Pernahkah Parents membayangkan bagaimana suasana rumah ketika anak terakhir akhirnya meninggalkan rumah untuk kuliah, bekerja, atau mulai menjalani hidup secara mandiri? Selama bertahun-tahun, rumah mungkin dipenuhi berbagai rutinitas yang berpusat pada anak, mulai dari menyiapkan kebutuhan sehari-hari hingga sekadar mendengar cerita mereka sepulang beraktivitas. Ketika semua itu berubah, rumah bisa terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Bagi sebagian Parents, momen ini menjadi penanda bahwa anak telah bertumbuh dan siap menjalani kehidupannya sendiri. Namun, di balik rasa bangga tersebut, tidak sedikit Parents yang juga merasakan kehilangan. Perpaduan emosi inilah yang membuat masa transisi setelah anak meninggalkan rumah sering kali terasa membingungkan.
Saat Anak Mulai Mandiri, Orang Tua Juga Sedang Beradaptasi
Menurut Ungvarsky (2024), empty nest syndrome menggambarkan gejolak emosional yang dapat dialami sebagian orang tua ketika anak terakhir atau satu-satunya meninggalkan rumah untuk memulai kehidupan yang lebih mandiri. Kondisi ini bukan merupakan diagnosis medis, melainkan gambaran mengenai masa transisi yang dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga lebih dari satu tahun (Ungvarsky, 2024).
Yang berubah sebenarnya bukan hanya keberadaan anak di rumah. Rutinitas harian ikut bergeser, interaksi yang dulu terjadi hampir setiap hari menjadi jauh lebih jarang, dan sebagian Parents mulai menyesuaikan diri dengan peran yang terasa berbeda. Dalam proses tersebut, rasa sepi, kehilangan, atau berkurangnya makna hidup dapat muncul (Ungvarsky, 2024).
Meski demikian, pengalaman setiap keluarga tidak pernah benar-benar sama. Ada Parents yang lebih cepat beradaptasi, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan ritme kehidupan yang baru. Sebagian bahkan merasakan kesedihan sekaligus kebanggaan pada saat yang bersamaan karena melihat anak berhasil melangkah menuju kemandirian (Glik, 2023).
Mengapa Fase Empty Nest Syndrome Bisa Terasa Berat?
Selama bertahun-tahun, Parents menjalani keseharian yang sangat berkaitan dengan kebutuhan anak. Ketika anak tidak lagi tinggal di rumah, perubahan itu tidak hanya mengurangi kesibukan, tetapi juga mengubah pola hidup yang sudah terbentuk dalam waktu lama.
Pada masa inilah sebagian Parents mulai bertanya kepada diri sendiri mengenai peran dan tujuan hidup setelah aktivitas mengasuh tidak lagi mendominasi keseharian. Bagi Anda yang selama ini banyak menempatkan identitas diri pada peran sebagai pengasuh, perubahan tersebut dapat terasa lebih berat dibandingkan yang memiliki berbagai peran lain di luar keluarga (Glik, 2023; Ungvarsky, 2024).
Berbagai Emosi yang Wajar Muncul
Tidak ada satu pola emosi yang pasti selama menjalani fase ini. Sebagian Parents mungkin hanya merasa rindu sesekali, sedangkan yang lain mengalami proses penyesuaian yang lebih panjang. Karena itu, tidak ada alasan untuk membandingkan pengalaman diri sendiri dengan keluarga lain.
Beberapa emosi yang cukup sering muncul adalah kesepian, kesedihan karena berakhirnya masa pengasuhan yang intens, kekhawatiran terhadap kehidupan anak yang kini lebih mandiri, hingga penyesalan atas hal-hal yang dirasa belum sempat dilakukan bersama anak (Glik, 2023).
Beberapa Parents juga mulai mengevaluasi perjalanan pengasuhan yang telah dilalui. Anda mungkin mempertanyakan berbagai keputusan yang pernah diambil atau bertanya-tanya apakah telah menjadi orang tua yang cukup baik (Glik, 2023).
Mengapa Setiap Parents Mengalaminya dengan Cara yang Berbeda?
Walaupun berada pada fase kehidupan yang sama, tidak semua orang tua mengalami empty nest syndrome dengan tingkat yang sama. Beberapa hal diketahui berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalani masa transisi ini (Hidayati & Suparno, 2023):
-
Resiliensi
Parents dengan kemampuan beradaptasi yang lebih baik cenderung lebih mampu menghadapi kesepian, kecemasan, maupun rasa kehilangan selama masa transisi.
-
Dukungan dari pasangan
Kehadiran pasangan dan dukungan emosional yang diberikan berkaitan dengan kemampuan Anda untuk menyesuaikan diri ketika anak meninggalkan rumah.
-
Hubungan yang tetap hangat dengan anak
Komunikasi yang tetap terjaga setelah anak tinggal terpisah berkaitan dengan proses penyesuaian orang tua selama fase empty nest.
-
Perbedaan peran dalam pengasuhan
Ibu lebih sering mengalami empty nest syndrome dibandingkan ayah karena umumnya memiliki keterlibatan yang lebih besar dalam pengasuhan sehari-hari. Meski demikian, pengalaman ini juga dapat dialami oleh ayah.
-
Aktivitas di luar peran sebagai orang tua
Parents yang memiliki pekerjaan atau aktivitas lain di luar rumah cenderung mengalami empty nest syndrome yang lebih ringan dibandingkan mereka yang aktivitasnya lebih banyak berpusat pada pengasuhan.
Dari Kehilangan Menuju Babak Kehidupan yang Baru
Rumah yang lebih sepi memang bisa terasa asing pada awalnya. Namun, perubahan ini tidak selalu berarti ada sesuatu yang hilang selamanya. Parents dapat menjadikan fase ini sebagai kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus mulai memikirkan kehidupan yang ingin dibangun setelah anak tumbuh mandiri.
Seiring berjalannya waktu, Parents mulai menemukan hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan ketika sebagian besar energi masih tercurah untuk mengasuh anak. Anda mungkin kembali menekuni hobi, memiliki lebih banyak waktu bersama pasangan, atau menikmati aktivitas yang selama ini tertunda. Sebagian juga merasakan kepuasan karena melihat anak mampu menjalani kehidupannya sendiri, sehingga fase ini tidak hanya diwarnai oleh kehilangan, tetapi juga rasa bangga dan pencapaian sebagai orang tua (Glik, 2023).
Peran sebagai orang tua tidak berhenti ketika anak meninggalkan rumah. Yang berubah adalah bentuk hubungan dan cara Parents mendampingi anak yang kini sedang belajar menjalani kehidupannya secara lebih mandiri (Glik, 2023).
Bagaimana Parents Bisa Menjalani Fase Empty Nest Syndrome?
Setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam menghadapi perubahan. Tidak ada langkah yang dapat menghilangkan rasa kehilangan secara instan, tetapi ada beberapa hal yang dapat membantu proses penyesuaian berlangsung dengan lebih sehat menurut Glik (2023):
-
Berikan waktu untuk beradaptasi
Perasaan sedih, rindu, atau bahkan bingung bukan berarti Parents gagal menjalani peran sebagai orang tua. Tidak apa-apa jika Parents masih merasa sedih atau merindukan suasana rumah yang dulu. Menerima bahwa perubahan membutuhkan waktu dapat membantu mengurangi tekanan untuk segera “baik-baik saja”.
-
Isi kembali rutinitas dengan hal yang bermakna
Ketika waktu luang bertambah, gunakan kesempatan tersebut untuk kembali melakukan kegiatan yang disukai atau mencoba pengalaman baru yang selama ini tertunda. Langkah sederhana ini dapat membantu membangun ritme kehidupan yang baru.
-
Nikmati kembali kebersamaan dengan pasangan
Berkurangnya kesibukan mengurus anak dapat menjadi kesempatan untuk membangun kembali kedekatan, berbagi aktivitas bersama, dan menikmati waktu berdua yang mungkin selama ini sulit dilakukan.
-
Tetap terhubung dengan anak
Menjaga komunikasi tetap penting, tetapi hubungan tersebut juga perlu memberi ruang bagi anak untuk belajar mandiri. Kedekatan tidak selalu diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari kualitas hubungan yang terus terpelihara.
-
Carilah dukungan jika diperlukan
Berbagi cerita dengan pasangan, keluarga, teman, atau tenaga profesional dapat membantu Parents menghadapi masa transisi ketika perasaan kehilangan terasa sulit dijalani sendiri.
Parents, Rumah Memang Lebih Sepi, tetapi Perjalanan Belum Selesai
Setiap fase dalam kehidupan keluarga membawa cerita yang berbeda. Dulu, rumah dipenuhi suara langkah kaki anak yang berlarian, tugas sekolah yang berserakan, dan berbagai rutinitas yang mungkin terasa melelahkan. Kini suasananya berubah, tetapi bukan berarti kehangatan keluarga ikut menghilang.
Menjadi orang tua tidak berhenti ketika anak mulai hidup mandiri. Kasih sayang, perhatian, dan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun tetap dapat tumbuh, hanya dalam bentuk yang berbeda. Justru pada fase inilah Parents memiliki kesempatan untuk menemukan kembali ruang bagi diri sendiri, sambil tetap mendampingi anak dari jarak yang lebih dewasa.
Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui berbagai program dan layanan, termasuk layanan konseling, dalam mendampingi setiap fase kehidupan keluarga. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.
Referensi
Glik, R. (2023, September 5). Empty Nesting: The Upsides, Downsides and Tips for a Fresh Chapter Mindset. Dr. Rachel Glik. https://www.drrachelglik.com/blog-posts/2023/9/4/empty-nesting-the-upsides-downsides-and-tips-for-a-fresh-start-mindset
Hidayati, D. S., & Suparno, R. J. (2023). Resilience and empty nest syndrome. In Families Mental Health and Challenges in the 21st Century (pp. 15–23). https://doi.org/10.1201/9781003402381-3
Ungvarsky, J. (2024). Empty Nest Syndrome. In EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/empty-nest-syndrome












