Skip to main content

Family Indonesia

Parenting

Sharenting dan Dilema Orang Tua Modern: Antara Cinta, Kamera, dan Privasi Anak di Media Sosial

Pernahkah Parents mengunggah foto anak saat pertama kali sekolah, tertidur lucu di sofa, atau merayakan ulang tahun, lalu merasa hangat ketika keluarga dan teman memberikan komentar positif? Di era digital, berbagi momen keluarga di media sosial memang terasa sangat wajar. Bahkan, bagi banyak Parents, media sosial menjadi cara untuk tetap terhubung dengan keluarga, mendokumentasikan tumbuh kembang anak, sekaligus mencari dukungan dari sesama orang tua (Bhroin et al., 2022; Ferrara et al., 2023).

Sharenting adalah praktik orang tua membagikan informasi tentang anak di luar lingkup keluarga, termasuk melalui media sosial, blog, atau aplikasi pesan (Steinberg, 2024). Fenomena ini semakin umum terjadi seiring media sosial menjadi bagian dari kehidupan keluarga modern. Namun di balik unggahan yang terlihat sederhana, sharenting juga memunculkan pertanyaan tentang privasi anak, persetujuan, dan jejak digital yang dapat bertahan lama.

Mengapa Parents Melakukan Sharenting?

Sebagian besar Parents tidak melakukan sharenting dengan niat buruk. Banyak yang membagikan momen anak untuk menunjukkan rasa bangga, menjaga hubungan dengan keluarga, atau mendapatkan dukungan emosional dari komunitas sesama orang tua (Bhroin et al., 2022; Ferrara et al., 2023; Walrave et al., 2023).

Bagi sebagian Parents, media sosial juga menjadi ruang untuk bertahan dalam masa transisi menjadi orang tua. Pengalaman mengasuh anak yang melelahkan terasa lebih ringan ketika ada orang lain yang memiliki dan memahami situasi serupa (Walrave et al., 2023). Selain itu, internet dan komunitas daring sering digunakan untuk mencari informasi pengasuhan dan rasa diterima dalam peran baru sebagai ayah atau ibu (Cataldo et al., 2022).

Norma sosial di media digital juga ikut mempengaruhi perilaku sharenting. Ketika media sosial dipenuhi unggahan keluarga harmonis dan pencapaian anak, Parents dapat merasa bahwa membagikan kehidupan keluarga adalah bagian dari “pengasuhan yang baik” di era modern (Tosuntaş & Griffiths, 2024; Walrave et al., 2023). Dalam beberapa situasi, unggahan tentang anak juga menjadi bentuk ekspresi diri dan pencarian validasi sosial (Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Jejak Digital Anak Dimulai Sejak Dini

Tanpa disadari, jejak digital anak sering kali dimulai bahkan sebelum mereka lahir. Sebagian Parents membagikan hasil USG, cerita kehamilan, hingga membuat akun media sosial untuk calon bayi mereka, sehingga banyak anak sudah memiliki keberadaan digital sebelum usia dua tahun (Ferrara et al., 2023; Keskin et al., 2023).

Semakin banyak unggahan yang dibuat, semakin panjang pula arsip digital anak tanpa pernah dipilih sendiri oleh mereka. Informasi yang terlihat biasa hari ini belum tentu terasa nyaman bagi anak ketika mereka lebih besar nanti (Cataldo et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024). Karena konten digital sulit dihapus sepenuhnya, foto atau cerita tentang anak dapat terus muncul bertahun-tahun kemudian (Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Kondisi ini dikenal sebagai digital tattoo, yaitu jejak digital yang menetap dan berpotensi mempengaruhi kehidupan anak di masa depan (Tosuntaş & Griffiths, 2024). Bagi sebagian remaja, unggahan Parents bahkan dapat terasa memalukan atau tidak sesuai dengan citra diri yang ingin mereka bangun sendiri di media sosial (Cataldo et al., 2022; Keskin et al., 2023).

Risiko Sharenting terhadap Privasi Anak

Salah satu dilema terbesar dalam sharenting adalah keinginan berbagi yang berbenturan dengan tanggung jawab melindungi privasi anak. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa Parents yang paling khawatir tentang privasi anak justru terkadang lebih sering membagikan informasi tentang mereka di media sosial (Bhroin et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Fenomena ini disebut privacy paradox, yaitu ketika Parents memahami risiko digital, tetapi manfaat emosional dan sosial dari posting terasa lebih besar dibandingkan potensi bahayanya (Bhroin et al., 2022). Padahal, risiko sharenting tidak hanya berkaitan dengan foto anak. Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, lokasi sekolah, hingga rutinitas harian juga dapat membuka celah terhadap masalah privasi dan keamanan digital (Stephenson et al., 2024).

Selain itu, foto anak dapat disalahgunakan atau digunakan tanpa izin oleh pihak lain (Keskin et al., 2023; Walrave et al., 2023). Karena itu, sharenting tidak lagi dipandang sekadar persoalan “unggah foto lucu,” tetapi juga berkaitan dengan hak privasi dan perlindungan anak di ruang digital.

Anak Belum Tentu Nyaman dengan Unggahan Orang Tua

Parents mungkin merasa unggahan tertentu lucu atau penuh kenangan. Namun, anak belum tentu memandangnya dengan cara yang sama. Sebagian remaja merasa malu, terganggu, atau tidak nyaman dengan unggahan Parents tentang diri mereka (Keskin et al., 2023; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Dalam beberapa kasus, anak merasa citra yang dibentuk Parents di media sosial tidak sesuai dengan identitas yang ingin mereka tampilkan sendiri (Cataldo et al., 2022). Karena itu, isu persetujuan atau consent menjadi penting dalam sharenting. Namun, menentukan kapan anak benar-benar dapat memberikan persetujuan yang matang bukan hal sederhana. Kemampuan anak memahami konsekuensi jangka panjang dari unggahan digital berkembang secara bertahap dan dapat berbeda pada setiap anak (Stephenson et al., 2024; Keskin et al., 2023).

Meski demikian, melibatkan anak dalam percakapan tentang unggahan media sosial tetap penting, terutama ketika mereka mulai mampu menyampaikan pendapatnya sendiri (Bhroin et al., 2022; Tosuntaş & Griffiths, 2024). Parents dan anak dapat mendiskusikan batasan sederhana, seperti foto apa yang boleh dibagikan, kepada siapa, dan seberapa sering konten tentang anak diunggah (Cataldo et al., 2022).

Mindful Sharenting: Berbagi dengan Lebih Sadar

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang privasi digital anak, muncul pendekatan mindful sharenting, yaitu upaya Parents tetap menikmati manfaat media sosial sambil lebih berhati-hati melindungi privasi anak (Walrave et al., 2023).

Beberapa Parents mulai membatasi informasi yang dibagikan, misalnya mengambil foto dari belakang, menggunakan fitur blur, atau memilih akun privat agar unggahan hanya dapat diakses orang terdekat (Walrave et al., 2023). Ada juga Parents yang mulai membuat aturan dengan keluarga besar terkait unggahan foto anak di media sosial demi menjaga kontrol atas identitas digital anak sejak dini (Walrave et al., 2023).

Mindful sharenting bukan berarti Parents sama sekali tidak boleh mengunggah kehidupan keluarga. Pendekatan ini lebih menekankan kesadaran dan refleksi sebelum membagikan sesuatu tentang anak di internet (Walrave et al., 2023).

Ketika Anak Menjadi Konten

Perkembangan media sosial juga membuat sharenting berubah menjadi bagian dari aktivitas digital profesional. Sebagian Parents mulai menjadikan konten keluarga sebagai bagian dari pekerjaan influencer atau kerja sama merek (Stephenson et al., 2024; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Dalam konteks ini, anak dapat terlibat dalam konten promosi atau video yang dirancang untuk menarik perhatian publik (Tosuntaş & Griffiths, 2024). Budaya viral di media sosial bahkan dapat mendorong bentuk sharenting yang lebih intens dan eksploitatif ketika anak menjadi pusat daya tarik konten (Stephenson et al., 2024).

Ketika kehidupan anak mulai menjadi sumber pendapatan atau popularitas, batas antara dokumentasi keluarga dan komersialisasi kehidupan pribadi menjadi semakin kabur (Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Parents, Perlukah Berhenti Mengunggah Anak?

Sharenting bukan isu hitam-putih. Tidak semua unggahan otomatis berbahaya, dan tidak semua Parents yang membagikan momen anak berarti mengabaikan privasi mereka (Keskin et al., 2023). Yang terpenting adalah kesadaran bahwa anak juga memiliki hak atas privasi, identitas, dan ruang digital mereka sendiri (Ferrara et al., 2023; Tosuntaş & Griffiths, 2024).

Sebelum mengunggah sesuatu, Parents bisa mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah anak akan nyaman dengan unggahan ini beberapa tahun lagi?

Apakah informasi yang dibagikan terlalu personal?

Apakah unggahan ini benar-benar perlu dipublikasikan?

Di era digital, menjadi Parents juga berarti belajar menjaga keseimbangan antara berbagi momen keluarga dan melindungi ruang aman anak di internet.

Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui program Raising Future-Ready Kids mengenai Media Literacy and Digital Intelligence melalui seminar yang memberdayakan anak-anak untuk menavigasi dunia maya dengan mengembangkan kecerdasan digital dalam pemahaman media, keamanan online, privasi data, dan etika digital. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Bhroin, N. N., Dinh, T., Thiel, K., Lampert, C., Staksrud, E., & Ólafsson, K. (2022). The Privacy Paradox by Proxy: Considering Predictors of Sharenting. Media and Communication, 10(1), 371–383. https://doi.org/10.17645/mac.v10i1.4858

Cataldo, I., Lieu, A. A., Carollo, A., Bornstein, M. H., Gabrieli, G., Lee, A., & Esposito, G. (2022). From the cradle to the Web: The Growth of “Sharenting”—A Scientometric Perspective. Human Behavior and Emerging Technologies, 2022, 1–12. https://doi.org/10.1155/2022/5607422

Ferrara, P., Cammisa, I., Corsello, G., Giardino, I., Vural, M., Pop, T. L., Pettoello-Mantovani, C., Indrio, F., & Pettoello-Mantovani, M. (2023). Online “Sharenting”: The dangers of posting sensitive information about children on social media. The Journal of Pediatrics, 257, 113322. https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2023.01.002

Keskin, A. D., Kaytez, N., Damar, M., Elibol, F., & Aral, N. (2023). Sharenting syndrome: an appropriate use of social media? Healthcare, 11(10), 1359. https://doi.org/10.3390/healthcare11101359

Steinberg, S. (2024). What you need to know about “sharenting”: Expert tips on protecting your child’s privacy in the digital age. UNICEF. https://www.unicef.org/parenting/child-care/sharenting

Stephenson, S., Page, C. N., Wei, M., Kapadia, A., & Roesner, F. (2024). Sharenting on TikTok: Exploring Parental Sharing Behaviors and the Discourse Around Children’s Online Privacy. CHI ’24: Proceedings of the 2024 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, 1–17. https://doi.org/10.1145/3613904.3642447

Tosuntaş, Ş. B., & Griffiths, M. D. (2024). Sharenting: A systematic review of the empirical literature. Journal of Family Theory & Review, 16(3), 525–562. https://doi.org/10.1111/jftr.12566

Walrave, M., Robbé, S., Staes, L., & Hallam, L. (2023). Mindful sharenting: how millennial parents balance between sharing and protecting. Frontiers in Psychology, 14, 1171611. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1171611

Youth

The Art of Doing Nothing: Menemukan Jeda dan Ruang Bernapas bagi Generasi Ambis

Champs, kapan terakhir kali kamu benar-benar tidak melakukan apa pun?

Bukan sekadar mengganti tugas dengan scrolling media sosial, bukan juga berpindah dari rapat organisasi ke menonton serial sambil membalas chat pekerjaan… tapi benar-benar berhenti sejenak dari tuntutan untuk terus produktif, terus bergerak, dan terus menghasilkan sesuatu.

Di tengah budaya yang mengagungkan kesibukan, “tidak melakukan apa-apa” sering dianggap sebagai pemborosan waktu. Akibatnya, banyak orang merasa bersalah ketika beristirahat, seolah nilai diri mereka ditentukan oleh seberapa sibuk mereka setiap hari. Padahal, hubungan manusia dengan aktivitas, kebosanan, dan waktu luang jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan “rajin” atau “malas”.

Mengapa Tidak Melakukan Apa Pun Terasa Sulit? 

Banyak orang mengira bahwa jika diberi pilihan, manusia akan selalu memilih jalan yang paling mudah. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika dihadapkan pada pilihan antara mengerjakan tugas dan tidak melakukan apa pun, banyak orang justru tetap memilih aktivitas yang membutuhkan usaha mental (Wu et al., 2022).

Bahkan, kondisi tanpa aktivitas terkadang terasa sama tidak nyamannya, atau lebih tidak menyenangkan, dibandingkan mengerjakan tugas yang menuntut pemikiran sehingga banyak orang tetap memilih melakukan sesuatu daripada menghadapi kekosongan tersebut (Wu et al., 2022).

Kebosanan yang Membuat Kita Sulit Berhenti

Salah satu alasannya adalah kebosanan. Kita sering menganggap tugas yang berat sebagai sumber ketidaknyamanan, padahal kebosanan juga dapat memengaruhi pilihan dan perilaku sehari-hari (Wu et al., 2022).

Usaha mental dan kebosanan merupakan pengalaman yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama memiliki “biaya psikologis” yang berperan dalam proses pengambilan keputusan (Wu et al., 2022). Dalam kondisi tertentu, rasa tidak nyaman akibat kebosanan bahkan bisa terasa sama beratnya dengan usaha yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu tugas (Wu et al., 2022). Oleh karena itu, banyak orang lebih memilih melakukan sesuatu meskipun membutuhkan usaha lebih besar (Embrey et al., 2024).

Mungkin ini menjelaskan mengapa saat menunggu antrean atau memiliki waktu luang beberapa menit, tangan kita sering otomatis meraih ponsel. Bukan karena selalu ada hal penting yang harus dilakukan, melainkan karena diam terasa kurang nyaman.

Otak Tetap Aktif Saat Beristirahat

Ketika mendengar “doing nothing” alias nggak ngapa-ngapain, kamu mungkin membayangkan otak yang sedang kosong. Padahal, saat kita beristirahat atau membiarkan pikiran mengembara, jaringan otak yang dikenal sebagai Default Mode Network (DMN) tetap aktif (Azarias et al., 2025).

Jaringan ini berkaitan dengan pemikiran tentang diri sendiri, ingatan pribadi, serta berbagai proses refleksi dan sosial (Azarias et al., 2025). Perhatian manusia juga dapat bergeser secara alami dari dunia luar menuju proses berpikir yang lebih internal, sebuah fenomena yang dikenal sebagai mind wandering atau pengembaraan pikiran (Menon, 2023).

Karena itu, ketika Champs duduk diam memandangi langit sore, otakmu belum tentu sedang kosong. Bisa jadi kamu sedang mengingat pengalaman masa lalu, membayangkan masa depan, atau mencoba memahami diri sendiri dengan lebih baik (Azarias et al., 2025; Menon, 2023).

Ketika Kesibukan Menjadi Standar Kesuksesan

Bagi banyak generasi muda seperti kita saat ini, tantangan terbesar bukan kurangnya aktivitas, melainkan terlalu banyak hal yang berebut perhatian dalam waktu yang sama.

Aktivitas seperti bersantai, nongkrong, mengambil jarak dari tuntutan sosial, atau menikmati waktu tanpa agenda sering dianggap tidak produktif. Padahal, aktivitas-aktivitas tersebut dapat menjadi cara untuk mengatur ulang ritme hidup di tengah tekanan yang serba cepat (Mengilli, 2024).

Di sisi lain, kesibukan sering diasosiasikan dengan kesuksesan, dedikasi, bahkan nilai diri seseorang (Karaçizmeli & Dedeoğlu, 2025). Aktivitas produktif yang dilakukan terus-menerus juga dapat berfungsi sebagai penanda status sosial, sehingga bekerja tanpa henti sering kali memperoleh penghargaan yang lebih besar dibandingkan beristirahat (Karaçizmeli & Dedeoğlu, 2025).

Akibatnya, banyak orang merasa perlu membuktikan bahwa mereka cukup sibuk sebelum mengizinkan dirinya beristirahat (Karaçizmeli & Dedeoğlu, 2025).

Mengapa Jeda Justru Berharga?

Menariknya, pengalaman yang dianggap paling bermakna tidak selalu berasal dari aktivitas yang padat dan penuh target. Pengalaman yang memberi kesempatan untuk melambat justru sering dipandang sebagai pengalaman yang berharga (Malone et al., 2023).

Saat ritme hidup melambat, kita memiliki lebih banyak ruang untuk menikmati keberadaan diri, lingkungan sekitar, dan hubungan dengan orang lain (Malone et al., 2023). Kondisi ini juga dapat membuka ruang bagi refleksi, pembelajaran, dan pencarian makna dalam kehidupan sehari-hari (Malone et al., 2023).

Di era yang serba cepat, ruang dan waktu untuk sekadar hadir sepenuhnya dalam sebuah momen mungkin menjadi salah satu kemewahan yang paling sulit diperoleh.

The Art of Doing Nothing: Berhenti dengan Sengaja

Tidak melakukan apa-apa bukan berarti bermalas-malasan atau menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, seni tidak melakukan apa-apa dapat dipahami sebagai upaya sadar untuk memberi jeda dari arus notifikasi, tuntutan pekerjaan, dan berbagai distraksi yang terus mengisi keseharian.

Elizabeth (2025) menyarankan beberapa cara sederhana yang dapat Champs coba:

1. Melatih pernapasan secara sadar

Meluangkan beberapa menit untuk bernapas perlahan dan lebih dalam dapat menjadi cara sederhana untuk berhenti sejenak dari ritme aktivitas yang serba cepat. Fokus pada napas juga membantu mengarahkan perhatian kembali pada pengalaman saat ini.

2. Luangkan waktu di alam

Duduk tenang di taman, berjalan santai, atau sekadar menikmati udara segar tanpa terus-menerus melihat ponsel dapat membantu menyegarkan tubuh dan pikiran.

3. Kembali pada pengalaman indrawi

Sesekali, cobalah memperhatikan aroma, rasa, suara, atau sensasi yang biasanya terlewatkan. Mengarahkan perhatian pada pengalaman indrawi dapat membantu kita lebih hadir pada momen yang sedang dijalani.

4. Rasakan sensasi hangat dan dingin pada tubuh

Memperhatikan sensasi hangat atau dingin pada tubuh, misalnya saat mandi atau berada di luar ruangan, dapat menjadi cara sederhana untuk membawa perhatian kembali pada pengalaman saat ini.

5. Dengarkan musik dengan penuh perhatian

Mendengarkan musik yang menenangkan tanpa disertai aktivitas lain dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari tuntutan multitasking yang terus-menerus hadir dalam keseharian.

Tujuannya bukan agar kamu menjadi lebih produktif setelahnya. Terkadang, tujuannya memang hanya berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir sepenuhnya pada momen yang sedang dijalani.

Champs, Tidak Semua Waktu Harus Diisi

Jangan salah paham dulu. Ini bukan ajakan untuk berhenti bekerja keras, meninggalkan tanggung jawab, apalagi mematikan ambisi. Kita memang cenderung mencari aktivitas dibandingkan benar-benar diam, terutama ketika kebosanan mulai muncul (Embrey et al., 2024; Wu et al., 2022).

Namun, tidak melakukan apa pun bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Saat tubuh beristirahat, otak tetap memproses pengalaman, melakukan refleksi, dan membangun pemahaman tentang diri sendiri (Azarias et al., 2025; Menon, 2023).

Mungkin inti dari The Art of Doing Nothing bukan tentang mengosongkan pikiran sepenuhnya tetapi justru tentang memberi diri sendiri kesempatan untuk tidak selalu mengejar sesuatu. Karena di tengah target akademik, deadline pekerjaan, dan perlombaan pencapaian yang seolah tidak pernah selesai, ada kalanya kamu tidak perlu menambahkan aktivitas baru untuk menjadi lebih baik…

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah jeda. Jeda untuk bernapas, jeda untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri, dan jeda untuk mengingat bahwa nilai dirimu tidak selalu ditentukan oleh seberapa sibuk kamu hari ini.

Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, tempat Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.

Referensi

Azarias, F. R., Almeida, G. H. D. R., De Melo, L. F., Rici, R. E. G., & Maria, D. A. (2025). The journey of the default mode Network: development, function, and impact on mental health. Biology, 14(4), 395. https://doi.org/10.3390/biology14040395

Elizabeth, D. (2025, July 22). 5 Ways to Practice the Art of Doing Nothing. Wild Simple Joy. https://wildsimplejoy.com/art-of-doing-nothing/

Embrey, J. R., Mason, A., & Newell, B. R. (2024). Too hard, too easy, or just right? The effects of context on effort and boredom aversion. Psychonomic Bulletin & Review, 31(6), 2801–2810. https://doi.org/10.3758/s13423-024-02528-x

Karaçizmeli, A., & Dedeoğlu, A. Ö. (2025). Status Seeking Through Conspicuous Production: Conceptual Scope, Social Logic, and Modes of Display. Marmara Üniversitesi İktisadi Ve İdari Bilimler Dergisi, 47(3), 196–214. https://doi.org/10.14780/muiibd.1531722

Malone, S., Tynan, C., & McKechnie, S. (2023). Unconventional luxury: The reappropriation of time and substance. Journal of Business Research, 163, 113939. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2023.113939

Mengilli, Y. (2024). Youth cultural practices as modes of time work: Chilling as rescheduling everyday life. Time & Society, 34(3), 355–375. https://doi.org/10.1177/0961463×241300895

Menon, V. (2023). 20 years of the default mode network: A review and synthesis. Neuron, 111(16), 2469–2487. https://doi.org/10.1016/j.neuron.2023.04.023

Wu, R., Ferguson, A. M., & Inzlicht, M. (2022). Do humans prefer cognitive effort over doing nothing? Journal of Experimental Psychology General, 152(4), 1069–1079. https://doi.org/10.1037/xge0001320

Marriage

7 Checklist Pra-Nikah: Percakapan Penting Sebelum Memutuskan Menikah

Banyak Couples membayangkan pernikahan sebagai awal kehidupan yang penuh kebahagiaan. Namun, di balik persiapan acara dan foto prewedding, ada hal yang jauh lebih menentukan kualitas hubungan jangka panjang: kesiapan membangun hidup bersama. Pernikahan bukan hanya tentang “siap menikah”, tetapi juga siap menghadapi perubahan peran, tanggung jawab, dan dinamika hubungan sehari-hari.

Pasangan muda Indonesia paling banyak menaruh harapan pada komitmen, kondisi ekonomi, kesiapan emosional, dan dukungan dalam hubungan (Zumaro et al., 2025). Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa banyak Couples sebenarnya tidak hanya memikirkan pesta pernikahan, tetapi juga kehidupan setelahnya. Karena itu, persiapan pra-nikah tidak hanya berkaitan dengan hubungan emosional, tetapi juga komunikasi, pembagian peran, kesehatan, kesiapan mental, dan cara menghadapi konflik bersama.

1. Mengenal Pasangan Secara Lebih Dalam

Di awal hubungan, Couples sering fokus pada rasa nyaman dan kecocokan. Padahal, kehidupan pernikahan biasanya memperlihatkan sisi pasangan yang lebih kompleks, mulai dari kebiasaan kecil, cara menghadapi stres, pola komunikasi, hingga nilai hidup yang dipegang masing-masing.

Zumaro et al. (2025) menjelaskan bahwa hubungan yang harmonis membutuhkan rasa saling memahami, empati, komunikasi yang sehat, dan kemampuan hadir secara emosional bagi pasangan. Karena itu, Couples tidak hanya perlu mengenal hal-hal yang disukai pasangan, tetapi juga memahami kebutuhan emosional, kebiasaan, serta pola respons pasangan saat menghadapi tekanan (Zumaro et al., 2025).

Misalnya, satu pasangan terbiasa diam saat marah, sementara pasangan lain ingin langsung menyelesaikan konflik. Jika tidak dipahami sejak awal, perbedaan kecil seperti ini dapat berkembang menjadi pertengkaran berulang.

2. Membicarakan Ekspektasi Pernikahan

Banyak konflik rumah tangga muncul bukan karena kurang cinta, tetapi karena ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan dengan jelas (Sansare, 2025). Couples mungkin sama-sama ingin membangun keluarga yang bahagia, tetapi memiliki gambaran yang berbeda tentang peran, tanggung jawab, atau pola hubungan setelah menikah.

Couples dapat berdiskusi mengenai pembagian tugas rumah tangga, pengelolaan waktu, hubungan dengan keluarga besar, hingga keputusan tentang pekerjaan dan pengasuhan anak (Sansare, 2025; Zumaro et al., 2025). Selain itu, konseling pra-nikah juga dapat membantu Couples membangun ekspektasi yang lebih realistis tentang pernikahan sekaligus memahami pola komunikasi dan penyesuaian setelah menikah (Sansare, 2025). 

Pasangan muda saat ini semakin menekankan pentingnya hubungan yang setara dan saling mendukung dalam berbagai aspek kehidupan (Zumaro et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan modern semakin membutuhkan kerja sama, bukan sekadar pembagian peran yang kaku.

