Family Indonesia

Uncategorized

Membantu Anak Mengenal dan Mengelola Emosinya Sejak Dini

 Parents, masa kanak-kanak merupakan golden age dalam kehidupan seseorang, terutama dalam perkembangan emosionalnya. Pada masa ini, anak mulai belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosinya. Sayangnya, banyak anak yang belum memiliki keterampilan ini secara memadai, terutama jika tidak mendapatkan dukungan dari orang dewasa di sekitarnya. Orang tua memegang peran penting dalam proses pembelajaran emosi anak. Dengan kata lain, cara kita bereaksi terhadap emosi anak berdampak pada perkembangan kecerdasan emosional mereka. Ketika orang tua mengajari anak-anak untuk mengenali emosi mereka, parents memberikan mereka gambaran yang membantu menjelaskan apa yang sedang dirasakan, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengelola emosi tersebut dengan cara yang tepat secara sosial.

 

Lima tahun pertama kehidupan manusia adalah masa kritis dalam pembentukan dasar bagi emosi yang sehat yang akan mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional individu sepanjang umur. Namun, anak-anak akan sangat mungkin mengalami kesulitan untuk mengenali dan memahami emosi dalam diri mereka sendiri dan orang lain, tanpa dukungan orang dewasa. Kemampuan untuk menenangkan diri saat marah, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, dan menghadapi situasi yang menantang tidak muncul begitu saja, melainkan memerlukan proses belajar yang panjang serta dukungan pengalaman. Sebagai orang dewasa, orang tua memengaruhi kemampuan regulasi emosi anak melalui tiga mekanisme, yaitu pengamatan anak terhadap regulasi emosi orang tua, praktik pengasuhan terkait emosi, dan iklim emosional keluarga.

 

Regulasi emosi merupakan proses individu untuk membentuk emosi dan cara mereka mengekspresikan emosi yang dimilikinya (Gross, 2014). Sedangkan menurut Thompson (2001), regulasi  emosi  adalah  kemampuan  individu  dalam  mengevaluasi  serta  mengubah  reaksi emosional untuk  berperilaku  yang  sesuai  dengan  situasi  dan  kondisi.  Pada  anak,  regulasi emosi sendiri digambarkan sebagai kemampuan dalam mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan  mengomunikasikan  perasaannya  (Papalia  &  Martorell,  2014). Regulasi emosi memiliki peran besar dalam berbagai aspek kehidupan anak, termasuk kemampuan mereka untuk menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya dan beradaptasi dalam lingkungan sosialnya. Jika anak belum mampu mengelola emosinya, ada kekhawatiran bahwa emosi negatif yang muncul akan sulit dikendalikan dan berpotensi mengganggu kesejahteraan psikologis maupun fisiologis. Regulasi emosi mencakup kemampuan anak untuk mengatur, menilai, memodifikasi, dan menyampaikan perasaan emosional secara tepat, yang didasari oleh proses internal dan eksternal.

How to Help Kids Regulate Their Emotion

  1. Membantu Anak Mengenal Emosi

Langkah pertama yang penting dalam mengajarkan anak mengatur emosinya adalah dengan membantu mereka mengenali berbagai perasaan. Penting bagi anak untuk mampu mengenali emosi yang muncul, baik dalam dirinya sendiri maupun pada orang lain. Parents dapat membantu anak mengenal enam emosi dasar yang umum dialami, yaitu: senang, sedih, takut, marah, cemas, dan bosan. Semua bentuk emosi lainnya merupakan variasi atau turunan dari keenam emosi tersebut. Ketika anak sudah mampu mengidentifikasi emosi-emosi dasar tersebut, maka anak telah membangun kemampuan dasar dalam meregulasi emosi. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan parents atau juga guru untuk membantu anak memahami dan mengenali emosi-emosi dasar tersebut, yaitu melalui pemberian label pada emosi karakter dalam film atau acara televisi yang ditonton bersama, menyebutkan emosi yang sedang dirasakan, atau juga dengan menggunakan emotion cards.

  1. Mencontohkan Perilaku yang Baik

Anak-anak sering kali belajar dengan mencontoh apa yang orang tua mereka lakukan daripada mendengarkan apa yang mereka katakan. Jika parents ingin anak memiliki strategi dan keterampilan pengaturan emosi yang lebih baik, maka penting juga bagi kita untuk mengatur emosi saat berinteraksi dengan anak-anak. Misalnya, ketika kita sedang merasa cemas atau kesal, parents dapat menggunakan teknik grounding DBT seperti bernafas untuk mengelola emosi. Anak akan belajar dari orang tuanya, bahwa ledakan emosi bukanlah reaksi yang tepat untuk perasaan yang sama dan akan mencontoh perilaku orang tua.

If we want children to regulate their emotions, we have to show them how.”

  • Unknown
  1. Bermain Peran (Role Play)

Bermain peran adalah metode efektif untuk mengajarkan anak mengendalikan emosi saat menghadapi situasi yang menegangkan atau membuat kesal. Saat anak sudah dalam keadaan tenang, ajak anak berdiskusi mengenai berbagai cara yang mereka bisa lakukan ketika bertemu situasi yang sulit. Misalnya, jika anak pernah merebut mainan yang dimiliki temannya, gunakan kesempatan untuk menjelaskan alternatif yang bisa anak lakukan, seperti menunggu giliran bermain, meminjam mainan dengan cara yang baik, atau memilih mainan lain. Dengan cara ini, anak belajar memecahkan masalah dan menyadari apa yang dirasakannya. Setelah berdiskusi, parents dapat melakukan simulasi skenario tersebut agar mereka bisa mempraktikkannya secara langsung. Setiap kali emosi anak mulai memuncak dan bisa berujung pada perilaku negatif, dukung mereka untuk mengambil pendekatan yang sebaliknya, yaitu dengan berpikir panjang sebelum bertindak dan memilih tindakan yang lebih positif atau aman untuk dilakukan.

  1. Berikan Pujian Lebih Banyak daripada Hukuman

Ketika anak menunjukkan manajemen atau kontrol emosi yang baik, parents dapat memberikan perhatian positif, pujian, atau hadiah kepada anak. Sebaliknya, ketika anak tidak berhasil meregulasi emosinya dengan cara yang tepat. Parents tidak boleh langsung menghukum perilaku buruk mereka karena ini hanya akan memperburuk keadaan bagi anak yang masih belajar mengatur emosinya. Memberikan pujian atau dorongan ketika anak berperilaku baik mengajarkan bahwa mereka tidak akan mendapatkan imbalan jika tantrum atau ledakan emosi muncul.

  1. Mengajarkan Coping Skills

Coping skills adalah strategi atau teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi intensitas emosi yang sedang dialami, memulihkan ketenangan, dan memberikan kontrol sebelum melakukan respons atau tindakan. Hal ini penting untuk diajarkan agar anak tidak bertindak impulsif saat emosi tinggi. Salah satu cara efektif adalah dengan mengenalkan teknik relaksasi ringan seperti menarik napas dalam dengan menghitung 1–5 sembari menghirup dan hembuskan napas perlahan untuk membantu menurunkan ketegangan fisik dan memberi waktu bagi otak anak untuk berpikir sebelum bertindak. Dorong juga anak menggunakan positive self-talk, seperti “Aku bisa melewati ini” atau “Masih ada cara lain untuk melalui situasi ini”, sehingga mereka belajar memberi dukungan pada diri sendiri ketika dibutuhkan. Selain itu, bantu anak mengidentifikasi dan menamai emosi yang mereka rasakan, apakah itu marah, sedih, frustasi untuk membantu meregulasi emosi. Kemudian, ajak anak berpikir solusi ketika menghadapi suatu masalah, seperti meminta bantuan, berbicara ke orang lain, atau mencari aktivitas alternatif yang termasuk ke strategi pemecahan masalah.

Emotional regulation is not a skill set that we are born with. But with connection, it is never too late to learn.”

  • Suzanne Tucker

Keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk kemampuan regulasi emosi anak. Lingkungan keluarga yang hangat, konsisten, dan penuh dukungan menciptakan suasana aman di mana anak merasa nyaman mengekspresikan perasaannya dan belajar memahaminya. Investasi dalam kecerdasan emosional sejak dini bukanlah sekadar mempersiapkan mereka untuk hari ini, tetapi juga membentuk anak yang tangguh, mandiri, percaya diri, dan mampu membangun hubungan yang sehat dalam perjalanan hidupnya. Fondasi yang kuat ini akan menjadi bekal berharga sepanjang hidup mereka yang menjadi fondasi bagi kehidupan yang penuh makna dan keberhasilan.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Uncategorized

Perjuangan Pasangan Menghadapi Rasa Bosan dalam Pernikahan

 Couples, setelah mengarungi pernikahan selama bertahun-tahun, apakah anda pernah berada di titik jenuh yang membuat anda merasa bosan dalam pernikahan? Momen ini tentunya bukan hal yang asing terjadi, setiap pernikahan akan mengalami yang namanya pasang surut dan berhenti di titik jenuh. Sayangnya, banyak couples yang merespon situasi ini dengan menyalahkan pasangannya karena dianggap tidak lagi menarik, tanpa menyadari bahwa kejenuhan tersebut terjadi karena andil dua pihak. Kejenuhan ini dapat diatasi ketika kedua pihak ingin mencari tahu apa yang salah dalam hubungannya dan berusaha mengubah situasi yang ada.

Kebosanan dalam pernikahan dapat diakibatkan oleh kurangnya hal baru dan stimulasi, serta faktor lain seperti penyakit, tekanan keuangan, isolasi sosial, atau ketidakcocokan intelektual (Harasymchuk & Fehr, 2010). Kurangnya hal baru dan stimulasi dapat membuat hubungan terasa membosankan dan mudah ditebak. Namun, ini adalah tantangan universal yang dapat diatasi dengan   dalam pernikahan. Kebosanan juga dapat mencerminkan kurangnya pertumbuhan pribadi yang dapat membuat pasangan tampak kurang menarik dan atraktif. Di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Inggris, kebosanan dalam pernikahan dapat dipengaruhi oleh tingginya ekspektasi orang terhadap pasangan dan hubungan mereka (Muturi, 2023).

Merasa bosan bukan berarti sudah tidak ada cinta lagi untuk pasangan kita. Kebosanan adalah respon alami terhadap perubahan cara kita mengalami cinta romantis seiring berjalannya waktu. Hal ini merupakan sebuah sinyal bahwa kita dan pasangan berkesempatan untuk berhenti sejenak, merenung, dan menghidupkan kembali keintiman melalui langkah-langkah baru yang positif. Melakukan aktivitas baru, baik secara individu maupun bersama, bisa menghidupkan kembali semangat dalam hubungan dengan membuka peluang untuk tumbuh dan berkembang. Namun, kebosanan yang dibiarkan begitu saja dapat membuat meningkatnya konflik, menurunkan keintiman, dan kepuasan pernikahan yang lebih rendah (Tsapelas et al., 2009). Oleh karena itu, mengenali tanda kebosanan yang dialami dalam pernikahan dapat menjadi langkah awal yang dilakukan untuk membangun ikatan yang lebih kuat.

Tanda-tanda individu sedang mengalami kebosanan dalam pernikahannya, yaitu:

  • Kurang atau tidak tertarik lagi dengan kehidupan, perasaan, pemikiran, atau minat pasangan.
  • Kurang atau tidak adanya perhatian terhadap satu sama lain.
  • Hal-hal kecil yang dulu terasa penting, sekarang mungkin terabaikan.
  • Pemikiran akan masa depan hubungan menimbulkan perasaan cemas, tidak bersemangat, dan ketidakbahagiaan.
  • Menghabiskan waktu dengan orang lain terasa jauh lebih menyenangkan, daripada bersama pasangan.
  • Percakapan terasa hambar karena sulit menemukan topik untuk dibicarakan atau tidak ada hal yang sama-sama disukai.
  • Keheningan yang dulu terasa nyaman kini berubah menjadi canggung.
  • Kegiatan yang dulu menyenangkan bersama pasangan kini terasa hambar atau membosankan.
  • Hal-hal kecil mudah memicu pertengkaran atau rasa jengkel.
  • Ketertarikan romantis atau seksual mulai memudar.

Baca juga: Kehilangan Semangat dalam Pernikahan, Memahami Marital Burnout

Ketika couples mulai merasa bosan dengan pernikahan anda, penting untuk mengambil langkah-langkah guna menumbuhkan kembali semangat dalam hubungan. Hal ini dapat dilakukan dengan menemukan hal-hal baru untuk dilakukan bersama. Couples juga bisa membuat perubahan lain dalam hidup keduanya, guna mengatasi perasaan tidak puas yang menciptakan rasa bosan itu.

“A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love.”

  • Pearl S. Buck

 

Apa saja yang bisa couples lakukan untuk mengurangi rasa bosan yang dapat muncul sewaktu-waktu dalam pernikahan.

1.     Mengubah Rutinitas Sehari-hari

Rasa jenuh dalam hubungan sering kali mencerminkan kebosanan dalam rutinitas secara keseluruhan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. Misalnya, daripada selalu makan di tempat yang sama, cobalah pergi ke restoran atau kafe baru bersama pasangan. Coba juga untuk meluangkan waktu secara rutin untuk benar-benar terhubung satu sama lain tanpa gangguan. Saat hubungan mulai terasa monoton, mencoba hal-hal baru secara bersama-sama bisa menghadirkan kembali antusiasme dan daya tarik dalam hubungan. Melakukan hal ini dengan sengaja merupakan bentuk komitmen nyata untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

2.     Melakukan Proyek Bersama

Menjalani proyek bersama, baik dalam bentuk hobi, pekerjaan rumah, maupun bisnis kecil, dapat mempererat hubungan. Ketika pasangan bekerja sebagai tim, rasa saling kagum dan tertarik bisa tumbuh kembali. Penelitian menunjukkan bahwa melakukan aktivitas bersama pasangan merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi kebosanan dalam hubungan. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi penyegaran dalam rutinitas harian. Berikut beberapa kegiatan yang bisa dicoba untuk menghidupkan kembali semangat dalam hubungan:

  • Berolahraga bersama secara rutin
  • Mendaftar kelas memasak untuk pasangan
  • Menjelajahi tempat baru
  • Menonton serial atau acara TV baru bersama
  • Menyaksikan pertandingan olahraga
  • Membuat album foto atau scrapbook berisi kenangan-kenangan bersama
  • Menghadiri konser
  • Mendaki gunung atau menjelajah alam

 

3.     Kembali Berkencan Seperti Dulu Lagi

Jika hubungan terasa monoton, cobalah kembali ke masa awal ketika couples sering berkencan. Menyempatkan waktu untuk kencan setidaknya seminggu sekali dapat membantu membangun kembali keintiman dan membuka ruang untuk komunikasi. Agar lebih seru, sesekali berikan kejutan pada pasangan misalnya dengan membelikan tiket konser atau mengajak berpetualang secara spontan. Kuncinya adalah memberikan waktu untuk benar-benar fokus pada satu sama lain, tanpa gangguan pekerjaan atau urusan lain. Mengadakan kencan bersama pasangan dapat dibantu dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan seru yang bisa memancing percakapan mendalam. Couples juga dapat bergantian memilih tempat kencan atau aktivitas yang bisa menambah variasi dan keseruan saat pergi berkencan.

4.     Konseling Pasangan

Jika kebosanan yang dirasakan sudah mengarah pada perasaan terputus, tidak terhubung, atau bahkan munculnya masalah komunikasi yang serius, maka berbicara dengan konselor atau terapis bisa sangat membantu. Konseling bisa memberikan ruang yang aman bagi pasangan untuk mengungkapkan perasaan, mencari akar masalah, dan membangun kembali hubungan yang sehat dan bermakna. Konseling pasangan efektif dalam membantu meningkatkan kualitas komunikasi, kepuasan hubungan, serta keintiman emosional dan fisik. Jika kebosanan disertai dengan hilangnya minat dalam berbagai aspek kehidupan, ini bisa menjadi tanda adanya masalah psikologis seperti depresi, stres berat, atau gangguan kecemasan. Dalam kasus ini, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

 

Mengatasi kebosanan dalam rumah tangga bukanlah tugas yang mudah, namun juga bukan hal yang mustahil. Dengan komunikasi yang terbuka, saling memahami, dan berupaya memperbarui rutinitas bersama, couples dapat kembali menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan.  Komunikasi yang tulus dan kesediaan untuk tumbuh bersama, baik secara individu maupun bersama pasangan adalah kunci agar rumah tangga berkembang menjadi tempat yang penuh cinta, saling menghargai, dan bermakna. Couples, mari jadikan kebosanan bukan sebagai jurang pemisah, melainkan titik balik menuju rumah tangga yang lebih bahagia dan harmonis.

 

“There is no challenge strong enough to destroy your marriage as long as you are both willing to stop fighting against each other and start fighting for each other.”

  • Dave Willis

 

Focus on the Family Indonesia menyusun acara khusus untuk pasangan suami istri yang ingin mempererat hubungan dan menghidupkan kembali kehangatan cinta dalam pernikahan anda. Kegiatan “Date Night akan mencakup berbagai aktivitas pasangan dan tentunya makan malam bersama dengan orang terkasih. Bila couples juga membutuhkan bantuan dari tenaga profesional untuk membantu melewati titik balik kebosanan dalam pernikahan, FOFI menyediakan layanan konseling dengan para psikolog berpengalaman. Couples dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Harasymchuk C., Fehr B. (2010). Looking back: The experience of first romantic boredom. Personal Relationships, 17(4), 513-534.

Muturi, E. (2023). The impact of boredom in marriage on marital satisfaction. International Journal of Psychology, 8(3), 43–54. https://doi.org/10.47604/ijp.2120

Tsapelas, I., Aron, A., & Orbuch, T. (2009). Marital boredom now predicts less satisfaction 9 years later. Psychological Science, 20(5), 543–545. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2009.02332.x

 

Uncategorized

Menjadi Remaja yang Produktif, Tips Atur Waktu untuk Capai Impian

 Champs, apakah kamu pernah merasa bahwa waktu 24 jam masih kurang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dimiliki?

Hal ini umum terjadi, terutama ketika kita sedang dikejar oleh deadline tugas-tugas yang menumpuk. Namun, hal ini bisa jadi bukan karena waktu yang kita butuhkan kurang, tapi tentang bagaimana kita mengatur waktu yang dimiliki untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Hal ini tentunya memerlukan keterampilan, yaitu keterampilan manajemen waktu melalui analisis diri, perencanaan, evaluasi, dan pengendalian diri. Seperti halnya uang, waktu yang kita miliki juga berharga, terbatas, dan tidak bisa diulang kembali. Oleh karena itu, setiap dari kita perlu mengembangkan keterampilan untuk menggunakan waktu secara efektif dan efisien.

Apa itu manajemen waktu?

Manajemen waktu merupakan keterampilan dalam mengatur dan merancang penggunaan waktu secara optimal. Dengan kemampuan ini, seseorang dapat menyelesaikan berbagai tugas dan aktivitas secara efisien serta mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang tersedia. Salah satu aspek penting dari manajemen waktu adalah kemampuan untuk menyusun prioritas, sehingga pekerjaan yang bersifat mendesak atau penting dapat ditangani terlebih dahulu. Hal ini membantu mengurangi kemungkinan keterlambatan dan menghindari penyelesaian tugas secara terburu-buru. Manajemen waktu juga sering dikaitkan dengan keterampilan manajemen diri (self-management) karena menuntut pemahaman yang jelas mengenai jenis aktivitas yang perlu dilakukan, cara menyelesaikannya secara lebih efisien, durasi yang dibutuhkan, dan waktu paling tepat untuk mengerjakannya (Savino, 2016).

Manajemen waktu juga dapat dipahami sebagai bentuk perilaku, yaitu tindakan yang dilakukan dengan tujuan spesifik untuk memanfaatkan waktu secara efektif (Aeon & Aguinis, 2017). Perilaku manajemen waktu ini mencakup tiga komponen utama, yaitu sikap terhadap waktu, perencanaan jangka panjang, dan perencanaan jangka pendek (Aeon & Aguinis, 2017). Sikap terhadap waktu mencerminkan pandangan individu, baik positif maupun negatif, terhadap masa lalu, sekarang, dan masa depan. Perencanaan jangka panjang berfokus pada pengelolaan kegiatan harian dalam periode yang lebih luas serta keteraturan dalam mencapai tujuan-tujuan penting. Sementara itu, perencanaan jangka pendek lebih mengarah pada perencanaan kegiatan sehari-hari atau mingguan, seperti menyusun daftar tugas untuk hari atau minggu berjalan. Orang-orang yang menerapkan teknik manajemen waktu dengan baik biasanya lebih produktif, punya lebih banyak energi untuk menyelesaikan tugas, lebih sedikit stres, punya waktu luang untuk melakukan hal yang disukai, bisa menyelesaikan lebih banyak hal, lebih positif dalam berhubungan dengan orang lain, dan merasa lebih baik terhadap diri sendiri.

Menemukan strategi manajemen waktu yang paling cocok untuk kita dapat bergantung pada kepribadian, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan tingkat kedisiplinan yang dimiliki diri sendiri. Champs dapat menerapkan strategi-strategi di bawah ini untuk bisa mengelola waktu dengan lebih efektif.

1. Menentukan Prioritas

Mengelola waktu secara efektif berarti bisa membedakan mana yang penting dan mana yang mendesak (MacKenzie, 1990). Untuk mengelola waktu dengan baik, champs harus bisa menentukan urutan pengerjaan tugas. Setiap hari, coba tinjau jadwal atau kegiatan yang perlu dilakukan di hari itu dan tentukan apakah tugas itu mendesak, penting, atau tidak keduanya. Umumnya, kita bisa menyelesaikan tugas mendesak terlebih dahulu berdasarkan tingkat kepentingannya. Setelah itu, kita bisa mulai mengerjakan tugas yang tidak mendesak. Perbedaan penting saat menentukan prioritas adalah antara tugas mendesak dan penting adalah tugas yang mendesak berarti harus segera dikerjakan, sedangkan tugas yang penting berarti tugas tersebut berdampak besar jika diabaikan, tetapi kita masih punya waktu untuk menjadwalkannya.

“All time management begins with planning.”

–       Tom Greening

 

2. Menetapkan Tujuan

Menetapkan tujuan (goal setting) membuat kita bisa mengukur dan melihat sejauh mana kita sudah berkembang. Dengan adanya tujuan ini dapat membantu champs menyusun daftar tugas dan menentukan skala prioritas. Jika kita memiliki target mingguan atau bulanan, kita akan bisa menyusun jadwal kegiatan prioritas berdasarkan tujuan tersebut. Hal ini dapat mengurangi rasa stres atau kewalahan ketika harus bekerja untuk mencapai target yang lebih besar.

3. Menggunakan Alat Bantu

Sama seperti jadwal dan kalender, alat bantu manajemen waktu yang akan digunakan juga harus disesuaikan dengan gaya dan kebiasaan pribadi. Beberapa orang mungkin merasa lebih nyaman dengan planner fisik, seperti buku catatan atau sticky notes yang bisa ditulis tangan dan dibawa ke mana-mana. Di sisi lain, ada juga yang lebih nyaman menggunakan aplikasi digital, seperti Google Calendar, Todoist, Notion, Trello, atau bahkan spreadsheet sederhana di ponsel atau laptop. Kalender digital atau fisik, keduanya sama-sama sangat berguna untuk perencanaan jangka panjang, misalnya untuk mencatat deadline penting, agenda mingguan, atau jadwal belajar. Sedangkan alat bantu seperti to-do list harian cocok untuk membantu menyelesaikan tugas harian secara lebih fokus dan bertahap.

