Family Indonesia

Youth

Always Positive, Always Strong. Tapi, Kapan Terakhir Kamu Benar-Benar Merasa?

Champs, pernah nggak sih lagi capek banget karena deadline tugas numpuk, kecewa karena project yang kamu handle nggak berjalan sesuai harapan, atau sedih karena merasa tertinggal dari teman-teman sebaya… tapi yang keluar dari mulut malah, “Ah, ini bukan apa-apa, masih banyak orang yang hidupnya nggak seberuntung aku.” Padahal di dalam hati rasanya pengin istirahat, pengin marah, atau sekadar mengakui kalau hari ini memang berat. Seringnya kita terburu-buru menenangkan diri sendiri, bukan karena sudah benar-benar kuat, tapi karena takut dibilang lebay, kurang bersyukur, atau terlalu sensitif. Akhirnya, kita memilih terlihat baik-baik saja daripada jujur dengan apa yang sebenarnya dirasakan.

Atau ketika Champs cerita tentang hari yang kacau, lalu ada yang bilang, “Santai aja kali! Semua bakal baik-baik aja,” atau, “Udah, jangan dipikirin. Mending bersyukur.” Kalimat-kalimat seperti ini sering datang dengan niat baik. Teman, keluarga, atau bahkan diri kita sendiri ingin cepat bangkit dan nggak larut dalam masalah.

Tapi kenyataannya, respons seperti ini kadang cuma bikin lega sebentar. Sedihnya belum sempat dipahami, marahnya belum sempat diproses, tapi kita sudah diminta untuk move on dan kembali baik-baik saja. Sekilas terdengar menenangkan, tapi kenapa ya rasanya justru bikin dada makin sesak?

Toxic Positivity

Ketika setiap keluhan langsung dibalas dengan ajakan untuk selalu mencari sisi baik atau berhenti merasa negatif, emosi yang sebenarnya wajar justru ditekan. Sedih jadi terasa seperti kelemahan. Kecewa dianggap kurang bersyukur. Lelah seolah nggak valid karena selalu ada orang lain yang hidupnya “lebih sulit.” Akhirnya, kita belajar untuk memendam, bukan memproses. Padahal sebagai manusia, kita punya spektrum emosi yang luas dan semuanya valid untuk dirasakan. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukan berarti lemah. Justru, itu langkah awal untuk benar-benar memahami diri sendiri.

Menurut Ungvarsky (2025), toxic positivity terjadi ketika seseorang merasa harus tetap optimis dalam segala situasi sehingga mengabaikan atau menekan perasaan yang tidak nyaman, padahal sikap ini justru dapat menambah beban emosional dan membuatnya sulit mengolah pengalaman emosional secara sehat. Beberapa tanda toxic positivity dalam kehidupan sehari-hari yang sering muncul tanpa disadari antara lain (Quintero & Long, 2019):

  • Menyembunyikan perasaan sebenarnya supaya terlihat baik-baik saja, padahal di dalam hati masih capek, sedih, atau marah.
  • Memaksa diri untuk segera bangkit tanpa memberi ruang untuk merasakan emosi, seolah sedih atau kecewa harus langsung hilang.
  • Merasa bersalah hanya karena sedih, frustrasi, atau kecewa, seakan perasaan itu nggak pantas ada.
  • Mengecilkan pengalaman orang lain dengan kalimat motivasi atau feel-good quotes, sehingga mereka nggak merasa benar-benar didengar.
  • Memberi perspektif perbandingan, misalnya “Masih mending…” atau “Bisa saja lebih buruk.”
  • Menegur atau mempermalukan orang yang mengekspresikan emosi tidak nyaman hanya karena mereka terlihat “negatif”.
  • Menepis masalah yang mengganggu dengan pasrah berlebihan, misalnya, “Ya sudahlah, memang begitu,” tanpa benar-benar memproses perasaan kita.

Mengapa Kita Terjebak dalam Toxic Positivity?

Toxic positivity nggak muncul begitu saja. Wyatt (2024) merangkum dari beberapa penelitian yang menunjukkan pengaruh dari lingkungan sekitar:

1. Budaya yang menuntut ketangguhan dan optimisme

Di banyak negara, ada ungkapan atau norma yang mendorong orang untuk tetap kuat dan positif meski menghadapi kesulitan. Misalnya:

      • Jepang:“ganbatte” yang mendorong orang terus berusaha.
      • Korea Selatan: “hwaiting” yang membuat orang saling menyemangati.
      • India: filosofi “santosha” menekankan kepuasan batin.
      • Brasil: “jeitinho brasileiro” mengajarkan cara menghadapi masalah dengan optimisme.

Budaya ini bisa membantu membangun daya tahan, tetapi juga dapat membuat kita menekan emosi yang tidak nyaman. Lama-kelamaan, emosi yang tertahan bisa berkembang menjadi stres, kecemasan, bahkan depresi.

2. Media sosial yang menampilkan hidup “sempurna”

Paparan terus-menerus terhadap kehidupan yang tampak ideal di dunia maya membuat standar positif jadi sulit dicapai. Akibatnya, kita merasa iri, kesepian, rendah diri, atau menganggap hidup kita kurang memuaskan.

3. Tekanan dari dunia profesional dan motivasi

Lingkungan kerja atau seminar motivasi sering mendorong untuk selalu berpikir positif. Jika nggak hati-hati, hal ini bisa bikin kita menekan emosi sendiri, yang justru meningkatkan stres dan kelelahan.

Yang Dipendam Nggak Hilang, Cuma Numpuk di Dalam

Champs, menahan emosi nggak nyaman bukan cuma bikin kita tersenyum palsu. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka Sonia (2025), kebiasaan menahan emosi yang tidak nyaman bisa berdampak serius pada kesehatan mental dan cara kita mengelola perasaan.

1. Meningkatkan stres dan burnout

2. Meningkatkan risiko kecemasan dan depresi

3. Kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi (alexithymia)

4. Kemungkinan mencari bantuan berkurang

5. Strategi coping maladaptif

Berani Merasa dan Belajar Mengelola Emosi Secara Positif

Kuncinya adalah jujur sama perasaan sendiri, nggak kebanyakan overthinking, dan pinter nge-filter apa yang kita lihat di media sosial (Wyatt, 2024). Berikut beberapa tips praktis dari Wyatt (2024):

1. Sadari dan akui emosi sendiri

Nggak perlu selalu tampil positif. Sedih, frustrasi, marah? Semua itu normal. Mengakui emosi bikin stres berkurang dan mental lebih sehat.

2. Latihan mindfulness

Coba fokus ke napas, tubuh, dan pikiran sekarang, tanpa nge-judge diri sendiri. Lama-lama kita jadi lebih peka sama perasaan, dan nggak gampang meledak waktu stres.

3. Asah kecerdasan emosional

Belajar mengenali, memahami, dan mengatur emosi sendiri. Coba untuk memahami perasaan orang lain juga.

4. Terima emosi tidak nyaman

Kecewa, sedih, kesal? Nggak apa-apa. Gunakan roda perasaan untuk menamai emosi secara spesifik, misalnya kesepian. Semakin jelas kita mengenal emosi itu, semakin mudah memprosesnya tanpa rasa bersalah.

5. Bangun budaya reflektif

Lingkungan yang aman untuk cerita soal tantangan atau kegagalan bikin kita lebih nyaman ngobrolin emosi dan belajar dari pengalaman.

6. Bijak bermedia sosial

Jangan mudah membandingkan diri dengan versi “sempurna” orang lain. Tanyakan pada diri sendiri: “Siapa yang bikin ini? Tujuannya apa? Aku ngerasa apa?”

Champs, Kamu Lagi Bertumbuh… atau Lagi Nahan Semua?

Kadang kita pikir sudah dewasa karena nggak lagi menangis di depan orang lain. Padahal, bisa jadi kita cuma semakin jago menyembunyikannya. Kita bilang, “Aku nggak apa-apa,” bukan karena benar-benar kuat… tapi karena nggak tahu harus mulai cerita dari mana.

Coba berhenti sebentar, dan jujur sama diri sendiri:

Apakah aku benar-benar mengizinkan diriku untuk merasa capek, sedih, atau kecewa hari ini… atau cuma pura-pura baik-baik aja?

Aku lagi nyuruh diri sendiri untuk “move on” sebelum hatiku siap, nggak sih?

Saat teman lagi sedih, aku beneran dengerin mereka… atau buru-buru nyuruh “move on”?

Emosi apa yang selama ini aku tekan karena takut dianggap lemah atau lebay?

Kapan terakhir aku ngerasa semuanya nggak oke… dan cuma duduk bareng perasaan itu tanpa buru-buru memperbaikinya?

Menjadi dewasa bukan berarti selalu stabil atau bebas dari emosi yang nggak nyaman. Menjadi kuat juga bukan berarti nggak pernah goyah. Di tengah target, perbandingan, dan ekspektasi, wajar jika kamu pengin terlihat baik-baik saja. Tapi ingat: semua emosi adalah bagian berharga dari dirimu.

Kamu boleh optimis, tapi kamu juga boleh lelah.

Kalau lagi capek, itu bukan kurang bersyukur.

Kalau lagi kecewa, itu bukan kurang kuat.

Kalau lagi sedih, itu bukan gagal jadi dewasa.

Nggak semua emosi harus langsung “diperbaiki.” Beberapa cuma perlu ditemani. Nggak semua kesedihan harus segera diberi makna positif. Kadang, tumbuh justru dimulai dari keberanian untuk duduk bersama perasaan yang nggak nyaman. Tanpa menyangkalnya.

Champs, kamu nggak kehilangan nilai hanya karena sedang lelah. Dan kamu nggak menjadi lemah hanya karena sedang merasa. Kalau kamu sedang belajar menerima emosi, membangun relasi yang lebih sehat, atau merasa lelah karena harus “selalu kuat,” kami ingin berjalan bersamamu.

Focus on the Family Indonesia siap membantu melalui program konseling. Champs juga bisa menemukan tips-tips praktis untuk self-development melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan. 

Setiap emosi adalah bagian dari proses bertumbuh. Nggak perlu selalu tersenyum untuk terlihat baik-baik saja. Yang lebih penting adalah hadir secara utuh dengan harapan, luka, dan kejujuran pada diri sendiri. Sehat secara emosional bukan soal selalu positif, tapi soal jujur, hadir, dan berani merawat diri. Apa pun yang sedang kamu rasakan hari ini, itu valid.

Referensi

Quintero, S., & Long, J. (2019, October 12). Toxic positivity: the dark side of positive vibes. The Psychology Group. https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/

Sonia. (2025). The Dark Side of Positivity: How toxic positivity contributes to emotional suppression and mental health struggles. International Journal of Indian Psychology, 13(2), 1155–1163. https://doi.org/10.25215/1302.104

Ungvarsky, J. (2025). Toxic Positivity | Psychology | Research Starters | EBSCO Research. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/toxic-positivity

Wyatt, Z. (2024). The Dark Side of #PositiveVibes: Understanding toxic positivity in modern culture. Psychiatry and Behavioral Health, 3(1), 1–6. https://doi.org/10.33425/2833-5449.0016

Marriage

Di Balik Pertanyaan “Kamu Sayang Aku Nggak?”: Memahami Reassurance Seeking dalam Hubungan Pasangan

“Kalau aku nggak chat duluan, kamu bakal cari aku nggak?”

“Aku masih penting buat kamu, kan?”

“Kamu beneran nyaman sama aku?”

Bagi banyak Couples, pertanyaan seperti ini mungkin terasa familiar. Dalam hubungan, kebutuhan untuk merasa dicintai dan diyakinkan sebenarnya sangat manusiawi. Namun, ada kalanya kebutuhan akan kepastian berubah menjadi pola yang berulang. Jawaban pasangan terasa menenangkan hanya sesaat, lalu muncul lagi keraguan yang sama. Pertanyaan diulang, kepastian terus dicari, dan hubungan perlahan dipenuhi kecemasan.