3. Belajar Mengelola Konflik

Konflik dalam hubungan sebenarnya wajar. Perbedaan pendapat tentang uang, pekerjaan, keluarga, atau kebiasaan sehari-hari merupakan bagian dari hubungan jangka panjang. Yang lebih penting adalah bagaimana Couples menghadapi konflik tersebut, sebab cara Couples menghadapi konflik sebelum menikah sering kali menjadi gambaran pola hubungan setelah menikah nanti.

Zumaro et al. (2025) menjelaskan bahwa Couples perlu mampu menyelesaikan konflik secara sehat tanpa memperpanjang pertengkaran secara destruktif. Dukungan emosional, kemampuan mendengarkan pasangan, dan komunikasi terbuka menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas hubungan (Zumaro et al., 2025).

Sansare (2025) juga menemukan bahwa keterampilan komunikasi dan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu aspek terpenting dalam persiapan pernikahan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terlihat dari kemampuan Couples membicarakan rasa kecewa tanpa saling menyerang atau tetap bekerja sama saat berbeda pendapat.

4. Membahas Keuangan Secara Terbuka

Topik keuangan sering terasa sensitif, tetapi justru perlu dibicarakan sejak awal. Banyak pasangan muda berharap memiliki stabilitas finansial untuk mendukung kehidupan rumah tangga dan masa depan anak (Zumaro et al., 2025). Maka dari itu, Couples perlu mendiskusikan cara mengelola pengeluaran, menabung, membagi tanggung jawab finansial, hingga menyusun tujuan jangka panjang bersama (Zumaro et al., 2025).

Semakin banyak perempuan juga memiliki peran ekonomi aktif di luar rumah, sehingga pembagian peran dalam rumah tangga menjadi lebih fleksibel dan perlu disepakati bersama agar tidak menimbulkan ketimpangan beban (Zumaro et al., 2025).

Perencanaan finansial dalam pernikahan bukan hanya soal “siapa yang menghasilkan lebih banyak”, tetapi tentang bagaimana Couples mengelola keuangan bersama.

5. Kesiapan Mental Tidak Kalah Penting

Sebagian Couples merasa siap menikah karena usia sudah cukup matang atau pekerjaan sudah stabil. Namun, kesiapan mental dan emosional juga memegang peran besar dalam kehidupan pernikahan.

Zumaro et al. (2025) menjelaskan bahwa kesiapan emosional membantu individu menghadapi perubahan peran dan komitmen tanpa dipenuhi ketakutan berlebihan. Sebaliknya, individu yang belum siap secara emosional cenderung lebih takut terhadap komitmen atau khawatir hubungan akan gagal (Zumaro et al., 2025).

Karena itu, kesadaran diri (self-awareness) menjadi bagian penting dalam persiapan pra-nikah. Couples perlu memahami kondisi emosional, pola relasi, serta area diri yang masih perlu dikembangkan sebelum memasuki kehidupan pernikahan (Sansare, 2025; Zumaro et al., 2025).

6. Konseling Pra-Nikah Bukan Tanda Hubungan Bermasalah

Couples mungkin menganggap konseling pra-nikah hanya diperlukan ketika hubungan sedang bermasalah. Padahal, konseling pra-nikah justru bertujuan membantu pasangan lebih siap menghadapi kehidupan pernikahan (Sansare, 2025).

Sansare (2025) menjelaskan bahwa konseling pra-nikah membantu Couples membangun komunikasi yang sehat, meningkatkan pemahaman satu sama lain, mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah, dan mengurangi potensi konflik setelah menikah. Konseling pra-nikah juga berperan dalam memperkuat stabilitas hubungan dan membantu pasangan membangun fondasi rumah tangga yang lebih sehat (Sansare, 2025).

Dalam konteks ini, konseling bukan tentang mencari “siapa yang salah”, tetapi tentang membantu Couples mempersiapkan kehidupan bersama secara lebih realistis dan sehat.

7. Jangan Lupakan Tes Kesehatan Pra-Nikah

Selain kesiapan emosional, kesehatan juga menjadi bagian penting dalam persiapan pra-nikah. Puteri dan Amalia (2024) menjelaskan bahwa pendidikan pra-nikah dan persiapan prakonsepsi membantu meningkatkan pengetahuan Couples tentang kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual, hingga persiapan kehamilan yang sehat.

George et al. (2026) juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan pra-nikah, termasuk pemeriksaan HIV, hepatitis B dan C, infeksi menular seksual, resus golongan darah, pemeriksaan kesuburan, pemeriksaan kompatibilitas genetik untuk melihat risiko penyakit keturunan seperti thalassemia, skrining penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan tiroid, serta riwayat vaksinasi (George et al., 2026). 

Pemeriksaan kesehatan pra-nikah bukan berarti mencari pasangan yang “sempurna” secara medis. Sebaliknya, proses ini membantu Couples memahami kondisi kesehatan masing-masing, membangun komunikasi yang lebih terbuka, dan menyusun rencana bersama untuk menjaga kesehatan dalam kehidupan pernikahan.

George et al. (2026) menekankan bahwa banyak kondisi kesehatan saat ini dapat ditangani melalui pengobatan, vaksinasi, konseling genetik, atau penanganan medis yang tepat. Karena itu, keterbukaan dan komunikasi dengan tenaga profesional menjadi bagian penting dalam proses ini.

Couples, Pernikahan Bukan Hanya Tentang Hari Bahagia

Persiapan pernikahan seringkali fokus pada venue, dekorasi, atau daftar tamu. Padahal, kehidupan setelahnya justru menjadi perjalanan yang paling panjang. Couples akan menghadapi rutinitas, tekanan pekerjaan, keluarga besar, hingga tantangan emosional yang tidak selalu romantis setiap hari.

Karena itu, persiapan pra-nikah bukan tentang memastikan hubungan akan selalu sempurna, melainkan membantu Couples membangun fondasi hubungan yang lebih sehat, realistis, dan suportif sebelum memasuki fase kehidupan baru bersama.

Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang menemukan pasangan yang tepat, tetapi juga tentang menjadi partner yang siap bertumbuh bersama. Dan sering kali, percakapan jujur sebelum menikah justru menjadi salah satu investasi paling penting untuk hubungan jangka panjang.

Focus on the Family Indonesia mendukung para Couples melalui program Marriage Preparation sebagai persiapan untuk membangun fondasi pernikahan yang kuat, serta layanan konseling pra-nikah. Kami berkomitmen membantu Couples membangun hubungan yang sehat, aman, dan saling memahami bersama pasangan. Couples dapat menjangkau kami melalui Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

George, A. S. H., George, A. S., & Raajkumar, R. (2026). Pre-Wedding Medical Screening: What Every Couple Must Know Before Marriage. Partners Universal International Research Journal (PUIRJ), 5(1), 43–65. https://doi.org/10.5281/zenodo.19294690

Puteri, M. D., & Amalia, R. (2024). The Importance of Premarital and Preconception Knowledge. Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas), 2(1), 23–26. https://doi.org/10.58723/abdigermas.v2i1.157

Sansare, V. (2025). Pre-Marital Counselling: A Preventive Tool for Preparedness of Marital Life. Indian Journal of Social Work Education and Practice (IJSWEP), 2(2), 87–102. https://dup.du.ac.in/index.php/ijswep/article/view/249

Zumaro, E. M., Fatimah, O. Z. S., Handayani, R. D., Rakhimah, F., Izah, N., Hidayah, S. N., Pranata, S., Keysha, N., & Adikusuma, W. (2025). Hopes, Fears, and Expectations of Indonesian Young Couples in the Pre-marital Process: A Socio-ecological Perspective. Journal of Research and Health, 15(6), 593–602. https://doi.org/10.32598/jrh.15.6.2389.2

Parenting

Kedekatan Ibu dan Anak Laki-Laki: Fondasi Koneksi, Emosi, dan Kemandirian yang Sehat

Moms, pernahkah Anda mendengar anggapan bahwa anak laki-laki harus lebih kuat, lebih mandiri, dan tidak terlalu dekat dengan ibunya?

Seiring bertambahnya usia anak, tidak sedikit orang yang menganggap kedekatan emosional dengan ibu perlu dikurangi agar mereka tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh. Padahal, kedekatan tidak sama dengan ketergantungan. Hubungan yang hangat justru dapat menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosional, kemampuan berelasi, dan rasa aman anak laki-laki saat ia bertumbuh. Hubungan dekat dengan Moms dapat menjadi sumber yang mendukung perkembangan kemampuan emosional dan relasional anak laki-laki (Bershtling & Strier, 2022).

Ketika Anak Laki-Laki Belajar Mengenali Emosi

Rumah sering menjadi tempat pertama anak belajar memahami dirinya sendiri. Melalui interaksi sehari-hari, anak mengenali apa yang ia rasakan, bagaimana mengekspresikannya, dan kepada siapa ia dapat berbagi ketika menghadapi kesulitan.

Dalam penelitian Bershtling dan Strier (2022), sejumlah laki-laki dewasa menggambarkan bahwa hubungan dekat dengan ibu membantu mereka lebih nyaman membicarakan perasaan, pengalaman, dan tantangan hidup yang mereka hadapi. Mereka juga memandang kemampuan memahami emosi sebagai keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan sosial maupun hubungan interpersonal (Bershtling & Strier, 2022).

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan mengelola emosi bukan muncul begitu saja. Anak laki-laki perlu memiliki ruang yang aman untuk belajar mengenali perasaannya tanpa takut dianggap lemah atau berlebihan.

Tantangan Budaya yang Sering Tidak Disadari

Meski demikian, hubungan Moms dan anak laki-laki tidak berkembang dalam ruang kosong. Sejak kecil, banyak anak laki-laki menerima pesan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh terlalu sensitif, dan sebaiknya tidak menunjukkan kerentanan.

Joseph (2026) menjelaskan bahwa berbagai norma budaya dapat mendorong anak laki-laki menjauh dari kebutuhan emosional dan relasional mereka. Akibatnya, sebagian anak belajar bahwa kedekatan emosional merupakan sesuatu yang perlu dihindari demi terlihat mandiri (Joseph, 2026). Padahal, kebutuhan akan hubungan yang aman dan suportif merupakan bagian alami dari perkembangan manusia. Kemandirian yang sehat bukan berarti menolak kedekatan, melainkan mampu bertumbuh sebagai pribadi yang tetap dapat terhubung dengan orang lain.

Kedekatan Tidak Menghambat Kemandirian

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah anggapan bahwa hubungan dekat dengan Moms akan membuat anak terlalu bergantung. Namun, hubungan yang sehat justru membantu anak mengembangkan rasa aman yang menjadi dasar bagi keberanian untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

Anak yang merasa diterima biasanya lebih berani mencoba hal baru, menghadapi tantangan, dan membangun relasi di luar keluarga. Kedekatan emosional memberi anak tempat untuk kembali ketika ia membutuhkan dukungan, bukan penghalang bagi kemandiriannya.

Oleh karena itu, tujuan hubungan yang sehat bukanlah membuat anak terus bergantung pada Moms, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mampu berdiri sendiri tanpa kehilangan kemampuan untuk menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain.

5 Cara Sederhana Membangun Hubungan yang Lebih Dekat

Hubungan yang hangat tidak selalu dibangun melalui percakapan yang mendalam atau momen yang luar biasa. Justru, kedekatan sering tumbuh melalui interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pengalaman yang dirangkum Jackson (2022), beberapa langkah sederhana berikut dapat membantu Moms memperkuat hubungan dengan anak laki-laki:

1. Fokus melihat kebaikan dalam diri anak

Ketika anak menunjukkan perilaku yang menantang, perhatian Moms sering kali langsung tertuju pada kesalahannya. Namun, Moms dapat mencari kekuatan, potensi, atau niat baik yang mungkin ada di balik perilaku tersebut. Ketika anak merasa dirinya dilihat secara positif, ia cenderung lebih terbuka terhadap arahan dan bimbingan.

2. Tunjukkan kasih sayang dengan cara yang menyenangkan

Bagi sebagian anak laki-laki, kedekatan tidak selalu dibangun melalui percakapan emosional yang mendalam. Aktivitas yang disertai humor, permainan, atau candaan sering kali terasa lebih nyaman dan menyenangkan. Bentuk kasih sayang yang ringan dan tidak memaksa dapat membantu menjaga koneksi emosional tanpa membuat anak merasa tertekan.

3. Masuki dunia anak

Anak biasanya merasa dihargai ketika Moms menunjukkan minat terhadap hal-hal yang ia sukai. Menemani hobi, mendengarkan cerita tentang minatnya, atau mencoba aktivitas favoritnya bersama dapat menjadi cara sederhana untuk mempererat hubungan. Melalui momen-momen seperti ini, anak belajar bahwa apa yang penting baginya juga penting bagi Moms.

4. Dengarkan dengan rasa ingin tahu

Tidak semua percakapan harus berakhir dengan nasihat atau solusi. Banyak anak laki-laki menghargai kesempatan untuk berbicara tanpa merasa dihakimi atau langsung diperbaiki. Pertanyaan yang diajukan dengan rasa ingin tahu dan sikap terbuka dapat membantu anak merasa lebih aman untuk berbagi pengalaman maupun perasaannya.

5. Bersabar menunggu waktu yang tepat

Tidak semua anak siap berbicara pada saat yang sama. Karena itu, penting bagi Moms untuk peka terhadap waktu dan suasana hati anak. Kesabaran dalam menunggu momen yang tepat dapat membantu membangun komunikasi yang lebih terbuka dan mengurangi kecenderungan anak untuk menutup diri.

Moms, Hubungan yang Hangat Adalah Investasi Jangka Panjang

Hubungan Moms dan anak laki-laki tidak dibangun dalam satu percakapan atau satu momen istimewa. Kedekatan tumbuh melalui perhatian yang konsisten, kesediaan mendengarkan, penghargaan terhadap keunikan anak, dan kehadiran yang nyata dalam kesehariannya.

Ketika anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri di rumah, ia memiliki tempat untuk belajar memahami emosi, menghadapi tantangan, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Kedekatan seperti inilah yang dapat menjadi bekal berharga, bukan hanya selama masa kanak-kanak, tetapi juga hingga ia dewasa.

Moms, mungkin pertanyaan yang dapat direnungkan hari ini bukanlah seberapa mandiri anak laki-laki Anda, melainkan:

Apakah anak saya merasa aman untuk tetap dekat dengan saya ketika ia membutuhkan dukungan?

Sering kali, hubungan yang hangat dimulai dari hal-hal sederhana yang dijalani bersama sehingga anak merasa diterima apa adanya. 

Focus on the Family Indonesia menghadirkan program bonding yang dirancang khusus bagi Moms dan putra tercinta, yaitu Mom and Son Connection. Melalui berbagai aktivitas interaktif dan momen kebersamaan yang bermakna, program ini menjadi kesempatan untuk mempererat koneksi, membangun komunikasi yang lebih dekat, serta menciptakan kenangan berharga bersama. Untuk informasi lebih lanjut, Moms dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Bershtling, O., & Strier, R. (2022). Mama’s boy? mother-son bond as a resource for masculinity construction. Journal of Gender Studies, 31(5), 610–622. https://doi.org/10.1080/09589236.2022.2062311

Jackson, L. (2022, August 9). 4 Simple ways to bridge the Mother-Son Divide | Connected Families. Connected Families. https://connectedfamilies.org/4-simple-ways-to-bridge-the-mother-son-divide/

Joseph, C. E. (2026). Decolonizing Motherhood From Within: Patriarchy’s Long Shadow and Its Impact on the Mother–Son Relationship [MA thesis, Pacifica Graduate Institute]. https://www.proquest.com/openview/1927e310e0421e5fb16c583a1ce4e56f/1.pdf?pq-origsite=gscholar&cbl=18750&diss=y

Youth

Always Positive, Always Strong. Tapi, Kapan Terakhir Kamu Benar-Benar Merasa?

Champs, pernah nggak sih lagi capek banget karena deadline tugas numpuk, kecewa karena project yang kamu handle nggak berjalan sesuai harapan, atau sedih karena merasa tertinggal dari teman-teman sebaya… tapi yang keluar dari mulut malah, “Ah, ini bukan apa-apa, masih banyak orang yang hidupnya nggak seberuntung aku.” Padahal di dalam hati rasanya pengin istirahat, pengin marah, atau sekadar mengakui kalau hari ini memang berat. Seringnya kita terburu-buru menenangkan diri sendiri, bukan karena sudah benar-benar kuat, tapi karena takut dibilang lebay, kurang bersyukur, atau terlalu sensitif. Akhirnya, kita memilih terlihat baik-baik saja daripada jujur dengan apa yang sebenarnya dirasakan.

Atau ketika Champs cerita tentang hari yang kacau, lalu ada yang bilang, “Santai aja kali! Semua bakal baik-baik aja,” atau, “Udah, jangan dipikirin. Mending bersyukur.” Kalimat-kalimat seperti ini sering datang dengan niat baik. Teman, keluarga, atau bahkan diri kita sendiri ingin cepat bangkit dan nggak larut dalam masalah.

Tapi kenyataannya, respons seperti ini kadang cuma bikin lega sebentar. Sedihnya belum sempat dipahami, marahnya belum sempat diproses, tapi kita sudah diminta untuk move on dan kembali baik-baik saja. Sekilas terdengar menenangkan, tapi kenapa ya rasanya justru bikin dada makin sesak?

Toxic Positivity

Ketika setiap keluhan langsung dibalas dengan ajakan untuk selalu mencari sisi baik atau berhenti merasa negatif, emosi yang sebenarnya wajar justru ditekan. Sedih jadi terasa seperti kelemahan. Kecewa dianggap kurang bersyukur. Lelah seolah nggak valid karena selalu ada orang lain yang hidupnya “lebih sulit.” Akhirnya, kita belajar untuk memendam, bukan memproses. Padahal sebagai manusia, kita punya spektrum emosi yang luas dan semuanya valid untuk dirasakan. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja bukan berarti lemah. Justru, itu langkah awal untuk benar-benar memahami diri sendiri.

Menurut Ungvarsky (2025), toxic positivity terjadi ketika seseorang merasa harus tetap optimis dalam segala situasi sehingga mengabaikan atau menekan perasaan yang tidak nyaman, padahal sikap ini justru dapat menambah beban emosional dan membuatnya sulit mengolah pengalaman emosional secara sehat. Beberapa tanda toxic positivity dalam kehidupan sehari-hari yang sering muncul tanpa disadari antara lain (Quintero & Long, 2019):

  • Menyembunyikan perasaan sebenarnya supaya terlihat baik-baik saja, padahal di dalam hati masih capek, sedih, atau marah.
  • Memaksa diri untuk segera bangkit tanpa memberi ruang untuk merasakan emosi, seolah sedih atau kecewa harus langsung hilang.
  • Merasa bersalah hanya karena sedih, frustrasi, atau kecewa, seakan perasaan itu nggak pantas ada.
  • Mengecilkan pengalaman orang lain dengan kalimat motivasi atau feel-good quotes, sehingga mereka nggak merasa benar-benar didengar.
  • Memberi perspektif perbandingan, misalnya “Masih mending…” atau “Bisa saja lebih buruk.”
  • Menegur atau mempermalukan orang yang mengekspresikan emosi tidak nyaman hanya karena mereka terlihat “negatif”.
  • Menepis masalah yang mengganggu dengan pasrah berlebihan, misalnya, “Ya sudahlah, memang begitu,” tanpa benar-benar memproses perasaan kita.

Mengapa Kita Terjebak dalam Toxic Positivity?

Toxic positivity nggak muncul begitu saja. Wyatt (2024) merangkum dari beberapa penelitian yang menunjukkan pengaruh dari lingkungan sekitar:

1. Budaya yang menuntut ketangguhan dan optimisme

Di banyak negara, ada ungkapan atau norma yang mendorong orang untuk tetap kuat dan positif meski menghadapi kesulitan. Misalnya:

      • Jepang:“ganbatte” yang mendorong orang terus berusaha.
      • Korea Selatan: “hwaiting” yang membuat orang saling menyemangati.
      • India: filosofi “santosha” menekankan kepuasan batin.
      • Brasil: “jeitinho brasileiro” mengajarkan cara menghadapi masalah dengan optimisme.

Budaya ini bisa membantu membangun daya tahan, tetapi juga dapat membuat kita menekan emosi yang tidak nyaman. Lama-kelamaan, emosi yang tertahan bisa berkembang menjadi stres, kecemasan, bahkan depresi.

2. Media sosial yang menampilkan hidup “sempurna”

Paparan terus-menerus terhadap kehidupan yang tampak ideal di dunia maya membuat standar positif jadi sulit dicapai. Akibatnya, kita merasa iri, kesepian, rendah diri, atau menganggap hidup kita kurang memuaskan.

3. Tekanan dari dunia profesional dan motivasi

Lingkungan kerja atau seminar motivasi sering mendorong untuk selalu berpikir positif. Jika nggak hati-hati, hal ini bisa bikin kita menekan emosi sendiri, yang justru meningkatkan stres dan kelelahan.

Yang Dipendam Nggak Hilang, Cuma Numpuk di Dalam

Champs, menahan emosi nggak nyaman bukan cuma bikin kita tersenyum palsu. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka Sonia (2025), kebiasaan menahan emosi yang tidak nyaman bisa berdampak serius pada kesehatan mental dan cara kita mengelola perasaan.

1. Meningkatkan stres dan burnout

2. Meningkatkan risiko kecemasan dan depresi

3. Kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi (alexithymia)

4. Kemungkinan mencari bantuan berkurang

5. Strategi coping maladaptif

Berani Merasa dan Belajar Mengelola Emosi Secara Positif

Kuncinya adalah jujur sama perasaan sendiri, nggak kebanyakan overthinking, dan pinter nge-filter apa yang kita lihat di media sosial (Wyatt, 2024). Berikut beberapa tips praktis dari Wyatt (2024):

1. Sadari dan akui emosi sendiri

Nggak perlu selalu tampil positif. Sedih, frustrasi, marah? Semua itu normal. Mengakui emosi bikin stres berkurang dan mental lebih sehat.

2. Latihan mindfulness

Coba fokus ke napas, tubuh, dan pikiran sekarang, tanpa nge-judge diri sendiri. Lama-lama kita jadi lebih peka sama perasaan, dan nggak gampang meledak waktu stres.

3. Asah kecerdasan emosional

Belajar mengenali, memahami, dan mengatur emosi sendiri. Coba untuk memahami perasaan orang lain juga.

4. Terima emosi tidak nyaman

Kecewa, sedih, kesal? Nggak apa-apa. Gunakan roda perasaan untuk menamai emosi secara spesifik, misalnya kesepian. Semakin jelas kita mengenal emosi itu, semakin mudah memprosesnya tanpa rasa bersalah.

5. Bangun budaya reflektif

Lingkungan yang aman untuk cerita soal tantangan atau kegagalan bikin kita lebih nyaman ngobrolin emosi dan belajar dari pengalaman.

6. Bijak bermedia sosial

Jangan mudah membandingkan diri dengan versi “sempurna” orang lain. Tanyakan pada diri sendiri: “Siapa yang bikin ini? Tujuannya apa? Aku ngerasa apa?”

Champs, Kamu Lagi Bertumbuh… atau Lagi Nahan Semua?

Kadang kita pikir sudah dewasa karena nggak lagi menangis di depan orang lain. Padahal, bisa jadi kita cuma semakin jago menyembunyikannya. Kita bilang, “Aku nggak apa-apa,” bukan karena benar-benar kuat… tapi karena nggak tahu harus mulai cerita dari mana.

Coba berhenti sebentar, dan jujur sama diri sendiri:

Apakah aku benar-benar mengizinkan diriku untuk merasa capek, sedih, atau kecewa hari ini… atau cuma pura-pura baik-baik aja?

Aku lagi nyuruh diri sendiri untuk “move on” sebelum hatiku siap, nggak sih?

Saat teman lagi sedih, aku beneran dengerin mereka… atau buru-buru nyuruh “move on”?

Emosi apa yang selama ini aku tekan karena takut dianggap lemah atau lebay?

Kapan terakhir aku ngerasa semuanya nggak oke… dan cuma duduk bareng perasaan itu tanpa buru-buru memperbaikinya?

Menjadi dewasa bukan berarti selalu stabil atau bebas dari emosi yang nggak nyaman. Menjadi kuat juga bukan berarti nggak pernah goyah. Di tengah target, perbandingan, dan ekspektasi, wajar jika kamu pengin terlihat baik-baik saja. Tapi ingat: semua emosi adalah bagian berharga dari dirimu.

Kamu boleh optimis, tapi kamu juga boleh lelah.

Kalau lagi capek, itu bukan kurang bersyukur.

Kalau lagi kecewa, itu bukan kurang kuat.

Kalau lagi sedih, itu bukan gagal jadi dewasa.

Nggak semua emosi harus langsung “diperbaiki.” Beberapa cuma perlu ditemani. Nggak semua kesedihan harus segera diberi makna positif. Kadang, tumbuh justru dimulai dari keberanian untuk duduk bersama perasaan yang nggak nyaman. Tanpa menyangkalnya.

Champs, kamu nggak kehilangan nilai hanya karena sedang lelah. Dan kamu nggak menjadi lemah hanya karena sedang merasa. Kalau kamu sedang belajar menerima emosi, membangun relasi yang lebih sehat, atau merasa lelah karena harus “selalu kuat,” kami ingin berjalan bersamamu.

Focus on the Family Indonesia siap membantu melalui program konseling. Champs juga bisa menemukan tips-tips praktis untuk self-development melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan. 

Setiap emosi adalah bagian dari proses bertumbuh. Nggak perlu selalu tersenyum untuk terlihat baik-baik saja. Yang lebih penting adalah hadir secara utuh dengan harapan, luka, dan kejujuran pada diri sendiri. Sehat secara emosional bukan soal selalu positif, tapi soal jujur, hadir, dan berani merawat diri. Apa pun yang sedang kamu rasakan hari ini, itu valid.

Referensi

Quintero, S., & Long, J. (2019, October 12). Toxic positivity: the dark side of positive vibes. The Psychology Group. https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/

Sonia. (2025). The Dark Side of Positivity: How toxic positivity contributes to emotional suppression and mental health struggles. International Journal of Indian Psychology, 13(2), 1155–1163. https://doi.org/10.25215/1302.104

Ungvarsky, J. (2025). Toxic Positivity | Psychology | Research Starters | EBSCO Research. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/toxic-positivity

Wyatt, Z. (2024). The Dark Side of #PositiveVibes: Understanding toxic positivity in modern culture. Psychiatry and Behavioral Health, 3(1), 1–6. https://doi.org/10.33425/2833-5449.0016

Marriage

Di Balik Pertanyaan “Kamu Sayang Aku Nggak?”: Memahami Reassurance Seeking dalam Hubungan Pasangan

“Kalau aku nggak chat duluan, kamu bakal cari aku nggak?”

“Aku masih penting buat kamu, kan?”

“Kamu beneran nyaman sama aku?”

Bagi banyak Couples, pertanyaan seperti ini mungkin terasa familiar. Dalam hubungan, kebutuhan untuk merasa dicintai dan diyakinkan sebenarnya sangat manusiawi. Namun, ada kalanya kebutuhan akan kepastian berubah menjadi pola yang berulang. Jawaban pasangan terasa menenangkan hanya sesaat, lalu muncul lagi keraguan yang sama. Pertanyaan diulang, kepastian terus dicari, dan hubungan perlahan dipenuhi kecemasan.

Apa Itu Reassurance Seeking?

Reassurance seeking adalah dorongan untuk terus mencari kepastian dari orang lain bahwa diri kita dicintai, berharga, dan diterima (Reis & Sprecher, 2009). Sekilas, perilaku ini mungkin terlihat seperti kebutuhan perhatian yang wajar. Namun, di baliknya sering terdapat rasa takut ditinggalkan, ketidakamanan, atau kesulitan mempercayai hubungan itu sendiri.

Dalam banyak kasus, reassurance seeking berkaitan dengan kecemasan dalam hubungan dan kebutuhan kuat untuk memastikan relasi tetap aman (Mental Health Counselor PLLC, 2026). Evraire et al. (2022) menemukan bahwa individu dengan anxiety attachment cenderung lebih sering melakukan reassurance seeking karena lebih sensitif terhadap tanda-tanda penolakan dan ketidakpastian dalam hubungan (Evraire et al., 2022).

Couples mungkin mengenalinya dalam keseharian. Misalnya, merasa gelisah ketika pasangan lama membalas pesan, terus memikirkan perubahan kecil dalam nada bicara pasangan, atau berulang kali meminta kepastian tentang komitmen hubungan (Mental Health Counselor PLLC, 2026). Pola ini mulai menjadi masalah ketika reassurance terus dicari meski pasangan sudah berkali-kali memberikan jawaban yang menenangkan (Mental Health Counselor PLLC, 2026).

Menariknya, reassurance seeking tidak selalu muncul karena hubungan sedang bermasalah. Kadang, pola ini berkaitan dengan luka emosional lama, pengalaman relasi sebelumnya, atau kesulitan menenangkan diri saat merasa tidak aman (Chain, 2024). Karena itu, reassurance dari pasangan sering hanya memberi rasa lega sementara sebelum kecemasan muncul kembali.

Mengapa Reassurance Seeking Bisa Melelahkan Hubungan?

Di awal hubungan, reassurance sering terasa seperti bentuk perhatian dan kedekatan yang wajar. Pasangan mungkin dengan senang hati memberikan kepastian atau menenangkan pasangan yang sedang cemas. Namun, ketika reassurance dicari terus-menerus, dinamika hubungan dapat berubah.

Stewart dan Harkness (2015) menemukan bahwa reassurance seeking yang tinggi berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih rendah serta meningkatnya kemungkinan penolakan dari pasangan di kemudian hari. Hal ini dapat terjadi karena pasangan perlahan merasa bahwa reassurance yang diberikan tidak pernah benar-benar cukup.

Dalam hubungan sehari-hari, siklusnya sering berjalan seperti ini (Mental Health Counselor PLLC, 2026):

Seseorang merasa tidak aman, lalu meminta reassurance. Pasangan memberikan kepastian, rasa lega muncul sesaat, tetapi kecemasan kembali lagi sehingga reassurance dicari ulang. Semakin sering siklus ini terjadi, semakin sulit rasa aman terbentuk dari dalam diri sendiri.

Rendahnya rasa percaya dalam hubungan juga berkaitan dengan lebih tingginya reassurance seeking sehari-hari (Evraire et al., 2022). Ketika seseorang sulit mempercayai kestabilan hubungan, reassurance menjadi cara untuk memeriksa apakah hubungan masih aman atau tidak (Evraire et al., 2022). Jika pola ini berlangsung terus-menerus, hubungan dapat dipenuhi frustrasi, kelelahan emosional, bahkan penarikan diri dari salah satu pihak (Chain, 2024).

Reassurance Seeking Tidak Selalu Buruk

Meski sering dikaitkan dengan dampak negatif, reassurance seeking ternyata tidak selalu merusak hubungan. Abe dan Nakashima (2020) menemukan bahwa pada hubungan yang relatif singkat, reassurance seeking tertentu dapat dipersepsikan sebagai upaya menjaga kedekatan emosional dan meningkatkan kepuasan relasi. Temuan ini menunjukkan bahwa reassurance seeking bukan sekadar soal “terlalu needy”. Cara perilaku ini muncul, konteks hubungan, pola attachment, serta respons pasangan ikut menentukan apakah reassurance seeking akan mempererat hubungan atau justru melelahkannya (Evraire et al., 2022).

Evraire et al. (2022) bahkan menyebut kemungkinan adanya bentuk reassurance seeking yang lebih aman dan tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kondisi, mencari reassurance dapat menjadi bentuk keterbukaan emosional dan upaya mencari dukungan dari pasangan (Evraire et al., 2022). Karena itu, Couples tidak perlu langsung menganggap semua kebutuhan reassurance sebagai masalah. Yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensinya, dampaknya terhadap hubungan, dan apakah reassurance benar-benar membantu membangun rasa aman.

Ketika Reassurance Justru Membuat Semakin Tidak Tenang

Ironisnya, reassurance yang dicari terus-menerus tidak selalu membuat seseorang merasa lebih aman. Evraire et al. (2022) menemukan bahwa beberapa individu dengan anxiety attachment yang melakukan reassurance seeking justru mengalami penurunan rasa percaya terhadap hubungan di hari berikutnya. Temuan ini menunjukkan bahwa reassurance terkadang gagal meredakan ketakutan akan penolakan atau ditinggalkan sehingga kecemasan tetap aktif meski pasangan sudah memberikan kepastian. Akibatnya, reassurance menjadi seperti “penenang sementara”. Ada rasa lega sesaat, tetapi akar ketidakamanan tetap belum terselesaikan.

Kondisi ini dapat membuat Couples terjebak dalam pola yang melelahkan. Satu pihak terus mencari kepastian, sementara pihak lain mulai merasa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.

Cara Mengurangi Reassurance Seeking Berlebihan

Kebutuhan reassurance bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya. Couples tetap membutuhkan perhatian, validasi, dan kepastian emosional dalam hubungan yang sehat. Yang penting adalah bagaimana kebutuhan tersebut dikelola agar tidak berubah menjadi siklus yang menguras hubungan. Dilansir dari Mental Health Counselor PLLC (2026), beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi reassurance seeking berlebihan:

1. Kenali pemicu munculnya reassurance seeking

Perhatikan kapan kebutuhan reassurance biasanya muncul dan situasi apa yang memicunya. Kesadaran ini membantu Couples memahami bahwa yang sedang dicari bukan sekadar jawaban pasangan, tetapi rasa aman emosional yang lebih dalam.

2. Belajar menenangkan diri dan membangun rasa aman dari dalam diri

Couples dapat mulai belajar menoleransi ketidakpastian secara bertahap dan membangun rasa percaya diri yang lebih mandiri. Chain (2024) juga menyarankan beberapa strategi seperti mengalihkan perhatian saat mulai overthinking, mengingat kualitas positif pasangan, dan melatih self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut dan penuh pengertian saat sedang merasa rentan atau tidak aman.

3. Bangun respons pasangan yang sehat dan suportif

Pasangan juga memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman dalam hubungan. Respons yang empatik, konsisten, dan tidak defensif dapat membantu pasangan merasa lebih tenang. Namun, reassurance yang sehat bukan berarti harus terus-menerus menenangkan ketakutan pasangan tanpa batas. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan keseimbangan antara dukungan emosional dan kemampuan masing-masing individu mengelola kecemasannya sendiri.

Ketika pola reassurance seeking mulai mengganggu hubungan, konseling individu maupun konseling pasangan dapat membantu Couples memahami akar emosional di balik perilaku tersebut (Chain, 2024).

Jadi, “Kamu Sayang Aku Nggak?”

Pada akhirnya, pertanyaan “Kamu sayang aku nggak?” sering kali bukan sekadar mencari jawaban. Di baliknya, ada kebutuhan untuk merasa aman, diterima, dan takut kehilangan hubungan yang berarti.

Kebutuhan untuk diyakinkan adalah bagian manusiawi dari mencintai seseorang. Namun, hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dari seberapa sering pasangan berkata “aku sayang kamu”, tetapi juga dari kemampuan kedua pihak membangun rasa aman yang lebih stabil bersama-sama. Reassurance dapat menenangkan sesaat, tetapi rasa aman yang bertahan biasanya tumbuh dari kepercayaan, komunikasi, dan koneksi emosional yang konsisten dari waktu ke waktu (Evraire et al., 2022; Mental Health Counselor PLLC, 2026).

Focus on the Family Indonesia mendukung para Couples melalui layanan konseling, program Journey to Us, serta Date Night untuk membantu memperkuat koneksi emosional dan membangun komunikasi yang lebih sehat dalam hubungan. Kami berkomitmen membantu Couples membangun hubungan yang sehat, aman, dan saling memahami bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Referensi

Abe, K., & Nakashima, K. (2020). Searching for Positive Aspects of Excessive Reassurance-Seeking. Japanese Psychological Research, 63(2), 95–103. https://doi.org/10.1111/jpr.12285

Chain, J. (2024, May 6). Excessive Reassurance Seeking in Relationships. Thrive for the People. https://www.thriveforthepeople.com/blog/excessive-reassurance-seeking-in-relationships

Evraire, L. E., Dozois, D. J. A., & Wilde, J. L. (2022). The Contribution of Attachment Styles and Reassurance Seeking to Trust in Romantic Couples. Europe’s Journal of Psychology, 18(1), 19–39. https://doi.org/10.5964/ejop.3059

Mental Health Counselor PLLC. (2026, April 28). When Needing Reassurance Becomes a Relationship Problem. Mental Health Counselor PLLC. https://mentalhealthcounselor.net/when-needing-reassurance-becomes-a-relationship-problem/

Reis, H., & Sprecher, S. (2009). Encyclopedia of Human Relationships (Vol. 3). SAGE. https://doi.org/10.4135/9781412958479

Stewart, J. G., & Harkness, K. L. (2015). The Interpersonal Toxicity of Excessive Reassurance-Seeking: Evidence From a Longitudinal Study of Romantic Relationships. Journal of Social and Clinical Psychology, 34(5), 392–410. https://doi.org/10.1521/jscp.2015.34.5.392

Parenting

10 Aktivitas Quality Time Bersama Keluarga

Family quality time adalah waktu kebersamaan yang diisi dengan kehadiran dan keterlibatan orang tua secara penuh bersama anak. Penelitian oleh Waters et al. (2023) menunjukkan bahwa kurangnya waktu berkualitas antara orang tua dan anak dapat berdampak buruk pada perkembangan anak. Oleh karena itu, meluangkan quality time secara rutin bersama anak menjadi hal penting untuk mendukung kesejahteraan dan tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Quality time tidak harus berupa kegiatan besar, liburan mahal, atau agenda khusus di luar rumah. Justru, momen-momen sederhana di rumah, seperti makan bersama, mengobrol, atau melakukan aktivitas ringan dapat menjadi sarana penting untuk membangun kedekatan dalam keluarga. Melalui quality time yang dilakukan secara konsisten, anak mendapatkan ruang untuk merasa didengar, diperhatikan, dan diterima. Hal ini berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, maupun psikologis. Ikatan keluarga yang terbangun dari kebersamaan sederhana inilah yang menjadi dasar rasa aman dan kepercayaan anak terhadap orang tua.

10 Aktivitas Quality Time Bersama Keluarga

Kesibukan dan tuntutan hidup membuat banyak keluarga memiliki sedikit ruang untuk benar-benar hadir satu sama lain. Kondisi ini dapat membuat kebersamaan perlahan berkurang, meskipun tinggal di bawah atap yang sama. Oleh karena itu, membangun dan menjaga ikatan keluarga tetap menjadi fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang sehat serta kenangan yang bermakna. Alleyne (2025) membagikan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga untuk mempererat hubungan dan membangun kedekatan.

1. Menonton Film 

Menonton film bersama dapat menjadi momen kebersamaan yang hangat tanpa perlu persiapan rumit. Parents dan anak Anda dapat bergiliran memilih film, sehingga setiap anggota keluarga merasa dilibatkan dan dihargai. Selain menghadirkan waktu santai bersama, aktivitas ini juga membuka ruang untuk berbagi cerita, tawa, dan nilai-nilai kehidupan yang muncul dari film yang ditonton. Kenangan sederhana inilah yang sering kali memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

2. Memasak 

Melibatkan seluruh anggota keluarga dalam menyiapkan makanan dapat menjadi momen kebersamaan yang bermakna. Anak dapat ikut berpartisipasi dalam tugas-tugas sederhana sesuai dengan usianya, sementara orang tua membimbing dan memberi ruang untuk belajar. Aktivitas mencoba resep baru, membuat camilan sederhana, atau menyiapkan makanan khas keluarga juga dapat menciptakan kenangan keluarga. Kebersamaan di dapur ini sering kali membuat waktu makan terasa lebih hangat dan penuh makna.

3. Mengadakan Permainan 

Permainan papan dapat menjadi sarana sederhana untuk membangun kebersamaan dalam keluarga. Melalui aktivitas ini, anak belajar berpikir strategis, memperkaya kosakata, serta memahami arti sportivitas. Selain permainan papan, parents juga dapat mencoba permainan lain, seperti permainan kartu, permainan tradisional atau permainan digital yang melibatkan interaksi bersama. Kompetisi yang dilakukan secara ramah sering kali memunculkan tawa, percakapan ringan, dan momen kebersamaan yang memperkuat ikatan keluarga.

4. Membuat Klub Buku 

Membaca bersama dapat menjadi sarana memperkuat ikatan keluarga sekaligus menumbuhkan minat literasi pada anak. Orang tua dapat memilih buku yang sesuai dengan usia anak dan meluangkan waktu untuk membaca serta mendiskusikannya bersama. Bagi keluarga dengan anak usia dini, membacakan cerita secara rutin dengan ekspresi dan suara yang beragam dapat meningkatkan ketertarikan anak dalam membaca. Untuk meningkatkan kreativitas, keluarga juga dapat berkreasi dengan membuat alur cerita sederhana sesuai imajinasi masing-masing. 

5. Camping Indoor 

Camping indoor dapat menjadi kegiatan keluarga yang sederhana namun menyenangkan di rumah. Parents dan anak Anda dapat bekerja sama menciptakan ruang bermain dengan memanfaatkan selimut, bantal, atau tenda kecil di ruang keluarga. Kegiatan ini melatih kreativitas dan kerja sama antaranggota keluarga. Setelah area camping selesai, keluarga dapat mengisinya dengan aktivitas santai seperti bercerita, membaca buku, atau menikmati camilan bersama. 

6. Membuat Karya Seni

Kegiatan seni dapat menjadi ruang aman bagi anggota keluarga untuk mengekspresikan diri dan saling mengenal satu sama lain. Parents dan anak Anda dapat mengerjakan karya seni secara mandiri maupun bersama, seperti menggambar, melukis, atau membuat kolase. Aktivitas seni juga berperan dalam mendukung perkembangan anak, termasuk melatih keterampilan motorik halus, kemampuan memecahkan masalah, serta membangun rasa percaya diri dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan. 

7. Membuat Kotak Waktu Keluarga

Membuat kotak waktu keluarga dapat menjadi cara sederhana untuk merekam perjalanan dan kenangan bersama. Parents dan anak Anda dapat memilih benda-benda bermakna, menuliskan pesan atau harapan untuk diri mereka di masa depan, lalu menyimpannya dalam satu wadah khusus. Proses ini membantu anak belajar merefleksikan pengalaman hidup dan menghargai momen yang sedang dijalani bersama keluarga. Ketika kotak waktu tersebut dibuka di kemudian hari, keluarga dapat melihat kembali pertumbuhan, perubahan, dan ikatan emosional yang telah dibangun dari waktu ke waktu.

8. Mengadakan Pertunjukan Bakat

Pertunjukan bakat dapat menjadi cara menyenangkan untuk membangun kedekatan dan mengenal bakat setiap anggota keluarga. Parents dan anak Anda dapat menyiapkan penampilan sederhana sesuai minat masing-masing, seperti bernyanyi, menari, bercerita, atau menunjukkan keterampilan unik lainnya. Suasana yang suportif akan membantu anak merasa aman untuk mengekspresikan diri dan mencoba hal baru. Melalui aktivitas ini, keluarga tidak hanya merayakan bakat individu, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, saling menghargai, dan kebersamaan.

9. Mempelajari Keterampilan Baru Bersama

Mempelajari hal baru bersama anak dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat hubungan. Ketika parents dan anak Anda bersama-sama berada dalam posisi belajar, tercipta lingkungan yang saling mendukung dan bekerja sama menghadapi tantangan. Aktivitas ini dapat berupa keterampilan sederhana seperti origami, memasak resep baru, mempelajari bahasa asing, atau mencoba olahraga ringan bersama. Proses belajar bersama membuka ruang percakapan yang lebih hidup, memperkuat ikatan emosional, dan membantu anak melihat orang tua sebagai sosok yang mau bertumbuh bersama.

10. Menanam Tanaman

Menanam tanaman di dalam rumah dapat menjadi aktivitas sederhana yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Parents dan anak Anda dapat bersama-sama merawat bibit tanaman sambil belajar mengenal proses pertumbuhan. Melalui rutinitas perawatan yang dilakukan secara konsisten, anak belajar tentang tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian. Aktivitas ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan dalam keluarga, seperti tanaman, membutuhkan perhatian dan keterlibatan yang berkelanjutan agar dapat bertumbuh dengan sehat.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai bonding events yang dirancang untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak, baik antara ayah dan anak laki-laki, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak perempuan, maupun ibu dan anak laki-laki. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Alleyne, V. (2025). 20 heartwarming indoor family bonding activities to try. Vanessa Heartfelt.https://vanessaheartfelt.com/20-family-indoor-activities-building-a-place-of-love-and-joy/
  • Waters, K. A., Salinas-Miranda, A., & Kirby, R. S. (2023). The association between parent-child quality time and children’s flourishing level. Journal of Pediatric Nursing, 73, e187-e196. https://doi.org/10.1016/j.pedn.2023.09.008

 

Youth

Attention Span: Kenapa Fokus Terasa Semakin Mahal di Era Scroll Tanpa Henti?

Champs, pernah nggak kamu buka satu video “sebentar aja”, lalu tiba-tiba sadar sudah hampir satu jam scroll tanpa henti? Rasanya fokus kita gampang sekali berpindah dari satu hal ke hal lain: notifikasi, video pendek, chat, sampai tab tugas yang belum selesai. Ternyata, rasa sulit fokus ini bukan sekadar keluhan generasi digital, tetapi juga menjadi topik yang banyak diteliti.

Apa itu Attention Span?

Attention span adalah kemampuan seseorang mempertahankan fokus pada satu tugas atau alur pikiran dalam jangka waktu tertentu sebelum terdistraksi oleh hal lain, yang dipengaruhi oleh fungsi otak, minat terhadap aktivitas, kondisi emosional, kesehatan fisik, pengalaman hidup, lingkungan sekitar, hingga paparan stimulus digital yang terus berubah cepat (Ungvarsky, 2024).

Di kehidupan sehari-hari, otak sebenarnya terus memilah informasi mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang harus diabaikan. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa paparan smartphone dan media digital yang serba cepat dapat memengaruhi kemampuan kita mempertahankan fokus.

Kenapa Fokus Mudah Teralihkan?

Teknologi bukan otomatis “musuh” fokus. Smartphone dan media digital tetap membantu proses belajar, komunikasi, dan kualitas hidup, namun penggunaan yang berlebihan berkaitan dengan menurunnya kemampuan mempertahankan fokus dan meningkatnya distraksi (Nugroho, 2026; Siyami et al., 2022).

Siyami et al. (2022) menemukan bahwa mahasiswa dengan penggunaan ponsel yang sangat tinggi mengalami penurunan fokus dibandingkan pengguna dengan intensitas lebih rendah. Penggunaan ponsel berlebihan juga dikaitkan dengan menurunnya fokus akademik, gangguan working memory, dan perilaku yang lebih mudah terdistraksi (Siyami et al., 2022).

Hal ini terjadi karena kapasitas fokus manusia sebenarnya terbatas. Ketika beberapa aktivitas berebut sumber perhatian yang sama, sebagian sumber daya mental terserap tanpa disadari sehingga fokus untuk tugas utama menjadi berkurang (Siyami et al., 2022). Karena itu, kebiasaan mengecek notifikasi, berpindah aplikasi, atau multitasking dapat mengambil ruang fokus yang sebenarnya dibutuhkan untuk belajar atau bekerja (Siyami et al., 2022).

Konten Video di Media Sosial dan Attention Span: Apa Hubungannya?

Short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts sering menjadi sorotan dalam diskusi mengenai attention span karena karakteristiknya yang singkat, cepat, dan terus berganti. Dalam beberapa penelitian, pola konsumsi konten seperti ini mulai dikaitkan dengan tantangan dalam mempertahankan fokus. Misalnya, Aljehani et al. (2025) menemukan bahwa sebagian mahasiswa melaporkan kesulitan mempertahankan konsentrasi penuh selama perkuliahan, dengan gangguan distraksi yang cukup sering muncul, serta adanya keterkaitan antara penggunaan TikTok yang berlebihan dan penurunan fokus, meskipun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti.

Hal serupa juga terlihat pada studi tentang short-form video seperti Instagram Reels. Paparan konten yang terus-menerus dan cepat berganti ini ditemukan berkaitan dengan penurunan kemampuan mempertahankan perhatian serta performa akademik. Haliti-Sylaj dan Sadiku (2024) menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan short reels, semakin besar kemungkinan terganggunya kontrol fokus dan meningkatnya distraksi, yang pada akhirnya berhubungan dengan penurunan capaian akademik. Sejalan dengan itu, Asif dan Kazi (2024) juga menemukan bahwa intensitas penggunaan short video yang lebih tinggi cenderung diikuti dengan penurunan performa belajar, terutama pada pengguna dengan durasi konsumsi yang tinggi.

Di Indonesia, pola yang mirip juga terlihat. Nugroho (2026) menemukan bahwa semakin tinggi screen time dan durasi penggunaan TikTok, semakin besar kesulitan mahasiswa dalam mempertahankan fokus saat belajar. Konten yang cepat, padat, dan sangat menarik secara visual ini juga dikaitkan dengan kecenderungan konsumsi informasi yang lebih singkat, serta berkurangnya keterlibatan mendalam dalam aktivitas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan (Nugroho, 2026; Opara et al., 2025).

Namun, penelitian tentang media sosial dan attention span tidak sepenuhnya negatif. Dalam kondisi tertentu, short-form video seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts juga dapat mendukung perhatian visual, keterlibatan belajar, serta pembelajaran yang lebih interaktif ketika digunakan untuk konten edukatif (Opara et al., 2025; Rahma, 2025). Generasi Z cenderung lebih mudah memahami materi melalui video edukatif singkat karena formatnya yang ringkas, visual, dan mudah diulang, sesuai dengan gaya belajar mereka yang lebih visual dan cepat (Rahma, 2025). Rahma (2025) menemukan bahwa banyak siswa sering mengulang video untuk memperkuat pemahaman, serta secara tidak sengaja menemukan konten edukatif saat berselancar di media sosial, yang kemudian turut membantu proses belajar mereka. Artinya, bukan hanya aplikasinya yang berpengaruh, tetapi juga cara kita menggunakannya.

Cara Meningkatkan Fokus di Tengah Distraksi Digital

Kalau fokus terasa mudah pecah, ada beberapa strategi sederhana yang bisa Champs coba:

1. Mengurangi distraksi

Menurut Burrows (2026), mengurangi distraksi membantu fokus tetap berada pada tugas utama. Saat belajar atau bekerja, mematikan notifikasi, menjauhkan ponsel, atau membatasi akses internet yang tidak diperlukan dapat membantu menjaga fokus (Burrows, 2026).

2. Fokus pada satu tugas

Multitasking sering dianggap produktif, padahal perhatian manusia terbatas (Burrows, 2026). Karena itu, menyelesaikan satu tugas penting terlebih dahulu sebelum berpindah ke aktivitas lain dapat membantu menjaga fokus tetap stabil (Burrows, 2026).

3. Beri otak waktu istirahat

Otak dapat mengalami kelelahan setelah mempertahankan fokus dalam waktu lama. Karena itu, jeda singkat di tengah sesi belajar atau bekerja membantu otak kembali segar sebelum melanjutkan aktivitas (Burrows, 2026).

4. Tidur yang cukup

Gloria Mark, peneliti attention span dan penulis, menekankan pentingnya tidur yang cukup agar otak memulai hari dengan sumber daya kognitif yang lebih siap (Onque, 2026). Tidur berkualitas membantu otak tetap segar dan lebih siap mempertahankan fokus sepanjang hari (Onque, 2026).

5. Buat tujuan yang jelas

Tujuan yang spesifik membantu fokus lebih terarah pada apa yang ingin dicapai. Karena itu, membuat target realistis dan langkah yang jelas dapat membantu perhatian tidak mudah teralihkan (Onque, 2026).

6. Kenali waktu fokus terbaikmu

Menurut Gloria Mark, fokus manusia memiliki pola naik turun sepanjang hari (Onque, 2026). Mengenali waktu ketika kamu paling fokus dapat membantu menyusun aktivitas secara lebih efektif (Onque, 2026).

7. Biasakan membaca buku

Membaca membantu melatih working memory karena otak perlu menyimpan sekaligus menghubungkan informasi selama proses membaca berlangsung (Onque, 2026). Semakin sering membaca, semakin terlatih kemampuan otak mempertahankan fokus dalam waktu lebih lama (Onque, 2026).

8. Melatih meta-awareness

Meta-awareness berarti menyadari ke mana fokus kita bergerak ketika distraksi muncul (Onque, 2026). Saat fokus mulai teralihkan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri apakah distraksi tersebut benar-benar perlu ditanggapi saat itu juga (Onque, 2026).

Champs, Fokus Bukan Sekadar Soal Disiplin

Mungkin kemampuan fokus kita memang hidup di tengah dunia yang jauh lebih ramai dibanding generasi sebelumnya. Fokus bukan lagi sekadar kemampuan diam dan berkonsentrasi, tetapi juga kemampuan memilih apa yang layak mendapat ruang dalam pikiran kita. Di tengah video singkat, notifikasi tanpa henti, dan kebiasaan berpindah cepat dari satu layar ke layar lain, fokus menjadi sesuatu yang perlu dirawat secara sadar.

Coba tanya pada dirimu sendiri:

Apakah aku benar-benar fokus saat belajar, atau hanya terus berpindah layar?

Berapa kali aku mengecek notifikasi saat mengerjakan tugas?

Apakah aku memberi otak waktu istirahat yang cukup?

Kapan terakhir aku melakukan sesuatu tanpa membuka aplikasi lain di saat bersamaan?

Kalau akhir-akhir ini kamu merasa sulit fokus, bukan berarti kamu malas atau gagal disiplin. Bisa jadi, otakmu sedang terlalu penuh dengan distraksi yang terus berebut perhatianmu.

Jika kamu merasa membutuhkan dukungan lebih, Focus on the Family Indonesia menyediakan layanan peer counseling, tempat Champs bisa berbagi cerita dengan pendamping yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Champs juga bisa menemukan berbagai tips praktis seputar pengembangan diri, relasi yang sehat, dan kesehatan emosional melalui Instagram @noapologiesindonesia atau website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masa depan.

Referensi

Aljehani, D., Almaabadi, W., Alshamrani, L., Alshehri, Y., Ghamdi, R., Alzahrani, T., Alsubhi, A., Almutaani, G., Alsulami, S., & Alghamdi, W. (2025). The relationship between TikTok addiction and abnormal attention span among young adults: a cross-sectional study. International Journal of Medicine in Developing Countries, 1561–1569. https://doi.org/10.24911/ijmdc.51-1750323668

Asif, M., & Kazi, S. (2024). Examining the Influence of Short Videos on Attention Span and its Relationship with Academic Performance. International Journal of Science and Research (IJSR), 13(4), 1877–1883. https://doi.org/10.21275/sr24428105200

Burrows, S. (2026, March 7). How to Increase Attention Span. University of Rochester Medicine. https://www.urmc.rochester.edu/news/publications/health-matters/how-to-increase-attention-span#:~:text=Simple%20ways%20to%20improve%20attention,breaks%20to%20retrain%20your%20brain.

Haliti-Sylaj, T., & Sadiku, A. (2024). Impact of Short Reels on Attention Span and Academic Performance of Undergraduate Students. Eurasian Journal of Applied Linguistics, 10(3), 60–68. http://dx.doi.org/10.32601/ejal.10306

Nugroho, L. A. (2026). Structural Equation Modeling to Understand the Dynamics of Technology’s Impact on Attention Span: Indonesian Case. International Journal of Instructional Technology and Educational Studies, 7(1), 30–36. https://doi.org/10.21608/ihites.2025.399582.1253

Onque, R. (2026, March 12). Maintaining deep focus really is harder these days—how to improve your attention span, from a top researcher. CNBC. https://www.cnbc.com/2026/03/12/5-ways-to-maintain-deep-focus-from-an-attention-span-expert.html

Opara, E., Adalikwu, T. M., & Tolorunleke, C. A. (2025). The Impact of Tiktok’s Fast-Paced Content on  Attention Span of Students. Preprints. https://doi.org/10.20944/preprints202501.0269.v1

Rahma, V. (2025). Learning Style Adaptation of Generation Z to Short Educational Videos on Social Media. Journal of Education in Specific Purpose, 1(2), 97–108. https://www.journal.uruborospublishing.com/index.php/jesp/article/view/382

Siyami, M., Moghadam, M. R., & Avaz, K. A. (2022). Investigating the effect of mobile phone use on students’ attention span and academic performance. Journal of Fundamentals of Mental Health, 25(4), 271–277. https://journals.mums.ac.ir/article_23043_cf040b3f088dd5fa21e64ae945f03215.pdf

Ungvarsky, J. (2024). Attention span. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/health-and-medicine/attention-span

Marriage

Satu Visi, Satu Arah: Fondasi Pernikahan yang Bertumbuh

Banyak pasangan merasa pernikahannya baik-baik saja. Tidak sering bertengkar, tidak ada konflik besar, dan tetap menjalani rutinitas bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul rasa hampa yang sulit dijelaskan. Hubungan terasa stabil, tetapi tidak bertumbuh. Tetap bersama, namun seperti berjalan di tempat.

Masalahnya bukan karena kurang cinta atau komitmen. Hal yang sering terlewatkan adalah visi dalam pernikahan. Tanpa visi, pernikahan ibarat dua orang yang berjalan berdampingan tanpa tujuan yang jelas. Visi dalam pernikahan bukanlah mimpi pribadi masing-masing yang kebetulan sejalan. Visi adalah kesepakatan bersama mengenai nilai apa yang dipegang, tujuan apa yang ingin dicapai, dan prioritas apa yang dipilih sebagai pasangan. 

Langkah-Langkah untuk Menyatukan Visi Pernikahan

Banyak pasangan memilih terus berjalan sambil berharap langkah mereka tetap seirama. Padahal, tanpa percakapan yang jujur dan disengaja, kesatuan arah hanya menjadi angan. Anastasi (2023) membagikan beberapa langkah untuk menyatukan visi dalam pernikahan:

1. Menemukan Tujuan Bersama

Visi dalam pernikahan berfungsi sebagai kompas arah yang menuntun pasangan dalam menjalani kehidupan bersama. Visi memberikan kestabilan, tujuan yang jelas, dan makna. Tanpa arah yang jelas, pernikahan mudah terjebak dalam rutinitas yang monoton. Dalam jangka panjang, ketiadaan visi dapat membuat hubungan semakin rapuh. Oleh karena itu, couples perlu membangun percakapan yang jujur satu sama lain agar visi dapat berfungsi sebagai panduan dalam menentukan langkah-langkah nyata sebagai satu tim.

2. Memvisualisasikan Visi Pernikahan

Visi dalam pernikahan sering kali muncul melalui pikiran, mimpi, imajinasi, dan gambaran tentang masa depan yang diharapkan bersama. Tidak jarang, gambaran tersebut terasa sulit atau bahkan tampak mustahil. Hal ini wajar, karena visi memang menantang pasangan untuk keluar dari zona nyaman dan bertumbuh. Namun, visi tidak cukup hanya dipikirkan, ia perlu dilanjutkan dengan menetapkan tujuan-tujuan konkret agar visi tersebut dapat diwujudkan secara bertahap dalam kehidupan sehari-hari.

3. Membuat Papan Visi Pernikahan

Salah satu cara yang dapat couples lakukan untuk menyatukan arah pernikahan adalah dengan membuat papan visi. Couples dapat merangkum tujuan hidup bersama dengan gambar dan kata-kata yang merepresentasikan nilai, harapan, dan prioritas yang ingin dijalani. Dengan menempatkannya di ruang yang mudah terlihat, couples dapat kembali mengingat tujuan pernikahan di tengah kesibukan dan tantangan sehari-hari. 

4. Tetap Berjuang Menjaga Visi Pernikahan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal dapat mengalihkan perhatian pasangan. Jika tidak disadari, gangguan-gangguan ini dapat membuat couples lebih sering bereaksi satu sama lain daripada bergerak menuju tujuan yang sama. Oleh karena itu, couples perlu secara sengaja meluangkan waktu untuk kembali menyelaraskan arah. Mengambil waktu bersama untuk berdiskusi, mendengarkan, dan menyepakati kembali prioritas menjadi langkah penting agar visi pernikahan tidak tenggelam oleh rutinitas. Kesepakatan untuk menjaga fokus inilah yang membantu visi tetap hidup dan menuntun couples melangkah sebagai satu tim.

5. Mulailah dari Sekarang

Tidak semua pasangan langsung memiliki gambaran masa depan yang jelas. Namun, keterbatasan pandangan bukan alasan untuk menunda langkah. Memulai dari kondisi saat ini jauh lebih penting daripada menunggu kepastian yang sempurna. Kejelasan arah sering kali muncul seiring couples berani melangkah dan belajar bersama.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan, program Journey to Us, serta bonding events seperti Date Night untuk memperkuat relasi. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi 

  • Anastasi, G. (2023, Agustus 19). Why your marriage needs a vision. https://gasparandmichele.com/why-your-marriage-needs-a-vision-3/
Parenting

Panduan Orang Tua: Mendukung Anak yang Merasa Kesepian

Parents, tanda-tanda anak kesepian tidak selalu mudah dikenali. Anak bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa, berinteraksi dengan teman, atau terlihat aktif di media sosial, tetapi di waktu tertentu menjadi lebih diam atau kesulitan menjelaskan perasaannya. Dalam banyak penelitian, kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan yang dirasakan dibandingkan sekadar jumlah teman yang dimiliki (Buecker et al., 2024).

Tidak semua anak akan secara langsung mengatakan bahwa mereka merasa kesepian. Sebagian anak mungkin belum memahami apa yang mereka rasakan, sementara yang lain memilih untuk tidak bercerita. Situasi ini dapat membuat Parents merasa ragu dalam bersikap: “Harus mendekat atau memberi ruang?” dan “Harus bertanya atau menunggu?” Dalam kondisi seperti ini, membangun kepekaan terhadap pengalaman emosional anak menjadi hal yang penting.

Peran Parents tidak hanya memastikan anak memiliki lingkungan sosial, tetapi juga membantu anak merasa didengar dan diterima. Pendampingan yang tepat dapat membantu anak memahami dan menghadapi pengalaman kesepian dengan cara yang lebih sehat.

1. Mulai dari Mendengarkan, Bukan Langsung Memperbaiki

Tidak semua situasi membutuhkan intervensi langsung dari Parents. Ada kalanya yang lebih dibutuhkan anak adalah kesempatan untuk memproses pengalaman yang sedang ia alami. Ketika Parents terlalu cepat mengambil alih dengan memberikan solusi, proses tersebut justru dapat terhenti. Oleh karena itu, penting bagi Parents untuk memberi ruang agar anak dapat berperan sebagai pembicara, sementara Parents mengambil posisi sebagai pendengar.

Dari sisi anak, kesempatan untuk berbicara menjadi sarana untuk memahami emosinya sendiri sekaligus membangun kepercayaan bahwa Parents hadir tanpa menghakimi (Ehmke, 2026). Sementara itu, dari sisi Parents, proses mendengarkan memungkinkan pengumpulan informasi yang lebih utuh. Dengan pemahaman yang lebih komprehensif, Parents dapat memberikan dukungan yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan anak (Ehmke, 2026).