Alat bantu ini juga bisa membantu champs untuk menyusun prioritas tugas berdasarkan urgensi dan pentingnya, mencatat progres pekerjaan, menghindari tugas atau tenggat waktu yang terlewat, dan melacak waktu yang dihabiskan untuk setiap aktivitas. Jika champs sering merasa kewalahan atau bingung harus mulai dari mana, menggunakan alat bantu bisa memberikan struktur yang jelas dalam memonitoring aktivitas harian kita. Champs dapat mencoba berbagai jenis alat bantu, baik yang manual dan digital untuk menemukan kombinasi yang paling efektif dan nyaman untuk membantu mengatur waktu secara konsisten.

4. Kembali ke Prioritas Utama

Terkadang, kita mungkin akan dihadapkan pada situasi di mana daftar tugas terasa sangat banyak, sementara waktu yang tersedia terasa sangat terbatas. Saat ini terjadi, champs bisa mengambil jeda sejenak untuk mengevaluasi ulang prioritas. Tanyakan pada diri sendiri, mana tugas yang benar-benar harus diselesaikan segera dan mana yang sebenarnya bisa ditunda terlebih dahulu. Selain itu, pertimbangkan juga kondisi tubuh dan energi yang dimiliki. Jika tubuh dan pikiran kita sedang lelah, memaksakan diri menyelesaikan tugas berat justru bisa sangat melelahkan. Untuk meredakan tekanan, kita bisa mulai dari tugas-tugas kecil dan ringan yang mudah diselesaikan. Mencentang beberapa hal dari daftar pekerjaanmu bisa memberikan perasaan puas dan kemajuan, sekaligus memotivasi untuk melanjutkan ke tugas yang lebih besar. Ini adalah strategi sederhana namun efektif untuk membangun momentum.

Jika ternyata jadwal yang dimiliki sudah terlalu padat dan mustahil untuk menuntaskan semuanya, tidak apa-apa untuk menunda sebagian tugas atau bahkan mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak terlalu penting. Ingatlah bahwa kita tentu memiliki batas energi dan waktu. Menolak ajakan hangout atau menunda janji dengan teman demi menyelesaikan tugas untuk ujian, bukan berarti sikap egois, melainkan kita sedang memprioritaskan tanggung jawab.

5. Bersikap Realistis dan Fleksibel

Kadang-kadang, hal-hal di luar rencana kita bisa saja terjadi, entah itu tugas tambahan mendadak, tubuh yang terasa tidak fit, atau perubahan situasi yang membuat jadwal berantakan. Dalam kondisi seperti ini, kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana dan itu bukan berarti kita telah gagal. Saat menyusun jadwal harian maupun daftar prioritas, penting untuk membuat perencanaan yang realistis. Jangan terlalu memaksakan banyak tugas dalam satu hari tanpa memperhitungkan batas kemampuan kita dan waktu yang ada.

Sisakan juga waktu cadangan (buffer time) di antara tugas, terutama jika kita belum yakin berapa lama suatu aktivitas akan berlangsung. Dengan begitu, champs akan lebih siap menghadapi gangguan atau perubahan mendadak tanpa merasa kewalahan. Manajemen waktu bukan sekadar soal mematuhi jadwal dengan ketat, melainkan juga tentang fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. Kita tentu boleh menyesuaikan rencana ketika dibutuhkan, asalkan tetap menuju ke tujuan dan mengetahui batasan diri. Memberi ruang untuk perubahan justru membantu menjaga keseimbangan, mengurangi stres, dan membuat individu tetap produktif dalam jangka panjang.

Dalam dunia yang bergerak dengan begitu cepat, kemampuan mengelola waktu adalah salah satu keunggulan yang bisa kita miliki. Mereka yang mampu mengatur waktu dengan efektif bukan hanya lebih produktif, tetapi juga lebih mampu untuk menjaga keseimbangan hidup dan membuat keputusan dengan tenang. Mengelola waktu dengan baik bukan soal memiliki lebih banyak waktu, tetapi soal menggunakan waktu yang kita punya dengan lebih bijak. Dengan perencanaan yang tepat, penentuan prioritas, dan sikap yang fleksibel, siapa pun bisa menjadi lebih produktif dan merasa lebih seimbang dalam menjalani hari-harinya. Kita tidak akan lagi merasa seperti dikejar-kejar waktu, melainkan kita bisa menjalani hari dengan lebih luwes, fokus, dan tenang, sambil tetap melangkah menuju tujuan yang ingin dicapai.

“Time management isn’t about being busy, it’s about being productive with purpose.”

  • Unknown

Apabila champs mengalami penurunan dalam kegiatan sehari-hari karena kesulitan mengatur waktu. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

 

Uncategorized

Anak Kecanduan Game? Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya

Di dunia dengan akses internet yang sangat cepat dan teknologi yang terus maju, membuat berbagai alat elektronik menjadi lebih efektif sebagai sarana menggunakan aplikasi game online. Hal ini mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam aktivitas gaming, terutama pada anak-anak dan remaja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, mencatat anak usia 0-18 tahun mendominasi pasar game online dengan persentase 46,2% di Indonesia. Aktivitas bermain game online/video game yang awalnya hanya untuk mencari hiburan, lama kelamaan dapat membuat seseorang mengalami kecanduan bermain game.

Apa itu video game addiction?

Kecanduan video game juga disebut gangguan permainan internet, adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkurangnya kontrol atas kebiasaan bermain game yang mengakibatkan dampak negatif dalam berbagai aspek kehidupan, seperti merawat diri, hubungan, sekolah, dan pekerjaan. Kecanduan ini bisa meliputi bermain game di internet atau pada perangkat elektronik lainnya, tetapi umumnya individu yang menghadapi masalah bermain game adalah mayoritas yang bermain secara online.

Para peneliti berpendapat bahwa bermain dan meraih kemenangan dalam video game dapat memicu pelepasan dopamin. Dopamin merupakan senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk dalam memberikan rangsangan menyenangkan dan dorongan motivasi. Dopamin merupakan neurotransmitter yang juga terlibat dalam gangguan penggunaan lainnya, seperti gangguan perjudian dan gangguan penggunaan zat. Banyak peneliti menganggap kecanduan video game sebagai kecanduan perilaku yang mirip dengan gangguan judi, di mana dorongan untuk menang menjadi salah satu alasan utama untuk terus bermain. Namun, banyak juga peneliti yang membedakan keduanya sebagai kecanduan yang sama. Penting untuk mencari bantuan jika merasa bahwa kebiasaan bermain video game telah menguasai hidup dan sebagian besar waktu kita. Terlepas dari perdebatan ini, aktivitas atau kebiasaan apa pun yang menyita waktu dan berdampak negatif pada fungsi harian seseorang dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, sosial, dan fisik yang signifikan. Penting untuk mencari bantuan medis jika merasa bahwa kebiasaan bermain video game telah menguasai hidup dan sebagian besar waktu kita.

Video game/game online sendiri sebenarnya memiliki dampak positif apabila digunakan untuk hiburan karena dapat menghilangkan rasa lelah dan mengurangi stres pada seseorang. Namun, yang sering kali terjadi adalah banyak orang yang bermain game online secara berlebihan dan menjadikannya sebagai pelarian dari kehidupan nyata, sehingga menyebabkan kecanduan bermain game online. Kecanduan bermain game online akan memberikan dampak yang buruk, terutama dari segi akademis dan sosial. Dampak dari kecanduan game online dapat menurunkan motivasi dan mengganggu konsentrasi belajar. Konsentrasi terganggu saat belajar karena siswa tidak semangat belajar dan mengantuk akibat begadang semalaman hingga pagi untuk bermain game online.  Selain itu, fokus siswa saat belajar tidak lagi pada materi pelajaran melainkan pada game online.

Permainan daring juga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan anak sekolah dasar atau karakter seseorang (Amran et al., 2020). Walaupun kita bisa berinteraksi dalam permainan daring dengan pengguna lainnya. Akan tetapi, permainan daring sering kali membuat para pemain melupakan kehidupan sosial di dunia nyata (Rahmi et al., 2020). Dampak dari kecanduan diyakini membuat anak sering terlibat dalam permainan game yang dapat mengurangi aktivitas positif, seperti belajar dan berinteraksi dengan teman sebaya. Anak yang kecanduan game online akan mengurangi waktu bersosialisasi dengan teman sebaya karena game berpotensi besar mengisolasi anak dari lingkungan sosial (Ulya et al., 2021). Dari segi perkembangan moral, anak yang kecanduan bermain gawai akan menjadi malas melakukan sesuatu, meninggalkan kewajiban beribadah, dan berkurangnya waktu belajar karena terlalu sering bermain game (Syifa et al., 2019). Bermain game online juga memberikan pengaruh buruk bagi perkembangan emosi dan sosial anak, diantaranya anak menjadi mudah tersinggung, lebih agresif, dan kurang berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Apa saja tanda dan gejala kecanduan video game?

Tanda dan gejala kecanduan game online adalah sebagai berikut. Namun, perlu dilakukan pemeriksaan ke ahli, seperti psikolog atau psikiater untuk memastikan apakah seseorang sudah termasuk mengalami kecanduan game online atau tidak.

  • Gejala penarikan diri, seperti kesedihan, kecemasan, atau lekas marah, ketika game diambil atau tidak bisa bermain game.
  • Menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game tanpa menjalani aktivitas lain, seperti makan, mandi, belajar, atau bekerja.
  • Mengalami masalah di rumah, sekolah, atau kantor terkait kebiasaan bermain
  • Kebutuhan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bermain video game untuk mendapatkan tingkat kenikmatan yang sama.
  • Meninggalkan aktivitas lain yang sebelumnya dinikmati dan/atau hubungan sosial karena bermain game.
  • Tidak dapat mengurangi waktu bermain dan tidak berhasil berhenti bermain game meskipun telah mengetahui konsekuensi negatif yang ditimbulkannya.
  • Menggunakan video game sebagai cara untuk melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan di tempat kerja atau sekolah atau untuk menghindari konflik di rumah.
  • Menggunakan video game untuk meredakan suasana hati yang negatif, seperti rasa bersalah atau putus asa.
  • Memiliki keinginan bermain game setiap waktu.

Selain beberapa gejala psikologis tersebut, individu yang kecanduan permainan daring juga dapat mengalami gejala fisik, seperti cepat lelah, sakit kepala atau migrain, nyeri pada punggung, dan penglihatan berkunang-kunang. Dalam situasi yang sudah ekstrem, pemain game online bisa mengalami masalah saraf di tangan akibat bermain game terlalu lama secara berlebihan.

Cara Mengatasi Kecanduan Game Online

Apabila individu sudah mengalami kecanduan bermain game online, berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan parents untuk membantu anak anda.

  1. Membatasi Waktu Bermain Game dan Memberikan Pendampingan

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah sekaligus mengatasi masalah kecanduan game online adalah dengan membatasi waktu bermain. Jika anak sering menghabiskan waktu terlalu lama untuk bermain game, parents dapat mengajak anak berbicara dari hati ke hati untuk menanyakan mengapa mereka suka bermain game, lalu jelaskan dampak positif dan negatifnya. Parents dapat membuat kesepakatan bersama tentang durasi bermain game dan konsekuensi bila anak tidak menaati aturan tersebut. Cobalah untuk membuat jadwal bermain game dan beri batas waktu bermain, misalnya hanya 1-2 jam per hari. Saat anak bermain game, parents dapat duduk menemani anak untuk memberikan pendampingan dan tidak membiarkan anak menghabiskan terlalu lama waktu bermain game. Adanya jadwal yang teratur dapat membantu anak membagi waktu antara bermain game dan menyelesaikan tugas dan kewajiban lainnya. Parents juga dapat menggunakan alarm atau fitur parental control untuk secara otomatis menghentikan akses bermain game anak saat waktu habis.

