Sindrom Anak Tengah: Karakteristik & Cara Orang Tua Mendukungnya
Pernahkah parents merasa anak tengah Anda tampak lebih pendiam, mudah tersisih, atau seakan mencari perhatian lebih dibandingkan kakak dan adiknya? Fenomena ini sering dikenal dengan istilah sindrom anak tengah atau Middle Child Syndrome. Secara sederhana, sindrom anak tengah merujuk pada anggapan bahwa anak yang lahir di antara yang lebih tua dan lebih muda mungkin mengalami tantangan tertentu, seperti kurang diperhatikan, merasa diabaikan, atau berupaya lebih keras untuk menemukan identitas dirinya di antara saudara-saudaranya.
Istilah sindrom anak tengah pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Alfred Adler. Menurutnya, urutan kelahiran dan jumlah saudara kandung dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian, kondisi psikologis, dan potensi seorang anak. Eckstein et al. (2010) memaparkan beberapa pola umum sebagai berikut:
- Anak pertama biasanya digambarkan lebih cerdas, bertanggung jawab, patuh, dan stabil, namun cenderung kurang emosional dan kurang kreatif.
- Anak tunggal sering kali dianggap paling “tidak menyenangkan” karena terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa harus berbagi dengan saudara.
- Anak tengah cenderung digambarkan sebagai yang paling iri hati, kurang berani, namun banyak bicara.
- Anak bungsu sering kali lebih kreatif, emosional, ekstrovert, tetapi juga bisa jadi kurang patuh, kurang bertanggung jawab, dan banyak bicara.
Karakteristik Anak Tengah
Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, termasuk anak yang lahir di urutan tengah. Menurut Adler (1964), terdapat pola tertentu yang sering muncul pada anak tengah. Berikut beberapa gagasan umum tentang karakteristik anak tengah:
1. Kepribadian
Anak tengah memiliki kepribadian yang sering kali dipengaruhi oleh saudara-saudaranya yang lain. Kakak yang lebih tua memiliki sifat yang dominan sedangkan adik yang lebih muda dianggap masih membutuhkan banyak perhatian. Hal ini membuat kepribadian anak tengah cenderung lebih pendiam dan pemarah.
2. Hubungan dengan Orang Tua
Anak tengah mungkin mengalami kesulitan untuk merasa setara dengan saudara kandung mereka dalam hubungan dengan orang tua mereka. Mereka dapat merasa terabaikan karena orang tua mereka terganggu oleh kebutuhan perkembangan saudara-saudaranya. Akibatnya, mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka lebih memperhatikan adik atau kakak mereka.
3. Sikap Kompetitif
Salah satu kesamaan yang terlihat pada banyak anak tengah adalah mereka tampak terlalu kompetitif. Hal ini mungkin disebabkan oleh perasaan bahwa mereka harus selalu bersaing untuk mendapatkan waktu dan perhatian orang tua mereka. Anak tengah mungkin mengalami kesulitan untuk mendapatkan perhatian yang mereka dambakan dari orang tua atau saudara mereka.
4. Favoritisme
Anak tengah biasanya tidak merasa bahwa mereka adalah anak favorit dalam keluarga. Favoritisme mungkin ada pada anak tertua yang dianggap istimewa atau pada anak bungsu yang dimanja. Anak tengah sering kali merasa kesulitan untuk menjadi kesayangan orang tua mereka.
Bagaimana Cara Orang Tua Mendukung Anak Tengah?
Sindrom anak tengah bukanlah vonis atau label yang mengekang anak, melainkan cara untuk membantu parents memahami tantangan yang mungkin mereka hadapi. Dengan begitu, parents dapat menemukan cara untuk mendukung mereka untuk lebih percaya diri, merasa dicintai dan tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. Martino (2025) memberikan beberapa tips untuk memastikan semua anak Anda merasa dicintai, terlepas dari urutan kelahirannya:
1. Meluangkan Waktu Khusus
Pastikan parents menghabiskan banyak waktu dengan anak tengah Anda seperti dengan anak-anak lainnya. Hal ini dapat mengurangi perasaan kurang percaya diri dan persaingan. Tunjukkan ketertarikan parents terhadap hal-hal yang mereka minati dan hal-hal yang penting bagi mereka.
2. Memberikan Apresiasi
Jika anak tengah Anda merasa diabaikan, cobalah untuk menemukan beberapa cara sederhana untuk merayakan pencapaian mereka. Memberikan apresiasi atas prestasi mereka dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan identitas diri. Parents juga dapat merayakan ciri-ciri kepribadian unik atau istimewa setiap anak.
3. Mengetahui Kebutuhan dan Perasaan Anak
Dorong anak Anda untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya agar mereka tidak merasa diabaikan atau tidak dipahami. Jadilah tempat yang aman bagi anak Anda untuk berbagi perasaan dan kebutuhannya. Parents dapat mengajak mereka untuk berbagi hal-hal tersebut saat menghabiskan waktu bersama.
4. Membangun Rasa Keterikatan
Buatlah aktivitas keluarga yang memungkinkan semua anak merasa dihargai. Hal ini menumbuhkan rasa persatuan dan mengurangi perasaan persaingan. Dengan begitu, anak tengah dapat memahami bahwa mereka juga memiliki peran penting di dalam keluarganya.
5. Kembangkan Keterampilan Kepemimpinan
Parents dapat mendorong anak Anda untuk berani memimpin, baik dalam kegiatan keluarga maupun sekolah. Peran ini membantu mereka melatih tanggung jawab sekaligus keterampilan kepemimpinan. Dengan begitu, rasa percaya diri dan jati diri anak dapat berkembang lebih kuat.
Parents, setiap anak adalah anugerah dari Tuhan dengan kelebihannya masing-masing. Anak tengah bukanlah anak yang “tersisih” atau kurang istimewa, melainkan pribadi dengan potensi besar yang bisa berkembang bila mendapat dukungan dan kasih sayang dari orang tua. Dengan perhatian yang seimbang, setiap anak baik sulung, tengah, maupun bungsu akan merasa dihargai dan dicintai.
“As your kids grow up, they may forget what you said, but they won’t forget how you made them feel.” — Kevin Heath
Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk memahami dan mendampingi setiap anak sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan mereka. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang dan perhatian yang seimbang, setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti yaitu Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi
- Adler A. (1964) Problems of Neurosis: A Book of Case Histories. New York, NY: Harper & Row, Publishers, Incorporated.
- Eckstein, D., Aycock, K. J., Sperber, M. A., McDonald, J., Van Wiesner, V. III, Watts, R. E., & Ginsburg, P. (2010). A review of 200 birth-order studies: Lifestyle characteristics. The Journal of Individual Psychology, 66(4), 408–434.
- Martino, M. (2025, April 4). How middle child syndrome affects kids & ways to foster balance. Handspring Health. https://www.handspringhealth.com/post/understanding-middle-child-syndrome#header-1










