Menjadi orang tua tunggal bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, banyak orang harus memikul tanggung jawab ini karena situasi tersebut terjadi di luar kendali mereka, misalnya saat kehilangan pasangan karena kematian. Dalam menjalani peran sebagai dua sosok ibu dan ayah sekaligus, para orang tua tunggal tentu menghadapi berbagai tantangan yang tak sedikit, baik secara emosional, finansial, maupun sosial. Di satu sisi, seseorang yang sebelumnya memiliki pasangan untuk menjalani hidup dan membesarkan anak kini harus menghadapi perubahan besar. Situasi ini membuat individu tersebut memikul tanggung jawab yang lebih besar, sekaligus harus menyesuaikan diri dengan kenyataan kehilangan pasangan hidup. Tidak ada yang pernah benar-benar siap untuk menjalani peran sebagai single parent dan hal ini seringkali dapat menimbulkan stres bagi mereka.
Di Indonesia sendiri, fenomena orang tua tunggal atau “single parent” terus mengalami peningkatan dengan jumlah ibu tunggal lebih banyak daripada ayah tunggal. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah ibu tunggal mencapai 7,9 juta orang, sedangkan ayah tunggal 2,7 juta orang (Christine et al., 2024). Di tengah kesibukan menjalani berbagai peran, baik sebagai kepala keluarga, tulang punggung keluarga, dan juga peran mengasuh anak. Orang tua tunggal menghadapi banyak tekanan yang bisa sangat memengaruhi kesehatan emosional dan fisik mereka. Fakta bahwa begitu banyak orang menjalani peran ini menunjukkan betapa pentingnya memahami stres yang dialami oleh para single parent di luar sana.
Apa itu single parent stress?
Stres pada orang tua tunggal mencakup tekanan fisik, emosional, dan psikologis yang dirasakan ketika mereka harus menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai pencari nafkah dan juga peran mengasuh anak, tanpa adanya dukungan dari pasangan. Stres ini dapat muncul dari tantangan menyeimbangkan tanggung jawab dalam pekerjaan, mengurus anak, dan mengelola rumah tangga seorang diri. Berbagai tanggung jawab ini seringkali menimbulkan perasaan lelah, kesepian, dan cemas bagi single parent. Beban tanggung jawab yang terus-menerus datang, ditambah tidak adanya pasangan untuk berbagi tugas, membuat stres yang dialami menjadi lebih berat dan kompleks dibandingkan pada situasi keluarga lainnya. Selain ketidakhadiran pasangan untuk mendampingi, orang tua tunggal dapat mengalami stres karena tidak memiliki sistem dukungan yang kuat dari lingkungannya.
Apa penyebab dari stres pada orang tua tunggal?
Penyebab pertama dan yang paling umum terjadi adalah karena tekanan mengasuh anak sendirian, tanpa adanya dukungan seseorang untuk berbagi tanggung jawab atau memberikan dukungan emosional. Orang tua tunggal sering kali memikul semua beban, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan seorang diri, yang pada momen tertentu bisa jadi sangat melelahkan. Beberapa penyebab lain dari stress pada orang tua tunggal adalah sebagai berikut.
1. Tekanan Finansial
Sumber stres terbesar lainnya bagi orang tua tunggal adalah tekanan finansial. Orang tua tunggal menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang bisa menjadi sangat berat, apalagi jika harus mencukupi kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, dan pendidikan anak. Penelitian menemukan bahwa orang tua tunggal cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kesulitan keuangan yang dapat mengganggu kesehatan psikologis mereka. Hal ini meningkatkan risiko isolasi, kecemasan, dan depresi (Stack & Meredith, 2017). Tanpa dukungan finansial dari pasangan, banyak orang tua tunggal terpaksa harus bekerja lebih lama atau mengambil lebih dari satu pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
2. Isolasi Sosial
Orang tua tunggal biasanya memiliki jadwal yang padat dan banyak tanggung jawab yang membuat sulit meluangkan waktu bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, masih banyaknya stigma negatif di masyarakat mengenai orang tua tunggal, dapat membuat individu merasa tidak diterima atau dianggap “berbeda” dari keluarga pada umumnya. Ketika individu tidak memiliki komunitas pendukung atau tempat berbagi, tekanan emosional yang dirasakan bisa meningkat dan memicu isolasi sosial.
3. Beban Emosional
Beban emosional yang dirasakan oleh orang tua tunggal sering kali berasal dari peristiwa besar yang mengubah hidup mereka, seperti kehilangan pasangan karena kematian. Mereka tidak hanya harus memproses rasa duka yang dialami, tapi di saat yang sama, mereka juga harus menjadi sumber dukungan emosional utama bagi anak-anaknya. Memikul beban emosional untuk diri sendiri dan anak secara bersamaan bisa sangat menguras tenaga dan menjadi sumber stres yang tidak terlihat dari luar.
4. Beban Pengambilan Keputusan
Seluruh keputusan, baik besar maupun kecil berada sepenuhnya di tangan mereka sendiri sebagai orang tua tunggal. Keputusan ini dimulai dari kebutuhan sehari-hari anak hingga keputusan penting yang menyangkut pendidikan, kesehatan, dan masa depan mereka. Tekanan untuk selalu mengambil keputusan yang tepat, di tengah keterbatasan tenaga, dan sumber daya dapat menjadi beban yang sangat berat. Ketidakhadiran sosok pasangan untuk diajak berdiskusi atau berbagi tanggung jawab membuat proses ini terasa lebih melelahkan. Situasi ini menggambarkan kompleksitas yang dialami oleh para single parent, dimana mereka harus menjalani peran ganda, membuat semua keputusan sendiri, dan tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
“Being a single parent is not a life full of struggles, but a journey for the strong.”