  1. Melakukan Kegiatan Baru

Untuk mengurangi obsesi bermain game, parents bisa mengajak anak melakukan kegiatan fisik di luar rumah, seperti bersepeda atau olahraga di taman. Anda juga bisa membantu anak mencari kegiatan atau hobi baru, seperti melukis, bermain alat musik, memasak, berkebun, atau mengikuti les coding, agar anak memiliki kesenangan lain untuk mengalihkan perhatian dari bermain game. Hal ini bisa dilakukan, bukan hanya untuk mengurangi kecanduan game online, tetapi aktivitas fisik atau olahraga rutin juga dapat menjaga tubuh tetap sehat dan fit, serta meringankan masalah kesehatan karena terlalu sering bermain game, misalnya nyeri punggung.

  1. Mengubah Lokasi Perangkat Game

Kamar tidur sering kali menjadi tempat yang nyaman untuk bermain game online. Jika sudah kecanduan, Anda mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam hingga larut malam untuk bermain game di kamar.

4. Konsultasi dengan Tenaga Profesional

Jika anak kesulitan berhenti, meski sudah diberi batasan, aktivitas alternatif, dan pendampingan. Parents dapat membawa anak ke psikolog anak untuk mendapatkan intervensi, seperti cognitive behavioral therapy (CBT) sebagai metode yang efektif untuk mengurangi kecanduan bermain games.

Kecanduan game online merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang belakangan banyak terjadi, terutama pada anak-anak kita. Apabila anak sudah mengalami kecanduan game online hingga mengganggu waktu istirahat, sekolah, atau kegiatan lain sehari-hari, orang tua dapat mengakses bantuan ke tenaga profesional. Penting untuk diingat bahwa orang tua memiliki peran krusial dalam mengembalikan keseimbangan dalam hidup anak, melalui komunikasi yang empatik, pendampingan saat bermain, penetapan aturan yang disepakati bersama, serta dorongan untuk mengeksplorasi minat, selain menghabiskan waktu untuk bermain game.

 

Focus on the Family Indonesia memperlengkapi keluarga dengan nilai-nilai dan kompetensi untuk membangun keluarga yang sehat. Oleh sebab itu, FOFI menyediakan program konseling untuk parents agar bisa berdiskusi dengan tenaga profesional untuk perkembangan keluarga Anda. FOFI juga menyediakan berbagai seminar parenting yang dapat membekali parents mendampingi pertumbuhan anak. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Amran, A., Marheni, E., Sin, T. H., & Yenes, R. (2020). KECANDUAN GAME ONLINE MOBILE LEGENDS DAN EMOSI SISWA SMAN3 BATUSANGKAR. Jurnal Patriot, 2(4), 1118–1130. https://doi.org/10.24036/patriot.v2i4.733

Rahmi, N., Syahril, S., & Adlin, A. (2021). Game Online dan Produktivitas pada Remaja Desa Gunong Kleng Kecamatan Meureubo. Jurnal Sosial Teknologi, 1(10). https://doi.org/10.36418/jurnalsostech.v1i10.213

Syifa, L., Setianingsih, E. S., & Sulianto, J. (2019). Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perkembangan Psikologi pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 3(4), 538. https://doi.org/10.23887/jisd.v3i4.22310

Ulya, L., Sucipto, S., & Fathurohman, I. (2021). Analisis Kecanduan game online terhadap Kepribadian sosial anak. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 7(3), 1112–1119. https://doi.org/10.31949/educatio.v7i3.1347

 

Uncategorized

Shared Values dalam Hubungan: 6 Keyakinan Penting untuk Pasangan

Dalam menjalani kehidupan, menemukan pasangan yang tepat sering kali diibaratkan seperti menemukan sepatu yang paling nyaman, pas di kaki, yang mendukung setiap langkah, dan membuat perjalanan terasa lebih ringan. Setiap dari kita tentu berharap memiliki pasangan yang bisa diajak berbagi mengenai kehidupan untuk waktu yang lama. Harapan ini akan lebih mudah terwujud ketika dua individu memiliki nilai-nilai hidup yang sejalan dalam pernikahan mereka. Kesamaan nilai inilah yang menjadi bekal penting untuk melangkah bersama dengan lebih kuat dan jauh ke depan sana.

Cinta memang sering menjadi awal pertemuan antara dua orang. Namun, yang benar-benar membuat pasangan tetap bersama dalam jangka panjang bukan hanya sekadar perasaan, melainkan fondasi yang kuat dan keselarasan nilai-nilai bersama yang diyakini. Nilai-nilai ini mencakup berbagai aspek penting dalam kehidupan bersama, seperti cara berkomunikasi, cara mengatur keuangan, rencana membangun keluarga, hingga bagaimana masing-masing individu tumbuh secara pribadi. Semua hal tersebut sangat memengaruhi kecocokan dan kebahagiaan dalam hubungan.

Apa nilai-nilai dalam hubungan?

Nilai-nilai inti adalah prinsip hidup yang membentuk cara berpikir, membuat keputusan, dan bersikap. Dalam pernikahan, nilai-nilai bersama adalah pilar utama yang memberikan stabilitas, arah, dan daya tahan saat menghadapi berbagai ujian hidup. Penting untuk dipahami bahwa nilai-nilai dalam hubungan bisa jadi berbeda dengan nilai pribadi yang kita miliki. Perbedaan seperti ini bukan menandakan hubungan yang gagal. Namun, jika nilai-nilai inti pasangan terus bertentangan tanpa pemahaman dan kompromi dari kedua belah pihak, maka hubungan bisa menegangkan dan menimbulkan stres emosional.

Memahami nilai apa yang penting dalam sebuah hubungan sangatlah krusial. Langkah pertama dapat dimulai dari diri sendiri, yaitu dengan mengenali apa yang benar-benar kita hargai sebagai seorang individu. Lalu, kita bisa membuka ruang dialog dengan pasangan untuk membangun pemahaman dan arah yang sejalan. Untuk itu, pasangan perlu meluangkan waktu untuk merefleksikan apa nilai yang paling dihargai dalam hidup, baik dalam hal cinta, keluarga, kerja, hingga kehidupan spiritual. Ketika pasangan telah memahami nilai-nilai yang dimiliki satu sama lain, pasangan akan lebih siap untuk membangun hubungan yang lebih dalam, selaras, dan penuh makna. Kuncinya juga terletak pada memahami kapan harus berkompromi demi kebaikan bersama. Dengan saling menghargai dan memahami sudut pandang satu sama lain, konflik bisa diselesaikan dengan baik dan menjadi pengalaman yang memperkuat hubungan. Dalam proses ini, nilai-nilai dalam hubungan memegang peran penting.

Berikut adalah beberapa contoh nilai-nilai yang umum dalam suatu hubungan:

1.     Komunikasi

Kurangnya komunikasi adalah salah satu penyebab utama perceraian. Agar hubungan bisa berkembang, pasangan perlu mampu mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya, serta memiliki keterampilan untuk mendengarkan secara aktif. Dengan begitu, pasangan bisa berdiskusi secara sehat dan menyelesaikan masalah dengan cara yang konstruktif.

  1. Rasa Hormat

Rasa hormat berarti kita mengakui bahwa pasangan kita adalah pribadi yang utuh, dengan pemikiran, perasaan, kebutuhan, dan batasan yang layak dihargai, meskipun berbeda dengan kita. Dalam hubungan yang sehat, rasa hormat adalah fondasi yang membentuk kesetaraan, kepercayaan, dan kesetiaan antara dua individu.

  1. Memaafkan

Memaafkan adalah kunci penting dalam menjaga hubungan tetap sehat dan bertumbuh. Dalam setiap hubungan, kesalahan pasti terjadi karena tidak ada manusia yang sempurna. Namun, ketika kita memilih untuk memaafkan, itu bukan berarti kita melupakan atau membenarkan kesalahan, melainkan memberi ruang bagi pasangan untuk belajar dan memperbaiki diri. Dengan melepaskan rasa sakit hati dan tidak menyimpan dendam, kita tidak hanya menjaga hubungan tetap utuh, tetapi juga melindungi kesehatan emosional diri sendiri. Memaafkan membantu memutus siklus konflik, membangun kembali kepercayaan, dan memperkuat komitmen untuk terus berjalan bersama, bahkan di tengah ketidaksempurnaan.

  1. Komitmen dan Kesetiaan

Karena pernikahan merupakan ikatan jangka panjang, sangat penting bagi kedua belah pihak untuk memiliki tingkat komitmen dan kesetiaan yang seimbang terhadap hubungan tersebut agar dapat berjalan harmonis. Sebelum mengikat janji pernikahan, luangkan waktu untuk berdiskusi dengan pasangan mengenai makna komitmen dan kesetiaan bagi masing-masing, karena bisa jadi pandangan pasangan berdua tidak sepenuhnya sama. Tanpa kesepahaman sejak awal, perbedaan persepsi ini dapat menimbulkan konflik atau rasa kecewa di kemudian hari. Oleh karena itu, pastikan pasangan memiliki pemahaman yang selaras tentang arti pengabdian dan loyalitas, sehingga pernikahan dapat tumbuh kuat, bermakna, dan mampu bertahan menghadapi berbagai ujian kehidupan.

“The greatest marriages are built on teamwork. A mutual respect, a healthy dose of admiration, and a never-ending portion of love and grace.”

  • Fawn Weaver
  1. Intimacy

Kedekatan secara fisik dan emosional merupakan unsur penting dalam pernikahan yang sehat. Untuk membangun ikatan yang kuat, pasangan perlu saling memahami cara masing-masing dalam mengekspresikan cinta, serta mengetahui kebutuhan satu sama lain dalam hal sentuhan fisik maupun hubungan batin. Meskipun bahasa cinta pasangan berdua mungkin berbeda, hal itu bukanlah masalah selama ada kemauan untuk saling memahami, menghargai, dan mempraktikkan bagaimana cara pasangan ingin merasa dicintai. Dengan upaya tersebut, pasangan dapat menjaga keintiman, hubungan menjadi lebih hangat, dan masing-masing akan merasa diperhatikan, dihargai, serta semakin dekat secara emosional.

  1. Trust dan Honesty

Kepercayaan dan kejujuran adalah elemen penting karena keduanya menjadi fondasi utama dari hubungan yang kuat dan sehat. Dengan adanya kepercayaan dan kejujuran, pasangan memiliki ruang yang aman dan saling mendukung untuk terbuka, jujur, dan berkomunikasi tanpa takut dihakimi. Ini memungkinkan terciptanya penyelesaian masalah yang konstruktif, sehingga hubungan dapat terus berkembang dan bertahan. Sebagai nilai inti dalam pernikahan, penting bagi pasangan untuk memiliki pemahaman bersama tentang bagaimana cara menjaga dan membangun kepercayaan dalam hubungan. Hal ini bisa mencakup kesepakatan mengenai transparansi, kesetiaan, konsistensi, serta cara menghadapi konflik atau kesalahan dengan penuh tanggung jawab.

Pada akhirnya, nilai-nilai dalam pernikahan adalah kompas yang membimbing arah hubungan, terutama saat menghadapi tantangan hidup. Ketika dua individu saling memahami, menghormati, dan memegang teguh nilai-nilai yang diyakini bersama, pernikahan tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi hubungan yang penuh cinta, makna, dan ketangguhan. Meluangkan waktu untuk menyelaraskan nilai-nilai adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang harmonis dan membahagiakan.

“A great relationship is about two things: appreciating the similarities and respecting the differences.”

  • Mary Robertson

Focus on the Family Indonesia mendukung para couple melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Uncategorized

Peer Support: Langkah Mendapatkan Dukungan dari Teman Sebaya

Champs, apa pernah mendengar mengenai dukungan teman sebaya atau peer support?

Dukungan teman sebaya telah menjadi cara yang semakin populer dan efektif bagi orang-orang untuk saling terhubung dan membantu satu sama lain melalui sharing pengalaman dalam kelompok. Kelompok dukungan sebaya terbukti efektif menyatukan individu yang menghadapi masalah serupa, baik dalam hal kesehatan, tantangan mental, maupun krisis hidup. Dukungan ini dapat menciptakan ruang aman yang penuh pemahaman, empati, dan kekuatan untuk setiap anggotanya.

Peer support group adalah sebuah wadah pertemuan orang-orang yang memiliki pengalaman, masalah, atau kondisi serupa untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, memberikan motivasi, dan meningkatkan pemahaman bersama. Kelompok ini bertujuan untuk membantu anggota lain dalam mengatasi tantangan, meningkatkan kesejahteraan, dan mencapai tujuan bersama. Kelompok dukungan ini dibentuk untuk menyatukan orang-orang yang sedang menghadapi tantangan serupa, seperti ketika menghadapi penyakit serius seperti kanker atau demensia, gangguan mental seperti depresi, kecemasan, kehilangan orang terkasih, maupun kecanduan, atau peran sebagai caregiver. Ketika kita sedang menghadapi suatu masalah, seringkali sumber dukungan yang paling berharga hadir dari mereka yang telah atau sedang melalui situasi serupa seperti kita. Dari mereka, kita dapat memperoleh informasi dan saran praktis tentang cara mengelola kondisi yang sama-sama dihadapi. Pengalaman mereka juga mendorong kita untuk tetap semangat melalui proses pemulihan dan penyelesaian masalah, serta  merasa tidak sendiri menghadapi permasalahan tersebut. Namun yang perlu dipahami adalah kelompok teman sebaya bukan untuk menggantikan peran perawatan medis yang memang diperlukan sewaktu-waktu

Karakteristik dan Jenis Kelompok Dukungan Sebaya

Kelompok dukungan sebaya memiliki ciri khas yang membedakannya, antara lain:

  • Pengalaman Serupa: Anggota memiliki tantangan atau perjalanan hidup yang sejalan, sehingga tercipta empati dan saling pengertian.
  • Bantuan Timbal Balik: Setiap anggota saling mendukung satu sama lain dan tidak mengandalkan peran dari fasilitator profesional.
  • Lingkungan Non-Profesional: Bersifat informal dan sering kali dipimpin oleh anggota sendiri, sehingga suasananya lebih santai. Struktur seperti ini membantu menciptakan rasa kebersamaan, terutama bagi mereka yang merasa sendirian dalam perjuangannya.

Kelompok dukungan sebaya terbagi ke dalam beberapa kategori, antara lain:

  1. Dukungan Kesehatan Mental: Kelompok ini ditujukan bagi individu yang menghadapi kondisi gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau PTSD. Setiap anggota dapat saling bertukar strategi penanganan, berbagi cerita perjuangan, dan memberikan dukungan emosional dalam suasana yang empatik dan non-judgmental. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan semacam ini meningkatkan perasaan harapan, pengetahuan manajemen emosi, dan kualitas hidup sehari-hari.
  2. Pemulihan dari Kecanduan: Kelompok seperti Alcoholics Anonymous (AA) dan Narcotics Anonymous menyediakan struktur dan dukungan bagi individu yang berjuang keluar dari berbagai kecanduan, seperti alkohol, narkoba, judi, atau perilaku adiktif lainnya. Kelompok ini secara efektif menciptakan komunitas yang saling mendukung dan memberikan harapan melalui pengalaman nyata yang dibagikan oleh para anggota.
  3. Pengembangan Pribadi: Kelompok dukungan sebaya ini lebih fokus pada pengembangan diri, seperti produktivitas, pengelolaan waktu, keterampilan sosial, dan penyesuaian terhadap fase kehidupan baru. Meskipun pengalaman bersama mendasarinya, kelompok ini bertujuan membantu anggota berkembang secara pribadi dan mencapai tujuan hidup yang bermakna.

Setiap tipe kelompok memiliki tujuan khusus dan dapat membantu memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda bagi individu. Sehingga, champs dapat menemukan komunitas yang sesuai dan tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Community is the soil where resilience blooms, transforming falls into growth.”

  • Unknown

Ketika kita menghubungkan diri dengan peer support saat menghadapi kondisi kesehatan mental atau tantangan hidup lainnya, dapat memberikan banyak manfaat. Beberapa manfaat dari bergabung dengan kelompok sebaya adalah sebagai berikut.

  1. Mengurangi Rasa Terisolasi

Kelompok peer support dapat membantu menghilangkan rasa kesepian dengan menghadirkan orang-orang yang mengalami situasi serupa dengan kita. Hal ini membantu kita untuk tidak lagi merasa sendirian dan memberikan lingkungan yang tidak menghakimi, serta menciptakan ruang aman untuk kita berbagi dan didengarkan.

  1. Dukungan Emosional yang Tepat Sasaran

Bertemu dengan seseorang yang benar-benar “mengerti” dengan kondisi yang kita alami, kadang kala mampu memberikan dukungan emosional lebih mendalam dibanding yang diberikan oleh teman atau keluarga. Dari kelompok, kita bisa mendapatkan empati, validasi, dan dukungan yang memang kita butuhkan di situasi yang sedang hadapi.

  1. Bertukar Strategi Coping Praktis

Anggota kelompok lain biasanya telah mengembangkan teknik coping yang berhasil ketika menghadapi situasi sulit, seperti teknik relaksasi, pengaturan pola tidur, atau cara menangani gejala kecemasan. Ketika mereka berbagi pengalaman dan strategi ini, kita berkesempatan untuk mempelajari metode yang mungkin belum pernah ditemukan melalui cara lainnya. Kelompok sebaya dapat menawarkan saran praktis untuk mengatasi tantangan hidup dan berbagi wawasan berharga yang dapat membantu satu sama lain untuk berkembang. Pendekatan pemecahan masalah secara kolaboratif juga dapat menghasilkan strategi yang efektif yang akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu di kelompok.

  1. Sense of Belongings

Rasa memiliki adalah salah satu manfaat paling kuat dari kelompok dukungan sebaya. Ketika kita tergabung dalam kelompok di mana semua anggota berbagi pengalaman hidup atau tantangan serupa, terbentuk ikatan emosional yang mendalam yang disebut sebagai shared identity. Ini membantu mengurangi rasa kesepian dan memperkuat perasaan diterima yang sangat vital dalam proses pemulihan. Karena bukan hanya memberi dukungan emosional, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri, kompetensi sosial, dan keberdayaan diri kita.

5. Mengurangi Stigma

Interaksi terbuka dengan orang-orang yang menghadapi tantangan serupa menciptakan suasana di mana masalah kesehatan mental tidak lagi menjadi hal yang tabu. Ini sangat berpengaruh dalam mengubah persepsi internal (self-stigma) dan publik yang sering muncul di masyarakat. Peer support menawarkan ruang di mana stigma dihancurkan melalui cerita pribadi dan pengalaman nyata, yang membantu anggota merasa bahwa mereka bukanlah satu-satunya orang yang mengalaminya. Ini juga menciptakan ruang bebas, tanpa rasa malu dan stigma mengenai apa yang dialami seseorang.

6. Lebih Mudah Diakses & Terjangkau

Banyak komunitas peer support yang bersifat gratis atau dengan biaya ringan. Peer support juga banyak ditemui dalam bentuk tatap muka maupun daring yang menjadikannya alternatif yang dapat diakses, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial dan waktu.

Bergabung dengan peer support group bukan hanya tentang mendapat dukungan emosional, tetapi juga tentang bergabung dengan komunitas yang memahami kita secara mendalam. Grup seperti ini menyediakan ruang aman bagi siapa saja yang menghadapi tantangan serupa, baik dalam masalah mengenai kesehatan mental, emosional, atau kehidupan sehari-hari untuk saling berbagi, belajar, dan menguatkan. Perlu diingat bahwa komunitas teman sebaya yang sehat adalah yang juga mendorong kita untuk sembuh dan bertumbuh menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya.  Melalui pengalaman nyata dan strategi praktis teman sebaya, champs bisa memperoleh wawasan baru, rasa memiliki, serta keberanian untuk melangkah maju karena tidak lagi sendirian. Meski bukan pengganti perawatan medis, peer support sering kali menjadi langkah awal yang efektif menuju pemulihan, membangun ketahanan, dan mengurangi stigma yang selama ini membatasi banyak individu untuk mendapatkan pertolongan yang tepat bagi dirinya.

Anything is possible when you have the right people there to support you.”

  • Misty Copeland

Bila champs sedang merasa kewalahan dengan situasi yang dialami dan belum mampu menemukan tempat untuk bercerita dan mendapatkan pertolongan. Champs dapat menjangkau layanan Peer Counseling Focus on the Family Indonesia melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006. FOFI siap membantu champs dalam melalui proses tersebut.

Uncategorized

Tips Bonding untuk Menjadi Ayah yang Dekat secara Emosional dengan Anak Perempuannya

Ayah, bagi anak perempuan, ikatan dengan ayah merupakan pengalaman awal yang sangat berharga. Ayah yang seutuhnya hadir dan terlibat aktif dalam tumbung kembang anak perempuannya, menciptakan ruang yang aman dan penuh cinta bagi mereka untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasinya. Namun, tak sedikit pula ayah dan anak perempuan justru memiliki hubungan yang jauh dan tidak ada ikatan emosional yang kuat.

Ketidakhadiran baik secara fisik dan emosional dari ayah dapat menimbulkan efek jangka panjang dalam hidup anak perempuan. Hal ini berpengaruh pada cara ia memandang laki-laki dalam hidupnya, membentuk citra dirinya, serta memengaruhi kemampuannya dalam menjalin hubungan dan berinteraksi di lingkungan sosial. Jika jarak emosional ini tidak dikenali dan diatasi sejak dini, hubungan yang renggang dengan ayah berpotensi terus berlanjut hingga anak tumbuh dewasa, bahkan memengaruhi dinamika hubungan pribadinya di masa depan. Banyak faktor yang menyebabkan ayah dan anak perempuan memiliki hubungan yang tidak begitu dekat, salah satunya karena sejak kecil anak dan ayah tidak terbiasa menikmati waktu berdua saja. Padahal, ada banyak kegiatan yang bisa ayah untuk anak perempuan lakukan untuk memperkuat  bonding di antara mereka.

Kegiatan antara anak perempuan dan sang ayah dapat juga disebut sebagai “Dad and Daughter Date”. Kencan ini bukan sekadar kencan biasa, tapi kencan ini memberikan kesempatan untuk ayah dapat mengembangkan hubungan yang lebih berkualitas dengan anak, belajar lebih banyak tentang mereka, dan menjadi bukti bahwa ayah adalah tempat yang aman untuk anak belajar dan melakukan banyak hal baru. Melalui kencan rutin dengan anak perempuan, ayah juga sekaligus memberikan contoh dengan menetapkan standar bagaimana seorang pria memperlakukan dirinya di kemudian hari.

“Behind every great daughter is a truly amazing dad.”

  • Unknown

 

Kegiatan-kegiatan berikut dapat menjadi referensi melakukan kencan untuk ayah bersama anak perempuan anda. Kencan yang dilakukan ini bisa disesuaikan dengan kesukaan baik dari ayah maupun anak, yang terpenting adalah kegiatan ini dilakukan secara rutin dan menciptakan pengalaman yang berharga untuk keduanya.