2. Membangun Ruang Nyaman Agar Anak Mau Curhat

Keterbukaan anak tidak dapat dipaksakan melalui pertanyaan atau nasihat. Anak cenderung lebih mudah berbagi cerita ketika mereka terbiasa merasa diterima dan aman secara emosional, bahkan saat sedang menghadapi perasaan yang sulit atau tidak nyaman. Berbagai temuan penelitian menunjukkan hubungan yang hangat dan suportif dengan orang tua berperan penting dalam kondisi emosional anak, termasuk dalam menurunkan tingkat kesepian dan meningkatkan kesejahteraan psikologis (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Hal ini menekankan bahwa yang berpengaruh bukan sekadar kata-kata, tetapi juga bagaimana Parents hadir dalam interaksi sehari-hari.

Untuk memfasilitasi percakapan yang aman, Parents dapat mencoba beberapa pendekatan berikut (Ehmke, 2026):

  • Ajukan pertanyaan terbuka yang mendorong anak untuk mengeksplorasi dan menjelaskan pengalamannya lebih dalam

Contohnya, “Apa bagian dari hari ini yang paling membuatmu kesal?” atau “Apa yang paling kamu sukai saat bermain dengan temanmu?”

  • Sampaikan komentar jujur tetapi tidak menghakimi sebagai pembuka percakapan

Alih-alih langsung bertanya atau menghakimi, Parents dapat memulai dari apa yang terlihat. Misalnya, “Belakangan kamu kelihatan lebih pendiam setelah pulang sekolah,” lalu beri ruang agar anak menanggapi.

  • Tunjukkan bahwa perasaan anak dapat diterima

Parents perlu memvalidasi pengalaman anak dengan menunjukkan bahwa perasaannya dapat diterima dengan mendengarkan secara tenang dan tidak berlebihan dalam merespons. Misalnya, ketika anak tampak kecewa, Parents bisa mengatakan, “Wajar kalau kamu kesal karena itu tidak berjalan seperti yang kamu harapkan,” atau “Sepertinya situasi tadi memang bikin frustrasi, ya?” 

3. Membimbing Anak Mengenali dan Mengelola Kesepian

Tidak semua anak langsung menyadari bahwa yang mereka rasakan adalah kesepian. Parents dapat membantu anak mengenali dan mengelola perasaan ini dengan cara berikut (Williams, 2022):

  • Bantu anak menyebutkan perasaannya

Anak terkadang kesulitan menyadari atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Parents dapat memberi gambaran dengan menceritakan pengalaman pribadi, misalnya “Dulu, waktu Mama seusia kamu, ada saat-saat di mana Mama merasa sedih karena teman-teman di sekolah sedang sibuk. Mama merasa sendirian, tapi Mama belajar bahwa merasa sepi itu normal. Perasaan sepi itu mendorong Mama untuk mencoba bicara dengan teman baru dan bermain bersama mereka.” Cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa kesepian adalah hal yang normal dan dapat dikelola.

  • Untuk anak kecil

Fokuskan pada memberikan rasa aman dan dukungan emosional. Parents dapat menyediakan buku cerita yang sesuai usia, serta memberikan pelukan atau perhatian ekstra, sehingga anak merasa dicintai dan terlindungi.

  • Untuk anak yang lebih besar

Utamakan mendengarkan dan menghargai semua perasaan anak, termasuk sedih, marah, frustrasi, atau kecewa. Jangan buru-buru memberi solusi atau menyuruh mereka untuk “cepat move on”. Cukup biarkan mereka merasa dimengerti dan validasi perasaannya.

  • Dorong cara kreatif untuk menghadapi kesepian

Ajak anak menyalurkan perasaannya lewat aktivitas yang mereka sukai, seperti menggambar, menulis, bermain musik, atau hobi lainnya. Setelah itu, bantu mereka merencanakan kegiatan yang dapat membuat mereka merasa lebih terhubung dengan orang lain dan tidak sendirian.

4. Membangun Keterampilan Sosial Anak

Anak yang kesulitan bersosialisasi sering merasa canggung, cemas, atau tidak tahu harus mulai dari mana. Parents dapat membantu anak membangun keterampilan sosial secara bertahap dengan cara yang terstruktur dan penuh dukungan (Ehmke, 2026):

  • Rencanakan langkah-langkah kecil

Interaksi sosial dapat terasa menakutkan. Pecah menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dicapai, misalnya menyapa teman, mengajak bermain, atau mengobrol singkat. Siapkan juga rencana cadangan jika respons teman berbeda dari yang diharapkan. Dengan begitu, anak merasa lebih aman dan percaya diri saat mencoba berinteraksi.

  • Latihan dalam lingkungan yang aman

Anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial tanpa tekanan. Hal ini dapat diwujudkan melalui bermain peran, bergiliran (taking turns), atau menyelesaikan konflik sederhana di rumah bersama anggota keluarga atau teman dekat. Pengalaman ini membantu anak belajar menyesuaikan diri secara bertahap dengan berbagai orang dan situasi.

  • Berikan dorongan dan dukungan

Anak yang cemas atau minder biasanya enggan mencoba bersosialisasi. Parents dapat memvalidasi perasaan mereka, memuji usaha yang mereka lakukan, dan menekankan bahwa pengalaman sosial biasanya lebih menyenangkan dari yang mereka bayangkan. Dukungan ini mendorong anak berani mencoba dan belajar dari pengalaman nyata.

  • Bimbing anak menilai situasi dengan lebih realistis

Kadang anak salah menafsirkan situasi sosial, terutama melalui chat atau media sosial. Parents dapat membantu anak meninjau fakta, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan mengenali pola berpikir negatif. Hal ini membantu anak memahami situasi dengan objektif dan tidak mudah cemas berlebihan.

  • Temukan lingkungan sosial yang sesuai minat anak

Anak yang kesulitan menyesuaikan diri mungkin belum menemukan kelompok yang cocok. Parents dapat membantu anak mengeksplorasi kegiatan atau komunitas yang sesuai minat mereka, baik daring maupun luring. Kegiatan yang benar-benar menarik bagi anak membuat mereka lebih nyaman, lebih mudah membangun hubungan, dan meningkatkan rasa percaya diri.

  • Perhatikan keselamatan saat bersosialisasi online

Jika anak bersosialisasi melalui internet, penting bagi Parents untuk memastikan mereka aman dan memahami potensi risiko. Edukasi aktif tentang keamanan digital sangat penting, terutama bagi anak dengan kebutuhan khusus atau yang lebih rentan terhadap situasi berbahaya.

5. Peran Media Sosial dalam Kehidupan Sosial Anak

Media sosial dan perangkat digital kini menjadi bagian penting dari cara anak berinteraksi dengan teman sebaya. Meskipun tidak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka, banyak anak tetap membangun koneksi dan bersosialisasi melalui layar, bahkan terkadang lebih intens daripada yang disadari orang tua (Ehmke, 2026). Gim online, chat, atau platform digital lain dapat menjadi ruang sosial yang memberikan pengalaman kebersamaan dan kerja sama. Beberapa bentuk interaksi online juga dapat menjadi sumber dukungan sosial (Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Namun, penting diingat bahwa pengalaman kesepian anak tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa sering mereka menggunakan media sosial atau lamanya waktu online, tetapi lebih pada kualitas hubungan yang mereka rasakan (Buecker et al., 2024).

Hal-hal yang dapat Parents perhatikan (Ehmke, 2026):

  • Amati cara anak bersosialisasi secara digital

Duduklah bersama anak saat mereka bermain gim atau menggunakan media sosial. Tanyakan dengan santai, misalnya:

“Siapa saja temanmu yang lagi main atau ngobrol sama kamu sekarang?”

“Ada teman baru yang kamu kenal dari sini?”

“Kamu senang nggak main sama mereka? Kenapa begitu?”

“Kalau lagi main, ada hal seru atau lucu yang kalian lakukan bareng?”

Pertanyaan ringan seperti ini membantu Parents memahami sejauh mana anak benar-benar terhubung dengan teman sebaya secara digital, tanpa membuat mereka merasa diawasi atau tertekan.

  • Hargai kenyamanan sosial anak

Beberapa anak lebih nyaman bersosialisasi secara online dan merasa senang dengan interaksi digital mereka. Hal ini wajar, terutama bagi anak yang masih kesulitan menyesuaikan diri dalam interaksi tatap muka. Media sosial bisa menjadi cara yang aman untuk membangun rasa percaya diri, memperluas jaringan pertemanan, dan mengurangi rasa kesepian.

  • Seimbangkan interaksi online dan offline

Walaupun interaksi digital bermanfaat, bersosialisasi secara langsung tetap penting untuk perkembangan sosial anak. Jika anak masih kesulitan berinteraksi secara tatap muka, Parents bisa berkonsultasi dengan psikolog anak atau ahli kesehatan mental yang fokus pada perkembangan sosial. Profesional dapat membantu Parents dan anak menemukan strategi agar anak lebih percaya diri dan nyaman dalam interaksi langsung dengan teman sebaya.

6. Kondisi Psikologis Anak dan Bantuan Profesional

Kesepian memang wajar dialami, tetapi jika berlangsung terus-menerus, hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional anak (Williams, 2022; Binte Mohammad Adib & Sabharwal, 2023). Faktor psikologis, seperti rasa percaya diri yang rendah, rasa canggung dalam situasi sosial, atau kecenderungan menarik diri dari interaksi dengan orang lain, sangat memengaruhi pengalaman kesepian (Buecker et al., 2024). Anak yang kurang percaya diri cenderung lebih rentan merasa terisolasi dan kesulitan membangun hubungan dengan teman sebaya (Buecker et al., 2024).

Untuk membantu anak, Parents dapat melakukan beberapa langkah berikut (Williams, 2022):

  • Amati perubahan perilaku dan suasana hati

Perhatikan anak secara konsisten selama beberapa minggu. Perubahan signifikan bisa menjadi tanda bahwa kesepian mulai berdampak pada kesejahteraan mereka.

  • Fasilitasi anak untuk berbagi perasaan

Dorong anak untuk menceritakan apa yang mereka rasakan kepada orang dewasa yang mereka percayai, seperti anggota keluarga, guru, atau pelatih. Dukungan dari sosok yang aman membuat anak merasa didengar, dimengerti, dan tidak sendirian menghadapi perasaannya.

  • Jangan ragu mencari bantuan profesional

Jika upaya Parents belum cukup dan anak masih merasa kesepian, konsultasi dengan dokter anak atau terapis kesehatan mental sangat dianjurkan. Bantuan profesional dapat memberikan strategi yang tepat untuk mengelola perasaan anak, mencegah masalah psikologis yang lebih serius, dan mendukung perkembangan keterampilan sosial yang sehat.

Parents, Sudahkah Anak Merasa Terhubung?

Menyadari bahwa anak sedang merasa kesepian bukan untuk membuat Parents merasa bersalah atau khawatir berlebihan. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan setiap keluarga memiliki dinamika uniknya masing-masing. Yang paling penting adalah kesediaan Parents untuk hadir, peka, dan terus belajar memahami kebutuhan emosional anak.

Parents bisa mulai dengan pertanyaan sederhana:

Apakah anak saya merasa didengar ketika ia ingin berbagi?

Apakah ia memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaan?

Apakah saya benar-benar hadir dan fokus ketika ia membutuhkan perhatian?

Langkah-langkah kecil seperti mendengarkan dengan sepenuh hati, membangun kedekatan emosional, dan mendampingi anak memahami hubungan sosial dapat memberikan dampak besar. Kesepian bukan sesuatu yang harus dihapus seketika, melainkan pengalaman yang bisa dihadapi bersama secara bertahap.

Focus on the Family Indonesia hadir untuk berjalan bersama Parents melalui berbagai program dan layanan, seperti layanan konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp di nomor +62 821-1010-4006.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukanlah lingkungan yang sempurna, melainkan satu tempat di mana ia merasa benar-benar diterima, dihargai, dan aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Referensi

Binte Mohammad Adib, N. A., & Sabharwal, J. K. (2023). Experience of loneliness on well-being among young individuals: A systematic scoping review. Current Psychology, 43(3), 1965–1985. https://doi.org/10.1007/s12144-023-04445-z

Buecker, S., Petersen, K., Neuber, A., Zheng, Y., Hayes, D., & Qualter, P. (2024). A systematic review of longitudinal risk and protective factors for loneliness in youth. Annals of the New York Academy of Sciences, 1542(1), 620–637. https://doi.org/10.1111/nyas.15266

Ehmke, R. (2026, March 13). How to Help Kids Who Are Lonely: What parents can say to kids who are struggling socially and how they can help. Child Mind Institute. Retrieved March 17, 2026, from https://childmind.org/article/how-to-help-kids-who-are-lonely/

Williams, C. (2022, March 3). 4 Ways to Help Your Child Cope With Loneliness. Parent Cue. Retrieved March 17, 2026, from https://theparentcue.org/4-ways-to-help-your-child-cope-with-loneliness/