Apa Itu Reassurance Seeking?

Reassurance seeking adalah dorongan untuk terus mencari kepastian dari orang lain bahwa diri kita dicintai, berharga, dan diterima (Reis & Sprecher, 2009). Sekilas, perilaku ini mungkin terlihat seperti kebutuhan perhatian yang wajar. Namun, di baliknya sering terdapat rasa takut ditinggalkan, ketidakamanan, atau kesulitan mempercayai hubungan itu sendiri.

Dalam banyak kasus, reassurance seeking berkaitan dengan kecemasan dalam hubungan dan kebutuhan kuat untuk memastikan relasi tetap aman (Mental Health Counselor PLLC, 2026). Evraire et al. (2022) menemukan bahwa individu dengan anxiety attachment cenderung lebih sering melakukan reassurance seeking karena lebih sensitif terhadap tanda-tanda penolakan dan ketidakpastian dalam hubungan (Evraire et al., 2022).

Couples mungkin mengenalinya dalam keseharian. Misalnya, merasa gelisah ketika pasangan lama membalas pesan, terus memikirkan perubahan kecil dalam nada bicara pasangan, atau berulang kali meminta kepastian tentang komitmen hubungan (Mental Health Counselor PLLC, 2026). Pola ini mulai menjadi masalah ketika reassurance terus dicari meski pasangan sudah berkali-kali memberikan jawaban yang menenangkan (Mental Health Counselor PLLC, 2026).

Menariknya, reassurance seeking tidak selalu muncul karena hubungan sedang bermasalah. Kadang, pola ini berkaitan dengan luka emosional lama, pengalaman relasi sebelumnya, atau kesulitan menenangkan diri saat merasa tidak aman (Chain, 2024). Karena itu, reassurance dari pasangan sering hanya memberi rasa lega sementara sebelum kecemasan muncul kembali.

Mengapa Reassurance Seeking Bisa Melelahkan Hubungan?

Di awal hubungan, reassurance sering terasa seperti bentuk perhatian dan kedekatan yang wajar. Pasangan mungkin dengan senang hati memberikan kepastian atau menenangkan pasangan yang sedang cemas. Namun, ketika reassurance dicari terus-menerus, dinamika hubungan dapat berubah.

Stewart dan Harkness (2015) menemukan bahwa reassurance seeking yang tinggi berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih rendah serta meningkatnya kemungkinan penolakan dari pasangan di kemudian hari. Hal ini dapat terjadi karena pasangan perlahan merasa bahwa reassurance yang diberikan tidak pernah benar-benar cukup.

Dalam hubungan sehari-hari, siklusnya sering berjalan seperti ini (Mental Health Counselor PLLC, 2026):

Seseorang merasa tidak aman, lalu meminta reassurance. Pasangan memberikan kepastian, rasa lega muncul sesaat, tetapi kecemasan kembali lagi sehingga reassurance dicari ulang. Semakin sering siklus ini terjadi, semakin sulit rasa aman terbentuk dari dalam diri sendiri.

Rendahnya rasa percaya dalam hubungan juga berkaitan dengan lebih tingginya reassurance seeking sehari-hari (Evraire et al., 2022). Ketika seseorang sulit mempercayai kestabilan hubungan, reassurance menjadi cara untuk memeriksa apakah hubungan masih aman atau tidak (Evraire et al., 2022). Jika pola ini berlangsung terus-menerus, hubungan dapat dipenuhi frustrasi, kelelahan emosional, bahkan penarikan diri dari salah satu pihak (Chain, 2024).

Reassurance Seeking Tidak Selalu Buruk

Meski sering dikaitkan dengan dampak negatif, reassurance seeking ternyata tidak selalu merusak hubungan. Abe dan Nakashima (2020) menemukan bahwa pada hubungan yang relatif singkat, reassurance seeking tertentu dapat dipersepsikan sebagai upaya menjaga kedekatan emosional dan meningkatkan kepuasan relasi. Temuan ini menunjukkan bahwa reassurance seeking bukan sekadar soal “terlalu needy”. Cara perilaku ini muncul, konteks hubungan, pola attachment, serta respons pasangan ikut menentukan apakah reassurance seeking akan mempererat hubungan atau justru melelahkannya (Evraire et al., 2022).

Evraire et al. (2022) bahkan menyebut kemungkinan adanya bentuk reassurance seeking yang lebih aman dan tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kondisi, mencari reassurance dapat menjadi bentuk keterbukaan emosional dan upaya mencari dukungan dari pasangan (Evraire et al., 2022). Karena itu, Couples tidak perlu langsung menganggap semua kebutuhan reassurance sebagai masalah. Yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensinya, dampaknya terhadap hubungan, dan apakah reassurance benar-benar membantu membangun rasa aman.

Ketika Reassurance Justru Membuat Semakin Tidak Tenang

Ironisnya, reassurance yang dicari terus-menerus tidak selalu membuat seseorang merasa lebih aman. Evraire et al. (2022) menemukan bahwa beberapa individu dengan anxiety attachment yang melakukan reassurance seeking justru mengalami penurunan rasa percaya terhadap hubungan di hari berikutnya. Temuan ini menunjukkan bahwa reassurance terkadang gagal meredakan ketakutan akan penolakan atau ditinggalkan sehingga kecemasan tetap aktif meski pasangan sudah memberikan kepastian. Akibatnya, reassurance menjadi seperti “penenang sementara”. Ada rasa lega sesaat, tetapi akar ketidakamanan tetap belum terselesaikan.

Kondisi ini dapat membuat Couples terjebak dalam pola yang melelahkan. Satu pihak terus mencari kepastian, sementara pihak lain mulai merasa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.

Cara Mengurangi Reassurance Seeking Berlebihan

Kebutuhan reassurance bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya. Couples tetap membutuhkan perhatian, validasi, dan kepastian emosional dalam hubungan yang sehat. Yang penting adalah bagaimana kebutuhan tersebut dikelola agar tidak berubah menjadi siklus yang menguras hubungan. Dilansir dari Mental Health Counselor PLLC (2026), beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi reassurance seeking berlebihan:

1. Kenali pemicu munculnya reassurance seeking

Perhatikan kapan kebutuhan reassurance biasanya muncul dan situasi apa yang memicunya. Kesadaran ini membantu Couples memahami bahwa yang sedang dicari bukan sekadar jawaban pasangan, tetapi rasa aman emosional yang lebih dalam.

2. Belajar menenangkan diri dan membangun rasa aman dari dalam diri

Couples dapat mulai belajar menoleransi ketidakpastian secara bertahap dan membangun rasa percaya diri yang lebih mandiri. Chain (2024) juga menyarankan beberapa strategi seperti mengalihkan perhatian saat mulai overthinking, mengingat kualitas positif pasangan, dan melatih self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut dan penuh pengertian saat sedang merasa rentan atau tidak aman.

3. Bangun respons pasangan yang sehat dan suportif

Pasangan juga memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman dalam hubungan. Respons yang empatik, konsisten, dan tidak defensif dapat membantu pasangan merasa lebih tenang. Namun, reassurance yang sehat bukan berarti harus terus-menerus menenangkan ketakutan pasangan tanpa batas. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan keseimbangan antara dukungan emosional dan kemampuan masing-masing individu mengelola kecemasannya sendiri.

Ketika pola reassurance seeking mulai mengganggu hubungan, konseling individu maupun konseling pasangan dapat membantu Couples memahami akar emosional di balik perilaku tersebut (Chain, 2024).

Jadi, “Kamu Sayang Aku Nggak?”

Pada akhirnya, pertanyaan “Kamu sayang aku nggak?” sering kali bukan sekadar mencari jawaban. Di baliknya, ada kebutuhan untuk merasa aman, diterima, dan takut kehilangan hubungan yang berarti.

Kebutuhan untuk diyakinkan adalah bagian manusiawi dari mencintai seseorang. Namun, hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dari seberapa sering pasangan berkata “aku sayang kamu”, tetapi juga dari kemampuan kedua pihak membangun rasa aman yang lebih stabil bersama-sama. Reassurance dapat menenangkan sesaat, tetapi rasa aman yang bertahan biasanya tumbuh dari kepercayaan, komunikasi, dan koneksi emosional yang konsisten dari waktu ke waktu (Evraire et al., 2022; Mental Health Counselor PLLC, 2026).

Focus on the Family Indonesia mendukung para Couples melalui layanan konseling, program Journey to Us, serta Date Night untuk membantu memperkuat koneksi emosional dan membangun komunikasi yang lebih sehat dalam hubungan. Kami berkomitmen membantu Couples membangun hubungan yang sehat, aman, dan saling memahami bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Abe, K., & Nakashima, K. (2020). Searching for Positive Aspects of Excessive Reassurance-Seeking. Japanese Psychological Research, 63(2), 95–103. https://doi.org/10.1111/jpr.12285

Chain, J. (2024, May 6). Excessive Reassurance Seeking in Relationships. Thrive for the People. https://www.thriveforthepeople.com/blog/excessive-reassurance-seeking-in-relationships

Evraire, L. E., Dozois, D. J. A., & Wilde, J. L. (2022). The Contribution of Attachment Styles and Reassurance Seeking to Trust in Romantic Couples. Europe’s Journal of Psychology, 18(1), 19–39. https://doi.org/10.5964/ejop.3059

Mental Health Counselor PLLC. (2026, April 28). When Needing Reassurance Becomes a Relationship Problem. Mental Health Counselor PLLC. https://mentalhealthcounselor.net/when-needing-reassurance-becomes-a-relationship-problem/

Reis, H., & Sprecher, S. (2009). Encyclopedia of Human Relationships (Vol. 3). SAGE. https://doi.org/10.4135/9781412958479

Stewart, J. G., & Harkness, K. L. (2015). The Interpersonal Toxicity of Excessive Reassurance-Seeking: Evidence From a Longitudinal Study of Romantic Relationships. Journal of Social and Clinical Psychology, 34(5), 392–410. https://doi.org/10.1521/jscp.2015.34.5.392

Parenting

10 Aktivitas Quality Time Bersama Keluarga

Family quality time adalah waktu kebersamaan yang diisi dengan kehadiran dan keterlibatan orang tua secara penuh bersama anak. Penelitian oleh Waters et al. (2023) menunjukkan bahwa kurangnya waktu berkualitas antara orang tua dan anak dapat berdampak buruk pada perkembangan anak. Oleh karena itu, meluangkan quality time secara rutin bersama anak menjadi hal penting untuk mendukung kesejahteraan dan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Quality time tidak harus berupa kegiatan besar, liburan mahal, atau agenda khusus di luar rumah. Justru, momen-momen sederhana di rumah, seperti makan bersama, mengobrol, atau melakukan aktivitas ringan dapat menjadi sarana penting untuk membangun kedekatan dalam keluarga. Melalui quality time yang dilakukan secara konsisten, anak mendapatkan ruang untuk merasa didengar, diperhatikan, dan diterima. Hal ini berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, maupun psikologis. Ikatan keluarga yang terbangun dari kebersamaan sederhana inilah yang menjadi dasar rasa aman dan kepercayaan anak terhadap orang tua.

10 Aktivitas Quality Time Bersama Keluarga

Kesibukan dan tuntutan hidup membuat banyak keluarga memiliki sedikit ruang untuk benar-benar hadir satu sama lain. Kondisi ini dapat membuat kebersamaan perlahan berkurang, meskipun tinggal di bawah atap yang sama. Oleh karena itu, membangun dan menjaga ikatan keluarga tetap menjadi fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang sehat serta kenangan yang bermakna. Alleyne (2025) membagikan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga untuk mempererat hubungan dan membangun kedekatan.

1. Menonton Film 

Menonton film bersama dapat menjadi momen kebersamaan yang hangat tanpa perlu persiapan rumit. Parents dan anak Anda dapat bergiliran memilih film, sehingga setiap anggota keluarga merasa dilibatkan dan dihargai. Selain menghadirkan waktu santai bersama, aktivitas ini juga membuka ruang untuk berbagi cerita, tawa, dan nilai-nilai kehidupan yang muncul dari film yang ditonton. Kenangan sederhana inilah yang sering kali memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

2. Memasak 

Melibatkan seluruh anggota keluarga dalam menyiapkan makanan dapat menjadi momen kebersamaan yang bermakna. Anak dapat ikut berpartisipasi dalam tugas-tugas sederhana sesuai dengan usianya, sementara orang tua membimbing dan memberi ruang untuk belajar. Aktivitas mencoba resep baru, membuat camilan sederhana, atau menyiapkan makanan khas keluarga juga dapat menciptakan kenangan keluarga. Kebersamaan di dapur ini sering kali membuat waktu makan terasa lebih hangat dan penuh makna.

3. Mengadakan Permainan 

Permainan papan dapat menjadi sarana sederhana untuk membangun kebersamaan dalam keluarga. Melalui aktivitas ini, anak belajar berpikir strategis, memperkaya kosakata, serta memahami arti sportivitas. Selain permainan papan, parents juga dapat mencoba permainan lain, seperti permainan kartu, permainan tradisional atau permainan digital yang melibatkan interaksi bersama. Kompetisi yang dilakukan secara ramah sering kali memunculkan tawa, percakapan ringan, dan momen kebersamaan yang memperkuat ikatan keluarga.

4. Membuat Klub Buku 

Membaca bersama dapat menjadi sarana memperkuat ikatan keluarga sekaligus menumbuhkan minat literasi pada anak. Orang tua dapat memilih buku yang sesuai dengan usia anak dan meluangkan waktu untuk membaca serta mendiskusikannya bersama. Bagi keluarga dengan anak usia dini, membacakan cerita secara rutin dengan ekspresi dan suara yang beragam dapat meningkatkan ketertarikan anak dalam membaca. Untuk meningkatkan kreativitas, keluarga juga dapat berkreasi dengan membuat alur cerita sederhana sesuai imajinasi masing-masing. 

5. Camping Indoor 

Camping indoor dapat menjadi kegiatan keluarga yang sederhana namun menyenangkan di rumah. Parents dan anak Anda dapat bekerja sama menciptakan ruang bermain dengan memanfaatkan selimut, bantal, atau tenda kecil di ruang keluarga. Kegiatan ini melatih kreativitas dan kerja sama antaranggota keluarga. Setelah area camping selesai, keluarga dapat mengisinya dengan aktivitas santai seperti bercerita, membaca buku, atau menikmati camilan bersama. 

6. Membuat Karya Seni

Kegiatan seni dapat menjadi ruang aman bagi anggota keluarga untuk mengekspresikan diri dan saling mengenal satu sama lain. Parents dan anak Anda dapat mengerjakan karya seni secara mandiri maupun bersama, seperti menggambar, melukis, atau membuat kolase. Aktivitas seni juga berperan dalam mendukung perkembangan anak, termasuk melatih keterampilan motorik halus, kemampuan memecahkan masalah, serta membangun rasa percaya diri dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan. 

7. Membuat Kotak Waktu Keluarga

Membuat kotak waktu keluarga dapat menjadi cara sederhana untuk merekam perjalanan dan kenangan bersama. Parents dan anak Anda dapat memilih benda-benda bermakna, menuliskan pesan atau harapan untuk diri mereka di masa depan, lalu menyimpannya dalam satu wadah khusus. Proses ini membantu anak belajar merefleksikan pengalaman hidup dan menghargai momen yang sedang dijalani bersama keluarga. Ketika kotak waktu tersebut dibuka di kemudian hari, keluarga dapat melihat kembali pertumbuhan, perubahan, dan ikatan emosional yang telah dibangun dari waktu ke waktu.

8. Mengadakan Pertunjukan Bakat

Pertunjukan bakat dapat menjadi cara menyenangkan untuk membangun kedekatan dan mengenal bakat setiap anggota keluarga. Parents dan anak Anda dapat menyiapkan penampilan sederhana sesuai minat masing-masing, seperti bernyanyi, menari, bercerita, atau menunjukkan keterampilan unik lainnya. Suasana yang suportif akan membantu anak merasa aman untuk mengekspresikan diri dan mencoba hal baru. Melalui aktivitas ini, keluarga tidak hanya merayakan bakat individu, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, saling menghargai, dan kebersamaan.

9. Mempelajari Keterampilan Baru Bersama

Mempelajari hal baru bersama anak dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat hubungan. Ketika parents dan anak Anda bersama-sama berada dalam posisi belajar, tercipta lingkungan yang saling mendukung dan bekerja sama menghadapi tantangan. Aktivitas ini dapat berupa keterampilan sederhana seperti origami, memasak resep baru, mempelajari bahasa asing, atau mencoba olahraga ringan bersama. Proses belajar bersama membuka ruang percakapan yang lebih hidup, memperkuat ikatan emosional, dan membantu anak melihat orang tua sebagai sosok yang mau bertumbuh bersama.

10. Menanam Tanaman

Menanam tanaman di dalam rumah dapat menjadi aktivitas sederhana yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Parents dan anak Anda dapat bersama-sama merawat bibit tanaman sambil belajar mengenal proses pertumbuhan. Melalui rutinitas perawatan yang dilakukan secara konsisten, anak belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian. Aktivitas ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan dalam keluarga, seperti tanaman, membutuhkan perhatian dan keterlibatan yang berkelanjutan agar dapat bertumbuh dengan sehat.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai bonding events yang dirancang untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak, baik antara ayah dan anak laki-laki, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak perempuan, maupun ibu dan anak laki-laki. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Alleyne, V. (2025). 20 heartwarming indoor family bonding activities to try. Vanessa Heartfelt.https://vanessaheartfelt.com/20-family-indoor-activities-building-a-place-of-love-and-joy/
  • Waters, K. A., Salinas-Miranda, A., & Kirby, R. S. (2023). The association between parent-child quality time and children’s flourishing level. Journal of Pediatric Nursing, 73, e187-e196. https://doi.org/10.1016/j.pedn.2023.09.008

 

Youth

Attention Span: Kenapa Fokus Terasa Semakin Mahal di Era Scroll Tanpa Henti?

Champs, pernah nggak kamu buka satu video “sebentar aja”, lalu tiba-tiba sadar sudah hampir satu jam scroll tanpa henti? Rasanya fokus kita gampang sekali berpindah dari satu hal ke hal lain: notifikasi, video pendek, chat, sampai tab tugas yang belum selesai. Ternyata, rasa sulit fokus ini bukan sekadar keluhan generasi digital, tetapi juga menjadi topik yang banyak diteliti.

Apa itu Attention Span?

Attention span adalah kemampuan seseorang mempertahankan fokus pada satu tugas atau alur pikiran dalam jangka waktu tertentu sebelum terdistraksi oleh hal lain, yang dipengaruhi oleh fungsi otak, minat terhadap aktivitas, kondisi emosional, kesehatan fisik, pengalaman hidup, lingkungan sekitar, hingga paparan stimulus digital yang terus berubah cepat (Ungvarsky, 2024).

Di kehidupan sehari-hari, otak sebenarnya terus memilah informasi mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang harus diabaikan. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa paparan smartphone dan media digital yang serba cepat dapat memengaruhi kemampuan kita mempertahankan fokus.

Kenapa Fokus Mudah Teralihkan?

Teknologi bukan otomatis “musuh” fokus. Smartphone dan media digital tetap membantu proses belajar, komunikasi, dan kualitas hidup, namun penggunaan yang berlebihan berkaitan dengan menurunnya kemampuan mempertahankan fokus dan meningkatnya distraksi (Nugroho, 2026; Siyami et al., 2022).

Siyami et al. (2022) menemukan bahwa mahasiswa dengan penggunaan ponsel yang sangat tinggi mengalami penurunan fokus dibandingkan pengguna dengan intensitas lebih rendah. Penggunaan ponsel berlebihan juga dikaitkan dengan menurunnya fokus akademik, gangguan working memory, dan perilaku yang lebih mudah terdistraksi (Siyami et al., 2022).

Hal ini terjadi karena kapasitas fokus manusia sebenarnya terbatas. Ketika beberapa aktivitas berebut sumber perhatian yang sama, sebagian sumber daya mental terserap tanpa disadari sehingga fokus untuk tugas utama menjadi berkurang (Siyami et al., 2022). Karena itu, kebiasaan mengecek notifikasi, berpindah aplikasi, atau multitasking dapat mengambil ruang fokus yang sebenarnya dibutuhkan untuk belajar atau bekerja (Siyami et al., 2022).

Konten Video di Media Sosial dan Attention Span: Apa Hubungannya?

Short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts sering menjadi sorotan dalam diskusi mengenai attention span karena karakteristiknya yang singkat, cepat, dan terus berganti. Dalam beberapa penelitian, pola konsumsi konten seperti ini mulai dikaitkan dengan tantangan dalam mempertahankan fokus. Misalnya, Aljehani et al. (2025) menemukan bahwa sebagian mahasiswa melaporkan kesulitan mempertahankan konsentrasi penuh selama perkuliahan, dengan gangguan distraksi yang cukup sering muncul, serta adanya keterkaitan antara penggunaan TikTok yang berlebihan dan penurunan fokus, meskipun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti.

Hal serupa juga terlihat pada studi tentang short-form video seperti Instagram Reels. Paparan konten yang terus-menerus dan cepat berganti ini ditemukan berkaitan dengan penurunan kemampuan mempertahankan perhatian serta performa akademik. Haliti-Sylaj dan Sadiku (2024) menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan short reels, semakin besar kemungkinan terganggunya kontrol fokus dan meningkatnya distraksi, yang pada akhirnya berhubungan dengan penurunan capaian akademik. Sejalan dengan itu, Asif dan Kazi (2024) juga menemukan bahwa intensitas penggunaan short video yang lebih tinggi cenderung diikuti dengan penurunan performa belajar, terutama pada pengguna dengan durasi konsumsi yang tinggi.

Di Indonesia, pola yang mirip juga terlihat. Nugroho (2026) menemukan bahwa semakin tinggi screen time dan durasi penggunaan TikTok, semakin besar kesulitan mahasiswa dalam mempertahankan fokus saat belajar. Konten yang cepat, padat, dan sangat menarik secara visual ini juga dikaitkan dengan kecenderungan konsumsi informasi yang lebih singkat, serta berkurangnya keterlibatan mendalam dalam aktivitas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan (Nugroho, 2026; Opara et al., 2025).

Namun, penelitian tentang media sosial dan attention span tidak sepenuhnya negatif. Dalam kondisi tertentu, short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts juga dapat mendukung perhatian visual, keterlibatan belajar, serta pembelajaran yang lebih interaktif ketika digunakan untuk konten edukatif (Opara et al., 2025; Rahma, 2025). Generasi Z cenderung lebih mudah memahami materi melalui video edukatif singkat karena formatnya yang ringkas, visual, dan mudah diulang, sesuai dengan gaya belajar mereka yang lebih visual dan cepat (Rahma, 2025). Rahma (2025) menemukan bahwa banyak siswa sering mengulang video untuk memperkuat pemahaman, serta secara tidak sengaja menemukan konten edukatif saat berselancar di media sosial, yang kemudian turut membantu proses belajar mereka. Artinya, bukan hanya aplikasinya yang berpengaruh, tetapi juga cara kita menggunakannya.

