

Brackett dan Rivers (2014) mengemukakan lima keterampilan utama yang dapat diajarkan untuk mengembangkan kecerdasan emosional:

  1. Mengenali emosi pada diri sendiri dan orang lain.
  2. Memahami penyebab serta dampak emosi.
  3. Memberikan label yang tepat pada emosi.
  4. Mengekspresikan emosi secara tepat sesuai konteks waktu, tempat, dan budaya.
  5. Mengelola emosi.

“Emotional intelligence: the key to understanding, connecting, and thriving in a complex world.”

 

Konsep Emotional Intelligence

Melalui buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ pada tahun 1995, psikolog Daniel Goleman menggambarkan EI sebagai lima komponen utama:

  1. Self-awareness adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi seseorang. Anak yang sadar diri dapat mengenali kapan mereka merasa sedih, frustrasi, atau bersemangat, dan memahami bagaimana perasaan itu memengaruhi tindakan mereka.
  2. Self-regulation mengacu pada pengelolaan emosi dengan cara yang sehat. Seorang anak dengan pengaturan diri yang kuat dapat menenangkan diri mereka sendiri setelah merasa kesal, menahan perilaku impulsif, dan mengekspresikan emosi mereka dengan cara yang konstruktif.
  3. Motivasi adalah tentang menggunakan emosi untuk mendorong kegigihan dan penetapan tujuan. Anak-anak dengan motivasi yang tinggi lebih mungkin untuk mengatasi tantangan dan tetap belajar.
  4. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan dengan orang lain. Anak yang berempati akan menyadari ketika temannya sedang kesal dan dapat menawarkan kenyamanan atau dukungan.
  5. Keterampilan sosial memungkinkan anak-anak untuk menavigasi pertemanan, menyelesaikan konflik, dan berkomunikasi secara efektif. Keterampilan sosial yang kuat membantu anak-anak membangun hubungan yang positif dan bekerja sama dengan baik bersama orang lain.

Tanda Anak Mengalami Kesulitan dalam EI

  • Kesulitan Meregulasi Emosi

Anak seringkali marah, menangis berlebihan, dan merasa frustasi saat menghadapi hal kecil adalah salah satu tanda anak memiliki EI yang rendah. Kesulitan dalam mengelola emosi, membuat anak merasa kewalahan dan tidak tahu bagaimana cara menenangkan diri atau menyampaikan apa yang sedang ia rasakan.

  • Kurang Peka terhadap Perasaan Orang Lain

Anak dengan kecerdasan emosional yang rendah umumnya mengalami kesulitan dalam mengenali dan memahami perasaan orang lain. Misalnya, mereka mungkin tidak menyadari ketika seseorang di sekitarnya sedang sedih, marah, atau merasa tidak nyaman. Kurangnya kepekaan terhadap emosi orang lain membuat anak tersebut bisa tampak cuek atau tidak peduli, meskipun sebenarnya bukan itu maksudnya. Hal ini bisa berdampak pada kemampuan mereka dalam membangun hubungan sosial, seperti berteman, bekerja sama, atau menyelesaikan konflik.

  • Kesulitan Berkomunikasi saat Konflik

Anak dengan EI yang rendah biasanya belum memiliki keterampilan yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tepat. Mereka mungkin merasa marah, sedih, atau kecewa, tetapi tidak tahu bagaimana mengekspresikannya dengan kata-kata. Akibatnya, mereka bisa melampiaskan emosi tersebut lewat perilaku seperti menangis, berteriak, atau bahkan menyerang orang lain. Selain itu, mereka juga cenderung kesulitan dalam menyelesaikan masalah secara sehat, misalnya saat menghadapi konflik dengan teman. Ketidaktahuan meredakan emosi atau berkomunikasi dengan baik membuat mereka mungkin memilih menghindar, menyalahkan, atau memperburuk situasi saat sedang menghadapi konflik.

Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak

  • Mengenalkan Macam-Macam Emosi

Penting bagi anak untuk mengenal berbagai jenis emosi yang dirasakan, misalnya seperti senang, sedih, marah, kecewa, iri, dan lainnya. Memahami nama-nama emosi tersebut membantu anak untuk lebih mudah mengungkapkan perasaan yang dirasakan dan lebih mampu untuk berempati terhadap orang lain yang merasakan hal serupa. Parents dapat membantu mengenalkan emosi-emosi tersebut melalui buku cerita, kartu bergambar (flash card), film, atau momen refleksi bersama anak dari kegiatan sehari-hari. Misalnya parents dapat memberikan pertanyaan seperti, “Kamu merasa senangkah hari ini setelah kita main ke pantai?” atau “Bagaimana hari ini, apa yang kamu rasakan, Nak?”

  • Menunjukkan Empati

Menunjukkan empati kepada anak adalah langkah penting dalam mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Saat anak sedang sedih, kecewa, atau marah, parents sebaiknya tidak langsung mengalihkan perhatian atau menyuruh anak berhenti merasakan emosi tersebut. Sebaliknya, tunjukkan empati dengan membantu anak mengenali dan memahami perasaannya. Misalnya, ketika anak secara tidak sengaja merusak mainan kesayangannya, parents bisa mengatakan, “Mama juga akan merasa sedih kalau barang yang Mama sayangi rusak. Nggak apa-apa kok kalau Adik mau menangis.” Kalimat seperti ini membantu anak merasa dimengerti, divalidasi, dan belajar bahwa emosi adalah hal yang wajar.

  • Mencontohkan Cara Mengekspresikan Perasaan

Menunjukkan cara mengekspresikan perasaan dengan tepat dapat menjadi cara anak belajar bagaimana menyampaikan emosinya dengan cara yang sesuai dengan norma sosial. Salah satu cara efektif adalah dengan memberi contoh secara langsung. Misalnya, ketika orang tua sedang merasa kesal, bisa diungkapkan dengan berkata, “Mama sedang kesal karena belum bisa memasak makanan ini dengan enak, tapi Mama tidak boleh marah-marah atau langsung menyerah.” Ketika anak mendengar contoh seperti itu, anak belajar bahwa merasa kesal itu wajar, tapi tetap harus dikelola dan disampaikan dengan cara yang sehat. Hal ini membantu anak memahami bahwa ia tidak bisa bertindak sesuka hati saat merasa kecewa atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

“Do not teach your children never to be angry, teach them how to be angry.”- Lyman Abbott

 

  • Mengajari Cara Menyelesaikan Masalah

Kemampuan problem solving atau menyelesaikan masalah sangat dibutuhkan anak agar ia memiliki emotional intelligence yang baik. Anak yang mampu menghadapi dan mencari solusi atas masalah yang dihadapinya akan lebih siap menghadapi tantangan, lebih sabar, dan tidak mudah putus asa. Untuk melatih kemampuan ini, parents bisa mulai dengan membantu anak mengidentifikasi apa masalah yang sedang terjadi. Misalnya, apakah ia kesulitan menyelesaikan tugas, bertengkar dengan teman, atau merasa kecewa karena suatu hal. Setelah mengetahui sumber masalah, bantu anak memikirkan berbagai kemungkinan solusi yang bisa dicoba. Libatkan anak dalam proses berpikir ini, agar ia merasa memiliki kendali sekaligus belajar mengambil keputusan.

Jika solusi pertama belum berhasil, dukung dan beri semangat agar anak tidak langsung menyerah. Ajarkan bahwa gagal itu bagian dari proses belajar dan selalu ada cara lain yang bisa dicoba. Namun, jika anak mulai merasa frustrasi atau kewalahan, bantu ia menenangkan diri dengan melakukan aktivitas lain sejenak, seperti bermain, menggambar, atau berjalan-jalan. Setelah suasana hati membaik, ajak anak kembali mencoba menyelesaikan masalahnya. Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa mengelola emosi dan mencari solusi adalah proses yang berjalan beriringan.

