Pernahkah Parents mengunggah foto anak saat pertama kali sekolah, tertidur lucu di sofa, atau merayakan ulang tahun, lalu merasa hangat ketika keluarga dan teman memberikan komentar positif? Di era digital, berbagi momen keluarga di media sosial memang terasa sangat wajar. Bahkan, bagi banyak Parents, media sosial menjadi cara untuk tetap terhubung dengan keluarga, mendokumentasikan tumbuh kembang anak, sekaligus mencari dukungan dari sesama orang tua (Bhroin et al., 2022; Ferrara et al., 2023).
Sharenting adalah praktik orang tua membagikan informasi tentang anak di luar lingkup keluarga, termasuk melalui media sosial, blog, atau aplikasi pesan (Steinberg, 2024). Fenomena ini semakin umum terjadi seiring media sosial menjadi bagian dari kehidupan keluarga modern. Namun di balik unggahan yang terlihat sederhana, sharenting juga memunculkan pertanyaan tentang privasi anak, persetujuan, dan jejak digital yang dapat bertahan lama.
Mengapa Parents Melakukan Sharenting?
Sebagian besar Parents tidak melakukan sharenting dengan niat buruk. Banyak yang membagikan momen anak untuk menunjukkan rasa bangga, menjaga hubungan dengan keluarga, atau mendapatkan dukungan emosional dari komunitas sesama orang tua (Bhroin et al., 2022; Ferrara et al., 2023; Walrave et al., 2023).
Bagi sebagian Parents, media sosial juga menjadi ruang untuk bertahan dalam masa transisi menjadi orang tua. Pengalaman mengasuh anak yang melelahkan terasa lebih ringan ketika ada orang lain yang memiliki dan memahami situasi serupa (Walrave et al., 2023). Selain itu, internet dan komunitas daring sering digunakan untuk mencari informasi pengasuhan dan rasa diterima dalam peran baru sebagai ayah atau ibu (Cataldo et al., 2022).
Norma sosial di media digital juga ikut mempengaruhi perilaku sharenting. Ketika media sosial dipenuhi unggahan keluarga harmonis dan pencapaian anak, Parents dapat merasa bahwa membagikan kehidupan keluarga adalah bagian dari “pengasuhan yang baik” di era modern (Tosuntaş & Griffiths, 2024; Walrave et al., 2023). Dalam beberapa situasi, unggahan tentang anak juga menjadi bentuk ekspresi diri dan pencarian validasi sosial (Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Jejak Digital Anak Dimulai Sejak Dini
Tanpa disadari, jejak digital anak sering kali dimulai bahkan sebelum mereka lahir. Sebagian Parents membagikan hasil USG, cerita kehamilan, hingga membuat akun media sosial untuk calon bayi mereka, sehingga banyak anak sudah memiliki keberadaan digital sebelum usia dua tahun (Ferrara et al., 2023; Keskin et al., 2023).
Semakin banyak unggahan yang dibuat, semakin panjang pula arsip digital anak tanpa pernah dipilih sendiri oleh mereka. Informasi yang terlihat biasa hari ini belum tentu terasa nyaman bagi anak ketika mereka lebih besar nanti (Cataldo et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024). Karena konten digital sulit dihapus sepenuhnya, foto atau cerita tentang anak dapat terus muncul bertahun-tahun kemudian (Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Kondisi ini dikenal sebagai digital tattoo, yaitu jejak digital yang menetap dan berpotensi mempengaruhi kehidupan anak di masa depan (Tosuntaş & Griffiths, 2024). Bagi sebagian remaja, unggahan Parents bahkan dapat terasa memalukan atau tidak sesuai dengan citra diri yang ingin mereka bangun sendiri di media sosial (Cataldo et al., 2022; Keskin et al., 2023).
Risiko Sharenting terhadap Privasi Anak
Salah satu dilema terbesar dalam sharenting adalah keinginan berbagi yang berbenturan dengan tanggung jawab melindungi privasi anak. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa Parents yang paling khawatir tentang privasi anak justru terkadang lebih sering membagikan informasi tentang mereka di media sosial (Bhroin et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Fenomena ini disebut privacy paradox, yaitu ketika Parents memahami risiko digital, tetapi manfaat emosional dan sosial dari posting terasa lebih besar dibandingkan potensi bahayanya (Bhroin et al., 2022). Padahal, risiko sharenting tidak hanya berkaitan dengan foto anak. Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, lokasi sekolah, hingga rutinitas harian juga dapat membuka celah terhadap masalah privasi dan keamanan digital (Stephenson et al., 2024).
Selain itu, foto anak dapat disalahgunakan atau digunakan tanpa izin oleh pihak lain (Keskin et al., 2023; Walrave et al., 2023). Karena itu, sharenting tidak lagi dipandang sekadar persoalan “unggah foto lucu,” tetapi juga berkaitan dengan hak privasi dan perlindungan anak di ruang digital.
Anak Belum Tentu Nyaman dengan Unggahan Orang Tua
Parents mungkin merasa unggahan tertentu lucu atau penuh kenangan. Namun, anak belum tentu memandangnya dengan cara yang sama. Sebagian remaja merasa malu, terganggu, atau tidak nyaman dengan unggahan Parents tentang diri mereka (Keskin et al., 2023; Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Dalam beberapa kasus, anak merasa citra yang dibentuk Parents di media sosial tidak sesuai dengan identitas yang ingin mereka tampilkan sendiri (Cataldo et al., 2022). Karena itu, isu persetujuan atau consent menjadi penting dalam sharenting. Namun, menentukan kapan anak benar-benar dapat memberikan persetujuan yang matang bukan hal sederhana. Kemampuan anak memahami konsekuensi jangka panjang dari unggahan digital berkembang secara bertahap dan dapat berbeda pada setiap anak (Stephenson et al., 2024; Keskin et al., 2023).
Meski demikian, melibatkan anak dalam percakapan tentang unggahan media sosial tetap penting, terutama ketika mereka mulai mampu menyampaikan pendapatnya sendiri (Bhroin et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024). Parents dan anak dapat mendiskusikan batasan sederhana, seperti foto apa yang boleh dibagikan, kepada siapa, dan seberapa sering konten tentang anak diunggah (Cataldo et al., 2022).
Mindful Sharenting: Berbagi dengan Lebih Sadar
Di tengah meningkatnya kesadaran tentang privasi digital anak, muncul pendekatan mindful sharenting, yaitu upaya Parents tetap menikmati manfaat media sosial sambil lebih berhati-hati melindungi privasi anak (Walrave et al., 2023).
Beberapa Parents mulai membatasi informasi yang dibagikan, misalnya mengambil foto dari belakang, menggunakan fitur blur, atau memilih akun privat agar unggahan hanya dapat diakses orang terdekat (Walrave et al., 2023). Ada juga Parents yang mulai membuat aturan dengan keluarga besar terkait unggahan foto anak di media sosial demi menjaga kontrol atas identitas digital anak sejak dini (Walrave et al., 2023).
Mindful sharenting bukan berarti Parents sama sekali tidak boleh mengunggah kehidupan keluarga. Pendekatan ini lebih menekankan kesadaran dan refleksi sebelum membagikan sesuatu tentang anak di internet (Walrave et al., 2023).
Ketika Anak Menjadi Konten
Perkembangan media sosial juga membuat sharenting berubah menjadi bagian dari aktivitas digital profesional. Sebagian Parents mulai menjadikan konten keluarga sebagai bagian dari pekerjaan influencer atau kerja sama merek (Stephenson et al., 2024; Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Dalam konteks ini, anak dapat terlibat dalam konten promosi atau video yang dirancang untuk menarik perhatian publik (Tosuntaş & Griffiths, 2024). Budaya viral di media sosial bahkan dapat mendorong bentuk sharenting yang lebih intens dan eksploitatif ketika anak menjadi pusat daya tarik konten (Stephenson et al., 2024).
Ketika kehidupan anak mulai menjadi sumber pendapatan atau popularitas, batas antara dokumentasi keluarga dan komersialisasi kehidupan pribadi menjadi semakin kabur (Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Parents, Perlukah Berhenti Mengunggah Anak?
Sharenting bukan isu hitam-putih. Tidak semua unggahan otomatis berbahaya, dan tidak semua Parents yang membagikan momen anak berarti mengabaikan privasi mereka (Keskin et al., 2023). Yang terpenting adalah kesadaran bahwa anak juga memiliki hak atas privasi, identitas, dan ruang digital mereka sendiri (Ferrara et al., 2023; Tosuntaş & Griffiths, 2024).
Sebelum mengunggah sesuatu, Parents bisa mulai bertanya pada diri sendiri:
Apakah anak akan nyaman dengan unggahan ini beberapa tahun lagi?
Apakah informasi yang dibagikan terlalu personal?
Apakah unggahan ini benar-benar perlu dipublikasikan?
Di era digital, menjadi Parents juga berarti belajar menjaga keseimbangan antara berbagi momen keluarga dan melindungi ruang aman anak di internet.
Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui program Raising Future-Ready Kids mengenai Media Literacy and Digital Intelligence melalui seminar yang memberdayakan anak-anak untuk menavigasi dunia maya dengan mengembangkan kecerdasan digital dalam pemahaman media, keamanan online, privasi data, dan etika digital. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.
Referensi
Bhroin, N. N., Dinh, T., Thiel, K., Lampert, C., Staksrud, E., & Ólafsson, K. (2022). The Privacy Paradox by Proxy: Considering Predictors of Sharenting. Media and Communication, 10(1), 371–383. https://doi.org/10.17645/mac.v10i1.4858
Cataldo, I., Lieu, A. A., Carollo, A., Bornstein, M. H., Gabrieli, G., Lee, A., & Esposito, G. (2022). From the cradle to the Web: The Growth of “Sharenting”—A Scientometric Perspective. Human Behavior and Emerging Technologies, 2022, 1–12. https://doi.org/10.1155/2022/5607422
Ferrara, P., Cammisa, I., Corsello, G., Giardino, I., Vural, M., Pop, T. L., Pettoello-Mantovani, C., Indrio, F., & Pettoello-Mantovani, M. (2023). Online “Sharenting”: The dangers of posting sensitive information about children on social media. The Journal of Pediatrics, 257, 113322. https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2023.01.002
Keskin, A. D., Kaytez, N., Damar, M., Elibol, F., & Aral, N. (2023). Sharenting syndrome: an appropriate use of social media? Healthcare, 11(10), 1359. https://doi.org/10.3390/healthcare11101359
Steinberg, S. (2024). What you need to know about “sharenting”: Expert tips on protecting your child’s privacy in the digital age. UNICEF. https://www.unicef.org/parenting/child-care/sharenting
Stephenson, S., Page, C. N., Wei, M., Kapadia, A., & Roesner, F. (2024). Sharenting on TikTok: Exploring Parental Sharing Behaviors and the Discourse Around Children’s Online Privacy. CHI ’24: Proceedings of the 2024 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 1–17. https://doi.org/10.1145/3613904.3642447
Tosuntaş, Ş. B., & Griffiths, M. D. (2024). Sharenting: A systematic review of the empirical literature. Journal of Family Theory & Review, 16(3), 525–562. https://doi.org/10.1111/jftr.12566
Walrave, M., Robbé, S., Staes, L., & Hallam, L. (2023). Mindful sharenting: how millennial parents balance between sharing and protecting. Frontiers in Psychology, 14, 1171611. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1171611












