Pernahkah couples tanpa sadar menyakiti perasaan pasangan Anda lewat perkataan atau sikap? Bukan karena niat buruk, tapi karena kita tidak benar-benar tahu apa yang dirasakan pasangan atau bahkan isi hati kita sendiri. Ketidakmampuan untuk bicara jujur soal perasaan bisa berujung saling menyakiti.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2025), dalam satu tahun terdapat 394.608 kasus perceraian di Indonesia. Sementara itu, laporan BPS (2024) menunjukkan bahwa penyebab perceraian yang paling sering muncul adalah perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus. Konflik ini seringkali berawal dari hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa pernah benar-benar diselesaikan.
Masalahnya, banyak pasangan tidak tahu bagaimana cara mengelola konflik secara sehat atau menemukan jalan keluar bersama. Kita terbiasa berbicara dengan logika seperti beradu pendapat, memberikan argumen, atau bahkan berdebat. Tapi komunikasi yang hanya dari kepala ke kepala (brain to brain) tidak cukup untuk mempererat hubungan. Dalam hubungan yang dibutuhkan adalah komunikasi dari hati ke hati yang mau hadir, mendengar, dan benar-benar memahami.
Kesalahan Umum dalam Komunikasi Pasangan
Dalam sebuah hubungan, sering kali cara kita berbicara justru menciptakan jarak dan menyakiti perasaan pasangan. Gottman (2018) mengidentifikasi beberapa kesalahan komunikasi yang seringkali membuat pasangan terjebak dalam perselisihan. Apakah ada dari kesalahan-kesalahan ini yang terjadi dalam hubungan couples?
1. Mengkritik / Menghakimi
“Tuh kan!”, mengeluarkan pernyataan menghakimi seperti “Tuh kan!” setelah terjadi hal negatif hanya akan memperkeruh konflik. Pernyataan seperti itu bisa membuat pasangan merasa merasa diserang, ditolak, dan terluka. Jika dibiarkan, hal ini bisa memperparah emosi negatif pasangan dan menambah jarak dalam hubungan.
2. Defensif
Ketika merasa disalahkan, orang cenderung langsung membela diri. Bentuknya bisa macam-macam, seperti mencari alasan, menyangkal, atau menyerang balik. Meski terlihat wajar untuk melindungi diri, sikap defensif justru membuat konflik semakin parah karena pasangan jadi merasa tidak didengar.
Sikap defensif ini biasanya muncul karena kita lebih fokus membela diri daripada mendengarkan. Akibatnya, kemampuan untuk benar-benar memahami pasangan berkurang. Sering kali kita hanya menunggu kesempatan untuk berbicara daripada benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan pasangan. Ini bisa menyebabkan luka emosional dan kesalahpahaman.
3. Menghina
Penghinaan adalah bentuk komunikasi yang paling berbahaya dalam sebuah hubungan. Bentuknya bisa berupa ejekan, sarkasme, atau bahkan ekspresi wajah seperti mendengus atau mengerutkan dahi. Semua itu menyiratkan rasa superioritas dari pasangan. Gottman (2018) menemukan bahwa penghinaan adalah indikator paling kuat dari perceraian karena merusak kedekatan dan keintiman.
4. Menarik Diri
Sikap menghindar biasanya muncul saat seseorang merasa kewalahan atau terlalu tertekan sehingga sulit mendengarkan maupun merespons dengan baik. Bentuknya bisa berupa menarik diri dari interaksi, menutup diri secara emosional, atau menolak berkomunikasi. Namun, menghindar justru dapat menimbulkan rasa frustasi dan menciptakan jarak secara emosional. Diam memang bisa menenangkan sesaat, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah.
Komunikasi Heart to Heart
Komunikasi heart to heart adalah saat dua orang berbicara bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan hati. Couples tak perlu menunggu pertengkaran untuk bicara serius atau menunggu akhir pekan untuk menciptakan kedekatan. Justru lewat rutinitas sederhana setiap hari, couples bisa mulai membangun koneksi yang kuat dan hangat dengan pasangan. Corcoll-Iglesias (2017) membagikan beberapa pendekatan yang dapat membantu membangun percakapan heart to heart:
1. Rasa ingin tahu
Dalam percakapan, rasa ingin tahu berarti benar-benar berusaha memahami apa yang ingin disampaikan oleh pasangan Anda. Cobalah mulai dengan pertanyaan tulus, “Apa ada perkataan atau sikap aku yang menyakitimu hari ini?”. Pertanyaan seperti ini membuka ruang aman bagi pasangan untuk saling jujur tanpa rasa takut dihakimi.
2. Mendengarkan Pasangan
Couples dapat menyingkirkan ego sejenak dan memberikan perhatian penuh kepada pasangan Anda. Saat giliran pasangan berbicara, berusahalah untuk benar-benar mendengarkan. Dengarkan dengan niat untuk memahami, bukan untuk mengoreksi. Tatap matanya, beri anggukan kecil, dan biarkan pasangan tahu bahwa couples hadir sepenuhnya.
3. Mencari solusi bersama
Setelah saling mendengar, carilah langkah kecil yang bisa dilakukan bersama. Lakukan dengan hati yang terbuka, nada yang ramah, dan keinginan tulus untuk menemukan kesamaan, ide baru, atau mengatasi masalah. Tujuannya bukan menyelesaikan semua masalah sekaligus, melainkan memastikan kalian saling didengar, dihargai, dan tidak merasa sendirian.
4. Jarak
Dalam percakapan, jarak berarti memberi ruang bagi diri sendiri dan pasangan untuk mencerna apa yang sedang dibahas. Pasangan tidak akan mampu benar-benar mendengarkan atau mempertimbangkan pendapat Anda jika Anda mendominasi dengan kata-kata tanpa henti. Hindari nada suara yang keras atau bahasa tubuh yang terkesan menyerang agar komunikasi tetap sehat.
Ingat, komunikasi yang sehat tidak datang secara instan. Ini adalah keterampilan emosional yang bisa dilatih seperti otot. Semakin couples melatihnya, semakin kuat hubungan tersebut. Ketika couples membuka diri, pasangan Anda pun akan belajar melakukan hal yang sama. Saat pasangan bisa bicara dari hati, luka lama lebih mudah dipulihkan dan hubungan akan tumbuh lebih kuat.
“Being heard is so close to being loved that most people can’t tell the difference.” —David Augsburger
Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi
- Badan Pusat Statistik. (2024, Februari 22). Jumlah Perceraian Menurut Provinsi dan Faktor, 2023. BPS – Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMw==/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor.html?year=2023
- Badan Pusat Statistik. (2025, Februari 27). Nikah dan cerai menurut provinsi (kejadian), 2024. BPS – Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi.html
- Gottman, J. (2018). The seven principles for making marriage work. Hachette UK












