Skip to main content

Family Indonesia

Category: Parenting

Parenting

Sharenting dan Dilema Orang Tua Modern: Antara Cinta, Kamera, dan Privasi Anak di Media Sosial

Pernahkah Parents mengunggah foto anak saat pertama kali sekolah, tertidur lucu di sofa, atau merayakan ulang tahun, lalu merasa hangat ketika keluarga dan teman memberikan komentar positif? Di era digital, berbagi momen keluarga di media sosial memang terasa sangat wajar. Bahkan, bagi banyak Parents, media sosial menjadi cara untuk tetap terhubung dengan keluarga, mendokumentasikan tumbuh kembang anak, sekaligus mencari dukungan dari sesama orang tua (Bhroin et al., 2022; Ferrara et al., 2023).

Sharenting adalah praktik orang tua membagikan informasi tentang anak di luar lingkup keluarga, termasuk melalui media sosial, blog, atau aplikasi pesan (Steinberg, 2024). Fenomena ini semakin umum terjadi seiring media sosial menjadi bagian dari kehidupan keluarga modern. Namun di balik unggahan yang terlihat sederhana, sharenting juga memunculkan pertanyaan tentang privasi anak, persetujuan, dan jejak digital yang dapat bertahan lama.

Mengapa Parents Melakukan Sharenting?

Sebagian besar Parents tidak melakukan sharenting dengan niat buruk. Banyak yang membagikan momen anak untuk menunjukkan rasa bangga, menjaga hubungan dengan keluarga, atau mendapatkan dukungan emosional dari komunitas sesama orang tua (Bhroin et al., 2022; Ferrara et al., 2023; Walrave et al., 2023).

Bagi sebagian Parents, media sosial juga menjadi ruang untuk bertahan dalam masa transisi menjadi orang tua. Pengalaman mengasuh anak yang melelahkan terasa lebih ringan ketika ada orang lain yang memiliki dan memahami situasi serupa (Walrave et al., 2023). Selain itu, internet dan komunitas daring sering digunakan untuk mencari informasi pengasuhan dan rasa diterima dalam peran baru sebagai ayah atau ibu (Cataldo et al., 2022).

Norma sosial di media digital juga ikut mempengaruhi perilaku sharenting. Ketika media sosial dipenuhi unggahan keluarga harmonis dan pencapaian anak, Parents dapat merasa bahwa membagikan kehidupan keluarga adalah bagian dari “pengasuhan yang baik” di era modern (Tosuntaş & Griffiths, 2024; Walrave et al., 2023). Dalam beberapa situasi, unggahan tentang anak juga menjadi bentuk ekspresi diri dan pencarian validasi sosial (Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Jejak Digital Anak Dimulai Sejak Dini

Tanpa disadari, jejak digital anak sering kali dimulai bahkan sebelum mereka lahir. Sebagian Parents membagikan hasil USG, cerita kehamilan, hingga membuat akun media sosial untuk calon bayi mereka, sehingga banyak anak sudah memiliki keberadaan digital sebelum usia dua tahun (Ferrara et al., 2023; Keskin et al., 2023).

Semakin banyak unggahan yang dibuat, semakin panjang pula arsip digital anak tanpa pernah dipilih sendiri oleh mereka. Informasi yang terlihat biasa hari ini belum tentu terasa nyaman bagi anak ketika mereka lebih besar nanti (Cataldo et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024). Karena konten digital sulit dihapus sepenuhnya, foto atau cerita tentang anak dapat terus muncul bertahun-tahun kemudian (Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Kondisi ini dikenal sebagai digital tattoo, yaitu jejak digital yang menetap dan berpotensi mempengaruhi kehidupan anak di masa depan (Tosuntaş & Griffiths, 2024). Bagi sebagian remaja, unggahan Parents bahkan dapat terasa memalukan atau tidak sesuai dengan citra diri yang ingin mereka bangun sendiri di media sosial (Cataldo et al., 2022; Keskin et al., 2023).

Risiko Sharenting terhadap Privasi Anak

Salah satu dilema terbesar dalam sharenting adalah keinginan berbagi yang berbenturan dengan tanggung jawab melindungi privasi anak. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa Parents yang paling khawatir tentang privasi anak justru terkadang lebih sering membagikan informasi tentang mereka di media sosial (Bhroin et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Fenomena ini disebut privacy paradox, yaitu ketika Parents memahami risiko digital, tetapi manfaat emosional dan sosial dari posting terasa lebih besar dibandingkan potensi bahayanya (Bhroin et al., 2022). Padahal, risiko sharenting tidak hanya berkaitan dengan foto anak. Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, lokasi sekolah, hingga rutinitas harian juga dapat membuka celah terhadap masalah privasi dan keamanan digital (Stephenson et al., 2024).

Selain itu, foto anak dapat disalahgunakan atau digunakan tanpa izin oleh pihak lain (Keskin et al., 2023; Walrave et al., 2023). Karena itu, sharenting tidak lagi dipandang sekadar persoalan “unggah foto lucu,” tetapi juga berkaitan dengan hak privasi dan perlindungan anak di ruang digital.

Anak Belum Tentu Nyaman dengan Unggahan Orang Tua

Parents mungkin merasa unggahan tertentu lucu atau penuh kenangan. Namun, anak belum tentu memandangnya dengan cara yang sama. Sebagian remaja merasa malu, terganggu, atau tidak nyaman dengan unggahan Parents tentang diri mereka (Keskin et al., 2023; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Dalam beberapa kasus, anak merasa citra yang dibentuk Parents di media sosial tidak sesuai dengan identitas yang ingin mereka tampilkan sendiri (Cataldo et al., 2022). Karena itu, isu persetujuan atau consent menjadi penting dalam sharenting. Namun, menentukan kapan anak benar-benar dapat memberikan persetujuan yang matang bukan hal sederhana. Kemampuan anak memahami konsekuensi jangka panjang dari unggahan digital berkembang secara bertahap dan dapat berbeda pada setiap anak (Stephenson et al., 2024; Keskin et al., 2023).

Meski demikian, melibatkan anak dalam percakapan tentang unggahan media sosial tetap penting, terutama ketika mereka mulai mampu menyampaikan pendapatnya sendiri (Bhroin et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024). Parents dan anak dapat mendiskusikan batasan sederhana, seperti foto apa yang boleh dibagikan, kepada siapa, dan seberapa sering konten tentang anak diunggah (Cataldo et al., 2022).

Mindful Sharenting: Berbagi dengan Lebih Sadar

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang privasi digital anak, muncul pendekatan mindful sharenting, yaitu upaya Parents tetap menikmati manfaat media sosial sambil lebih berhati-hati melindungi privasi anak (Walrave et al., 2023).

Beberapa Parents mulai membatasi informasi yang dibagikan, misalnya mengambil foto dari belakang, menggunakan fitur blur, atau memilih akun privat agar unggahan hanya dapat diakses orang terdekat (Walrave et al., 2023). Ada juga Parents yang mulai membuat aturan dengan keluarga besar terkait unggahan foto anak di media sosial demi menjaga kontrol atas identitas digital anak sejak dini (Walrave et al., 2023).

Mindful sharenting bukan berarti Parents sama sekali tidak boleh mengunggah kehidupan keluarga. Pendekatan ini lebih menekankan kesadaran dan refleksi sebelum membagikan sesuatu tentang anak di internet (Walrave et al., 2023).

Ketika Anak Menjadi Konten

Perkembangan media sosial juga membuat sharenting berubah menjadi bagian dari aktivitas digital profesional. Sebagian Parents mulai menjadikan konten keluarga sebagai bagian dari pekerjaan influencer atau kerja sama merek (Stephenson et al., 2024; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Dalam konteks ini, anak dapat terlibat dalam konten promosi atau video yang dirancang untuk menarik perhatian publik (Tosuntaş & Griffiths, 2024). Budaya viral di media sosial bahkan dapat mendorong bentuk sharenting yang lebih intens dan eksploitatif ketika anak menjadi pusat daya tarik konten (Stephenson et al., 2024).

Ketika kehidupan anak mulai menjadi sumber pendapatan atau popularitas, batas antara dokumentasi keluarga dan komersialisasi kehidupan pribadi menjadi semakin kabur (Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Parents, Perlukah Berhenti Mengunggah Anak?

Sharenting bukan isu hitam-putih. Tidak semua unggahan otomatis berbahaya, dan tidak semua Parents yang membagikan momen anak berarti mengabaikan privasi mereka (Keskin et al., 2023). Yang terpenting adalah kesadaran bahwa anak juga memiliki hak atas privasi, identitas, dan ruang digital mereka sendiri (Ferrara et al., 2023; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Sebelum mengunggah sesuatu, Parents bisa mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah anak akan nyaman dengan unggahan ini beberapa tahun lagi?

Apakah informasi yang dibagikan terlalu personal?

Apakah unggahan ini benar-benar perlu dipublikasikan?

Di era digital, menjadi Parents juga berarti belajar menjaga keseimbangan antara berbagi momen keluarga dan melindungi ruang aman anak di internet.

Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui program Raising Future-Ready Kids mengenai Media Literacy and Digital Intelligence melalui seminar yang memberdayakan anak-anak untuk menavigasi dunia maya dengan mengembangkan kecerdasan digital dalam pemahaman media, keamanan online, privasi data, dan etika digital. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Bhroin, N. N., Dinh, T., Thiel, K., Lampert, C., Staksrud, E., & Ólafsson, K. (2022). The Privacy Paradox by Proxy: Considering Predictors of Sharenting. Media and Communication, 10(1), 371–383. https://doi.org/10.17645/mac.v10i1.4858

Cataldo, I., Lieu, A. A., Carollo, A., Bornstein, M. H., Gabrieli, G., Lee, A., & Esposito, G. (2022). From the cradle to the Web: The Growth of “Sharenting”—A Scientometric Perspective. Human Behavior and Emerging Technologies, 2022, 1–12. https://doi.org/10.1155/2022/5607422

Ferrara, P., Cammisa, I., Corsello, G., Giardino, I., Vural, M., Pop, T. L., Pettoello-Mantovani, C., Indrio, F., & Pettoello-Mantovani, M. (2023). Online “Sharenting”: The dangers of posting sensitive information about children on social media. The Journal of Pediatrics, 257, 113322. https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2023.01.002

Keskin, A. D., Kaytez, N., Damar, M., Elibol, F., & Aral, N. (2023). Sharenting syndrome: an appropriate use of social media? Healthcare, 11(10), 1359. https://doi.org/10.3390/healthcare11101359

Steinberg, S. (2024). What you need to know about “sharenting”: Expert tips on protecting your child’s privacy in the digital age. UNICEF. https://www.unicef.org/parenting/child-care/sharenting

Stephenson, S., Page, C. N., Wei, M., Kapadia, A., & Roesner, F. (2024). Sharenting on TikTok: Exploring Parental Sharing Behaviors and the Discourse Around Children’s Online Privacy. CHI ’24: Proceedings of the 2024 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 1–17. https://doi.org/10.1145/3613904.3642447

Tosuntaş, Ş. B., & Griffiths, M. D. (2024). Sharenting: A systematic review of the empirical literature. Journal of Family Theory & Review, 16(3), 525–562. https://doi.org/10.1111/jftr.12566

Walrave, M., Robbé, S., Staes, L., & Hallam, L. (2023). Mindful sharenting: how millennial parents balance between sharing and protecting. Frontiers in Psychology, 14, 1171611. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1171611

Parenting

Kedekatan Ibu dan Anak Laki-Laki: Fondasi Koneksi, Emosi, dan Kemandirian yang Sehat

Moms, pernahkah Anda mendengar anggapan bahwa anak laki-laki harus lebih kuat, lebih mandiri, dan tidak terlalu dekat dengan ibunya?

