Family Indonesia

Stres yang Positif, Mengapa Stres Tidak Selalu Buruk

Stres yang Positif, Mengapa Stres Tidak Selalu Buruk

Champs, sebagian besar dari kita mungkin berpikir bahwa stres adalah hal yang buruk dan perlu untuk dihindari. Namun, sebenarnya stres merupakan bagian alami dari kehidupan sehari-hari dan hal yang mendasar dalam sistem pertahanan kita. Stres yang kita anggap berbahaya dan mengurangi respons kekebalan tubuh adalah stress yang bersifat kronis atau berkelanjutan. Namun, stres jangka pendek dengan respons “fight or flight” justru dapat bermanfaat.

Stres dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi kekhawatiran atau ketegangan mental yang disebabkan oleh situasi yang sulit. Stres adalah respons alami manusia yang mendorong kita untuk menghadapi tantangan dan ancaman dalam hidup kita. Setiap orang memiliki perbedaan dan mengalami stres sampai tingkat tertentu dan cara kita merespons stres, membuat perbedaan besar pada kesehatan kita secara keseluruhan.

Stres yang jumlahnya cukup memiliki dampak yang baik dan dapat membantu individu beraktivitas sehari-hari. Namun, stres yang jumlahnya terlalu banyak dapat menyebabkan masalah, baik itu kesehatan fisik dan mental. Saat sedang stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Hal ini dapat menyebabkan gejala fisik seperti peningkatan detak jantung, otot tegang, dan napas cepat, serta gejala mental seperti kecemasan, lekas marah, atau depresi.

Positive vs Negative Stress

Stres positif atau ‘eustress’ adalah jenis stres yang kita rasakan saat kita sedang bersemangat dan dapat bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan. Eustress dapat memotivasi seseorang untuk mengambil tindakan dan mencapai tujuan. Bentuk stres ini yang mungkin dirasakan saat sebelum kencan pertama atau kompetisi penting yang kita ikuti (Pluut et al., 2022). Eustress dalam keseharian, seperti saat seseorang yang merasa sedikit tertekan saat mempersiapkan ujian, tetapi rasa stres ini justru memotivasi untuk belajar lebih giat dan fokus, sehingga meningkatkan kinerja di ujian. Ketika kita merasakan stres yang baik, detak jantung kita meningkat, laju pernapasan kita meningkat, dan kita merasakan sensasi kegembiraan.

Stres negatif atau ‘distress’ terjadi ketika kita merasa kewalahan dan tidak mampu mengatasi tuntutan yang dibebankan kepada diri kita. Saat distress menjadi kronis (berlangsung dalam jangka waktu yang lama), hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti gangguan kecemasan dan tekanan darah tinggi.

Dengan mengenali perbedaan antara stresor positif dan negatif, kita juga dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang bagaimana cara merespons stres. Meskipun, tidak semua bentuk stres negatif dapat menjadi stres positif. Namun, kita dapat mengubah persepsi terhadap beberapa pemicu stres dalam hidup, perubahan ini yang dapat mengubah pengalaman kita terhadap stres (Lu et al., 2021).

Baca juga: Lost in the 20s: Menemukan Makna dalam Quarter Life Crisis 

“Adopting the right attitude can convert a negative stress into a positive one.” – Hana Selye

 

Respon Terhadap Stres

Beberapa ilmu pengetahuan membahas bagaimana persepsi kita tentang stres dan bagaimana mengubah persepsi tersebut, dapat mengubah cara tubuh kita merespons stres. Salah satu alasan mengapa cara kita berpikir tentang stres itu penting adalah karena hal tersebut dapat mengubah cara kita merespons stres. Memandang stres sebagai sesuatu yang berbahaya membuat orang mengatasinya dengan cara yang kurang efektif, entah itu dengan mabuk untuk “melepaskan” stres, menunda-nunda pekerjaan untuk menghindari stres, atau cara lainnya yang berdampak buruk pada tubuh. Sebaliknya, saat kita memandang stres secara lebih positif, mendorong orang untuk mengatasi stres dengan cara-cara yang membantu individu untuk lebih berkembang, entah itu mengatasi sumber stres, mencari dukungan sosial, atau bahkan menemukan makna di dalamnya.

Kita sering kali dapat mengubah persepsi terhadap stres dengan beberapa cara berikut:

  • Berfokus pada sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi tantangan tersebut.
  • Melihat potensi dan manfaat dari sebuah situasi.
  • Mengingatkan diri sendiri tentang kemampuan yang dimiliki.
  • Memiliki pola pikir yang positif (membiasakan diri untuk berpikir seperti orang yang optimis).

 

Bagaimana Stres Bisa Bermanfaat?

1 .  Stres membantu menghadapi tantangan 

Respons stres secara fisiologis dapat mempersiapkan tubuh untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan yang ingin dicapai. Ketika kita membahas efek berbahaya dari stres, kita biasanya mengacu pada respons stres adrenal yang terjadi, ketika kita percaya bahwa kita tidak memiliki sumber daya untuk mengatasi atau menghadapi tantangan. Hal ini membawa kita ke mode fight or flight. Alih-alih langsung merasa khawatir ketika kita merasakan respons stres terhadap suatu situasi, cobalah untuk membayangkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang menantang kita untuk bertumbuh dan mendorong diri kita menjadi lebih baik lagi, bukan sebagai sesuatu hal yang menegangkan. Kita dapat menggunakan self talk, seperti “Saya kuat dan mampu menghadapi tantangan hidup ini.”

2. Stres adalah motivator yang kuat

Ketika dihadapkan pada tenggat waktu atau tugas yang menantang, tekanan yang kita rasakan dapat mendorong kita untuk bekerja lebih keras dan bekerja lebih baik dari biasanya. Hal ini dapat memicu semangat dan tekad untuk mencapai tujuan kita.

3. Stres menunjukkan apa yang paling penting

Stres dapat membantu kita mendapatkan makna dari kehidupan. Jika sesuatu menyebabkan seseorang stres, kemungkinan besar hal tersebut adalah yang sangat penting bagi individu. Banyak hal dalam hidup ini yang membutuhkan kerja keras dan energi, seperti ketika membangun sebuah karier, mengasuh keluarga, dan membina pernikahan yang sehat. Aktivitas-aktivitas ini mungkin menyebabkan stres untuk kita, tetapi semua itu layak untuk dilakukan dan membuat kita tahu apa yang kita pedulikan dalam hidup ini.

4. Stres meningkatkan problem solving

Ketika dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan, otak akan bekerja lebih keras, mencari solus, dan cara-cara kreatif untuk mengatasi rintangan tersebut. Kondisi waspada yang tinggi ini memungkinkan kita untuk dapat berpikir out of the box dan menghasilkan solusi yang inovatif terhadap suatu masalah.

5. Stres dapat mendorong pertumbuhan pribadi

Stres membantu mendorong kita keluar dari zona nyaman dan memaksa kita untuk menghadapi tantangan secara langsung. Melalui pengalaman ini, kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri, baik itu mengenai kekuatan, kelemahan, dan kemampuan kita yang mengarah pada pengembangan pribadi dan pencarian jati diri.

6. Stres memperkuat hubungan interpersonal

Di saat-saat sulit atau krisis, kita sering mengandalkan dukungan yang didapatkan dari orang lain. Saat kita stres, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin atau yang biasa dikenal sebagai hormon stres. Ketika oksitosin dilepaskan sebagai respons stres, hal itu memotivasi kita untuk mencari dukungan dengan memberitahu seseorang tentang apa yang kita rasakan, alih-alih memendamnya. Saat hidup terasa sulit, respon stres ingin agar kita dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan diri kita. Situasi yang penuh tekanan memiliki cara untuk menyatukan orang-orang dengan menumbuhkan empati dan kasih sayang terhadap satu sama lain.

Satu perubahan pola pikir sederhana yang dapat membantu kita menghadapi dan menemukan sisi baik dari stres adalah dengan melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Kemampuan untuk belajar dari stres sudah tertanam dalam biologi dasar dari respon stres kita. Selama beberapa jam setelah kita mengalami respons stres yang kuat, otak kita akan melakukan pemrograman ulang untuk mengingat dan belajar dari pengalaman tersebut. Stres meninggalkan jejak di otak untuk mempersiapkan kita menghadapi stres yang sama di lain waktu.

“Stress is not what happens to us, it’s how we respond to what happens. Shift our mindset and peace will follow.” – Hana Selye

 

Apabila champs mengalami kebingungan dalam memproses stres, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs untuk meningkatkan cara merespons stres yang efektif melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

Referensi:

Embracing stress is more important than reducing stress, Stanford psychologist says. (n.d.). Stanford University. https://news.stanford.edu/stories/2015/05/embracing-stress-is-more-important-than-reducing-stress,-stanford-psychologist-says 

Good stress, bad stress. (2012, December 21). News Center. https://med.stanford.edu/news/all-news/2012/12/good-stress-bad-stress.html 

Lu, S., Wei, F., & Li, G. (2021). The evolution of the concept of stress and the framework of the stress system. Cell Stress, 5(6), 76–85. https://doi.org/10.15698/cst2021.06.250 

Pluut, H., Curșeu, P. L., & Fodor, O. C. (2022). Development and validation of a short measure of emotional, Physical, and Behavioral Markers of eUstress and Distress (MEDS). Healthcare, 10(2), 339. https://doi.org/10.3390/healthcare10020339 

Scott, E. (2023, September 27). The benefits of good stress. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-kind-of-stress-is-good-for-you-3145055