Family Indonesia

Uncategorized

Peran Orang Tua di Era AI

Parents, hari ini anak Anda bisa bertanya pada AI tentang apa saja, dari PR matematika sampai cara menulis puisi. Hanya dengan satu klik, mereka bisa mendapatkan jawaban instan dari ChatGPT, menonton video buatan AI, atau berinteraksi dengan asisten virtual. Dunia digital kini bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak Anda.

Menurut laporan GoodStats (2025), hampir semua masyarakat Indonesia mengenal kecerdasan buatan (AI). Kemudian, sebanyak 42% di antaranya menggunakan AI untuk keperluan profesional maupun pribadi. Menariknya, sebagian besar pengguna aktif AI berasal dari Gen Z yang menjadikan teknologi sebagai bagian dari proses belajar, bekerja, bahkan berinteraksi.

Di balik semua kemudahan itu, teknologi perlahan mengubah cara anak berpikir, belajar, dan berelasi. Segala sesuatu menjadi serba cepat dan instan, hingga ruang untuk merenung dan berempati terasa semakin sempit. Dalam perubahan besar ini, peran orang tua menjadi semakin penting dalam menuntun anak-anak agar mampu hidup dengan bijak di tengah arus kemajuan digital. Orang tua dipanggil untuk menanamkan nilai, iman, dan kasih yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mana pun.

Peran Kritis Orang Tua

 

Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menuntut kebijaksanaan baru dari orang tua. Di tengah dunia digital yang terus berubah, anak-anak membutuhkan pendamping untuk tetap hidup dengan nilai-nilai yang benar. Toth (2025) membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua di era AI untuk menuntun anak-anak menggunakan teknologi dengan bijak:

     1. Fokus pada kelebihan manusia

Di tengah kemajuan AI yang mampu mengolah data, mengenali pola, dan mengotomatiskan banyak hal, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin, yaitu sisi kemanusiaan kita. Di era AI seperti ini, keterampilan yang paling berharga bagi anak-anak bukan lagi seberapa cepat mereka bisa menggunakan teknologi, tetapi bagaimana mereka bisa tetap berpikir kreatif, berempati, dan memiliki penilaian moral yang benar. Kedepannya, soft skill ini kemungkinan besar akan menjadi hard skill baru.

     2. Mengembangkan growth mindset

Perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat dunia kerja, industri, bahkan cara hidup manusia berubah dengan sangat dinamis. Di tengah perubahan ini, anak-anak perlu lebih dari sekadar pengetahuan, mereka perlu kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Sikap mau belajar dan percaya bahwa kemampuan bisa berkembang melalui usaha dan ketekunan disebut growth mindset. Dengan menanamkan pola pikir ini, parents menolong anak Anda melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari proses bertumbuh.

     3. Mengajarkan literasi digital dan kecerdasan buatan (AI)

Literasi digital dan kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana teknologi bekerja, apa batasannya, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan kita. Parents dapat mengajarkan anak Anda bahwa teknologi tetap memiliki keterbatasan dan bahkan dapat disalahgunakan. Maka dari itu itu, anak harus tahu pentingnya melindungi privasi mereka, mengidentifikasi informasi yang salah, dan mempertimbangkan nilai-nilai etis dalam penggunaan AI. Dengan menumbuhkan literasi ini, parents menolong anak Anda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pribadi bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.

     4. Mendorong pemikiran kritis

AI dilatih menggunakan data yang sudah ada. Hal ini membuatnya unggul dalam pengenalan pola dan tugas yang berulang, tetapi tidak bisa benar-benar berpikir kritis atau menemukan konsep yang benar-benar baru. Kreativitas dan inovasi manusia melibatkan intuisi dan kemampuan berpikir di luar pola data yang tidak dapat ditiru AI. Oleh karena itu, mengasah keterampilan berpikir kritis dan kreativitas anak akan menolong mereka menghadapi masa depan yang dipenuhi teknologi dan keputusan berbasis data.

     5. Membangun ketangguhan

Masa depan yang dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI) penuh dengan ketidakpastian, perubahan cepat, serta kegagalan yang tak terhindarkan. Oleh karena itu, kemampuan untuk bangkit kembali dan beradaptasi dengan perubahan menjadi keterampilan penting yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Keterampilan ini dimulai dengan membiarkan anak-anak menghadapi tantangan dan memecahkan masalah sendiri. Ketika mereka menghadapi kesulitan, dorong mereka untuk melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Momen-momen tersebut mengajarkan mereka bahwa kegagalan adalah bagian alami dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus ditakuti.

     6. Etika dan tanggung jawab

AI dapat memberikan solusi berbasis data, tetapi tidak memiliki kompas moral yang diperlukan anak untuk membedakan mana yang benar dan salah. Maka dari itu, parents perlu membantu anak memahami bahwa di balik teknologi yang canggih, selalu ada nilai kemanusiaan yang harus dijaga. Seiring pertumbuhan anak Anda, kenalkan mereka pada konsep keadilan dan konsep tanggung jawab. Bantu anak Anda memahami bahwa tindakan mereka dan alat yang mereka gunakan  memiliki konsekuensi. Dengan terlibat secara aktif, parents dapat menolong anak Anda menikmati manfaat AI sambil tetap berpegang pada nilai-nilai kasih, keadilan, dan tanggung jawab.

     7. Mendorong kolaborasi dan kerja sama tim

Parents mungkin pernah mendengar pepatah “Jika ingin cepat, pergi sendirian; jika ingin jauh, pergi bersama”. Di masa depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi kemampuan seseorang untuk bekerja sama dengan orang lain untuk memecahkan masalah atau membuat inovasi baru. Parents perlu membantu anak Anda mengembangkan keterampilan interpersonal dan mindset yang diperlukan untuk kolaborasi yang bermakna.

     8. Menyiapkan diri untuk belajar seumur hidup

Dalam dunia yang terus berubah akibat kemajuan kecerdasan buatan (AI), keterampilan yang dibutuhkan hari ini bisa saja tidak lagi relevan esok hari. Banyak industri sedang bertransformasi dan peluang karier baru bermunculan dengan cepat. Maka dari itu, anak perlu memiliki sikap terbuka terhadap perubahan, semangat untuk terus berkembang, dan keingintahuan yang tak pernah padam.

Dorong anak Anda untuk menjelajahi berbagai minat tanpa tekanan untuk langsung menjadi ahli. Entah itu belajar memainkan alat musik, bereksperimen, atau mendalami sejarah, tekankan bahwa proses belajar sama berharganya dengan hasilnya. Rayakan usaha dan rasa ingin tahu mereka, agar anak memahami bahwa kebahagiaan sejati dalam belajar muncul dari eksplorasi dan pertumbuhan, bukan dari kesempurnaan.

     9. Kesehatan fisik dan mental

Membangun fondasi yang kuat dalam kesehatan fisik dan mental adalah kunci bagi perkembangan anak di era modern. Kesehatan fisik dapat ditanamkan dengan membiasakan anak untuk tetap aktif bermain di luar, berolahraga, dan bergerak bebas. Meski teknologi akan menjadi bagian dari keseharian mereka, penting untuk tetap memberi ruang bagi aktivitas yang melibatkan tubuh dan alam.

Parents juga dapat membantu anak mengembangkan kesehatan mental yang seimbang. Dunia yang bergerak cepat di bawah pengaruh kecerdasan buatan (AI) bisa menimbulkan tekanan bahkan bagi anak-anak. Bantu mereka mengenali dan mengelola emosi. Dengan menanamkan kebiasaan sehat sejak dini, anak akan memiliki bekal untuk menjaga keseimbangan diri di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks.

      10. Jadilah teladan

Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi contoh nyata dalam penggunaan teknologi yang bijak. Perhatikan penggunaan teknologi Anda sendiri dan berusahalah untuk menjadi teladan dalam bagi anak-anak Anda. Tunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk belajar, berkreasi, dan membangun kebiasaan positif.

Terakhir, luangkan waktu bersama mereka. Hadirlah, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional. Dengarkan cerita mereka, sambut rasa ingin tahu mereka, dan nikmati momen kebersamaan tanpa distraksi. Di dunia yang penuh dengan notifikasi dan gangguan, perhatian penuh Anda adalah hadiah paling berharga yang dapat Anda berikan.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti yaitu Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • (2025, 15 Oktober). Understanding AI usage today. GoodStats. https://goodstats.id/publication/understanding-ai-usage-today-IM0Gx
  • Tóth, B. A. (2025, Januari 5). Future-proof parenting: 10 ways to prepare our children for the AI era. Medium. https://bence-a-toth.medium.com/future-proof-parenting-10-ways-to-prepare-our-children-for-the-ai-era-37b74acc10f2

 

Uncategorized

Saat Ponsel Menggantikan Pasangan: Bahaya Phubbing dalam Pernikahan

Couples, coba bayangkan di malam hari, Anda dan pasangan duduk di ruang keluarga setelah seharian beraktivitas. Televisi menyala, namun tak ada percakapan berarti yang terjadi. Masing-masing sibuk scrolling media sosial, membalas pesan, atau sekadar menatap notifikasi yang terus muncul. Kedekatan fisik memang ada, tetapi kehadiran emosional perlahan memudar.

Kondisi ini dikenal sebagai phubbing, yaitu perilaku mengabaikan orang yang sedang bersama kita karena terlalu fokus pada ponsel. Penelitian yang dilakukan oleh Chotpitayasunondh dan Douglas (2016) menemukan bahwa lebih dari 17% orang melakukan phubbing terhadap orang lain sebanyak empat kali atau lebih dalam sehari. Sementara itu, hampir 32% individu melaporkan mengalami phubbing dua hingga tiga kali dari orang lain setiap harinya.

Kebiasaan menggunakan ponsel sering kali terlihat sepele. Namun, di balik kebiasaan sederhana itu, ada jarak yang perlahan tercipta. Ingatlah, ketika perhatian lebih banyak tercurah pada layar, pasangan bisa merasa diabaikan, tidak dilihat, atau tidak diprioritaskan. Akibatnya, muncul rasa kesepian, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, dan kedekatan yang semakin memudar.

 

Cara Untuk Terhubung Kembali

 

Untuk benar-benar terhubung kembali dengan pasangan, kita perlu memulainya dari kesadaran dan niat yang tulus. Gifford (2025) membagikan beberapa cara sederhana namun efektif agar kita bisa lebih fokus dan hadir sepenuhnya dalam hubungan. Melalui langkah-langkah ini, kita dapat perlahan menghentikan kebiasaan phubbing yang sering kali terjadi tanpa disadari.

     1. Temukan Alasan di Balik Perilaku Phubbing

Coba perhatikan, apa yang sebenarnya mendorong couples untuk menatap layar saat sedang bersama pasangan Anda? Apakah karena merasa lelah, stres, atau ingin menghindari percakapan yang terasa tidak nyaman? Mengenali alasan di balik kebiasaan ini membantu kita memahami akar perilaku dan langkah apa yang perlu diambil untuk berubah.

Jika alasannya adalah stress atau kelelahan, scrolling sosial media memang menjadi cara mudah dan cepat untuk menenangkan diri sejenak. Namun, ponsel tidak akan bisa menggantikan kehangatan tatap muka dan sentuhan nyata. Mungkin, yang benar-benar dibutuhkan hubungan Anda bukan notifikasi baru, melainkan perhatian yang tulus dari hati yang hadir sepenuhnya.

     2. Buat Zona Bebas Ponsel

Salah satu langkah sederhana untuk mencegah phubbing merusak hubungan adalah dengan menciptakan momen bebas ponsel. Mulailah dengan menentukan aktivitas yang couples anggap sebagai waktu berkualitas bersama pasangan, seperti makan malam, waktu menjelang tidur, atau kegiatan santai di akhir pekan. Jadikan momen-momen tersebut sebagai ruang tanpa ponsel, di mana fokus couples sepenuhnya tertuju pada kebersamaan. Dengan begitu, couples akan menemukan kembali kenyamanan dan keintiman dalam percakapan tatap muka yang tulus.

     3. Hadirlah Sepenuhnya

Jika couples menyadari bahwa phubbing sering terjadi, maka mulailah dengan membuat kebiasaan yang lebih sehat dalam menggunakan ponsel. Cobalah untuk menyimpan ponsel saat makan, mengaktifkan mode Do Not Disturb (DND), atau menaruhnya jauh dari jangkauan ketika sedang bersama pasangan. Tindakan sederhana ini menunjukkan bahwa couples menghargai kehadiran pasangan Anda.

Baik melalui kegiatan sehari-hari maupun dengan meluangkan waktu khusus berdua, usahakan selalu menciptakan momen koneksi yang nyata. Upaya kecil untuk benar-benar hadir dapat memperkuat keintiman dan mencegah rasa kesepian tumbuh di dalam pernikahan. Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya waktu yang dihabiskan bersama yang terpenting, melainkan kualitas kehadiran yang diberikan satu sama lain.

     4. Menghentikan Distraksi

Tanpa disadari, mengambil ponsel dan memeriksanya “sebentar saja” sering berubah menjadi kebiasaan otomatis. Lama-kelamaan, kita melakukannya bukan karena kebutuhan, melainkan karena sudah terbiasa. Jika terasa sulit melepaskan diri dari ponsel, cobalah secara sengaja menaruhnya di tempat yang jauh dari jangkauan dan biarkan di sana untuk sementara waktu. Percayalah, notifikasi itu akan tetap ada ketika Anda kembali.

Dengan mengurangi kebiasaan refleks untuk memeriksa ponsel, couples akan belajar lebih sadar terhadap perilaku sendiri dan mulai memilih untuk hadir sepenuhnya di momen yang ada. Beberapa langkah praktis seperti mengaktifkan mode pesawat, mematikan getaran, atau menonaktifkan notifikasi juga bisa membantu mengendalikan dorongan untuk selalu memeriksa layar. Tindakan kecil ini dapat menjadi langkah awal menuju hubungan yang lebih tenang, fokus, dan penuh perhatian.

Pada akhirnya, pasangan Anda tidak butuh notifikasi dari Anda, yang ia butuhkan adalah perhatian dan kehadiran Anda. Cobalah mulai dengan langkah kecil hari ini, seperti meletakkan ponsel, tatap mata pasanganmu, dan dengarkan dengan sepenuh hati. Setiap kali kita memilih untuk hadir, kita sedang menumbuhkan kembali kedekatan yang mungkin sempat pudar. Keheningan tanpa layar bisa menjadi ruang di mana cinta dapat bertumbuh dan komunikasi kembali hidup. Sebab ketika kita belajar hadir, kita sebenarnya sedang memulihkan cinta yang Tuhan percayakan.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Chotpitayasunondh, V., & Douglas, K. M. (2016). How “phubbing” becomes the norm: The antecedents and consequences of snubbing via smartphone. Computers in Human Behavior, 63, 9-18. https://doi.org/10.1016/j.chb.2016.05.018
  • Gifford, B. E. (2025, April 3). 5 signs you’re phubbing your friends & family (and what to do about it). Happiful. https://happiful.com/5-signs-youre-phubbing-your-friends-family-and-what-to-do-about-it

 

Uncategorized

Restart: Waktu untuk Lepas dari PMO

Berdasarkan data Common Sense (2023), sekitar 73% remaja berusia 13–17 tahun pernah menonton pornografi secara online. Menariknya, lebih dari setengahnya (54%) melaporkan pertama kali melihat pornografi saat berusia 13 tahun. Data ini menunjukkan betapa mudahnya akses terhadap konten pornografi di era digital, serta bagaimana hal ini telah menjadi bagian dari pergumulan banyak remaja.

Pernahkah champs berada di titik di mana rasa penasaran berubah menjadi penyesalan, lalu berulang kali berjanji untuk berhenti tetapi tetap terjebak di siklus yang sama? Di awal mungkin terasa seperti pelarian dari stres atau kesepian, tapi lama-kelamaan malah membuat champs merasa bersalah, hampa, dan jauh dari Tuhan. Kalau pernah merasa seperti itu, champs nggak sendirian. Banyak yang sedang berjuang di area yang sama, dan kabar baiknya, selalu ada jalan keluar.

Apa Itu PMO?

 

PMO adalah singkatan dari Porn, Masturbation, dan Orgasm. Ketiga hal ini saling berhubungan dan bisa menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan. Paparan pornografi dapat mempengaruhi sistem dopamin di otak, yaitu bagian yang mengatur rasa senang dan motivasi.

Menurut studi neuroimaging oleh Kuhn dan Gallinat (2014), otak seseorang yang sering menonton pornografi bisa bereaksi mirip dengan otak yang mengalami kecanduan zat. Artinya, semakin sering otak mencari sensasi dari pornografi, semakin sulit bagi seseorang untuk merasa puas tanpa rangsangan tersebut. Pada remaja, paparan pornografi bisa berdampak luas, mulai dari cara berpikir, perilaku seksual, citra diri, hubungan sosial, hingga kesehatan mental.

Langkah Nyata Lepas dari PMO

 

Lambat laun, kebiasaan PMO dapat membuat seseorang kehilangan kendali dan merasa jauh dari jati diri maupun nilai-nilai yang diyakininya. Untuk bisa pulih, dibutuhkan motivasi dan sikap konsisten. Ohwovoriole (2024) membagikan beberapa langkah praktis yang dapat membantu seseorang melepaskan diri dari kebiasaan PMO dan memulai hidup yang lebih bebas:

     1. Membuat Alasan

Langkah pertama untuk lepas dari PMO adalah menemukan alasan yang kuat di balik keputusanmu. Champs mungkin ingin berhenti karena alasan agama, etika, atau nilai moral. Selama alasan-alasan tersebut lebih penting bagi champs daripada menonton pornografi, mereka akan menjadi faktor motivasi yang kuat.

Mempunyai alasan yang jelas akan membantu champs tetap bertahan ketika godaan datang. Saat keinginan itu muncul, coba tanyakan pada diri sendiri apakah sensasi singkat itu benar-benar sepadan dengan pengorbanan yang harus champs tanggung. Ingatlah, bahwa kebiasaan menonton pornografi menghambat champs untuk mencapai hidup yang diinginkan.

     2. Menghapus Akses ke Pornografi

Memiliki akses yang mudah ke konten pornografi di ponsel atau laptop membuat usaha untuk berhenti jadi jauh lebih sulit. Maka dari itu, menghapus semua akses adalah langkah penting untuk memutus siklus tersebut. Champs dapat menyingkirkan semua bentuk konten pornografi, baik yang tersimpan secara digital maupun fisik.

Kalau konten itu masih mudah dijangkau, champs akan lebih mudah kembali ke kebiasaan lama. Untuk membantu champs, pasanglah filter atau aplikasi pengaman yang bisa memblokir situs dan konten pornografi, seperti Ever Accountable. Champs juga bisa meminta bantuan seseorang dapat dipercaya untuk membuat kata sandi filter tersebut, supaya filter tersebut tidak bisa dihapus sendiri. Langkah ini akan membantu champs lebih mudah menahan dorongan dan memulai kebiasaan baru yang lebih sehat.

     3. Support System

Jika merasa sulit untuk berbagi perjuanganmu karena takut dihakimi, cobalah temukan orang yang bisa menerima dan memahami champs apa adanya. Membangun support system sangat penting bagi individu yang sedang berusaha pulih dari kecanduan pornografi.  Dukungan ini bisa berasal dari teman, keluarga, komunitas, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Memiliki seseorang untuk diajak berbicara secara rutin dapat memberikan dukungan, motivasi, dan membantu champs tetap konsisten pada komitmenmu. Champs juga bisa menggunakan aplikasi di ponsel untuk mengingatkan seberapa jauh proses pemulihan telah berjalan. Ingatlah, menjalani proses satu hari demi satu hari bukan hanya untuk mereka yang berjuang melawan kecanduan narkoba atau alkohol. Selain itu, merayakan setiap langkah kecil dan memberi apresiasi pada diri sendiri juga merupakan bagian penting dari proses perubahan dan pemulihan.

     4. Jangan Menyalahkan Diri Sendiri

Proses berhenti dari kebiasaan menonton pornografi bukanlah perjalanan yang mudah dan jarang berjalan lurus tanpa hambatan. Penting untuk disadari bahwa kemunduran atau kembali pada kebiasaan lama bisa saja terjadi. Saat hal itu terjadi, penting untuk tetap mengasihi diri sendiri. Ingatlah, bahwa proses membutuhkan waktu dan setiap langkah mundur bukan berarti kegagalan total.

Belajarlah untuk tidak keras pada diri sendiri dan menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses menuju pemulihan. Champs bisa terus melangkah maju dengan mencari coping mechanism atau strategi yang paling cocok untukmu. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi champs selalu punya kesempatan untuk memperbaiki langkah dan melanjutkan perjalanan ke arah yang lebih baik.

     5. Coping Mechanism

Salah satu cara paling efektif untuk melepaskan diri dari kebiasaan lama adalah menggantinya dengan kegiatan yang positif setiap kali dorongan itu muncul. Mengembangkan coping mechanism yang sehat menjadi langkah penting dalam mengatasi kecanduan pornografi. Champs bisa mencoba berbagai aktivitas yang membantu mengalihkan pikiran secara sehat, seperti berolahraga, menghabiskan waktu bersama teman, menonton film, berjalan-jalan, dan lainnya. Dengan menumbuhkan kebiasaan positif, champs dapat perlahan menggantikan kebiasaan lama dengan cara-cara yang lebih membangun dan bermakna.

You can quit porn. It is possible.” —Trafalgar

Apabila champs merasa perlu seseorang untuk mendengarkan atau mendampingi perjalananmu, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

 

Referensi

  • Common Sense. (2023). Teens and Pornography. https://www.commonsensemedia.org/sites/default/files/research/report/2022-teens-and-pornography-final-web.pdf
  • Kühn, S., & Gallinat, J. (2014). Brain structure and functional connectivity associated with pornography consumption: the brain on porn. JAMA psychiatry, 71(7), 827–834. https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2014.93
  • Ohwovoriole, T. (2024, Februari 22). 7 ways to stop watching porn. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/7-ways-to-stop-watching-porn-5204044

 

 

Uncategorized

Mendidik Anak Laki-Laki untuk Menghargai Perempuan

Berdasarkan data Sistem Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak (2024), terdapat 31.947 kasus kekerasan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 27.658 korbannya merupakan perempuan, sementara korban laki-laki tercatat sebanyak 6.894 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan masih sering menjadi korban dari perilaku yang tidak menghormati martabat dan nilai kemanusiaannya.

Di tengah budaya yang kerap menormalkan perilaku merendahkan perempuan, banyak anak-anak laki-laki tumbuh dengan pandangan yang keliru tentang bagaimana memperlakukan perempuan. Padahal, sikap menghargai perempuan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari pola asuh yang ditanamkan sejak kecil. Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam membimbing anak laki-laki belajar bagaimana seorang pria seharusnya memperlakukan perempuan.

Mengajarkan Anak Laki-Laki Menghargai Perempuan

 

Mendidik anak laki-laki untuk menghormati perempuan bukan hanya sekadar soal sopan santun, tetapi tentang membentuk hati dan karakter yang menghormati sesama. Nilai ini tidak dapat muncul dalam semalam, melainkan perlu ditanamkan secara konsisten sesuai dengan tahap perkembangan anak. Coulson (2020) membagikan panduan untuk orang tua dapat mengajarkan anak laki-laki menghargai perempuan  ke dalam beberapa kelompok usia:

Anak Laki-Laki Usia 1-5 Tahun

  • Peran Ayah dan Ibu Sebagai Teladan Utama

Anak laki-laki meniru perilaku, bahasa, dan sikap dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah. Maka dari itu, cara ayah memperlakukan ibu menjadi pelajaran pertama bagi anak tentang bagaimana menghormati perempuan. Anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan yang merendahkan perempuan akan memiliki cara pandang berbeda dari anak yang dibesarkan dengan teladan menghormati perempuan.

Ketika parents menunjukkan sikap menghormati, maka anak pun akan belajar melakukan hal yang sama. Rasa hormat adalah fondasi dari rumah tangga yang sehat. Sikap ini tidak hanya ditunjukkan kepada perempuan, tetapi juga kepada anak-anak, orang dewasa, maupun penyandang disabilitas. Menghormati berarti menahan diri dari ucapan atau tindakan yang menyakiti, seperti menghina, meremehkan, mengabaikan, mengejek, mencemarkan nama baik atau mempermalukan orang lain.

  • 3 Kata Ajaib: Maaf, Tolong, dan Terimakasih

Kata-kata sederhana seperti “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” mungkin terdengar sepele, tetapi justru menjadi dasar penting dalam membentuk karakter anak. Di usia berapa pun, mengucapkan kata-kata ini menunjukkan kesopanan dan rasa hormat kepada orang lain. Saat anak belajar menggunakan tiga kata ajaib ini dengan tulus, mereka juga sedang belajar bagaimana menghargai dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

  • Membantu Orang Lain

Parents dapat mengajarkan anak-anak Anda untuk peka saat seseorang membutuhkan bantuan atau dukungan. Tunjukkan cara sederhana untuk menolong, seperti menawarkan bantuan atau mendengarkan dengan empati. Dengan begitu, anak belajar menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Anak Laki-Laki Usia 5-12 Tahun

  • Media Kekerasan

Konten media yang mengandung kekerasan kini semakin mudah diakses. Anak yang awalnya menolak adegan kekerasan bisa jadi terbiasa saat semakin besar. Hal ini karena paparan berulang terhadap tontonan atau permainan yang penuh kekerasan dapat menurunkan empati anak. Maka dari itu, penting untuk parents membatasi tontonan dan permainan yang menampilkan kekerasan atau unsur seksual berlebihan.

  • Pornografi

Kebanyakan anak laki-laki terpapar pornografi pada usia sekitar 10 hingga 11 tahun. Konten semacam ini sering kali menampilkan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, sehingga dapat menanamkan pandangan yang salah bahwa perempuan bisa diperlakukan tanpa hormat. Maka dari itu, penting bagi parents untuk mulai berbicara secara terbuka tentang topik ini sejak anak berusia 8 hingga 10 tahun.

Parents perlu menjelaskan bahwa pornografi mengajarkan hal-hal buruk, berbahaya, dan tidak sehat. Konten tersebut tidak mencerminkan apa yang orang inginkan dalam hubungan yang sehat dan setara. Parents juga dapat menyampaikan nilai-nilai keluarga mengenai cinta, relasi, dan seksualitas dengan jujur dan sesuai usia anak.

Dorong anak untuk selalu berbicara kepada Anda jika mereka tanpa sengaja melihat atau ditunjukkan konten pornografi. Pastikan mereka tahu bahwa melihat pornografi bukan hal yang normal atau “biasa dilakukan semua anak laki-laki”.  Sikap permisif terhadap hal ini justru dapat memperkuat budaya ketidakhormatan dan kekerasan terhadap perempuan.

  • Membentuk Empati dan Kesadaran Sosial

Ketika anak menyaksikan perilaku yang tidak menghormati orang lain, ajak mereka untuk membicarakannya. Tanyakan bagaimana perasaan mereka setelah melihat hal itu dan bagaimana kira-kira perasaan orang yang menjadi korban. Dorong anak untuk memikirkan cara yang lebih baik dalam merespons situasi seperti ini. Percakapan seperti ini membantu anak laki-laki belajar tentang empati, perspektif, kesetaraan, dan menumbuhkan rasa hormat terhadap sesama.

Anak Laki-Laki Usia 12-18 Tahun

  • Kedekatan Emosional

Anak laki-laki perlu belajar tentang hubungan yang sehat, di mana orang saling mencintai dengan cara yang sehat dan tulus. Mereka perlu melihat dan memahami bagaimana cinta dapat diekspresikan dengan cara saling menghormati, mengasihi, dan lewat komunikasi yang baik. Dengan begitu, anak belajar bahwa kedekatan emosional bukanlah suatu kelemahan, melainkan kekuatan untuk membentuk hubungan yang hangat dan penuh makna.

  • Batasan Dalam Hubungan

Penting bagi parents untuk menjelaskan apa itu batasan dan bagaimana menerapkannya dalam hubungan. Ajarkan kepada anak laki-laki Anda bahwa mereka tidak boleh menyentuh perempuan yang bukan saudara atau yang belum menjadi istrinya. Mereka juga perlu memahami pentingnya memiliki batasan yang sehat, serta menghormati batas pribadi orang lain. Sejak dini, tanamkan bahwa menjadi pria sejati berarti mampu bersikap lembut, menghargai orang lain, serta tidak egois.

  • Mencegah Diskriminasi

Komentar seperti “wanita harus kembali ke dapur” atau candaan yang merendahkan perempuan sering kali dianggap hal biasa. Padahal, kebiasaan kecil seperti ini dapat menanamkan pandangan yang keliru pada anak tentang bagaimana perempuan seharusnya diperlakukan. Saat anak laki-laki Anda membuat lelucon atau komentar yang bersifat merendahkan berdasarkan gender, parents perlu menegur dan menjelaskan bahwa sikap seperti itu tidak pantas dan bukan sesuatu yang lucu.

Pada akhirnya, bukan hanya kata-kata yang membentuk anak, tetapi teladan nyata yang mereka lihat setiap hari. Cara pria memperlakukan perempuan di sekitar mereka akan sangat memengaruhi bagaimana anak laki-laki belajar menghormati perempuan. Oleh karena itu, pastikan mereka dikelilingi oleh figur laki-laki yang menunjukkan sikap hormat dan menghargai perempuan.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Coulson, J. (2020, Maret 10). Teaching boys to respect women. Institute for Family Studies. https://ifstudies.org/blog/teaching-boys-to-respect-women
  • Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2025). SIMFONI-PPA: Ringkasan kekerasan. https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan
Uncategorized

Mitos atau Fakta? “If He Wanted To, He Would

Frasa “If he wanted to, he would” belakangan ini menjadi viral di media sosial. Di TikTok, hashtag #ifhewantedtohewould bahkan sudah menembus lebih dari 72,5 juta postingan. Sering kali kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah mampu mengatasi semua ambiguitas dalam hubungan.

Frasa tersebut mengasumsikan bahwa keinginan saja sudah cukup untuk menjamin tindakan. Kenyataannya, hubungan tidaklah sesederhana itu. Cinta tidak bisa diwakili hanya lewat pernyataan umum yang sedang viral. Dalam relasi nyata, terkadang seseorang ingin menunjukkan cinta dengan baik, tetapi belum belajar caranya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan mengekspresikan kasih. Perbedaan itu membutuhkan waktu, kerendahan hati, dan niat tulus untuk saling memahami. Maka dari itu, cinta sejati bukan hanya soal keinginan, tetapi tentang komitmen untuk belajar, berproses, dan bertumbuh bersama.

Bahayanya Frasa “If He Wanted To, He Would”

 

Kelemahan terbesar dari frasa ini adalah pandangan sempit bahwa jika seseorang tidak melakukan sesuatu, berarti mereka tidak mau. Padahal, ada banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. McLaren (2023) menyoroti beberapa hal yang sering terlewat:

  1. Kepribadian dan kondisi psikologis. Mereka yang cenderung introvert, memiliki perbedaan neurologis, atau mengalami kecemasan sosial bisa saja kesulitan memahami ekspektasi pasangan, memenuhi norma sosial, atau mengambil inisiatif.
  2. Pengalaman masa lalu. Seseorang yang memiliki luka atau trauma dari relasi sebelumnya, mungkin berhati-hati agar tidak terlihat terlalu mendesak atau memaksa, karena mengira itu cara terbaik untuk menghormati batasan Anda.
  3. Beban pribadi dan kesehatan mental. Ada kalanya pasangan sedang menghadapi pergumulan hidup atau masalah kesehatan mental, sehingga tidak mampu memberikan perhatian penuh meskipun sebenarnya mereka peduli.
  4. Kurangnya komunikasi yang jelas. Pasangan tidak dapat membaca pikiran Anda. Jika kebutuhan dan harapan Anda tidak pernah diutarakan, wajar bila mereka tidak menyadari apa yang membuat Anda bahagia. Bahayanya, kita bisa salah menilai ketidaktahuan mereka sebagai ketidakpedulian.

Fakta Sesungguhnya

 

Frasa “If he wanted to, he would” seolah-olah tidak memberi ruang untuk proses pertumbuhan dalam hubungan. Ia menyiratkan bahwa cinta harus langsung hadir dalam bentuk yang sempurna. Padahal, hubungan sejati justru terbentuk di tengah dinamika usaha, kesalahan, dan pembelajaran bersama.

Hal ini bukan berarti kita menurunkan standar. Pria tetap perlu hadir secara nyata dengan berusaha, mendengarkan, mengambil inisiatif, dan memikul tanggung jawab. Itulah wujud kasih yang nyata. Namun, perjuangan dalam hubungan bukan hanya tugas pria. Wanita pun perlu belajar memahami, menghargai, dan menjaga kehangatan hubungan. Ingatlah, mengharapkan kesempurnaan tanpa ruang untuk kesalahan bukanlah cinta, melainkan tekanan. Relasi yang sehat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi memberi kesempatan untuk belajar, mencoba, dan bertumbuh bersama.

Berikanlah suami Anda ruang untuk belajar memahami kebutuhan Anda, cara berkomunikasi yang benar, dan arti kehadiran yang sesungguhnya. Di situlah cinta sejati tumbuh. Cinta bukan dibuktikan dengan kesempurnaan, melainkan dengan pilihan untuk tetap hadir, berusaha, dan terus melangkah bersama melewati kekacauan menuju kedewasaan.

Seorang istri pun perlu untuk bertumbuh. Belajar bertanya dengan jelas, menyebutkan kebutuhan dengan terbuka, melepaskan ekspektasi, dan menukar frustasi dengan komunikasi yang jujur sekaligus menghormati. Komunikasi adalah kunci, terutama dalam hubungan jangka panjang. Kejujuran semacam ini memang menuntut keberanian karena membuka ruang rapuh dalam hubungan.

Di tengah perjalanan penuh tantangan, mari kita melihat pasangan bukan sebagai pribadi yang harus sempurna, tetapi sebagai teman sejalan yang bersama-sama belajar, bertumbuh, dan saling menopang. Tuhan merancang pernikahan bukan untuk saling menuntut, melainkan untuk saling melayani. Jadi, ukuran cinta sejati bukanlah “kalau dia mau, dia pasti lakukan”, melainkan “kalau kita mau, kita berjuang bersama”.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • McLaren, A. (2022, Juli 31). If he wanted to, he would: Setting the standard or praising toxic dynamics? Mouthy Magazine. https://www.mouthymagazine.com/post/if-he-wanted-to-he-would-setting-the-standard-or-praising-toxic-dynamics

 

 

Uncategorized

Boost Your Brain: 5 Cara Meningkatkan Kecerdasan

Kecerdasan bukanlah sesuatu yang berhenti berkembang setelah kita lulus sekolah. Otak manusia diciptakan dengan kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk terus membentuk koneksi baru sepanjang hidup. Dengan kata lain, setiap hari kita punya kesempatan memperluas cara berpikir, mempertajam ingatan, dan meningkatkan kreativitas.

Apa Itu Kecerdasan Sebenarnya?

 

Ketika mendengar kata kecerdasan, banyak orang langsung terbayang angka IQ atau nilai ujian. Padahal, kecerdasan jauh lebih luas daripada skor di atas kertas. Kecerdasan mencakup cara kita memahami diri sendiri, berhubungan dengan orang lain, mengelola emosi, memecahkan masalah, sampai menciptakan sesuatu yang baru.

Kecerdasan bukanlah “paket tetap” yang hanya dimiliki segelintir orang. Sama seperti otot, kecerdasan bisa dilatih melalui kebiasaan yang sehat, lingkungan yang mendukung, dan sikap mau belajar. Setiap langkah kecil seperti mempelajari hal baru, berdiskusi, atau bersosialisasi dapat membantu pikiran kita berkembang dan membuat kita lebih siap menghadapi berbagai tantangan hidup.

5 Cara Meningkatkan Kecerdasan

Meningkatkan kecerdasan bukan berarti kita harus melakukan hal yang rumit atau mahal. Justru, kuncinya ada pada kebiasaan sehari-hari yang sederhana namun konsisten. Menurut Kuszewski (2011), terdapat 5 cara praktis yang dapat membantu kita memaksimalkan kemampuan otak:

     1. Mencari Hal Baru

Ketika Champs mencoba hal-hal baru, otakmu sedang bikin “jaringan kabel” baru di dalamnya. Semakin sering champs mengenal hal baru, semakin banyak koneksi yang tercipta. Koneksi-koneksi ini saling membangun, meningkatkan aktivitas saraf, dan menciptakan lebih banyak koneksi untuk membangun koneksi lain. Terbuka pada hal-hal baru akan membantu otak champs berada dalam keadaan siap untuk belajar.

Aktivitas atau pengalaman baru juga memicu dopamin. Dopamin ini membantu kita lebih termotivasi dan mendorong otak membentuk sel-sel saraf baru, sehingga belajar jadi lebih mudah dan seru. Jadi, jangan ragu mencari pengalaman, aktivitas, dan informasi baru yang bikin champs penasaran tapi tentunya positif. Ikut kelas seni, main ke museum, atau baca tentang topik yang belum pernah champs pelajari sebelumnya.

     2. Tantang Diri Champs

Saat Champs mencoba aktivitas baru, awalnya mungkin terasa menantang karena otak perlu bekerja keras untuk memahami hal baru. Namun, setelah sering dilakukan, aktivitas itu perlahan akan terasa lebih mudah dan familiar. Hal ini terjadi karena otak kita sudah terbiasa melakukannya. Masalahnya, ketika otak sudah mahir, ia cenderung “beristirahat” dan tidak lagi bekerja sekeras sebelumnya. Proses ini menghambat pertumbuhan kognitif, karena otak tidak lagi mendapat rangsangan yang cukup untuk membentuk koneksi baru.

Bayangkan saat Champs pertama kali bermain Tetris. Awalnya, otak membentuk berbagai koneksi baru. Namun, otak akhirnya akan terbiasa dalam permainan tersebut dan sekarang kita mungkin memainkan Tetris secara otomatis tanpa berpikir keras. Pada tahap ini, otak kita tidak lagi ditantang dan tidak lagi berkembang.

Begitu Champs mulai mahir dalam suatu topik atau aktivitas, cobalah segera beralih ke tantangan berikutnya. Tujuannya adalah untuk memastikan apa yang kita lakukan selalu memberi dorongan baru bagi otak. Jika Champs bisa melakukannya tanpa berpikir, kita tidak memaksimalkan kemampuan kognitif. Dengan terus mencari hal yang menantang, otak akan terus membangun koneksi saraf baru dan menciptakan lingkungan yang ideal untuk belajar dan berkembang di masa depan.

     3. Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif bukan hanya tentang melukis, menggambar atau melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seni. Kreatifitas melibatkan kedua belahan otak, bukan hanya sisi kanan. Pemikiran kreatif berarti mampu menjelajahi berbagai topik atau bidang, menemukan benang merah di antara ide-ide, dan berpikir “out of the box”.

Penelitian The Rainbow Project yang dilakukan Sternberg (2006), menunjukkan bahwa siswa yang dilatih memecahkan masalah secara kreatif, praktis, dan analitis, cenderung memiliki performa akademik yang lebih baik. Jenis pemikiran ini mirip dengan pemikiran kritis, yang diperlukan untuk memecahkan masalah nyata yang kompleks dan rumit. Saat Champs menghadapi tantangan atau dilema, cobalah berpikir di luar kebiasaan, temukan solusi yang tidak biasa, lihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan perhatikan hal-hal yang biasanya terlewatkan.

     4. Lakukan Hal-Hal dengan Cara yang Sulit

Efisiensi bukanlah teman ketika Champs sedang berusaha meningkatkan kecerdasan. Sayangnya, banyak hal dalam hidup kita didesain agar semuanya jadi lebih cepat dan mudah. Teknologi memang membantu mempermudah, mempercepat, dan membuat hidup lebih praktis. Namun, jika kita terlalu bergantung pada jalan pintas ini, keterampilan kognitif bisa menurun dan akhirnya merugikan diri sendiri dalam jangka panjang.

Bayangkan perbedaan antara berjalan kaki dan mengemudi. Mengemudi memang menghemat energi fisik, menghemat waktu, dan mungkin lebih nyaman dan menyenangkan daripada berjalan kaki. Namun, seiring berjalannya waktu, otot akan menyusut, kondisi fisik akan melemah, dan mungkin berat badanmu akan bertambah. Kesehatan Champs secara keseluruhan kemungkinan akan menurun sebagai akibatnya.

Kemudahan modern dapat merusak keterampilan pemecahan masalah, keterampilan spasial, keterampilan logika, dan keterampilan kognitif. Tentu saja, ada saat ketika menggunakan teknologi adalah pilihan yang tepat dan efisien. Namun, jika champs punya waktu dan energi, cobalah sesekali menolak jalan pintas. Hitung manual, hafalkan rute baru tanpa GPS, atau pecahkan teka-teki tanpa bantuan aplikasi. Semakin sering champs melatih otak dengan cara seperti ini, semakin tajam kecerdasanmu berkembang.

     5. Jaringan

Berinteraksi dengan beragam orang memberi Champs kesempatan untuk melihat masalah dari sudut pandang baru, atau memberikan wawasan yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Dengan membuka diri pada orang baru, ide baru, dan lingkungan baru, Champs memberi ruang untuk pertumbuhan kognitif. Belajar bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga mengekspos diri pada hal-hal baru dan menyerapnya dengan cara yang bermakna dan unik.

Johnson (2011) dalam bukunya Where Good Ideas Come From, menjelaskan pentingnya kelompok dan jaringan dalam pengembangan ide. Jika Champs mencari cara untuk menemukan situasi, ide, lingkungan, dan perspektif baru, maka menjalin jaringan adalah jawabannya. Ikuti kegiatan sosial, gabung dengan kelompok diskusi, atau cukup keluar rumah dan berbicara dengan orang baru. Setiap percakapan bisa membuka wawasan dan memperluas cara Champs melihat dunia.

The measure of intelligence is the ability to change.” —-Albert Einstein

Mengasah pikiran bukanlah lomba cepat, melainkan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan komitmen. Ingatlah, generasi yang melatih pikirannya akan lebih siap menjawab panggilan dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Setiap kebiasaan baik yang champs lakukan adalah investasi yang akan membuahkan hasil seiring waktu.

Apabila Champs mengalami pergumulan atau membutuhkan dukungan lebih dalam untuk mengembangkan diri, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

 

Referensi

  • Johnson, S. (2011). Where good ideas come from: The natural history of innovation. Penguin.
  • Kuszewski, A. (2011). You can increase your intelligence: 5 ways to maximize your cognitive potential. Scientific American, 7, 1-8.
  • Sternberg, R. J. (2006). The Rainbow Project: Enhancing the SAT through assessments of analytical, practical, and creative skills. Intelligence, 34(4), 321-350. 10.1016/j.intell.2006.01.002
Uncategorized

Mengapa Anak Laki-Laki Butuh Kehadiran Ayahnya?

Anak laki-laki sering kali mendapat perhatian, kasih sayang, dan bimbingan dari ibunya. Namun, mereka juga merindukan figur ayah yang hadir mendampingi perjalanan hidup mereka. Kehadiran ayah bukan sekadar memberi nafkah, melainkan fondasi penting dalam membentuk identitas dan keberanian putranya.

Sayangnya, di tengah kesibukan pekerjaan dan rutinitas harian, banyak ayah yang tanpa sadar hadir secara fisik, namun jauh secara emosional. Fenomena ini dikenal dengan istilah fatherless, di mana anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan ayah. Ketidakhadiran sosok ayah membawa dampak serius bagi perkembangan anak, baik secara psikologis maupun emosional.

Dampak Fatherless

 

Fenomena fatherless terjadi karena berkurangnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan. Kehilangan figur ayah bukan sekadar ketiadaan seseorang di rumah, tetapi juga hilangnya dukungan emosional, arahan, dan rasa aman yang penting bagi tumbuh kembang anak. McLanahan et al. (2013) mengidentifikasi beberapa dampak negatif yang kerap muncul pada anak yang tumbuh tanpa ayah:

1. Kesehatan Mental

Ketidakhadiran ayah baik karena perceraian, perpisahan, maupun faktor lain sering kali berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak. Mereka lebih rentan mengalami stres, cemas hingga gejala depresi. Ketidakstabilan emosi yang muncul juga dapat menghambat fokus belajar, menurunkan motivasi, serta mengganggu kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

2. Masalah Sosial-Emosional

Ketidakhadiran ayah dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai perilaku bermasalah, seperti agresi dan sikap menentang. Anak juga bisa merasa kesepian dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, mereka sering menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis, seperti kesulitan menjalin pertemanan, harga diri yang rendah, serta kurangnya kemampuan pengendalian diri.

3. Risiko Perilaku Menyimpang

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah risiko terjadinya perilaku menyimpang seperti merokok, penggunaan narkoba, dan konsumsi alkohol. Menurut Aswarani & Khoiryasdien (2022), ketidakhadiran figur ayah juga dapat berkaitan dengan kecenderungan kenakalan remaja. Kurangnya bimbingan dan teladan dari sosok ayah dapat membuat remaja lebih rentan mencari pelarian melalui perilaku berisiko atau melanggar norma.

Peran Ayah

 

Ayah memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan arah hidup anak laki-laki. Melalui bimbingan, kasih sayang, dan teladan, seorang ayah membantu putranya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat. Stanton (2025) menyebutkan empat hal utama yang dapat diajarkan ayah kepada putranya:

     1. Ayah Sebagai Role Model

Sejak hari-hari pertama kehidupannya, bayi mulai belajar membedakan antara ibu dan ayah. Bagi anak laki-laki, kehadiran ayah membantu mereka memahami bahwa mereka berbeda dari ibu maupun saudara perempuan. Sosok ayah menjadi fondasi awal dalam membentuk identitas putranya.

Kehadiran ayah menjadi teladan maskulinitas yang sehat. Bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan emosi, menunjukkan kasih sayang, dan tanggung jawab. Anak laki-laki akan meniru perilaku ayah dalam cara berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.

     2. Ayah Mengembangkan Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri seorang anak laki-laki berasal dari ayahnya. Hal ini karena ayah lebih cenderung mendorong anak laki-lakinya untuk mengambil risiko. Berbeda dengan ibu yang biasanya lebih mengutamakan keamanan, ayah cenderung memberi tantangan dan mengajak putranya mencoba hal-hal baru. Misalnya saat anak belajar memanjat pohon, ayah akan mendorong anaknya untuk berani naik lebih tinggi.

Apa yang dilakukan ayah untuk anak laki-lakinya adalah membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri dengan mengambil risiko dan menghadapi tantangan. Saat mereka berani mengambil risiko dan berhasil melewatinya, anak belajar bahwa mereka mampu menghadapi kesulitan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi anak laki-laki dalam memecahkan masalah, menjalin relasi, mencari pekerjaan, dan mengambil peran kepemimpinan di lingkungannya.

     3. Ayah Mengajarkan Ketekunan

Anak laki-laki belajar mengenai pentingnya ketekunan bukan hanya lewat nasihat, tetapi juga melalui contoh dan dorongan yang mereka lihat dari ayahnya. Sosok ayah menjadi teladan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat menghadapi masa-masa sulit. Keteladanan itu sering hadir dalam bentuk yang sederhana, seperti pekerjaan tangan, memecahkan masalah, atau menghadapi tantangan dalam hubungan dengan orang lain.

Saat anak sedang mengerjakan sesuatu, seperti soal matematika yang sulit atau memperbaiki sepedanya, ayah biasanya akan mendorongnya untuk tidak menyerah. Ayah mengajaknya untuk berhenti sejenak, melihat kembali masalah yang ada, mencari solusi, lalu menuntaskannya. Melalui proses itu, anak bukan hanya menyelesaikan tugasnya, tetapi juga mempelajari keterampilan, kesabaran, dan nilai ketekunan yang akan membantunya di berbagai aspek kehidupan.

     4. Ayah Membentuk Identitas Anak Laki-Laki

Sama seperti dunia perempuan, dunia laki-laki memiliki dinamika dan cara khas dalam melakukan berbagai hal. Kehadiran ayah memberi putranya “akses” untuk memahami dan masuk ke dalam dunia tersebut. Maccoby (1998) dalam bukunya The Two Sexes menjelaskan bahwa di berbagai budaya, anak laki-laki membutuhkan kehadiran ayah agar mereka tahu bagaimana dan mengapa seorang pria bertindak, serta bagaimana belajar melakukannya sendiri.

Ayah juga mengajarkan hal-hal yang dianggap sebagai “urusan pria”, sekaligus menunjukkan batasan tentang perilaku yang tidak pantas dilakukan. Seiring berjalannya waktu, ayah akan mengenalkan anaknya kepada figur laki-laki lain yang dapat menjadi teladan, seperti seorang guru atau pelatih. Sosok ayah menjadi orang terdekat yang membantu putranya membangun jaringan dalam komunitas.

It is not biology that determines fatherhood. It is love.” —Kristin Hannah

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan program Intentional Fathering untuk memperlengkapi para ayah di Indonesia agar hadir seutuhnya dalam perjalanan hidup anak. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Aswarani, B. G., & Khoiryasdien, A. D. (2022). Kecenderungan kenakalan remaja laki-laki ditinjau dari persepsi terhadap peran ayah dalam pengasuhan di Yogyakarta. Jurnal Sudut Pandang, 2(12), 220-228.
  • Maccoby, E. E. (1998). The two sexes: Growing up apart, coming together. Belknap Press/Harvard University Press.
  • McLanahan, S., Tach, L., & Schneider, D. (2013). The Causal Effects of Father Absence. Annual review of sociology, 39, 399–427. https://doi.org/10.1146/annurev-soc-071312-145704
  • Stanton, G. T. (2025, Juli 29). What fathers do for sons. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/what-fathers-do-for-sons/
Uncategorized

Keadilan dalam Pernikahan Tidak Selalu Harus 50-50

Pernahkan couples merasa kecewa karena kontribusi Anda terasa lebih besar dibandingkan pasangan? Banyak pasangan mengira bahwa keadilan dalam pernikahan berarti membagi tugas, peran, atau tanggung jawab secara sama rata. Konsep ini memang terdengar ideal, di mana dua orang berjalan berdampingan dengan kontribusi yang seimbang. Namun, keadilan dalam pernikahan tidak selalu berarti 50-50.

Mitos 50-50 dalam Pernikahan

 

Pernikahan adalah ikatan yang membutuhkan pengorbanan. Ada hari-hari di mana couples akan kehabisan tenaga, dan ada hari-hari di mana pasangan Anda yang akan kehabisan tenaga. Jika couples sibuk menghitung siapa yang melakukan apa, siapa yang mencuci piring atau mengantar anak-anak ke sekolah, Anda tidak sedang membangun pernikahan, melainkan sedang membangun transaksi bisnis. Jika couples ingin hubungan bertahan, Anda harus melepaskan ekspektasi bahwa segalanya harus “seimbang”.

Penulis Klemp & Klemp (2021) juga menyimpulkan bahwa konsep 50-50 ini sangat tidak realistis dan hanya menimbulkan kekecewaan dan pertengkaran. Pembagian 50-50 adalah konsep yang mengajarkan kita untuk menjadi rasional daripada romantis, adil daripada murah hati, dan menang secara individu daripada bersama-sama. Daripada terjebak pada pembagian 50-50, mereka mendorong pasangan untuk bersikap murah hati satu sama lain dan berkontribusi lebih dari bagian yang adil.

Tips Praktis untuk Pasangan

 

Melepaskan pola pikir 50-50 memang tidak mudah. Maka dari itu, couples perlu melatih cara-cara sederhana untuk menjaga hubungan tetap sehat dan penuh kasih, bahkan dalam keadaan yang tampak tidak seimbang. Hong (2025) membagikan beberapa perspektif yang dapat membantu pasangan menemukan keseimbangan yang lebih baik:

     1. Menghargai Diri Sendiri

Ada kalanya pasangan tidak hadir untuk berbagi beban, sehingga Anda merasa seperti sedang menanggung semuanya sendirian. Di momen seperti ini, berhentilah sejenak dan ingatkan diri Anda bahwa perasaan itu normal. Jika hari ini terasa sangat berat, luangkan waktu untuk memperhatikan bagaimana tubuh Anda merespon, akui emosi yang Anda rasakan, dan hargai diri Anda karena telah melewatinya.

Ingatlah, setiap upaya couples hari ini adalah investasi dalam hubungan yang sedang dibangun bersama pasangan Anda. Pengingat semacam ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pikiran negatif dan tidak sehat menjadi pikiran yang lebih positif. Couples dapat belajar menjadi pendukung terbaik bagi diri sendiri, bahkan ketika keadaan belum memenuhi harapan Anda.

     2. Menghargai Pasangan Anda

Sering kali kita terfokus pada semua hal baik yang kita lakukan, sementara relatif tidak menyadari kebaikan yang dilakukan pasangan. Padahal, memperhatikan dan merenungkan kontribusi pasangan Anda terhadap keluarga dapat membantu couples melihat pasangan Anda sebagai rekan satu tim dalam perjalanan pernikahan. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda, couples akan lebih mudah menyadari dan menghargai kontribusi tak terhitung dari pasangan Anda.

Mengingat kontribusi pasangan Anda akan membantu couples untuk terus memberi dengan tulus dan terbuka pada pertumbuhan, baik di masa damai maupun saat menghadapi tantangan. Ketika couples melihat mereka melakukan kontribusi, yang perlu Anda lakukan hanyalah mengekspresikan apresiasi Anda. Apresiasi adalah salah satu cara paling kuat untuk memperkuat ikatan pernikahan Anda. Pernikahan tidak dibangun di atas keheningan, melainkan di atas pemahaman bersama.

     3. Melakukan Percakapan Terbuka

Pernikahan dapat bertumbuh ketika kedua pasangan terbiasa mengkomunikasikan kebutuhan mereka secara terbuka. Tidak setiap pembicaraan harus berat, kadang cukup berupa pengingat kecil tentang tugas rumah tangga atau proaktif dalam membantu di rumah. Saat membicarakan pembagian tanggung jawab, penting bagi pasangan untuk saling menghormati dan menemukan solusi yang adil bersama. Dengan begitu, pasangan bisa menemukan cara berbagi tanggung jawab yang membawa kebahagiaan pernikahan.

Ada kalanya kita perlu bersikap lembut dan memberi toleransi pada kesalahan pasangan. Namun, menahan masalah-masalah penting, justru berisiko meledak di kemudian hari dalam bentuk kekesalan atau ketidaknyamanan. Saat menghadapi masa-masa penuh stres, cobalah minta bantuan pasangan Anda dalam urusan rumah tangga. Langkah ini membantu pasangan lebih memahami kebutuhan Anda dan menyesuaikan diri, sehingga hubungan tetap selaras.

     4. Melengkapi Pasangan

Daripada membagi rata, alangkah lebih baik jika masing-masing pasangan berusaha untuk saling menopang dan melengkapi. Saat kedua belah pihak bersedia memberikan lebih dari porsi yang “adil”, maka hubungan akan terbangun atas dasar kemurahan hati, bukan perhitungan. Ada hari-hari di mana couples harus mendukung pasangan Anda, dan ada hari-hari di mana mereka akan mendukung Anda. Inilah yang disebut kerja sama tim.

Pernikahan yang dibangun di atas pengorbanan, kasih sayang, dan perhatian memungkinkan kedua pasangan untuk bertumbuh bersama. Tidak setiap masa akan terasa seimbang, tetapi komitmen untuk saling melengkapi membuat hubungan tetap kuat. Dengan begitu, baik couples maupun pasangan Anda bisa merasa lebih ringan, puas, dan siap menghadapi perjalanan hidup bersama.

Pada dasarnya, keadilan bukanlah tujuan pernikahan. Pernikahan adalah janji untuk saling mencintai dan menghargai, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan. Sedangkan pasangan adalah satu tim yang bekerja sama untuk membangun kehidupan pernikahan bersama. Jadi mulailah hadir, berikan lebih dari yang Anda mampu, dan percayalah bahwa seiring waktu, cinta yang Anda berikan akan kembali dalam cara yang tidak pernah Anda duga.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Hong, J. (2025, 2 Juni). Fairness in Marriage Need Not Always Be 50-50. Focus on the Family Singapore. https://family.org.sg/articles/fairness-in-marriage-need-not-always-be-50-50/?recommId=bde83626-38c8-4cee-bd5e-ff34a33230c5
  • Klemp, N., & Klemp, K. (2021). The 80/80 marriage: A new model for a happier, stronger relationship. Penguin Life.

 

 

 

Uncategorized

Tips Mengatasi Mood Swing

Pernahkan champs merasakan perubahan suasana hati yang sangat cepat? Di satu momen, kamu merasa tenang dan bahagia, tetapi beberapa menit kemudian merasa sedih tanpa alasan yang jelas. Suasana hati yang berubah secara tiba-tiba inilah yang sering dikenal sebagai mood swing.

Mood swing merupakan hal yang wajar dan dapat dialami siapa saja, baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Meskipun perubahan suasana hati ini dapat mengganggu, namun biasanya tidak menyebabkan masalah jangka panjang. Namun, champs perlu mencari bantuan profesional jika kondisi ini sering terjadi, berlangsung lama, atau berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Mood Swing?

 

Mood swing adalah istilah untuk menggambarkan perubahan mendadak dalam perasaan seseorang pada waktu tertentu. Perubahan suasana hati ini bisa berlangsung sebentar atau berjam-jam, tergantung pada situasi dan kondisi seseorang. Kondisi ini merupakan bagian normal dari pengalaman manusia karena tubuh dan pikiran kita dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kelelahan, hormon, atau tekanan sehari-hari. Meski begitu, penting untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasi mood swing agar kita dapat meresponsnya dengan cara yang lebih sehat.

Penyebab Mood Swing

 

Perubahan suasana hati tidak terjadi begitu saja. Berbagai penyebab dapat mempengaruhi kondisi suasana hati seseorang, mulai dari faktor fisik hingga situasi psikologis. Fields (2025) menjelaskan bahwa terdapat beberapa penyebab mood swing:

     1. Faktor Fisik

Kesehatan fisik yang kurang terjaga dapat mempengaruhi kestabilan emosi. Ketika kondisi fisik terganggu, suasana hati pun akan ikut terpengaruh. Berikut beberapa pemicu mood swing dari faktor fisik:

  • Kurang Tidur

Suasana hati seseorang juga dapat sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas tidur. Tidur yang cukup akan membuat kita lebih siap menghadapi hari yang akan datang. Hal ini dikarenakan saat tidur, otak dan tubuh mendapatkan waktu untuk beristirahat dan pulih. Sebaliknya, kurang tidur akan membuat kita lebih sulit memproses emosi.

  • Kafein

Kopi, soda, dan minuman lain yang mengandung kafein dapat memberikan energi dan meningkatkan suasana hati. Jika terlalu sering dikonsumsi, tubuh akan terbiasa dengan efeknya. Namun, ketika mencoba untuk mengurangi kafein, seseorang mungkin akan mengalami kelelahan, cemas, dan ketidakstabilan emosi.

  • Terlalu Banyak Gula

Makanan yang mengandung banyak gula dapat mempengaruhi cara kerja otak. Itulah sebabnya, terlalu sering mengonsumsi makanan manis dapat membuat emosi lebih mudah naik-turun. Bahkan dapat memperburuk gejala gangguan suasana hati seperti depresi.

     2. Masalah Medis

Selain gaya hidup, kondisi kesehatan juga berperan besar dalam mempengaruhi suasana hati. Beberapa masalah medis dapat membuat emosi menjadi lebih sulit dikendalikan. Berikut beberapa pemicu mood swing dari faktor medis:

  • Gula Darah Rendah: Gula darah rendah bisa menjadi alasan mengapa seseorang mudah merasa marah saat lapar. Hal ini terjadi pada beberapa orang ketika mereka terlalu lama tidak makan.
  • Obat-obatan Tertentu: Memulai atau menghentikan pengobatan dari resep dokter dapat mempengaruhi suasana hati.
  • Masalah Tiroid: Orang dengan tiroid terlalu aktif (hipertiroidisme) menghasilkan hormon tiroid berlebihan, sedangkan orang dengan tiroid kurang aktif (hipotiroidisme) tidak menghasilkan hormon tiroid yang cukup. Keduanya dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk perubahan suasana hati.
  • Demensia: Demensia menyebabkan kerusakan pada otak, yang mempengaruhi memori dan kepribadian seseorang dari waktu ke waktu. Kondisi ini juga dapat membuat penderita demensia dapat mengalami perubahan suasana hati secara tiba-tiba.

     3. Hormon

Kapan pun tubuh memproduksi hormon dalam jumlah yang lebih besar atau lebih kecil dari biasanya, suasana hati dapat naik atau turun. Hal ini juga terjadi saat pubertas, dimana peningkatan hormon membuat emosi remaja lebih sulit diprediksi. Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang juga mempengaruhi hormon, seperti kehamilan, pramenstruasi (PMS), dan menopause.

     4. Masalah Psikologis

Situasi penuh tekanan dapat menyebabkan stress. Jika berlangsung terus-menerus, stres tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga membuat seseorang lebih mudah merasa sedih, marah, atau frustasi. Selain stres, perubahan suasana hati juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar, atau ADHD. Bila perubahan suasana hati terasa berlebihan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau berlangsung dalam jangka waktu lama, penting untuk mencari bantuan profesional agar mendapatkan dukungan yang tepat.

Cara Mengatasi Mood Swing

 

Naik-turun mood adalah bagian dari kehidupan. Tidak banyak yang bisa champs lakukan untuk menghentikan perubahan mood secara total. Namun, ada hal-hal yang bisa champs lakukan untuk mengurangi seberapa sering atau seberapa parahnya ketika kamu mengalaminya. Schimelpfening (2024) menyebutkan beberapa cara untuk mengatasi mood swing:

  • Berolahraga: Berolahraga secara teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang dapat membantu champs meningkatkan mood dan melepaskan stres.
  • Mengubah pola makan: Makan secara teratur dan bergizi dapat menjaga tingkat energi champs tetap stabil.
  • Belajar teknik pengelolaan stres: Gunakan teknik pernapasan, meditasi, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menenangkan pikiran.
  • Tidur yang cukup: Usahakan pola tidur teratur untuk meningkatkan kualitas tidur.
  • Hindari zat-zat berbahaya: Jangan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang yang dapat memperburuk kondisi fisik maupun mental.

Mengalami mood swing itu wajar, karena setiap orang bisa merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Champs dapat mengatur dan mengelola mood swing dengan cara-cara sehat. Selain itu, champs juga dapat mencari dukungan dari orang lain, seperti anggota keluarga, teman, atau komunitas yang mau belajar untuk saling memahami, menerima, dan menguatkan. Namun, champs perlu mencari bantuan profesional apabila perubahan suasana hati terjadi cukup sering dan intens, karena kamu perlu mengidentifikasi penyebab medis atau kesehatan mental yang mendasarinya sebelum dapat mengobatinya secara efektif.

Jika champs merasa kewalahan menghadapi perubahan emosi atau tantangan dalam kehidupan sehari-hari, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program peer counseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

 

Referensi

  • Fields, L. (2025, Juni 24). What’s causing my mood swings? https://www.webmd.com/balance/ss/slideshow-mood-swings-cause
  • Schimelpfening, N. (2024, April 22). What are mood swings? Verywell Mind. https://www-verywellmind-com.translate.goog/what-are-mood-swings-1067178?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
Uncategorized

Screen Time Anak: Panduan Bijak untuk Orang Tua

Parents, pernahkah Anda merasa kewalahan ketika anak lebih sibuk menatap layar gadget daripada bermain dengan teman-teman sebaya mereka? Gadget dapat menjadi media edukasi dan hiburan, namun penggunaan yang berlebihan sering membuat orang tua khawatir akan dampaknya pada tumbuh kembang anak. Pertanyaannya, bagaimana cara menemukan keseimbangan? Karena itu, orang tua membutuhkan panduan yang jelas dan bijak dalam mengatur screen time anak agar tumbuh kembang mereka tetap sehat.

Panduan Screen Time Berdasarkan Usia

 

Salah satu hal penting dalam penggunaan gadget adalah menetapkan batasan waktu yang diperbolehkan untuk anak. Dengan begitu, anak belajar disiplin sekaligus terhindar dari screen time berlebihan. Berikut panduannya:

  • Anak usia < 2 tahun: Tidak dianjurkan menggunakan gadget. Pada masa ini otak anak berkembang dengan cepat, sehingga sebaiknya anak-anak kecil belajar melalui interaksi dengan orang lain, bukan dari layar.
  • Anak usia 2 – 6 tahun: Menggunakan gadget atau bermain game sebaiknya dilakukan bersama orang tua.
  • Anak usia 7 – 9 tahun: Durasi layar maksimal 30 menit per hari. Penggunaan handphone hanya untuk menelepon, sedangkan bermain game dibatasi kurang dari 15 menit per hari.
  • Anak usia 10 – 12 tahun: Durasi layar maksimal 1 jam per hari. Bermain game dibatasi maksimal 3 jam per minggu.
  • Anak usia > 13 tahun: Anak memiliki kebebasan dalam menggunakan gadget, namun tetap dengan tanggung jawab pribadi dan diskusi aktif bersama orang tua

Mengapa Screen Time Perlu Diatur?

 

Masa kanak-kanak adalah fase penting ketika perkembangan fisik dan kognitif berlangsung sangat cepat. Pada periode ini, penggunaan gadget tanpa batas dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik, mental, maupun sosial anak. Menurut Anjani (2025), terdapat beberapa dampak yang dapat muncul jika anak terlalu sering menatap layar:

     1. Masalah Perilaku

Anak dapat meniru perilaku yang ditontonnya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, salah satu dampak yang paling sering muncul akibat screen time berlebihan adalah masalah perilaku, seperti sikap agresif, membangkang, berbohong, mencuri, atau kesulitan mengendalikan diri. Masalah ini biasanya terlihat jelas karena berdampak langsung pada orang lain. Beberapa perilaku bermasalah ini bisa semakin parah bila anak terlalu sering mengkonsumsi tayangan yang tidak mendidik.

     2. Masalah Emosional

Screen time yang berlebihan dapat memicu berbagai masalah emosional, seperti rasa cemas, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Anak yang terlalu sering menatap layar cenderung kehilangan kesempatan untuk belajar mengelola emosi melalui interaksi langsung dengan orang tua atau teman sebaya. Selain itu, paparan konten yang negatif atau tidak sesuai usia dapat memperburuk perasaan tidak aman dan rendah diri.

     3. Masalah Perkembangan

Screen time yang berlebihan dapat menghambat tercapainya tugas-tugas perkembangan anak. Setiap tahap usia memiliki pencapaian tertentu yang perlu dilatih, seperti kemampuan motorik, keterampilan bersosialisasi, hingga belajar mengelola emosi. Ketika terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar, kesempatan anak untuk melatih kemampuan-kemampuan ini bisa berkurang.

Penggunaan gadget yang berlebihan juga sering kali membuat anak lebih memilih berinteraksi dengan layar dibanding dengan orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, keterampilan sosial seperti berkomunikasi, kerja sama, dan empati tidak berkembang dengan optimal. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, anak bisa mengalami kesulitan dalam menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya maupun anggota keluarga.

Peran Pengawasan Orang Tua

 

Parents memegang peran penting sebagai pengawas sekaligus pendamping. Dengan pengawasan yang tepat, screen time dapat tetap terkendali dan tidak berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Menurut Munafiah & Latif (2022), terdapat beberapa bentuk pengawasan yang dapat dilakukan:

     1. Membatasi Waktu Screen Time

Parents dapat menentukan aturan yang jelas mengenai screen time pada anak di rumah, seperti menetapkan jam berapa anak boleh menggunakan gadget dan berapa lama diizinkan untuk melakukannya. Pastikan parents mengikuti panduan penggunaan screen time sebelum membuat kesepakatan bersama anak. Selain itu, parents juga bisa menggunakan time off untuk membantu anak lebih disiplin.

     2. Membatasi Tontonan Anak

Parents perlu lebih bijak dalam memilih aplikasi, permainan, tontonan dan program yang sesuai usia anak-anak Anda. Hindari tontonan yang sulit dipahami oleh anak-anak kecil, seperti konten kekerasan atau konten dewasa. Parents juga dapat mematikan iklan agar anak tidak terpapar konten yang tidak sesuai usianya.

     3. Mendampingi Anak

Jika anak-anak akan menghabiskan waktu di depan layar, hal terbaik yang dapat parents lakukan adalah menonton atau bermain bersama mereka. Setelah acara selesai, parents dapat mengajak anak berdiskusi atau mengingat kembali informasi yang ditonton. Hal ini dapat membantu anak untuk lebih memahami apa yang mereka lihat.

     4. Mengajak Anak Melakukan Kegiatan Bersama

Anak-anak sebaiknya lebih banyak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik berbasis permainan yang aman, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan bersama ini dapat mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Pastikan pula waktu tidur, waktu makan, dan waktu bersama keluarga bebas dari layar agar momen kebersamaan lebih berkualitas.

     5. Memberikan Teguran atau Sanksi

Biasanya ketika orang tua mengatakan “tidak” kepada anak, reaksi yang muncul sering kali tidak menyenangkan. Namun, parents perlu mengingat bahwa tugas utama Anda adalah menentukan apa yang terbaik bagi anak dan mengambil keputusan yang dapat menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak dalam jangka panjang. Berikan teguran ringan atau sanksi sederhana, namun sertai dengan penjelasan agar anak benar-benar mengerti alasan di balik aturan tersebut.

Ingatlah, parents perlu mengelola screen time anak dengan bijak. Gadget bisa memberi manfaat jika digunakan dengan tepat, tetapi penting bagi orang tua untuk memastikan anak tidak kehilangan momen berharga dalam kehidupan nyata. Parents dapat mendorong lebih banyak interaksi face-to-face dibanding face-to-screen. Makan bersama, bermain, berpetualang atau sekadar mengobrol bersama bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Anjani, R. (2025). Literature Review: Dampak Teknologi Digital terhadap Regulasi Emosi Anak Usia Dini dan Peran Pengawasan Orang Tua. Kumarottama: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 1–21. https://doi.org/10.53977/kumarottama.v4i2.2090
  • Munafiah, N., & Latif, M. A. (2022). Peran Orang tua pada Kegiatan Screen time Anak Usia Dini. Proceedings of The 6th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education, 6, 23–28. http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/aciece