Skip to main content

Family Indonesia

Category: Parenting

Parenting

Pentingnya Diskusi Tentang Seks Dengan Anak

Parents, pernahkah Anda berbicara dengan anak Anda terkait seksualitas? Melihat betapa sensitifnya topik tersebut mungkin membuat Anda berpikir dua kali untuk berbicara mengenai seksualitas dengan anak. Sebuah kalimat yang mungkin melintasi pikiran Anda adalah “Mereka akan tahu saat mereka dewasa atau pada saatnya”.

Beberapa parents cenderung menghindari topik ‘seksualitas’ ketika berbicara dengan anak mereka karena dianggap ‘tabu’ atau ‘belum saatnya’. Parents juga terkadang merasa sulit dan canggung untuk membawakan diskusi tersebut meskipun mereka tahu bahwa diskusi terkait topik tersebut penting untuk dilakukan. Tapi, perlu Anda ketahui bahwa diskusi dan edukasi terkait seksualitas dengan anak justru harus dimulai sejak usia dini. Sebuah studi menunjukan bahwa anak-anak yang sering berdiskusi terkait edukasi seks dengan orang tua mereka cenderung menunda melakukan seks dan menggunakan proteksi ketika melakukan aktivitas seksual (Markham et al., 2010). Selain itu, anak-anak yang berdiskusi tentang seks dengan orang tua juga lebih cenderung untuk menerapkan value yang orang tua mereka miliki dalam membuat keputusan terkait aktivitas seksual dan hubungan.

Dengan posisi yang unik, parents dianggap oleh banyak peneliti sebagai salah satu peran terpenting dalam memberikan pendidikan berkelanjutan mengenai seks dan memberikan informasi yang dapat diandalkan (Eyres et al, 2022; Singh, 2020). Diskusi tentang seks tidak hanya berfokus pada aktivitas seksual tetapi juga terkait dengan organ reproduksi, pencegahan masalah kesehatan, batasan diri,  personal value, hubungan yang sehat, dan kepuasan seksual. Edukasi dini dari orang tua yang tepat terkait seks dengan anak bisa memberikan pemahaman tentang batasan yang sehat, sentuhan yang tidak wajar, pemberian ‘izin’, dan batasan dengan lawan jenis atau sesama jenis. Oleh sebab itu, keterlibatan orang tua dalam memberikan edukasi seks dapat membantu anak mengenali berbagai kekerasan seksual sekaligus melindungi mereka (Nur et al., 2020).

 

Panduan dari FOFI untuk diskusi orang tua dan anak terkait seks

Dalam berdiskusi tentang seks, parents perlu memahami pendekatan yang tepat dan topik yang sesuai dengan usia anak. Parents dapat berbicara dengan santai dan memberikan edukasi sejujurnya, tanpa menutupi atau mengganti nama ilmiah dengan kata samaran. Sebuah cara yang dapat dilakukan adalah ketika melihat sebuah iklan/tayangan berhubungan dengan seks tanpa disengaja, parents dapat menjadikan sarana untuk melakukan diskusi sembari menanamkan nilai-nilai kepada anak. Parents diharapkan untuk tidak menghakimi, tidak bereaksi berlebihan dan tidak menekan ketika anak berbicara  batau bertanya seputar topik seks. Kualitas diskusi juga harus diisi dengan edukasi kesehatan, edukasi berhubungan yang sehat, dan menyampaikan values atau nilai-nilai penting kepada anak agar lebih holistik. Dengan begitu, keingintahuan anak dapat dipenuhi oleh informasi yang tepat dari orang tua dan penemuan ilmiah ketimbang dari platform yang kurang kredibel seperti video seks bebas dan lainnya. Dalam hal ini, maka penting bagi orang tua untuk memperdalam pengetahuan terkait kesehatan, ilmu organ reproduksi, seksualitas, batasan dan aktivitas seksual.

Sejak usia muda, orang tua dapat memulai diskusi dan edukasi dengan membahas mengenai organ reproduksi, batasan sentuhan yang tidak wajar, dan batasan dengan teman sesama jenis maupun lawan jenis. Beranjak ke usia remaja, parents dapat mulai membahas tentang topik pacaran, hubungan, pubertas, dan aktivitas seksual. Penting juga untuk parents bisa menerapkan nilai-nilai sehat kepada anak tentang hubungan pernikahan dan pentingnya menjaga kehormatan diri. 

