Family Indonesia

Category: Parenting

MarriageParentingUncategorizedYouth

Stres Ujian? Bagaimana Cara Menghadapinya?

Champs, apakah kalian sering merasa gugup, di bawah tekanan, atau khawatir mendekati, menjelang atau setelah waktu ujian? Kalian mungkin mengalami sesuatu yang namanya exam stress atau stres ujian.

Stres adalah sesuatu yang normal untuk dialami oleh setiap individu kok champs. Mengalami ‘exam stress’ adalah pengalaman yang wajar bagi kalian yang merupakan pelajar. Exam stress bisa muncul dari ekspektasi terhadap nilai akademik, dorongan dari orang tua, guru atau teman, dan lainnya.

Adanya stres yang cukup dalam kehidupan kita, bisa mendorong kita untuk berpikir dan bertindak dalam menghadapi tantangan ataupun menjalankan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Contohnya, karena kamu khawatir akan ujian yang mendatang, kamu berinisiatif untuk memperhatikan penjelasan guru ketika di kelas. Hal ini merupakan dampak positif dari stres.

Akan tetapi, stres yang berlebihan dan berkepanjangan dapat memberikan dampak negatif bagi dirimu. Exam stress yang berlebihan dapat ditunjukkan dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Namun, biasanya exam stress berlebih muncul dengan perubahan perilaku atau pemikiran seperti berikut:

  • Sering kali kekurangan energi untuk menjalankan aktivitas
  • Kesulitan untuk tidur atau kurang waktu istirahat
  • Merelakan waktu tidur, makan, istirahat atau aktivitas lainnya untuk belajar
  • Menjauhi diri dari orang lain atau mengalihkan diri dengan menggunakan waktu lebih banyak bermain ponsel atau sosial media
  • Sering merendahkan diri sendiri (berpikir bahwa diri sendiri tidak berguna, tidak kompeten, atau tidak bermakna)
  • Terlalu sering menekan diri dengan pikiran seperti “Kalau aku tidak belajar dengan baik, aku tidak akan memiliki masa depan”

Exam stress berlebih ini apabila tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental Champs juga loh. Oleh sebab itu, Champs tetap harus mengelola exam stress tersebut agar tidak menumpuk dan memberikan dampak buruk pada dirimu!

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Champs lakukan untuk mengelola exam stress dengan lebih sehat:

  1. Buatlah jadwal belajar yang sehat
    Membuat jadwal belajar yang rutin setiap hari sebelum waktu ujian memang penting, tetapi Champs juga harus memprioritaskan waktu makan, istirahat dan waktu senggang yang cukup juga. Ingatlah bahwa Champs memerlukan waktu tidur sekitar 7-8 jam dan makanan yang cukup agar tubuhmu dapat berfungsi dengan baik. Mengimbangkan waktu belajar dan waktu untuk berolahraga, melakukan hobi, atau bersenang-senang dengan keluarga, teman, bahkan hewan peliharaan juga penting loh! Hal ini dapat mendukung kamu agar bisa melepaskan stres atau tekanan yang menumpuk dengan sehat.
  2. Utarakan kekhawatiranmu
    Terkadang terlalu banyak kekhawatiran yang berkeliaran di dalam otak kita ketika akan menghadapi ujian. Champs bisa mengutarakan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut dengan berbagai cara agar meringankan beban pikiran kalian. Salah satu caranya, Champs dapat menyatakan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut kepada orang tua atau teman. Orang tua dan teman-teman kamu mungkin bisa memberikan solusi atau langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi kekhawatiran yang kamu rasakan.Cara lainnya, Champs dapat menuliskan kekhawatiran atau segala pikiran yang muncul pada buku jurnal atau diary. Dengan menuliskan kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul, Champs mungkin bisa menyadari pola pikiranmu sendiri dan apa yang menjadi kekhawatiran utama saat ini. Selanjutnya, Champs bisa menentukan rencana bagaimana menghadapi kekhawatiran tersebut.
  3. Dorong diri untuk belajar dengan hal yang menyenangkan
    Dorongan untuk belajar sangat penting dalam masa ujian. Sayangnya, dorongan kita untuk belajar ketika masa ujian biasanya hanya bersumber dari rasa takut akan masa depan, nilai buruk, atau performa buruk. Sumber dorongan demikian dapat memberikan tekanan yang besar dan membuat learning experience kamu menjadi terlalu stressful. Oleh sebab itu, ada baiknya Champs mendorong diri dengan hal-hal yang Champs suka!Champs bisa menetapkan reward atau hadiah setiap kali kamu berhasil mengikuti jadwal belajar yang direncanakan. Misalnya, karena Tono suka bermain bersama ayahnya, setiap kali Tono berhasil belajar produktif selama 6 jam setiap hari selama 1 minggu, Tono akan menghadiahkan diri dengan melakukan game night bersama ayahnya di akhir pekan. Jadi, melakukan game night bersama ayah menjadi dorongan belajar yang positif bagi Tono.
  4. Sayangi diri sendiri
    Meskipun tekanan dan tanggung jawabmu sebagai pelajar memang berat, Champs harus ingat untuk selalu menyayangi diri sendiri. Belajar untuk tidak selalu mengkritik atau menekan dirimu, melainkan apresiasikanlah setiap langkah yang kamu ambil. Tetap hargai setiap progress yang kamu lakukan!

Ingatlah bahwa kesulitan dan kerja keras yang Champs lakukan saat ini adalah untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Jadi, Champs harus tetap berusaha dengan baik dalam melewati setiap masa ujian. FOFI selalu mendukung Champs untuk berkembang dan melewati seluruh rintangan yang ada, termasuk masa ujian. Apabila cara-cara berikut dirasa kurang efektif dan Champs memerlukan solusi lain untuk menghadapi exam stress, Champs bisa berdiskusi dengan orang tua untuk mendapatkan bantuan lebih. FOFI juga siap membantu Champs dengan program konseling dan program No Apologies yang dapat mengarahkan Champs dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

Kesuksesan bukanlah akhir, kegagalan bukanlah hal yang fatal, yang terpenting adalah keberanian untuk melanjutkan – Winston Churchill

Referensi
Păduraru, M. E. (2019). Coping strategies for exam stress. Mental Health, 1(1), 64–66. https://doi.org/10.32437/mhgcj.v1i1.26

 

 

Parenting

Tips Mempererat Hubungan dengan Anak Gen-Z!

Gen-Z atau generasi anak muda yang lahir di antara tahun 1997-2012 bertumbuh di era perkembangan teknologi yang berkembang dengan cepat.

Tidak seperti generasi milenial yang dahulu bertumbuh dengan mendengarkan radio atau menonton televisi, Gen-Z bertumbuh dengan mobile phone dan internet. Teknologi-teknologi ini mendukung  mereka untuk bisa terkoneksi secara global dan berkreasi aktif. Selain dengan orang tua, anak-anak Gen-Z turut bertumbuh bersama berbagai komunitas di internet. Tidak jarang bagi generasi ini mengaplikasikan berbagai budaya atau pemahaman dari komunitas online yang mereka temui. Oleh sebab itu, tidak heran apabila orang tua terkadang merasa asing dengan pemahaman, kebiasaan, atau pembicaraan anak-anak Gen-Z mereka. 

Meskipun wajar, jangan sampai perbedaan generasi menghalangi hubungan Anda dengan anak Anda.