Seiring bertambahnya usia anak, tidak sedikit orang yang menganggap kedekatan emosional dengan ibu perlu dikurangi agar mereka tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh. Padahal, kedekatan tidak sama dengan ketergantungan. Hubungan yang hangat justru dapat menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosional, kemampuan berelasi, dan rasa aman anak laki-laki saat ia bertumbuh. Hubungan dekat dengan Moms dapat menjadi sumber yang mendukung perkembangan kemampuan emosional dan relasional anak laki-laki (Bershtling & Strier, 2022).

Ketika Anak Laki-Laki Belajar Mengenali Emosi

Rumah sering menjadi tempat pertama anak belajar memahami dirinya sendiri. Melalui interaksi sehari-hari, anak mengenali apa yang ia rasakan, bagaimana mengekspresikannya, dan kepada siapa ia dapat berbagi ketika menghadapi kesulitan.

Dalam penelitian Bershtling dan Strier (2022), sejumlah laki-laki dewasa menggambarkan bahwa hubungan dekat dengan ibu membantu mereka lebih nyaman membicarakan perasaan, pengalaman, dan tantangan hidup yang mereka hadapi. Mereka juga memandang kemampuan memahami emosi sebagai keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan sosial maupun hubungan interpersonal (Bershtling & Strier, 2022).

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan mengelola emosi bukan muncul begitu saja. Anak laki-laki perlu memiliki ruang yang aman untuk belajar mengenali perasaannya tanpa takut dianggap lemah atau berlebihan.

Tantangan Budaya yang Sering Tidak Disadari

Meski demikian, hubungan Moms dan anak laki-laki tidak berkembang dalam ruang kosong. Sejak kecil, banyak anak laki-laki menerima pesan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh terlalu sensitif, dan sebaiknya tidak menunjukkan kerentanan.

Joseph (2026) menjelaskan bahwa berbagai norma budaya dapat mendorong anak laki-laki menjauh dari kebutuhan emosional dan relasional mereka. Akibatnya, sebagian anak belajar bahwa kedekatan emosional merupakan sesuatu yang perlu dihindari demi terlihat mandiri (Joseph, 2026). Padahal, kebutuhan akan hubungan yang aman dan suportif merupakan bagian alami dari perkembangan manusia. Kemandirian yang sehat bukan berarti menolak kedekatan, melainkan mampu bertumbuh sebagai pribadi yang tetap dapat terhubung dengan orang lain.

Kedekatan Tidak Menghambat Kemandirian

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah anggapan bahwa hubungan dekat dengan Moms akan membuat anak terlalu bergantung. Namun, hubungan yang sehat justru membantu anak mengembangkan rasa aman yang menjadi dasar bagi keberanian untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

Anak yang merasa diterima biasanya lebih berani mencoba hal baru, menghadapi tantangan, dan membangun relasi di luar keluarga. Kedekatan emosional memberi anak tempat untuk kembali ketika ia membutuhkan dukungan, bukan penghalang bagi kemandiriannya.

Oleh karena itu, tujuan hubungan yang sehat bukanlah membuat anak terus bergantung pada Moms, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mampu berdiri sendiri tanpa kehilangan kemampuan untuk menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain.

5 Cara Sederhana Membangun Hubungan yang Lebih Dekat

Hubungan yang hangat tidak selalu dibangun melalui percakapan yang mendalam atau momen yang luar biasa. Justru, kedekatan sering tumbuh melalui interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pengalaman yang dirangkum Jackson (2022), beberapa langkah sederhana berikut dapat membantu Moms memperkuat hubungan dengan anak laki-laki:

1. Fokus melihat kebaikan dalam diri anak

Ketika anak menunjukkan perilaku yang menantang, perhatian Moms sering kali langsung tertuju pada kesalahannya. Namun, Moms dapat mencari kekuatan, potensi, atau niat baik yang mungkin ada di balik perilaku tersebut. Ketika anak merasa dirinya dilihat secara positif, ia cenderung lebih terbuka terhadap arahan dan bimbingan.

2. Tunjukkan kasih sayang dengan cara yang menyenangkan

Bagi sebagian anak laki-laki, kedekatan tidak selalu dibangun melalui percakapan emosional yang mendalam. Aktivitas yang disertai humor, permainan, atau candaan sering kali terasa lebih nyaman dan menyenangkan. Bentuk kasih sayang yang ringan dan tidak memaksa dapat membantu menjaga koneksi emosional tanpa membuat anak merasa tertekan.

3. Masuki dunia anak

Anak biasanya merasa dihargai ketika Moms menunjukkan minat terhadap hal-hal yang ia sukai. Menemani hobi, mendengarkan cerita tentang minatnya, atau mencoba aktivitas favoritnya bersama dapat menjadi cara sederhana untuk mempererat hubungan. Melalui momen-momen seperti ini, anak belajar bahwa apa yang penting baginya juga penting bagi Moms.

4. Dengarkan dengan rasa ingin tahu

Tidak semua percakapan harus berakhir dengan nasihat atau solusi. Banyak anak laki-laki menghargai kesempatan untuk berbicara tanpa merasa dihakimi atau langsung diperbaiki. Pertanyaan yang diajukan dengan rasa ingin tahu dan sikap terbuka dapat membantu anak merasa lebih aman untuk berbagi pengalaman maupun perasaannya.

5. Bersabar menunggu waktu yang tepat

Tidak semua anak siap berbicara pada saat yang sama. Karena itu, penting bagi Moms untuk peka terhadap waktu dan suasana hati anak. Kesabaran dalam menunggu momen yang tepat dapat membantu membangun komunikasi yang lebih terbuka dan mengurangi kecenderungan anak untuk menutup diri.

Moms, Hubungan yang Hangat Adalah Investasi Jangka Panjang

Hubungan Moms dan anak laki-laki tidak dibangun dalam satu percakapan atau satu momen istimewa. Kedekatan tumbuh melalui perhatian yang konsisten, kesediaan mendengarkan, penghargaan terhadap keunikan anak, dan kehadiran yang nyata dalam kesehariannya.

Ketika anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri di rumah, ia memiliki tempat untuk belajar memahami emosi, menghadapi tantangan, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Kedekatan seperti inilah yang dapat menjadi bekal berharga, bukan hanya selama masa kanak-kanak, tetapi juga hingga ia dewasa.

Moms, mungkin pertanyaan yang dapat direnungkan hari ini bukanlah seberapa mandiri anak laki-laki Anda, melainkan:

Apakah anak saya merasa aman untuk tetap dekat dengan saya ketika ia membutuhkan dukungan?

Sering kali, hubungan yang hangat dimulai dari hal-hal sederhana yang dijalani bersama sehingga anak merasa diterima apa adanya. 

Focus on the Family Indonesia menghadirkan program bonding yang dirancang khusus bagi Moms dan putra tercinta, yaitu Mom and Son Connection. Melalui berbagai aktivitas interaktif dan momen kebersamaan yang bermakna, program ini menjadi kesempatan untuk mempererat koneksi, membangun komunikasi yang lebih dekat, serta menciptakan kenangan berharga bersama. Untuk informasi lebih lanjut, Moms dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Bershtling, O., & Strier, R. (2022). Mama’s boy? mother-son bond as a resource for masculinity construction. Journal of Gender Studies, 31(5), 610–622. https://doi.org/10.1080/09589236.2022.2062311

Jackson, L. (2022, August 9). 4 Simple ways to bridge the Mother-Son Divide | Connected Families. Connected Families. https://connectedfamilies.org/4-simple-ways-to-bridge-the-mother-son-divide/

Joseph, C. E. (2026). Decolonizing Motherhood From Within: Patriarchy’s Long Shadow and Its Impact on the Mother–Son Relationship [MA thesis, Pacifica Graduate Institute]. https://www.proquest.com/openview/1927e310e0421e5fb16c583a1ce4e56f/1.pdf?pq-origsite=gscholar&cbl=18750&diss=y

Parenting

10 Aktivitas Quality Time Bersama Keluarga

Family quality time adalah waktu kebersamaan yang diisi dengan kehadiran dan keterlibatan orang tua secara penuh bersama anak. Penelitian oleh Waters et al. (2023) menunjukkan bahwa kurangnya waktu berkualitas antara orang tua dan anak dapat berdampak buruk pada perkembangan anak. Oleh karena itu, meluangkan quality time secara rutin bersama anak menjadi hal penting untuk mendukung kesejahteraan dan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Quality time tidak harus berupa kegiatan besar, liburan mahal, atau agenda khusus di luar rumah. Justru, momen-momen sederhana di rumah, seperti makan bersama, mengobrol, atau melakukan aktivitas ringan dapat menjadi sarana penting untuk membangun kedekatan dalam keluarga. Melalui quality time yang dilakukan secara konsisten, anak mendapatkan ruang untuk merasa didengar, diperhatikan, dan diterima. Hal ini berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, maupun psikologis. Ikatan keluarga yang terbangun dari kebersamaan sederhana inilah yang menjadi dasar rasa aman dan kepercayaan anak terhadap orang tua.

10 Aktivitas Quality Time Bersama Keluarga

Kesibukan dan tuntutan hidup membuat banyak keluarga memiliki sedikit ruang untuk benar-benar hadir satu sama lain. Kondisi ini dapat membuat kebersamaan perlahan berkurang, meskipun tinggal di bawah atap yang sama. Oleh karena itu, membangun dan menjaga ikatan keluarga tetap menjadi fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang sehat serta kenangan yang bermakna. Alleyne (2025) membagikan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga untuk mempererat hubungan dan membangun kedekatan.

1. Menonton Film 

Menonton film bersama dapat menjadi momen kebersamaan yang hangat tanpa perlu persiapan rumit. Parents dan anak Anda dapat bergiliran memilih film, sehingga setiap anggota keluarga merasa dilibatkan dan dihargai. Selain menghadirkan waktu santai bersama, aktivitas ini juga membuka ruang untuk berbagi cerita, tawa, dan nilai-nilai kehidupan yang muncul dari film yang ditonton. Kenangan sederhana inilah yang sering kali memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

2. Memasak 

Melibatkan seluruh anggota keluarga dalam menyiapkan makanan dapat menjadi momen kebersamaan yang bermakna. Anak dapat ikut berpartisipasi dalam tugas-tugas sederhana sesuai dengan usianya, sementara orang tua membimbing dan memberi ruang untuk belajar. Aktivitas mencoba resep baru, membuat camilan sederhana, atau menyiapkan makanan khas keluarga juga dapat menciptakan kenangan keluarga. Kebersamaan di dapur ini sering kali membuat waktu makan terasa lebih hangat dan penuh makna.

3. Mengadakan Permainan 

Permainan papan dapat menjadi sarana sederhana untuk membangun kebersamaan dalam keluarga. Melalui aktivitas ini, anak belajar berpikir strategis, memperkaya kosakata, serta memahami arti sportivitas. Selain permainan papan, parents juga dapat mencoba permainan lain, seperti permainan kartu, permainan tradisional atau permainan digital yang melibatkan interaksi bersama. Kompetisi yang dilakukan secara ramah sering kali memunculkan tawa, percakapan ringan, dan momen kebersamaan yang memperkuat ikatan keluarga.

4. Membuat Klub Buku 

Membaca bersama dapat menjadi sarana memperkuat ikatan keluarga sekaligus menumbuhkan minat literasi pada anak. Orang tua dapat memilih buku yang sesuai dengan usia anak dan meluangkan waktu untuk membaca serta mendiskusikannya bersama. Bagi keluarga dengan anak usia dini, membacakan cerita secara rutin dengan ekspresi dan suara yang beragam dapat meningkatkan ketertarikan anak dalam membaca. Untuk meningkatkan kreativitas, keluarga juga dapat berkreasi dengan membuat alur cerita sederhana sesuai imajinasi masing-masing. 

5. Camping Indoor 

Camping indoor dapat menjadi kegiatan keluarga yang sederhana namun menyenangkan di rumah. Parents dan anak Anda dapat bekerja sama menciptakan ruang bermain dengan memanfaatkan selimut, bantal, atau tenda kecil di ruang keluarga. Kegiatan ini melatih kreativitas dan kerja sama antaranggota keluarga. Setelah area camping selesai, keluarga dapat mengisinya dengan aktivitas santai seperti bercerita, membaca buku, atau menikmati camilan bersama. 

6. Membuat Karya Seni

Kegiatan seni dapat menjadi ruang aman bagi anggota keluarga untuk mengekspresikan diri dan saling mengenal satu sama lain. Parents dan anak Anda dapat mengerjakan karya seni secara mandiri maupun bersama, seperti menggambar, melukis, atau membuat kolase. Aktivitas seni juga berperan dalam mendukung perkembangan anak, termasuk melatih keterampilan motorik halus, kemampuan memecahkan masalah, serta membangun rasa percaya diri dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan. 

7. Membuat Kotak Waktu Keluarga

Membuat kotak waktu keluarga dapat menjadi cara sederhana untuk merekam perjalanan dan kenangan bersama. Parents dan anak Anda dapat memilih benda-benda bermakna, menuliskan pesan atau harapan untuk diri mereka di masa depan, lalu menyimpannya dalam satu wadah khusus. Proses ini membantu anak belajar merefleksikan pengalaman hidup dan menghargai momen yang sedang dijalani bersama keluarga. Ketika kotak waktu tersebut dibuka di kemudian hari, keluarga dapat melihat kembali pertumbuhan, perubahan, dan ikatan emosional yang telah dibangun dari waktu ke waktu.

8. Mengadakan Pertunjukan Bakat

Pertunjukan bakat dapat menjadi cara menyenangkan untuk membangun kedekatan dan mengenal bakat setiap anggota keluarga. Parents dan anak Anda dapat menyiapkan penampilan sederhana sesuai minat masing-masing, seperti bernyanyi, menari, bercerita, atau menunjukkan keterampilan unik lainnya. Suasana yang suportif akan membantu anak merasa aman untuk mengekspresikan diri dan mencoba hal baru. Melalui aktivitas ini, keluarga tidak hanya merayakan bakat individu, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, saling menghargai, dan kebersamaan.

9. Mempelajari Keterampilan Baru Bersama

Mempelajari hal baru bersama anak dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat hubungan. Ketika parents dan anak Anda bersama-sama berada dalam posisi belajar, tercipta lingkungan yang saling mendukung dan bekerja sama menghadapi tantangan. Aktivitas ini dapat berupa keterampilan sederhana seperti origami, memasak resep baru, mempelajari bahasa asing, atau mencoba olahraga ringan bersama. Proses belajar bersama membuka ruang percakapan yang lebih hidup, memperkuat ikatan emosional, dan membantu anak melihat orang tua sebagai sosok yang mau bertumbuh bersama.

10. Menanam Tanaman

Menanam tanaman di dalam rumah dapat menjadi aktivitas sederhana yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Parents dan anak Anda dapat bersama-sama merawat bibit tanaman sambil belajar mengenal proses pertumbuhan. Melalui rutinitas perawatan yang dilakukan secara konsisten, anak belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian. Aktivitas ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan dalam keluarga, seperti tanaman, membutuhkan perhatian dan keterlibatan yang berkelanjutan agar dapat bertumbuh dengan sehat.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai bonding events yang dirancang untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak, baik antara ayah dan anak laki-laki, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak perempuan, maupun ibu dan anak laki-laki. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Alleyne, V. (2025). 20 heartwarming indoor family bonding activities to try. Vanessa Heartfelt.https://vanessaheartfelt.com/20-family-indoor-activities-building-a-place-of-love-and-joy/
  • Waters, K. A., Salinas-Miranda, A., & Kirby, R. S. (2023). The association between parent-child quality time and children’s flourishing level. Journal of Pediatric Nursing, 73, e187-e196. https://doi.org/10.1016/j.pedn.2023.09.008

 

Parenting

Panduan Orang Tua: Mendukung Anak yang Merasa Kesepian

Parents, tanda-tanda anak kesepian tidak selalu mudah dikenali. Anak bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa, berinteraksi dengan teman, atau terlihat aktif di media sosial, tetapi di waktu tertentu menjadi lebih diam atau kesulitan menjelaskan perasaannya. Dalam banyak penelitian, kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan yang dirasakan dibandingkan sekadar jumlah teman yang dimiliki (Buecker et al., 2024).

Tidak semua anak akan secara langsung mengatakan bahwa mereka merasa kesepian. Sebagian anak mungkin belum memahami apa yang mereka rasakan, sementara yang lain memilih untuk tidak bercerita. Situasi ini dapat membuat Parents merasa ragu dalam bersikap: “Harus mendekat atau memberi ruang?” dan “Harus bertanya atau menunggu?” Dalam kondisi seperti ini, membangun kepekaan terhadap pengalaman emosional anak menjadi hal yang penting.

Peran Parents tidak hanya memastikan anak memiliki lingkungan sosial, tetapi juga membantu anak merasa didengar dan diterima. Pendampingan yang tepat dapat membantu anak memahami dan menghadapi pengalaman kesepian dengan cara yang lebih sehat.

1. Mulai dari Mendengarkan, Bukan Langsung Memperbaiki

Tidak semua situasi membutuhkan intervensi langsung dari Parents. Ada kalanya yang lebih dibutuhkan anak adalah kesempatan untuk memproses pengalaman yang sedang ia alami. Ketika Parents terlalu cepat mengambil alih dengan memberikan solusi, proses tersebut justru dapat terhenti. Oleh karena itu, penting bagi Parents untuk memberi ruang agar anak dapat berperan sebagai pembicara, sementara Parents mengambil posisi sebagai pendengar.

Dari sisi anak, kesempatan untuk berbicara menjadi sarana untuk memahami emosinya sendiri sekaligus membangun kepercayaan bahwa Parents hadir tanpa menghakimi (Ehmke, 2026). Sementara itu, dari sisi Parents, proses mendengarkan memungkinkan pengumpulan informasi yang lebih utuh. Dengan pemahaman yang lebih komprehensif, Parents dapat memberikan dukungan yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan anak (Ehmke, 2026).

2. Membangun Ruang Nyaman Agar Anak Mau Curhat

Keterbukaan anak tidak dapat dipaksakan melalui pertanyaan atau nasihat. Anak cenderung lebih mudah berbagi cerita ketika mereka terbiasa merasa diterima dan aman secara emosional, bahkan saat sedang menghadapi perasaan yang sulit atau tidak nyaman. Berbagai temuan penelitian menunjukkan hubungan yang hangat dan suportif dengan orang tua berperan penting dalam kondisi emosional anak, termasuk dalam menurunkan tingkat kesepian dan meningkatkan kesejahteraan psikologis (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Hal ini menekankan bahwa yang berpengaruh bukan sekadar kata-kata, tetapi juga bagaimana Parents hadir dalam interaksi sehari-hari.

Untuk memfasilitasi percakapan yang aman, Parents dapat mencoba beberapa pendekatan berikut (Ehmke, 2026):

  • Ajukan pertanyaan terbuka yang mendorong anak untuk mengeksplorasi dan menjelaskan pengalamannya lebih dalam

Contohnya, “Apa bagian dari hari ini yang paling membuatmu kesal?” atau “Apa yang paling kamu sukai saat bermain dengan temanmu?”

  • Sampaikan komentar jujur tetapi tidak menghakimi sebagai pembuka percakapan

Alih-alih langsung bertanya atau menghakimi, Parents dapat memulai dari apa yang terlihat. Misalnya, “Belakangan kamu kelihatan lebih pendiam setelah pulang sekolah,” lalu beri ruang agar anak menanggapi.

  • Tunjukkan bahwa perasaan anak dapat diterima

Parents perlu memvalidasi pengalaman anak dengan menunjukkan bahwa perasaannya dapat diterima dengan mendengarkan secara tenang dan tidak berlebihan dalam merespons. Misalnya, ketika anak tampak kecewa, Parents bisa mengatakan, “Wajar kalau kamu kesal karena itu tidak berjalan seperti yang kamu harapkan,” atau “Sepertinya situasi tadi memang bikin frustrasi, ya?” 

3. Membimbing Anak Mengenali dan Mengelola Kesepian

Tidak semua anak langsung menyadari bahwa yang mereka rasakan adalah kesepian. Parents dapat membantu anak mengenali dan mengelola perasaan ini dengan cara berikut (Williams, 2022):

  • Bantu anak menyebutkan perasaannya

Anak terkadang kesulitan menyadari atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Parents dapat memberi gambaran dengan menceritakan pengalaman pribadi, misalnya “Dulu, waktu Mama seusia kamu, ada saat-saat di mana Mama merasa sedih karena teman-teman di sekolah sedang sibuk. Mama merasa sendirian, tapi Mama belajar bahwa merasa sepi itu normal. Perasaan sepi itu mendorong Mama untuk mencoba bicara dengan teman baru dan bermain bersama mereka.” Cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa kesepian adalah hal yang normal dan dapat dikelola.

  • Untuk anak kecil

Fokuskan pada memberikan rasa aman dan dukungan emosional. Parents dapat menyediakan buku cerita yang sesuai usia, serta memberikan pelukan atau perhatian ekstra, sehingga anak merasa dicintai dan terlindungi.

  • Untuk anak yang lebih besar

Utamakan mendengarkan dan menghargai semua perasaan anak, termasuk sedih, marah, frustrasi, atau kecewa. Jangan buru-buru memberi solusi atau menyuruh mereka untuk “cepat move on”. Cukup biarkan mereka merasa dimengerti dan validasi perasaannya.

  • Dorong cara kreatif untuk menghadapi kesepian

Ajak anak menyalurkan perasaannya lewat aktivitas yang mereka sukai, seperti menggambar, menulis, bermain musik, atau hobi lainnya. Setelah itu, bantu mereka merencanakan kegiatan yang dapat membuat mereka merasa lebih terhubung dengan orang lain dan tidak sendirian.