– Meg Lovett
Cara Mengelola Stress pada Orang Tua Tunggal
- Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri
Meski hanya sebentar, menyisihkan waktu untuk melakukan hal yang disukai oleh diri sendiri dapat menjadi momen penting untuk mengelola stres dan menemukan ketenangan. Parents dapat mengambil jeda untuk duduk hening di taman, membaca buku, berkebun, atau bertemu dengan teman.
- Membangun Support System
Parents dapat menjangkau dukungan sosial dari teman, keluarga, atau bergabung di komunitas daring. Sistem ini membuat parents merasa tidak sendirian dan memiliki orang-orang yang bisa diajak bicara, memahami dengan baik tantangan yang dihadapi ketika menjadi orang tua tunggal, bahkan menyediakan uluran tangan yang siap membantu ketika parents membutuhkan.
- Perencanaan Keuangan
Menyusun anggaran bulanan yang realistis dengan membuat daftar pengeluaran tetap, kebutuhan harian, serta dana darurat menjadi sangat penting untuk dilakukan. Anggaran ini untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran terkendali dan tidak ada pengeluaran impulsif. Parents dapat menggunakan aplikasi pengatur keuangan atau spreadsheet sederhana untuk membantu melihat pengeluaran dan kebutuhan setiap bulan. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit dana untuk kebutuhan pribadi. Meskipun terlihat kecil, menyediakan “uang untuk diri sendiri” bisa mencegah stres emosional akibat terlalu menahan diri.
- Membuat Batasan yang Sehat
Batasan yang sehat adalah mengenai pemisah sejauh mana apa yang bisa dilakukan seorang diri, apa yang orang lain bisa lakukan, dan apa yang tidak. Saat orang lain memberikan komentar atau tuntutan yang tidak sesuai, parents dapat membatasi diri atau bahkan menjauh dari percakapan yang yang menghakimi atau merendahkan. Hal ini juga berlaku saat diri kita sendiri sedang memberikan pikiran negatif terhadap diri yang bisa merusak rasa percaya diri sebagai orang tua dan memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan.
- Strategi Manajemen Stres
Setiap orang pasti akan menemukan situasi di mana stres bisa terjadi, maka dari itu perlu adanya teknik manajemen stres untuk mengurangi stres dan rasa cemas yang mulai berlebihan. Parents dapat melakukan relaksasi dengan meditasi, menulis jurnal, atau dengan latihan deep breathing. Penting juga untuk bisa menjaga kesehatan fisik dan emosional yang sekaligus mengurangi stres dengan berolahraga, tidur yang cukup, dan makan makanan bergizi seimbang.
- Mencari Bantuan Profesional
Bila sewaktu-waktu parents merasa tidak bisa meregulasi stres dan emosi yang dialami seorang diri, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat. Kelelahan karena menghadapi tekanan fisik, emosional, dan mental karena menjadi berbagai peran sekaligus cenderung membuat orang tua tunggal merasa harus selalu kuat dan menyimpan semua perasaannya seorang diri. Berbicara dengan tenaga profesional dapat menjadi ruang aman untuk parents mengutarakan setiap hal yang dialami, proses penerimaan diri sendiri, dan menyusun coping strategy yang lebih sehat.
Menjadi sendiri bukanlah tanda kelemahan, tapi berjuang sendirian kadang kala bisa jadi pengalaman yang sangat melelahkan. Selagi berjuang untuk keluarga dan anak-anak tercinta, semoga anda tidak melewatkan diri sendiri yang juga berhak mendapatkan perhatian dan cinta, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Parents dapat meluangkan waktu untuk self-care, beristirahat, melakukan hal yang disukai, atau bertemu dengan orang lain yang bisa memberikan emotional support. Bila parents merasa membutuhkan waktu untuk memproses setiap duka yang dialami, lakukanlah. Merawat diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan langkah pertama untuk bisa terus menjaga orang lain yang kita cintai dengan tubuh dan pikiran yang sehat.
“Being a single parent is twice the work, twice the stress, and twice the tears. But also twice the hugs, twice the love, and twice the pride.”
- Unknown
Bila parents membutuhkan bantuan untuk melalui proses perubahan yang penuh tanggung jawab ini, parents dapat berkomunikasi dengan terapis atau profesional untuk membantu anda mengembangkan strategi manajemen stres sebagai orang tua tunggal. Focus on the Family Indonesia siap membantu parents berproses dan membekali diri anda melalui program konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi:
Christine, A., Dewi, N. F. I. R., & Anggraini, N. A. (2024). PENGASUHAN ORANGTUA TUNGGAL DAN KARAKTER HARDINESS REMAJA AKHIR. Jurnal Muara Ilmu Sosial Humaniora Dan Seni, 8(1), 60–72. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v8i1.27796.2024
Stack, R. J., & Meredith, A. (2017). The Impact of Financial Hardship on Single Parents: an exploration of the journey from social distress to seeking help. Journal of Family and Economic Issues, 39(2), 233–242. https://doi.org/10.1007/s10834-017-9551-6