Berdiskusi tentang seks dengan anak memang merupakan sebuah hal yang menantang untuk dilakukan. Akan tetapi, dengan pendekatan, kualitas, dan tujuan yang baik, diskusi tersebut dapat bermanfaat untuk melindungi anak hingga usia dewasa. Diskusi ini juga penting untuk dilakukan secara berkala seiring dengan perkembangan usia dan dunia sosial anak. 

FOFI mendukung diskusi sehat tentang seks antara orang tua dan anak di Indonesia melalui program ‘Let’s Talk About Sex’. Program ‘Let’s Talk About Sex’ dapat menciptakan ruang aman bagi parents untuk berdiskusi dan memberikan edukasi seks antara Anda dan dengan anak (usia 9-13 tahun) menggunakan pendekatan berdasarkan arahan dari profesional. Hubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi 

Eyres, R. M., Hunter, W. C., Happel-Parkins, A., Williamson, R. L., & Casey, L. B. (2022). Important Conversations: Exploring Parental Experiences in Providing Sexuality Education for Their Children with Intellectual Disabilities. American Journal of Sexuality Education, 17(4), 490–509. https://doi.org/10.1080/15546128.2022.2082617

Markham, C. M., Lormand, D., Gloppen, K. M., Peskin, M. F., Flores, B., Low, B., & House, L. D. (2010). Connectedness as a predictor of sexual and reproductive health outcomes for youth. Journal of Adolescent Health, 46(3), S23–S41. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2009.11.214

Nur, A., Fideyah, B., Siti, M., Zain, N., Hazariah, S., Hamid, A., Azira, N., Binti, F., & Muda, S. (2020). The role of parents in providing sexuality education to their children. Makara Journal of Health Research. https://doi.org/10.7454/msk.v24i3.1235

Singh, R. (2020). Comparative analysis of sex education taught to children by parents in India and U.S. Social Science Research Network. https://doi.org/10.2139/ssrn.3634379

YouthParenting

Bagaimana Media Berinteraksi Dengan Perkembangan Interpersonal Anak?

Memenuhi tanggung jawab sebagai parents dengan anak-anak yang tumbuh di era digital memang cukup menantang. Parents mungkin telah melihat trend tentang penggunaan dunia digital yang kerap membahayakan anak-anak remaja, mulai dari paparan terhadap pornografi, informasi hoaks, serta dampak buruk lainnya dari dunia digital. Mengetahui hal-hal tersebut, wajar saja apabila parents mulai memperhatikan dan membatasi penggunaan media digital bagi anak-anak Anda. Beberapa parents mungkin membatasi penggunaan media digital tersebut dengan ketat demi menghindari bahaya-bahaya dari dunia digital, sehingga tidak jarang juga bahwa batasan-batasan tersebut dapat menjadi sumber argumen antara anak dan parents. Mungkin Anda pernah mendengar anak-anak remaja mengatakan bahwa batasan-batasan tersebut terkesan ‘terlalu mengekang’ bagi mereka.

Penggunaan media digital ini tentunya tidak bisa secara bias dikelompokkan dalam kotak ‘pengaruh buruk’ saja bagi anak Anda. Nyatanya, penggunaan media digital ini juga sangat berperan dalam perkembangan interpersonal anak Anda. Untuk memberikan batasan-batasan yang tepat dalam penggunaan media digital untuk anak, ada baiknya kita memahami bagaimana media digital ini berpengaruh pada perkembangan interpersonal anak Anda.

Pertama-tama, parents perlu memahami bagaimana proses perkembangan interpersonal remaja.

 

Proses Perkembangan Interpersonal Remaja

Teman sebaya merupakan salah satu lingkungan yang penting bagi anak Anda, terutama sejak mereka menginjak usia remaja awal. Pada usia remaja awal, anak Anda mungkin akan melakukan fitting in atau konformitas ke dalam kelompok pertemanan mereka, baik secara terpaksa maupun secara sukarela. Hal ini cukup wajar, pada usia tersebut, anak remaja awal memiliki keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas atau kelompok sosial. Mereka memerlukan teman sebaya mereka untuk menerima, mengerti, dan memiliki mereka.

