Family Indonesia

Saat Anak Mulai Suka Lawan Jenis: Apa yang Perlu Orang Tua Lakukan?

Saat Anak Mulai Suka Lawan Jenis: Apa yang Perlu Orang Tua Lakukan?

Pernahkah Parents melihat anak tiba-tiba tersenyum saat bertemu teman tertentu? Ketertarikan pada lawan jenis adalah bagian alami dari perkembangan biologis, emosional, dan sosial anak. Namun bagi banyak orang tua, fase ini bisa memunculkan kebingungan besar. Haruskah perasaan itu dibiarkan tumbuh? Atau justru perlu dicegah?

Di era media sosial yang sering menggambarkan cinta secara berlebihan, remaja dihadapkan pada standar hubungan yang tidak sehat. Tak jarang, nilai dan batasan yang diajarkan parents tampak berbenturan dengan apa yang anak lihat dan temui setiap hari. Di sinilah peran parents sebagai orang tua dibutuhkan, bukan untuk mematikan rasa suka itu,  tetapi untuk membantu anak memahami dan mengelola perasaan mereka dengan bijak.

Apa yang Perlu Orang Tua Lakukan?

 

Di masa pencarian jati diri ini, anak membutuhkan pendampingan yang penuh empati. Parents berperan untuk menolong mereka membangun hubungan yang sehat, yang berangkat dari nilai dan karakter yang kuat. Or (2025) memberikan prinsip-prinsip umum yang dapat parents terapkan di rumah:

     1. Bangun Komunikasi Tebuka

Banyak dari kita dibesarkan dalam budaya keluarga yang menganggap topik hubungan asmara sebagai hal yang tabu atau sekadar bahan bercandaan. Namun, percakapan yang hangat dan bermakna lahir dari kepercayaan yang dibangun jauh sebelum anak benar-benar menyukai seseorang. Maka dari itu, ajaklah anak berdiskusi mengenai dinamika hubungan antara laki-laki dan perempuan, pertemanan yang sehat, juga batasan dalam pergaulan. Sesuaikan obrolan dengan usia dan tahap perkembangan mereka. Jangan menunggu sampai mereka terlibat dalam hubungan untuk baru memulai percakapan yang penting ini.

Anak akan lebih mudah berbagi perasaan dan pengalamannya ketika mereka merasa didengarkan, dihargai, dan tidak dihakimi.  Mulailah dari percakapan kecil sehari-hari, bukan hanya di momen serius. Tunjukkan ketertarikan pada dunia mereka, teman dekatnya, perasaannya di sekolah, atau cerita lucu tentang teman sekelas. Selain itu, jangan menganggap remeh rasa suka mereka, sekalipun terlihat sepele bagi orang dewasa. Apa yang terasa kecil bagi parents, bisa jadi sangat berarti bagi mereka.

     2. Dengarkan Lebih Banyak

Daripada hanya memberi aturan kaku seperti “kamu belum boleh pacaran sampai besar”, parents perlu membangun pemahaman bersama dengan anak. Kebanyakan anak, bahkan orang dewasa, tidak suka diceramahi. Ketika parents hanya menasehati tanpa benar-benar mendengarkan, anak bisa merasa tidak dipahami dan akhirnya memilih untuk menutup diri. Lebih mengkhawatirkan jika mereka mencari tempat atau orang lain untuk bercerita.

Oleh karena itu, parents dapat mengajukan pertanyaan reflektif daripada hanya menasehati. Ajak anak berdialog mengenai hubungan yang sehat dan penuh rasa hormat. Misalnya:

  • “Menurut kamu, teman atau pasangan seperti apa yang baik?”
  • “Kebaikan dan rasa hormat itu seperti apa dalam hubungan?”
  • “Bagaimana kamu ingin diperlakukan? Dan bagaimana kamu akan memperlakukan orang lain?”

Jika anak perempuan atau laki-laki Anda pulang dan berkata, “Teman-teman di kelas lagi pacaran.” Daripada mengabaikannya atau langsung melarang, parents bisa merespons dengan pertanyaan lembut, “Menurut kamu, apa artinya pacaran di usia kalian?”. Dari situ, parents dapat mengajak anak berdiskusi tentang kedewasaan emosional, batasan yang sehat dalam pertemanan, dan bagaimana hubungan seharusnya memberikan rasa aman serta saling menghormati. Pelajaran ini akan mereka bawa hingga dewasa.

     3. Pertahankan percakapan

Manfaatkan kesempatan dalam kehidupan sehari-hari untuk berbicara. Gunakan momen sehari-hari, seperti saat menonton film, mendengar lirik lagu, membaca artikel, atau bahkan ketika anak bercerita tentang teman sebayanya. Situasi nyata seringkali menjadi jembatan yang lebih alami untuk membahas nilai dan batasan dalam hubungan, terutama ketika anak belum nyaman menjawab pertanyaan langsung.

Saat anak memasuki masa remaja, pendekatan parents pun perlu menyesuaikan. Mereka tidak lagi membutuhkan terlalu banyak ceramah atau peringatan panjang lebar. Sebaliknya, mereka membutuhkan orang tua yang siap mendengarkan dan tidak menghakimi.

Pada tahap ini, jadilah orang tua yang lebih cepat mendengar, dan lebih lambat menasihati. Berikan kesempatan bagi mereka untuk belajar mengambil keputusan dengan tetap memperoleh pendampingan yang tepat dari parents. Dengan selalu hadir untuk mereka, parents membantu anak Anda membangun kemampuan untuk membuat pilihan yang bijak, khususnya dalam hubungan yang melibatkan perasaan.

Panduan Berdasarkan Usia

 

Seiring bertambahnya usia, cara anak memahami hubungan juga ikut berkembang. Maka dari itu, pendekatan parents pun perlu menyesuaikan dengan tahap perkembangan mereka. Or (2025) memberikan panduan bagi parents untuk mendampingi anak sesuai tahap usianya;

Usia Remaja Awal (10–12)

Pada tahap ini, anak mulai menyadari ketertarikan pada lawan jenis. Rasa penasaran dan rasa suka merupakan bagian alami dari perkembangan menjelang pubertas. Parents dapat mengajari anak bahwa perasaan suka adalah hal yang wajar, sekaligus bagian dari belajar memahami diri dan orang lain.

Di usia ini, anak juga mulai butuh arahan tentang batasan yang sehat dalam relasi. Bantu mereka memahami seperti apa batasan yang sehat dalam pertemanan. Terakhir, tunjukkan bahwa parents selalu siap menjadi tempat bercerita dan bertanya, sehingga anak merasa aman mencari bimbingan ketika menghadapi situasi baru dalam dunia pertemanan dan perasaan.

Usia remaja (13–15)

Pada fase ini, remaja mulai merasakan emosi dan ketertarikan romantis. Perasaan tersebut sering kali baru dan membingungkan bagi mereka. Maka dari itu, dukungan dan pendampingan dari parents menjadi sangat penting.

  • Bicarakan kesiapan emosional: Tidak semua remaja siap untuk menjalin hubungan. Parents dapat mengajak mereka memikirkan apa yang membuat sebuah hubungan berjalan sehat, misalnya saling menghormati, komunikasi yang baik, dan rasa aman.
  • Batasan fisik dan emosional: Berikan contoh konkret bahwa jika seseorang menekan anak Anda melakukan hal yang membuat tidak nyaman, itu bukan bentuk cinta atau perhatian.
  • Mengakui perasaan anak: Jangan meremehkan intensitas perasaan anak Anda. Bagi remaja, perasaan suka atau patah hati bisa terasa sangat besar. Mengakui perasaan mereka dapat membantu mereka merasa dipahami dan tidak sendirian.
  • Tetapkan nilai-nilai keluarga: Bagikan nilai-nilai keluarga dengan cara yang hangat. Bukan memaksa, melainkan menjelaskan prinsip keluarga yang ingin dijalani bersama, seperti hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan rasa saling menghormati.
  • Ajari anak tentang keberhargaan mereka: Dorong anak untuk tetap memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri. Ingatkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh status hubungan. Tanpa pasangan, mereka tetap berharga, dicintai, dan layak diperlakukan dengan baik.

Tahun-Tahun Perkembangan (16–19):

Pada tahap ini, anak Anda mungkin mulai mengalami hubungan yang lebih serius. Banyak dari mereka sedang menyeimbangkan kebutuhan akan kedekatan dengan tanggung jawab akademik.

  • Memberi bimbingan: Sikap yang menghargai pendapat remaja akan membantu mereka lebih terbuka. Daripada memberi perintah, arahkan dengan mengajak mereka merenungkan apa yang mereka pelajari dari sebuah hubungan dan bagaimana hal itu membentuk karakter mereka.
  • Bicarakan nilai-nilai dan tujuan: Arahkan pemikiran mereka pada dampak jangka panjang. Apakah hubungan itu membawa pertumbuhan, saling dukung, dan relevan dengan masa depan yang mereka harapkan?
  • Batasan fisik: Ajarkan anak untuk menjaga hubungan fisik secara sehat sebelum melakukan komitmen pernikahan. Jelaskan alasannya dengan penuh kasih, bukan sekadar melarang.
  • Jadilah pendengar, bukan hakim: Ketika remaja melakukan kesalahan atau mengalami patah hati, respon penuh empati jauh lebih bermakna daripada ceramah. Dukungan parents yang stabil akan menjadi penopang yang kuat di tengah gelombang emosi dan pencarian jati diri mereka.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Or, T. (2025, September 08). How do I talk to my child about boy-girl relationships? Focus on the Family Singapore. https://family.org.sg/articles/how-do-i-talk-to-my-child-about-boy-girl-relationships/?recommId=7a23eef1-1ded-441c-9f92-6baf7ac0fe8f