Cara Meningkatkan Fokus di Tengah Distraksi Digital

Kalau fokus terasa mudah pecah, ada beberapa strategi sederhana yang bisa Champs coba:

1. Mengurangi distraksi

Menurut Burrows (2026), mengurangi distraksi membantu fokus tetap berada pada tugas utama. Saat belajar atau bekerja, mematikan notifikasi, menjauhkan ponsel, atau membatasi akses internet yang tidak diperlukan dapat membantu menjaga fokus (Burrows, 2026).

2. Fokus pada satu tugas

Multitasking sering dianggap produktif, padahal perhatian manusia terbatas (Burrows, 2026). Karena itu, menyelesaikan satu tugas penting terlebih dahulu sebelum berpindah ke aktivitas lain dapat membantu menjaga fokus tetap stabil (Burrows, 2026).

3. Beri otak waktu istirahat

Otak dapat mengalami kelelahan setelah mempertahankan fokus dalam waktu lama. Karena itu, jeda singkat di tengah sesi belajar atau bekerja membantu otak kembali segar sebelum melanjutkan aktivitas (Burrows, 2026).

4. Tidur yang cukup

Gloria Mark, peneliti attention span dan penulis, menekankan pentingnya tidur yang cukup agar otak memulai hari dengan sumber daya kognitif yang lebih siap (Onque, 2026). Tidur berkualitas membantu otak tetap segar dan lebih siap mempertahankan fokus sepanjang hari (Onque, 2026).

5. Buat tujuan yang jelas

Tujuan yang spesifik membantu fokus lebih terarah pada apa yang ingin dicapai. Karena itu, membuat target realistis dan langkah yang jelas dapat membantu perhatian tidak mudah teralihkan (Onque, 2026).

6. Kenali waktu fokus terbaikmu

Menurut Gloria Mark, fokus manusia memiliki pola naik turun sepanjang hari (Onque, 2026). Mengenali waktu ketika kamu paling fokus dapat membantu menyusun aktivitas secara lebih efektif (Onque, 2026).

7. Biasakan membaca buku

Membaca membantu melatih working memory karena otak perlu menyimpan sekaligus menghubungkan informasi selama proses membaca berlangsung (Onque, 2026). Semakin sering membaca, semakin terlatih kemampuan otak mempertahankan fokus dalam waktu lebih lama (Onque, 2026).

8. Melatih meta-awareness

Meta-awareness berarti menyadari ke mana fokus kita bergerak ketika distraksi muncul (Onque, 2026). Saat fokus mulai teralihkan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah distraksi tersebut benar-benar perlu ditanggapi saat itu juga (Onque, 2026).

Champs, Fokus Bukan Sekadar Soal Disiplin

Mungkin kemampuan fokus kita memang hidup di tengah dunia yang jauh lebih ramai dibanding generasi sebelumnya. Fokus bukan lagi sekadar kemampuan diam dan berkonsentrasi, tetapi juga kemampuan memilih apa yang layak mendapat ruang dalam pikiran kita. Di tengah video singkat, notifikasi tanpa henti, dan kebiasaan berpindah cepat dari satu layar ke layar lain, fokus menjadi sesuatu yang perlu dirawat secara sadar.

Coba tanya pada dirimu sendiri:

Apakah aku benar-benar fokus saat belajar, atau hanya terus berpindah layar?

Berapa kali aku mengecek notifikasi saat mengerjakan tugas?

Apakah aku memberi otak waktu istirahat yang cukup?

Kapan terakhir aku melakukan sesuatu tanpa membuka aplikasi lain di saat bersamaan?

Kalau akhir-akhir ini kamu merasa sulit fokus, bukan berarti kamu malas atau gagal disiplin. Bisa jadi, otakmu sedang terlalu penuh dengan distraksi yang terus berebut perhatianmu.

Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, tempat Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.

Referensi

Aljehani, D., Almaabadi, W., Alshamrani, L., Alshehri, Y., Ghamdi, R., Alzahrani, T., Alsubhi, A., Almutaani, G., Alsulami, S., & Alghamdi, W. (2025). The relationship between TikTok addiction and abnormal attention span among young adults: a cross-sectional study. International Journal of Medicine in Developing Countries, 1561–1569. https://doi.org/10.24911/ijmdc.51-1750323668

Asif, M., & Kazi, S. (2024). Examining the Influence of Short Videos on Attention Span and its Relationship with Academic Performance. International Journal of Science and Research (IJSR), 13(4), 1877–1883. https://doi.org/10.21275/sr24428105200

Burrows, S. (2026, March 7). How to Increase Attention Span. University of Rochester Medicine. https://www.urmc.rochester.edu/news/publications/health-matters/how-to-increase-attention-span#:~:text=Simple%20ways%20to%20improve%20attention,breaks%20to%20retrain%20your%20brain.

Haliti-Sylaj, T., & Sadiku, A. (2024). Impact of Short Reels on Attention Span and Academic Performance of Undergraduate Students. Eurasian Journal of Applied Linguistics, 10(3), 60–68. http://dx.doi.org/10.32601/ejal.10306

Nugroho, L. A. (2026). Structural Equation Modeling to Understand the Dynamics of Technology’s Impact on Attention Span: Indonesian Case. International Journal of Instructional Technology and Educational Studies, 7(1), 30–36. https://doi.org/10.21608/ihites.2025.399582.1253

Onque, R. (2026, March 12). Maintaining deep focus really is harder these days—how to improve your attention span, from a top researcher. CNBC. https://www.cnbc.com/2026/03/12/5-ways-to-maintain-deep-focus-from-an-attention-span-expert.html

Opara, E., Adalikwu, T. M., & Tolorunleke, C. A. (2025). The Impact of Tiktok’s Fast-Paced Content on  Attention Span of Students. Preprints. https://doi.org/10.20944/preprints202501.0269.v1

Rahma, V. (2025). Learning Style Adaptation of Generation Z to Short Educational Videos on Social Media. Journal of Education in Specific Purpose, 1(2), 97–108. https://www.journal.uruborospublishing.com/index.php/jesp/article/view/382

Siyami, M., Moghadam, M. R., & Avaz, K. A. (2022). Investigating the effect of mobile phone use on students’ attention span and academic performance. Journal of Fundamentals of Mental Health, 25(4), 271–277. https://journals.mums.ac.ir/article_23043_cf040b3f088dd5fa21e64ae945f03215.pdf

Ungvarsky, J. (2024). Attention span. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/health-and-medicine/attention-span

Marriage

Satu Visi, Satu Arah: Fondasi Pernikahan yang Bertumbuh

Banyak pasangan merasa pernikahannya baik-baik saja. Tidak sering bertengkar, tidak ada konflik besar, dan tetap menjalani rutinitas bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul rasa hampa yang sulit dijelaskan. Hubungan terasa stabil, tetapi tidak bertumbuh. Tetap bersama, namun seperti berjalan di tempat.

Masalahnya bukan karena kurang cinta atau komitmen. Hal yang sering terlewatkan adalah visi dalam pernikahan. Tanpa visi, pernikahan ibarat dua orang yang berjalan berdampingan tanpa tujuan yang jelas. Visi dalam pernikahan bukanlah mimpi pribadi masing-masing yang kebetulan sejalan. Visi adalah kesepakatan bersama mengenai nilai apa yang dipegang, tujuan apa yang ingin dicapai, dan prioritas apa yang dipilih sebagai pasangan. 

Langkah-Langkah untuk Menyatukan Visi Pernikahan

Banyak pasangan memilih terus berjalan sambil berharap langkah mereka tetap seirama. Padahal, tanpa percakapan yang jujur dan disengaja, kesatuan arah hanya menjadi angan. Anastasi (2023) membagikan beberapa langkah untuk menyatukan visi dalam pernikahan:

1. Menemukan Tujuan Bersama

Visi dalam pernikahan berfungsi sebagai kompas arah yang menuntun pasangan dalam menjalani kehidupan bersama. Visi memberikan kestabilan, tujuan yang jelas, dan makna. Tanpa arah yang jelas, pernikahan mudah terjebak dalam rutinitas yang monoton. Dalam jangka panjang, ketiadaan visi dapat membuat hubungan semakin rapuh. Oleh karena itu, couples perlu membangun percakapan yang jujur satu sama lain agar visi dapat berfungsi sebagai panduan dalam menentukan langkah-langkah nyata sebagai satu tim.

2. Memvisualisasikan Visi Pernikahan

Visi dalam pernikahan sering kali muncul melalui pikiran, mimpi, imajinasi, dan gambaran tentang masa depan yang diharapkan bersama. Tidak jarang, gambaran tersebut terasa sulit atau bahkan tampak mustahil. Hal ini wajar, karena visi memang menantang pasangan untuk keluar dari zona nyaman dan bertumbuh. Namun, visi tidak cukup hanya dipikirkan, ia perlu dilanjutkan dengan menetapkan tujuan-tujuan konkret agar visi tersebut dapat diwujudkan secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membuat Papan Visi Pernikahan

Salah satu cara yang dapat couples lakukan untuk menyatukan arah pernikahan adalah dengan membuat papan visi. Couples dapat merangkum tujuan hidup bersama dengan gambar dan kata-kata yang merepresentasikan nilai, harapan, dan prioritas yang ingin dijalani. Dengan menempatkannya di ruang yang mudah terlihat, couples dapat kembali mengingat tujuan pernikahan di tengah kesibukan dan tantangan sehari-hari. 

4. Tetap Berjuang Menjaga Visi Pernikahan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal dapat mengalihkan perhatian pasangan. Jika tidak disadari, gangguan-gangguan ini dapat membuat couples lebih sering bereaksi satu sama lain daripada bergerak menuju tujuan yang sama. Oleh karena itu, couples perlu secara sengaja meluangkan waktu untuk kembali menyelaraskan arah. Mengambil waktu bersama untuk berdiskusi, mendengarkan, dan menyepakati kembali prioritas menjadi langkah penting agar visi pernikahan tidak tenggelam oleh rutinitas. Kesepakatan untuk menjaga fokus inilah yang membantu visi tetap hidup dan menuntun couples melangkah sebagai satu tim.

5. Mulailah dari Sekarang

Tidak semua pasangan langsung memiliki gambaran masa depan yang jelas. Namun, keterbatasan pandangan bukan alasan untuk menunda langkah. Memulai dari kondisi saat ini jauh lebih penting daripada menunggu kepastian yang sempurna. Kejelasan arah sering kali muncul seiring couples berani melangkah dan belajar bersama.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan, program Journey to Us, serta bonding events seperti Date Night untuk memperkuat relasi. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi 

  • Anastasi, G. (2023, Agustus 19). Why your marriage needs a vision. https://gasparandmichele.com/why-your-marriage-needs-a-vision-3/
Parenting

Panduan Orang Tua: Mendukung Anak yang Merasa Kesepian

Parents, tanda-tanda anak kesepian tidak selalu mudah dikenali. Anak bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa, berinteraksi dengan teman, atau terlihat aktif di media sosial, tetapi di waktu tertentu menjadi lebih diam atau kesulitan menjelaskan perasaannya. Dalam banyak penelitian, kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan yang dirasakan dibandingkan sekadar jumlah teman yang dimiliki (Buecker et al., 2024).

Tidak semua anak akan secara langsung mengatakan bahwa mereka merasa kesepian. Sebagian anak mungkin belum memahami apa yang mereka rasakan, sementara yang lain memilih untuk tidak bercerita. Situasi ini dapat membuat Parents merasa ragu dalam bersikap: “Harus mendekat atau memberi ruang?” dan “Harus bertanya atau menunggu?” Dalam kondisi seperti ini, membangun kepekaan terhadap pengalaman emosional anak menjadi hal yang penting.

Peran Parents tidak hanya memastikan anak memiliki lingkungan sosial, tetapi juga membantu anak merasa didengar dan diterima. Pendampingan yang tepat dapat membantu anak memahami dan menghadapi pengalaman kesepian dengan cara yang lebih sehat.

1. Mulai dari Mendengarkan, Bukan Langsung Memperbaiki

Tidak semua situasi membutuhkan intervensi langsung dari Parents. Ada kalanya yang lebih dibutuhkan anak adalah kesempatan untuk memproses pengalaman yang sedang ia alami. Ketika Parents terlalu cepat mengambil alih dengan memberikan solusi, proses tersebut justru dapat terhenti. Oleh karena itu, penting bagi Parents untuk memberi ruang agar anak dapat berperan sebagai pembicara, sementara Parents mengambil posisi sebagai pendengar.

Dari sisi anak, kesempatan untuk berbicara menjadi sarana untuk memahami emosinya sendiri sekaligus membangun kepercayaan bahwa Parents hadir tanpa menghakimi (Ehmke, 2026). Sementara itu, dari sisi Parents, proses mendengarkan memungkinkan pengumpulan informasi yang lebih utuh. Dengan pemahaman yang lebih komprehensif, Parents dapat memberikan dukungan yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan anak (Ehmke, 2026).

2. Membangun Ruang Nyaman Agar Anak Mau Curhat

Keterbukaan anak tidak dapat dipaksakan melalui pertanyaan atau nasihat. Anak cenderung lebih mudah berbagi cerita ketika mereka terbiasa merasa diterima dan aman secara emosional, bahkan saat sedang menghadapi perasaan yang sulit atau tidak nyaman. Berbagai temuan penelitian menunjukkan hubungan yang hangat dan suportif dengan orang tua berperan penting dalam kondisi emosional anak, termasuk dalam menurunkan tingkat kesepian dan meningkatkan kesejahteraan psikologis (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Hal ini menekankan bahwa yang berpengaruh bukan sekadar kata-kata, tetapi juga bagaimana Parents hadir dalam interaksi sehari-hari.

Untuk memfasilitasi percakapan yang aman, Parents dapat mencoba beberapa pendekatan berikut (Ehmke, 2026):

  • Ajukan pertanyaan terbuka yang mendorong anak untuk mengeksplorasi dan menjelaskan pengalamannya lebih dalam

Contohnya, “Apa bagian dari hari ini yang paling membuatmu kesal?” atau “Apa yang paling kamu sukai saat bermain dengan temanmu?”

  • Sampaikan komentar jujur tetapi tidak menghakimi sebagai pembuka percakapan

Alih-alih langsung bertanya atau menghakimi, Parents dapat memulai dari apa yang terlihat. Misalnya, “Belakangan kamu kelihatan lebih pendiam setelah pulang sekolah,” lalu beri ruang agar anak menanggapi.

  • Tunjukkan bahwa perasaan anak dapat diterima

Parents perlu memvalidasi pengalaman anak dengan menunjukkan bahwa perasaannya dapat diterima dengan mendengarkan secara tenang dan tidak berlebihan dalam merespons. Misalnya, ketika anak tampak kecewa, Parents bisa mengatakan, “Wajar kalau kamu kesal karena itu tidak berjalan seperti yang kamu harapkan,” atau “Sepertinya situasi tadi memang bikin frustrasi, ya?” 

3. Membimbing Anak Mengenali dan Mengelola Kesepian

Tidak semua anak langsung menyadari bahwa yang mereka rasakan adalah kesepian. Parents dapat membantu anak mengenali dan mengelola perasaan ini dengan cara berikut (Williams, 2022):

  • Bantu anak menyebutkan perasaannya

Anak terkadang kesulitan menyadari atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Parents dapat memberi gambaran dengan menceritakan pengalaman pribadi, misalnya “Dulu, waktu Mama seusia kamu, ada saat-saat di mana Mama merasa sedih karena teman-teman di sekolah sedang sibuk. Mama merasa sendirian, tapi Mama belajar bahwa merasa sepi itu normal. Perasaan sepi itu mendorong Mama untuk mencoba bicara dengan teman baru dan bermain bersama mereka.” Cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa kesepian adalah hal yang normal dan dapat dikelola.

  • Untuk anak kecil

Fokuskan pada memberikan rasa aman dan dukungan emosional. Parents dapat menyediakan buku cerita yang sesuai usia, serta memberikan pelukan atau perhatian ekstra, sehingga anak merasa dicintai dan terlindungi.

  • Untuk anak yang lebih besar

Utamakan mendengarkan dan menghargai semua perasaan anak, termasuk sedih, marah, frustrasi, atau kecewa. Jangan buru-buru memberi solusi atau menyuruh mereka untuk “cepat move on”. Cukup biarkan mereka merasa dimengerti dan validasi perasaannya.

  • Dorong cara kreatif untuk menghadapi kesepian

Ajak anak menyalurkan perasaannya lewat aktivitas yang mereka sukai, seperti menggambar, menulis, bermain musik, atau hobi lainnya. Setelah itu, bantu mereka merencanakan kegiatan yang dapat membuat mereka merasa lebih terhubung dengan orang lain dan tidak sendirian.

4. Membangun Keterampilan Sosial Anak

Anak yang kesulitan bersosialisasi sering merasa canggung, cemas, atau tidak tahu harus mulai dari mana. Parents dapat membantu anak membangun keterampilan sosial secara bertahap dengan cara yang terstruktur dan penuh dukungan (Ehmke, 2026):

  • Rencanakan langkah-langkah kecil

Interaksi sosial dapat terasa menakutkan. Pecah menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dicapai, misalnya menyapa teman, mengajak bermain, atau mengobrol singkat. Siapkan juga rencana cadangan jika respons teman berbeda dari yang diharapkan. Dengan begitu, anak merasa lebih aman dan percaya diri saat mencoba berinteraksi.

  • Latihan dalam lingkungan yang aman

Anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial tanpa tekanan. Hal ini dapat diwujudkan melalui bermain peran, bergiliran (taking turns), atau menyelesaikan konflik sederhana di rumah bersama anggota keluarga atau teman dekat. Pengalaman ini membantu anak belajar menyesuaikan diri secara bertahap dengan berbagai orang dan situasi.

  • Berikan dorongan dan dukungan

Anak yang cemas atau minder biasanya enggan mencoba bersosialisasi. Parents dapat memvalidasi perasaan mereka, memuji usaha yang mereka lakukan, dan menekankan bahwa pengalaman sosial biasanya lebih menyenangkan dari yang mereka bayangkan. Dukungan ini mendorong anak berani mencoba dan belajar dari pengalaman nyata.

  • Bimbing anak menilai situasi dengan lebih realistis

Kadang anak salah menafsirkan situasi sosial, terutama melalui chat atau media sosial. Parents dapat membantu anak meninjau fakta, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan mengenali pola berpikir negatif. Hal ini membantu anak memahami situasi dengan objektif dan tidak mudah cemas berlebihan.

  • Temukan lingkungan sosial yang sesuai minat anak

Anak yang kesulitan menyesuaikan diri mungkin belum menemukan kelompok yang cocok. Parents dapat membantu anak mengeksplorasi kegiatan atau komunitas yang sesuai minat mereka, baik daring maupun luring. Kegiatan yang benar-benar menarik bagi anak membuat mereka lebih nyaman, lebih mudah membangun hubungan, dan meningkatkan rasa percaya diri.

  • Perhatikan keselamatan saat bersosialisasi online

Jika anak bersosialisasi melalui internet, penting bagi Parents untuk memastikan mereka aman dan memahami potensi risiko. Edukasi aktif tentang keamanan digital sangat penting, terutama bagi anak dengan kebutuhan khusus atau yang lebih rentan terhadap situasi berbahaya.

5. Peran Media Sosial dalam Kehidupan Sosial Anak

Media sosial dan perangkat digital kini menjadi bagian penting dari cara anak berinteraksi dengan teman sebaya. Meskipun tidak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka, banyak anak tetap membangun koneksi dan bersosialisasi melalui layar, bahkan terkadang lebih intens daripada yang disadari orang tua (Ehmke, 2026). Gim online, chat, atau platform digital lain dapat menjadi ruang sosial yang memberikan pengalaman kebersamaan dan kerja sama. Beberapa bentuk interaksi online juga dapat menjadi sumber dukungan sosial (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Namun, penting diingat bahwa pengalaman kesepian anak tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa sering mereka menggunakan media sosial atau lamanya waktu online, tetapi lebih pada kualitas hubungan yang mereka rasakan (Buecker et al., 2024).

Hal-hal yang dapat Parents perhatikan (Ehmke, 2026):

  • Amati cara anak bersosialisasi secara digital

Duduklah bersama anak saat mereka bermain gim atau menggunakan media sosial. Tanyakan dengan santai, misalnya:

“Siapa saja temanmu yang lagi main atau ngobrol sama kamu sekarang?”

“Ada teman baru yang kamu kenal dari sini?”

“Kamu senang nggak main sama mereka? Kenapa begitu?”

“Kalau lagi main, ada hal seru atau lucu yang kalian lakukan bareng?”

Pertanyaan ringan seperti ini membantu Parents memahami sejauh mana anak benar-benar terhubung dengan teman sebaya secara digital, tanpa membuat mereka merasa diawasi atau tertekan.

  • Hargai kenyamanan sosial anak

Beberapa anak lebih nyaman bersosialisasi secara online dan merasa senang dengan interaksi digital mereka. Hal ini wajar, terutama bagi anak yang masih kesulitan menyesuaikan diri dalam interaksi tatap muka. Media sosial bisa menjadi cara yang aman untuk membangun rasa percaya diri, memperluas jaringan pertemanan, dan mengurangi rasa kesepian.

  • Seimbangkan interaksi online dan offline

Walaupun interaksi digital bermanfaat, bersosialisasi secara langsung tetap penting untuk perkembangan sosial anak. Jika anak masih kesulitan berinteraksi secara tatap muka, Parents bisa berkonsultasi dengan psikolog anak atau ahli kesehatan mental yang fokus pada perkembangan sosial. Profesional dapat membantu Parents dan anak menemukan strategi agar anak lebih percaya diri dan nyaman dalam interaksi langsung dengan teman sebaya.

6. Kondisi Psikologis Anak dan Bantuan Profesional

Kesepian memang wajar dialami, tetapi jika berlangsung terus-menerus, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional anak (Williams, 2022; Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Faktor psikologis, seperti rasa percaya diri yang rendah, rasa canggung dalam situasi sosial, atau kecenderungan menarik diri dari interaksi dengan orang lain, sangat memengaruhi pengalaman kesepian (Buecker et al., 2024). Anak yang kurang percaya diri cenderung lebih rentan merasa terisolasi dan kesulitan membangun hubungan dengan teman sebaya (Buecker et al., 2024).

Untuk membantu anak, Parents dapat melakukan beberapa langkah berikut (Williams, 2022):

  • Amati perubahan perilaku dan suasana hati

Perhatikan anak secara konsisten selama beberapa minggu. Perubahan signifikan bisa menjadi tanda bahwa kesepian mulai berdampak pada kesejahteraan mereka.

  • Fasilitasi anak untuk berbagi perasaan

Dorong anak untuk menceritakan apa yang mereka rasakan kepada orang dewasa yang mereka percayai, seperti anggota keluarga, guru, atau pelatih. Dukungan dari sosok yang aman membuat anak merasa didengar, dimengerti, dan tidak sendirian menghadapi perasaannya.

  • Jangan ragu mencari bantuan profesional

Jika upaya Parents belum cukup dan anak masih merasa kesepian, konsultasi dengan dokter anak atau terapis kesehatan mental sangat dianjurkan. Bantuan profesional dapat memberikan strategi yang tepat untuk mengelola perasaan anak, mencegah masalah psikologis yang lebih serius, dan mendukung perkembangan keterampilan sosial yang sehat.

Parents, Sudahkah Anak Merasa Terhubung?

Menyadari bahwa anak sedang merasa kesepian bukan untuk membuat Parents merasa bersalah atau khawatir berlebihan. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan setiap keluarga memiliki dinamika uniknya masing-masing. Yang paling penting adalah kesediaan Parents untuk hadir, peka, dan terus belajar memahami kebutuhan emosional anak.

Parents bisa mulai dengan pertanyaan sederhana:

Apakah anak saya merasa didengar ketika ia ingin berbagi?

Apakah ia memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaan?

Apakah saya benar-benar hadir dan fokus ketika ia membutuhkan perhatian?

Langkah-langkah kecil seperti mendengarkan dengan sepenuh hati, membangun kedekatan emosional, dan mendampingi anak memahami hubungan sosial dapat memberikan dampak besar. Kesepian bukan sesuatu yang harus dihapus seketika, melainkan pengalaman yang bisa dihadapi bersama secara bertahap.

Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui berbagai program dan layanan, seperti layanan konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukanlah lingkungan yang sempurna, melainkan satu tempat di mana ia merasa benar-benar diterima, dihargai, dan aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Referensi

Binte Mohammad Adib, N. A., & Sabharwal, J. K. (2023). Experience of loneliness on well-being among young individuals: A systematic scoping review. Current Psychology, 43(3), 1965–1985. https://doi.org/10.1007/s12144-023-04445-z

Buecker, S., Petersen, K., Neuber, A., Zheng, Y., Hayes, D., & Qualter, P. (2024). A systematic review of longitudinal risk and protective factors for loneliness in youth. Annals of the New York Academy of Sciences, 1542(1), 620–637. https://doi.org/10.1111/nyas.15266

Ehmke, R. (2026, March 13). How to Help Kids Who Are Lonely: What parents can say to kids who are struggling socially and how they can help. Child Mind Institute. Retrieved March 17, 2026, from https://childmind.org/article/how-to-help-kids-who-are-lonely/

Williams, C. (2022, March 3). 4 Ways to Help Your Child Cope With Loneliness. Parent Cue. Retrieved March 17, 2026, from https://theparentcue.org/4-ways-to-help-your-child-cope-with-loneliness/

Youth

Ketika Hati Terasa Sepi di Tengah Keramaian

Champs, pernah nggak kamu lagi bercanda bareng teman-teman, notifikasi grup chat ramai, story Instagram penuh, atau bahkan punya followers cukup banyak di media sosial, tapi… di dalam hati tetap terasa kosong? Kamu ada di tengah keramaian, tapi rasanya seperti tidak benar-benar terhubung dengan siapa pun.

Kadang perasaan ini muncul saat scrolling media sosial. Kenalanmu lagi hangout bareng circle yang solid, atau merayakan pencapaian mereka. Tanpa sadar muncul pertanyaan kecil di kepala: Kenapa hidup mereka terlihat lebih penuh daripada hidupku?

Perasaan seperti ini sering dikaitkan dengan kesepian (loneliness). Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua rasa kosong atau sendiri otomatis berarti kita sedang mengalami kesepian kronis. Emosi bisa datang dan pergi, tergantung situasi yang sedang kita hadapi. Karena itu, alih-alih langsung memberi label, kita bisa mulai dengan mengenali dan memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.

Kesepian sendiri tidak selalu berarti seseorang benar-benar sendirian. Seseorang bisa memiliki banyak teman atau berada di lingkungan yang ramai, tetapi tetap merasa hubungan yang dimilikinya belum cukup memenuhi kebutuhan emosionalnya (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Lebih dari seratus penelitian menemukan bahwa kesepian pada remaja dan dewasa awal dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari hubungan dengan teman sebaya, kondisi psikologis, hingga lingkungan sosial tempat seseorang bertumbuh (Buecker et al., 2024). Jadi, kesepian bukan hanya tentang “punya teman atau tidak”, tetapi juga soal seberapa terhubung kita dengan orang lain secara emosional.

Kesepian Datang dalam Bentuk Berbeda

Champs, kesepian ternyata tidak selalu muncul dengan cara yang sama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengalaman ini setidaknya dapat muncul dalam dua bentuk utama (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023):

1. Kesepian sosial (social loneliness) muncul ketika seseorang merasa tidak memiliki jaringan pertemanan atau hubungan sosial yang cukup luas.

2. Kesepian emosional (emotional loneliness) terjadi ketika seseorang merasa tidak memiliki hubungan yang benar-benar dekat dan mendalam dengan orang lain.

Itulah sebabnya kamu bisa saja memiliki banyak teman, tapi tetap merasa kesepian. Kamu tidak sendirian secara sosial, tetapi kamu belum merasa benar-benar dipahami secara emosional.

Kedua jenis kesepian ini juga dapat berkembang secara berbeda sepanjang kehidupan. Kesepian emosional cenderung meningkat dari masa remaja menuju dewasa awal, sedangkan kesepian sosial biasanya tidak banyak berubah setelah seseorang memasuki usia dewasa awal (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Mengapa Anak Muda Lebih Rentan Merasa Kesepian?

Masa remaja dan dewasa awal adalah periode kehidupan yang penuh perubahan. Banyak hal yang sedang dibangun sekaligus, mulai dari identitas diri, relasi baru, pendidikan, karier, hingga ekspektasi sosial. Di fase ini, hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan teman berkaitan erat dengan pengalaman kesepian (Buecker et al., 2024).

Yang paling berpengaruh bukan jumlah teman, tetapi kualitas hubungan tersebut. Hubungan yang hangat, suportif, dan saling menerima dapat membantu mengurangi kesepian. Sebaliknya, hubungan yang penuh konflik atau terasa tidak dekat dapat membuat seseorang merasa semakin terisolasi (Buecker et al., 2024). Pengalaman negatif dalam relasi sosial, seperti perundungan, penolakan, atau perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya, juga berkaitan dengan meningkatnya kesepian dari waktu ke waktu dan dapat membuat seseorang merasa kurang aman untuk membangun hubungan baru (Buecker et al., 2024).

Kesepian Tidak Hanya Soal Orang Lain, Tapi Juga Cara Kita Melihat Diri Sendiri

Champs, kesepian tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Cara seseorang memandang dirinya juga memiliki peran penting dalam pengalaman ini.

Beberapa kondisi psikologis diketahui berkaitan dengan kesepian pada remaja dan dewasa awal, seperti kepercayaan diri yang rendah, rasa malu dalam situasi sosial, serta kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial (Buecker et al., 2024). Misalnya, ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup menarik atau tidak cukup berharga, ia mungkin menjadi lebih ragu untuk mendekati orang lain atau membangun hubungan baru. Keraguan ini dapat membuat seseorang semakin sulit merasa terhubung dengan orang lain.

Dalam jangka waktu tertentu, kesepian yang terus berlangsung juga dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis. Champs dapat mengalami penurunan kepuasan hidup, menurunnya kesejahteraan psikologis, hingga meningkatnya risiko masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023; Buecker et al., 2024).

Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk merasa terhubung merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia.

Peran Keluarga: Tempat Pertama Belajar Merasa Terhubung

Selain teman sebaya, hubungan dengan keluarga juga berpengaruh, lho! Dalam tinjauan penelitian tentang kesepian pada anak muda, Binte Mohammad Adib dan Sabharwal (2023) menemukan beberapa hal penting terkait peran keluarga:

1. Hubungan yang hangat dengan orang tua dapat membantu mengurangi kesepian

Anak muda yang merasa didukung, dihargai, dan diperhatikan oleh orang tua cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih rendah.

2. Hubungan keluarga yang hangat menjadi dasar rasa aman dalam menjalin relasi

Ketika seseorang merasa diterima di rumah, ia cenderung lebih percaya diri untuk membangun hubungan di luar. Rasa aman ini membantu kita lebih nyaman untuk terbuka, mempercayai orang lain, dan membangun koneksi yang lebih bermakna.

3. Dari rasa aman tersebut, seseorang dapat berkembang lebih sehat dalam relasi sosial

Termasuk kemampuan untuk menjadi lebih mandiri sekaligus tetap merasa terhubung dengan orang lain. Hal ini menjadi bekal penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan.

4. Pengalaman pengasuhan yang penuh dukungan dapat berdampak hingga masa dewasa awal

Kenangan tentang hubungan yang hangat dengan orang tua di masa lalu dapat tetap memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang ketika ia memasuki masa dewasa awal.

Media Sosial: Penghubung yang Membantu atau Pembanding yang Melelahkan?

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa durasi penggunaan media sosial tidak selalu berkaitan langsung dengan kesepian (Buecker et al., 2024). Dalam beberapa situasi, interaksi online justru dapat menjadi sumber dukungan sosial, terutama bagi individu yang merasa kesulitan membangun hubungan secara langsung (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Namun, penting untuk memahami bahwa media sosial pada dasarnya hanyalah sarana, bukan pengganti koneksi yang nyata. Ketika interaksi online mulai menggantikan pertemuan langsung atau digunakan untuk menghindari relasi di dunia nyata, hal ini justru dapat berkaitan dengan meningkatnya kesepian (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023).

Artinya, yang lebih penting bukan berapa lama kita online, tetapi bagaimana kita menggunakan media sosial tersebut. Media sosial bisa membantu membuka koneksi, tetapi hubungan yang lebih dalam tetap perlu dibangun melalui interaksi yang lebih autentik di kehidupan sehari-hari.

Kesepian Bukan Kelemahan, Yuk Hadapi Bersama!

Champs, jika kamu pernah merasa kesepian, penting untuk diingat bahwa perasaan ini bukan berarti kamu gagal bersosialisasi. Kesepian adalah pengalaman yang cukup umum dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari hubungan sosial, kondisi psikologis, hingga lingkungan tempat seseorang bertumbuh (Buecker et al., 2024). 

Kesepian bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan. Perasaan ini justru bisa menjadi sinyal bahwa kita sedang membutuhkan koneksi yang lebih bermakna. Namun, tidak semua perasaan sendiri harus langsung dianggap sebagai kondisi kesepian yang serius. Ada kalanya perasaan ini muncul sebagai respons sementara, misalnya saat kita sedang lelah, menghadapi perubahan, atau merasa tidak sepenuhnya dipahami. Karena itu, daripada terburu-buru memberi label, kita bisa mulai dengan memahami kebutuhan yang mungkin ada di balik perasaan tersebut.

Menurut Adelia Khrisna Putri, akademisi dan peneliti dari Universitas Gadjah Mada, ada beberapa langkah sederhana yang dapat kamu coba untuk mulai menghadapi kesepian (Nathania & Universitas Gadjah Mada, 2025):

1. Akui perasaan yang sedang kamu rasakan

Menyadari dan menerima perasaan kesepian dapat menjadi langkah awal untuk memahami apa yang sebenarnya kamu butuhkan.

2. Hubungi orang yang kamu percaya

Mengirim pesan, menelepon, atau mengajak bertemu keluarga, mentor atau sahabat bisa membantu mengurangi rasa terisolasi.

3. Ikuti aktivitas yang kamu minati

Bergabung dalam kegiatan yang kamu sukai dapat membuka kesempatan untuk bertemu orang baru dan membangun koneksi.

4. Kurangi waktu di media sosial

Mengurangi paparan media sosial dan memperbanyak interaksi langsung dapat membantu memperkuat hubungan nyata.

5. Rawat diri dengan baik

Hal-hal sederhana seperti makan dengan teratur, berolahraga ringan, dan tidur yang cukup juga penting untuk menjaga kesejahteraan emosional.

6. Pertimbangkan mencari bantuan profesional

Konselor atau psikolog dapat membantu memberikan dukungan dan cara yang lebih tepat untuk menghadapi kesepian.

Champs, Mungkin Ini Saatnya Mendengarkan Diri Sendiri

Di tengah kesibukan, notifikasi, dan percakapan yang terus berjalan, ada satu suara yang sering terlewat: suara dari dalam diri kita sendiri.

