Family Indonesia

The Art of Doing Nothing: Menemukan Jeda dan Ruang Bernapas bagi Generasi Ambis

Ilustrasi sebuah jendela dengan pemandangan laut dari ruangan yang gelap. Kontras antara ruang yang redup dan hamparan laut yang tenang menggambarkan makna The Art of Doing Nothing, yaitu memberi diri waktu untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan menemukan ketenangan di tengah budaya yang terus menuntut produktivitas.

The Art of Doing Nothing: Menemukan Jeda dan Ruang Bernapas bagi Generasi Ambis

Champs, kapan terakhir kali kamu benar-benar tidak melakukan apa pun?

Bukan sekadar mengganti tugas dengan scrolling media sosial, bukan juga berpindah dari rapat organisasi ke menonton serial sambil membalas chat pekerjaan… tapi benar-benar berhenti sejenak dari tuntutan untuk terus produktif, terus bergerak, dan terus menghasilkan sesuatu.

Di tengah budaya yang mengagungkan kesibukan, “tidak melakukan apa-apa” sering dianggap sebagai pemborosan waktu. Akibatnya, banyak orang merasa bersalah ketika beristirahat, seolah nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa sibuk mereka setiap hari. Padahal, hubungan manusia dengan aktivitas, kebosanan, dan waktu luang jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan “rajin” atau “malas”.

Mengapa Tidak Melakukan Apa Pun Terasa Sulit? 

Banyak orang mengira bahwa jika diberi pilihan, manusia akan selalu memilih jalan yang paling mudah. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika dihadapkan pada pilihan antara mengerjakan tugas dan tidak melakukan apa pun, banyak orang justru tetap memilih aktivitas yang membutuhkan usaha mental (Wu et al., 2022).

Bahkan, kondisi tanpa aktivitas terkadang terasa sama tidak nyamannya, atau lebih tidak menyenangkan, dibandingkan mengerjakan tugas yang menuntut pemikiran sehingga banyak orang tetap memilih melakukan sesuatu daripada menghadapi kekosongan tersebut (Wu et al., 2022).

Kebosanan yang Membuat Kita Sulit Berhenti

Salah satu alasannya adalah kebosanan. Kita sering menganggap tugas yang berat sebagai sumber ketidaknyamanan, padahal kebosanan juga dapat memengaruhi pilihan dan perilaku sehari-hari (Wu et al., 2022).

Usaha mental dan kebosanan merupakan pengalaman yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama memiliki “biaya psikologis” yang berperan dalam proses pengambilan keputusan (Wu et al., 2022). Dalam kondisi tertentu, rasa tidak nyaman akibat kebosanan bahkan bisa terasa sama beratnya dengan usaha yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu tugas (Wu et al., 2022). Oleh karena itu, banyak orang lebih memilih melakukan sesuatu meskipun membutuhkan usaha lebih besar (Embrey et al., 2024).

Mungkin ini menjelaskan mengapa saat menunggu antrean atau memiliki waktu luang beberapa menit, tangan kita sering otomatis meraih ponsel. Bukan karena selalu ada hal penting yang harus dilakukan, melainkan karena diam terasa kurang nyaman.

Otak Tetap Aktif Saat Beristirahat

Ketika mendengar “doing nothing” alias nggak ngapa-ngapain, kamu mungkin membayangkan otak yang sedang kosong. Padahal, saat kita beristirahat atau membiarkan pikiran mengembara, jaringan otak yang dikenal sebagai Default Mode Network (DMN) tetap aktif (Azarias et al., 2025).

Jaringan ini berkaitan dengan pemikiran tentang diri sendiri, ingatan pribadi, serta berbagai proses refleksi dan sosial (Azarias et al., 2025). Perhatian manusia juga dapat bergeser secara alami dari dunia luar menuju proses berpikir yang lebih internal, sebuah fenomena yang dikenal sebagai mind wandering atau pengembaraan pikiran (Menon, 2023).

Karena itu, ketika Champs duduk diam memandangi langit sore, otakmu belum tentu sedang kosong. Bisa jadi kamu sedang mengingat pengalaman masa lalu, membayangkan masa depan, atau mencoba memahami diri sendiri dengan lebih baik (Azarias et al., 2025; Menon, 2023).

Ketika Kesibukan Menjadi Standar Kesuksesan

Bagi banyak generasi muda seperti kita saat ini, tantangan terbesar bukan kurangnya aktivitas, melainkan terlalu banyak hal yang berebut perhatian dalam waktu yang sama.

Aktivitas seperti bersantai, nongkrong, mengambil jarak dari tuntutan sosial, atau menikmati waktu tanpa agenda sering dianggap tidak produktif. Padahal, aktivitas-aktivitas tersebut dapat menjadi cara untuk mengatur ulang ritme hidup di tengah tekanan yang serba cepat (Mengilli, 2024).

Di sisi lain, kesibukan sering diasosiasikan dengan kesuksesan, dedikasi, bahkan nilai diri seseorang (Karaçizmeli & Dedeoğlu, 2025). Aktivitas produktif yang dilakukan terus-menerus juga dapat berfungsi sebagai penanda status sosial, sehingga bekerja tanpa henti sering kali memperoleh penghargaan yang lebih besar dibandingkan beristirahat (Karaçizmeli & Dedeoğlu, 2025).

Akibatnya, banyak orang merasa perlu membuktikan bahwa mereka cukup sibuk sebelum mengizinkan dirinya beristirahat (Karaçizmeli & Dedeoğlu, 2025).

Mengapa Jeda Justru Berharga?

Menariknya, pengalaman yang dianggap paling bermakna tidak selalu berasal dari aktivitas yang padat dan penuh target. Pengalaman yang memberi kesempatan untuk melambat justru sering dipandang sebagai pengalaman yang berharga (Malone et al., 2023).