4. Membangun Keterampilan Sosial Anak

Anak yang kesulitan bersosialisasi sering merasa canggung, cemas, atau tidak tahu harus mulai dari mana. Parents dapat membantu anak membangun keterampilan sosial secara bertahap dengan cara yang terstruktur dan penuh dukungan (Ehmke, 2026):

  • Rencanakan langkah-langkah kecil

Interaksi sosial dapat terasa menakutkan. Pecah menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dicapai, misalnya menyapa teman, mengajak bermain, atau mengobrol singkat. Siapkan juga rencana cadangan jika respons teman berbeda dari yang diharapkan. Dengan begitu, anak merasa lebih aman dan percaya diri saat mencoba berinteraksi.

  • Latihan dalam lingkungan yang aman

Anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial tanpa tekanan. Hal ini dapat diwujudkan melalui bermain peran, bergiliran (taking turns), atau menyelesaikan konflik sederhana di rumah bersama anggota keluarga atau teman dekat. Pengalaman ini membantu anak belajar menyesuaikan diri secara bertahap dengan berbagai orang dan situasi.

  • Berikan dorongan dan dukungan

Anak yang cemas atau minder biasanya enggan mencoba bersosialisasi. Parents dapat memvalidasi perasaan mereka, memuji usaha yang mereka lakukan, dan menekankan bahwa pengalaman sosial biasanya lebih menyenangkan dari yang mereka bayangkan. Dukungan ini mendorong anak berani mencoba dan belajar dari pengalaman nyata.

  • Bimbing anak menilai situasi dengan lebih realistis

Kadang anak salah menafsirkan situasi sosial, terutama melalui chat atau media sosial. Parents dapat membantu anak meninjau fakta, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan mengenali pola berpikir negatif. Hal ini membantu anak memahami situasi dengan objektif dan tidak mudah cemas berlebihan.

  • Temukan lingkungan sosial yang sesuai minat anak

Anak yang kesulitan menyesuaikan diri mungkin belum menemukan kelompok yang cocok. Parents dapat membantu anak mengeksplorasi kegiatan atau komunitas yang sesuai minat mereka, baik daring maupun luring. Kegiatan yang benar-benar menarik bagi anak membuat mereka lebih nyaman, lebih mudah membangun hubungan, dan meningkatkan rasa percaya diri.

  • Perhatikan keselamatan saat bersosialisasi online

Jika anak bersosialisasi melalui internet, penting bagi Parents untuk memastikan mereka aman dan memahami potensi risiko. Edukasi aktif tentang keamanan digital sangat penting, terutama bagi anak dengan kebutuhan khusus atau yang lebih rentan terhadap situasi berbahaya.

5. Peran Media Sosial dalam Kehidupan Sosial Anak

Media sosial dan perangkat digital kini menjadi bagian penting dari cara anak berinteraksi dengan teman sebaya. Meskipun tidak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka, banyak anak tetap membangun koneksi dan bersosialisasi melalui layar, bahkan terkadang lebih intens daripada yang disadari orang tua (Ehmke, 2026). Gim online, chat, atau platform digital lain dapat menjadi ruang sosial yang memberikan pengalaman kebersamaan dan kerja sama. Beberapa bentuk interaksi online juga dapat menjadi sumber dukungan sosial (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Namun, penting diingat bahwa pengalaman kesepian anak tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa sering mereka menggunakan media sosial atau lamanya waktu online, tetapi lebih pada kualitas hubungan yang mereka rasakan (Buecker et al., 2024).

Hal-hal yang dapat Parents perhatikan (Ehmke, 2026):

  • Amati cara anak bersosialisasi secara digital

Duduklah bersama anak saat mereka bermain gim atau menggunakan media sosial. Tanyakan dengan santai, misalnya:

“Siapa saja temanmu yang lagi main atau ngobrol sama kamu sekarang?”

“Ada teman baru yang kamu kenal dari sini?”

“Kamu senang nggak main sama mereka? Kenapa begitu?”

“Kalau lagi main, ada hal seru atau lucu yang kalian lakukan bareng?”

Pertanyaan ringan seperti ini membantu Parents memahami sejauh mana anak benar-benar terhubung dengan teman sebaya secara digital, tanpa membuat mereka merasa diawasi atau tertekan.

  • Hargai kenyamanan sosial anak

Beberapa anak lebih nyaman bersosialisasi secara online dan merasa senang dengan interaksi digital mereka. Hal ini wajar, terutama bagi anak yang masih kesulitan menyesuaikan diri dalam interaksi tatap muka. Media sosial bisa menjadi cara yang aman untuk membangun rasa percaya diri, memperluas jaringan pertemanan, dan mengurangi rasa kesepian.

  • Seimbangkan interaksi online dan offline

Walaupun interaksi digital bermanfaat, bersosialisasi secara langsung tetap penting untuk perkembangan sosial anak. Jika anak masih kesulitan berinteraksi secara tatap muka, Parents bisa berkonsultasi dengan psikolog anak atau ahli kesehatan mental yang fokus pada perkembangan sosial. Profesional dapat membantu Parents dan anak menemukan strategi agar anak lebih percaya diri dan nyaman dalam interaksi langsung dengan teman sebaya.

6. Kondisi Psikologis Anak dan Bantuan Profesional

Kesepian memang wajar dialami, tetapi jika berlangsung terus-menerus, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional anak (Williams, 2022; Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Faktor psikologis, seperti rasa percaya diri yang rendah, rasa canggung dalam situasi sosial, atau kecenderungan menarik diri dari interaksi dengan orang lain, sangat memengaruhi pengalaman kesepian (Buecker et al., 2024). Anak yang kurang percaya diri cenderung lebih rentan merasa terisolasi dan kesulitan membangun hubungan dengan teman sebaya (Buecker et al., 2024).

Untuk membantu anak, Parents dapat melakukan beberapa langkah berikut (Williams, 2022):

  • Amati perubahan perilaku dan suasana hati

Perhatikan anak secara konsisten selama beberapa minggu. Perubahan signifikan bisa menjadi tanda bahwa kesepian mulai berdampak pada kesejahteraan mereka.

  • Fasilitasi anak untuk berbagi perasaan

Dorong anak untuk menceritakan apa yang mereka rasakan kepada orang dewasa yang mereka percayai, seperti anggota keluarga, guru, atau pelatih. Dukungan dari sosok yang aman membuat anak merasa didengar, dimengerti, dan tidak sendirian menghadapi perasaannya.

  • Jangan ragu mencari bantuan profesional

Jika upaya Parents belum cukup dan anak masih merasa kesepian, konsultasi dengan dokter anak atau terapis kesehatan mental sangat dianjurkan. Bantuan profesional dapat memberikan strategi yang tepat untuk mengelola perasaan anak, mencegah masalah psikologis yang lebih serius, dan mendukung perkembangan keterampilan sosial yang sehat.

Parents, Sudahkah Anak Merasa Terhubung?

Menyadari bahwa anak sedang merasa kesepian bukan untuk membuat Parents merasa bersalah atau khawatir berlebihan. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan setiap keluarga memiliki dinamika uniknya masing-masing. Yang paling penting adalah kesediaan Parents untuk hadir, peka, dan terus belajar memahami kebutuhan emosional anak.

Parents bisa mulai dengan pertanyaan sederhana:

Apakah anak saya merasa didengar ketika ia ingin berbagi?

Apakah ia memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaan?

Apakah saya benar-benar hadir dan fokus ketika ia membutuhkan perhatian?

Langkah-langkah kecil seperti mendengarkan dengan sepenuh hati, membangun kedekatan emosional, dan mendampingi anak memahami hubungan sosial dapat memberikan dampak besar. Kesepian bukan sesuatu yang harus dihapus seketika, melainkan pengalaman yang bisa dihadapi bersama secara bertahap.

Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui berbagai program dan layanan, seperti layanan konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukanlah lingkungan yang sempurna, melainkan satu tempat di mana ia merasa benar-benar diterima, dihargai, dan aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Referensi

Binte Mohammad Adib, N. A., & Sabharwal, J. K. (2023). Experience of loneliness on well-being among young individuals: A systematic scoping review. Current Psychology, 43(3), 1965–1985. https://doi.org/10.1007/s12144-023-04445-z

Buecker, S., Petersen, K., Neuber, A., Zheng, Y., Hayes, D., & Qualter, P. (2024). A systematic review of longitudinal risk and protective factors for loneliness in youth. Annals of the New York Academy of Sciences, 1542(1), 620–637. https://doi.org/10.1111/nyas.15266

Ehmke, R. (2026, March 13). How to Help Kids Who Are Lonely: What parents can say to kids who are struggling socially and how they can help. Child Mind Institute. Retrieved March 17, 2026, from https://childmind.org/article/how-to-help-kids-who-are-lonely/

Williams, C. (2022, March 3). 4 Ways to Help Your Child Cope With Loneliness. Parent Cue. Retrieved March 17, 2026, from https://theparentcue.org/4-ways-to-help-your-child-cope-with-loneliness/

Parenting

Mengapa Anak Tantrum dan Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Bagi banyak orang tua, tantrum sering terasa seperti badai kecil yang datang tanpa peringatan. Anak yang tadinya baik-baik saja bisa tiba-tiba menangis keras, berteriak, menendang, atau melempar benda. Situasi ini kerap membuat orang tua panik, malu, atau merasa gagal mengendalikan anak. Perasaan tersebut wajar untuk muncul, namun penting untuk dipahami bahwa tantrum bukanlah tanda anak nakal, dan juga bukan bukti bahwa orang tua telah gagal.

Pada anak-anak kecil, terutama balita, tantrum adalah bagian normal dari proses perkembangan. Di usia ini, anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola emosi kuat seperti marah, kecewa, atau frustrasi. Akibatnya, tantrum muncul sebagai bentuk keterbatasan anak dalam mengekspresikan perasaannya dengan baik.

Di balik perilaku yang tampak melelahkan, anak sebenarnya sedang mempelajari keterampilan penting, seperti mengenali perasaan, belajar menunggu, mengikuti aturan, berinteraksi dengan orang lain, serta mengekspresikan diri dengan cara yang lebih tepat. Karena itu, alih-alih melihat tantrum sebagai krisis yang harus segera “dihentikan”, momen ini justru dapat menjadi kesempatan berharga untuk mendidik anak. Lalu, bagaimana parents dapat menghadapi tantrum anak?

Cara Menangani Tantrum Anak

Menangani tantrum anak tidak cukup dengan reaksi spontan atau cara instan untuk menghentikan tangisan. Parents perlu pendekatan yang terarah agar tantrum tidak hanya berhenti sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar anak. Miller (2025) membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan parents untuk menangani tantrum anak:

1. Melakukan Penilaian

Langkah awal yang perlu dilakukan parents adalah memahami apa yang memicu tantrum pada anak. Parents dapat mengamati apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah tantrum muncul. Dari pola-pola inilah parents dapat melihat situasi apa saja yang sering memicu ledakan emosi.

Sebagian besar tantrum sebenarnya cukup bisa diprediksi. Tantrum biasanya muncul saat anak diminta melakukan hal yang menuntut kontrol diri, seperti berhenti bermain, mengerjakan PR, atau bersiap tidur. Ledakan emosi ini sering kali menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami ketidaknyamanan yang belum mampu mereka atasi. Namun, jika tantrum muncul secara berlebihan atau tidak wajar, hal ini bisa menjadi sinyal adanya masalah yang perlu diperhatikan lebih lanjut, seperti pengalaman traumatis, kecemasan, kesulitan belajar, ADHD, atau tantangan perkembangan lainnya.

2. Mengelola Pemicu Tantrum

Tidak semua pemicu tantrum bisa dihilangkan, seperti kewajiban belajar atau mengerjakan PR. Namun, parents dapat mengatur pendekatan baru agar anak mau terlibat dalam aktivitas tersebut. Langkah sederhana seperti mengatur rutinitas dengan lebih jelas atau menyesuaikan tuntutan dengan kemampuan anak dapat membantu mencegah tantrum. Misalnya, jika anak kesulitan mengerjakan PR, parents dapat membuat tugas terasa lebih ringan dengan memberi waktu istirahat singkat, membagi tugas besar menjadi bagian-bagian  kecil, dan memberikan dukungan di bagian yang terasa sulit bagi anak. Pendekatan ini membantu anak merasa lebih mampu menghadapi tantangan.

3. Menanggapi Tantrum

Tantrum juga bisa menjadi perilaku yang dipelajari anak. Ketika parents merasa tidak tahan menghadapi tantrum dan akhirnya mengalah, anak dapat belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, penting bagi parents untuk tidak menghentikan tantrum dengan langsung menuruti keinginan anak. Bahkan respons seperti menegur, memarahi, atau berusaha membujuk anak dapat memperkuat perilaku tantrum.

Daripada memberi perhatian pada tantrum, parents perlu mengarahkan perhatian pada perilaku yang ingin dibangun. Berikan apresiasi saat anak mulai menenangkan diri, mengikuti arahan, atau mencoba menyampaikan keinginannya dengan cara yang lebih baik. Dengan begitu, anak belajar bahwa respons yang tepat terhadap rasa frustasi akan mendapatkan perhatian positif.

Selain itu, parents sebaiknya tidak bernegosiasi dengan anak saat emosi masih memuncak. Anak yang sedang marah belum berada dalam kondisi yang siap untuk berdiskusi. Latihan bernegosiasi, menyelesaikan masalah, dan mengungkapkan perasaan sebaiknya dilakukan ketika anak sudah tenang. 

4. Mencontohkan Perilaku Tenang

Parents perlu menjadi contoh dari sikap tenang dan cara berkomunikasi yang ingin diajarkan kepada anak. Ketika parents mampu menjaga emosi dan menyampaikan harapan dengan jelas, anak lebih mudah memahami apa yang diharapkan dari dirinya. Oleh karena itu, parents dapat menyampaikan arahan dengan lebih spesifik. Misalnya, menjelaskan bahwa anak diharapkan duduk dengan tenang saat makan, menjaga tangan tetap pada tempatnya, dan menggunakan kata-kata yang sopan. Parents juga dapat memberikan pujian atau hadiah saat anak berhasil melakukannya.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Miller, C. (2025, Mei 5). How to handle tantrums and meltdowns. Child Mind Institute. https://childmind.org/article/how-to-handle-tantrums-and-meltdowns/
Parenting

Relasi yang Mengancam: Orang Tua sebagai Benteng Perlindungan Anak dari Grooming

Pernahkah Parents merasa anak tiba-tiba menjadi lebih tertutup, mudah cemas, atau justru terlihat terlalu bergantung pada seseorang? Perubahan semacam ini kerap dianggap wajar, apalagi ketika anak mulai memasuki usia sekolah atau beranjak remaja. Namun, dalam beberapa situasi, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan proses grooming.

Grooming tidak selalu datang dalam bentuk ancaman atau paksaan. Justru, ia sering kali dibungkus dalam relasi yang tampak hangat, penuh perhatian, dan seolah mendukung anak. Karena itu, upaya melindungi anak tidak cukup hanya dengan aturan dan pengawasan. Hubungan emosional yang hangat dan aman antara orang tua dan anak adalah benteng terkuatnya.

Grooming Tidak Selalu tentang Kekerasan

Grooming adalah serangkaian upaya manipulatif yang dilakukan secara sengaja untuk membangun akses, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan anak, sekaligus menurunkan kewaspadaan lingkungan di sekitarnya sehingga menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya eksploitasi di kemudian hari (Winters et al., 2021). Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap dan sering kali terasa “normal”.

Biasanya, pelaku memulai dengan memberi perhatian lebih, pujian, hadiah kecil, atau menjadi tempat curhat bagi anak. Anak dibuat merasa istimewa, dimengerti, dan diperhatikan. Setelah anak mulai percaya, pelaku perlahan melanggar batas, misalnya dengan meminta merahasiakan sesuatu, mengajak berbicara hal-hal pribadi atau tidak pantas, hingga menyentuh tubuh anak.

Karena terjadi perlahan, anak sering tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Bahkan ketika anak merasa tidak nyaman, ia bisa bingung, takut, atau merasa bersalah untuk bercerita. Hal inilah yang membuat proses grooming kerap sulit dikenali, baik oleh anak maupun orang dewasa di sekitarnya.

Parents perlu memahami bahwa grooming bukanlah peristiwa tunggal, tetapi rangkaian interaksi yang berkembang dari waktu ke waktu. Dalam banyak kasus, pelaku justru merupakan orang yang dikenal dan dipercaya oleh anak maupun keluarga, sehingga ancaman ini semakin sulit terlihat.

Anak yang Sedang Mencari Rasa Aman Lebih Mudah Terjebak

Setiap anak memiliki kebutuhan emosional yang unik. Anak membutuhkan rasa diterima, didengarkan, dihargai, dan merasa aman dalam relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara optimal, baik karena keterbatasan waktu, dinamika keluarga, maupun tantangan perkembangan tertentu, anak bisa menjadi lebih mudah terikat pada siapa pun yang memberinya perhatian dan rasa aman.

Pelaku grooming sering mendekati anak yang terlihat kesepian, kurang percaya diri, atau sedang membutuhkan figur yang mau mendengarkan dan memahami mereka (Nuryah & Warsono, 2023). Bagi anak, perhatian tersebut bisa terasa sangat berarti, bahkan ketika ada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.

Hubungan anak dengan Parents juga berpengaruh besar. Jika anak merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita di rumah, misalnya karena takut dimarahi, tidak didengarkan, atau dianggap berlebihan, ia bisa mencari rasa aman di luar. Ketika itu terjadi, relasi yang tidak sehat dapat terbentuk tanpa disadari. Anak kemudian merasa terjebak karena takut kehilangan satu-satunya sumber perhatian yang ia rasakan.

Di era digital, tantangan ini semakin kompleks. Media sosial, gim daring, dan aplikasi pesan memungkinkan seseorang membangun kedekatan emosional dengan anak tanpa bertemu langsung (Anggraeny et al., 2023; Salamor et al., 2020). Proses ini sering dimulai dari percakapan biasa dan berkembang menjadi hubungan yang terasa sangat dekat. Tanpa pendampingan emosional dari orang tua, anak bisa merasa lebih dimengerti oleh orang di dunia maya dibandingkan oleh keluarganya sendiri.

Orang Tua sebagai Benteng Perlindungan Anak

Melindungi anak dari grooming bukan hanya soal membatasi penggunaan gawai atau memeriksa aktivitas daring anak. Benteng terkuat justru bisa dibangun melalui hubungan yang penuh rasa percaya, sehingga menghadirkan rasa aman.

Brennan dan McElvaney (2020) menjelaskan bahwa Parents berperan penting dalam membantu anak berani terbuka. Hal ini dapat dilakukan melalui sikap-sikap sederhana dalam keseharian, seperti:

  1. Membangun kepercayaan agar anak merasa nyaman untuk bercerita,
  2. Membantu anak memahami bahwa pengalaman tidak nyaman yang dialaminya bukanlah kesalahannya,
  3. Lebih peka terhadap perubahan sikap anak, misalnya anak terlihat murung, cemas, atau menarik diri,
  4. Memperhatikan isyarat atau perilaku anak yang menunjukkan ada sesuatu yang mengganggunya, meskipun ia belum mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, dan
  5. Bertanya dengan lembut tentang apa yang mungkin sedang dialami anak.

Anak pun akan lebih terlindungi ketika merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau disalahkan, didengarkan dengan sungguh-sungguh, dan yakin bahwa Parents akan benar-benar peduli serta berusaha membantunya.

Parents bisa mulai dari hal sederhana, seperti rutin meluangkan waktu untuk mengobrol tentang hari anak, perasaannya, dan pengalamannya. Saat anak berbagi, usahakan merespons dengan tenang dan penuh empati. Sikap ini membantu anak merasa aman untuk melanjutkan ceritanya.

Selain itu, Khotimah dan Casmini (2024) menambahkan pentingnya membekali anak dengan pemahaman dasar tentang batasan diri sebagai bagian dari upaya pencegahan grooming. Penjelasan mengenai bagian tubuh yang bersifat pribadi, hak anak untuk berkata tidak, dan pentingnya memberi tahu orang tua jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman dapat disampaikan secara bertahap sesuai usia anak tanpa menakut-nakuti.

Kehadiran orang tua yang konsisten secara fisik dan emosional adalah bentuk perlindungan yang terbaik. Anak yang merasa diperhatikan dan dihargai di rumah cenderung memiliki benteng diri yang kuat, sehingga tidak mudah mencari perhatian secara berlebihan melalui relasi asing yang berisiko di luar rumah.

Parents, Sudahkah Anak Merasa Aman di Rumah?

Menyadari adanya ancaman grooming bukan untuk membuat Parents merasa takut, bersalah, atau curiga berlebihan. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan setiap keluarga memiliki tantangan masing-masing. Yang terpenting adalah kesediaan untuk terus hadir, peka, dan belajar bersama anak.

Parents bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri:

Apakah anak saya merasa aman untuk bercerita? Apakah saya benar-benar hadir ketika ia berbagi perasaannya?

Langkah kecil seperti mendengarkan dengan penuh perhatian dan membangun kedekatan emosional dapat memberi dampak besar bagi rasa aman anak.

Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents. Kami menyediakan berbagai program dan layanan, seperti Parental Guidance dan Raising Future-Ready Kids, serta layanan konseling, untuk membantu Parents membangun relasi keluarga yang sehat dan aman. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Melindungi anak dari grooming bukanlah tugas yang harus dijalani sendirian. Dengan hubungan yang hangat, komunikasi yang terbuka, dan dukungan yang tepat, Parents dapat menjadi benteng perlindungan terkuat bagi anak dalam menghadapi ancaman relasi di sekitarnya.

 

Referensi

  • Anggraeny, K. D., Ramadhan, D. N., Sugiharto, G., Khakim, M., & Ali, M. (2023). Cyber child grooming on social media: Understanding the factors and finding the modus operandi. International Journal of Law and Politics Studies, 5(1), 180–188. https://doi.org/10.32996/ijlps.2023.5.1.21
  • Brennan, E., & McElvaney, R. (2020). What helps children tell? A qualitative meta‐analysis of child sexual abuse disclosure. Child Abuse Review, 29(2), 97–113. https://doi.org/10.1002/car.2617
  • Khotimah, R., & Casmini, C. (2024). Child grooming: Sex education as a preventive solution. KONSELI Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E-Journal), 11(1), 15–22. https://doi.org/10.24042/kons.v11i1.15345
  • Nuryah, A. S., & Warsono, W. (2023). Child grooming pada media sosial sebagai modus baru pelecehan seksual anak di desa kedungpeluk. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(2), 13096–13104. https://doi.org/10.31004/jptam.v7i2.8470
  • Salamor, A. M., Mahmud, A. N. F., Corputty, P., & Salamor, Y. B. (2020). Child grooming sebagai bentuk pelecehan seksual anak melalui aplikasi permainan daring. SASI, 26(4), 490. https://doi.org/10.47268/sasi.v26i4.381
  • Winters, G. M., Kaylor, L. E., & Jeglic, E. L. (2021). Toward a universal definition of child sexual grooming. Deviant Behavior, 43(8), 926–938. https://doi.org/10.1080/01639625.2021.1941427
Parenting

Terlalu Sayang? Waspada Overparenting pada Anak

Parents, selama menjadi orang tua, apakah anda selalu mengawasi dan khawatir dengan setiap gerak-gerik anak? Tidak sampai di situ saja, parents juga berperan dalam membuat setiap keputusan dan memecahkan setiap masalah yang dimiliki oleh anak anda. 

Jika hal-hal tersebut parents lakukan, ada kemungkinan bahwa anda menunjukkan tanda-tanda overparenting. Pengasuhan dengan pendekatan ini bermaksud baik karena menyalurkan rasa cinta dan kepedulian pada anak, namun karena diberikan dalam porsi besar, secara tidak sengaja dapat menghambat pertumbuhan dan kemandirian anak. Orang tua biasanya akan melibatkan diri dalam semua aspek kehidupan anak yang terkadang berdampak dan merugikan diri anak tersebut.

Apa itu Overparenting?

Overparenting atau yang sering disebut sebagai “helicopter parenting” adalah perilaku orang tua yang melibatkan diri secara berlebihan dalam setiap aspek kehidupan anak mereka. Pendekatan ini ditandai dengan keinginan yang mendalam untuk melindungi anak dari segala bentuk kegagalan, ketidaknyamanan, atau tantangan. Helicopter parenting akan merasa bangga karena dapat terlibat dalam kehidupan anak mereka dan sering kali tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan gaya pengasuhan yang dilakukan. 

Overparenting berbeda dengan pengasuhan biasa terutama dalam hal pemberian otonomi dan kontrol terhadap anak. Pengasuhan yang wajar melibatkan bimbingan kepada anak, penetapan batasan, dan membiarkan mereka mengalami konsekuensi alamiah untuk memupuk kemandirian dan ketangguhan anak. Sebaliknya, overparenting ditandai dengan keterlibatan dan kontrol yang berlebihan, di mana orang tua mengatur setiap aspek kehidupan anak, mulai dari memecahkan masalah hingga membuat keputusan untuk mereka. Pendekatan ini membuat anak tidak berani menghadapi tantangan dan belajar dari kesalahan, sehingga menimbulkan ketergantungan dan berkurangnya rasa percaya diri. Pengasuhan yang teratur mendukung pertumbuhan anak menjadi individu yang mandiri, pengasuhan yang berlebihan justru menghambat kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan hidup secara mandiri.

 

Contoh Overparenting dalam Kehidupan Sehari-hari: 

 

Terlalu mengatur segala hal:

  • Menentukan semua jadwal anak, dari bangun tidur hingga waktu belajar.
  • Memilih semua teman yang boleh bermain dengan anak.
Melakukan semua tugas anak:

  • Membantu anak menyelesaikan tugas sekolah hingga detail terkecil.
  • Menyiapkan semua keperluan anak, tanpa melibatkan anak untuk membantu dan mandiri.
Tidak membiarkan anak mengalami kegagalan:

  • Selalu siap sedia membantu anak ketika menghadapi kesulitan.
  • Menghindari anak dari situasi yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman atau gagal.
  • Menyalahkan orang lain jika anak membuat kesalahan.
Terlalu khawatir dengan keselamatan anak:

  • Menjemput dan mengantar anak ke mana pun, bahkan di jarak yang dekat.
  • Tidak mengizinkan anak bermain di luar rumah karena takut terjadi sesuatu.
  • Selalu memantau aktivitas anak.

Remembering to look for opportunities to take one step back from solving our child’s problems will help us build the resilient, self-confident kids we need.Deborah Gilboa, Md

Efek dari Overparenting

  • Berkurangnya kepercayaan dan harga diri karena anak merasa bahwa orang tua tidak mempercayainya untuk melakukan hal tertentu sendirian. Anak juga dapat merasa bahwa ia tidak akan mampu mengatasi tantangan, tanpa campur tangan orang tuanya.
  • Coping skill yang tidak terlatih karena anak merasa kewalahan atau tidak berdaya saat menghadapi tantangan. Hal ini disebabkan anak tidak belajar bagaimana mengelola stres, kekecewaan, atau kegagalan mereka karena jarang terpapar dengan pengalaman-pengalaman tersebut.
  • Defisit keterampilan sosial, anak-anak yang diasuh secara berlebihan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara bebas dengan teman sebaya, sehingga kurang berkembangnya keterampilan sosial mereka. Anak mungkin akan kesulitan dalam menyelesaikan konflik, bekerja dalam tim, dan memiliki empati terhadap sesama karena tidak pernah mengalami situasi sosial secara mandiri.
  • Ketidakmampuan untuk menangani kritik atau feedback.
  • Rasa berhak atas sesuatu, anak-anak yang kehidupan sosial dan akademiknya selalu diatur oleh orang tua, dapat menjadi terbiasa untuk selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang dapat menimbulkan sikap merasa berhak atas banyak hal.
  • Keterampilan hidup yang tidak berkembang, orang tua yang selalu mengikatkan sepatu anak, mencuci piring, menyiapkan makan, dan mencuci pakaian, bahkan setelah anak secara mental dan fisik mampu melakukan tugas tersebut, dapat mencegah anak untuk menguasai life skills yang ada.

Penelitian menunjukkan banyak konsekuensi negatif dari pengasuhan yang berlebihan di antara anak-anak yang sedang tumbuh menjadi dewasa, seperti masalah kepribadian dan psikologis (menuntut hak, perfeksionisme), kurangnya kompetensi yang memadai (self-regulation, coping skills, kompetensi pertemanan dan berpacaran), internalisasi (kecemasan, depresi, kepuasan hidup yang rendah) dan masalah yang bersifat eksternal misalnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan kecanduan media sosial (Cook, 2020; Hong & Cui, 2019; Segrin et al., 2015). Candel (2022) menyoroti efek tidak langsung yang signifikan dari pengasuhan yang berlebihan terhadap kepuasan relasi orang dewasa dan strategi fungsional untuk mengelola konflik dengan pasangan.

Penelitian menunjukkan banyak konsekuensi negatif dari pengasuhan yang berlebihan di antara anak-anak yang sedang tumbuh menjadi dewasa, seperti masalah kepribadian dan psikologis (menuntut hak, perfeksionisme), kurangnya kompetensi yang memadai (self-regulation, coping skills, kompetensi pertemanan dan berpacaran), internalisasi (kecemasan, depresi, kepuasan hidup yang rendah) dan masalah yang bersifat eksternal misalnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan kecanduan media sosial (Cook, 2020; Hong & Cui, 2019; Segrin et al., 2015). Candel (2022) menyoroti efek tidak langsung yang signifikan dari pengasuhan yang berlebihan terhadap kepuasan relasi orang dewasa dan strategi fungsional untuk mengelola konflik dengan pasangan.

Membenahi Pola Pengasuhan yang Berlebihan

Parents, mengenali tanda-tanda overparenting adalah langkah pertama untuk membina hubungan yang lebih harmonis dengan anak. Selanjutnya, parents dapat menetapkan batasan yang jelas untuk menjauhkan diri dari perilaku overparenting. Tanda-tanda lain dari overparenting adalah terlalu menekankan pada kesuksesan dan pencapaian. Coba sesuaikan ekspektasi orang tua untuk lebih fokus pada usaha, pembelajaran, dan kemajuan anak. Hal ini dapat membantu anak menghargai proses pertumbuhan mereka sendiri dan mengurangi tekanan yang tidak semestinya. Orang tua juga dapat mulai belajar untuk mendorong anak mengambil keputusan dan mengambil tanggung jawab yang sesuai untuk menumbuhkan kemandirian mereka. Alih-alih melindungi anak dari setiap masalah, biarkan anak menghadapi tantangan dan belajar dari setiap kesalahan mereka.

Aspek yang tak kalah penting dalam memperbaiki pola asuh yang berlebihan adalah menanamkan rasa percaya pada kemampuan anak. Kepercayaan ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong anak untuk menghadapi tantangan baru secara mandiri dan membiarkan mereka berjuang. Hal ini juga berarti membiarkan anak melakukan tugas-tugas yang mampu mereka lakukan dengan baik secara fisik dan mental mereka.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai parenting yang sesuai dengan anak anda, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Beberapa program terkait parenting yang tersedia, yaitu raising future-ready kids, parental guidance, parental seminar, dan beberapa program lainnya. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

The key, however, is being involved while still giving your child room to grow, learn new skills, and rebound from failure on their own.” – Kate Bayless

 

Referensi:

Bayless, K. (2024, April 26). What is helicopter parenting, and how does it impact kids? Parents. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/what-is-helicopter-parenting/ 

Candel, O. (2022). The Link between Parenting Behaviors and Emerging Adults’ Relationship Outcomes: The Mediating Role of Relational Entitlement. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(2), 828. https://doi.org/10.3390/ijerph19020828 

Cook, E. C. (2020). Understanding the Associations between Helicopter Parenting and Emerging Adults’ Adjustment. Journal of Child and Family Studies, 29(7), 1899–1913. https://doi.org/10.1007/s10826-020-01716-2 

Hong, P., & Cui, M. (2019). Helicopter parenting and college students’ psychological maladjustment: the role of self-control and living arrangement. Journal of Child and Family Studies, 29(2), 338–347. https://doi.org/10.1007/s10826-019-01541-2 

Segrin, C., Givertz, M., Swaitkowski, P., & Montgomery, N. (2013). Overparenting is Associated with Child Problems and a Critical Family Environment. Journal of Child and Family Studies, 24(2), 470–479. https://doi.org/10.1007/s10826-013-9858-3

 

 

 

Parenting

Edukasi Seksualitas Anak dari Perspektif Orang Tua dan Guru “ConnecTime”

Parents, berbicara seksualitas dengan anak bukan hanya sekedar pembahasan mengenai hubungan seks di luar nikah, seks bebas, ataupun pornografi.

 

Seksualitas termasuk memiliki aspek biopsikososial (biologis, psikologis, dan sosial) bagi anak dan perlu dikenalkan kepada anak sedini mungkin. Contohnya, pendekatan seksual secara sosial berkaitan dengan gender, peran gender, hubungan dengan orang lain, dan bagaimana seseorang mengomunikasikan perasaan tertentu terhadap orang lain. Maka dari itu, seksualitas merupakan spektrum yang sangat luas, bukan hanya berkaitan dengan hubungan suami istri.

Pandangan manusia yang seringkali terlalu sempit mengenai seksualitas membuat pembahasan mengenai hal ini menjadi tabu dan dinilai tidak baik. Padahal, seksualitas merupakan hal yang sangat luas dan bermakna untuk Parents kelola. Tanpa kita sadari, seksualitas dapat ditemukan di banyak media, seperti lirik lagu, bacaan, komik, dan film-film yang tersebar luas. Seksualitas dalam bentuk lirik lagu menggambarkan perasaan suka atau tertarik pada seseorang dan hal ini lumrah terjadi. Maka, ketika orang tua tidak membicarakan seksualitas dengan anak, orang tua menjadi satu-satunya pihak yang tidak berbicara hal tersebut di kehidupan anak.

Pembicaraan mengenai seksualitas harus bisa dibicarakan seperti hal biasa agar persepsi bahwa hal tersebut tabu, tidak terjadi lagi.

Di bawah ini akan dibahas mengenai topik seputaran seksualitas pada anak melalui perspektif orang tua dan guru.

“Apa tantangan membicarakan seksualitas bersama anak?”

Dari sudut pandang orang tua, tantangan pertama berkaitan dengan pengetahuan orang tua terkait seksualitas. Kurangnya pengetahuan akan membuat orang tua kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sang anak. Hal ini juga dapat menghadirkan perasaan tidak nyaman dan tabu untuk membicarakan seputar seksualitas dengan anak.

Dari sudut pandang guru, tantangan ini berkaitan dengan perbedaan tingkat pengetahuan dan keterpaan anak terkait seksualitas, membuat edukasi di sekolah mengenai seksualitas tidak bisa disamaratakan untuk semua anak.

“Hal yang dapat terjadi ketika tidak ada perbincangan mengenai seksualitas dengan anak?”

Anak yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya di dalam keluarga. Juga, karena mudahnya akses mendapatkan informasi melalui media sosial. Anak akan mencari informasi terlebih dahulu dari luar yang bisa jadi informasi tersebut keliru. Pengetahuan keliru ini dapat membentuk perilaku keliru yang tidak sesuai norma karena rasa penasaran pada anak. Membicarakan seksualitas dengan anak mendorong langkah untuk anak tau dari sumber yang benar. 

Anak yang tidak mendapatkan edukasi seksual di rumah, dapat mudah terbawa oleh perkataan temannya dan ikut arus pergaulan yang salah ketika di sekolah.

Pubertas dan Seksualitas

Remaja yang memasuki fase pubertas mengalami peningkatan hormon yang diartikan secara biologi, merupakan dorongan natural untuk mencari informasi mengenai seksualitas sebanyak-banyaknya.

”Apa dampak media sosial terhadap pengetahuan seksualitas anak?”

Bila anak tidak mendapatkan edukasi seks sejak dini, mereka dapat terpapar dan menonton video pornografi yang bertebaran di medsos karena rasa penasaran, juga melakukan penyimpangan seksual. Anak dapat berdalih bahwa dirinya tidak tahu atau hanya sekedar bercanda untuk melakukan penyimpangan seksual.

“Kapan waktu yang tepat atau di usia berapa anak perlu mendapatkan edukasi seks?”

Bicara seksualitas dengan anak dimulai dari sedini mungkin yang berkaitan dengan konsep seksualitas secara luas. Pembicaraan ini juga dapat dilakukan dengan mengikuti perkembangan kognitif anak.

  • Memperkenalkan edukasi seks bisa dimulai dari bayi. Ketika bayi dipeluk, dijaga, diberikan asi merupakan pendidikan seks. Titik pertama dimana manusia merasa dicintai dan diinginkan oleh orang tuanya. Pendidikan seks nomor satu pada bayi melalui sentuhan dengan kulit. 
  • Pada anak usia dini dengan memperkenalkan anggota tubuh termasuk dengan jenis kelamin, tanpa ada kata ganti yang bisa memiliki makna ganda. Parents, memperkenalkan bahwa ada yang namanya penis dan vagina, sama seperti orang tua memperkenalkan anggota tubuh yang lain. Parents, tidak perlu menggunakan kata ganti seperti burung atau roti tawar karena hal ini akan membingungkan untuk anak. Anak juga dapat diajarkan tentang area privasi yang tidak boleh disentuh, dipermainkan, dan dilihat orang lain.
  • Ketika anak masuk sekolah dasar, anak dapat dibimbing bagaimana menghargai orang lain, memperkenalkan fase pubertas, dan terkait dengan kesehatan tubuh. 
  • Saat remaja, ajak anak berdiskusi mengenai perilaku seksual dan memperkuat anak dalam aspek sosial seperti, pembahasan mengenai pacaran, pernikahan, dan hubungan seks setelah menikah. 

Langkah pertama yang dapat Parents lakukan adalah membangun trust dengan anak, agar anak dapat merasa nyaman dan aman untuk berbicara mengenai seksualitas dengan orang tua. Kedua, Parents dapat melakukan pendampingan penggunaan alat elektronik anak, orang tua tahu apa yang anaknya lihat dan akses di internet. Ketiga, di zaman serba digital ini orang tua dapat mengakses berbagai informasi dari sumber yang terpercaya dan berdasarkan ahlinya melalui media internet, buku, dan sosial media. Hal ini untuk mempersiapkan dan membenarkan pengetahuan anak terkait seksualitas.

Baca juga: Pentingnya Diskusi Tentang Seks Dengan Anak melalui website Focus on the Family Indonesia.

Parenting

Bagaimana Sosok Ayah di Hidup Anaknya?

“Ketika anak menangis, siapa yang pertama mereka cari? Ibu”

“Ketika anak sedang senang, siapa yang mereka bagikan kabar bahagia tersebut? Ibu”

Lalu dimana porsi Ayah dalam hidup sang anak?

Mengapa banyak anak yang mendahulukan sang Ibu ketimbang Ayah disebabkan oleh beberapa hal dasar dalam perjalanan hidup anak. Pertama, secara umum dan banyak terjadi di kehidupan kita, peran mengasuh anak banyak dilimpahkan hanya kepada Ibu, sehingga kebanyakan anak memilih Ibu sebagai figur lekat yang utama (Muslihatun & Santi, 2022). Hal ini akan sangat mungkin membuat anak merasa bahwa sang Ayah tidak hadir secara emosional, yang juga dapat terjadi karena kualitas interaksi ibu-anak cenderung lebih mendalam dibanding interaksi ayah-anak (Nasution, 2021). Kedua, di hampir semua negara dapat terlihat bahwa Ibu menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak karena Ayah yang sibuk bekerja. Hal ini juga yang dapat membuat anak merasa lebih mudah berbicara dengan Ibu terkait perasaan dan kehidupannya. Oleh karena itu, peran Ayah sering kali tidak terlihat dan dirasa tidak seimbang dengan peran Ibu dalam masyarakat kita. Namun, seperti yang kita tahu bahwa Ayah memiliki peran penting untuk potensi dalam hidup anak, bahkan ketika anak sudah dewasa.

Beberapa orang mungkin kesulitan untuk menjelaskan bentuk kasih sayang Ayah kepada anak-anaknya karena seringkali Ayah tidak mengungkapkan hal tersebut secara langsung. Namun, peran Ayah sangat penting untuk anaknya, anak-anak membutuhkan Ayah sebagaimana mereka membutuhkan Ibu untuk merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti. Keterlibatan Ayah yang berkualitas tinggi selama masa kanak-kanak mendorong angka kerja yang lebih tinggi, hubungan yang lebih sehat, dan kualitas hidup yang menguntungkan bagi anak hingga dewasa (Nettle, 2008). Ikatan antara Ayah dan anaknya melibatkan pembentukan pola interaksi yang kuat dan keterikatan emosional erat yang dibangun melalui interaksi terbuka, kasih sayang, kenyamanan, dan keterlibatan.

“Their love may be hidden, but it is unconditional.”

Bila dilihat dari sisi Ayah, banyak dari mereka yang tidak terbiasa untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak seperti yang dilakukan oleh Ibu. Maka, seringkali anak melihat Ayah sebagai sosok yang cuekkepada anak anak-nya. Namun, yang sebenarnya, mungkin begitulah cara Ayah dapat menunjukkan rasa sayang. Mereka, para laki-laki kesulitan menunjukkan kasih sayang secara langsung karena beberapa alasan. Mereka mungkin memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi dan terkadang mendapatkan tekanan sosial berupa stereotip gender, yaitu laki-laki yang menunjukkan sisi emosional mereka mungkin diejek atau dianggap lemah. Ayah seringkali harus berjuang di luar sana melawan kerasnya dunia untuk menghidupi keluarga kecilnya, menciptakan rasa aman, dan menjamin kesejahteraan juga kebahagian anak dan istrinya. Bentuk pengorbanan kecil yang diberikan oleh seorang Ayah seringkali luput dari pandangan kita semua.

Belakangan ini, para Ayah modern telah mendobrak stereotip Ayah yang “cuek” dengan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan dan pendidikan anak. 

  1. Ikut serta dalam menjaga bayi yang baru lahir dengan mengganti popok dan membantu memandikan bayi.
  2. Menjadi pendengar yang baik ketika anak sedang membuka diri dan berbagi pikiran serta emosinya. Ayah dapat mendorong mereka untuk mengekspresikan diri, hal ini akan membantu menumbuhkan kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan antara ayah-anak.
  3. Menghabiskan waktu bersama anak, Ayah hadir secara fisik dan emosional melalui interaksi dengan anak. Aktivitas yang dapat dilakukan, yaitu bermain game, membaca buku, olahraga, dan kegiatan lainnya. 
  4. Selalu ada waktu untuk anak, sebagai contoh duduk di samping anak saat mereka bermain, menjemput pulang dari sekolah, dan makan malam bersama. 
  5. Katakan pada anak bahwa Anda mencintai mereka. Setiap orang tua tentu menyayangi anak mereka. Namun, seberapa sering kita mengatakan hal tersebut kepada mereka? Ayah dapat meyakinkan anak bahwa mereka dicintai setiap hari dengan mengatakan rasa sayang kepada mereka. Ketika anak tahu bahwa Ayah menyayangi mereka, anak akan merasa aman dan didukung saat berada di sekitar Ayahnya.
  6. Membangun rasa saling menghargai dengan menghargai anak. Menanggapi pikiran dan emosi anak dengan serius, meskipun Ayah mungkin tidak dapat memahami beberapa kekhawatiran anak. Meluangkan waktu dan peka terhadap kebutuhan mereka, baik secara fisik maupun emosional.
  7. Mengembangkan minat bersama untuk menjalin ikatan melalui kegiatan yang menyenangkan yang Ayah dan anak sukai. Saling berbagi minat dan kegemaran dengan anak, atau ikut serta dalam kegiatan yang mereka sukai. Misalnya, anak suka bersepeda, Ayah dapat pergi bersepeda dengan anak di setiap minggu.

Menemukan waktu berkualitas dengan anak-anak sering kali bisa menjadi tantangan mengingat tuntutan kehidupan sehari-hari. Namun, para Ayah yang secara aktif mencari waktu untuk terlibat dalam pengalaman ikatan dengan anak-anak mereka akan menciptakan kenangan yang abadi dan memperkuat hubungan ayah-anak. Melalui kata-kata dan tindakan, para Ayah menanamkan pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang berharga, mulai dari mengajari mereka menghormati orang lain hingga menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan, yang menjadikan Ayah sebagai panutan bagi anak-anak mereka.