  1. Membaca Buku Bersama

Membaca buku selain meningkatkan kemampuan bahasa dan imajinasi anak, bisa menjadi momen untuk mempererat hubungan ayah dan anak perempuannya. Ayah bisa meluangkan waktu di malam hari sebelum anak tidur untuk membacakan buku cerita kesukaannya. Selain itu, ayah juga bisa mengajak anak menjelajah berbagai buku kesukaan mereka di perpustakaan atau toko buku untuk membaca bersama di suasana yang berbeda. Setelah membaca buku, Ayah dapat menanyakan kepada anak perasaan atau pendapatnya terkait cerita tersebut.

  1. Olahraga bersama

Olahraga bisa menjadi kegiatan untuk anak bermain dan juga menyehatkan tubuh. Ayah bisa mengajari anak olahraga yang dikuasai oleh ayah untuk mengajari anak keterampilan, seperti bersepeda atau berenang. Ayah juga bisa bersama dengan anak mempelajari olahraga baru yang menarik minat dan kesenangan berdua, proses belajar bareng ini bisa menjadi ruang untuk saling tertawa, mendukung, dan membangun koneksi yang lebih dalam. Olahraga ringan seperti jalan kaki di sekitar rumah juga menjadi kunci hubungan yang hangat antara ayah dan anak perempuan. Penelitian oleh Day (2025) menemukan bahwa ikut serta dalam atau sekadar mendiskusikan aktivitas fisik dapat memberikan landasan bagi ayah dan anak perempuan untuk mengembangkan hubungan emosional yang mendalam dan mengubah stereotip tentang ayah yang jauh.

  1. Membuat Sarapan di Hari Libur

Tugas memasak dan menyiapkan sarapan bukan hanya harus terus dilakukan oleh Ibu. Justru, momen seperti akhir pekan atau hari libur bisa dimanfaatkan oleh ayah dan anak perempuan untuk mengambil peran tersebut. Kegiatan ini dapat membawa banyak manfaat sekaligus yaitu memberikan Ibu lebih banyak waktu istirahat, mengajari anak cara memasak, dan juga sebagai momen untuk berkreasi bersama. Ayah dan anak perempuan dapat bangun lebih pagi untuk mengeksplorasi menu sarapan yang ingin dibuat yang sekaligus bisa menjadi kejutan saat Ibu bangun nantinya.

  1. Mengikuti Kegiatan Volunteer

Kegiatan kencan bisa dilakukan dengan kegiatan yang bermakna sekaligus mendidik dengan menjadi relawan. Ayah dan anak perempuan dapat sama-sama belajar dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama, empati, serta memberikan kontribusi ke lingkungan sekitar. Kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara ayah dan anak perempuan dalam suasana yang penuh makna, sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan berguna sepanjang hidup anak.

  1. Pergi Berkemah

Jika ayah dan anak perempuan sama-sama menyukai aktivitas di alam terbuka, berkemah bisa menjadi pilihan terbaik untuk menghabiskan waktu bersama. Memasang tenda bersama, menikmati udara segar, menyaksikan matahari terbenam, dan membuat api unggun bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan ini memberi kesempatan keduanya untuk menjauh sejenak dari rutinitas dengan menikmati ketenangan dari alam. Kegiatan di alam terbuka juga membantu anak-anak menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan memiliki jiwa petualang, serta menciptakan rasa aman kepada sang ayah.

  1. Makan di Tempat Favorit

Aktivitas sederhana seperti pergi ke tempat makan favorit bisa menjadi alternatif kencan singkat untuk ayah dan anak perempuan. Duduk berdua, menikmati makanan kesukaan, sambil berbincang ringan, meski terdengar sederhana, tapi mampu membangun kedekatan emosional dan rasa berharga pada anak. Di sela kesibukan sehari-hari, momen seperti ini bisa menjadi waktu untuk saling mendengar, tertawa bersama, dan menunjukkan bahwa ayah tetap hadir secara utuh. Tidak perlu selalu pergi ke restoran mewah, ayah dapat mengajak anak pergi ke tempat es krim favoritnya karena yang terpenting bukan tempatnya, tapi bagaimana waktu berkualitas yang dihabiskan bersama.

  1. Membuat Proyek atau DIY

Berkreasi bersama ayah dengan belajar membuat sesuatu proyek DIY sederhana atau membenarkan alat di rumah bisa menjadi pengalaman yang seru bagi anak. Aktivitas ini membantu anak mengenal fungsi berbagai alat perkakas dan bagaimana cara menggunakannya. Anak tidak hanya mendapatkan pengalaman baru, tapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan keterampilan teknis mereka. Aktivitas ini dapat berupa menyusun mainan balok, merakit kursi makan untuk anak, atau membuat teater sederhana untuk tempat anak menonton bersama.

Inti dari setiap aktivitas dan kencan yang dilakukan antara ayah dengan anak perempuan adalah untuk menciptakan kenangan indah dan memperkuat ikatan yang bertahan hingga anak tumbuh menjadi wanita dewasa. Momen-momen ini akan menjadi kenangan berharga dan membentuk pandangan dasar anak perempuan dalam menjalin relasi yang positif di masa depan dengan lawan jenis. Kegiatan sederhana namun bermakna yang diisi dengan pembicaraan hangat, penuh tawa, pengalaman baru, dan keterampilan-keterampilan bersama ayah menjadi hal yang tidak bisa tergantikan oleh sosok lain di hidup sang anak.

Lewat momen-momen kecil namun berharga, seorang anak perempuan dapat belajar artinya perhatian, rasa aman, dan cinta tanpa syarat. Karena sebelum siapa pun hadir dengan cinta dalam hidupnya kelak, ayahlah yang pertama kali mengajarkannya cinta, rasa hormat, dan bagaimana ia seharusnya diperlakukan.

“A father holds his daughter’s hand for a short while, but he holds her heart forever.”

  • Unknown

 

Jika para ayah ingin mulai belajar dan menemukan momen pertama untuk berkencan dengan anak perempuan anda. Focus on the Family Indonesia menyediakan program khusus untuk para ayah dan anak perempuannya melalui program bonding event, “Dad and Daughter Date. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Day, J. (2025). The generational shift towards the reciprocal disclosure of intimacy in daughter–father relationships through physical activity in the UK. Families Relationships and Societies, 1–16. https://doi.org/10.1332/20467435y2024d000000052

 

Uncategorized

“Emotional Intimacy: Fondasi Pernikahan yang Sering Terlupakan”

Couples, saat mendengar kata intimacy, apa yang ada di benak anda mengenai hal tersebut?

Banyak orang yang memandang keintiman dalam hubungan hanya berupa keintiman fisik. Namun, keintiman juga terdiri dari keintiman emosional (emotional intimacy) yang sangat berperan dalam hubungan pernikahan yang sehat dan langgeng. Artikel kali ini akan membahas apa itu keintiman emosional dan apa saja bentuknya.

What is emotional intimacy?

Emotional intimacy dalam pernikahan adalah hubungan yang mendalam yang dibangun di atas kepercayaan, keterbukaan, dan komunikasi yang terbuka, di mana pasangan merasa aman untuk berbagi pikiran, perasaan, dan kerentanan satu sama lain, sehingga menumbuhkan rasa kedekatan dan rasa aman. Keintiman emosional memberikan rasa aman yang memungkinkan pasangan untuk menjadi diri mereka sendiri dan membuka diri, tanpa merasa khawatir akan ditinggalkan. Hal ini karena adanya perasaan dimengerti, divalidasi, dan didukung oleh pasangan kita. Jenis keintiman ini sangat penting untuk hubungan yang memuaskan dan langgeng karena meletakkan dasar untuk bentuk keintiman lainnya, termasuk keintiman fisik. Keintiman emosional merupakan komponen penting dari hubungan yang sehat dan memuaskan, baik dalam hubungan romantis, keintiman emosional dalam pernikahan, pertemanan, atau hubungan keluarga.

Emotional intimacy menjadi aspek kunci dari hubungan yang sehat. Terhubung secara emosional dapat membantu couples merasa aman, mengatasi tantangan bersama, dan memahami satu sama lain dengan lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa keintiman emosional dapat memainkan peran yang lebih besar dalam hasil hubungan daripada keintiman seksual. Khususnya dalam hubungan romantis, memiliki hubungan emosional yang kuat juga dapat membantu mengurangi rasa kesepian, kecemasan, meningkatkan harga diri, meredakan stres, dan mendukung kesehatan mental satu sama lain. Hal ini dapat tercapai karena couples memiliki komunikasi yang terbuka, kemampuan menyelesaikan konflik dengan sehat, saling memberi dukungan, dan merasa aman untuk berbagi masalah pribadi.

 

“Real intimacy is only possible to the degree that we can be honest about what we are doing and feeling.”

  • Joyce Brothers

 

Sebaliknya, ketika keintiman emosional dalam hubungan mulai melemah, jarak emosional bisa terbentuk. Tanda-tanda bahwa suatu hubungan kurang memiliki keintiman emosional meliputi kurangnya dukungan, merasa kesepian dalam hubungan, tidak saling berbagi hal penting, merasa terputus dari pasangannya, dan takut untuk berbagi dengan pasangan. Hal ini bisa menyebabkan pasangan menjadi terisolasi satu sama lain, komunikasi menjadi dangkal, dan kehilangan harapan dalam hubungan tersebut. Mengenali tanda-tanda tersebut adalah langkah awal yang bisa couples lakukan untuk membangun kembali kepercayaan, komunikasi, dan kedekatan emosional dalam hubungan anda.

 

Ways to Improve Emotional Intimacy

  1. Komunikasi mendalam mengenai apa yang dirasakan

Membuka diri dan berbicara tentang perasaan yang dirasakan mungkin akan cukup menantang, terutama bagi individu yang tidak terbiasa menyuarakan apa yang sedang dirasakan. Namun, dalam pernikahan, mengungkapkan emosi secara jujur dan bermakna tentang harapan, ketakutan, tujuan, dan perasaan kita bisa mencegah kesalahpahaman dan membangun kepercayaan bersama pasangan. Couples dapat saling berbagi suka dan duka dengan melakukan percakapan sebelum tidur untuk berbagi perasaan dan pikiran satu sama lain.

  1. Menghabiskan waktu berkualitas bersama

Melakukan aktivitas bersama dan melakukan hal yang disukai tanpa adanya gangguan, misalnya berbincang tanpa gangguan ponsel dapat memperdalam kedekatan emosional. Ketika pasangan hadir seutuhnya dan mendengarkan secara penuh pikiran dan perasaan yang sedang dibagikan oleh pasangan adalah kunci inti dari keintiman emosional. Couples juga bisa memprioritaskan waktu berkualitas bersama, seperti merencanakan waktu kencan secara teratur atau melakukan hobi bersama di setiap akhir pekan.

  1. Menunjukkan kasih sayang secara langsung

Menunjukkan kasih sayang dapat dimulai dengan mengetahui bahasa cinta satu sama lain. Apakah dengan memberikan sentuhan seperti pelukan dan ciuman, atau melalui kata-kata penyemangat dan pujian. Ketika pasangan saling menunjukkan kasih sayang satu sama lain, couples sedang memperkuat ikatan emosional karena kontak fisik semacam ini memicu pelepasan oksitosin, hormon yang meningkatkan rasa cinta dan kedekatan.

Berempati dengan pasangan Anda, memvalidasi perasaan mereka, dan memberikan dukungan emosional.

  1. Memberikan validasi satu sama lain

Memvalidasi pasangan artinya kita mengakui dan memahami apa yang mereka rasakan atau katakan. Memberikan validasi berarti kita dapat memahami situasi dari sudut pangan pasangan kita dan menghargai apa yang mereka rasakan. Kunci dari memvalidasi pasangan kita adalah dengan menumbuhkan empati. Ketika kita bisa mendengarkan sepenuh hati apa yang mereka sampaikan tanpa ada kritik dan penghakiman, kita telah memberikan ruang aman untuk mereka dapat sepenuhnya menjadi diri sendiri dan terbuka terkait hal-hal yang dialami.

Emotional intimacy adalah fondasi yang tak ternilai dalam pernikahan, tapi sering kali diabaikan oleh pasangan. Membangun emotional intimacy memberikan ruang bagi pasangan untuk dapat saling bertumbuh secara emosional, memahami, dan saling mendukung kesulitan dan kebahagiaan satu sama lain. Ikatan emosional ini sejalan dengan meningkatnya kualitas komunikasi dan kepuasan terhadap pasangan karena hadir perasaan dimengerti, serta dapat menghadapi konflik bersama-sama. Dengan komitmen tulus untuk menjaga keintiman emosional, pernikahan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi hubungan yang penuh makna, kesejahteraan, dan kehangatan bagi keduanya.

“Intimacy is the art of making another person feel known and understood.”

  • Unknown

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para couple melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Uncategorized

Self-Love: Belajar Mencintai Diri Sendiri di Tengah Ketidaksempurnaan

 Champs, saat mendengar kata “sosok yang dicintai”, siapa yang pertama kali muncul di pikiran? Sosok ini bisa siapa saja, bisa keluarga, pasangan, atau hewan peliharaan kita. Semua hubungan ini didasari oleh rasa cinta dengan dimensi kepercayaan, kasih sayang, keamanan, dan dukungan yang berbeda-beda. Mencintai orang lain seringkali lebih mudah untuk dilakukan daripada mencintai diri kita sendiri.  Banyak dari kita justru lebih sering bersikap keras, mengkritik diri, dan merasa tidak cukup baik. Padahal, mencintai diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan atau egoisme, seperti yang kerap disalahpahami. Sebaliknya, ini adalah proses belajar untuk memperlakukan diri sendiri dengan kasih sayang dan penghargaan yang sama seperti yang kita berikan kepada orang-orang terdekat yang kita cintai.

Apa itu Self-Love?

Makna self-love dapat berbeda-beda bagi setiap orang karena konsep ini didasarkan pada keadaan dan situasi seseorang, serta mengenai cara mereka merawat dirinya sendiri. Konsep self love juga sering mengacu pada konsep psikologi lain, seperti self-respect, self-value, self-esteem dan self-worth. Namun, self-love sendiri adalah sebuah kondisi penghargaan terhadap diri sendiri dalam bentuk dukungan untuk mengembangkan pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual kita. Self-love dapat berbentuk sebagai penghargaan, kedekatan, dan penghargaan positif terhadap diri sendiri, dimana seseorang dengan rasa self-love yang kuat akan lebih memahami dan memperlakukan dirinya sendiri dengan penuh kasih. Rasa cinta terhadap diri kita juga dapat berbentuk sebagai penerimaan. Penerimaan bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna, namun kita tetap menghormati dan menghargai diri ini dengan seluruh kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Self-love dapat memberikan dampak positif, seperti memperkuat kesehatan jiwa, menjaga keseimbangan emosi, dan memperbaiki kualitas hubungan dengan orang lain.

 

Cinta ini membantu kita mengenali nilai yang ada dalam diri dan belajar memberikan kebaikan dan kasih sayang kepada diri sendiri, sama tulusnya seperti saat kita mencintai orang lain. Self-love menjadi dasar penting bagi kesejahteraan mental, karena perannya dalam mendukung cara pandang yang positif dan memperkuat ketangguhan saat menghadapi tantangan hidup. Meski penting, mencintai diri sendiri juga memiliki batas dan tidak boleh berlebihan. Ketika dilakukan secara berlebihan, self-love bisa berubah arah menjadi sesuatu yang merugikan diri dan dapat mendorong seseorang menjadi egois, narsis, dan menganggap dirinya selalu benar sedangkan orang lain selalu salah. Ketika terjadi, hal ini bukan lagi bentuk self-love karena esensi dari mencintai diri adalah juga mampu menghargai dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Perlu dipahami bahwa self-love adalah bentuk penerimaan yang sehat. Yang tumbuh dari pemahaman yang jujur atas kekuatan dan keterbatasan diri kita.

 

Bentuk self-love dapat sangat beragam dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara seseorang berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan untuk kebaikan dirinya. Bentuk self-love dapat sebagai berikut.

  • Berbicara dengan dan tentang diri sendiri dengan penuh kasih.
  • Kepercayaan akan diri sendiri.
  • Bersikap jujur dan baik pada diri sendiri.
  • Membuat batas yang sehat antara diri sendiri dan lingkungan sekitar.
  • Memaafkan diri dari kesalahan di masa lalu dan memberi ruang untuk belajar, serta melepaskan perasaan menyesal.
  • Merawat diri dengan menjaga pola makan sehat dan tidur yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menghindari kebiasaan yang merusak seperti begadang, merokok, atau mengonsumsi alkohol.
  • Menerima kekuatan dan kelemahan untuk melepaskan ekspektasi yang tidak masuk akal.
  • Mempertimbangkan diri sendiri daripada selalu mengutamakan orang lain terlebih dahulu.
  • Memberikan apresiasi dan afirmasi positif untuk merayakan pencapaian yang dimiliki.
  • Merasa nyaman untuk hidup dengan keyakinan dan nilai-nilai pribadi daripada terus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan standar-standar di masyarakat.
  • Tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
  • Meluangkan waktu istirahat dari tekanan untuk mengelola stres dan emosi secara sehat.
  • Memberikan ruang untuk diri bertumbuh berdasarkan minat dan keterampilan.

Mengapa Self-Love Penting?

Self-love memegang peranan penting dalam mendukung ketahanan pribadi dan kesejahteraan hidup secara keseluruhan karena perannya dalam menumbuhkan rasa percaya diri, membangun harga diri yang sehat, dan meningkatkan kepuasan hidup seseorang. Bukan hanya berdampak pada kondisi mental, self-love juga memengaruhi aspek fisik. Dimana saat seseorang menerapkan cinta kepada diri secara sehat, seseorang akan lebih terdorong untuk melakukan kebiasaan positif, seperti pola makan yang lebih baik, olahraga teratur, dan manajemen stres yang lebih efektif.

Self-love memiliki dampak yang kuat terhadap cara seseorang memandang dunia dan membangun relasi dengan orang lain. Ketika individu mampu memperlakukan dirinya dengan kasih sayang dan penerimaan, ini akan menciptakan fondasi emosional yang stabil dan sehat. Seseorang yang memiliki self-love cenderung tidak lagi mencari validasi berlebihan dari luar dirinya. Mereka akan lebih mudah menerima kritik yang membangun, tidak mudah merasa terancam atas keberhasilan orang lain, dan tidak menjalin hubungan atas dasar kebutuhan untuk “diisi” oleh orang lain. Sebaliknya, mereka hadir dalam relasi sebagai pribadi yang utuh, yang memberi dan menerima dengan seimbang. Dalam membangun relasi di keluarga, pertemanan, atau masyarakat, self-love tercermin melalui sikap toleransi, empati, memahami perbedaan, dan menghargai batasan yang dimiliki orang lain.

Berikut ini beberapa tanda ketika individu kurang memiliki self-love:

  • Perfeksionisme dan takut gagal.
  • Tidak merawat diri dan mengabaikan kebutuhan pribadi.
  • Menoleransi ketika berada di lingkungan dan hubungan yang toxic.
  • Kesulitan dalam menetapkan dan mempertahankan batasan yang sehat.
  • Selalu mencari validasi dari orang lain.
  • Terus-menerus merasa tidak cukup baik, tidak mampu, atau tidak layak untuk dihargai.
  • Kesulitan untuk mengatakan “tidak” kepada orang lain.
  • Membandingkan diri sendiri secara tidak baik dengan orang lain.
  • Negative talk yang terus-menerus mengkritik diri sendiri.

How to Love Yourself

Mencintai diri kita sendiri merupakan proses yang bisa dipelajari dan ditingkatkan agar menetap dalam kehidupan seseorang.

1. Mengenali dan Menerima Diri Apa Adanya

Cinta ini dimulai dengan terlebih dahulu menyadari dan memahami siapa diri kita, baik dengan seluruh kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Proses penerimaan ini artinya kita menerima diri sebagai seorang manusia yang sedang tumbuh dan belajar, dimana kadang tidak sempurna dan mengalami kegagalan sewaktu-waktu.

“Choose everyday to forgive yourself. You are human, flawed, and most of all worthy of love.”

  • Alison Malee
  1. Merasakan Setiap Emosi dengan Sepenuh Hati

Belajar mencintai diri berarti memberi izin kepada diri kita untuk merasakan hidup sepenuhnya, baik itu kesedihan maupun kebahagiaan. Ketika kita tidak menekan emosi yang sedang dialami atau berpura-pura kuat sepanjang waktu, kita memberikan izin diri kita untuk menangis saat terluka dan tertawa saat bahagia. Proses ini membantu kita memahami bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang menetap dan akan pergi sesudah kita selesai memprosesnya.

3. Mengelilingi Diri dengan Orang yang Mendukung dan Tulus

Dukungan sosial memainkan peran penting dalam proses mencintai diri sendiri. Hubungan yang sehat dapat menjadi ruang aman untuk kita merasa diterima dan dihargai. Mengizinkan diri kita untuk menerima perhatian dan dukungan di suatu hubungan, baik itu keluarga atau pertemanan yang sehat karena kita layak untuk itu. Perlahan-lahan coba untuk melepaskan diri dari hubungan yang toxic dan yang memberikan dampak negatif untuk diri kita. Ketika kita mengelilingi diri dengan orang-orang yang mempercayai, mendukung kita lebih baik, dan tidak memaksa kita untuk menjadi orang lain adalah bentuk perlindungan dan penghargaan terhadap diri sendiri kita sendiri.

4. Bersikap Baik pada Diri Sendiri

Di dunia yang sudah penuh dengan kritik dan tekanan, kita harus bisa menyediakan tempat teraman di dalam diri untuk kita sendiri. Hindari menyebut diri dengan kata-kata kasar, meremehkan usaha yang telah dilakukan, atau terus-menerus menyalahkan diri. Maka dari itu, kasih kepada diri perlu diberikan baik melalui perayaan sederhana atau afirmasi positif untuk setiap langkah yang sudah diambil. Perayaan ini untuk kita karena sudah berjuang, terus berjalan,  dan tetap bertahan dengan tetap memberikan cinta pada diri.

  1. Merawat Kesehatan Fisik dan Mental

Self-love bukan hanya mengenai sikap positif atau menerima kekurangan yang dimiliki, tapi juga tentang tindakan nyata untuk menjaga tubuh dan pikiran. Merawat kesehatan fisik dan mental adalah salah satu cara paling mendasar dan penting dalam praktik self-love. Tidur yang cukup, rajin berolahraga, pola hidup yang sehat, mengelola stres, mengambil waktu hening, dan melakukan positive self talk adalah cara-cara yang bisa digunakan untuk menunjukkan rasa cinta ke diri kita.

Di dunia yang sering kali menuntut kesempurnaan, kita cenderung lupa bahwa diri kita juga layak untuk mendapatkan kasih sayang, penerimaan, dan ruang untuk bertumbuh. Dengan self-love, kita belajar untuk memanusiakan diri kita dengan menetapkan batasan yang sehat, menjaga kesehatan fisik dan mental diri, serta membebaskan diri dari kritik berlebihan dan ekspektasi yang tidak realistis. Mencintai diri sendiri ini tentu bukan perjalanan yang selalu mudah dan proses yang terjadi dalam satu malam. Self-love dapat tumbuh dan menetap melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan, seperti berbicara dengan kasih kepada diri sendiri, memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan, dan memberi ruang untuk mengambil jeda sejenak.

Maka, seberapapun sulitnya hari ini, coba tanyakan kepada diri sendiri, “Sudahkah aku memperlakukan diriku seperti seseorang yang aku cintai?” Sebab pada akhirnya, sebelum kita mencintai dunia dan seluruh isinya, kita harus bisa terlebih dahulu mencintai dunia yang ada dalam diri kita sendiri.

“To fall in love with yourself is the first secret to happiness.”

  • Robert Marley

Pentingnya menumbuhkan self-love dapat secara signifikan memengaruhi kehidupan sehari-hari, hubungan, atau kesejahteraan kita secara keseluruhan. Maka, bila champs kesulitan untuk memberikan kasih dan penerimaan kepada diri sendiri, serta memerlukan bantuan profesional. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs agar bisa berdiskusi bersama teman sebaya melalui peer counseling secara gratis atau dengan tenaga profesional melalui layanan konseling yang disediakan FOFI. Champs dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Clinic, C. (2025, April 22). Self-Love: why it’s important and what you can do to love yourself. Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/self-love

Gillette, H. (2024, September 27). Practicing Self-Love to improve Well-Being. Psych Central. https://psychcentral.com/health/what-is-self-love-and-why-is-it-so-important#developing-self-love

Homan, K. J., & Sirois, F. M. (2017). Self-compassion and physical health: Exploring the roles of perceived stress and health-promoting behaviors. Health Psychology Open, 4(2). https://doi.org/10.1177/2055102917729542

 

Uncategorized

Perjalanan Setelah Pasangan Meninggal: Stres yang Dihadapi Single Parent

Menjadi orang tua tunggal bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, banyak orang harus memikul tanggung jawab ini karena situasi tersebut terjadi di luar kendali mereka, misalnya saat kehilangan pasangan karena kematian. Dalam menjalani peran sebagai dua sosok ibu dan ayah sekaligus, para orang tua tunggal tentu menghadapi berbagai tantangan yang tak sedikit, baik secara emosional, finansial, maupun sosial. Di satu sisi, seseorang yang sebelumnya memiliki pasangan untuk menjalani hidup dan membesarkan anak kini harus menghadapi perubahan besar. Situasi ini membuat individu tersebut memikul tanggung jawab yang lebih besar, sekaligus harus menyesuaikan diri dengan kenyataan kehilangan pasangan hidup. Tidak ada yang pernah benar-benar siap untuk menjalani peran sebagai single parent dan hal ini seringkali dapat menimbulkan stres bagi mereka.

Di Indonesia sendiri, fenomena orang tua tunggal atau “single parent” terus mengalami peningkatan dengan jumlah ibu tunggal lebih banyak daripada ayah tunggal. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah ibu tunggal mencapai 7,9 juta orang, sedangkan ayah tunggal 2,7 juta orang (Christine et al., 2024). Di tengah kesibukan menjalani berbagai peran, baik sebagai kepala keluarga, tulang punggung keluarga, dan juga peran mengasuh anak. Orang tua tunggal menghadapi banyak tekanan yang bisa sangat memengaruhi kesehatan emosional dan fisik mereka. Fakta bahwa begitu banyak orang menjalani peran ini menunjukkan betapa pentingnya memahami stres yang dialami oleh para single parent di luar sana.

 

Apa itu single parent stress?

Stres pada orang tua tunggal mencakup tekanan fisik, emosional, dan psikologis yang dirasakan ketika mereka harus menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai pencari nafkah dan juga peran mengasuh anak, tanpa adanya dukungan dari pasangan. Stres ini dapat muncul dari tantangan menyeimbangkan tanggung jawab dalam pekerjaan, mengurus anak, dan mengelola rumah tangga seorang diri. Berbagai tanggung jawab ini seringkali menimbulkan perasaan lelah, kesepian, dan cemas bagi single parent. Beban tanggung jawab yang terus-menerus datang, ditambah tidak adanya pasangan untuk berbagi tugas, membuat stres yang dialami menjadi lebih berat dan kompleks dibandingkan pada  situasi keluarga lainnya. Selain ketidakhadiran pasangan untuk mendampingi, orang tua tunggal dapat mengalami stres karena tidak memiliki sistem dukungan yang kuat dari lingkungannya.

Apa penyebab dari stres pada orang tua tunggal?

Penyebab pertama dan yang paling umum terjadi adalah karena tekanan mengasuh anak sendirian, tanpa adanya dukungan seseorang untuk berbagi tanggung jawab atau memberikan dukungan emosional. Orang tua tunggal sering kali memikul semua beban, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan seorang diri, yang pada momen tertentu bisa jadi sangat melelahkan. Beberapa penyebab lain dari stress pada orang tua tunggal adalah sebagai berikut.

1. Tekanan Finansial

Sumber stres terbesar lainnya bagi orang tua tunggal adalah tekanan finansial. Orang tua tunggal menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang bisa menjadi sangat berat, apalagi jika harus mencukupi kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, dan pendidikan anak. Penelitian menemukan bahwa orang tua tunggal cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kesulitan keuangan yang dapat mengganggu kesehatan psikologis mereka. Hal ini meningkatkan risiko isolasi, kecemasan, dan depresi (Stack & Meredith, 2017). Tanpa dukungan finansial dari pasangan, banyak orang tua tunggal terpaksa harus bekerja lebih lama atau mengambil lebih dari satu pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

2. Isolasi Sosial

Orang tua tunggal biasanya memiliki jadwal yang padat dan banyak tanggung jawab yang membuat sulit meluangkan waktu bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, masih banyaknya stigma negatif di masyarakat mengenai orang tua tunggal, dapat membuat individu merasa tidak diterima atau dianggap “berbeda” dari keluarga pada umumnya. Ketika individu tidak memiliki komunitas pendukung atau tempat berbagi, tekanan emosional yang dirasakan bisa meningkat dan memicu isolasi sosial.

3. Beban Emosional

Beban emosional yang dirasakan oleh orang tua tunggal sering kali berasal dari peristiwa besar yang mengubah hidup mereka, seperti kehilangan pasangan karena kematian. Mereka tidak hanya harus memproses rasa duka yang dialami, tapi di saat yang sama, mereka juga harus menjadi sumber dukungan emosional utama bagi anak-anaknya. Memikul beban emosional untuk diri sendiri dan anak secara bersamaan bisa sangat menguras tenaga dan menjadi sumber stres yang tidak terlihat dari luar.

4. Beban Pengambilan Keputusan

Seluruh keputusan, baik besar maupun kecil berada sepenuhnya di tangan mereka sendiri sebagai orang tua tunggal. Keputusan ini dimulai dari kebutuhan sehari-hari anak hingga keputusan penting yang menyangkut pendidikan, kesehatan, dan masa depan mereka. Tekanan untuk selalu mengambil keputusan yang tepat, di tengah keterbatasan tenaga, dan sumber daya dapat menjadi beban yang sangat berat. Ketidakhadiran sosok pasangan untuk diajak berdiskusi atau berbagi tanggung jawab membuat proses ini terasa lebih melelahkan. Situasi ini menggambarkan kompleksitas yang dialami oleh para single parent, dimana mereka harus menjalani peran ganda, membuat semua keputusan sendiri, dan tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Being a single parent is not a life full of struggles, but a journey for the strong.”

        – Meg Lovett

 

Cara Mengelola Stress pada Orang Tua Tunggal

  1. Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Meski hanya sebentar, menyisihkan waktu untuk melakukan hal yang disukai oleh diri sendiri dapat menjadi momen penting untuk mengelola stres dan menemukan ketenangan. Parents dapat mengambil jeda untuk duduk hening di taman, membaca buku, berkebun, atau bertemu dengan teman.

  1. Membangun Support System

Parents dapat menjangkau dukungan sosial dari teman, keluarga, atau bergabung di komunitas daring. Sistem ini membuat parents merasa tidak sendirian dan memiliki orang-orang yang bisa diajak bicara, memahami dengan baik tantangan yang dihadapi ketika menjadi orang tua tunggal, bahkan menyediakan uluran tangan yang siap membantu ketika parents membutuhkan.

  1. Perencanaan Keuangan

Menyusun anggaran bulanan yang realistis dengan membuat daftar pengeluaran tetap, kebutuhan harian, serta dana darurat menjadi sangat penting untuk dilakukan. Anggaran ini untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran terkendali dan tidak ada pengeluaran impulsif. Parents dapat menggunakan aplikasi pengatur keuangan atau spreadsheet sederhana untuk membantu melihat pengeluaran dan kebutuhan setiap bulan. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit dana untuk kebutuhan pribadi. Meskipun terlihat kecil, menyediakan “uang untuk diri sendiri” bisa mencegah stres emosional akibat terlalu menahan diri.

  1. Membuat Batasan yang Sehat

Batasan yang sehat adalah mengenai pemisah sejauh mana apa yang bisa dilakukan seorang diri, apa yang orang lain bisa lakukan, dan apa yang tidak. Saat orang lain memberikan komentar atau tuntutan yang tidak sesuai, parents dapat membatasi diri atau bahkan menjauh dari percakapan yang yang menghakimi atau merendahkan. Hal ini juga berlaku saat diri kita sendiri sedang memberikan pikiran negatif terhadap diri yang bisa merusak rasa percaya diri sebagai orang tua dan memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan.

  1. Strategi Manajemen Stres

Setiap orang pasti akan menemukan situasi di mana stres bisa terjadi, maka dari itu perlu adanya teknik manajemen stres untuk mengurangi stres dan rasa cemas yang mulai berlebihan. Parents dapat melakukan relaksasi dengan meditasi, menulis jurnal, atau dengan latihan deep breathing. Penting juga untuk bisa menjaga kesehatan fisik dan emosional yang sekaligus mengurangi stres dengan berolahraga, tidur yang cukup, dan makan makanan bergizi seimbang.

  1. Mencari Bantuan Profesional

Bila sewaktu-waktu parents merasa tidak bisa meregulasi stres dan emosi yang dialami seorang diri, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat. Kelelahan karena menghadapi tekanan fisik, emosional, dan mental karena menjadi berbagai peran sekaligus cenderung membuat orang tua tunggal merasa harus selalu kuat dan menyimpan semua perasaannya seorang diri. Berbicara dengan tenaga profesional dapat menjadi ruang aman untuk parents mengutarakan setiap hal yang dialami, proses penerimaan diri sendiri, dan menyusun coping strategy yang lebih sehat.

Menjadi sendiri bukanlah tanda kelemahan, tapi berjuang sendirian kadang kala bisa jadi pengalaman yang sangat melelahkan. Selagi berjuang untuk keluarga dan anak-anak tercinta, semoga anda tidak melewatkan diri sendiri yang juga berhak mendapatkan perhatian dan cinta, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Parents dapat meluangkan waktu untuk self-care, beristirahat, melakukan hal yang disukai, atau bertemu dengan orang lain yang bisa memberikan emotional support. Bila parents merasa membutuhkan waktu untuk memproses setiap duka yang dialami, lakukanlah. Merawat diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan langkah pertama untuk bisa terus menjaga orang lain yang kita cintai dengan tubuh dan pikiran yang sehat.

 

Being a single parent is twice the work, twice the stress, and twice the tears. But also twice the hugs, twice the love, and twice the pride.”

 

  • Unknown

Bila parents membutuhkan bantuan untuk melalui proses perubahan yang penuh tanggung jawab ini, parents dapat berkomunikasi dengan terapis atau profesional untuk membantu anda mengembangkan strategi manajemen stres sebagai orang tua tunggal. Focus on the Family Indonesia siap membantu parents berproses dan membekali diri anda melalui program konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Christine, A., Dewi, N. F. I. R., & Anggraini, N. A. (2024). PENGASUHAN ORANGTUA TUNGGAL DAN KARAKTER HARDINESS REMAJA AKHIR. Jurnal Muara Ilmu Sosial Humaniora Dan Seni, 8(1), 60–72. https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v8i1.27796.2024

Stack, R. J., & Meredith, A. (2017). The Impact of Financial Hardship on Single Parents: an exploration of the journey from social distress to seeking help. Journal of Family and Economic Issues, 39(2), 233–242. https://doi.org/10.1007/s10834-017-9551-6