Family Indonesia

Category: Youth

MarriageYouth

Apa Itu Co-dependency Dalam Hubungan?

Couples, tahukah kalian akan istilah co-dependency dalam hubungan? Co-dependency dalam hubungan menurut Span dan Fischer (1990) adalah sebuah kondisi psikososial yang terwujudkan melalui sebuah pola disfungsional pada individu dalam berelasi dengan sesama. Pola disfungsional ini bisa berupa fokus berlebih ke individu lain dibandingkan diri sendiri, kurangnya mengekspresikan perasaan, dan adanya upaya untuk memperoleh sebuah tujuan dalam hubungan. Awalnya, co-dependency dalam hubungan ini diteliti pada individu yang pasangannya memiliki adiksi alkohol. Akan tetapi, banyak penelitian yang membuktikan bahwa co-dependency juga terjadi pada pasangan-pasangan secara general. 

 

Seperti namanya, co-dependency dalam hubungan juga dapat diartikan seperti sebuah ketergantungan dalam hubungan. Dalam bukunya, Beattie (1989) melihat bahwa individu yang co-dependent cenderung membiarkan perilaku pasangan untuk mempengaruhi diri mereka sendiri baik secara emosi, perilaku, dan pikiran. Di sisi lain, individu yang memiliki co-dependency juga bisa terobsesi untuk bisa mengontrol perilaku pasangannya. 

 

Ada beberapa karakteristik yang dapat ditunjukkan oleh individu dengan co-dependency. Beberapa karakteristik tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 

  • Menggantungkan diri pada validasi atau perilaku pasangan secara berlebih hingga bisa menjadikan validasi atau perilaku pasangan sebagai makna atau tujuan diri. Sebagai contoh, individu merasa memerlukan afeksi atau pujian dari pasangan agar bisa merasa bahwa dirinya memang baik.
  • Kurang dalam menghargai diri sendiri sehingga rela untuk mengorbankan diri demi mempertahankan hubungan dengan pasangan.
  • Mengambil terlalu banyak tanggung jawab atas kesalahan atau perilaku tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh pasangan, dan mencoba untuk memperbaiki sendiri masalah yang diciptakan oleh pasangan. Sebagai contoh, individu memiliki kebiasaan untuk selalu meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan.
  • Berkompromi terhadap perilaku pasangan dengan melepaskan kebutuhan diri atau tidak mengekspresikan perasaan Anda meskipun sebenarnya perilaku pasangan tersebut menyakiti atau mengganggu.
  • Tidak memiliki batasan yang jelas antara diri sendiri dengan pasangan. Contohnya, membiarkan pasangan mengatur kehidupan atau aktivitas sehari-hari meskipun aturan yang diberikan sangat membatasi.
  • Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dan mengakui perasaan sendiri sementara selalu mencoba untuk memenuhi kebutuhan pasangan.
  • Obsesi yang berlebih terhadap kehidupan pasangan. 
  • Kurangnya kepercayaan terhadap pasangan sehingga ada kebutuhan untuk bisa mengontrol atau mengatur hidup pasangan. Contohnya, memaksa pasangan untuk tidak berbicara atau bergaul dengan lawan jenis.

Co-dependency banyak ditemukan berhubungan dengan beragam masalah dalam hubungan. Individu dengan co-dependency cenderung melihat bahwa hubungan yang dimiliki dengan pasangan memiliki banyak masalah (Happ et al., 2022). Apa yang dilihat sebagai situasi normal oleh orang lain bisa nampak sebagai situasi bermasalah pada individu dengan co-dependency. Sehingga hal ini bisa membuka ruang untuk argumen terus menerus dengan pasangan. Tidak hanya itu, individu dengan co-dependency juga bisa merasa semakin kehilangan diri sendiri dalam berupaya untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan.  

 

Co-dependency merupakan keadaan yang perlu dihadapi dan ditangani dengan baik. Menangani co-dependency dapat dimulai dengan pertama-tama mengevaluasi diri dan menghargai diri sendiri. Selain itu, individu dengan co-dependency bisa mengevaluasi dan membentuk batasan-batasan yang dapat melindungi diri sendiri. 

 

Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves even when we risk disappointing others” – Brene Brown

 

Love yourself enough to set boundaries. Your time and energy are precious. You get to choose how you use it. You teach people how to treat you by deciding what you will and won’t accept” – Anna Taylor

Perlu diingat bahwa Co-dependency juga merupakan suatu hal yang kompleks, sehingga bantuan profesional akan membantu dalam menavigasi, mengidentifikasi, dan menghadapi kondisi tersebut. FOFI mendukung pasangan-pasangan di Indonesia untuk bisa mewujudkan hubungan sehat yang berlandaskan atas kepercayaan, dukungan, kasih sayang, penghargaan diri, dan batasan-batasan yang tepat. Oleh sebab itu, FOFI tersedia untuk membantu pasangan dengan layanan konseling couple dan program ‘Journey to Us’ demi hubungan yang sehat dan baik. Hubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006 untuk mendapatkan konsultasi atau informasi lebih lanjut mengenai layanan-layanan kami.

 

Referensi 

Happ, Z., Bodó-Varga, Z., Bandi, S. A., Kiss, E. C., Nagy, L., & Csókási, K. (2022). How codependency affects dyadic coping, relationship perception and life satisfaction. Current Psychology, 42(18), 15688–15695. https://doi.org/10.1007/s12144-022-02875-9

Fischer, J. L., & Spann, L. (1991). Measuring codependency. Alcoholism Treatment Quarterly, 8(1), 87–100. https://doi.org/10.1300/j020v08n01_06

Beatfie, M. (1989). Codependent no more. Victoria: CollinsDove

MarriageParentingUncategorizedYouth

Stres Ujian? Bagaimana Cara Menghadapinya?

Champs, apakah kalian sering merasa gugup, di bawah tekanan, atau khawatir mendekati, menjelang atau setelah waktu ujian? Kalian mungkin mengalami sesuatu yang namanya exam stress atau stres ujian.

Stres adalah sesuatu yang normal untuk dialami oleh setiap individu kok champs. Mengalami ‘exam stress’ adalah pengalaman yang wajar bagi kalian yang merupakan pelajar. Exam stress bisa muncul dari ekspektasi terhadap nilai akademik, dorongan dari orang tua, guru atau teman, dan lainnya.

Adanya stres yang cukup dalam kehidupan kita, bisa mendorong kita untuk berpikir dan bertindak dalam menghadapi tantangan ataupun menjalankan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Contohnya, karena kamu khawatir akan ujian yang mendatang, kamu berinisiatif untuk memperhatikan penjelasan guru ketika di kelas. Hal ini merupakan dampak positif dari stres.

Akan tetapi, stres yang berlebihan dan berkepanjangan dapat memberikan dampak negatif bagi dirimu. Exam stress yang berlebihan dapat ditunjukkan dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Namun, biasanya exam stress berlebih muncul dengan perubahan perilaku atau pemikiran seperti berikut:

  • Sering kali kekurangan energi untuk menjalankan aktivitas
  • Kesulitan untuk tidur atau kurang waktu istirahat
  • Merelakan waktu tidur, makan, istirahat atau aktivitas lainnya untuk belajar
  • Menjauhi diri dari orang lain atau mengalihkan diri dengan menggunakan waktu lebih banyak bermain ponsel atau sosial media
  • Sering merendahkan diri sendiri (berpikir bahwa diri sendiri tidak berguna, tidak kompeten, atau tidak bermakna)
  • Terlalu sering menekan diri dengan pikiran seperti “Kalau aku tidak belajar dengan baik, aku tidak akan memiliki masa depan”

Exam stress berlebih ini apabila tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental Champs juga loh. Oleh sebab itu, Champs tetap harus mengelola exam stress tersebut agar tidak menumpuk dan memberikan dampak buruk pada dirimu!

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Champs lakukan untuk mengelola exam stress dengan lebih sehat:

  1. Buatlah jadwal belajar yang sehat
    Membuat jadwal belajar yang rutin setiap hari sebelum waktu ujian memang penting, tetapi Champs juga harus memprioritaskan waktu makan, istirahat dan waktu senggang yang cukup juga. Ingatlah bahwa Champs memerlukan waktu tidur sekitar 7-8 jam dan makanan yang cukup agar tubuhmu dapat berfungsi dengan baik. Mengimbangkan waktu belajar dan waktu untuk berolahraga, melakukan hobi, atau bersenang-senang dengan keluarga, teman, bahkan hewan peliharaan juga penting loh! Hal ini dapat mendukung kamu agar bisa melepaskan stres atau tekanan yang menumpuk dengan sehat.
  2. Utarakan kekhawatiranmu
    Terkadang terlalu banyak kekhawatiran yang berkeliaran di dalam otak kita ketika akan menghadapi ujian. Champs bisa mengutarakan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut dengan berbagai cara agar meringankan beban pikiran kalian. Salah satu caranya, Champs dapat menyatakan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut kepada orang tua atau teman. Orang tua dan teman-teman kamu mungkin bisa memberikan solusi atau langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi kekhawatiran yang kamu rasakan.Cara lainnya, Champs dapat menuliskan kekhawatiran atau segala pikiran yang muncul pada buku jurnal atau diary. Dengan menuliskan kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul, Champs mungkin bisa menyadari pola pikiranmu sendiri dan apa yang menjadi kekhawatiran utama saat ini. Selanjutnya, Champs bisa menentukan rencana bagaimana menghadapi kekhawatiran tersebut.
  3. Dorong diri untuk belajar dengan hal yang menyenangkan
    Dorongan untuk belajar sangat penting dalam masa ujian. Sayangnya, dorongan kita untuk belajar ketika masa ujian biasanya hanya bersumber dari rasa takut akan masa depan, nilai buruk, atau performa buruk. Sumber dorongan demikian dapat memberikan tekanan yang besar dan membuat learning experience kamu menjadi terlalu stressful. Oleh sebab itu, ada baiknya Champs mendorong diri dengan hal-hal yang Champs suka!Champs bisa menetapkan reward atau hadiah setiap kali kamu berhasil mengikuti jadwal belajar yang direncanakan. Misalnya, karena Tono suka bermain bersama ayahnya, setiap kali Tono berhasil belajar produktif selama 6 jam setiap hari selama 1 minggu, Tono akan menghadiahkan diri dengan melakukan game night bersama ayahnya di akhir pekan. Jadi, melakukan game night bersama ayah menjadi dorongan belajar yang positif bagi Tono.
  4. Sayangi diri sendiri
    Meskipun tekanan dan tanggung jawabmu sebagai pelajar memang berat, Champs harus ingat untuk selalu menyayangi diri sendiri. Belajar untuk tidak selalu mengkritik atau menekan dirimu, melainkan apresiasikanlah setiap langkah yang kamu ambil. Tetap hargai setiap progress yang kamu lakukan!

Ingatlah bahwa kesulitan dan kerja keras yang Champs lakukan saat ini adalah untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Jadi, Champs harus tetap berusaha dengan baik dalam melewati setiap masa ujian. FOFI selalu mendukung Champs untuk berkembang dan melewati seluruh rintangan yang ada, termasuk masa ujian. Apabila cara-cara berikut dirasa kurang efektif dan Champs memerlukan solusi lain untuk menghadapi exam stress, Champs bisa berdiskusi dengan orang tua untuk mendapatkan bantuan lebih. FOFI juga siap membantu Champs dengan program konseling dan program No Apologies yang dapat mengarahkan Champs dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

Kesuksesan bukanlah akhir, kegagalan bukanlah hal yang fatal, yang terpenting adalah keberanian untuk melanjutkan – Winston Churchill

Referensi
Păduraru, M. E. (2019). Coping strategies for exam stress. Mental Health, 1(1), 64–66. https://doi.org/10.32437/mhgcj.v1i1.26

 

 

Youth

Apakah aku mencoba fitting in ke dalam grup pertemananku?

Champs, pernahkah kamu merasa tertekan untuk melakukan sesuatu demi grup atau lingkungan pertemanan?

Mungkin yang kamu lakukan adalah perilaku fitting in. Apa itu?
Fitting in adalah ketika sebuah individu mengubah perilaku, penampilan, kepercayaan atau bahkan nilai-nilai pribadinya untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Dalam melakukan fitting in, seringkali youths terpaksa untuk menjadi ‘orang lain’ atau menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya. 

Contohnya, Dodi memaksakan diri untuk berkata kasar karena Ia ingin bergaul bersama sekelompok temannya yang sering berkata kasar. Dodi sebenarnya tidak nyaman mengungkapkan kata-kata kasar tersebut, tapi Ia beranggapan bahwa temannya akan memandangnya aneh apabila tidak berkata kasar sama sekali, jadi Ia tetap melakukan hal tersebut. Di dalam psikologi, perilaku fitting in ini juga bisa disebut sebagai ‘compliance’.

Ada banyak alasan kenapa champs melakukan fitting in, seperti: 

  • Perasaan ingin dianggap di dalam suatu kelompok sosial atau pertemanan
  • Menghindari hukuman sosial (takut dibully atau diomongin) 
  • Sebagai bentuk penerimaan diri setelah diterima oleh kelompok sosial
  • Agar dapat dipuji atau menjadi orang yang dipandang

Permasalahan dari melakukan fitting in adalah ketika individu terlalu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang disukai oleh kelompok pertemanannya, meskipun Ia tahu bahwa hal tersebut buruk untuk dilakukan. Hal ini tidak menghindari bahwa individu tersebut bisa merasa bersalah atas tindakan-tindakan yang Ia lakukan untuk grup pertemanannya. Kalau sudah seperti ini, individu bisa merasa tidak tenang, tertekan, atau bahkan sebenarnya tidak nyaman berada di dalam lingkungan pertemanan tersebut. 

Di sisi lain, wajar kalau kamu ingin berteman dengan orang banyak kok champs! Bagaimanapun, kita semua adalah makhluk sosial. Tapi, kamu boleh mulai bertanya kepada diri sendiri: 

  • Apakah aku diterima di grup pertemananku atau aku sering menyembunyikan jati diri ku? 
  • Apakah aku memaksakan diriku untuk melakukan sesuatu ketika aku sedang hang out dengan teman-temanku? Kenapa? 
  • Apakah tindakan yang aku lakukan untuk teman-temanku baik dan benar? 
  • Apakah aku nyaman melakukan tindakan-tindakan tersebut? 
  • Apakah tindakan-tindakan tersebut sesuai dengan nilai dan kepercayaanku? 

Kalau sebagian besar jawabanmu pada pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah ‘tidak’, maka kamu mungkin harus mempertimbangkan pergaulanmu dalam pertemanan tersebut. Mintalah bimbingan orang tua, guru, atau mentor bagaimana sebaiknya kamu bertindak agar tidak terpengaruh secara buruk di dalam pertemanan tersebut.

“Your time is limited, don’t waste it living someone else’s life.” 

—Steve Jobs

 

FOFI ingin berpesan agar champs dapat menjaga diri masing-masing dalam bergaul dengan grup pertemanan kamu. Hindari perilaku yang bisa berdampak buruk kepadamu dan selalu ingat bahwa pertemanan yang sehat adalah pertemanan yang bisa membuatmu merasakan ‘belonging’, di mana teman-temanmu bisa menerima keunikanmu dan mendukung perkembanganmu champs

Referensi

Kelman, H. C. (1958). Compliance, identification, and internalization three processes of attitude change. Journal of Conflict Resolution, 2(1), 51–60. https://doi.org/10.1177/002200275800200106

Cherry, K. C. (2023). The psychology of compliance. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-compliance-2795888

Youth

Apa itu Prokrastinasi dan Apa Penyebabnya?

Pernah gak sih kamu ngerasa malas ngerjain sesuatu? Misalnya ada tugas, tapi kamu selalu menunda untuk mengerjakannya dengan pemikiran masih jauh deadlinenya, masih 3 hari lagi, masih bisa dikumpul besok, atau masih bisa dikerjain malam ini. 

Kamu sering berpikir bahwa sebetulnya kamu lagi malas, makanya menunda untuk mengerjakan sesuatu. Ternyata, sikap tersebut bukan malas tapi prokrastinasi.

Terus Sebenarnya Apa Sih Prokrastinasi Itu?

Prokrastinasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasa malas untuk melakukan suatu pekerjaan dan menundanya hingga menjelang deadline. Orang yang mengalami prokrastinasi sadar kalau ini perilaku yang gak baik tapi masih aja diulang secara terus menerus. 

Penyebab Prokrastinasi

  1. Kelelahan dalam mengambil keputusan

Tuntutan mengambil keputusan secara terus-menerus dalam mengerjakan tugas/pekerjaan dapat membuat kita sampai di satu titik bahwa kita merasa lelah dan akhirnya menunda mengambil keputusan tersebut.

  1. Kesulitan dalam perencanaan dan pengurutan pekerjaan

Ketidakmampuan dalam memetakan tugas/pekerjaan, perspektif yang sempit terhadap tugas/pekerjaan dapat membuat seseorang sulit dalam membuat perencanaan dan pengurutan pekerjaan.

  1. Prokrastinasi terkait hubungan

Akibat suka menunda tugas/pekerjaan dapat menyebabkan konflik juga diantara pasangan karena merasa tidak didukung dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan yang melibatkan tanggungjawab bersama.

  1. Prokrastinasi terkait depresi

Apabila seseorang mengalami depresi maka akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal negatif daripada membuat dirinya menjadi seseorang yang dapat diandalkan.

  1. Prokrastinasi terkait kecemasan

Seseorang yang melakukan prokrastinasi karena emosi negatif karena suatu tugas/pekerjaan, maka kecemasan akan menjadi bagian dari emosi negatif tersebut sehingga dapat mempengaruhi dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan.

  1. Prokrastinasi terkait kreativitas

Penundaan penyelesaian pekerjaan/tugas dapat dilakukan untuk mendapatkan inspirasi kreatif dari tugas itu sendiri. Terkadang mengambil waktu untuk beristirahat di tengah-tengah penyelesaian tugas diperlukan untuk dapat kembali mengerjakan tugas dengan pikiran yang lebih segar.

  1. Kombinasi

Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap prokrastinasi, salah satunya adalah kebiasaan suka menunda, rasa malas yang berlebihan, dan gabungan antara enam penyebab sebelumnya.

Nah, apakah kalian sering prokrastinasi? Nantikan, artikel selanjutnya tentang prokrastinasi ya! Jangan lupa baca juga :