Parents, masa kanak-kanak merupakan golden age dalam kehidupan seseorang, terutama dalam perkembangan emosionalnya. Pada masa ini, anak mulai belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosinya. Sayangnya, banyak anak yang belum memiliki keterampilan ini secara memadai, terutama jika tidak mendapatkan dukungan dari orang dewasa di sekitarnya. Orang tua memegang peran penting dalam proses pembelajaran emosi anak. Dengan kata lain, cara kita bereaksi terhadap emosi anak berdampak pada perkembangan kecerdasan emosional mereka. Ketika orang tua mengajari anak-anak untuk mengenali emosi mereka, parents memberikan mereka gambaran yang membantu menjelaskan apa yang sedang dirasakan, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengelola emosi tersebut dengan cara yang tepat secara sosial.
Lima tahun pertama kehidupan manusia adalah masa kritis dalam pembentukan dasar bagi emosi yang sehat yang akan mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional individu sepanjang umur. Namun, anak-anak akan sangat mungkin mengalami kesulitan untuk mengenali dan memahami emosi dalam diri mereka sendiri dan orang lain, tanpa dukungan orang dewasa. Kemampuan untuk menenangkan diri saat marah, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, dan menghadapi situasi yang menantang tidak muncul begitu saja, melainkan memerlukan proses belajar yang panjang serta dukungan pengalaman. Sebagai orang dewasa, orang tua memengaruhi kemampuan regulasi emosi anak melalui tiga mekanisme, yaitu pengamatan anak terhadap regulasi emosi orang tua, praktik pengasuhan terkait emosi, dan iklim emosional keluarga.
Regulasi emosi merupakan proses individu untuk membentuk emosi dan cara mereka mengekspresikan emosi yang dimilikinya (Gross, 2014). Sedangkan menurut Thompson (2001), regulasi emosi adalah kemampuan individu dalam mengevaluasi serta mengubah reaksi emosional untuk berperilaku yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada anak, regulasi emosi sendiri digambarkan sebagai kemampuan dalam mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan mengomunikasikan perasaannya (Papalia & Martorell, 2014). Regulasi emosi memiliki peran besar dalam berbagai aspek kehidupan anak, termasuk kemampuan mereka untuk menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya dan beradaptasi dalam lingkungan sosialnya. Jika anak belum mampu mengelola emosinya, ada kekhawatiran bahwa emosi negatif yang muncul akan sulit dikendalikan dan berpotensi mengganggu kesejahteraan psikologis maupun fisiologis. Regulasi emosi mencakup kemampuan anak untuk mengatur, menilai, memodifikasi, dan menyampaikan perasaan emosional secara tepat, yang didasari oleh proses internal dan eksternal.
How to Help Kids Regulate Their Emotion
- Membantu Anak Mengenal Emosi
Langkah pertama yang penting dalam mengajarkan anak mengatur emosinya adalah dengan membantu mereka mengenali berbagai perasaan. Penting bagi anak untuk mampu mengenali emosi yang muncul, baik dalam dirinya sendiri maupun pada orang lain. Parents dapat membantu anak mengenal enam emosi dasar yang umum dialami, yaitu: senang, sedih, takut, marah, cemas, dan bosan. Semua bentuk emosi lainnya merupakan variasi atau turunan dari keenam emosi tersebut. Ketika anak sudah mampu mengidentifikasi emosi-emosi dasar tersebut, maka anak telah membangun kemampuan dasar dalam meregulasi emosi. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan parents atau juga guru untuk membantu anak memahami dan mengenali emosi-emosi dasar tersebut, yaitu melalui pemberian label pada emosi karakter dalam film atau acara televisi yang ditonton bersama, menyebutkan emosi yang sedang dirasakan, atau juga dengan menggunakan emotion cards.
- Mencontohkan Perilaku yang Baik
Anak-anak sering kali belajar dengan mencontoh apa yang orang tua mereka lakukan daripada mendengarkan apa yang mereka katakan. Jika parents ingin anak memiliki strategi dan keterampilan pengaturan emosi yang lebih baik, maka penting juga bagi kita untuk mengatur emosi saat berinteraksi dengan anak-anak. Misalnya, ketika kita sedang merasa cemas atau kesal, parents dapat menggunakan teknik grounding DBT seperti bernafas untuk mengelola emosi. Anak akan belajar dari orang tuanya, bahwa ledakan emosi bukanlah reaksi yang tepat untuk perasaan yang sama dan akan mencontoh perilaku orang tua.
