Family Indonesia

Marriage

Mindset Yang Perlu Ditanam Bersama Pasangan Demi Menjaga Hubungan Sehat

Couples, pernahkah Anda dan pasangan berpikir bahwa mempertahankan hubungan adalah suatu hal yang cukup menantang? Bahkan dalam hubungan yang sehat sekalipun, perlu ada effort dan kerjasama yang cukup untuk mempertahankan hubungan tersebut.

Semakin lama berada di dalam hubungan, couples juga akan semakin mengenal satu sama lain melalui berbagai rangkaian peristiwa dan situasi. Tentunya, di dalam hubungan, tidak setiap hari para couples akan merasakan kupu-kupu dan manisnya hidup berpasangan.

Ketika masa-masa sulit datang, penting bagi couples untuk menghadapinya bersama dengan mindset yang tepat.  
 

Memahami teori mindset dari Carol Dweck (2006) bisa membantu anda untuk menjaga hubungan yang sehat bersama pasangan.

Carol Dweck menemukan bahwa ada dua tipe mindset, yaitu fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset adalah ketika individu memiliki kepercayaan bahwa kemampuan dirinya adalah sesuatu yang tetap dan tidak bisa diubah. Sementara itu, ketika individu memiliki kepercayaan bahwa kemampuan dirinya adalah sesuatu yang bisa diasah dan dikembangkan, maka individu tersebut memiliki growth mindset. Kedua mindset tersebut ditemukan dapat mempengaruhi hubungan interpersonal dengan pasangan (Shashwati & Kansal, 2019).

Bagaimana bisa? Berikut merupakan penjelasan dan contoh dari partner dengan fixed mindset vs growth mindset:

  1.  Partner dengan Fixed Mindset
    Partner dengan tipe mindset ini biasanya percaya dengan kalimat serupa “..dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.” (Dweck, 2017)
    Mereka cenderung percaya bahwa situasi atau dinamika hubungan bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Oleh sebab itu, partner dengan fixed mindset biasanya akan kesulitan ketika terdapat sebuah masalah dalam hubungan. Secara natural, partner akan cenderung menghindari masalah tersebut tanpa berupaya mencari jalan keluar dari masalah. Individu dengan mindset ini juga biasanya sulit untuk menerima kekurangan atau perbedaan yang dimiliki oleh partner mereka. Ketika masalah datang, partner dengan fixed mindset juga berkemungkinan untuk menyalahkan pasangannya atau situasi. Mindset seperti itulah yang membuat mereka juga cenderung pesimis dalam menjalani hubungan romantis
  2. Partner dengan Growth Mindset
    Partner dengan growth mindset biasanya akan percaya dengan kalimat “…dan mereka bekerja bersama dengan bahagia selama-lamanya.” (Dweck, 2017)Frasa ‘bekerja bersama’ menandakan bahwa mereka akan mengupayakan tantangan dalam hubungan bersama-sama dengan pasangan mereka.
    Hal ini dikarenakan partner dengan growth mindset biasanya memiliki pandangan bahwa tidak semua orang itu ‘sempurna’, termasuk mereka dan pasangan mereka. Ketika menghadapi masalah atau situasi buruk di dalam hubungan, mereka tidak akan terfokus pada masalah saja, namun juga mencari solusi dari masalah. Dibandingkan menyalahkan pasangan atau situasi, partner dengan mindset ini akan mencoba berupaya bersama pasangan mereka untuk bertumbuh bersama sembari menghadapi masalah yang ada. Mereka percaya bahwa situasi dapat diubah dan masalah dapat dilewati bersama. Dengan kepercayaan terhadap pasangannya, partner dengan growth mindset biasanya lebih optimis dan puas dengan hubungan romantis mereka.

Wah, saya atau partner saya sepertinya memiliki fixed mindset deh…Bagaimana ini?