Dampak dari figur Ayah yang positif akan beresonansi di sepanjang kehidupan anak yang memengaruhi sikap, perilaku, dan keyakinan mereka di masa depan. Beberapa kenangan terindah di masa kanak-kanak sering kali berpusat pada saat-saat yang dibagikan bersama dengan Ayah. Ikatan antara Ayah dan anak adalah hubungan yang tak tergantikan yang membentuk kehidupan keduanya dengan berbagai cara. Mulai dari mematahkan stereotip hingga membangun kepercayaan diri dan menciptakan kenangan indah bersama sang anak, para Ayah memainkan peran penting dalam proses pengasuhan anak. Bahwa, cinta seorang ayah adalah cinta yang membangun kepercayaan diri dan rasa aman pada anak-anaknya.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara Ayah dan anak, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program intentional fathering. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

“If the family is a tree, the father is the root. His efforts aren’t visible, but he keeps the tree alive”- Shipa Goel

 

Referensi:

Muslihatun, W. N., & Santi, M. Y. (2022). Faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini. Window of Health Jurnal Kesehatan, 404–418. https://doi.org/10.33096/woh.vi.131 

Nasution, E. S. (2021). GAMBARAN KELEKATAN ANAK DENGAN ORANG TUA DARI KELUARGA COMMUTER MARRIAGE. Jurnal Psikologi Pendidikan Dna Pengembangan SDM, 10(2), 19–29. https://ejournal.borobudur.ac.id/index.php/psikologi/article/download/857/796 

Nettle, D. (2008). Why do some dads get more involved than others? Evidence from a large British cohort. Evolution and Human Behavior, 29(6), 416-423.e1. https://doi.org/10.1016/j.evolhumbehav.2008.06.002

Youngacademics. (2024, August 5). Father and child connections – young academics. Young Academics. https://www.youngacademics.com.au/father-and-child-connections/ 

UncategorizedParenting

Apresiasi untuk Para Ibu di Seluruh Dunia

Menjadi seorang Ibu adalah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan, kerja keras, dan cinta yang tak terhitung. Dimana setiap langkah yang Ibu ambil selalu ditujukan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anaknya. Meskipun, sering kali kita menyepelekan atau “take it for granted” setiap perjuangan yang sudah dilakukan Ibu kepada kita, anaknya.

Sejarah Hari Ibu bermula dari berbagai tradisi di berbagai negara. Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember, yang bertepatan dengan peringatan Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diadakan pada 22-25 Desember 1928. Kongres tersebut menjadi momentum penting dalam perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Salah satu hasilnya adalah pengakuan terhadap peran ibu dalam membangun bangsa melalui pendidikan dan pembentukan karakter keluarga. Setiap tanggal 22 Desember bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga dapat kita gunakan untuk merefleksikan dan mengapresiasi peran ibu dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Hari tersebut memberikan kesempatan untuk setiap anak dan keluarga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Ibu yang telah mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan kasih sayang demi kebahagiaan mereka. Ibu bukan sebatas figur biasa, tetapi Ibu adalah figur luar biasa di setiap keluarga. Ibu bukan hanya berperan besar dalam hidup sang anak, tapi Ibu sering kali menjadi tiang utama dalam keluarga yang menjaga keharmonisan rumah tangga, serta memberikan ketenangan dan motivasi untuk anak-anaknya.

I can imagine no heroism greater than motherhood” – Lance Conrad

 

Ibu adalah sosok yang sangat spesial dalam hidup kita karena peran dan pengorbanannya yang luar biasa. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Ibu menjadi sosok yang begitu spesial dan sangat mungkin bila kita tidak akan pernah bisa mendeskripsikan keseluruhan cinta Ibu pada anak dan keluarganya.

  • Kasih Sayang Tanpa Syarat

Ibu adalah orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat karena kasih sayang Ibu tidak tergantung pada apapun, di segala waktu dan kondisi yang ada. Cinta ibu adalah cinta yang tulus dan abadi yang selalu ada, bahkan saat kita membuat kesalahan dan dunia tidak berpihak pada kita.

  • Pengorbanan dan Perjuangan

Ibu adalah orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat karena kasih sayang Ibu tidak tergantung pada apapun, di segala waktu dan kondisi yang ada. Cinta ibu adalah cinta yang tulus dan abadi yang selalu ada, bahkan saat kita membuat kesalahan dan dunia tidak berpihak pada kita.

  • Pendukung Terbesar

Saat semuanya terasa sulit, saat banyak tantangan dan kesulitan yang kita rasakan. Ibu akan selalu ada untuk menjadi tempat kita pulang dan menemukan kembali semangat, juga keyakinan untuk bangkit.

  • Pendidik Pertama

Seperti yang banyak orang ketahui, Ibu adalah guru pertama bagi anak. Ia mengajarkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, rasa hormat, kerja keras, kasih sayang, dan banyak lagi. Dari ibu, kita belajar tentang kehidupan dan peran mereka sebagai pendidik sangat menentukan bagaimana kita tumbuh dan berkembang.

  • Pemahaman Tanpa Kata

Ibu sering kali dapat memahami perasaan kita tanpa kita perlu mengungkapkannya. Hubungan Ibu dan anak sering kali begitu dekat, sehingga Ibu bisa merasakan apa yang anaknya rasakan bahkan ketika kita tidak mengatakannya. Kemampuan ibu untuk memahami kebutuhan emosional sang anak menjadikannya sosok yang sangat istimewa.

  • Pengaruh yang Mendalam dalam Kehidupan

Ibu memiliki pengaruh yang mendalam dalam membentuk siapa kita hari ini. Ia tidak hanya membimbing kita dalam hal-hal praktis, tetapi juga memberikan nilai dan keyakinan yang memengaruhi pandangan hidup kita. Dalam banyak hal, cara kita melihat dunia ini sangat dipengaruhi oleh ajaran dan contoh yang diberikan oleh Ibu.

All that I am or hope to be. I owe it to my mother” – Abrahan Lincoln

Cara merayakan Hari Ibu akan berbeda tergantung dengan situasi dan kondisi setiap keluarga. Namun, ada banyak cara pula yang bisa kita lakukan untuk mengekspresikan tanda terima kasih dan kasih sayang kepada Ibu. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk merayakan hari tersebut, yang penting adalah ketulusan dalam menunjukkan rasa terima kasih kita.

Memberikan Hadiah Spesial

Hadiah adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada ibu. Hadiah yang diberikan bisa berupa barang yang Ibu sukai atau pengalaman yang dapat mempererat hubungan, seperti makan malam bersama atau pergi liburan singkat.

Berkumpul Bersama Keluarga

Hari Ibu adalah waktu yang sempurna untuk berkumpul bersama keluarga. Mengadakan makan bersama atau berkumpul di rumah untuk mengenang kenangan indah bersama Ibu akan memberikan suasana yang hangat dan penuh cinta. Selain makan bersama, keluarga juga dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan di rumah, seperti memasak bersama, menonton film, karaoke, atau kegiatan lain yang Ibu sukai.

Membantu Ibu dengan Pekerjaan Rumah

Pada Hari Ibu, memberikan ibu kesempatan untuk beristirahat dan tidak terjebak dengan pekerjaan rumah tangga adalah cara yang penuh makna. Menawarkan bantuan untuk memasak dan membersihkan rumah, bisa menjadi bentuk apresiasi yang sangat dihargai oleh Ibu.

Memberikan Perhatian Emosional

Terkadang, setelah dalam waktu lama Ibu menjadi sosok yang kuat dan tangguh dalam keluarga. Ibu juga membutuhkan waktu untuk berbicara dan merasa didengar. Kita dapat menjadi pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita Ibu, berbagi momen kebahagiaan, kesulitan, atau hanya memberikan pelukan hangat kepada Ibu. Hal-hal ini dapat membuatnya merasa sangat dihargai.

Menulis Surat atau Pesan Terima Kasih

Menulis surat atau pesan terima kasih yang tulus adalah cara yang sangat berarti untuk mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih kita. Mulai dengan menceritakan betapa besar peran Ibu dalam hidup kita dan bagaimana Ia membentuk siapa kita sekarang. Melalui surat atau pesan, kita bisa menunjukkan betapa berharganya Ibu dalam hidup kita.

Membuat Kolase Kenangan atau Album Foto

Kolase foto kenangan atau album foto dapat dibuat sebagai cara untuk mengenang momen-momen indah bersama Ibu. Album foto dapat menjadi hadiah yang menyentuh hati dan mengumpulkan semua kenangan yang tak terlupakan.

Mendukung Ibu dalam Hobi atau Aktivitasnya

Memberikan waktu kepada Ibu untuk melakukan hobi atau aktivitas yang Ia cintai, bisa menjadi cara yang sangat berarti untuk merayakan Hari Ibu. Misalnya, jika Ibu suka berkebun, kita bisa membelikan Ibu beberapa koleksi tanaman baru, peralatan berkebun, dan membantu menghias kebunnya agar Ibu bisa terus berkebun dengan nyaman. 

Piknik di Taman

Menghabiskan waktu bersama ibu dengan piknik di taman adalah cara yang santai dan menyenangkan, kita bisa membawa makanan favorit Ibu dan menikmati waktu berkualitas di alam terbuka, sambil berbincang atau menikmati pemandangan. 

Berjalan-jalan di Pantai atau Taman Alam

Jika ibu menyukai alam, kita bisa mengajak Ibu untuk berjalan-jalan di pantai, hutan, atau taman alam agar Ibu merasa lebih rileks dan tenang.

Mengikuti Kelas atau Workshop Bersama

Kelas atau workshop yang bisa diikuti bersama Ibu, seperti kelas memasak, melukis, atau membuat kerajinan tangan. Hasil dari mengikuti kelas tersebut dapat dijadikan hadiah atau kenang-kenangan untuk Ibu.

Menyaksikan Pertunjukan atau Acara Hiburan

Mengajak Ibu untuk menonton pertunjukan atau menghadiri acara yang Ia sukai, seperti konser musik, teater, atau film. 

Hari Ibu adalah momen yang penuh makna untuk mengenang jasa dan pengorbanan Ibu. Perayaan ini tidak hanya sekadar memberikan hadiah, tetapi juga menghargai setiap peran yang telah Ibu berikan dalam kehidupan kita. Baik dengan cara yang sederhana atau istimewa, kita dapat membuat Hari Ibu menjadi momen yang tak terlupakan bagi sosok Ibu yang kita cintai. Bahkan kadang yang Ibu perlukan dari sang anak bukan sesuatu yang besar dan mewah, tapi sesederhana ketika kita dapat meluangkan waktu untuk menemui, mengobrol, dan menikmati masakan mereka.

Apa yang kita lakukan untuk merayakan Hari Ibu, tidak hanya terbatas pada tanggal 22 Desember atau hari tertentu, tetapi setiap hari adalah kesempatan untuk menunjukkan rasa cinta, penghargaan, dan terima kasih kepada Ibu.

Life doesn’t come with a manual, it comes with a Mum.” – Martha Brook

 

Bagi anda yang ingin mendapatkan info dan tips-tips untuk membangun keluarga, anda dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @focusonthefamilyindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi karena FOFI berdedikasi untuk memperlengkapi anda, membangun keluarga yang bahagia