“If we want children to regulate their emotions, we have to show them how.”
- Unknown
- Bermain Peran (Role Play)
Bermain peran adalah metode efektif untuk mengajarkan anak mengendalikan emosi saat menghadapi situasi yang menegangkan atau membuat kesal. Saat anak sudah dalam keadaan tenang, ajak anak berdiskusi mengenai berbagai cara yang mereka bisa lakukan ketika bertemu situasi yang sulit. Misalnya, jika anak pernah merebut mainan yang dimiliki temannya, gunakan kesempatan untuk menjelaskan alternatif yang bisa anak lakukan, seperti menunggu giliran bermain, meminjam mainan dengan cara yang baik, atau memilih mainan lain. Dengan cara ini, anak belajar memecahkan masalah dan menyadari apa yang dirasakannya. Setelah berdiskusi, parents dapat melakukan simulasi skenario tersebut agar mereka bisa mempraktikkannya secara langsung. Setiap kali emosi anak mulai memuncak dan bisa berujung pada perilaku negatif, dukung mereka untuk mengambil pendekatan yang sebaliknya, yaitu dengan berpikir panjang sebelum bertindak dan memilih tindakan yang lebih positif atau aman untuk dilakukan.
- Berikan Pujian Lebih Banyak daripada Hukuman
Ketika anak menunjukkan manajemen atau kontrol emosi yang baik, parents dapat memberikan perhatian positif, pujian, atau hadiah kepada anak. Sebaliknya, ketika anak tidak berhasil meregulasi emosinya dengan cara yang tepat. Parents tidak boleh langsung menghukum perilaku buruk mereka karena ini hanya akan memperburuk keadaan bagi anak yang masih belajar mengatur emosinya. Memberikan pujian atau dorongan ketika anak berperilaku baik mengajarkan bahwa mereka tidak akan mendapatkan imbalan jika tantrum atau ledakan emosi muncul.
- Mengajarkan Coping Skills
Coping skills adalah strategi atau teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi intensitas emosi yang sedang dialami, memulihkan ketenangan, dan memberikan kontrol sebelum melakukan respons atau tindakan. Hal ini penting untuk diajarkan agar anak tidak bertindak impulsif saat emosi tinggi. Salah satu cara efektif adalah dengan mengenalkan teknik relaksasi ringan seperti menarik napas dalam dengan menghitung 1–5 sembari menghirup dan hembuskan napas perlahan untuk membantu menurunkan ketegangan fisik dan memberi waktu bagi otak anak untuk berpikir sebelum bertindak. Dorong juga anak menggunakan positive self-talk, seperti “Aku bisa melewati ini” atau “Masih ada cara lain untuk melalui situasi ini”, sehingga mereka belajar memberi dukungan pada diri sendiri ketika dibutuhkan. Selain itu, bantu anak mengidentifikasi dan menamai emosi yang mereka rasakan, apakah itu marah, sedih, frustasi untuk membantu meregulasi emosi. Kemudian, ajak anak berpikir solusi ketika menghadapi suatu masalah, seperti meminta bantuan, berbicara ke orang lain, atau mencari aktivitas alternatif yang termasuk ke strategi pemecahan masalah.
“Emotional regulation is not a skill set that we are born with. But with connection, it is never too late to learn.”
- Suzanne Tucker
Keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk kemampuan regulasi emosi anak. Lingkungan keluarga yang hangat, konsisten, dan penuh dukungan menciptakan suasana aman di mana anak merasa nyaman mengekspresikan perasaannya dan belajar memahaminya. Investasi dalam kecerdasan emosional sejak dini bukanlah sekadar mempersiapkan mereka untuk hari ini, tetapi juga membentuk anak yang tangguh, mandiri, percaya diri, dan mampu membangun hubungan yang sehat dalam perjalanan hidupnya. Fondasi yang kuat ini akan menjadi bekal berharga sepanjang hidup mereka yang menjadi fondasi bagi kehidupan yang penuh makna dan keberhasilan.
Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.