Sering kali kita sibuk menjaga hubungan dengan banyak orang, tapi jarang benar-benar berhenti untuk memahami apa yang sedang kita rasakan. Padahal, kesepian kadang bukan hanya soal ketiadaan orang lain, tetapi tentang kebutuhan untuk didengar, dipahami, dan diterima apa adanya.

Mungkin selama ini kamu terlihat baik-baik saja di luar. Kamu tetap bercanda, tetap aktif di media sosial, dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Namun jauh di dalam hati, ada pertanyaan yang sesekali muncul pelan-pelan:

Apakah aku benar-benar merasa terhubung dengan orang-orang di sekitarku?

Apakah ada seseorang yang benar-benar mengenalku apa adanya?

Kebutuhan untuk merasa dipahami, diterima, dan terhubung adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Jadi jika saat ini kamu sedang merasa kesepian, ingatlah bahwa perasaan itu valid dan kamu tidak sendirian mengalaminya. Berilah ruang untuk mengenalinya dengan lebih jujur.

Kadang perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar: satu pesan singkat kepada teman lama, satu percakapan jujur dengan orang yang kamu percaya, atau satu keberanian kecil untuk berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Langkah-langkah kecil seperti itu bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih hangat dan bermakna.

Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, dimana Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.

Ingat, merasa kesepian bukan berarti kamu lemah. Itu hanya salah satu bagian dari perjalanan manusia untuk mencari koneksi, makna, dan tempat untuk merasa dimengerti.

Referensi

Binte Mohammad Adib, N. A., & Sabharwal, J. K. (2023). Experience of loneliness on well-being among young individuals: A systematic scoping review. Current Psychology, 43(3), 1965–1985. https://doi.org/10.1007/s12144-023-04445-z

Buecker, S., Petersen, K., Neuber, A., Zheng, Y., Hayes, D., & Qualter, P. (2024). A systematic review of longitudinal risk and protective factors for loneliness in youth. Annals of the New York Academy of Sciences, 1542(1), 620–637. https://doi.org/10.1111/nyas.15266

Nathania, K. D. & Universitas Gadjah Mada. (2025, August 15). Psychology Expert at UGM Explains Causes of Loneliness and How to Overcome It (G. Grehenson, Ed.). Universitas Gadjah Mada. Retrieved March 13, 2026, from https://ugm.ac.id/en/news/psychology-expert-at-ugm-explains-causes-of-loneliness-and-how-to-overcome-it/

Marriage

Demand-Withdraw Pattern dalam Hubungan: Mengapa Satu Ingin Membahas, yang Lain Menjauh?

Couples, pernahkah Anda merasa setiap kali ingin membicarakan sesuatu yang penting, pasangan justru terlihat menghindar? Atau sebaliknya, ketika pasangan mulai membuka topik yang serius, Anda justru ingin diam, menunda, atau menjauh dari percakapan? Situasi ini sering kali terasa membingungkan, bahkan melelahkan. Semakin satu pihak mendekat, semakin pihak lain menjauh.

Dalam banyak hubungan, dinamika ini bukan sekadar perbedaan cara berkomunikasi biasa. Ada pola interaksi tertentu yang sedang berlangsung di baliknya. Pola ini dikenal sebagai demand-withdraw pattern dalam hubungan, yaitu ketika satu pihak mendorong pembicaraan, misalnya dengan mengkritik, menuntut, atau mencari kejelasan, sementara pihak lain merespons dengan menarik diri, menghindar, atau menutup komunikasi (Eldridge et al., 2017). Pola komunikasi pasangan ini tidak jarang terjadi dan sering kali muncul tanpa disadari oleh kedua belah pihak.

Yang membuatnya sulit, pola ini bukan hanya terjadi sekali. Ia cenderung berulang dan saling memperkuat. Ketika satu pihak semakin menekan untuk membahas masalah, pasangan justru semakin menjauh. Penarikan diri tersebut sering kali membuat pihak yang lain semakin meningkatkan tuntutannya (Eldridge et al., 2017). Tanpa disadari, hubungan mulai dipenuhi oleh siklus yang sama, sementara rasa terhubung justru perlahan berkurang.

Lebih dari Sekadar “Gaya Komunikasi” Pasangan

Pola demand-withdraw bukan sekadar perbedaan kepribadian atau kebiasaan berbicara. Ini adalah pola interaksi yang terbentuk dari cara kedua pasangan merespons kebutuhan emosional masing-masing.

Dalam perspektif keterikatan (attachment), penelitian menunjukkan bahwa pasangan dapat memiliki kebutuhan kedekatan yang berbeda dalam hubungan (Millwood & Waltz, 2008). Sebagian pasangan mungkin membutuhkan lebih banyak kejelasan, kehadiran, atau respons emosional, sementara yang lain justru merasa kewalahan ketika percakapan menjadi terlalu intens atau menuntut (Millwood & Waltz, 2008).

Perbedaan kebutuhan ini dapat memunculkan ketegangan dalam hubungan. Pihak yang membutuhkan kedekatan cenderung mendorong percakapan untuk mendapatkan kepastian, sementara pihak yang merasa tertekan justru menarik diri untuk mengurangi ketegangan (Millwood & Waltz, 2008). Dalam banyak kasus, dorongan dan penarikan ini sebenarnya bukan tentang menolak pasangan, melainkan cara masing-masing individu mencoba merasa aman dalam hubungan (Millwood & Waltz, 2008).

Bagaimana Pola Demand-Withdraw Pattern Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari?

Couples, pola komunikasi ini sering muncul dalam situasi yang tampak sederhana. Misalnya, ketika satu pasangan ingin membicarakan kurangnya waktu bersama, sementara pasangan lain merasa topik tersebut terlalu berat untuk dibahas saat itu. Percakapan yang awalnya biasa bisa berubah menjadi tegang. Bukan karena topiknya, tetapi karena cara kedua pihak merespons satu sama lain.

Penelitian Papp et al. (2009) menunjukkan bahwa demand-withdraw pattern dalam konflik pasangan berkaitan dengan meningkatnya emosi negatif seperti marah dan sedih dalam interaksi pasangan. Pada saat yang sama, pola ini juga berkaitan dengan menurunnya interaksi positif, seperti dukungan, kerja sama, dan upaya mencari solusi bersama (Papp et al., 2009). Akibatnya, konflik tidak hanya menjadi lebih emosional, tetapi juga kurang produktif. Pasangan cenderung lebih sedikit melakukan problem solving dalam hubungan atau kompromi, sehingga masalah yang dibicarakan sering kali tidak benar-benar terselesaikan (Papp et al., 2009). Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuat konflik terasa berulang tanpa arah penyelesaian yang jelas.

Dampak Demand-Withdraw Pattern terhadap Hubungan

Jika pola ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya pada konflik tertentu, tetapi juga pada kualitas hubungan secara keseluruhan. Pola demand-withdraw berkaitan dengan penurunan kepuasan hubungan (Hasani-Moghadam et al., 2022). Artinya, semakin sering pasangan terjebak dalam pola ini, semakin rendah tingkat kecocokan dan kepuasan yang mereka rasakan dalam hubungan.

Hal ini bukan berarti hubungan pasti akan berakhir. Namun, pola ini dapat menjadi sinyal bahwa ada dinamika komunikasi dalam hubungan yang perlu dipahami dan diperbaiki. Tanpa kesadaran, pasangan bisa merasa semakin jauh. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak merasa dipahami.

Memahami Pola Komunikasi, Bukan Menyalahkan Pasangan

Couples, penting untuk melihat bahwa pola ini bukan tentang siapa yang “terlalu menuntut” atau siapa yang “terlalu menghindar”. Pola demand-withdraw terbentuk dari interaksi dua orang yang sama-sama berusaha memenuhi kebutuhan emosionalnya, tetapi dengan cara yang berbeda.

Di balik dorongan untuk membahas masalah, sering kali ada kebutuhan untuk didengar, dipahami, atau merasa aman. Di balik penarikan diri, sering kali ada kebutuhan untuk mengurangi tekanan, menjaga emosi tetap stabil, atau menghindari konflik yang terasa terlalu intens.

Ketika Couples mulai melihat pola ini sebagai sesuatu yang terjadi di antara keduanya, bukan sebagai kesalahan salah satu pihak, cara pandang terhadap hubungan dapat mulai berubah: dari saling menyalahkan menjadi saling memahami.

Keluar dari Siklus yang Sama

Kabar baiknya, pola komunikasi dalam hubungan ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Perubahan tidak selalu membutuhkan langkah besar, melainkan sering dimulai dari kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi dalam interaksi sehari-hari. Menurut Fay (2017), berikut langkah-langkah yang dapat membantu Couples memutus demand-withdraw pattern dalam hubungan:

1. Memetakan pola interaksi

Langkah awal adalah mengenali bagaimana pola tersebut terjadi. Couples dapat mulai dengan memperhatikan:

  • Bagaimana respons satu sama lain saling memengaruhi?
  • Dalam situasi apa masing-masing cenderung mendorong atau justru menghindar?
  • Bagaimana kecemasan berperan dalam dinamika tersebut?

Memahami pola ini membantu melihat bagaimana siklus terbentuk, sehingga perubahan menjadi lebih mungkin dilakukan.

2. Mengakui kontribusi masing-masing

Setelah pola mulai terlihat, penting bagi kedua pihak untuk menyadari bahwa masing-masing memiliki peran dalam mempertahankan siklus tersebut. Hal ini membantu melihat bahwa yang menjadi masalah bukan salah satu pihak, melainkan pola interaksi yang terjadi di antara keduanya.

3. Memilih respons yang berbeda dalam momen yang sama

Perubahan dapat dimulai ketika Couples secara sadar memilih untuk merespons dengan cara yang berbeda saat pola itu muncul. Kesadaran sederhana seperti menyadari bahwa pola yang sama sedang terulang dapat membantu Couples menghentikan respons otomatis dan mencoba pendekatan yang berbeda.

4. Mengubah cara merespons sesuai peran masing-masing

Couples dapat melakukan penyesuaian kecil:

  • Pihak yang cenderung menarik diri dapat mencoba tetap hadir dan menyampaikan pandangannya.
  • Pihak yang cenderung menuntut dapat memberi ruang atau menunda percakapan ke waktu yang lebih tepat.

Langkah-langkah ini membantu mengurangi ketegangan dan membuka kemungkinan interaksi yang lebih konstruktif.

Couples, Mungkin Ini Saatnya Bertanya:

Apakah selama ini kita benar-benar membicarakan masalah… atau justru terjebak dalam pola komunikasi yang sama?

Kadang, hubungan tidak membutuhkan solusi yang sempurna. Cukup kesadaran untuk memahami apa yang sedang terjadi di antara kita, dan mencoba merespons dengan cara yang sedikit berbeda. Karena dalam hubungan, perubahan tidak selalu datang dari percakapan besar, tetapi dari cara kita hadir dalam percakapan kecil, berulang, dan sehari-hari.

Jika Couples merasa membutuhkan ruang yang lebih aman untuk memahami dinamika hubungan, Focus on the Family Indonesia menyediakan berbagai layanan seperti Journey to Us, seminar pernikahan, konseling pasangan, serta Reconnected untuk membantu membangun kembali komunikasi yang sehat dan koneksi emosional dalam hubungan. Couples dapat menjangkau kami melalui Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Eldridge, K., Cencirulo, J., & Edwards, E. (2017). Demand-Withdraw Patterns of Communication in Couple Relationships. In J. Fitzgerald (Ed.), Foundations for Couples’ Therapy Edition (1st ed., pp. 112–122). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315678610-12

Fay, L. (2017, July 10). Caught in the Demand-Withdraw Cycle? Here’s A Guide for Getting Unstuck. Laurel Fay & Associates. https://laurelfay.com/caught-demand-withdraw-cycle-heres-guide-getting-unstuck/

Hasani-Moghadam, S., Ganji, J., Nia, H. S., Aarabi, M., & Khani, S. (2022). The prevalence and related factors with demand or withdraw couples communication pattern. Journal of Nursing and Midwifery Sciences, 9(2), 140–145. https://doi.org/10.4103/jnms.jnms_53_20

Millwood, M., & Waltz, J. (2008). Demand-Withdraw Communication in Couples: An Attachment Perspective. Journal of Couple & Relationship Therapy, 7(4), 297–320. https://doi.org/10.1080/15332690802368287

Papp, L. M., Kouros, C. D., & Cummings, E. M. (2009). Demand-Withdraw Patterns in Marital Conflict in the Home. Personal Relationships, 16(2), 285–300. https://doi.org/10.1111/j.1475-6811.2009.01223.x

Parenting

Mengapa Anak Tantrum dan Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Bagi banyak orang tua, tantrum sering terasa seperti badai kecil yang datang tanpa peringatan. Anak yang tadinya baik-baik saja bisa tiba-tiba menangis keras, berteriak, menendang, atau melempar benda. Situasi ini kerap membuat orang tua panik, malu, atau merasa gagal mengendalikan anak. Perasaan tersebut wajar untuk muncul, namun penting untuk dipahami bahwa tantrum bukanlah tanda anak nakal, dan juga bukan bukti bahwa orang tua telah gagal.

Pada anak-anak kecil, terutama balita, tantrum adalah bagian normal dari proses perkembangan. Di usia ini, anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola emosi kuat seperti marah, kecewa, atau frustrasi. Akibatnya, tantrum muncul sebagai bentuk keterbatasan anak dalam mengekspresikan perasaannya dengan baik.

Di balik perilaku yang tampak melelahkan, anak sebenarnya sedang mempelajari keterampilan penting, seperti mengenali perasaan, belajar menunggu, mengikuti aturan, berinteraksi dengan orang lain, serta mengekspresikan diri dengan cara yang lebih tepat. Karena itu, alih-alih melihat tantrum sebagai krisis yang harus segera “dihentikan”, momen ini justru dapat menjadi kesempatan berharga untuk mendidik anak. Lalu, bagaimana parents dapat menghadapi tantrum anak?

Cara Menangani Tantrum Anak

Menangani tantrum anak tidak cukup dengan reaksi spontan atau cara instan untuk menghentikan tangisan. Parents perlu pendekatan yang terarah agar tantrum tidak hanya berhenti sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar anak. Miller (2025) membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan parents untuk menangani tantrum anak:

1. Melakukan Penilaian

Langkah awal yang perlu dilakukan parents adalah memahami apa yang memicu tantrum pada anak. Parents dapat mengamati apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah tantrum muncul. Dari pola-pola inilah parents dapat melihat situasi apa saja yang sering memicu ledakan emosi.

Sebagian besar tantrum sebenarnya cukup bisa diprediksi. Tantrum biasanya muncul saat anak diminta melakukan hal yang menuntut kontrol diri, seperti berhenti bermain, mengerjakan PR, atau bersiap tidur. Ledakan emosi ini sering kali menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami ketidaknyamanan yang belum mampu mereka atasi. Namun, jika tantrum muncul secara berlebihan atau tidak wajar, hal ini bisa menjadi sinyal adanya masalah yang perlu diperhatikan lebih lanjut, seperti pengalaman traumatis, kecemasan, kesulitan belajar, ADHD, atau tantangan perkembangan lainnya.

2. Mengelola Pemicu Tantrum

Tidak semua pemicu tantrum bisa dihilangkan, seperti kewajiban belajar atau mengerjakan PR. Namun, parents dapat mengatur pendekatan baru agar anak mau terlibat dalam aktivitas tersebut. Langkah sederhana seperti mengatur rutinitas dengan lebih jelas atau menyesuaikan tuntutan dengan kemampuan anak dapat membantu mencegah tantrum. Misalnya, jika anak kesulitan mengerjakan PR, parents dapat membuat tugas terasa lebih ringan dengan memberi waktu istirahat singkat, membagi tugas besar menjadi bagian-bagian  kecil, dan memberikan dukungan di bagian yang terasa sulit bagi anak. Pendekatan ini membantu anak merasa lebih mampu menghadapi tantangan.

3. Menanggapi Tantrum

Tantrum juga bisa menjadi perilaku yang dipelajari anak. Ketika parents merasa tidak tahan menghadapi tantrum dan akhirnya mengalah, anak dapat belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, penting bagi parents untuk tidak menghentikan tantrum dengan langsung menuruti keinginan anak. Bahkan respons seperti menegur, memarahi, atau berusaha membujuk anak dapat memperkuat perilaku tantrum.

Daripada memberi perhatian pada tantrum, parents perlu mengarahkan perhatian pada perilaku yang ingin dibangun. Berikan apresiasi saat anak mulai menenangkan diri, mengikuti arahan, atau mencoba menyampaikan keinginannya dengan cara yang lebih baik. Dengan begitu, anak belajar bahwa respons yang tepat terhadap rasa frustasi akan mendapatkan perhatian positif.

Selain itu, parents sebaiknya tidak bernegosiasi dengan anak saat emosi masih memuncak. Anak yang sedang marah belum berada dalam kondisi yang siap untuk berdiskusi. Latihan bernegosiasi, menyelesaikan masalah, dan mengungkapkan perasaan sebaiknya dilakukan ketika anak sudah tenang. 

4. Mencontohkan Perilaku Tenang

Parents perlu menjadi contoh dari sikap tenang dan cara berkomunikasi yang ingin diajarkan kepada anak. Ketika parents mampu menjaga emosi dan menyampaikan harapan dengan jelas, anak lebih mudah memahami apa yang diharapkan dari dirinya. Oleh karena itu, parents dapat menyampaikan arahan dengan lebih spesifik. Misalnya, menjelaskan bahwa anak diharapkan duduk dengan tenang saat makan, menjaga tangan tetap pada tempatnya, dan menggunakan kata-kata yang sopan. Parents juga dapat memberikan pujian atau hadiah saat anak berhasil melakukannya.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Miller, C. (2025, Mei 5). How to handle tantrums and meltdowns. Child Mind Institute. https://childmind.org/article/how-to-handle-tantrums-and-meltdowns/
Youth

4 Cara Melatih Otak agar Lebih Gigih dalam Belajar

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi pelajar Indonesia masih tertinggal. Berdasarkan data yang dirilis GoodStats (2023), Indonesia menempati peringkat ke-69 dari 80 negara dengan skor total 1.108. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran dari kondisi proses belajar remaja yang masih perlu mendapat perhatian serius.

Bagi banyak remaja, belajar sering terasa melelahkan, membosankan, bahkan memicu frustasi. Saat kondisi ini muncul, otak secara alami berusaha menghindari ketidaknyamanan dan mencari pelarian yang lebih cepat serta menyenangkan. Tidak heran jika media sosial atau video game terasa jauh lebih menarik dibandingkan membuka buku atau mengerjakan tugas.

Situasi ini semakin diperparah oleh kehidupan modern yang penuh dengan distraksi. Notifikasi tanpa henti dan arus informasi yang cepat perlahan mengikis kemampuan untuk tetap fokus dan tekun. Akibatnya, banyak remaja sebenarnya bukan kehilangan kecerdasan, tetapi kehilangan daya tahan mental untuk tetap belajar ketika prosesnya tidak nyaman.

Padahal, otak manusia sebenarnya mampu bekerja secara optimal dalam suatu aktivitas ketika merasa tertantang dan memiliki tujuan yang jelas. Kondisi inilah yang membuat seseorang bisa tenggelam dalam suatu kegiatan tanpa harus dipaksa. Lalu, apakah belajar juga bisa demikian?

Cara Melatih Otak Agar Lebih Gigih Dalam Proses Belajar

Kegigihan dalam belajar tidak muncul dari motivasi sesaat, melainkan dari proses melatih otak untuk bertahan menghadapi tantangan. Fokus utamanya adalah melatih kemampuan untuk tetap melangkah meski proses belajar terasa tidak nyaman. Santhosh (2023) membagikan beberapa langkah yang dapat membantu otak membangun ketahanan dan konsistensi dalam belajar:

  1. Menemukan Gaya Belajar yang Paling Sesuai

Memahami gaya belajar yang paling efektif bagi diri sendiri dapat membantu otak bertahan lebih lama dalam proses belajar. Sebagian remaja lebih mudah memahami materi melalui tampilan visual seperti gambar atau diagram, sementara yang lain mungkin lebih terbantu melalui diskusi, membaca, atau aktivitas langsung. Tidak ada gaya belajar yang paling benar. Oleh karena itu, carilah yang paling membantu champs memahami materi dan bertahan dalam proses belajar.

Salah satu metode yang sering digunakan adalah model VARK, yang membagi gaya belajar menjadi visual, auditory, reading/writing, dan kinesthetic. Mencoba berbagai pendekatan belajar dapat membantu champs mengenali metode mana yang paling mendukung fokus dan konsentrasi belajarmu. Dengan menyesuaikan metode belajar dengan cara kerja otak, proses belajar tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga lebih menyenangkan. 

  1. Menemukan Minat Belajar 

Ketertarikan dapat menjadi pendorong yang kuat untuk membangun kegigihan dalam belajar. Ketika materi yang dipelajari dianggap penting atau menarik, otak cenderung lebih bertahan dalam prosesnya, bahkan saat menghadapi kesulitan. Maka dari itu, penting untuk mengenali topik-topik yang benar-benar memicu minat dan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang sederhana seperti ingin memahami suatu topik lebih dalam sudah cukup untuk membantu belajar terasa lebih bermakna. Ketika champs memiliki ketertarikan terhadap apa yang sedang dipelajari, belajar tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang membosankan, melainkan sebagai proses yang menarik untuk dijalani.

  1. Belajar dari Pengalaman Langsung

Belajar akan lebih mudah dipertahankan ketika materi yang dipelajari terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Saat champs dapat melihat bagaimana pengetahuan digunakan dalam situasi nyata, otak cenderung lebih aktif memproses informasi. Mengaitkan teori dengan praktik tidak selalu harus melalui hal besar seperti magang atau proyek formal. Mencoba menerapkan konsep yang dipelajari dalam aktivitas sederhana seperti diskusi, studi kasus, atau pengamatan di sekitar sudah cukup untuk memperkuat pemahaman. Ketika belajar terasa dekat dengan realitas, prosesnya menjadi lebih bermakna dan mendorong keinginan untuk terus mendalami materi.

  1. Terlibat dalam Pembelajaran Kolaboratif

Belajar tidak selalu harus dijalani sendirian. Berada di lingkungan dengan orang-orang yang memiliki tujuan belajar serupa dapat membantu menjaga konsistensi dan ketahanan dalam proses belajar. Interaksi dengan orang lain memberi ruang untuk saling menguatkan, terutama ketika motivasi mulai menurun. Diskusi, bertukar sudut pandang, dan belajar bersama membantu otak memproses materi secara lebih mendalam. Dengan adanya dukungan sosial, belajar tidak hanya terasa lebih bermakna, tetapi juga lebih mudah dijalani secara konsisten.

Apabila champs merasa kesulitan bertahan dalam proses belajar atau membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan diri secara lebih sehat, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

 

Referensi

  • Lubis, R. B. (2023, 10 Desember). Mengulik hasil PISA 2022 Indonesia: Peringkat naik, tapi tren penurunan skor berlanjut. GoodStats. https://goodstats.id/article/mengulik-hasil-pisa-2022-indonesia-peringkat-naik-tapi-tren-penurunan-skor-berlanjut-m6XDt
  • Santhosh, D. (2023, Juni 22). How to get addicted to learning. Medium. https://medium.com/@dakshsanthosh/how-to-get-addicted-to-learning-abfc8100f7f