Saat ritme hidup melambat, kita memiliki lebih banyak ruang untuk menikmati keberadaan diri, lingkungan sekitar, dan hubungan dengan orang lain (Malone et al., 2023). Kondisi ini juga dapat membuka ruang bagi refleksi, pembelajaran, dan pencarian makna dalam kehidupan sehari-hari (Malone et al., 2023).

Di era yang serba cepat, ruang dan waktu untuk sekadar hadir sepenuhnya dalam sebuah momen mungkin menjadi salah satu kemewahan yang paling sulit diperoleh.

The Art of Doing Nothing: Berhenti dengan Sengaja

Tidak melakukan apa-apa bukan berarti bermalas-malasan atau menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, seni tidak melakukan apa-apa dapat dipahami sebagai upaya sadar untuk memberi jeda dari arus notifikasi, tuntutan pekerjaan, dan berbagai distraksi yang terus mengisi keseharian.

Elizabeth (2025) menyarankan beberapa cara sederhana yang dapat Champs coba:

1. Melatih pernapasan secara sadar

Meluangkan beberapa menit untuk bernapas perlahan dan lebih dalam dapat menjadi cara sederhana untuk berhenti sejenak dari ritme aktivitas yang serba cepat. Fokus pada napas juga membantu mengarahkan perhatian kembali pada pengalaman saat ini.

2. Luangkan waktu di alam

Duduk tenang di taman, berjalan santai, atau sekadar menikmati udara segar tanpa terus-menerus melihat ponsel dapat membantu menyegarkan tubuh dan pikiran.

3. Kembali pada pengalaman indrawi

Sesekali, cobalah memperhatikan aroma, rasa, suara, atau sensasi yang biasanya terlewatkan. Mengarahkan perhatian pada pengalaman indrawi dapat membantu kita lebih hadir pada momen yang sedang dijalani.

4. Rasakan sensasi hangat dan dingin pada tubuh

Memperhatikan sensasi hangat atau dingin pada tubuh, misalnya saat mandi atau berada di luar ruangan, dapat menjadi cara sederhana untuk membawa perhatian kembali pada pengalaman saat ini.

5. Dengarkan musik dengan penuh perhatian

Mendengarkan musik yang menenangkan tanpa disertai aktivitas lain dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari tuntutan multitasking yang terus-menerus hadir dalam keseharian.

Tujuannya bukan agar kamu menjadi lebih produktif setelahnya. Terkadang, tujuannya memang hanya berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir sepenuhnya pada momen yang sedang dijalani.

Champs, Tidak Semua Waktu Harus Diisi

Jangan salah paham dulu. Ini bukan ajakan untuk berhenti bekerja keras, meninggalkan tanggung jawab, apalagi mematikan ambisi. Kita memang cenderung mencari aktivitas dibandingkan benar-benar diam, terutama ketika kebosanan mulai muncul (Embrey et al., 2024; Wu et al., 2022).

Namun, tidak melakukan apa pun bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Saat tubuh beristirahat, otak tetap memproses pengalaman, melakukan refleksi, dan membangun pemahaman tentang diri sendiri (Azarias et al., 2025; Menon, 2023).

Mungkin inti dari The Art of Doing Nothing bukan tentang mengosongkan pikiran sepenuhnya tetapi justru tentang memberi diri sendiri kesempatan untuk tidak selalu mengejar sesuatu. Karena di tengah target akademik, deadline pekerjaan, dan perlombaan pencapaian yang seolah tidak pernah selesai, ada kalanya kamu tidak perlu menambahkan aktivitas baru untuk menjadi lebih baik…

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah jeda. Jeda untuk bernapas, jeda untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri, dan jeda untuk mengingat bahwa nilai dirimu tidak selalu ditentukan oleh seberapa sibuk kamu hari ini.

Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, tempat Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.

Referensi

Azarias, F. R., Almeida, G. H. D. R., De Melo, L. F., Rici, R. E. G., & Maria, D. A. (2025). The journey of the default mode Network: development, function, and impact on mental health. Biology, 14(4), 395. https://doi.org/10.3390/biology14040395

Elizabeth, D. (2025, July 22). 5 Ways to Practice the Art of Doing Nothing. Wild Simple Joy. https://wildsimplejoy.com/art-of-doing-nothing/

Embrey, J. R., Mason, A., & Newell, B. R. (2024). Too hard, too easy, or just right? The effects of context on effort and boredom aversion. Psychonomic Bulletin & Review, 31(6), 2801–2810. https://doi.org/10.3758/s13423-024-02528-x

Karaçizmeli, A., & Dedeoğlu, A. Ö. (2025). Status Seeking Through Conspicuous Production: Conceptual Scope, Social Logic, and Modes of Display. Marmara Üniversitesi İktisadi Ve İdari Bilimler Dergisi, 47(3), 196–214. https://doi.org/10.14780/muiibd.1531722

Malone, S., Tynan, C., & McKechnie, S. (2023). Unconventional luxury: The reappropriation of time and substance. Journal of Business Research, 163, 113939. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2023.113939

Mengilli, Y. (2024). Youth cultural practices as modes of time work: Chilling as rescheduling everyday life. Time & Society, 34(3), 355–375. https://doi.org/10.1177/0961463×241300895

Menon, V. (2023). 20 years of the default mode network: A review and synthesis. Neuron, 111(16), 2469–2487. https://doi.org/10.1016/j.neuron.2023.04.023

Wu, R., Ferguson, A. M., & Inzlicht, M. (2022). Do humans prefer cognitive effort over doing nothing? Journal of Experimental Psychology General, 152(4), 1069–1079. https://doi.org/10.1037/xge0001320