Baca Apakah aku mencoba fitting in ke dalam grup pertemananku?” untuk mengetahui lebih lanjut   

Meski begitu, perubahan akan terjadi ketika anak Anda memasuki usia remaja pertengahan (sekitar 14 tahun). Di usia tersebut, remaja biasanya tidak akan terlalu kaku untuk fitting in atau menyesuaikan diri ke dalam kelompok pertemanan. Sebaliknya, pada masa ini, remaja akan mulai bertindak mengikuti nilai-nilai yang mereka miliki. Pada masa inilah, nilai-nilai yang diterapkan oleh keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan pertemanan mereka menjadi cukup penting. Mereka akan mulai menegaskan pilihan pribadi dan nilai yang mereka miliki dalam berinteraksi dengan dunia sosial mereka. Proses ini dapat terwujud dengan perlahan ketika remaja bisa menyeimbangkan rasa kemandirian (agency) dan kebutuhan kebersamaan (communion) mereka (Lichtwarck-Aschoff et al., 2008). Dua kebutuhan tersebut merupakan faktor utama dalam pengembangan interpersonal remaja hingga usia dewasa. Sementara itu, pengembangan interpersonal adalah fondasi utama dari pengembangan identitas remaja. Mari kita pahami lebih lanjut bagaimana media digital berinteraksi dengan kedua faktor interpersonal ini. 

 

Bagaimana media digital bisa mendukung tumbuhnya Rasa Kebutuhan Kebersamaan (Communion Needs)

Dalam perkembangannya, remaja memiliki kebutuhan kebersamaan (communion needs) dengan kelompok sosialnya. Beberapa kebutuhan kebersamaan dari pandangan remaja antara lain adalah rangkaian kebutuhan untuk:

  • Memiliki ikatan emosional dengan teman atau pasangan 
  • Merasa diperhatikan oleh teman dan untuk memperhatikan teman 
  • Menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial atau komunitas

Idealnya, kebutuhan kebersamaan akan terpenuhi apabila remaja bisa menggapai ketiga hal tersebut. Kebutuhan kebersamaan yang tidak terpenuhi telah ditemukan berhubungan dengan kondisi kesehatan emosional dan mental remaja yang buruk (Granic et al., 2020).Dunia digital dapat menjadi tempat bagi remaja untuk memenuhi kebutuhan kebersamaan tersebut. 

Sosial media misalnya, memiliki banyak fitur yang memperbolehkan individu untuk mengekspresikan diri dan berkoneksi dengan teman-teman mereka tanpa batasan waktu dan tempat. Berbagi pikiran, perasaan, menemukan teman baru, dan tetap terhubung dengan kawan sebaya mereka melalui sosial media menjadi cara-cara bagi remaja untuk dapat meningkatkan perasaan kebersamaan mereka. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa sosial media cukup berperan dalam membangun kebutuhan interpersonal remaja.

Kebutuhan kebersamaan remaja juga dapat terpenuhi dengan social games, di mana pemain bisa berinteraksi dan bekerja sama dengan pemain lain untuk menuntaskan misi bersama. Banyak social games yang didesain spesifik sehingga pemain terdorong untuk bekerja sama, menolong, dan bahkan mendukung satu sama lain dalam menuntaskan  misi. Mereka bisa merayakan keberhasilan bersama dan bahkan mendukung satu sama lain meski menghadapi kegagalan. Dari hal tersebut, sangat mungkin bagi remaja untuk hubungan emosional dengan teman main mereka. Interaksi-interaksi tersebutlah yang dapat memenuhi kebutuhan kebersamaan remaja.

 

Bagaimana media digital bisa mendukung tumbuhnya Rasa Kemandirian (Agency Needs)

Rasa kemandirian adalah kebutuhan remaja untuk menegaskan diri sendiri pada lingkungannya dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan serta nilai pribadi (Locke, 2015). Pada usia pertengahan remaja, anak Anda akan mulai memasuki masa di mereka bisa memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri dan mulai bertindak sesuai dengan nilai serta minat mereka.  Rasa kemandirian remaja yang kuat akan sangat membantu dalam memberikan harapan dan motivasi ketika remaja mengalami berbagai kesulitan dalam kehidupannya (Ryan & Deci, 2000). 

Rasa kemandirian ini dapat dibentuk dari berbagai pengalaman, termasuk pengalaman pribadi dengan media digital. Menurut penelitian Granic dan kawan-kawan (2014), media seperti game digital dapat membantu remaja dengan melatih ketekunan remaja dalam menghadapi tantangan atau kegagalan dalam menyelesaikan misi game. Mekanisme game yang mendorong pemain untuk terus mencoba kembali meski gagal membantu remaja dalam membangun resiliensi ketika menghadapi masalah. Selain itu, misi game juga ditemukan membantu remaja untuk memiliki growth mindset, sebuah pemikiran bahwa semua hal dapat diubah dan diperbaiki, termasuk kegagalan (Granic et al., 2014). Semua hal ini membangun rasa kemandirian pada remaja. 

Sementara itu, dari sosial media, rasa kemandirian ini dapat dibentuk melalui fitur-fitur untuk mengunggah ‘story’ atau postingan bagi remaja untuk menunjukkan keberadaan atau identitas mereka. Mereka didukung untuk beropini dan memberi sikap terhadap berbagai konten yang muncul.

Meskipun media digital dapat membantu remaja dalam mengembangkan identitas interpersonal mereka, setiap interaksi dan lingkungan sosial yang dialami oleh remaja dapat berbeda-beda. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam media digital ada pula hal-hal negatif yang dapat dikonsumsi oleh anak Anda, baik secara sengaja maupun tanpa sengaja. Oleh sebab itu, penting bagi parents untuk menerapkan batasan dan nilai yang tepat agar remaja dapat memanfaatkan media digital tersebut dengan bijak.

 

Referensi

  • Granic, I., Morita, H., & Scholten, H. (2020). Beyond Screen Time: Identity Development in the Digital Age. Psychological Inquiry, 31(3), 195–223. https://doi.org/10.1080/1047840x.2020.1820214
  • Granic, I., Lobel, A., & Engels, R. C. M. E. (2014). The benefits of playing video games. The American Psychologist, 69(1), 66–78. https://doi.org/10.1037/a0034857
  • Lichtwarck-Aschoff, A., Van Geert, P., Bosma, H., & Kunnen, S. (2008). Time and identity: A framework for research and theory formation. Developmental Review, 28(3), 370–400. https://doi.org/10.1016/j.dr.2008.04.001
MarriageParentingUncategorizedYouth

Stres Ujian? Bagaimana Cara Menghadapinya?

Champs, apakah kalian sering merasa gugup, di bawah tekanan, atau khawatir mendekati, menjelang atau setelah waktu ujian? Kalian mungkin mengalami sesuatu yang namanya exam stress atau stres ujian.

Stres adalah sesuatu yang normal untuk dialami oleh setiap individu kok champs. Mengalami ‘exam stress’ adalah pengalaman yang wajar bagi kalian yang merupakan pelajar. Exam stress bisa muncul dari ekspektasi terhadap nilai akademik, dorongan dari orang tua, guru atau teman, dan lainnya.

Adanya stres yang cukup dalam kehidupan kita, bisa mendorong kita untuk berpikir dan bertindak dalam menghadapi tantangan ataupun menjalankan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Contohnya, karena kamu khawatir akan ujian yang mendatang, kamu berinisiatif untuk memperhatikan penjelasan guru ketika di kelas. Hal ini merupakan dampak positif dari stres.

Akan tetapi, stres yang berlebihan dan berkepanjangan dapat memberikan dampak negatif bagi dirimu. Exam stress yang berlebihan dapat ditunjukkan dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Namun, biasanya exam stress berlebih muncul dengan perubahan perilaku atau pemikiran seperti berikut:

  • Sering kali kekurangan energi untuk menjalankan aktivitas
  • Kesulitan untuk tidur atau kurang waktu istirahat
  • Merelakan waktu tidur, makan, istirahat atau aktivitas lainnya untuk belajar
  • Menjauhi diri dari orang lain atau mengalihkan diri dengan menggunakan waktu lebih banyak bermain ponsel atau sosial media
  • Sering merendahkan diri sendiri (berpikir bahwa diri sendiri tidak berguna, tidak kompeten, atau tidak bermakna)
  • Terlalu sering menekan diri dengan pikiran seperti “Kalau aku tidak belajar dengan baik, aku tidak akan memiliki masa depan”

Exam stress berlebih ini apabila tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental Champs juga loh. Oleh sebab itu, Champs tetap harus mengelola exam stress tersebut agar tidak menumpuk dan memberikan dampak buruk pada dirimu!

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Champs lakukan untuk mengelola exam stress dengan lebih sehat:

  1. Buatlah jadwal belajar yang sehat
    Membuat jadwal belajar yang rutin setiap hari sebelum waktu ujian memang penting, tetapi Champs juga harus memprioritaskan waktu makan, istirahat dan waktu senggang yang cukup juga. Ingatlah bahwa Champs memerlukan waktu tidur sekitar 7-8 jam dan makanan yang cukup agar tubuhmu dapat berfungsi dengan baik. Mengimbangkan waktu belajar dan waktu untuk berolahraga, melakukan hobi, atau bersenang-senang dengan keluarga, teman, bahkan hewan peliharaan juga penting loh! Hal ini dapat mendukung kamu agar bisa melepaskan stres atau tekanan yang menumpuk dengan sehat.
  2. Utarakan kekhawatiranmu
    Terkadang terlalu banyak kekhawatiran yang berkeliaran di dalam otak kita ketika akan menghadapi ujian. Champs bisa mengutarakan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut dengan berbagai cara agar meringankan beban pikiran kalian. Salah satu caranya, Champs dapat menyatakan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut kepada orang tua atau teman. Orang tua dan teman-teman kamu mungkin bisa memberikan solusi atau langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi kekhawatiran yang kamu rasakan.Cara lainnya, Champs dapat menuliskan kekhawatiran atau segala pikiran yang muncul pada buku jurnal atau diary. Dengan menuliskan kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul, Champs mungkin bisa menyadari pola pikiranmu sendiri dan apa yang menjadi kekhawatiran utama saat ini. Selanjutnya, Champs bisa menentukan rencana bagaimana menghadapi kekhawatiran tersebut.
  3. Dorong diri untuk belajar dengan hal yang menyenangkan
    Dorongan untuk belajar sangat penting dalam masa ujian. Sayangnya, dorongan kita untuk belajar ketika masa ujian biasanya hanya bersumber dari rasa takut akan masa depan, nilai buruk, atau performa buruk. Sumber dorongan demikian dapat memberikan tekanan yang besar dan membuat learning experience kamu menjadi terlalu stressful. Oleh sebab itu, ada baiknya Champs mendorong diri dengan hal-hal yang Champs suka!Champs bisa menetapkan reward atau hadiah setiap kali kamu berhasil mengikuti jadwal belajar yang direncanakan. Misalnya, karena Tono suka bermain bersama ayahnya, setiap kali Tono berhasil belajar produktif selama 6 jam setiap hari selama 1 minggu, Tono akan menghadiahkan diri dengan melakukan game night bersama ayahnya di akhir pekan. Jadi, melakukan game night bersama ayah menjadi dorongan belajar yang positif bagi Tono.
  4. Sayangi diri sendiri
    Meskipun tekanan dan tanggung jawabmu sebagai pelajar memang berat, Champs harus ingat untuk selalu menyayangi diri sendiri. Belajar untuk tidak selalu mengkritik atau menekan dirimu, melainkan apresiasikanlah setiap langkah yang kamu ambil. Tetap hargai setiap progress yang kamu lakukan!

Ingatlah bahwa kesulitan dan kerja keras yang Champs lakukan saat ini adalah untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Jadi, Champs harus tetap berusaha dengan baik dalam melewati setiap masa ujian. FOFI selalu mendukung Champs untuk berkembang dan melewati seluruh rintangan yang ada, termasuk masa ujian. Apabila cara-cara berikut dirasa kurang efektif dan Champs memerlukan solusi lain untuk menghadapi exam stress, Champs bisa berdiskusi dengan orang tua untuk mendapatkan bantuan lebih. FOFI juga siap membantu Champs dengan program konseling dan program No Apologies yang dapat mengarahkan Champs dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

Kesuksesan bukanlah akhir, kegagalan bukanlah hal yang fatal, yang terpenting adalah keberanian untuk melanjutkan – Winston Churchill

Referensi
Păduraru, M. E. (2019). Coping strategies for exam stress. Mental Health, 1(1), 64–66. https://doi.org/10.32437/mhgcj.v1i1.26

 

 

Parenting

Tips Mempererat Hubungan dengan Anak Gen-Z!

Gen-Z atau generasi anak muda yang lahir di antara tahun 1997-2012 bertumbuh di era perkembangan teknologi yang berkembang dengan cepat.

Tidak seperti generasi milenial yang dahulu bertumbuh dengan mendengarkan radio atau menonton televisi, Gen-Z bertumbuh dengan mobile phone dan internet. Teknologi-teknologi ini mendukung  mereka untuk bisa terkoneksi secara global dan berkreasi aktif. Selain dengan orang tua, anak-anak Gen-Z turut bertumbuh bersama berbagai komunitas di internet. Tidak jarang bagi generasi ini mengaplikasikan berbagai budaya atau pemahaman dari komunitas online yang mereka temui. Oleh sebab itu, tidak heran apabila orang tua terkadang merasa asing dengan pemahaman, kebiasaan, atau pembicaraan anak-anak Gen-Z mereka. 

Meskipun wajar, jangan sampai perbedaan generasi menghalangi hubungan Anda dengan anak Anda.

Berikut merupakan beberapa tips untuk mempererat hubungan anda dengan anak Gen-Z anda: 

  1. Gali informasi mengenai Gen-Z
    Parents bisa mempelajari perihal-perihal yang berkaitan dengan anak Anda. Dimulai dari mengetahui aplikasi-aplikasi yang biasanya Gen-Z gunakan, kegunaan dari aplikasi tersebut, bagaimana dampak penggunaan aplikasi tersebut terhadap anak Anda, dan berbagai informasi lain terkait. Tahap ini dapat membekali Amda untuk semakin memahami lingkungan seperti apa yang anak Anda miliki.
  2. Kembangkan dan pertahankan komunikasi 
    Selalu berikan waktu khusus untuk berkomunikasi atau berinteraksi secara intens dengan anak anda. Ajak anak Anda untuk berbincang, berolahraga, beraktivitas, atau bermain bersama setiap harinya. Komunikasi dan interaksi yang konsisten dapat membawa Anda untuk semakin memahami anak Anda. Sebaliknya, anak juga dapat membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan diri Anda.
  3. Tunjukkan ketertarikan dan dukungan Anda ke kehidupan mereka!
    Menunjukkan ketertarikan terhadap hidup atau keadaan anak Anda akan memberikan pesan bahwa Anda peduli dan ingin mendukung anak Anda. Tanyakan apa saja kegemaran atau kesibukan mereka saat ini dan bagaimana Anda bisa mendukung mereka. Tanyakan juga pandangan mereka tentang topik-topik tertentu dan bagikan juga pandangan Anda! .
  4. Jadilah teman yang menghargai privasi dan kebebasan mereka. 
    Anda bisa berteman dengan anak Anda melalui sosial media untuk mengetahui aktivitas sehari-hari mereka atau memantau keadaan mereka. Akan tetapi, tetap tunjukkan bahwa anda menghormati privasi mereka. Jangan terus mengintai akun mereka atau selalu mengomentari aktivitas mereka. Sebaliknya, dukung mereka untuk bersosialisasi secara positif di dalam lingkungan sosial mereka.

FOFI berharap agar tips-tips tersebut dapat membantu Anda dalam berkoneksi dan memberikan dukungan yang tepat untuk masa depan anak Gen-Z.

 

Parenting

Tips Membangun Hubungan yang Konsisten Dengan Anak

Setiap orang tua tentu ingin memiliki hubungan harmonis yang konsisten dengan anak. Berbagai faktor yang ada turut mempengaruhi hubungan antara orangtua dengan anak. Hubungan ini dapat dibangun dengan berbagai aktivitas, interaksi dan komunikasi yang beragam.

Anak yang memiliki sedikit komunikasi dan interaksi dengan orangtua, cenderung akan mencari kebutuhan tersebut dari luar seperti teman dan pacar. Seringkali, kita lupa untuk mempertahankan hubungan yang konsisten antara orangtua dengan anak.

Nah, berikut ini 5 tips ala FOFI untuk membangun hubungan yang konsisten dengan anak.

  1. Mengatur jadwal untuk melakukan sesuatu/aktivitas bersama anak

Orangtua dapat mencari tahu aktivitas apa yang disukai anak dan bisa dilakukan bersama dan mulai mengatur jadwal untuk melakukan hal tersebut. Kegiatan bersama dapat membangun hubungan yang semakin erat antara anak dan orangtua.

 

  1. Mengajarkan anak hal/skill yang baru

Melatih skill anak dapat dimulai sejak dini. Bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan sehari-hari dalam rumah. Dengan membuat list hal-hal apa saja yang akan dilakukan akan membantu konsistensi untuk mengajar anak skill yang baru.

 

  1. Terlibat dalam pendidikan anak

Ada sebagian dari orangtua berpikir bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab guru. Tetapi sebenarnya keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak sangat penting dan membuat anak menyadari bahwa orangtua hadir dalam semua bagian kehidupan anak.

 

  1. Miliki waktu untuk berbicara/berdiskusi bersama anak

Berbicara dengan anak bukan hanya orangtua menyampaikan keinginannya, tetapi juga mendengarkan anak dengan segala keluh kesah bahkan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan bahkan menemukan jawaban bersama saat pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab.

 

  1. Selalu konsisten

Kunci untuk membangun hubungan yang konsisten dengan anak adalah dengan tetap konsisten melakukan hal-hal yang telah disepakati. Sebagai orangtua mari kita coba untuk melakukannya dan yakini bahwa pasti akan berhasil. 

 

Baca juga: