Family Indonesia

Reparenting Inner Child: Menemukan Kedamaian dengan Diri Sendiri

Reparenting Inner Child: Menemukan Kedamaian dengan Diri Sendiri

Champs, dalam perjalanan hidup ini, kita bisa jadi merasa bahwa kita tidak sepenuhnya hidup sesuai dengan potensi yang dimiliki. Mungkin saja kita mengalami perasaan hampa, ketidakberdayaan, dan mungkin juga merasa sangat tidak terhubung dengan orang lain yang membuat kesulitan dalam menjalin hubungan, merasa tidak seimbang secara emosional, atau merasa sulit untuk membuat keputusan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai diri. Masalah-masalah seperti ini sering kali dapat ditelusuri ke emosi yang belum terselesaikan di masa kecil, di sinilah konsep inner child berperan.

What is an Inner Child?

Inner child didefinisikan sebagai bagian dari diri yang merefleksikan pengalaman masa kecil anak dalam diri dan bermanifestasi di masa dewasa sebagai persepsi, emosi, pikiran, dan keyakinan yang dirasakan secara internal, atau sebagai perilaku dan tindakan eksternal. Kadang-kadang, kita mungkin menyadari bahwa perilaku atau emosi tertentu yang kita rasakan menyerupai apa yang kita alami di masa kecil, yang membuat kita merasa tertekan saat mencoba untuk menavigasi dunia ketika dewasa. Beberapa perilaku ini dapat berasal dari trauma, rasa sakit, dan pengabaian emosional yang dialami saat masih kecil. Perasaan dan rasa sakit yang tidak terselesaikan ini terkubur jauh di dalam alam bawah sadar kita, yang bagi banyak orang adalah cara mereka melindungi diri dari penderitaan tersebut. Namun, perasaan-perasaan tersebut bisa muncul kembali dalam bentuk penarikan diri, agresi pasif, ketakutan akan ditinggalkan, ketidakmampuan untuk menerima, dan berbagai bentuk lainnya.

“My life consists of doing things my inner child would appreciate. I honor that kid.”

Bekerja sama dengan inner child kita berkaitan dengan satu pengamatan sederhana, bahwa setiap orang dewasa pernah menjadi anak-anak. Anak-anak dalam diri kita tidak hilang begitu saja seiring kita bertumbuh dewasa. Bagian dari diri inner child kita tetap tinggal di dalam ketidaksadaran yang mewakili kualitas dan pola hidup masa kecil kita. Inner child sering kali muncul saat kita menghadapi tantangan yang mengingatkan kita pada kenangan traumatis dari masa kecil. Selama kita belum secara sadar memproses dan mengintegrasikan kenangan-kenangan tersebut, inner child akan terus berperan. Memahami apakah inner child membutuhkan perhatian kita dimulai dengan mengenali pola emosi dan perilaku tertentu. Beberapa tanda yang umum, sebagai berikut:

  • Self-criticism and low self-esteem.
  • Kesulitan mengidentifikasi atau mengekspresikan emosi.
  • Keterampilan mengatasi masalah yang tidak sehat, seperti penggunaan narkoba, minum-minuman keras, atau menjauhkan diri dari kenyataan melalui permainan game dan media sosial yang berlebihan.
  • Perasaan tidak layak atau keraguan diri yang terus-menerus.
  • Reaksi terhadap situasi tampak ‘berlebihan’ atau ‘tidak sesuai dengan keadaan’.
  • Kesulitan membentuk atau mempertahankan hubungan yang sehat.

Baca juga: Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Reparenting Inner Child

Proses reparenting inner child berfokus untuk memastikan inner child merasakan nilai, cinta, dan perlindungan yang tidak didapatkan selama masa kanak-kanak. Beberapa dari kita mungkin tinggal di lingkungan dimana figur orang tua yang tidak hadir sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional. Maka, reparenting dapat diartikan juga sebagai memberikan diri apa yang tidak diterima di masa kecil dari orang tua kita. Konsep ini berfokus pada cara kita mengasuh dan merawat diri sendiri dengan cara yang penuh kasih sayang dan perhatian, seolah kita merawat anak kecil dalam diri kita yang terluka atau memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Selama masa kecil, kita mungkin mengalami pengalaman yang menyakitkan atau kurang mendapatkan perhatian emosional yang dibutuhkan, yang bisa meninggalkan luka atau pola perilaku negatif yang terbawa hingga dewasa. Reparenting mengajak kita untuk kembali ke masa lalu tersebut dan memberi perhatian yang mungkin kurang kita terima pada saat itu. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan luka emosional, mengubah pola pikir atau perilaku yang maladaptif, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain.

Reparenting dapat dilakukan oleh diri sendiri yang bertujuan untuk merawat diri, memberi, dan memungkinkan diri kita menerima validasi, cinta, dan pengasuhan yang mungkin tidak diterima saat kita kecil. Latihan reparenting ini bisa dilakukan di pagi hari, saat sebelum tidur, atau ketika kita merasa frustrasi dan sedang membutuhkan dukungan. Semakin kita mencoba untuk terhubung dengan inner child kita, semakin mudah untuk mengenali tanda-tanda luka emosional dan bagaimana luka tersebut muncul. Namun, bila champs merasa luka dari inner child terlalu berat untuk dihadapi sendirian, champs sangat disarankan untuk berkomunikasi dengan terapis atau konselor yang dapat membimbing latihan reparenting dan memberikan dukungan profesional lebih lanjut.

Cara Mendorong Dialog Terapeutik dengan Inner Child

1.  Menulis Surat Kepada Inner Child 

Menulis surat adalah salah satu cara efektif untuk memulai dialog dengan bagian diri yang lebih muda. Kita bisa mulai dengan menyiapkan dua lembar kertas dan dua amplop, yang masing-masing surat akan ditujukan kepada diri kita saat ini dan diri kita di masa kecil. Surat-surat ini sebagai ruang untuk mengekspresikan, melepaskan, dan menyembuhkan diri. Surat yang ditulis kepada versi dewasa diri yang berasal dari inner child kita, seharusnya bebas dari segala batasan. Kita bisa mengekspresikan emosi tanpa rasa takut akan penilaian atau pengekangan, sesuai dengan perspektif inner child kita. Dalam surat kepada inner child, penting untuk memilih kata-kata dengan hati-hati karena kita sedang berbicara dengan bagian diri yang sangat rentan, yang akan menyerap kata-kata baik secara sadar maupun tidak sadar. Proses ini bertujuan untuk memberikan kasih sayang, validasi, dan dukungan kepada inner child di masa lalu, guna membantu menyembuhkan luka emosional yang masih ada.

2.  Berkomunikasi dengan Inner Child 

Dalam latihan ini, champs dapat duduk atau berdiri di depan cermin, atau juga duduk dengan nyaman tanpa cermin. Jika menggunakan cermin, champs dapat berbicara secara langsung dengan bayangan diri, lalu ajukan pertanyaan dan jawab dengan bebas tanpa menahan diri sendiri. Jika kita mulai merasa tegang atau tertekan, coba berikan penghiburan kepada bayangan kita di cermin. Ucapkan kata-kata yang sangat ingin kita dengar dari seseorang yang dicintai, yang dulunya tidak pernah kita dengar saat masih kecil atau berikan pelukan yang sangat ingin didapatkan. Sampaikan dengan tepat apa yang perlu didengar oleh inner child kita sekarang untuk menyembuhkan dan menenangkan inner child, agar diri kita yang sekarang juga bisa merasakan kedamaian dan ketenangan.

3. Membuat Jurnal 

Seperti halnya menulis jurnal dapat membantu kita mengidentifikasi pola-pola dalam kehidupan dewasa yang ingin diubah, menulis jurnal dari sudut pandang inner child juga bisa membantu kita melihat pola-pola negatif yang sudah terbentuk sejak masa kecil. Saat latihan jurnal ini, coba tinggalkan sejenak diri kita yang sekarang dan coba salurkan sebagai diri yang masih anak-anak. Kita bisa mencoba foto atau latihan visualisasi singkat untuk membantu mengingat kembali bagaimana perasaan atau peristiwa pada usia tertentu yang ingin dieksplorasi.

4. Meluangkan Waktu untuk Bermain 

Cobalah luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai saat masih kecil. Ambil buku mewarnai, dengarkan musik, bermain dengan tanah liat, menulis cerita, berlari tanpa alas kaki di rumput, atau bahkan menonton film kartun. Hal yang terpenting adalah agar kita bisa merasakan kembali kreativitas dan inspirasi saat kecil dulu. Champs dapat membuat daftar acara, film, buku, dan aktivitas yang disukai ketika kecil. Lalu, coba tonton kembali beberapa acara dari daftar atau baca buku tersebut yang membawa kita ke masa yang berbeda. Tidak masalah jika hal itu terasa kekanak-kanakan atau aneh karena setelah dewasa pun, kita masih berhak untuk bermain. Kesenangan dari bermain ini dapat membantu kita lebih dekat dengan diri sendiri.

“We don’t stop playing because we grow old. We grow old because we stop playing” – George Bernard Shaw

 

Dengan waktu, usaha dan bimbingan yang berkelanjutan, mereparasi inner child dapat membuka pintu-pintu baru dalam perjalanan penyembuhan kita. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, inner child kita masih menunggu pelukan penuh kasih yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pelukan kepada diri sendiri adalah sesuatu yang dapat kita ciptakan dan pertahankan selalu kepada diri kita sendiri. Juga, memvalidasi rasa sakit yang muncul akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi saat masih kecil dan meyakinkan inner child kita, bahwa meskipun kita mungkin pernah berada dalam situasi yang tidak aman pada waktu itu, sekarang kita adalah orang dewasa yang mampu dan akan melindungi anak itu dengan cara apa pun.

“Healing your inner child means giving yourself the love, protection, and safety that was missing. It’s never too late to rewrite your story with kindness.” – Sunrise Serenity

 

Jika champs tertarik untuk mengeksplorasi masa lalu dan mengenal inner child diri, champs dapat meminta bantuan oleh terapis atau profesional yang memiliki pengalaman di bidang ini. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs berproses dalam menavigasi gejolak emosi ini dan mempelajari strategi yang bermanfaat untuk menyembuhkan inner child melalui program konseling. Champs dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Ford, D. (2021, July 16). Reparenting your Inner Child: Ways to encourage therapeutic dialogue. Step up for Mental Health – to Educate. Fight Causes. Change Minds on Mental Health. https://www.stepupformentalhealth.org/reparenting-your-inner-child/#:~:text=When%20you%20communicate%20with%20your,%2C%20important%2C%20and%20in%20control 

8 Ways to start Healing your inner Child. (2023, February 13). Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/inner-child-healing#reach-out