Sebagian anak secara alami mengalami kesulitan dalam mengembangkan kecerdasan emosional selama masa kanak-kanak mereka, namun parents memiliki berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membantu anak mengenal emosi yang mereka rasakan. Jika anak cenderung memendam perasaannya, mereka mungkin membutuhkan dorongan bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang wajar. Parents dapat menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari penghakiman untuk anak berbagi tentang apa yang dirasakan. Pendekatan ini juga dapat menggunakan ungkapan seperti, “Merasa sedih itu tidak apa-apa, Nak. Mau ceritakah sama Mama/Papa?”, yang bisa mendorong anak untuk mulai terbuka.

Sementara itu, jika anak sering meluapkan emosinya secara berlebihan, mereka mungkin perlu dibimbing untuk belajar mengelola emosi diri. Teknik seperti latihan pernapasan atau menyediakan media kreasi untuk menuangkan emosi bisa sangat membantu mereka dalam mengelola emosi yang intens. Namun, di beberapa kondisi anak bisa jadi meluapkan emosinya karena ada kebutuhan yang tidak terpenuhi, seperti perhatian atau dukungan dari orang tua. Maka dari itu, perlu adanya refleksi dan penggalian lebih mendalam mengenai emosi yang meledak-ledak yang dimiliki anak.

Bagi anak yang mengalami kesulitan dalam berempati, mereka bisa dibantu dengan mengenalkan sudut pandang dari orang lain. Cara yang efektif untuk dilakukan bersama anak, misalnya membaca buku dengan karakter yang beragam, menonton film yang membahas perasaan, atau mengajak anak berdiskusi tentang bagaimana perasaan orang lain dalam situasi tertentu. Kegiatan-kegiatan ini dapat memperluas pemahaman mereka terhadap emosi orang lain dan meningkatkan kemampuan berempati pada anak.

Kecerdasan emosional adalah keterampilan penting yang berpengaruh besar terhadap perkembangan anak hingga mereka dewasa. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa kecerdasan emosional bukanlah kemampuan yang bersifat tetap, melainkan kemampuan yang bisa terus diasah dan ditumbuhkan melalui interaksi sehari-hari. Peran orang tua untuk menyediakan lingkungan yang penuh dukungan, memberi contoh dalam mengenali dan mengelola emosi, serta mendorong komunikasi terbuka, sangat penting untuk membantu anak membangun keterampilan yang diperlukan agar bisa menghadapi kehidupan dengan percaya diri dan ketahanan emosional.

“When we can talk about our feelings, they become less overwhelming, less upsetting, and less scary.” – Fred Rogers

 

Parents memiliki peran penting dalam memberikan anak ruang untuk mengeksplorasi emosi yang mereka rasakan dan bagaimana mereka mengelola emosi tersebut. Hal ini dapat dimulai dengan membangun lingkungan komunikasi yang aman dan tanpa penghakiman bagi anak. Focus on the Family Indonesia siap mendukung parents untuk membekali anak memahami emosi dirinya sendiri dan orang lain. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Brackett, M. A., & Rivers, S. E. (2014). Transforming students’ lives with social and emotional learning. In R. Pekrun & L. Linnenbrink-Garcia (Eds.), International handbook of emotions in education (pp. 368–388). Routledge/Taylor & Francis Group.

Raver, C. C., Garner, P. W., & Smith-Donald, R. (2007). The roles of emotion regulation and emotion knowledge for children’s academic readiness: Are the links causal? In R. C. Pianta, M. J. Cox, & K. L. Snow (Eds.), School readiness and the transition to kindergarten in the era of accountability (pp. 121–147). Paul H. Brookes Publishing Co..

Rivers, S. E., Brackett, M. A., Reyes, M. R., Mayer, J. D., Caruso, D. R., & Salovey, P. (2012). Measuring Emotional intelligence in Early Adolescence with the MSCEIT-YV. Journal of Psychoeducational Assessment, 30(4), 344–366. https://doi.org/10.1177/0734282912449443

Salovey, P., & Mayer, J. D. (1990). Emotional intelligence. Imagination Cognition and Personality, 9(3), 185–211. https://doi.org/10.2190/dugg-p24e-52wk-6cdg

The Green Elephant. (2025, April 8). Developing emotional intelligence in childhood. https://www.thegreenelephant.com.au/developing-emotional-intelligence-in-childhood/