“Kalau aku nggak chat duluan, kamu bakal cari aku nggak?”
“Aku masih penting buat kamu, kan?”
“Kamu beneran nyaman sama aku?”
Bagi banyak Couples, pertanyaan seperti ini mungkin terasa familiar. Dalam hubungan, kebutuhan untuk merasa dicintai dan diyakinkan sebenarnya sangat manusiawi. Namun, ada kalanya kebutuhan akan kepastian berubah menjadi pola yang berulang. Jawaban pasangan terasa menenangkan hanya sesaat, lalu muncul lagi keraguan yang sama. Pertanyaan diulang, kepastian terus dicari, dan hubungan perlahan dipenuhi kecemasan.
Apa Itu Reassurance Seeking?
Reassurance seeking adalah dorongan untuk terus mencari kepastian dari orang lain bahwa diri kita dicintai, berharga, dan diterima (Reis & Sprecher, 2009). Sekilas, perilaku ini mungkin terlihat seperti kebutuhan perhatian yang wajar. Namun, di baliknya sering terdapat rasa takut ditinggalkan, ketidakamanan, atau kesulitan mempercayai hubungan itu sendiri.
Dalam banyak kasus, reassurance seeking berkaitan dengan kecemasan dalam hubungan dan kebutuhan kuat untuk memastikan relasi tetap aman (Mental Health Counselor PLLC, 2026). Evraire et al. (2022) menemukan bahwa individu dengan anxiety attachment cenderung lebih sering melakukan reassurance seeking karena lebih sensitif terhadap tanda-tanda penolakan dan ketidakpastian dalam hubungan (Evraire et al., 2022).
Couples mungkin mengenalinya dalam keseharian. Misalnya, merasa gelisah ketika pasangan lama membalas pesan, terus memikirkan perubahan kecil dalam nada bicara pasangan, atau berulang kali meminta kepastian tentang komitmen hubungan (Mental Health Counselor PLLC, 2026). Pola ini mulai menjadi masalah ketika reassurance terus dicari meski pasangan sudah berkali-kali memberikan jawaban yang menenangkan (Mental Health Counselor PLLC, 2026).
Menariknya, reassurance seeking tidak selalu muncul karena hubungan sedang bermasalah. Kadang, pola ini berkaitan dengan luka emosional lama, pengalaman relasi sebelumnya, atau kesulitan menenangkan diri saat merasa tidak aman (Chain, 2024). Karena itu, reassurance dari pasangan sering hanya memberi rasa lega sementara sebelum kecemasan muncul kembali.
Mengapa Reassurance Seeking Bisa Melelahkan Hubungan?
Di awal hubungan, reassurance sering terasa seperti bentuk perhatian dan kedekatan yang wajar. Pasangan mungkin dengan senang hati memberikan kepastian atau menenangkan pasangan yang sedang cemas. Namun, ketika reassurance dicari terus-menerus, dinamika hubungan dapat berubah.
Stewart dan Harkness (2015) menemukan bahwa reassurance seeking yang tinggi berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih rendah serta meningkatnya kemungkinan penolakan dari pasangan di kemudian hari. Hal ini dapat terjadi karena pasangan perlahan merasa bahwa reassurance yang diberikan tidak pernah benar-benar cukup.
Dalam hubungan sehari-hari, siklusnya sering berjalan seperti ini (Mental Health Counselor PLLC, 2026):
Seseorang merasa tidak aman, lalu meminta reassurance. Pasangan memberikan kepastian, rasa lega muncul sesaat, tetapi kecemasan kembali lagi sehingga reassurance dicari ulang. Semakin sering siklus ini terjadi, semakin sulit rasa aman terbentuk dari dalam diri sendiri.
Rendahnya rasa percaya dalam hubungan juga berkaitan dengan lebih tingginya reassurance seeking sehari-hari (Evraire et al., 2022). Ketika seseorang sulit mempercayai kestabilan hubungan, reassurance menjadi cara untuk memeriksa apakah hubungan masih aman atau tidak (Evraire et al., 2022). Jika pola ini berlangsung terus-menerus, hubungan dapat dipenuhi frustrasi, kelelahan emosional, bahkan penarikan diri dari salah satu pihak (Chain, 2024).
Reassurance Seeking Tidak Selalu Buruk
Meski sering dikaitkan dengan dampak negatif, reassurance seeking ternyata tidak selalu merusak hubungan. Abe dan Nakashima (2020) menemukan bahwa pada hubungan yang relatif singkat, reassurance seeking tertentu dapat dipersepsikan sebagai upaya menjaga kedekatan emosional dan meningkatkan kepuasan relasi. Temuan ini menunjukkan bahwa reassurance seeking bukan sekadar soal “terlalu needy”. Cara perilaku ini muncul, konteks hubungan, pola attachment, serta respons pasangan ikut menentukan apakah reassurance seeking akan mempererat hubungan atau justru melelahkannya (Evraire et al., 2022).
Evraire et al. (2022) bahkan menyebut kemungkinan adanya bentuk reassurance seeking yang lebih aman dan tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kondisi, mencari reassurance dapat menjadi bentuk keterbukaan emosional dan upaya mencari dukungan dari pasangan (Evraire et al., 2022). Karena itu, Couples tidak perlu langsung menganggap semua kebutuhan reassurance sebagai masalah. Yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensinya, dampaknya terhadap hubungan, dan apakah reassurance benar-benar membantu membangun rasa aman.
Ketika Reassurance Justru Membuat Semakin Tidak Tenang
Ironisnya, reassurance yang dicari terus-menerus tidak selalu membuat seseorang merasa lebih aman. Evraire et al. (2022) menemukan bahwa beberapa individu dengan anxiety attachment yang melakukan reassurance seeking justru mengalami penurunan rasa percaya terhadap hubungan di hari berikutnya. Temuan ini menunjukkan bahwa reassurance terkadang gagal meredakan ketakutan akan penolakan atau ditinggalkan sehingga kecemasan tetap aktif meski pasangan sudah memberikan kepastian. Akibatnya, reassurance menjadi seperti “penenang sementara”. Ada rasa lega sesaat, tetapi akar ketidakamanan tetap belum terselesaikan.
Kondisi ini dapat membuat Couples terjebak dalam pola yang melelahkan. Satu pihak terus mencari kepastian, sementara pihak lain mulai merasa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.
Cara Mengurangi Reassurance Seeking Berlebihan
Kebutuhan reassurance bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya. Couples tetap membutuhkan perhatian, validasi, dan kepastian emosional dalam hubungan yang sehat. Yang penting adalah bagaimana kebutuhan tersebut dikelola agar tidak berubah menjadi siklus yang menguras hubungan. Dilansir dari Mental Health Counselor PLLC (2026), beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi reassurance seeking berlebihan:
1. Kenali pemicu munculnya reassurance seeking
Perhatikan kapan kebutuhan reassurance biasanya muncul dan situasi apa yang memicunya. Kesadaran ini membantu Couples memahami bahwa yang sedang dicari bukan sekadar jawaban pasangan, tetapi rasa aman emosional yang lebih dalam.
2. Belajar menenangkan diri dan membangun rasa aman dari dalam diri
Couples dapat mulai belajar menoleransi ketidakpastian secara bertahap dan membangun rasa percaya diri yang lebih mandiri. Chain (2024) juga menyarankan beberapa strategi seperti mengalihkan perhatian saat mulai overthinking, mengingat kualitas positif pasangan, dan melatih self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut dan penuh pengertian saat sedang merasa rentan atau tidak aman.
3. Bangun respons pasangan yang sehat dan suportif
Pasangan juga memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman dalam hubungan. Respons yang empatik, konsisten, dan tidak defensif dapat membantu pasangan merasa lebih tenang. Namun, reassurance yang sehat bukan berarti harus terus-menerus menenangkan ketakutan pasangan tanpa batas. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan keseimbangan antara dukungan emosional dan kemampuan masing-masing individu mengelola kecemasannya sendiri.
Ketika pola reassurance seeking mulai mengganggu hubungan, konseling individu maupun konseling pasangan dapat membantu Couples memahami akar emosional di balik perilaku tersebut (Chain, 2024).
Jadi, “Kamu Sayang Aku Nggak?”
Pada akhirnya, pertanyaan “Kamu sayang aku nggak?” sering kali bukan sekadar mencari jawaban. Di baliknya, ada kebutuhan untuk merasa aman, diterima, dan takut kehilangan hubungan yang berarti.
Kebutuhan untuk diyakinkan adalah bagian manusiawi dari mencintai seseorang. Namun, hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dari seberapa sering pasangan berkata “aku sayang kamu”, tetapi juga dari kemampuan kedua pihak membangun rasa aman yang lebih stabil bersama-sama. Reassurance dapat menenangkan sesaat, tetapi rasa aman yang bertahan biasanya tumbuh dari kepercayaan, komunikasi, dan koneksi emosional yang konsisten dari waktu ke waktu (Evraire et al., 2022; Mental Health Counselor PLLC, 2026).
Focus on the Family Indonesia mendukung para Couples melalui layanan konseling, program Journey to Us, serta Date Night untuk membantu memperkuat koneksi emosional dan membangun komunikasi yang lebih sehat dalam hubungan. Kami berkomitmen membantu Couples membangun hubungan yang sehat, aman, dan saling memahami bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.
Referensi
Abe, K., & Nakashima, K. (2020). Searching for Positive Aspects of Excessive Reassurance-Seeking. Japanese Psychological Research, 63(2), 95–103. https://doi.org/10.1111/jpr.12285
Chain, J. (2024, May 6). Excessive Reassurance Seeking in Relationships. Thrive for the People. https://www.thriveforthepeople.com/blog/excessive-reassurance-seeking-in-relationships
Evraire, L. E., Dozois, D. J. A., & Wilde, J. L. (2022). The Contribution of Attachment Styles and Reassurance Seeking to Trust in Romantic Couples. Europe’s Journal of Psychology, 18(1), 19–39. https://doi.org/10.5964/ejop.3059
Mental Health Counselor PLLC. (2026, April 28). When Needing Reassurance Becomes a Relationship Problem. Mental Health Counselor PLLC. https://mentalhealthcounselor.net/when-needing-reassurance-becomes-a-relationship-problem/
Reis, H., & Sprecher, S. (2009). Encyclopedia of Human Relationships (Vol. 3). SAGE. https://doi.org/10.4135/9781412958479
Stewart, J. G., & Harkness, K. L. (2015). The Interpersonal Toxicity of Excessive Reassurance-Seeking: Evidence From a Longitudinal Study of Romantic Relationships. Journal of Social and Clinical Psychology, 34(5), 392–410. https://doi.org/10.1521/jscp.2015.34.5.392