Berikut merupakan beberapa tips untuk mempererat hubungan anda dengan anak Gen-Z anda: 

  1. Gali informasi mengenai Gen-Z
    Parents bisa mempelajari perihal-perihal yang berkaitan dengan anak Anda. Dimulai dari mengetahui aplikasi-aplikasi yang biasanya Gen-Z gunakan, kegunaan dari aplikasi tersebut, bagaimana dampak penggunaan aplikasi tersebut terhadap anak Anda, dan berbagai informasi lain terkait. Tahap ini dapat membekali Amda untuk semakin memahami lingkungan seperti apa yang anak Anda miliki.
  2. Kembangkan dan pertahankan komunikasi 
    Selalu berikan waktu khusus untuk berkomunikasi atau berinteraksi secara intens dengan anak anda. Ajak anak Anda untuk berbincang, berolahraga, beraktivitas, atau bermain bersama setiap harinya. Komunikasi dan interaksi yang konsisten dapat membawa Anda untuk semakin memahami anak Anda. Sebaliknya, anak juga dapat membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan diri Anda.
  3. Tunjukkan ketertarikan dan dukungan Anda ke kehidupan mereka!
    Menunjukkan ketertarikan terhadap hidup atau keadaan anak Anda akan memberikan pesan bahwa Anda peduli dan ingin mendukung anak Anda. Tanyakan apa saja kegemaran atau kesibukan mereka saat ini dan bagaimana Anda bisa mendukung mereka. Tanyakan juga pandangan mereka tentang topik-topik tertentu dan bagikan juga pandangan Anda! .
  4. Jadilah teman yang menghargai privasi dan kebebasan mereka. 
    Anda bisa berteman dengan anak Anda melalui sosial media untuk mengetahui aktivitas sehari-hari mereka atau memantau keadaan mereka. Akan tetapi, tetap tunjukkan bahwa anda menghormati privasi mereka. Jangan terus mengintai akun mereka atau selalu mengomentari aktivitas mereka. Sebaliknya, dukung mereka untuk bersosialisasi secara positif di dalam lingkungan sosial mereka.

FOFI berharap agar tips-tips tersebut dapat membantu Anda dalam berkoneksi dan memberikan dukungan yang tepat untuk masa depan anak Gen-Z.

 

Parenting

Tips Membangun Hubungan yang Konsisten Dengan Anak

Setiap orang tua tentu ingin memiliki hubungan harmonis yang konsisten dengan anak. Berbagai faktor yang ada turut mempengaruhi hubungan antara orangtua dengan anak. Hubungan ini dapat dibangun dengan berbagai aktivitas, interaksi dan komunikasi yang beragam.

Anak yang memiliki sedikit komunikasi dan interaksi dengan orangtua, cenderung akan mencari kebutuhan tersebut dari luar seperti teman dan pacar. Seringkali, kita lupa untuk mempertahankan hubungan yang konsisten antara orangtua dengan anak.

Nah, berikut ini 5 tips ala FOFI untuk membangun hubungan yang konsisten dengan anak.

  1. Mengatur jadwal untuk melakukan sesuatu/aktivitas bersama anak

Orangtua dapat mencari tahu aktivitas apa yang disukai anak dan bisa dilakukan bersama dan mulai mengatur jadwal untuk melakukan hal tersebut. Kegiatan bersama dapat membangun hubungan yang semakin erat antara anak dan orangtua.

 

  1. Mengajarkan anak hal/skill yang baru

Melatih skill anak dapat dimulai sejak dini. Bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan sehari-hari dalam rumah. Dengan membuat list hal-hal apa saja yang akan dilakukan akan membantu konsistensi untuk mengajar anak skill yang baru.

 

  1. Terlibat dalam pendidikan anak

Ada sebagian dari orangtua berpikir bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab guru. Tetapi sebenarnya keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak sangat penting dan membuat anak menyadari bahwa orangtua hadir dalam semua bagian kehidupan anak.

 

  1. Miliki waktu untuk berbicara/berdiskusi bersama anak

Berbicara dengan anak bukan hanya orangtua menyampaikan keinginannya, tetapi juga mendengarkan anak dengan segala keluh kesah bahkan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan bahkan menemukan jawaban bersama saat pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab.

 

  1. Selalu konsisten

Kunci untuk membangun hubungan yang konsisten dengan anak adalah dengan tetap konsisten melakukan hal-hal yang telah disepakati. Sebagai orangtua mari kita coba untuk melakukannya dan yakini bahwa pasti akan berhasil. 

 

Baca juga: