Family Indonesia

Uncategorized

Apakah Normal untuk Memikirkan Perceraian?

Pernahkah couples merasa lelah dalam menjalani pernikahan Anda dan bertanya-tanya di dalam hati, “Bisakah pernikahan ini dipertahankan?”. Jangan khawatir, couples tidak sendirian. Tidak sedikit pasangan yang pernah terlintas dalam benaknya soal perceraian, bahkan dalam pernikahan yang tampak stabil sekalipun.

Setiap pasangan tentu menikah dengan harapan bisa langgeng selamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan dalam pernikahan bisa terasa semakin berat. Ada kalanya konflik terasa tak kunjung berakhir dan jarak emosional mulai terbentuk. Maka dari itu, wajar jika di tengah perjalanan muncul rasa frustasi atau keraguan. Dalam kondisi yang sulit, pikiran tentang perceraian bisa muncul sebagai luapan kelelahan hati.

Hal ini tidak berarti pernikahan couples harus berakhir. Sama halnya dengan keinginan untuk berhenti dari pekerjaan, tidak otomatis membuat kita langsung mengajukan surat pengunduran diri. Begitu juga dengan pernikahan, pikiran untuk menyerah tidak selalu berarti akhir dari sebuah hubungan.

Pemikiran seperti itu sering kali muncul sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan dan diperbaiki dalam pernikahan couples, baik itu komunikasi yang mulai renggang, rutinitas yang melelahkan, atau tekanan dari tugas rumah tangga. Dengan kata lain, keinginan untuk menyerah bisa menjadi kesempatan couples untuk beristirahat sejenak dan mencari metode baru agar hubungan Anda tetap harmonis.

Dengan memandang pernikahan sebagai perjanjian seumur hidup, couples dapat menyadari bahwa komitmen tidak bergantung pada perasaan yang naik-turun. Komitmen adalah pilihan couples untuk tetap hadir, saling mengasihi, dan bertumbuh bersama, bahkan di tengah badai. Couples bisa menjadikan pemikiran-pemikiran itu sebagai panggilan untuk lebih jujur terhadap diri sendiri dan pasangan bahwa ada area yang butuh perhatian bersama.

Cara Menghadapi Pikiran tentang Perceraian

 

Memikirkan perceraian bisa menjadi pengalaman yang membingungkan dan emosional. Sebelum couples membuat keputusan besar, penting untuk menenangkan diri dan menemukan cara yang sehat dalam menghadapinya. Menurut Yong (2025), ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:

     1. Buka komunikasi dengan pasangan Anda

Ketika couples merasa tidak puas dalam pernikahan, wajar kalau ada keinginan untuk curhat ke keluarga atau teman dekat. Namun, membicarakan pasangan dalam keadaan emosi bisa membuat orang lain memiliki pandangan buruk tentang pasangan Anda. Bahkan setelah berdamai, pandangan buruk itu bisa tetap melekat di mata mereka.

Daripada memendam atau menceritakan ke orang lain, lebih sehat untuk mengungkapkan langsung pada pasangan. Komunikasi yang terbuka dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat hubungan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Saat menyampaikan hal-hal yang menjadi masalah bagi couples, gunakan kata-kata yang lembut dan tulus.
  • Fokuslah pada apa yang couples rasakan, bukan menyalahkan pasangan. Misalnya, daripada menyalahkan pasangan Anda yang terlalu sibuk, lebih baik ungkapan bahwa couples merasa membutuhkan lebih banyak waktu bersama.
  • Berikan pasangan Anda kesempatan untuk menjelaskan sudut pandang mereka.

     2. Pendampingan dari profesional

Melakukan konseling dengan profesional bukan berarti pernikahan couples berada di ambang perceraian. Justru, ini adalah kesempatan untuk couples dapat memperkuat fondasi pernikahan. Banyak pernikahan yang sebenarnya masih bisa diselamatkan jika pasangan diajarkan keterampilan komunikasi yang tepat dan cara mengembalikan cinta dalam pernikahan mereka.

Konseling keluarga bukan hanya untuk pasangan yang bermasalah tetapi untuk setiap pasangan yang ingin memperkuat hubungan mereka. Melalui bimbingan profesional, pasangan memiliki ruang aman untuk membicarakan perasaan, mengurai luka lama, serta menemukan kembali tujuan bersama. Hal ini dapat membantu couples memahami nilai-nilai dan pribadi satu sama lain.

     3. Meminta nasihat dari pasangan mentor yang dewasa dan dapat dipercaya

Pikiran tentang perceraian memang bisa muncul, dan itu wajar. Namun, pikiran tersebut tidak selalu berarti pernikahan sudah berakhir. Mendengar nasihat dari mentor yang dewasa dan dapat dipercaya yang mengenal couples dapat memberi perspektif baru yang lebih seimbang, sekaligus menolong couples untuk melihat situasi dengan lebih bijak. Dengan keberanian untuk menghadapi masalah secara terbuka dan mencari pertolongan yang tepat, ada peluang untuk membangun kembali pernikahan dengan dasar yang lebih kuat, jujur, dewasa, dan kokoh.

Couples, pernikahan tidak pernah dijanjikan sebagai perjalanan yang tanpa masalah. Justru, di sinilah cinta diuji dan diperkuat. Komitmen seumur hidup yang couple ikrarkan saat menikah berarti memilih untuk saling setia, bukan hanya pada saat mudah, tetapi juga di tengah kesulitan. Harapan bisa dipulihkan ketika pasangan berani kembali melihat janji pernikahan mereka. Mengingat kembali alasan mengapa dulu memilih satu sama lain dapat memberi kekuatan baru untuk terus melangkah.

Cinta yang bertahan bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang justru ditempa melalui badai. Di balik setiap konflik yang dihadapi bersama, ada peluang untuk semakin dekat, saling memahami, dan membangun fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan. Tentu, ada perbedaan besar antara menghadapi konflik wajar dalam rumah tangga dengan berada dalam hubungan yang berbahaya atau abusive. Jika terjadi kekerasan, bantuan profesional menjadi hal yang mutlak.

Two hearts, one promise, a lifetime together.” —Unknown

Jika couples telah memikirkan perceraian secara berulang atau dengan rasa sakit emosional, Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Yong, J. (2025, Juli 1). Is it normal to think about divorce?. Focus on the Family Singapore. https://family.org.sg/resource/is-it-normal-to-think-about-divorce/
Uncategorized

Overthinking bisa jadi alarm

Penelitian dari Health Collaborative Center (HCC, 2025) menemukan bahwa 50% orang Indonesia mengalami overthinking. Overthinking sendiri merupakan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, baik hal yang sudah lewat maupun yang bahkan belum terjadi. Misalnya, kepikiran terus soal nilai ujian yang belum keluar, membayangkan skenario terburuk, atau terlalu khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain. Sekilas memang terasa sepele, tapi kalau dibiarkan bisa bikin hati nggak tenang dan pikiran terasa penuh.

Overthinking sering kali dipandang negatif, namun sebenarnya ada sisi baik yang bisa kita ambil darinya. Pikiran berlebihan ini bisa diibaratkan seperti alarm yang memberi tanda kalau kita sedang berada dalam situasi yang perlu kita hadapi. Jika dikelola dengan baik, overthinking bisa berubah menjadi kesempatan untuk champs dapat berpikir lebih mendalam dan terarah.

Masalahnya, banyak orang tidak punya waktu atau kesabaran untuk benar-benar memahami isi pikirannya. Kita cenderung lebih banyak fokus pada aspek negatif dari suatu masalah. Padahal, ketika memikirkan suatu masalah secara mendalam, champs punya peluang untuk menganalisisnya dari berbagai sudut pandang. Berpikir secara mendalam sangat berguna jika menghasilkan pemahaman yang lebih jelas, rencana yang matang, dan keputusan yang kuat.

Dampak Overthinking

 

Overthinking bisa menjadi bumerang. Kalau tidak dikelola dengan baik, overthinking justru akan menjerumuskan kita ke dalam periode kebingungan, rasa cemas yang berkepanjangan, bahkan ketidakmampuan untuk mengambil keputusan. Lama-kelamaan, keresahan dan kekhawatiran yang terus menerus bukan cuman mengikis kedamaian, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental champs dalam jangka panjang. Menurut Suroiyya & Habsy (2024), terdapat beberapa dampak negatif dari overthinking:

  • Stress dan kecemasan
  • Insomnia
  • Sering merasa pusing
  • Masalah pencernaan
  • Hipertensi dan penyakit jantung

Tips Mengelola Overthinking

 

Kabar baiknya, overthinking bisa dikelola kok! Nggak harus terus-terusan jadi beban pikiran. Menurut Witmer (2024), terdapat beberapa cara untuk menghentikan overthinking:

     1. Kenali Pemicu Pikiran Negatif

Cobalah menuliskan pengalaman atau momen yang sering membuat champs berpikir berlebihan. Dengan mencatatnya secara rutin, champs bisa menemukan pola tertentu yang menjadi pemicu overthinking. Saat pola itu mulai terlihat, champs akan lebih mudah mengenali kapan overthinking muncul dan bisa menyiapkan strategi untuk menghadapinya.

     2. Mengalihkan Perhatian

Daripada hanya duduk dan memikirkan masalah selama berjam-jam, champs bisa mengalihkan perhatianmu sejenak. Mengalihkan perhatian sejenak dapat memberikan otak ruang untuk beristirahat dan lebih fokus pada hal yang produktif. Champs dapat melakukan teknik pernafasan, olahraga, meditasi, atau aktivitas lain yang kamu sukai. Cara ini dapat membantu menenangkan, mengatasi dan mengendalikan pemikiran yang tidak diinginkan.

     3. Melihat Pikiran Secara Objektif

Champs perlu melihat suatu pemikiran secara objektif. Apakah sebuah pemikiran itu logis, masuk akal, atau bermanfaat? Jika champs menyadari bahwa pikiran kamu tidak masuk akal atau tidak berguna, maka hal itu akan membuat pikiran champs lebih mudah dikelola. Dengan begitu, champs dapat belajar membangun pola pikir yang lebih sehat.

     4. Mengubah Pikiran Negatif

Mengubah perspektif menjadi lebih positif dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk overthinking.  Misalnya, daripada langsung fokus pada kemungkinan gagal, lebih baik memikirkan langkah apa yang bisa champs lakukan supaya berhasil. Mungkin akan terasa sulit pada awalnya, tapi dengan melatih diri champs dapat mengganti pikiran negatif dengan pikiran yang lebih bermanfaat.

     5. Mencari Bantuan

Champs bisa mencari dukungan dari teman atau anggota keluarga yang dipercaya. Mendapatkan perspektif dan dukungan dari orang terdekat akan sangat membantu dalam mengelola pikiran. Namun. jika champs merasa terus-menerus kewalahan dengan pemikiran sendiri atau tidak bisa berhenti overthinking, pertimbangkan untuk berbicara dengan profesional kesehatan mental. Mereka juga dapat membantu mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari overthinking, seperti kecemasan atau depresi.

Apabila champs mengalami overthinking sampai mengganggu kegiatan sehari-hari, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

Referensi

  • Health Collaborative Center. (2025, Februari 24). Studi temukan separuh orang Indonesia overthinking, kebanyakan perempuan muda. Health Collaborative Center. https://healthcollaborativecenter.or.id/studi-temukan-separuh-orang-indonesia-overthinking-kebanyakan-perempuan-muda/
  • Suroiyya, F. O., & Habsy, B. A. (2024). Tinjauan Overthingking dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya. Jurnal BK UNESA, 14(2).
  • Witmer, S. A. (2024, Agustus 14). What is overthinking, and how do I stop overthinking everything? https://www.goodrx.com/health-topic/mental-health/how-can-i-stop-overthinking-everything?srsltid=AfmBOoooeozroWVujtm6E3GMh015w9m
    T4FEscJRztkjpsthDbROCbXuJ
Uncategorized

Sindrom Anak Tengah: Karakteristik &  Cara Orang Tua Mendukungnya

Pernahkah parents merasa anak tengah Anda tampak lebih pendiam, mudah tersisih, atau seakan mencari perhatian lebih dibandingkan kakak dan adiknya? Fenomena ini sering dikenal dengan istilah sindrom anak tengah atau Middle Child Syndrome. Secara sederhana, sindrom anak tengah merujuk pada anggapan bahwa anak yang lahir di antara yang lebih tua dan lebih muda mungkin mengalami tantangan tertentu, seperti kurang diperhatikan, merasa diabaikan, atau berupaya lebih keras untuk menemukan identitas dirinya di antara saudara-saudaranya.

Istilah sindrom anak tengah pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Alfred Adler. Menurutnya, urutan kelahiran dan jumlah saudara kandung dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian, kondisi psikologis, dan potensi seorang anak. Eckstein et al. (2010) memaparkan beberapa pola umum sebagai berikut:

  • Anak pertama biasanya digambarkan lebih cerdas, bertanggung jawab, patuh, dan stabil, namun cenderung kurang emosional dan kurang kreatif.
  • Anak tunggal sering kali dianggap paling “tidak menyenangkan” karena terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa harus berbagi dengan saudara.
  • Anak tengah cenderung digambarkan sebagai yang paling iri hati, kurang berani, namun banyak bicara.
  • Anak bungsu sering kali lebih kreatif, emosional, ekstrovert, tetapi juga bisa jadi kurang patuh, kurang bertanggung jawab, dan banyak bicara.

Karakteristik Anak Tengah

 

Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, termasuk anak yang lahir di urutan tengah. Menurut  Adler (1964), terdapat pola tertentu yang sering muncul pada anak tengah. Berikut beberapa gagasan umum tentang karakteristik anak tengah:

1.     Kepribadian

Anak tengah memiliki kepribadian yang sering kali dipengaruhi oleh saudara-saudaranya yang lain. Kakak yang lebih tua memiliki sifat yang dominan sedangkan adik yang lebih muda dianggap masih membutuhkan banyak perhatian. Hal ini membuat kepribadian anak tengah cenderung lebih pendiam dan pemarah.

2.     Hubungan dengan Orang Tua

Anak tengah mungkin mengalami kesulitan untuk merasa setara dengan saudara kandung mereka dalam hubungan dengan orang tua mereka. Mereka dapat merasa terabaikan karena orang tua mereka terganggu oleh kebutuhan perkembangan saudara-saudaranya. Akibatnya, mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka lebih memperhatikan adik atau kakak mereka.

3.     Sikap Kompetitif

Salah satu kesamaan yang terlihat pada banyak anak tengah adalah mereka tampak terlalu kompetitif. Hal ini mungkin disebabkan oleh perasaan bahwa mereka harus selalu bersaing untuk mendapatkan waktu dan perhatian orang tua mereka. Anak tengah mungkin mengalami kesulitan untuk mendapatkan perhatian yang mereka dambakan dari orang tua atau saudara mereka.

4.     Favoritisme

Anak tengah biasanya tidak merasa bahwa mereka adalah anak favorit dalam keluarga. Favoritisme mungkin ada pada anak tertua yang dianggap istimewa atau pada anak bungsu yang dimanja. Anak tengah sering kali merasa kesulitan untuk menjadi kesayangan orang tua mereka.

Bagaimana Cara Orang Tua Mendukung Anak Tengah?

 

Sindrom anak tengah bukanlah vonis atau label yang mengekang anak, melainkan cara untuk membantu parents memahami tantangan yang mungkin mereka hadapi. Dengan begitu, parents dapat menemukan cara untuk mendukung mereka untuk lebih percaya diri, merasa dicintai dan tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. Martino (2025) memberikan beberapa tips untuk memastikan semua anak Anda merasa dicintai, terlepas dari urutan kelahirannya:

     1.     Meluangkan Waktu Khusus

Pastikan parents menghabiskan banyak waktu dengan anak tengah Anda seperti dengan anak-anak lainnya. Hal ini dapat mengurangi perasaan kurang percaya diri dan persaingan. Tunjukkan ketertarikan parents terhadap hal-hal yang mereka minati dan hal-hal yang penting bagi mereka.

     2.     Memberikan Apresiasi

Jika anak tengah Anda merasa diabaikan, cobalah untuk menemukan beberapa cara sederhana untuk merayakan pencapaian mereka. Memberikan apresiasi atas prestasi mereka dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan identitas diri. Parents juga dapat merayakan ciri-ciri kepribadian unik atau istimewa setiap anak.

     3.     Mengetahui Kebutuhan dan Perasaan Anak

Dorong anak Anda untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya agar mereka tidak merasa diabaikan atau tidak dipahami. Jadilah tempat yang aman bagi anak Anda untuk berbagi perasaan dan kebutuhannya. Parents dapat mengajak mereka untuk berbagi hal-hal tersebut saat menghabiskan waktu bersama.

     4.     Membangun Rasa Keterikatan

Buatlah aktivitas keluarga yang memungkinkan semua anak merasa dihargai. Hal ini menumbuhkan rasa persatuan dan mengurangi perasaan persaingan. Dengan begitu, anak tengah dapat memahami bahwa mereka juga memiliki peran penting di dalam keluarganya.

     5.     Kembangkan Keterampilan Kepemimpinan

Parents dapat mendorong anak Anda untuk berani memimpin, baik dalam kegiatan keluarga maupun sekolah. Peran ini membantu mereka melatih tanggung jawab sekaligus keterampilan kepemimpinan. Dengan begitu, rasa percaya diri dan jati diri anak dapat berkembang lebih kuat.

Parents, setiap anak adalah anugerah dari Tuhan dengan kelebihannya masing-masing. Anak tengah bukanlah anak yang “tersisih” atau kurang istimewa, melainkan pribadi dengan potensi besar yang bisa berkembang bila mendapat dukungan dan kasih sayang dari orang tua. Dengan perhatian yang seimbang, setiap anak baik sulung, tengah, maupun bungsu akan merasa dihargai dan dicintai.

As your kids grow up, they may forget what you said, but they won’t forget how you made them feel.” — Kevin Heath

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk memahami dan mendampingi setiap anak sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan mereka. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang dan perhatian yang seimbang, setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti yaitu Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Adler A. (1964) Problems of Neurosis: A Book of Case Histories. New York, NY: Harper & Row, Publishers, Incorporated.
  • Eckstein, D., Aycock, K. J., Sperber, M. A., McDonald, J., Van Wiesner, V. III, Watts, R. E., & Ginsburg, P. (2010). A review of 200 birth-order studies: Lifestyle characteristics. The Journal of Individual Psychology, 66(4), 408–434.
  • Martino, M. (2025, April 4). How middle child syndrome affects kids & ways to foster balance. Handspring Health. https://www.handspringhealth.com/post/understanding-middle-child-syndrome#header-1

 

 

Uncategorized

Tiga Komponen Cinta: Passion, Commitment, dan Intimacy

Sebuah hubungan sering kali diawali dengan perasaan yang menggebu-gebu. Akan tetapi apakah perasaan saja cukup untuk membuat suatu hubungan bertahan? Couples, mempertahankan hubungan yang sehat membutuhkan perasaan, tindakan, dan komitmen yang saling menguatkan.

Psikolog Robert Sternberg memperkenalkan sebuah teori yang dikenal sebagai Triangular Theory of Love. Meskipun sebagian besar fokusnya ada pada hubungan romantis, konsep ini juga relevan untuk berbagai bentuk hubungan antarpribadi lainnya. Menurut Sternberg (1986), teori ini terdiri dari tiga komponen utama:

     1.     Passion

Passion adalah perasaan naksir yang memunculkan ketertarikan fisik dalam hubungan penuh cinta. Ketika passion hadir, seseorang sering kali merasakan perasaan yang menyenangkan saat berada di dekat orang yang dicintai. Selain itu, mereka mungkin merasa sangat bahagia atau bersemangat bersama pasangannya, serta mengalami emosi yang kuat baik positif maupun negatif dalam menjalani hubungan tersebut.

     2.     Commitment

Commitment mengacu pada keputusan sadar untuk tetap bersama pasangan dan membuat rencana jangka panjang demi kebahagiaan bersama di masa depan. Commitment juga dapat mencakup janji untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti janji untuk tetap setia seperti dalam lamaran pernikahan. Namun, bisa juga hadir dalam janji yang lebih sederhana dan informal dalam keseharian.

     3.     Intimacy

Intimacy merujuk pada perasaan kedekatan, keterhubungan, dan ikatan dalam hubungan penuh cinta. Mereka yang merasakan cinta dengan intimacy biasanya memiliki ikatan emosional dan intelektual yang sangat kuat. Pasangan yang memiliki intimacy sering merasa nyaman satu sama lain, tanpa rasa gugup atau cemas saat bersama pasangannya.

Cara menjaga Passion, Commitment, dan Intimacy

 

Hubungan yang sehat tidak hanya bertahan karena rasa cinta, tetapi juga karena adanya upaya menjaga kualitas hubungan setiap hari. Jika  salah satu komponen cinta goyah, hubungan bisa terasa hambar atau bahkan rapuh Sternberg (1986). Maka dari itu, couples perlu merawat ketiga komponen cinta ini agar tetap kokoh seiring berjalannya waktu. Menurut Taqiyuddin (2023), terdapat beberapa cara untuk menjaga ketiga  komponen cinta:

     1.     Menjaga Passion dalam Hubungan

Passion sering kali menjadi komponen yang paling menantang untuk dipertahankan dalam hubungan jangka panjang karena mudah terkikis oleh rutinitas sehari-hari. Couples dapat menciptakan momen spesial, seperti kencan rutin, kejutan sederhana yang menyenangkan, dan mencoba pengalaman baru bersama. Dengan begitu, hubungan akan terasa lebih menyenangkan dan terhindar dari kebosanan.

     2.     Menjaga Commitment dalam Hubungan

Komitmen biasanya tetap kuat ketika couples menjadikan hubungan sebagai bagian penting dalam hidup Anda. Commitment yang kuat akan memberi landasan stabil bagi intimacy dan passion untuk terus bertumbuh. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga commitment:

  • Menyepakati tujuan dan arah hubungan, sehingga kedua pihak berjalan dengan visi yang sama.
  • Menjaga kepercayaan dengan bersikap jujur, konsisten, dan setia pada janji yang telah dibuat.
  • Menunjukkan komitmen melalui tindakan nyata, baik dalam hal kecil sehari-hari maupun keputusan besar bersama

     3.     Menjaga Intimacy dalam Hubungan

Intimacy tumbuh dari kedekatan emosional dan keterbukaan satu sama lain. Kedekatan ini akan membuat hubungan terasa hangat, aman, dan penuh rasa percaya. Couples dapat mengembangkan kebiasaan berbagi cerita, pikiran, maupun perasaan secara jujur dan terbuka. Saling mendengarkan dan memberikan dukungan juga akan memperkuat keintiman.

Pada akhirnya, cinta yang sehat dan langgeng tidak hanya bertumpu pada rasa yang menggebu, janji yang terucap, atau kedekatan yang hangat. Karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk secara sadar merawat passion, menjaga commitment, dan memperdalam intimacy dalam hubungan mereka. Ketiga unsur ini bagaikan penopang meja, jika salah satunya goyah, keseimbangan hubungan pun terganggu. Couples, cinta tidak tumbuh begitu saja, tetapi dipelihara, dijaga, dan dirayakan setiap hari.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review, 93(2), 119–135. https://doi.org/10.1037/0033-295X.93.2.119
  • Taqiyuddin, M. R. (2023, 13 Juni). Cinta ada teorinya? Triangular Theory of Love: Robert Sternberg. Kanal Pengetahuan Psikologi. https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/cinta-ada-teorinya-triangular-theory-of-love-robert-sternberg/

 

Uncategorized

Stop FOMO, Start JOMO

Champs, coba bayangkan teman-temanmu sedang heboh membuat postingan dari liburan ke pantai, konser idola, atau hangout di kafe hits. Bagaimana perasaanmu ketika kamu cuman bisa melihat dari layar Handphone sambil rebahan? Kalau ada dorongan ingin juga berada di sana, berarti champs sedang merasakan Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO.

FOMO adalah perasaan takut atau cemas yang muncul ketika kita merasa ada pengalaman seru yang terjadi di luar sana tanpa melibatkan kita. Perasaan ini sering kali muncul saat kita menyaksikan aktivitas orang lain di media sosial. Akibatnya, kita bisa merasa takut tertinggal atau kurang puas dengan kehidupan sendiri.

Kabar baiknya, ada “penangkal” FOMO yang justru bikin kita hidup lebih tenang dan bahagia. Namanya Joy of Missing Out atau JOMO. Kalau FOMO bikin kita gelisah dan cemas karena merasa tertinggal, JOMO mengajak kita untuk keluar dari dunia maya dan kembali menikmati hal-hal sederhana di masa kini.

Apa itu FOMO?

 

FOMO mengacu pada perasaan takut atau cemas akan tertinggal dikarenakan orang lain mungkin sedang mengalami momen-momen tertentu tanpa kehadiran kita di dalamnya (Przybylski et al., 2013). Kalau dibiarkan, lama kelamaan FOMO bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan mental seperti cemas berlebihan, merasa rendah diri, sulit fokus pada apa yang ada di depan mata, bahkan sampai terlalu memaksakan diri untuk mengikuti semua kegiatan demi menghilangkan rasa tertinggal.

Kondisi ini paling sering dialami remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas dan penerimaan sosial. Kita ingin diakui, diterima, dan dianggap “part of circle”. Tapi, dunia maya membuat kita terpapar perbandingan sosial hampir 24/7. Akibatnya, kita jadi merasa harus selalu up-to-date biar nggak dicap “kudet” atau “nggak gaul”.

Tanya Dalton dalam bukunya yang berjudul The joy of missing out: Live more by doing less (2019) mengatakan bahwa tidak peduli sekeras apa pun kita mencoba mengikuti semua informasi dan kabar dari kehidupan orang lain, pada akhirnya kita pasti akan tertinggal juga. Ibaratnya, FOMO itu seperti lomba maraton yang nggak ada garis finish-nya. Kita terus berlari, tapi nggak pernah sampai.

Apa itu JOMO?

 

JOMO adalah rasa bahagia yang muncul saat kita memilih untuk lepas dari hiruk-pikuk update dunia maya, lalu fokus pada apa yang ada di depan mata. Menurut Tanya Dalton (2019), JOMO memberikan kesempatan untuk merasakan rasa syukur atas apa yang kita miliki saat ini. Bukan berarti kita menolak informasi atau menutup diri dari dunia luar, tetapi kita memberi ruang untuk diri sendiri tanpa harus membandingkan hidup kita dengan orang lain.

JOMO mengajarkan kita untuk tetap merasakan kedamaian meskipun “tertinggal”. Dengan JOMO, kita tidak lagi merasa takut saat memilih untuk tidak ikut dalam suatu kegiatan atau tren. Sebaliknya, kita belajar merayakan ruang kosong dalam hidup kita sebagai kesempatan untuk beristirahat, berefleksi, atau mengisi energi.

Siap untuk mengubah FOMO menjadi JOMO?

 

Daripada terus merasa cemas karena FOMO, champs dapat mencoba untuk belajar menikmati momen yang benar-benar membuat hidup lebih bermakna. Dengan begitu, champs bisa beralih dari perasaan takut ketinggalan menjadi rasa syukur atas apa yang sedang dijalani. Berikut 5 langkah praktis dari Tanya Dalton (2019) yang bisa membantu kita menemukan Joy of Missing Out:

1.     Membuat daftar aktivitas yang disenangi

Berhentilah mengkhawatirkan apa yang orang lain lakukan atau pikirkan, dan fokuslah pada dirimu serta kebahagiaanmu. Tanyakan pada dirimu, “Hal-hal apa yang memunculkan sukacita?”. Tulis semua aktivitas itu dalam daftar, lalu tempelkan di tempat yang mudah terlihat. Setelah itu, champs dapat meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif yang kamu sukai.

2.     Membuat rencana untuk waktu luang

Bagaimanapun, waktu adalah salah satu hal paling berharga yang kita miliki. Prioritaskan apa yang penting bagi champs seperti berolahraga, bertemu teman, atau menghabiskan waktu untuk hobi. Champs tidak perlu terlalu mengatur hidup secara kaku, cukup memberikan waktu untuk momen yang bermakna, kegiatan kreatif, atau apa pun yang membawa sukacita di luar dunia maya.

3.     Melakukan digital detox secara rutin

FOMO sering kali muncul akibat terlalu banyak waktu dihabiskan untuk scrolling media sosial. Pastikan champs memutuskan koneksi (unplug) untuk waktu tertentu setiap hari atau setiap minggu agar bisa kembali hadir di momen sekarang. Saat FOMO berkurang cukup banyak, champs akan mendapatkan kesempatan untuk lebih fokus pada tujuan, passion dan hal-hal yang meningkatkan rasa pemenuhan dalam dirimu.

4.     Membangun koneksi offline dengan orang lain

Melakukan aktivitas bersama adalah cara terbaik untuk membangun hubungan yang bermakna, dibandingkan menghabiskan waktu berinteraksi dengan orang asing di dunia maya. Champs bisa meluangkan waktu untuk terhubung dengan keluarga, pasangan, teman, dan tetangga. Tidak harus menghabiskan waktu yang banyak, yang penting ada momen kebersamaan.

5.     Menyediakan waktu untuk self-care

Bagian ini sering kali menjadi hal tersulit dilakukan bagi mereka yang memiliki hidup yang padat dan serba cepat, namun sangat penting untuk champs tetap menjaga kesehatan fisik maupun mental. Self-care bisa berupa meditasi, mendengarkan musik yang menenangkan, atau apa pun yang membuatmu merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Dengan begitu, champs akan kembali terhubung dengan diri sendiri dan memahami apa yang benar-benar cocok untuk dirimu.

Hidup tidak selalu tentang mengikuti setiap tren atau berada di semua tempat sekaligus. Kadang, kebahagiaan sejati justru datang saat kita berani melepas, menikmati momen, dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Berhenti membandingkan, mulai merayakan hidupmu sendiri. Karena pada akhirnya, hidup yang damai dan penuh makna adalah hadiah terbaik yang bisa champs berikan untuk dirimu sendiri.

Don’t let FOMO delay your goals, embrace JOMO achieve your goals” — Unknown

Apabila champs merasa aktivitas sehari-hari mulai terganggu karena sulit mengatur waktu atau terjebak dalam FOMO, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

Referensi

  • Dalton, T. (2019). The joy of missing out: Live more by doing less. Thomas Nelson.
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29, 1841-1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
Uncategorized

Menanamkan Jiwa Entrepreneur Pada Anak Sejak Dini

Parents, masa kanak-kanak adalah fase emas untuk menanamkan karakter yang kuat pada anak. Selain memberikan pendidikan akademik dan moral, penting juga untuk parents mengenalkan nilai-nilai entrepreneur sejak dini. Jiwa entrepreneur bukan hanya sekedar memulai bisnis, tetapi juga mencakup cara berpikir yang kreatif, inovatif, mampu menghadapi tantangan dan berani mengambil risiko.

Membekali anak dengan jiwa entrepreneur akan membentuk karakter yang mandiri dan tidak mudah menyerah. Dengan karakter-karakter tersebut, anak akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan, serta percaya diri dalam meraih impian mereka. Nilai-nilai ini akan menjadi bekal penting yang bisa anak bawa hingga dewasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini bisa muncul saat anak berinisiatif membuat mainan sendiri, mencari solusi saat menghadapi masalah, atau punya ide unik saat bermain. Semua itu adalah bentuk awal dari karakter entrepreneur yang bisa diasah. Fall (2024) membagikan beberapa cara yang bisa dilakukan parents untuk menanamkan jiwa entrepreneur pada anak:

     1.     Melatih Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam entrepreneur. Meskipun tidak bisa dipaksakan, kreativitas bisa ditumbuhkan dengan memberikan anak banyak kesempatan untuk berkreasi. Berikan mereka kepercayaan untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana dan mengeksplorasi ide-ide kreatifnya. Parents juga bisa mendukung dan menghargai setiap usaha dan pendapat mereka, walaupun hasilnya belum sempurna.

Menumbuhkan kreativitas juga berarti memberikan anak kesempatan yang sesuai usia mereka untuk memecahkan masalah, baik melalui kegiatan ekstrakurikuler, permainan puzzle, kompetisi, maupun perencanaan seperti menyusun rencana kegiatan keluarga. Pada akhirnya, parents perlu menyediakan media dan sarana untuk mendidik anak-anak tentang cara berpikir kreatif (Mahmoud, 2022). Dengan begitu, anak akan belajar berpikir inovatif, berani mengambil risiko, dan melihat peluang di balik setiap hambatan.

     2.     Belajar Dari Kegagalan

Sebagai orang tua, tentu parents ingin anak berhasil dalam segala hal yang mereka lakukan. Namun kenyataannya, kegagalan adalah bagian yang pasti akan dihadapi dalam kehidupan setiap orang.  Jika parents terus melindungi anak dari kegagalan, mereka akan tumbuh dengan harapan yang tidak realistis. Maka dari itu, penting untuk mengajarkan anak melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Daripada hanya memuji kecerdasan bawaan anak, sebaiknya berikan apresiasi atas usaha dan ketekunannya. Bantu mereka memahami bahwa kegagalan tidak dapat dihindari, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka bisa mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan mencoba kembali. Parents dapat memberikan dukungan dan semangat ketika mereka mengalami kegagalan, serta bantu mereka melihat setiap pengalaman secara positif sebagai pembelajaran yang berharga.

     3.     Dorong Rasa Ingin Tahu

Pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka senang mengeksplorasi dan sering bertanya mengenai lingkungan di sekitar mereka. Rasa ingin tahu ini adalah dasar dari jiwa entrepreneur. Maka dari itu, parents sebaiknya tidak mengabaikan pertanyaan anak walaupun terdengar aneh atau tidak biasa.

Dukung rasa ingin tahu mereka dengan menyediakan buku, mainan edukatif, serta permainan yang dapat merangsang kreativitas dan proses menemukan hal-hal baru. Selain itu, parents dapat mengajak anak untuk mengunjungi tempat-tempat edukatif seperti museum atau perpustakaan. Lingkungan yang kaya akan stimulasi positif akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang inovatif dan berani mencoba hal baru.

     4.     Pengalaman Praktis

Memahami konsep dasar keuangan seperti menggunakan uang, menabung, dan membuat anggaran dapat memberdayakan anak untuk mengambil keputusan yang bijak. Parents dapat melibatkan mereka dalam diskusi sederhana seputar keuangan rumah tangga yang sesuai dengan usia mereka. Dorong anak untuk mendapatkan uang dari tugas rumah atau usaha kecil-kecilan, lalu bimbing mereka untuk menyisihkan sebagian uang tersebut untuk tujuan jangka panjang atau untuk hal yang benar-benar mereka butuhkan. Aktivitas ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar tentang mengelola uang, bisnis, dan tanggung jawab.

     5.     Memberi Teladan Positif

Anak-anak adalah pengamat, mereka terus-menerus menyerap setiap hal yang terjadi di sekitar mereka. Sebagai orang tua, jadilah contoh positif dengan menampilkan jiwa entrepreneur dalam kehidupan sehari-hari. Ceritakan kisah-kisah inspiratif tentang entrepreneur yang berhasil meraih kesuksesan melalui kerja keras dan ketekunan. Tunjukkan keberanian dalam mengambil risiko, kemauan untuk belajar dari kegagalan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Semangat dan dedikasi parents akan menjadi inspirasi yang kuat bagi anak-anak untuk berani berusaha dan bermimpi.

Menumbuhkan jiwa entrepreneur pada anak adalah proses jangka panjang yang dimulai dari hal-hal kecil di rumah. Dengan memberikan kebebasan namun tetap membimbing, parents dapat menciptakan lingkungan yang mendorong jiwa entrepreneur. Anak-anak yang dibekali dengan sikap entrepreneur tidak hanya akan berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan kreatif, tetapi juga akan siap menghadapi berbagai tantangan dan berkompetisi secara sehat di dunia yang terus berubah.

Being young means you have time to experiment, fail, and succeed. Use it wisely.” —Unknown

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Fall, T. (2024, August 7). Cultivating Entrepreneurial Mindset in Children. edCollaborative. https://edcollaborative.com/blog/cultivating-entrepreneurial-mindset-children/
  • Mahmoud, F. Z. S. (2022). Preparing the child to become an entrepreneur, a futuristic framework. Higher Education Research, 7(1), 16-22. https://doi.org/10.11648/j.her.20220701.13
Uncategorized

Stop Menyakiti Pasangan: Tips Komunikasi Heart to Heart

Pernahkah couples tanpa sadar menyakiti perasaan pasangan Anda lewat perkataan atau sikap? Bukan karena niat buruk, tapi karena kita tidak benar-benar tahu apa yang dirasakan pasangan atau bahkan isi hati kita sendiri. Ketidakmampuan untuk bicara jujur soal perasaan bisa berujung saling menyakiti.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2025), dalam satu tahun terdapat 394.608 kasus perceraian di Indonesia. Sementara itu, laporan BPS (2024) menunjukkan bahwa penyebab perceraian yang paling sering muncul adalah perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus. Konflik ini seringkali berawal dari hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa pernah benar-benar diselesaikan.

Masalahnya, banyak pasangan tidak tahu bagaimana cara mengelola konflik secara sehat atau menemukan jalan keluar bersama. Kita terbiasa berbicara dengan logika seperti beradu pendapat, memberikan argumen, atau bahkan berdebat. Tapi komunikasi yang hanya dari kepala ke kepala (brain to brain) tidak cukup untuk mempererat hubungan. Dalam hubungan yang dibutuhkan adalah komunikasi dari hati ke hati yang mau hadir, mendengar, dan benar-benar memahami.

Kesalahan Umum dalam Komunikasi Pasangan

 

Dalam sebuah hubungan, sering kali cara kita berbicara justru menciptakan jarak dan menyakiti perasaan pasangan. Gottman (2018) mengidentifikasi beberapa kesalahan komunikasi yang seringkali membuat pasangan terjebak dalam perselisihan. Apakah ada dari kesalahan-kesalahan ini yang terjadi dalam hubungan couples?

     1.     Mengkritik / Menghakimi

“Tuh kan!”, mengeluarkan pernyataan menghakimi seperti “Tuh kan!” setelah terjadi hal negatif hanya akan memperkeruh konflik. Pernyataan seperti itu bisa membuat pasangan merasa merasa diserang, ditolak, dan terluka.  Jika dibiarkan, hal ini bisa memperparah emosi negatif pasangan dan menambah jarak dalam hubungan.

     2.     Defensif

Ketika merasa disalahkan, orang cenderung langsung membela diri. Bentuknya bisa macam-macam, seperti mencari alasan, menyangkal, atau menyerang balik. Meski terlihat wajar untuk melindungi diri, sikap defensif justru membuat konflik semakin parah karena pasangan jadi merasa tidak didengar.

Sikap defensif ini biasanya muncul karena kita lebih fokus membela diri daripada mendengarkan. Akibatnya, kemampuan untuk benar-benar memahami pasangan berkurang. Sering kali kita hanya menunggu kesempatan untuk berbicara daripada benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan pasangan. Ini bisa menyebabkan luka emosional dan kesalahpahaman.

      3.     Menghina

Penghinaan adalah bentuk komunikasi yang paling berbahaya dalam sebuah hubungan. Bentuknya bisa berupa ejekan, sarkasme, atau bahkan ekspresi wajah seperti mendengus atau mengerutkan dahi. Semua itu menyiratkan rasa superioritas dari pasangan. Gottman (2018) menemukan bahwa penghinaan adalah indikator paling kuat dari perceraian karena merusak kedekatan dan keintiman.

      4.     Menarik Diri

Sikap menghindar biasanya muncul saat seseorang merasa kewalahan atau terlalu tertekan sehingga sulit mendengarkan maupun merespons dengan baik. Bentuknya bisa berupa menarik diri dari interaksi, menutup diri secara emosional, atau menolak berkomunikasi. Namun, menghindar justru dapat menimbulkan rasa frustasi dan menciptakan jarak secara emosional. Diam memang bisa menenangkan sesaat, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah.

Komunikasi Heart to Heart

 

Komunikasi heart to heart adalah saat dua orang berbicara bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan hati. Couples tak perlu menunggu pertengkaran untuk bicara serius atau menunggu akhir pekan untuk menciptakan kedekatan. Justru lewat rutinitas sederhana setiap hari, couples bisa mulai membangun koneksi yang kuat dan hangat dengan pasangan. Corcoll-Iglesias (2017) membagikan beberapa pendekatan yang dapat membantu membangun percakapan heart to heart:

      1.     Rasa ingin tahu

Dalam percakapan, rasa ingin tahu berarti benar-benar berusaha memahami apa yang ingin disampaikan oleh pasangan Anda. Cobalah mulai dengan pertanyaan tulus, “Apa ada perkataan atau sikap aku yang menyakitimu hari ini?”. Pertanyaan seperti ini membuka ruang aman bagi pasangan untuk saling jujur tanpa rasa takut dihakimi.

      2.     Mendengarkan Pasangan

Couples dapat menyingkirkan ego sejenak dan memberikan perhatian penuh kepada pasangan Anda. Saat giliran pasangan berbicara, berusahalah untuk benar-benar mendengarkan. Dengarkan dengan niat untuk memahami, bukan untuk mengoreksi. Tatap matanya, beri anggukan kecil, dan biarkan pasangan tahu bahwa couples hadir sepenuhnya.

      3.     Mencari solusi bersama

Setelah saling mendengar, carilah langkah kecil yang bisa dilakukan bersama. Lakukan dengan hati yang terbuka, nada yang ramah, dan keinginan tulus untuk menemukan kesamaan, ide baru, atau mengatasi masalah. Tujuannya bukan menyelesaikan semua masalah sekaligus, melainkan memastikan kalian saling didengar, dihargai, dan tidak merasa sendirian.

      4.     Jarak

Dalam percakapan, jarak berarti memberi ruang bagi diri sendiri dan pasangan untuk mencerna apa yang sedang dibahas. Pasangan tidak akan mampu benar-benar mendengarkan atau mempertimbangkan pendapat Anda jika Anda mendominasi dengan kata-kata tanpa henti. Hindari nada suara yang keras atau bahasa tubuh yang terkesan menyerang agar komunikasi tetap sehat.

Ingat, komunikasi yang sehat tidak datang secara instan. Ini adalah keterampilan emosional yang bisa dilatih seperti otot. Semakin couples melatihnya, semakin kuat hubungan tersebut. Ketika couples membuka diri, pasangan Anda pun akan belajar melakukan hal yang sama. Saat pasangan bisa bicara dari hati, luka lama lebih mudah dipulihkan dan hubungan akan tumbuh lebih kuat.

“Being heard is so close to being loved that most people can’t tell the difference.” —David Augsburger

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Badan Pusat Statistik. (2024, Februari 22). Jumlah Perceraian Menurut Provinsi dan Faktor, 2023.  BPS – Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMw==/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor.html?year=2023
  • Badan Pusat Statistik. (2025, Februari 27). Nikah dan cerai menurut provinsi (kejadian), 2024. BPS – Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi.html
  • Gottman, J. (2018). The seven principles for making marriage work. Hachette UK
Uncategorized

Strategi Efektif untuk Melatih Anak Bertanggung Jawab Sejak Dini

Banyak dari orang tua yang mengharapkan agar anaknya tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab. Namun, yang perlu dipahami bahwasanya anak yang bertanggung jawab bukanlah bawaan sejak lahir atau muncul begitu saja. Anak menjadi bertanggung jawab karena  diajari, dibimbing, dan belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab tersebut.

Bimbingan dari orang tua dan latihan terus-menerus lah yang membentuk anak menjadi bertanggung jawab dan menuntut akuntabilitas dari mereka. Memiliki sikap bertanggung jawab adalah salah satu komponen penting yang akan membantu anak untuk sukses kedepannya. Anak yang memiliki rasa tanggung jawab biasanya lebih mandiri dan dapat menjadi pribadi yang tidak menyalahkan orang lain ketika dirinya salah. Hal paling penting juga, sikap tanggung jawab membantu anak untuk lebih berhati-hati dan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Parents dapat memulai dengan membuat tanggung jawab sebagai sesuatu yang terasa bermakna dan menyenangkan bagi anak, bukan sebuah beban. Semua anak ingin merasa “mampu” dan “memiliki kekuatan” untuk menyelesaikan apa yang harus dilakukan. Perasaan ini sangat penting untuk mendukung terciptanya harga diri dan makna hidup mereka. Anak-anak tidak hanya ingin dimanja oleh orang tua mereka, anak perlu merasa bahwa keberadaan mereka berarti bahwa hidup mereka memberikan kontribusi positif, baik untuk diri mereka sendiri atau untuk orang sekitar. Jadi, parents tidak perlu mengajari anak untuk bertanggung jawab melalui paksaan, cukup tunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan untuk berkontribusi positif dan temukan cara agar mereka ingin melakukannya.

  1. Beri Pemahaman Apa Itu Tanggung Jawab

Ketika mengajarkan anak mengenai tanggung jawab, parents harus memberikan contoh yang mudah dimengerti atau melalui penjelasan sebab-akibat untuk membantu anak memahami apa itu tanggung jawab. Parents juga bisa menjabarkan tanggung jawab sebagai dapat diandalkan, menepati kata-katanya, melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan, berani mengakui kesalahan, dan dapat membantu keluarga, teman-teman, dan lingkungan sekitar.

  1. Ajak Anak Membantu Pekerjaan di Rumah

Parents dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk berkontribusi secara nyata di rumah. Anak-anak biasanya tidak menganggap tugas-tugas di rumah sebagai beban. Meskipun pekerjaan akan menjadi lebih lama selesai, tapi dengan melibatkan anak untuk membantu akan mengajarkan mereka mengenai tanggung jawab. Ajak anak melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di rumah, seperti mencuci buah atau sayuran, mengelap meja makan, atau merapikan tempat tidur. Parents dapat berbagi tugas sederhana di rumah kepada anak yang sekaligus menjadi waktu untuk bonding bersama.

  1. Ajak Anak Berpikir, bukan Sekadar Memberi Perintah

Mengajak anak untuk berpikir daripada sekadar memberi perintah adalah strategi efektif dalam membangun kemandirian dan rasa tanggung jawab. Alih-alih membentak “Cepat sikat gigi!” atau “Pakai tasmu!”. Parents bisa mengubah hal ini menjadi pertanyaan, “Apa hal selanjutnya yang perlu kamu lakukan supaya siap sekolah?” Pertanyaan ini memicu anak untuk secara aktif menyusun urutan tugasnya sendiri setiap pagi dari menyikat gigi, mengenakan seragam, hingga menyiapkan tas dan sarapan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep positive discipline dan authoritative parenting, di mana anak didorong untuk berpikir secara mandiri dan membuat keputusan sesuai kemampuannya.

  1. Beri Rutinitas dan Struktur

Rutinitas pagi dan malam penting agar anak terbiasa menghadapi serangkaian tugas yang mungkin tidak menyenangkan, seperti menyikat gigi, merapikan mainan, mandi, serta melakukan pekerjaan rumah sederhana. Pengulangan ini membentuk kebiasaan mandiri yang akan membantunya mengurus dirinya dan lingkungan secara konsisten

  1. Ajarkan Anak Memperbaiki Kesalahan

Parents dapat membantu anak-anak memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar dan anak memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan bertanggung jawab. Ketika anak melakukan kesalahan, bantu mereka untuk menyadari, memiliki ruang untuk mengakui apa yang salah, dan mengambil langkah perbaikan. Setelah anak mengakui kesalahan mereka, orang tua dapat mengajak anak untuk memikirkan bagaimana mereka bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Hal ini bisa berupa meminta maaf, memperbaiki kerusakan yang ada, atau mencari cara untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

 

“It’s not what you do for your children but what you have taught them to do for themselves that  will make them successful human beings.”

  • Ann Landers
  1. Ajari Anak Memecahkan Masalah

Saat anak menghadapi situasi sulit atau suatu masalah, akan lebih baik bila anak diberikan kesempatan untuk menyelesaikan hal tersebut dengan kemampuan mereka. Parents dapat lebih berkontribusi dengan memberikan bimbingan dan ruang untuk mendengarkan perasaan mereka, membantu mereka melalui problem solving, dan mendorong anak agar tidak menghindar atau lari dari masalah tersebut. Cara ini mendorong anak belajar apa itu tanggung jawab dan kesempatan untuk belajar dari kesalahan atau situasi-situasi di luar kendali mereka.

  1. Beri Pujian dan Penghargaan

Pujian dan penghargaan memiliki peran krusial dalam memperkuat rasa tanggung jawab seorang anak. Saat mereka berhasil menyelesaikan tugas atau menunjukkan perilaku bertanggung jawab, apresiasi yang tulus, misalnya ucapan seperti “Hebat sekali, kamu berhasil menyelesaikannya!” dapat memberikan dorongan motivasi yang besar. Pujian ini sebaiknya berfokus pada usaha dan proses yang dilakukan anak, alih-alih dengan hasil yang mereka dapatkan. Dengan begitu, anak merasa usaha mereka dihargai dan terlihat. Rasa dihormati serta diakui ini memperkuat motivasi internal mereka untuk terus bersikap bertanggung jawab. Apalagi ketika pujian diberikan secara tepat, anak akan belajar dari kesalahan serta tetap mempertahankan semangat belajar dan bertindak bertanggung jawab.

  1. Orang Tua sebagai Panutan

Menjadi contoh yang baik bagi anak sangat penting dalam membentuk perilaku bertanggung jawab pada mereka. Anak-anak belajar paling banyak lewat pengamatan dan peniruan terhadap perilaku orangtua mereka. Ketika parents secara konsisten menunjukkan tanggung jawab, seperti menepati janji, mengakui kesalahan, atau menjaga kebersihan lingkungan. Anak lebih cenderung akan meniru sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka karena adanya contoh nyata sikap bertanggung jawab dalam kehidupan mereka.

 

Melatih anak agar bertanggung jawab sejak dini bukanlah proses instan, tetapi merupakan hasil dari bimbingan yang konsisten, penuh kasih sayang, dan keteladanan yang nyata dari orang tua. Dengan menerapkan delapan strategi di atas secara bertahap dan sesuai usia, anak akan belajar mengenali peran serta kewajibannya, tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Parents juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kapasitas dan tahapan perkembangan yang berbeda, sehingga tanggung jawab yang diberikan harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka. Memberikan tugas yang tepat akan membantu anak merasa mampu, percaya diri, dan lebih siap menjalankan tanggung jawabnya secara bertahap. Ingatlah, tanggung jawab bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga membentuk karakter yang kuat untuk masa depan anak kita.

 

“Children need to learn to take responsibility for their actions so that they do not become adults believing that nothing is ever their fault.”

  • Unknown

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Uncategorized

Menemukan Passion, Perjalanan Mengenal Diri Lebih Dalam

 

 Champs, mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata “passion”. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan minat atau aktivitas yang sangat disukai dan memberikan rasa senang saat dilakukan. Kita juga sering kali mendapatkan pesan untuk mengejar passion yang dimiliki, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi. Salah satu ungkapan populer yang sering disebutkan adalah, “Pilih pekerjaan yang kamu suka, maka kamu tidak akan merasa bekerja lagi sepanjang hidupmu.” Namun, menerapkan pesan tersebut dalam kehidupan nyata tidak selalu semudah kedengarannya. Sebelum seseorang bisa mengejar passion, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menemukan terlebih dahulu apa sebenarnya passion mereka. Proses ini tidak selalu terjadi secara instan, sering kali dibutuhkan waktu yang panjang, berbagai pengalaman, dan perjalanan karier yang beragam hingga akhirnya menemukan bidang yang benar-benar membangkitkan semangat dalam diri kita.

Apa Itu Passion?

Passion adalah semangat yang kuat terhadap suatu aktivitas, objek, atau konsep yang kita rasa menarik dan bermakna. Ketika individu menjalani sesuatu yang sesuai dengan passionnya, individu bukan hanya merasakan rasa suka sesaat, tapi dorongan dalam diri yang membuat kita terus mau belajar, mencoba, dan bertahan, bahkan saat menghadapi tantangan. Passion juga bukan hanya tentang hal yang kita sukai saat ini. Passion berhubungan erat dengan siapa diri kita sebenarnya, arah/tujuan hidup kita, dan bagaimana kita ingin berdampak positif ke lingkungan sekitar.

Seringkali banyak orang yang mengira bahwa passion dan hobi adalah hal yang sama. Namun, keduanya adalah dua hal yang berbeda. Hobi sendiri lebih mengarah pada kegiatan yang kita nikmati saat waktu luang, sedangkan passion adalah aktivitas atau tujuan yang benar-benar memotivasi kita. Kadang-kadang, hobi bisa berkembang menjadi passion, dan sebaliknya passion pun bisa menjadi hobi.

Passion setiap orang tentunya bisa berbeda-beda, tergantung pada minat dan nilai-nilai pribadi yang dimiliki. Beberapa contoh passion yang sering dimiliki individu, antara lain:

  • Mengajar
  • Bermain gitar
  • Peduli terhadap kesejahteraan hewan
  • Isu-isu lingkungan
  • Memasak
  • Belajar bahasa asing
  • Menulis buku

 

Mengapa Menemukan Passion Itu Penting

  1. Membuat Kita Merasa Lebih Terpenuhi

Passion membantu kita menemukan arah dan tujuan hidup yang membuat kita merasa lebih utuh sebagai individu. Dengan mengetahui apa yang memotivasi dan membuat kita bersemangat, kita bisa membuat rencana hidup yang lebih jelas dan selaras dengan diri kita sesungguhnya. Ketika individu terhubung dengan passion dirinya, proses pengambilan keputusan dalam hidup juga akan terasa lebih mudah untuk dicapai karena individu sudah mengetahui apa yang ia inginkan, sukai, dan harapkan.

  1. Mendukung Kesehatan Mental

Ketika kita melakukan hal-hal yang benar-benar disukai, hal itu bisa membantu mengurangi stres, rasa cemas, dan bahkan depresi. Saat kita terlibat dalam kegiatan yang membuat diri senang, suasana hati bisa jadi lebih baik, muncul rasa bahagia, dan kita bisa sejenak lepas dari tekanan hidup sehari-hari. Aktivitas yang membuat kita bersemangat juga bisa membuat diri merasa lebih puas dan bahagia secara keseluruhan.

  1. Memberikan Lebih Banyak Energi dan Motivasi

Passion bisa menjadi sumber semangat yang mendorong kita untuk tetap kuat menghadapi tantangan dan terus melangkah menuju tujuan.

 

“Whatever makes you feel the sun from the inside out, chase that.”

  • Gemma Troy

Cara Menemukan Passion Diri

Cara terbaik untuk mengenali passion adalah dengan memperhatikan aktivitas sehari-hari yang membuat kita merasa bersemangat, termotivasi, atau terpenuhi. Berikut cara-cara lain untuk mengidentifikasi passion diri dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Waktu dan uang yang digunakan

Biasanya kita mengalokasikan waktu dan uang untuk hal-hal yang kita anggap penting. Coba periksa tagihan belanja, buku yang dibaca, film atau podcast yang ditonton. Apa tema atau aktivitas yang sering muncul dalam hidup kita.

  1. Topik yang kita suka bicarakan atau ajarkan ke orang lain

Merefleksikan topik yang membuat kita semangat saat membicarakannya dan yang sering kali kita bagikan ke orang lain, bisa menjadi hal yang kita anggap penting dan berarti.

  1. Memahami kekuatan atau keahlian diri

Kemampuan kita, baik soft skill maupun hard skill dapat menunjukkan passion yang sudah kita kembangkan sebelumnya. Terkadang, keahlian alami dari dalam diri kita juga bisa menjadi petunjuk karena membuat kita merasa percaya diri dan bersemangat saat melakukan sesuatu yang telah dikuasai.

  1. Memperhatikan hal yang dicintai

Masa kecil kita sering kali menyimpan petunjuk penting tentang hal-hal yang secara alami menarik perhatian dan minat kita. Saat diminta untuk mengecek kembali buku, film, atau aktivitas favorit di masa kecil, ini bertujuan untuk menggali kembali ketertarikan yang mungkin masih relevan hingga sekarang. Misalnya, jika dulu kita suka membaca buku detektif, bisa jadi kita memiliki minat terhadap pemecahan masalah atau berpikir analitis.

  1. Keluar dari zona nyaman

Zona nyaman adalah kondisi atau rutinitas yang kita jalani setiap hari dan terasa aman, familiar, dan tidak menantang. Misalnya, bekerja dari pagi sampai sore, pulang, makan malam, lalu menonton TV. Rutinitas ini memang terasa nyaman, tapi tidak memberi ruang untuk tumbuh atau menemukan hal-hal baru, termasuk passion kita. Passion sering muncul saat kita melakukan sesuatu yang berbeda, menantang, atau bahkan membuat kita merasakan kegugupan atau rasa takut. Saat individu keluar dari zona nyamannya, ini memberi diri kesempatan untuk menemukan minat baru, mengenal sisi diri yang belum pernah terlihat, dan menjelajahi peluang yang tidak disangka sebelumnya. Contoh konkret keluar dari zona nyaman untuk menemukan passion adalah dengan mengikuti kelas atau aktivitas baru, bergabung dengan suatu komunitas/klub, pergi menjelajahi tempat baru, atau bahkan mengikuti suatu kompetisi

  1. Percaya pada diri sendiri

Sering kali, passion sebenarnya sudah ada dalam diri kita, bahkan mungkin sudah terlihat sejak lama. Tapi masalahnya bukan karena kita belum tahu, melainkan karena kita takut akan kegagalan, takut tidak cukup baik, takut pendapat orang lain, atau takut meninggalkan zona nyaman. Rasa ragu ini bisa membuat kita menunda, menghindar, bahkan menyangkal apa yang sebenarnya kita sukai. Padahal, passion tidak menuntut kesempurnaan diri untuk melakukannya. Passion hanya butuh keberanian untuk memulai dan percaya bahwa hidup kita bisa lebih bermakna jika dijalani dengan sepenuh hati.

 

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat dijadikan pertanyaan reflektif untuk menggali passion yang dimiliki. Champs dapat mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan terus terang dan menyingkirkan terlebih dahulu ketakutan atau halangan yang mungkin terjadi.

  • Apa yang akan saya lakukan jika waktu dan uang bukan masalah?
  • Bagaimana saya ingin dikenang oleh orang sekitar?
  • Bagaimana saya ingin berdampak untuk orang lain?
  • Apa pendapat orang lain tentang kelebihan saya?
  • Apa kekuatan diri saya?
  • Masalah apa yang ingin dapat saya selesaikan mengenai hal-hal di sekitar saya?
  • Apa nilai hidup saya?
  • Apa yang akan saya lakukan kalau saya dijamin tidak akan gagal?
  • Apa yang saya lihat dari orang lain yang membuat saya ingin melakukannya juga?
  • Hobi apa yang paling membuat saya bahagia?
  • Apa aktivitas yang membuat saya merasa paling bebas dan senang?

Sedikit pengingat untuk champs, jangan sampai kita memiliki pola pikir bahwa pekerjaan harus selalu sejalan dengan passion. Faktanya, ada kalanya kita tetap perlu bekerja meskipun pekerjaan tersebut belum sesuai dengan passion yang kita miliki. Hal ini wajar, terutama saat kita masih berada pada tahap eksplorasi untuk menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan minat dan bakat kita. Tetap menjalankan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab meski belum sesuai passion adalah bagian dari proses belajar dan membentuk karakter.

Menemukan passion bukan soal seberapa cepat kita menemukannya, tapi seberapa jujur kita membuka diri dan mendengarkan suara hati terdalam. Perlu yang dipahami juga, passion bukan hanya milik mereka yang sudah tahu tujuan hidupnya dari awal. Passion bisa ditemukan oleh siapa pun yang berani dan mau mulai mengeksplorasi, berani mencoba, dan tidak menyerah karena di sanalah individu dapat tumbuh seutuhnya. Jadi, untuk champs yang masih meragukan passion dirimu, mulailah hari ini, momen ini juga. Temukan apa yang membuat kita dapat merasa hidup sepenuhnya dan merasa berarti. Sebab, passion bukan hanya sesuatu yang ditemukan, tapi juga sesuatu yang kita bangun melalui perjalanan dan ketangguhan.

 

“Passion is energy. Feel the power that comes from focusing on what excites you.”

  • Oprah Winfrey

 

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

 

Uncategorized

Panduan Membangun Rasa Percaya Diri Anak di Rumah

 Parents, sejak awal kehidupan, anak-anak sudah mengembangkan berbagai keterampilan dengan sangat cepat yang secara bersamaan, mereka juga mulai membentuk rasa percaya diri untuk menggunakan keterampilan tersebut. Seiring bertambahnya usia, rasa percaya diri menjadi aspek yang tak kalah penting dibandingkan keterampilan itu sendiri. Untuk berkembang secara optimal, anak perlu yakin pada kemampuan mereka sendiri, sekaligus mampu menerima dan mengatasi kegagalan ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai. Proses menguasai sesuatu dan belajar bangkit dari kegagalan inilah yang mendorong terbentuknya kepercayaan diri yang sehat pada anak.

Apa itu Kepercayaan Diri?

Kepercayaan diri merupakan aspek penting dalam kepribadian manusia. Individu yang percaya diri memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya dan memiliki harapan yang realistis. Bahkan ketika harapan tersebut tidak tercapai, mereka tetap mampu bersikap positif dan menerima kenyataan yang terjadi. Kepercayaan diri juga adalah suatu kondisi psikologis yang memberikan seseorang keyakinan kuat untuk bertindak. Sebaliknya, orang yang tidak percaya diri cenderung memiliki konsep diri negatif dan kurang yakin terhadap kemampuannya, serta sering menarik diri dari lingkungan sosial.

Kepercayaan diri pada anak adalah keyakinan yang mereka miliki terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi situasi tertentu, yang dapat berbeda-beda tergantung pada konteks. Misalnya, seorang anak bisa merasa yakin dengan kemampuan matematika, namun kurang percaya diri dalam bidang olahraga. Tingkat kepercayaan diri ini sangat memengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap tantangan yang mereka hadapi. Anak-anak dengan kepercayaan diri yang rendah umumnya menunjukkan ciri-ciri seperti enggan mencoba hal-hal baru, merasa tidak dicintai atau tidak diterima, cenderung menyalahkan orang lain, menekan atau menyembunyikan emosinya, mudah frustrasi, meremehkan potensi serta kemampuan diri sendiri, dan sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kepercayaan diri sejak dini sangatlah penting, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai situasi kehidupan dengan positif.

“Confidence isn’t about feeling good about yourself, it’s about trusting yourself no matter what you’re feeling.”

  • Unknown

Mengapa Kepercayaan Diri Penting?

Macarau and Stevanus (2022) menunjukkan bahwa anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi cenderung lebih berani, tenang, dan mantap dalam mengambil keputusan di masa depan. Kepercayaan diri bukan hanya memengaruhi bagaimana anak menjalani keseharian, tetapi juga memainkan peran penting dalam pembentukan jati diri dan hubungan sosial mereka. Rasa percaya diri membantu anak membentuk pandangan positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia di sekitarnya. Ketika anak merasa yakin akan kemampuan yang dimilikinya, mereka akan lebih terbuka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, mencoba hal-hal baru, serta menghadapi tantangan dengan sikap yang optimis. Dengan menumbuhkan kepercayaan diri sejak dini, anak akan lebih mampu mengeksplorasi potensinya, belajar dari kegagalan tanpa merasa terpuruk, serta tumbuh menjadi individu yang tangguh dan adaptif dalam berbagai situasi kehidupan. Mengingat pentingnya rasa percaya diri dalam kehidupan anak, peran orang tua dan pendidik menjadi krusial dalam menumbuhkan aspek ini melalui stimulasi yang tepat (Baharun & Jennah, 2019).

Kepercayaan diri membantu anak untuk:

  1. Mendorong pembelajaran dan rasa ingin tahu: Anak-anak yang percaya diri sering kali lebih ingin tahu dan terbuka untuk belajar. Mereka mungkin tidak terlalu takut untuk bertanya dan mencari informasi baru.
  2. Meningkatkan keterampilan sosial: Rasa percaya diri dapat membantu anak berteman dengan lebih mudah dan berinteraksi dengan nyaman dengan teman sebayanya, yang dapat mengarah pada hubungan yang lebih sehat dan keterampilan komunikasi yang lebih baik.
  3. Membangun ketahanan: Anak-anak yang percaya diri lebih cenderung melihat situasi sulit sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh, daripada sebagai hambatan yang tidak dapat diatasi.
  4. Mendorong kemandirian dan kepemimpinan: Anak-anak yang percaya diri lebih mungkin untuk membuat keputusan. Hal ini dapat berkembang menjadi keterampilan kepemimpinan saat mereka tumbuh dewasa.
  5. Mendukung kesehatan mental: Anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang sehat umumnya akan lebih bahagia dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami perasaan tidak berdaya atau depresi. Rasa percaya diri dapat membantu mereka merasa lebih aman dengan kemampuan mereka dan lebih terbuka terhadap pengalaman baru.

Parents, dapat membantu anak untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka melalui banyak hal, seperti berikut ini:

  1. Jangan bereaksi negatif terhadap kesalahan
    Ajarkan kepada anak bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan, namun yang terpenting adalah mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut dan bukan terjebak dalam penyesalan. Anak yang percaya diri tidak takut gagal, bukan karena mereka selalu berhasil, tetapi karena anak tahu cara bangkit kembali setelah gagal.
  2. Ajak anak mencoba pengalaman baru
    Daripada terus-menerus mengasah apa yang sudah dikuasai, dorong anak untuk memperluas keterampilannya di bidang lain. Ketika mereka menguasai hal-hal baru, akan tumbuh rasa mampu dalam diri anak yang memperkuat rasa percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya.
  3. Biarkan anak mengalami kegagalan.
    Meskipun orang tua sering ingin melindungi anak dari rasa kecewa, penting untuk memberi mereka kesempatan belajar dari pengalaman sendiri. Saat anak gagal meraih sesuatu, mereka akan belajar bahwa kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan itu, anak bisa termotivasi untuk mencoba lagi dan berusaha lebih baik di lain waktu.
  4. Bantu anak menemukan apa yang mereka sukai

Saat anak diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal yang mereka sukai, mereka bisa mengenal diri mereka lebih baik. Ini membantu membentuk jati diri yang kuat, yang sangat penting untuk membangun rasa percaya diri. Ketika anak menyadari bahwa mereka punya bakat dalam suatu hal dan melihat kemampuannya terus berkembang, mereka akan merasa bangga dan semakin percaya diri.

  1. Ajak anak menetapkan tujuan
    Membantu anak membuat tujuan, baik yang kecil maupun besar, bisa membuat mereka merasa mampu dan percaya diri. Anda bisa mendampingi mereka untuk mengubah keinginan menjadi rencana nyata, misalnya dengan membuat daftar hal-hal yang ingin mereka capai. Setelah itu, bantu anak membagi tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dilakukan. Cara ini tidak hanya menumbuhkan semangat, tapi juga melatih anak untuk merencanakan masa depannya dengan lebih baik.
  2. Hargai proses, bukan hanya hasil
    Memberikan pujian atas pencapaian itu penting, tetapi tak kalah penting adalah mengapresiasi usaha yang telah mereka lakukan, tanpa memandang hasil akhirnya. Tunjukkan bahwa parents merasa bangga pada usaha yang telah mereka lakukan.
  3. Libatkan mereka dalam tanggung jawab di rumah
    Meski mungkin awalnya mengeluh, anak akan merasa lebih dihargai saat diberi tanggung jawab yang sesuai dengan usianya, seperti merapikan mainan, membantu pekerjaan rumah, atau menjemput adik. Kegiatan seperti ini membuat anak merasa penting dan dibutuhkan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka.
  4. Ungkapkan kasih sayang secara konsisten
    Pastikan anak tahu bahwa parents mencintai mereka apapun keadaannya, baik saat mereka sedang berhasil atau mengalami kegagalan, mendapat nilai bagus atau tidak. Ketika anak merasa dicintai tanpa syarat, mereka akan merasa aman dan percaya diri, meskipun sedang gagal atau sedang meragukan diri mereka sendiri.

 

Membangun rasa percaya diri pada anak bukanlah proses instan, tetapi investasi jangka panjang yang akan membentuk karakter dan masa depan mereka. Dalam proses ini, peran orang tua sangatlah penting sebagai contoh, pendengar, penyemangat, sekaligus tempat anak untuk merasa aman. Dengan dukungan, kasih sayang, dan lingkungan yang tepat, orang tua turut menanamkan fondasi kepercayaan diri yang kuat untuk masa depan mereka karena setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan siap menghadapi dunia.

“Behind every young child who believes in himself is a parent who believed first.”

  • Matthew Jacobson

Focus on the Family Indonesia siap mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Baharun, H., & Jennah, M. (2019). Smart Parenting dalam Mengatasi Social Withdrawal pada Anak di Pondok Pesantren. Ta Allum Jurnal Pendidikan Islam, 7(1). https://doi.org/10.21274/taalum.2019.7.1.45-72

Macarau, V. V. V., & Stevanus, K. (2022). Peran Orangtua dalam Upaya Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Usia Dini. EDULEAD Journal of Christian Education and Leadership, 3(2), 153–167. https://doi.org/10.47530/edulead.v3i2.113