Tenang sahabat FOFI, mindset dapat diubah kok!
Berikut, FOFI akan berikan tips bagi para couples untuk bersama-sama menanamkan growth mindset dalam hubungan :

  1. Bersifat terbukalah terhadap perbedaan yang dimiliki oleh Anda dan pasangan
    Setiap orang tumbuh dengan latar belakang dan lingkungan yang berbeda, sehingga perbedaan dengan pasangan tentu tidak dapat dihindari. Ketika menemukan perbedaan dengan pasangan, Anda dapat mengajak pasangan anda untuk berdiskusi bersama dan memahami perbedaan masing-masing. Dengan berbagi pandangan mengenai perbedaan yang ada, Anda bisa menghindari argumen sia-sia dan membentuk pandangan yang sama dengan pasangan.
  2. Hargai effort pasanganmu
    Tunjukkan cinta Anda dengan menghargai setiap effort yang dilakukan oleh pasangan anda demi kebaikan hubungan kalian. Dengan menghargai satu sama lain, Anda dan pasangan bisa membangun perasaan aman dan puas dengan hubungan yang ada.
  3. Fokus dengan hubungan yang kalian miliki
    Setiap couples memiliki dinamika hubungan yang berbeda-beda. Ada yang bertemu setiap hari, pergi traveling setiap bulan, atau memberikan hadiah kepada pasangannya setiap hari. Kadang ketika fokus pada perbedaan ini, sangat memungkinkan bagi individu untuk memiliki rasa iri dengan pasangan atau hubungan orang lain. Couples sebaiknya bisa fokus pada hubungan yang dimiliki tanpa berupaya keras untuk mendapatkan dinamika hubungan yang dimiliki oleh pasangan lain. Apabila ada sesuatu yang perlu diubah demi keberlangsungan hubungan, akan lebih baik bila Anda bisa mendiskusikannya secara baik-baik dengan pasangan. Dengan ini, akan lebih mudah bagi couples untuk merasa bersyukur akan satu sama lain dan hubungan yang dimiliki.
  4. Terapkan pikiran bahwa perubahan situasi merupakan kesempatan untuk berkembang
    Selalu akan ada perubahan situasi di dalam hidup termasuk hidup pasangan Anda. Terkadang perubahan situasi ini mungkin menciptakan goyangan pada hubungan Anda. Dalam situasi tersebut, akan sangat baik apabila Anda bisa menghadapi goyangan dengan optimisme dan terbuka terhadap kesempatan untuk berkembang bersama. Goyangan yang ada bisa menjadi kesempatan bagi couples untuk lebih memahami pandangan, perasaan, dan value satu sama lain.
  5. Jangan mengincar ‘Perfection’ pada hubungan atau pasangan Anda
    Pasangan dengan growth mindset biasanya percaya bahwa kesempurnaan adalah sebuah mitos belaka. Setiap orang di dunia ini memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, sehingga tidak ada kata ‘sempurna’ pada setiap hubungan atau pasangan. Penting bagi couples untuk bisa menerima kekurangan masing-masing. Bahkan, akan lebih baik apabila Anda dan pasangan bisa saling mengisi kekurangan masing-masing. Meski begitu, perlu diingat bahwa menerima kekurangan pasangan bukan berarti merendahkan diri atau meninggalkan prinsip ya!

Setiap langkah dan usaha yang dilakukan oleh Anda dan pasangan Anda berharga.

Hal terpenting adalah langkah dan usaha tersebut dilakukan bersama-sama dengan tujuan untuk memperkuat dan mempertahankan hubungan Anda.

FOFI menyediakan layanan konseling pasangan dan program Journey To Us bagi para pasangan suami/istri yang berkeinginan untuk menjaga dan meningkatkan hubungan Anda dengan orang terkasih.
Klik link berikut untuk mendapat informasi lebih lanjut: (Bisa insert kontak atau layanan chat FOFI).

Referensi

Shashwati, S., & Kansal, P. (2019). Is there a right way to love?: Mindset in romantic relationships. International Journal of Innovative Studies in Sociology and Humanities (IJISSH), 1988-2008.

Dweck, C. S. (2017). Mindset: Changing the way you think to fulfill your potential. New York, NY: The Random House.

Yong, J. (2023). Make Love Last with a Growth Mindset – Focus on the Family Singapore. Focus on the Family Singapore – Helping Families Thrive. https://www.family.org.sg/articles/make-love-last-with-a-growth-mindset/?recommId=e7c38f35-e5ad-43c5-99ac-2af7c952f0e9

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House Publishing Group.

Parenting

Tips Mempererat Hubungan dengan Anak Gen-Z!

Gen-Z atau generasi anak muda yang lahir di antara tahun 1997-2012 bertumbuh di era perkembangan teknologi yang berkembang dengan cepat.

Tidak seperti generasi milenial yang dahulu bertumbuh dengan mendengarkan radio atau menonton televisi, Gen-Z bertumbuh dengan mobile phone dan internet. Teknologi-teknologi ini mendukung  mereka untuk bisa terkoneksi secara global dan berkreasi aktif. Selain dengan orang tua, anak-anak Gen-Z turut bertumbuh bersama berbagai komunitas di internet. Tidak jarang bagi generasi ini mengaplikasikan berbagai budaya atau pemahaman dari komunitas online yang mereka temui. Oleh sebab itu, tidak heran apabila orang tua terkadang merasa asing dengan pemahaman, kebiasaan, atau pembicaraan anak-anak Gen-Z mereka. 

Meskipun wajar, jangan sampai perbedaan generasi menghalangi hubungan Anda dengan anak Anda.

Berikut merupakan beberapa tips untuk mempererat hubungan anda dengan anak Gen-Z anda: 

  1. Gali informasi mengenai Gen-Z
    Parents bisa mempelajari perihal-perihal yang berkaitan dengan anak Anda. Dimulai dari mengetahui aplikasi-aplikasi yang biasanya Gen-Z gunakan, kegunaan dari aplikasi tersebut, bagaimana dampak penggunaan aplikasi tersebut terhadap anak Anda, dan berbagai informasi lain terkait. Tahap ini dapat membekali Amda untuk semakin memahami lingkungan seperti apa yang anak Anda miliki.
  2. Kembangkan dan pertahankan komunikasi 
    Selalu berikan waktu khusus untuk berkomunikasi atau berinteraksi secara intens dengan anak anda. Ajak anak Anda untuk berbincang, berolahraga, beraktivitas, atau bermain bersama setiap harinya. Komunikasi dan interaksi yang konsisten dapat membawa Anda untuk semakin memahami anak Anda. Sebaliknya, anak juga dapat membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan diri Anda.
  3. Tunjukkan ketertarikan dan dukungan Anda ke kehidupan mereka!
    Menunjukkan ketertarikan terhadap hidup atau keadaan anak Anda akan memberikan pesan bahwa Anda peduli dan ingin mendukung anak Anda. Tanyakan apa saja kegemaran atau kesibukan mereka saat ini dan bagaimana Anda bisa mendukung mereka. Tanyakan juga pandangan mereka tentang topik-topik tertentu dan bagikan juga pandangan Anda! .
  4. Jadilah teman yang menghargai privasi dan kebebasan mereka. 
    Anda bisa berteman dengan anak Anda melalui sosial media untuk mengetahui aktivitas sehari-hari mereka atau memantau keadaan mereka. Akan tetapi, tetap tunjukkan bahwa anda menghormati privasi mereka. Jangan terus mengintai akun mereka atau selalu mengomentari aktivitas mereka. Sebaliknya, dukung mereka untuk bersosialisasi secara positif di dalam lingkungan sosial mereka.

FOFI berharap agar tips-tips tersebut dapat membantu Anda dalam berkoneksi dan memberikan dukungan yang tepat untuk masa depan anak Gen-Z.

 

Youth

Apa itu Prokrastinasi dan Apa Penyebabnya?

Pernah gak sih kamu ngerasa malas ngerjain sesuatu? Misalnya ada tugas, tapi kamu selalu menunda untuk mengerjakannya dengan pemikiran masih jauh deadlinenya, masih 3 hari lagi, masih bisa dikumpul besok, atau masih bisa dikerjain malam ini. 

Kamu sering berpikir bahwa sebetulnya kamu lagi malas, makanya menunda untuk mengerjakan sesuatu. Ternyata, sikap tersebut bukan malas tapi prokrastinasi.

Terus Sebenarnya Apa Sih Prokrastinasi Itu?

Prokrastinasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasa malas untuk melakukan suatu pekerjaan dan menundanya hingga menjelang deadline. Orang yang mengalami prokrastinasi sadar kalau ini perilaku yang gak baik tapi masih aja diulang secara terus menerus. 

Penyebab Prokrastinasi

  1. Kelelahan dalam mengambil keputusan

Tuntutan mengambil keputusan secara terus-menerus dalam mengerjakan tugas/pekerjaan dapat membuat kita sampai di satu titik bahwa kita merasa lelah dan akhirnya menunda mengambil keputusan tersebut.

  1. Kesulitan dalam perencanaan dan pengurutan pekerjaan

Ketidakmampuan dalam memetakan tugas/pekerjaan, perspektif yang sempit terhadap tugas/pekerjaan dapat membuat seseorang sulit dalam membuat perencanaan dan pengurutan pekerjaan.

  1. Prokrastinasi terkait hubungan

Akibat suka menunda tugas/pekerjaan dapat menyebabkan konflik juga diantara pasangan karena merasa tidak didukung dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan yang melibatkan tanggungjawab bersama.

  1. Prokrastinasi terkait depresi

Apabila seseorang mengalami depresi maka akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal negatif daripada membuat dirinya menjadi seseorang yang dapat diandalkan.

  1. Prokrastinasi terkait kecemasan

Seseorang yang melakukan prokrastinasi karena emosi negatif karena suatu tugas/pekerjaan, maka kecemasan akan menjadi bagian dari emosi negatif tersebut sehingga dapat mempengaruhi dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan.

  1. Prokrastinasi terkait kreativitas

Penundaan penyelesaian pekerjaan/tugas dapat dilakukan untuk mendapatkan inspirasi kreatif dari tugas itu sendiri. Terkadang mengambil waktu untuk beristirahat di tengah-tengah penyelesaian tugas diperlukan untuk dapat kembali mengerjakan tugas dengan pikiran yang lebih segar.

  1. Kombinasi

Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap prokrastinasi, salah satunya adalah kebiasaan suka menunda, rasa malas yang berlebihan, dan gabungan antara enam penyebab sebelumnya.

Nah, apakah kalian sering prokrastinasi? Nantikan, artikel selanjutnya tentang prokrastinasi ya! Jangan lupa baca juga :

Parenting

Tips Membangun Hubungan yang Konsisten Dengan Anak

Setiap orang tua tentu ingin memiliki hubungan harmonis yang konsisten dengan anak. Berbagai faktor yang ada turut mempengaruhi hubungan antara orangtua dengan anak. Hubungan ini dapat dibangun dengan berbagai aktivitas, interaksi dan komunikasi yang beragam.

Anak yang memiliki sedikit komunikasi dan interaksi dengan orangtua, cenderung akan mencari kebutuhan tersebut dari luar seperti teman dan pacar. Seringkali, kita lupa untuk mempertahankan hubungan yang konsisten antara orangtua dengan anak.

Nah, berikut ini 5 tips ala FOFI untuk membangun hubungan yang konsisten dengan anak.

  1. Mengatur jadwal untuk melakukan sesuatu/aktivitas bersama anak

Orangtua dapat mencari tahu aktivitas apa yang disukai anak dan bisa dilakukan bersama dan mulai mengatur jadwal untuk melakukan hal tersebut. Kegiatan bersama dapat membangun hubungan yang semakin erat antara anak dan orangtua.

 

  1. Mengajarkan anak hal/skill yang baru

Melatih skill anak dapat dimulai sejak dini. Bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan sehari-hari dalam rumah. Dengan membuat list hal-hal apa saja yang akan dilakukan akan membantu konsistensi untuk mengajar anak skill yang baru.

 

  1. Terlibat dalam pendidikan anak

Ada sebagian dari orangtua berpikir bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab guru. Tetapi sebenarnya keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak sangat penting dan membuat anak menyadari bahwa orangtua hadir dalam semua bagian kehidupan anak.

 

  1. Miliki waktu untuk berbicara/berdiskusi bersama anak

Berbicara dengan anak bukan hanya orangtua menyampaikan keinginannya, tetapi juga mendengarkan anak dengan segala keluh kesah bahkan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan bahkan menemukan jawaban bersama saat pertanyaan tersebut sulit untuk dijawab.

 

  1. Selalu konsisten

Kunci untuk membangun hubungan yang konsisten dengan anak adalah dengan tetap konsisten melakukan hal-hal yang telah disepakati. Sebagai orangtua mari kita coba untuk melakukannya dan yakini bahwa pasti akan berhasil. 

 

Baca juga: