Family Indonesia

Uncategorized

Kehilangan Semangat dalam Pernikahan, Memahami Marital Burnout

Bagi pasangan yang telah lama menikah, pasti pernah merasakan masa-masa di mana hubungan terasa renggang dan melelahkan. Perasaan ini bisa muncul karena berbagai alasan, seperti perbedaan pandangan, rutinitas yang membosankan, atau tekanan dari luar yang memengaruhi hubungan anda. Pada saat-saat seperti ini, banyak pasangan yang mulai meragukan masa depan pernikahan mereka dan merasa sulit untuk menemukan kebahagiaan lagi. Namun, penting untuk diingat bahwa perasaan tersebut adalah bagian dari dinamika hubungan yang dapat diatasi bersama. Masa-masa sulit ini sebenarnya dapat menjadi peluang untuk memperkuat hubungan dalam pernikahan, jika kedua belah pihak berkomitmen untuk bekerja sama dan memupuk kembali cinta yang ada.

Apa itu Marital Burnout?

Kelelahan dalam pernikahan dapat didefinisikan sebagai keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi ketika tekanan dan tuntutan dalam sebuah hubungan secara kronis lebih besar daripada imbalan dan pengalaman positif. Menurut Zamani et al. (2023), kelelahan dalam pernikahan terjadi ketika pasangan menyadari bahwa realitas pernikahan tidak seperti yang apa yang diharapkan. Kelelahan dalam pernikahan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya perselisihan dan berkurangnya keintiman antara pasangan. Kelelahan ini juga berkaitan dengan cara pasangan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, serta keterampilan dalam memecahkan masalah. Pasangan yang lebih terampil dalam hal-hal tersebut cenderung mengalami kelelahan yang lebih sedikit dalam pernikahan yang dijalani. Burnout dalam pernikahan dapat berdampak pada kualitas hubungan dan meningkatnya ketidakpuasan di dalam pernikahan yang meliputi perasaan salah satu atau kedua pasangan, seperti keterpisahan emosional, berkurangnya kepuasan, dan rasa putus asa terhadap masa depan hubungan mereka.

“Burnout is the result of too much energy output and not enough energy self-invested. In other words, it’s burning too much fuel than you’ve put in your tank.” – Melissa Steginus

 

Penyebab dari Marital Burnout

Berbagai penyebab dari marital burnout, baik yang bersifat internal maupun eksternal, dapat menyebabkan pasangan merasa terjebak dalam rutinitas yang membosankan dan kehilangan koneksi emosional satu sama lain. Dengan mengetahui penyebab-penyebab tersebut, couples dapat lebih mudah menemukan jalan keluar untuk mengembalikan keharmonisan dalam hubungan pernikahan anda.

    1. Komunikasi yang Tidak Efektif
      Ketika pola komunikasi pasangan seringkali berupa kritik yang tajam, sikap defensif, atau selalu menghindari percakapan penting, hal ini bisa memicu kesalahpahaman dan memperburuk hubungan. Kritik yang menyakitkan dapat merusak rasa saling menghormati, sementara sikap defensif hanya menutup kesempatan untuk berdiskusi dengan jujur dan saling memahami. Selain itu, menghindari pembicaraan yang penting dapat menambah jarak emosional di antara pasangan, di mana salah satu pihak mungkin merasa masalah yang mereka hadapi diabaikan atau tidak dianggap penting. Semua hal ini dapat meningkatkan ketegangan dalam hubungan dan secara keseluruhan merusak kualitas hubungan.
    2. Konflik yang Tidak Terselesaikan
      Konflik yang tidak ditangani dengan baik daapt berdampak jangka panjang pada kelangsungan hubungan. Ketika masalah yang sama terus berulang tanpa ada solusi yang jelas, pasangan bisa merasa frustrasi dan kehilangan harapan. Konflik yang berlarut-larut ini dapat menumbuhkan rasa kebencian dan ketegangan yang berlangsung lama, sehingga menciptakan jarak emosional yang semakin besar di antara keduanya.
    3. Kebutuhan dan Harapan yang Tidak Terpenuhi
      Dalam hubungan pernikahan, setiap pasangan tentu memiliki kebutuhan dan harapan tertentu yang ingin dipenuhi. Ketika pasangan merasa bahwa harapan mereka tidak dipenuhi atau kebutuhan emosional mereka tidak dihargai, perasaan kecewa bisa tumbuh menjadi rasa lelah atau frustrasi. Salah satu pihak mungkin merasa tidak didengarkan atau tidak diprioritaskan oleh pasangannya, yang dapat memicu perasaan putus asa dan mengurangi kedekatan emosional antara pasangan. 
    4. Stres dan Kewalahan
      Stres eksternal, seperti masalah keuangan, tekanan pekerjaan, atau tanggung jawab keluarga yang besar, bisa menjadi beban yang berat bagi individu. Ketika individu merasa kewalahan oleh tuntutan-tuntutan ini, seseorang mungkin tidak memiliki energi untuk merawat hubungan pernikahan. Stres semacam itu bisa mengarah pada kelelahan emosional, di mana individu merasa tertekan dan tidak mampu menghadapi tantangan dalam hubungan bersama pasangan. Ketika pasangan tidak memiliki strategi koping yang sehat atau sistem dukungan yang memadai, stres dapat merusak kualitas interaksi mereka, menyebabkan mereka saling menyalahkan atau tidak mendukung satu sama lain. Hal ini bisa memperburuk kelelahan emosional dalam pernikahan, membuat pasangan semakin merasa terpisah dan cemas tentang masa depan hubungan mereka.
    5. Kurangnya Kedekatan Emosional
      Keintiman emosional adalah elemen penting dalam pernikahan yang sehat dan langgeng. Ketika pasangan kehilangan kedekatan emosional, misal karena kurangnya komunikasi yang mendalam, ketidakmampuan untuk berbagi perasaan, atau hilangnya rasa percaya, hubungan bisa terasa kosong dan terputus. Tanpa kedekatan emosional yang kuat, pasangan dapat merasa kesepian meskipun secara fisik berada di dekat satu sama lain. Keintiman emosional yang hilang sering kali menjadikan pernikahan lebih rentan terhadap konflik dan perasaan putus asa.
    6. Kurangnya Kedekatan Emosional
      Kelelahan dalam pernikahan juga dapat disebabkan oleh ketidakcocokan dalam bahasa cinta. Salah satu pasangan mungkin mencoba untuk terhubung dengan menggunakan word of affirmation, dengan asumsi bahwa pendekatan tersebut akan sesuai dengan pasangannya. Namun, pasangan yang lain cenderung tersentuh dengan bahasa cinta sentuhan fisik, bukan dengan kata-kata. Dalam hal ini, tidak ada pasangan yang mengisi ember pasangannya karena metode yang mereka pilih tidak cocok satu sama lain. Ketidakcocokan seperti ini sering kali menyebabkan kelelahan dalam pernikahan, meskipun masing-masing pasangan memiliki niat baik dan upaya yang tulus untuk menjaga pasangannya.

 

How to Heal from Marital Burnout

Setelah mengetahui berbagai penyebab dari marital burnout, pasangan dapat bekerja sama mencari langkah yang sesuai dalam menghadapi kelelahan yang dimiliki. Bahkan jika couples merasa pernikahan tersebut telah mencapai titik akhir, couples masih bisa bangkit dan memperbaiki hubungan Anda. Beberapa metode di bawah ini dapat digunakan untuk mengembalikan harapan dan cinta untuk pernikahan yang lebih kuat dan dapat bertahan dalam masa-masa sulit. 

  1. Meningkatkan Kecerdasan Emosional 

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menyadari perasaan, mengekspresikannya, dan mengendalikan perasaan dengan bijaksana. Kecerdasan emosional yang tinggi memungkinkan seseorang untuk mengelola komunikasi dengan lebih baik dan terhubung dengan orang lain dengan lebih banyak empati dan pengertian. Ketika seseorang mampu terhubung dengan perasaan diri, baik yang positif maupun negatif, mereka dapat lebih memahami jenis interaksi yang membuatnya merasa nyaman, marah, sedih, atau frustrasi dalam sebuah hubungan. Individu yang memiliki dasar emosional yang kuat cenderung lebih mudah mengatasi tantangan dalam hubungan dibandingkan dengan mereka yang kurang terhubung dengan pusat emosinya. Dengan mengenali perasaan diri, kita dapat lebih mudah memproses dan mengungkapkan perasaan tersebut dengan pasangan kita.

  1. Menyelesaikan Trauma Masa Lalu

Seseorang yang memiliki trauma masa lalu memiliki kecenderungan untuk tinggal di masa lalu, jika hal tersebut tidak diselesaikan. Jika seseorang mengalami kesulitan emosional atau pelecehan di masa lalu, kemungkinan besar hal itu akan terus muncul di masa sekarang secara langsung atau tidak langsung. Sangat penting untuk menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum seseorang dapat menyembuhkan hubungan pernikahannya. Faktor-faktor dari masa lalu, seperti trauma, sangat mempengaruhi cara kita bereaksi di masa ini. Jika seseorang pernah mengalami pengabaian dan penolakan saat masih anak-anak, dan di masa sekarang pasangan juga terus-menerus membuat kita merasa ditolak, hal ini bisa menyebabkan kelelahan karena kenangan lama dan respons terhadap penolakan tersebut kembali muncul. Akan lebih sulit mengatasi penolakan dalam pernikahan jika seseorang belum menyelesaikan masalah yang terkait dengan pengabaian di masa lalu.

  1. Memprioritaskan Waktu Bersama Pasangan

Saat ini banyak orang yang kesulitan untuk meluangkan waktu bersama pasangan karena tuntutan pekerjaan dan keluarga yang terus-menerus. Namun, menginvestasikan waktu dan energi ke dalam pernikahan juga sama pentingnya dan harus diprioritaskan. Ketika pasangan terus berusaha dan mempertahankan hubungan, pernikahan akan tetap kuat dan sehat sekalipun pernikahan sudah berjalan lama. Hal ini berarti mengalokasikan waktu di kalender untuk pergi kencan dan melakukan aktivitas yang menyenangkan, sesederhana mengirim pesan singkat di sela kesibukan atau berjalan-jalan di hari libur. Saat kita dapat menjadikan waktu bersama pasangan sebagai prioritas, kita akan secara signifikan menurunkan risiko kelelahan dalam pernikahan.dan dapat memperkuat hubungan emosional bersama pasangan. 

  1. Mendapatkan Dukungan Profesional

Mencari bantuan profesional melalui terapi pasangan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi pasangan untuk mengeksplorasi perasaan mereka, mengidentifikasi masalah mendasar, dan mempelajari cara komunikasi yang efektif. Seorang konselor pernikahan berpengalaman dapat memandu dalam proses pemulihan dan membekali pasangan dengan strategi yang praktis untuk membina hubungan dengan lebih baik lagi. 

Mengatasi kelelahan dalam pernikahan, mengharuskan pasangan untuk menghadapi masalah yang sudah ada sejak lama dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai satu sama lain, serta membangun jalur komunikasi yang lebih efektif. Maka, dibutuhkan banyak kesabaran, usaha, dan konsistensi, serta pendekatan baru untuk merawat hubungan pernikahan yang sehat dan lebih kuat.

Setiap pernikahan layak untuk diperjuangkan.. Kelelahan adalah hal yang wajar dan umum terjadi, terutama dengan banyaknya kesibukan yang dihadapi. Namun, kelelahan tersebut menjadi tanda, bahwa hubungan bersama orang terkasih sedang membutuhkan perhatian ekstra dan pemeliharaan segera. Meskipun melelahkan, kejenuhan dalam pernikahan sering kali menjadi titik awal pasangan untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan seimbang.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda, terutama bagi pasangan yang sedang mengalami marital burnout. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Zamani, S., Hasani, J., Hatami, M., & Tadros, E. (2023). Emotion Dysregulation and Alexithymia within Marital Burnout through an Emotion-Focused Therapy Lens. Journal of Couple & Relationship Therapy, 22(3), 201–226. https://doi.org/10.1080/15332691.2023.2165206

Uncategorized

Menumbuhkan Growth Mindset, Langkah Awal Menuju Perubahan Positif

Champs, setiap orang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang, namun seringkali hal tersebut bergantung pada cara kita memandang tantangan dan kegagalan. Ketika kita sedang mengejar tujuan, kunci kesuksesan mungkin terletak pada cara kita melihat cara mencapai tujuan tersebut. Kita selalu bisa memilih untuk menerapkan pola pikir yang berkembang, dimana ini mengubah cara kita menghadapi rintangan dan meraih kesuksesan yang lebih berarti dalam hidup.

Growth Mindset vs Fixed Mindset

Konsep growth mindset pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Carol Dweck, seorang psikolog dari Amerika. Dr. Dweck menyatakan bahwa pola pikir kita dapat memainkan peran utama dalam kesuksesan kita dalam segala hal, baik itu pekerjaan, pendidikan, kesenian, maupun olahraga.  Orang-orang dengan growth mindset melihat kemampuan, bakat, dan kecerdasan sebagai sesuatu yang dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui kerja keras mereka sendiri. Semua itu merupakan aspek-aspek dari diri sendiri yang dapat tumbuh, berkembang, dan meningkat dengan ketekunan dan seiring berjalannya waktu. Growth mindset adalah sebuah perspektif yang menerima dan merangkul pembelajaran, ketahanan, dan pertumbuhan dari kegagalan yang dialami.

Fixed mindset, bahwa seseorang dengan pola pikir ini melihat sifat-sifat dasar sebagai sesuatu yang sudah pasti dan tidak dapat diubah. Mereka percaya bahwa jika mereka belum memiliki keterampilan untuk melakukan sesuatu, mereka akan sangat mungkin gagal ketika melakukannya. Akibatnya, mereka tidak akan pernah mencoba melakukan sesuatu yang baru.

Pola pikir yang kita miliki dapat memengaruhi bagaimana kita memandang sesuatu sebagai tantangan atau rintangan. Orang dengan pola pikir bertumbuh melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang dan menemukan sesuatu. Seseorang yang memiliki pola pikir bertumbuh sering kali membangun keterampilan baru dan mewujudkan sesuatu dengan lebih mudah karena memiliki kepercayaan akan kemampuan mereka. Sedangkan mereka yang memiliki pola pikir tetap melihat tantangan sebagai rintangan yang mustahil dan cenderung membatasi diri di zona nyaman mereka.

“Your mindset truly is your secret weapon when it comes to achieving your goals.” – Octavia Goredema

 

Karakteristik dari Growth Mindset

1 . Embracing learning

Orang-orang dengan pola pikir bertumbuh menjadikan pembelajaran sebagai cara mereka untuk hidup. Mereka selalu berpikiran terbuka dan bersedia mempelajari apa pun yang tidak mereka ketahui.

2. Pantang Menyerah

Orang-orang dengan pola pikir bertumbuh belajar dari kesalahan mereka dan menggunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki upaya mereka selanjutnya, alih-alih berkecil hati dan menyerah. Mereka mencari tahu apa yang salah dan berkomitmen untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda di lain waktu, alih-alih berasumsi bahwa mereka tidak mampu hanya karena satu kesalahan.

3. Working hard

Mereka menyadari bahwa pencapaian membutuhkan usaha, dan mereka bersedia bekerja keras untuk mencapai tujuan mereka.

4. Welcoming challenges

Alih-alih melihat tantangan sebagai hambatan, orang-orang dengan pola pikir bertumbuh melihatnya sebagai peluang untuk mempelajari hal-hal baru dan meningkatkan keterampilan mereka.

Contoh dari Growth Mindset adalah pemikiran-pemikiran yang melihat tantangan dan kegagalan sebagai:

  • “Ini adalah kesempatan untuk saya belajar.”
  • “Mengambil risiko adalah sesuatu hal yang baik, meskipun hasilnya tidak selalu berhasil.”
  • “Saya selalu bisa belajar dari kritik dan menjadikannya acuan untuk memperbaiki diri.”
  • “Tidak apa-apa untuk gagal, asalkan saya tidak menyerah.”
  • “Situasi ini sulit, tapi ini adalah kesempatan untuk saya berkreasi dan memecahkan masalah.”
  • “Kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran.”
  • “Saya tidak akan menyerah karena kegagalan ini.”
  • “Apa yang dapat saya pelajari dari situasi ini?”
  • “Bagaimana hal ini dapat membantu saya berkembang?”

“Mistakes are proof that you are trying, learning, and growing”

 

Develop a Growth Mindset

1.  Mengembangkan rasa ingin tahu

Mengembangkan ketertarikan mendalam untuk mempelajari hal-hal baru. Salah satu cara untuk mempelajari hal-hal baru adalah dengan aktif mengajukan pertanyaan, kita bisa menggali lebih dalam suatu topik dan mendapatkan perspektif yang lebih luas. Mengeksplorasi topik atau bidang yang belum kita ketahui sebelumnya adalah cara yang efektif untuk mengembangkan ketertarikan dan melangkah keluar dari zona nyaman.

2 . Mengembangkan kegigihan

Kegigihan adalah salah satu elemen paling penting dalam growth mindset. Kegigihan mencerminkan kemampuan seseorang untuk terus maju meskipun menghadapi rintangan, kegagalan, atau tantangan. Bagi seseorang dengan growth mindset, kegigihan bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang terus berusaha, bahkan ketika segala sesuatunya terasa sulit.

Kegigihan dalam pola pikir bertumbuh adalah tentang memahami bahwa pencapaian yang berharga membutuhkan waktu dan usaha. Ini adalah tentang menghargai perjalanan dan juga tujuan, menghargai proses dan bukan hanya hasil. Hal ini mendorong perspektif yang sehat tentang kegagalan, melihat kemunduran bukan sebagai akhir dari jalan, tetapi sebagai umpan balik yang berharga dan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pertumbuhan.

3 . Menghindari negative self-talk

Tanpa disadari, kita seringkali mengkritik diri sendiri, meragukan kemampuan kita, atau memperburuk perasaan kita dengan kata-kata yang merendahkan diri. Ketika kita menghadapi tantangan atau kesulitan, suara batin yang negatif bisa dengan mudah muncul dan menghalangi kita untuk tetap termotivasi atau maju ke depan. Menghindari negative self-talk adalah langkah penting dalam mengembangkan growth mindset karena cara kita berbicara kepada diri sendiri sangat mempengaruhi bagaimana kita melihat dan merespons situasi dalam hidup.

4. Kelilingi diri dengan orang-orang yang positif

Mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif dan memiliki pola pikir berkembang adalah langkah penting untuk menjaga semangat dan pertumbuhan pribadi. Lingkungan sosial kita memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang optimis, mendukung, dan berfokus pada pengembangan diri, kita cenderung lebih termotivasi dan lebih mampu untuk mengatasi tantangan

Tantangan dan kegagalan dalam hidup bukanlah sesuatu yang perlu dihindari, tetapi adalah kesempatan untuk kita dapat belajar dan berkembang. Dengan memiliki growth mindset, kita dapat melihat setiap tantangan sebagai cara untuk mengasah kemampuan kita dan menjadi versi diri yang lebih baik. Pola pikir yang bertumbuh juga membantu kita melihat kegagalan sebagai  pelajaran berharga untuk mencoba lagi dengan cara yang lebih baik dan mengajarkan kita untuk beradaptasi, serta terus maju.

Apabila champs mengalami kebingungan saat menghadapi tantangan atau kegagalan, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs dalam mendukung perubahan diri menjadi lebih baik melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

Uncategorized

Peran Penting Kecerdasan Emosional (EI) dalam Tumbuh Kembang Anak

Parents, apakah pernah mendengar mengenai kecerdasan emosional pada anak? EI atau Emotional Intelligence merupakan bentuk kecerdasan yang tidak kalah pentingnya dari kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional pada anak terlihat dari cara mereka mengungkapkan perasaan melalui kata-kata atau tindakan, kemampuan mereka dalam mendengarkan orang lain, serta bagaimana mereka menenangkan diri setelah menangis atau saat sedang marah. Kecerdasan ini yang dapat membantu anak memahami dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, melalui kecerdasan emosional.

Pengertian Emotional Intelligence

Emotional intelligence adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memahami emosi dirinya sendiri dan orang lain dengan tujuan meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosional melibatkan kemampuan untuk memperhatikan, memahami, dan bertindak berdasarkan emosi dengan cara yang efektif. Seseorang dengan emotional intelligence yang baik akan mampu mengelola emosinya saat sedang merasa marah, peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki empati.

Emosi yang dirasakan individu dapat memengaruhi kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang lain, serta kesehatan fisik dan mental individu (Salovey & Mayer, 1990). Kecerdasan emosional yang dikembangkan dengan baik memungkinkan seseorang untuk mengelola emosi secara efektif dan menghindari luapan emosi yang tidak terkontrol, misalnya saat sedang marah. Menurut penelitian Raver et al. (2007), anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih mampu memusatkan perhatian, lebih aktif terlibat dalam kegiatan sekolah, menjalin hubungan yang lebih positif, dan menunjukkan empati yang lebih besar. Selain itu, mereka juga lebih baik dalam mengendalikan perilaku, serta cenderung meraih nilai akademik yang lebih tinggi (Rivers et al., 2012).

Brackett dan Rivers (2014) mengemukakan lima keterampilan utama yang dapat diajarkan untuk mengembangkan kecerdasan emosional:

  1. Mengenali emosi pada diri sendiri dan orang lain.
  2. Memahami penyebab serta dampak emosi.
  3. Memberikan label yang tepat pada emosi.
  4. Mengekspresikan emosi secara tepat sesuai konteks waktu, tempat, dan budaya.
  5. Mengelola emosi.

“Emotional intelligence: the key to understanding, connecting, and thriving in a complex world.”

 

Konsep Emotional Intelligence

Melalui buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ pada tahun 1995, psikolog Daniel Goleman menggambarkan EI sebagai lima komponen utama:

  1. Self-awareness adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi seseorang. Anak yang sadar diri dapat mengenali kapan mereka merasa sedih, frustrasi, atau bersemangat, dan memahami bagaimana perasaan itu memengaruhi tindakan mereka.
  2. Self-regulation mengacu pada pengelolaan emosi dengan cara yang sehat. Seorang anak dengan pengaturan diri yang kuat dapat menenangkan diri mereka sendiri setelah merasa kesal, menahan perilaku impulsif, dan mengekspresikan emosi mereka dengan cara yang konstruktif.
  3. Motivasi adalah tentang menggunakan emosi untuk mendorong kegigihan dan penetapan tujuan. Anak-anak dengan motivasi yang tinggi lebih mungkin untuk mengatasi tantangan dan tetap belajar.
  4. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan dengan orang lain. Anak yang berempati akan menyadari ketika temannya sedang kesal dan dapat menawarkan kenyamanan atau dukungan.
  5. Keterampilan sosial memungkinkan anak-anak untuk menavigasi pertemanan, menyelesaikan konflik, dan berkomunikasi secara efektif. Keterampilan sosial yang kuat membantu anak-anak membangun hubungan yang positif dan bekerja sama dengan baik bersama orang lain.

Tanda Anak Mengalami Kesulitan dalam EI

  • Kesulitan Meregulasi Emosi

Anak seringkali marah, menangis berlebihan, dan merasa frustasi saat menghadapi hal kecil adalah salah satu tanda anak memiliki EI yang rendah. Kesulitan dalam mengelola emosi, membuat anak merasa kewalahan dan tidak tahu bagaimana cara menenangkan diri atau menyampaikan apa yang sedang ia rasakan.

  • Kurang Peka terhadap Perasaan Orang Lain

Anak dengan kecerdasan emosional yang rendah umumnya mengalami kesulitan dalam mengenali dan memahami perasaan orang lain. Misalnya, mereka mungkin tidak menyadari ketika seseorang di sekitarnya sedang sedih, marah, atau merasa tidak nyaman. Kurangnya kepekaan terhadap emosi orang lain membuat anak tersebut bisa tampak cuek atau tidak peduli, meskipun sebenarnya bukan itu maksudnya. Hal ini bisa berdampak pada kemampuan mereka dalam membangun hubungan sosial, seperti berteman, bekerja sama, atau menyelesaikan konflik.

  • Kesulitan Berkomunikasi saat Konflik

Anak dengan EI yang rendah biasanya belum memiliki keterampilan yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tepat. Mereka mungkin merasa marah, sedih, atau kecewa, tetapi tidak tahu bagaimana mengekspresikannya dengan kata-kata. Akibatnya, mereka bisa melampiaskan emosi tersebut lewat perilaku seperti menangis, berteriak, atau bahkan menyerang orang lain. Selain itu, mereka juga cenderung kesulitan dalam menyelesaikan masalah secara sehat, misalnya saat menghadapi konflik dengan teman. Ketidaktahuan meredakan emosi atau berkomunikasi dengan baik membuat mereka mungkin memilih menghindar, menyalahkan, atau memperburuk situasi saat sedang menghadapi konflik.

Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak

  • Mengenalkan Macam-Macam Emosi

Penting bagi anak untuk mengenal berbagai jenis emosi yang dirasakan, misalnya seperti senang, sedih, marah, kecewa, iri, dan lainnya. Memahami nama-nama emosi tersebut membantu anak untuk lebih mudah mengungkapkan perasaan yang dirasakan dan lebih mampu untuk berempati terhadap orang lain yang merasakan hal serupa. Parents dapat membantu mengenalkan emosi-emosi tersebut melalui buku cerita, kartu bergambar (flash card), film, atau momen refleksi bersama anak dari kegiatan sehari-hari. Misalnya parents dapat memberikan pertanyaan seperti, “Kamu merasa senangkah hari ini setelah kita main ke pantai?” atau “Bagaimana hari ini, apa yang kamu rasakan, Nak?”

  • Menunjukkan Empati

Menunjukkan empati kepada anak adalah langkah penting dalam mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Saat anak sedang sedih, kecewa, atau marah, parents sebaiknya tidak langsung mengalihkan perhatian atau menyuruh anak berhenti merasakan emosi tersebut. Sebaliknya, tunjukkan empati dengan membantu anak mengenali dan memahami perasaannya. Misalnya, ketika anak secara tidak sengaja merusak mainan kesayangannya, parents bisa mengatakan, “Mama juga akan merasa sedih kalau barang yang Mama sayangi rusak. Nggak apa-apa kok kalau Adik mau menangis.” Kalimat seperti ini membantu anak merasa dimengerti, divalidasi, dan belajar bahwa emosi adalah hal yang wajar.

  • Mencontohkan Cara Mengekspresikan Perasaan

Menunjukkan cara mengekspresikan perasaan dengan tepat dapat menjadi cara anak belajar bagaimana menyampaikan emosinya dengan cara yang sesuai dengan norma sosial. Salah satu cara efektif adalah dengan memberi contoh secara langsung. Misalnya, ketika orang tua sedang merasa kesal, bisa diungkapkan dengan berkata, “Mama sedang kesal karena belum bisa memasak makanan ini dengan enak, tapi Mama tidak boleh marah-marah atau langsung menyerah.” Ketika anak mendengar contoh seperti itu, anak belajar bahwa merasa kesal itu wajar, tapi tetap harus dikelola dan disampaikan dengan cara yang sehat. Hal ini membantu anak memahami bahwa ia tidak bisa bertindak sesuka hati saat merasa kecewa atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

“Do not teach your children never to be angry, teach them how to be angry.”- Lyman Abbott

 

  • Mengajari Cara Menyelesaikan Masalah

Kemampuan problem solving atau menyelesaikan masalah sangat dibutuhkan anak agar ia memiliki emotional intelligence yang baik. Anak yang mampu menghadapi dan mencari solusi atas masalah yang dihadapinya akan lebih siap menghadapi tantangan, lebih sabar, dan tidak mudah putus asa. Untuk melatih kemampuan ini, parents bisa mulai dengan membantu anak mengidentifikasi apa masalah yang sedang terjadi. Misalnya, apakah ia kesulitan menyelesaikan tugas, bertengkar dengan teman, atau merasa kecewa karena suatu hal. Setelah mengetahui sumber masalah, bantu anak memikirkan berbagai kemungkinan solusi yang bisa dicoba. Libatkan anak dalam proses berpikir ini, agar ia merasa memiliki kendali sekaligus belajar mengambil keputusan.

Jika solusi pertama belum berhasil, dukung dan beri semangat agar anak tidak langsung menyerah. Ajarkan bahwa gagal itu bagian dari proses belajar dan selalu ada cara lain yang bisa dicoba. Namun, jika anak mulai merasa frustrasi atau kewalahan, bantu ia menenangkan diri dengan melakukan aktivitas lain sejenak, seperti bermain, menggambar, atau berjalan-jalan. Setelah suasana hati membaik, ajak anak kembali mencoba menyelesaikan masalahnya. Pendekatan ini membantu anak belajar bahwa mengelola emosi dan mencari solusi adalah proses yang berjalan beriringan.

Sebagian anak secara alami mengalami kesulitan dalam mengembangkan kecerdasan emosional selama masa kanak-kanak mereka, namun parents memiliki berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membantu anak mengenal emosi yang mereka rasakan. Jika anak cenderung memendam perasaannya, mereka mungkin membutuhkan dorongan bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang wajar. Parents dapat menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari penghakiman untuk anak berbagi tentang apa yang dirasakan. Pendekatan ini juga dapat menggunakan ungkapan seperti, “Merasa sedih itu tidak apa-apa, Nak. Mau ceritakah sama Mama/Papa?”, yang bisa mendorong anak untuk mulai terbuka.

Sementara itu, jika anak sering meluapkan emosinya secara berlebihan, mereka mungkin perlu dibimbing untuk belajar mengelola emosi diri. Teknik seperti latihan pernapasan atau menyediakan media kreasi untuk menuangkan emosi bisa sangat membantu mereka dalam mengelola emosi yang intens. Namun, di beberapa kondisi anak bisa jadi meluapkan emosinya karena ada kebutuhan yang tidak terpenuhi, seperti perhatian atau dukungan dari orang tua. Maka dari itu, perlu adanya refleksi dan penggalian lebih mendalam mengenai emosi yang meledak-ledak yang dimiliki anak.

Bagi anak yang mengalami kesulitan dalam berempati, mereka bisa dibantu dengan mengenalkan sudut pandang dari orang lain. Cara yang efektif untuk dilakukan bersama anak, misalnya membaca buku dengan karakter yang beragam, menonton film yang membahas perasaan, atau mengajak anak berdiskusi tentang bagaimana perasaan orang lain dalam situasi tertentu. Kegiatan-kegiatan ini dapat memperluas pemahaman mereka terhadap emosi orang lain dan meningkatkan kemampuan berempati pada anak.

Kecerdasan emosional adalah keterampilan penting yang berpengaruh besar terhadap perkembangan anak hingga mereka dewasa. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa kecerdasan emosional bukanlah kemampuan yang bersifat tetap, melainkan kemampuan yang bisa terus diasah dan ditumbuhkan melalui interaksi sehari-hari. Peran orang tua untuk menyediakan lingkungan yang penuh dukungan, memberi contoh dalam mengenali dan mengelola emosi, serta mendorong komunikasi terbuka, sangat penting untuk membantu anak membangun keterampilan yang diperlukan agar bisa menghadapi kehidupan dengan percaya diri dan ketahanan emosional.

“When we can talk about our feelings, they become less overwhelming, less upsetting, and less scary.” – Fred Rogers

 

Parents memiliki peran penting dalam memberikan anak ruang untuk mengeksplorasi emosi yang mereka rasakan dan bagaimana mereka mengelola emosi tersebut. Hal ini dapat dimulai dengan membangun lingkungan komunikasi yang aman dan tanpa penghakiman bagi anak. Focus on the Family Indonesia siap mendukung parents untuk membekali anak memahami emosi dirinya sendiri dan orang lain. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Brackett, M. A., & Rivers, S. E. (2014). Transforming students’ lives with social and emotional learning. In R. Pekrun & L. Linnenbrink-Garcia (Eds.), International handbook of emotions in education (pp. 368–388). Routledge/Taylor & Francis Group.

Raver, C. C., Garner, P. W., & Smith-Donald, R. (2007). The roles of emotion regulation and emotion knowledge for children’s academic readiness: Are the links causal? In R. C. Pianta, M. J. Cox, & K. L. Snow (Eds.), School readiness and the transition to kindergarten in the era of accountability (pp. 121–147). Paul H. Brookes Publishing Co..

Rivers, S. E., Brackett, M. A., Reyes, M. R., Mayer, J. D., Caruso, D. R., & Salovey, P. (2012). Measuring Emotional intelligence in Early Adolescence with the MSCEIT-YV. Journal of Psychoeducational Assessment, 30(4), 344–366. https://doi.org/10.1177/0734282912449443

Salovey, P., & Mayer, J. D. (1990). Emotional intelligence. Imagination Cognition and Personality, 9(3), 185–211. https://doi.org/10.2190/dugg-p24e-52wk-6cdg

The Green Elephant. (2025, April 8). Developing emotional intelligence in childhood. https://www.thegreenelephant.com.au/developing-emotional-intelligence-in-childhood/

Uncategorized

Tips untuk Tetap Pacaran Meski Sudah Menikah

Couples, baru-baru ini banyak orang yang merayakan hari Valentine bersama orang terkasih. Banyak pasangan yang saling bertukar hadiah, pergi makan malam romantis, atau sekadar jalan-jalan pada hari tersebut. Namun, mengapa upaya berbagi kasih ini hanya dilakukan pada hari-hari tertentu saja ketika kita bisa membuat pasangan kita merasa istimewa dan dicintai setiap harinya.

Menginginkan kehidupan pernikahan yang bahagia dan sehat bukan hanya impian belaka. Sebaliknya, hal ini membutuhkan komitmen dan tindakan yang sengaja untuk terus berinvestasi dalam pernikahan yang dijalani. Bahkan ketika muncul banyak tanggung jawab dalam pernikahan, seperti kesibukan dalam berkarier atau tanggung jawab dalam mengurus anak, Couples akan sangat mungkin merasa lebih sulit untuk memprioritaskan pernikahan dan pasangan anda. Lalu, bagaimana caranya agar anda dan pasangan dapat membangun fondasi pernikahan yang lebih kuat?

Salah satu cara yang paling efektif untuk menjaga keintiman dan komitmen dalam hubungan pernikahan adalah dengan tetap meluangkan waktu untuk berkencan. Meskipun sederhana, berkencan menjadi cara untuk menjaga kualitas hubungan yang sehat dan memberi ruang bagi pasangan saling berbagi kasih satu sama lain.

Baca juga: Embracing Changes: Menyikapi Peralihan dari Pacaran ke Pernikahan

Mengapa berkencan itu penting meski pasangan sudah menikah adalah sebagai berikut.

1.  Encourages Communication: Berkencan menjadi cara untuk membuka percakapan yang terbuka dan jujur, yang seringkali terabaikan oleh pasangan di tengah kesibukan yang dimiliki. Berkencan memungkinkan pasangan meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan satu sama lain dan memperkuat keintiman emosional. Suasana yang santai saat berkencan juga dapat membuka percakapan yang lebih dalam dapat terjadi secara alami.

2. Reinforces Commitment: Menegaskan kembali komitmen satu sama lain melalui kencan yang teratur akan membangun rasa aman dan dukungan emosional terhadap pasangan. Ini adalah cara untuk merayakan cinta dan memastikan kedua pasangan merasa dihargai, didengar, dan dilihat.

3. Keeps Things Interesting: Kebaruan dan variasi dari pengalaman bersama-sama akan membuat hubungan pernikahan tetap menarik dan menjaga kualitas hubungan tetap terjaga. Pasangan dapat mencoba hal-hal baru bersama atau kembali mengunjungi tempat bersejarah dalam hubungan untuk menciptakan pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan.

4.  Allows You to Relax: Setelah menikah, akan ada banyak tekanan dan waktu yang tersita untuk banyak hal. Semua hal tersebut bisa membuat waktu berkualitas bersama pasangan menjadi sulit untuk dilakukan. Berkencan memberikan kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas tersebut dan memungkinkan pasangan untuk sepenuhnya fokus pada satu sama lain, tanpa gangguan eksternal.

“The best love isn’t found, it’s built, moment by moment.”

 

Meskipun pasangan sudah hidup bersama, penting untuk tetap meluangkan waktu khusus satu sama lain, setidaknya sekali dalam seminggu. Couples tidak perlu menunggu hari-hari khusus untuk pergi berkencan, seperti hari ulang tahun atau hari peringatan lainnya, serta perlu diingat bahwa kencan tidak mesti melibatkan kegiatan yang mewah atau mahal. Kegiatan sederhana, seperti menonton film bersama di rumah atau makan di luar bersama, tetap bisa menjadi cara yang efektif untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama. Yang terpenting adalah menciptakan momen di mana kedua pasangan bisa benar-benar fokus pada satu sama lain, tanpa adanya gangguan. Untuk itu, pastikan untuk meninggalkan ponsel atau perangkat lain yang bisa mengalihkan perhatian, sehingga couples bisa fokus untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama pasangan anda. 

Beberapa cara di bawah ini dapat digunakan untuk “berkencan” bersama pasangan anda.

  • Cook a Romantic Dinner

Memasak makanan bersama pasangan bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan  memberikan kesempatan untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan berbagi kreativitas di dapur. Memasak bersama bisa dilakukan dengan mencoba resep baru atau memasak hidangan favorit satu sama lain. Selain itu, couples dapat makan bersama setelah memasak yang memberikan rasa pencapaian dan kebersamaan yang lebih mendalam karena pasangan bisa menikmati hasil kerja keras bersama-sama.

  • Menulis Surat Cinta

Coba luangkan waktu untuk merefleksikan cinta satu sama lain dengan cara yang penuh perhatian, seperti menulis surat cinta yang tulus. Menulis surat memberi kesempatan untuk menggali perasaan dan mengungkapkan dengan jujur bagaimana anda bersyukur atas pasangan anda, mengapa ia begitu berarti, dan apa yang membuat hubungan tersebut spesial bagi anda. Ini adalah cara yang indah untuk berbagi rasa syukur atas segala yang telah pasangan lakukan dan bagaimana mereka memengaruhi hidup anda. Selain itu, ini juga bisa menjadi kenangan manis yang bisa dibaca kembali di masa depan, mengingatkan pasangan akan betapa berartinya mereka dalam hidup anda.

  • Read a Book Together 

Membaca buku bersama pasangan dan mendiskusikannya adalah cara yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersama. Couples bisa memilih buku yang menarik bagi kalian berdua, lalu pergi ke kedai kopi lokal atau toko buku untuk menikmati waktu bersama. Atau secara bergantian memilih buku yang ingin dibaca, cara ini memberi kesempatan bagi kedua pasangan untuk berbagi minat dan pandangan masing-masing.

  • Menanam Tumbuhan 

Couples dapat memilih tanaman yang memiliki makna khusus bagi anda berdua, seperti memilih bunga yang melambangkan cinta atau tanaman herba yang bisa digunakan untuk memasak. Tanaman banyak disimbolkan sebagai cara untuk merayakan perjalanan hubungan yang berkembang. Sembari menanam, ambil waktu untuk saling berbicara, berbagi ide, dan tertawa bersama. Aktivitas ini memungkinkan pasangan untuk bekerja sama dan menikmati waktu bersama tanpa gangguan. Di kemudian hari, pasangan bisa menghabiskan waktu bersama sambil merawat sesuatu yang tumbuh dan berkembang, sama seperti hubungan anda.

  • Menghabiskan Quality Time Bersama

Kegiatan sederhana seperti berjalan-jalan, menonton film, atau bahkan hanya duduk dan mengobrol, memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang lebih dekat dan erat dengan pasangan. Menghabiskan waktu berkualitas bersama bisa membuat pasangan saling memberi perhatian, berbagi pengalaman, dan menikmati kebersamaan tanpa gangguan.

  • Game Night 

Merencanakan Game Night  bersama pasangan bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu berkualitas. Selain hiburan, kegiatan ini juga memperkuat kerjasama, komunikasi, dan kompetisi sehat antara pasangan. Ini menjadi kesempatan untuk tertawa bersama dan membuat kenangan manis bersama.

  • Surprise Date Night

Merencanakan kejutan kencan malam untuk pasangan dengan makanan, aktivitas, atau hiburan favorit pasangan anda. 

  • Maraton Film

Mengadakan maraton film di rumah adalah cara yang sempurna untuk bersantai dan menikmati waktu bersama pasangan. Pilihlah film-film favorit anda berdua yang bisa berupa genre tertentu yang disukai, atau bahkan menonton film yang belum pernah ditonton sebelumnya. Selama menonton, couples bisa bersantai di sofa, berpelukan, dan menikmati camilan favorit. Ini adalah cara yang sangat nyaman untuk menikmati kebersamaan dan menciptakan momen intim yang menyenangkan.

  • Volunteer

Mendaftar untuk menjadi sukarelawan di organisasi lokal atau lembaga amal dapat memberikan kesempatan untuk berbagi tujuan dan nilai, sekaligus membuat dampak positif di sekitar anda. Kegiatan sukarela memberi rasa pencapaian bersama dan memperkuat rasa empati yang sangat penting dalam hubungan. 

Apa pun rencana yang sudah ada di kalender anda, selalu sediakan tanggal khusus setiap bulan untuk pergi berkencan dengan pasangan anda. Berkencan menjadi kesempatan untuk memberitahu pasangan bahwa kita tetap memprioritaskan, memperhatikan, dan  menghargai keberadaan mereka dalam hidup kita. Cinta adalah suatu tindakan dan berkencan bersama pasangan adalah kesempatan untuk saling menunjukkan cinta tersebut.

Perlu diingat bahwa yang paling penting adalah menjadikan kencan sebagai kesempatan untuk menunjukkan rasa cinta dan penghargaan terhadap satu sama lain. Untuk itu, cobalah berkreasi dan membuat hari-hari tersebut menjadi spesial dan bermakna bagi satu sama lain.

“A romantic gate isn’t just about where you go, but who you’re with and the moments you share.”

 

Focus on the Family Indonesia menyusun acara khusus untuk pasangan suami istri yang ingin mempererat hubungan dan menghidupkan kembali kehangatan cinta dalam pernikahan anda melalui “Date Night. Couples juga bisa mendapatkan layanan konseling pernikahan untuk mendapatkan tips-tips menjaga hubungan pernikahan anda. Informasi lebih lanjut dapat couples dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Uncategorized

The Power of Listening: Memahami Suara Anak

Parents, sebagai seorang orang tua apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa penting untuk Anda mendengarkan suara anak? Setiap individu, baik orang dewasa juga anak-anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan dengan seksama. Mendengarkan suara anak juga menjadi salah satu alat yang efektif untuk menciptakan hubungan yang mendalam dengan mereka. Tidak sampai disitu, ketika orang tua mendengarkan anak mereka, orang tua secara langsung menciptakan ruang bagi anak untuk dapat mengekspresikan diri mereka sendiri, tempat yang aman di mana mereka merasa didengar.

Listen with Love and Care

Mendengarkan adalah sebuah seni, namun mendengarkan anak kita dan memahami kata-kata, serta makna di baliknya lebih dari sekadar seni. Seni ini mengharuskan orang tua untuk hadir sepenuhnya, baik secara fisik dan mental untuk dapat memperhatikan setiap kata dan makna yang disampaikan oleh anak. Pendekatan dengan mendengarkan dapat menghasilkan ikatan yang lebih kuat antara orang tua dan anak. Hal ini didukung oleh terbentuknya kepercayaan dan konektivitas emosional, dimana anak dapat merasa pikiran, pendapat, dan perasaannya istimewa serta dihargai oleh orang tua mereka. Maka, penting untuk parents dapat secara aktif mendengarkan, menghargai setiap pendapat, dan mencoba memahami perasaan dibalik ungkapan yang anak bagikan. Sebagai orang tua, kita selalu bisa memilih untuk mendengarkan anak dengan penuh perhatian, terutama melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, nada suara, dan perilaku yang mereka tunjukkan. Memahami anak secara keseluruhan saat mereka sedang berbicara, dapat membantu kita memahami mereka dengan lebih baik lagi.

Mendengarkan secara mendalam adalah sebuah keterampilan yang membutuhkan latihan dan komitmen. Hal ini mengharuskan kita untuk mengesampingkan ego, pendapat, penilaian, dan pengetahuan kita. Kita berkomitmen hanya untuk benar-benar mendengar apa yang dikatakan orang lain karena fokusnya adalah untuk meringankan penderitaan orang yang berbicara. Ketika parents mengizinkan anak untuk mengekspresikan perasaan, kata-kata, dan pikiran mereka dengan bebas, kita memberikan kesempatan yang luar biasa untuk mereka dapat mengurangi beban yang mengganjal. Pada dasarnya karena kita semua manusia, pun anak-anak kita, mereka hanya ingin didengarkan dan merasa dimengerti oleh orang-orang terdekat, terutama oleh orang tua mereka.

Parents, seperti yang sudah dituliskan di atas bahwa penting untuk mendengarkan tidak hanya kata-kata yang diucapkan oleh anak, tetapi juga perasaan yang tersembunyi di baliknya. Contohnya, jika anak mengatakan, “Aku benci teman-temanku dan tidak ingin bertemu dengan mereka lagi,” perasaan yang tidak terucapkan bisa berupa rasa terluka, kesepian, atau ditolak. Dalam situasi seperti ini, perasaan yang mendasari pernyataan tersebut lebih menggambarkan situasi yang sedang dihadapi oleh anak. Maka, parents dapat mencoba mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakannya

“Listening is one of the loudest forms of kindness”

The Benefits of Listening to Children

  • Memahami Sudut Pandang Anak

Ketika kita mendengarkan anak dengan penuh perhatian, kita membuka ruang bagi mereka untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan perasaan mereka. Seperti yang kita tahu, anak-anak sering kali kesulitan mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata yang tepat, sehingga melalui mendengarkan secara aktif, kita bisa lebih mudah memahami perasaan mereka, baik itu kegembiraan, ketakutan, atau bahkan kekhawatiran.

Mendengarkan juga membantu kita sebagai orang tua untuk dapat lebih memahami perspektif anak, yang sering kali berbeda dari perspektif orang dewasa. Memahami sudut pandang anak dapat memungkinkan kita untuk memberikan dukungan yang lebih baik, baik dalam bentuk kata-kata maupun tindakan sesuai dengan apa yang anak butuhkan.

  • Anak Belajar Keterampilan Berkomunikasi 

Saat orang tua mendengarkan anak secara mendalam, mereka akan belajar bahwa pendapat dan perasaannya dihargai dan dianggap penting. Hal ini membentuk fondasi yang kuat untuk hubungan yang saling menghormati. Saat orang tua memberikan perhatian penuh saat mendengarkan anak, kita sekaligus mengajarkan mereka cara berkomunikasi yang baik, yaitu penuh empati, tanpa distraksi, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Anak-anak yang terbiasa didengarkan sedari kecil, akan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain dengan lebih efektif. Juga, anak yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan orang tua bahkan sampai nanti mereka beranjak dewasa, mereka akan tetap merasa nyaman berbagi cerita atau masalah kepada orang tua. Orang tua yang sejak awal sudah menjaga jalur komunikasi yang terbuka bersama anak, bermanfaat membangun kepercayaan dan mempermudah anak untuk berbicara tanpa rasa takut akan penilaian atau penolakan.

  • Membangun Self Esteem Anak

Mendengarkan anak juga berperan penting dalam meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri mereka. Ketika anak didengarkan, mereka akan merasa bahwa pendapat mereka dihargai dan dihormati. Selain itu, hal ini memberi kesempatan bagi anak untuk belajar dan berlatih mengungkapkan ide atau pandangannya, meskipun dengan pengalaman yang terbatas. Saat terbentuknya rasa percaya diri ini, anak akan lebih mudah mengembangkan keterampilan baru, seperti keterampilan sosial atau kemampuan untuk merefleksikan pengalamannya. 

  • Mengurangi Kecemasan pada Anak

Saat orang tua mendengarkan anak, kita membantu proses saat anak sedang menghadapi kecemasan dan peristiwa tidak menyenangkan yang mereka alami. Sebagai pendengar yang penuh kasih, tugas kita bukanlah langsung memberikan nasihat atau pembenaran, tetapi memberikan mereka ruang untuk mengungkapkan perasaan dan meringankan beban. Mereka dapat berbagi apa yang ada dalam pikiran mereka secara terbuka dengan kita.

Mendengarkan yang baik adalah mendengarkan secara aktif, termasuk saat kita sedang berkomunikasi dengan anak. Mendengarkan secara aktif membuat anak tahu bahwa kita tertarik dengan apa yang mereka katakan. Berikut adalah cara untuk mendengarkan secara aktif.

  • Memberikan perhatian penuh saat anak berbicara, termasuk melalui bahasa tubuh yang positif, seperti menjaga kontak mata, tubuh menghadap ke arah pembicara, dan merilekskan ekspresi wajah. Parents juga dapat menempatkan diri pada ketinggian yang sama atau lebih rendah dari anak. Selain itu, coba berikan anggukan atau tanggapan sederhana untuk menunjukkan bahwa kita tetap mendengarkan. 
  • Saat anak sedang berbicara dengan serius, kita dapat menghentikan terlebih dahulu hal-hal yang sedang dilakukan dan memberikan atensi penuh pada anak. Terutama saat sedang bermain ponsel, kita dapat meletakkannya agar tidak mendistraksi. 
  • Setelah anak selesai berbicara, kita dapat merefleksikan atau mengulangi kembali apa yang mereka katakan atau apa yang mereka rasakan untuk memastikan pesan yang mereka sampaikan.
  • Orang tua dapat selalu memberikan pelukan yang dibutuhkan kepada anak saat mereka sedang bercerita hal yang membuat mereka sedih.

“Having a parent that listens creates a child who believes they have a voice that matters in this world” – Rachel Macy Stafford

 

Saat parents mempraktikkan mendengarkan dengan penuh kasih sayang, kita telah membangun rasa saling percaya, hubungan yang tulus, dan ikatan yang kuat dengan anak-anak. Berlatih mendengarkan dengan penuh kasih dan aktif adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang penuh kepercayaan. Mari kita berkomitmen untuk membesarkan anak-anak yang merasakan didengar dan dimengerti secara penuh. Mari kita ciptakan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak untuk dapat selalu berbagi perasaan mereka.

Bila parents mengalami kesulitan saat mendengarkan dan memahami suara mereka. FOFI menyediakan program konseling untuk parents agar bisa berdiskusi dengan tenaga profesional untuk perkembangan keluarga Anda. FOFI juga menyediakan program parenting ‘Raising Future Ready Kids’ yang dapat membekali parents dengan skills untuk mendampingi pertumbuhan anak dalam membangun komunikasi yang efektif. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Bloom Learning Centre. (2024, November 12). Why is it important to listen to your child. Bloom. https://www.bloom.ky/blogs/important-to-listen-to-your-child

Smith, L. (2025, February 21). EP #172: How to listen to your children So it makes a difference – the Peaceful Parent. The Peaceful Parent. https://thepeacefulparent.com/2024/04/24/compassionate-listening-children-connection/

 

Uncategorized

Reparenting Inner Child: Menemukan Kedamaian dengan Diri Sendiri

Champs, dalam perjalanan hidup ini, kita bisa jadi merasa bahwa kita tidak sepenuhnya hidup sesuai dengan potensi yang dimiliki. Mungkin saja kita mengalami perasaan hampa, ketidakberdayaan, dan mungkin juga merasa sangat tidak terhubung dengan orang lain yang membuat kesulitan dalam menjalin hubungan, merasa tidak seimbang secara emosional, atau merasa sulit untuk membuat keputusan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai diri. Masalah-masalah seperti ini sering kali dapat ditelusuri ke emosi yang belum terselesaikan di masa kecil, di sinilah konsep inner child berperan.

What is an Inner Child?

Inner child didefinisikan sebagai bagian dari diri yang merefleksikan pengalaman masa kecil anak dalam diri dan bermanifestasi di masa dewasa sebagai persepsi, emosi, pikiran, dan keyakinan yang dirasakan secara internal, atau sebagai perilaku dan tindakan eksternal. Kadang-kadang, kita mungkin menyadari bahwa perilaku atau emosi tertentu yang kita rasakan menyerupai apa yang kita alami di masa kecil, yang membuat kita merasa tertekan saat mencoba untuk menavigasi dunia ketika dewasa. Beberapa perilaku ini dapat berasal dari trauma, rasa sakit, dan pengabaian emosional yang dialami saat masih kecil. Perasaan dan rasa sakit yang tidak terselesaikan ini terkubur jauh di dalam alam bawah sadar kita, yang bagi banyak orang adalah cara mereka melindungi diri dari penderitaan tersebut. Namun, perasaan-perasaan tersebut bisa muncul kembali dalam bentuk penarikan diri, agresi pasif, ketakutan akan ditinggalkan, ketidakmampuan untuk menerima, dan berbagai bentuk lainnya.

“My life consists of doing things my inner child would appreciate. I honor that kid.”

Bekerja sama dengan inner child kita berkaitan dengan satu pengamatan sederhana, bahwa setiap orang dewasa pernah menjadi anak-anak. Anak-anak dalam diri kita tidak hilang begitu saja seiring kita bertumbuh dewasa. Bagian dari diri inner child kita tetap tinggal di dalam ketidaksadaran yang mewakili kualitas dan pola hidup masa kecil kita. Inner child sering kali muncul saat kita menghadapi tantangan yang mengingatkan kita pada kenangan traumatis dari masa kecil. Selama kita belum secara sadar memproses dan mengintegrasikan kenangan-kenangan tersebut, inner child akan terus berperan. Memahami apakah inner child membutuhkan perhatian kita dimulai dengan mengenali pola emosi dan perilaku tertentu. Beberapa tanda yang umum, sebagai berikut:

  • Self-criticism and low self-esteem.
  • Kesulitan mengidentifikasi atau mengekspresikan emosi.
  • Keterampilan mengatasi masalah yang tidak sehat, seperti penggunaan narkoba, minum-minuman keras, atau menjauhkan diri dari kenyataan melalui permainan game dan media sosial yang berlebihan.
  • Perasaan tidak layak atau keraguan diri yang terus-menerus.
  • Reaksi terhadap situasi tampak ‘berlebihan’ atau ‘tidak sesuai dengan keadaan’.
  • Kesulitan membentuk atau mempertahankan hubungan yang sehat.

Baca juga: Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Reparenting Inner Child

Proses reparenting inner child berfokus untuk memastikan inner child merasakan nilai, cinta, dan perlindungan yang tidak didapatkan selama masa kanak-kanak. Beberapa dari kita mungkin tinggal di lingkungan dimana figur orang tua yang tidak hadir sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional. Maka, reparenting dapat diartikan juga sebagai memberikan diri apa yang tidak diterima di masa kecil dari orang tua kita. Konsep ini berfokus pada cara kita mengasuh dan merawat diri sendiri dengan cara yang penuh kasih sayang dan perhatian, seolah kita merawat anak kecil dalam diri kita yang terluka atau memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Selama masa kecil, kita mungkin mengalami pengalaman yang menyakitkan atau kurang mendapatkan perhatian emosional yang dibutuhkan, yang bisa meninggalkan luka atau pola perilaku negatif yang terbawa hingga dewasa. Reparenting mengajak kita untuk kembali ke masa lalu tersebut dan memberi perhatian yang mungkin kurang kita terima pada saat itu. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan luka emosional, mengubah pola pikir atau perilaku yang maladaptif, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain.

Reparenting dapat dilakukan oleh diri sendiri yang bertujuan untuk merawat diri, memberi, dan memungkinkan diri kita menerima validasi, cinta, dan pengasuhan yang mungkin tidak diterima saat kita kecil. Latihan reparenting ini bisa dilakukan di pagi hari, saat sebelum tidur, atau ketika kita merasa frustrasi dan sedang membutuhkan dukungan. Semakin kita mencoba untuk terhubung dengan inner child kita, semakin mudah untuk mengenali tanda-tanda luka emosional dan bagaimana luka tersebut muncul. Namun, bila champs merasa luka dari inner child terlalu berat untuk dihadapi sendirian, champs sangat disarankan untuk berkomunikasi dengan terapis atau konselor yang dapat membimbing latihan reparenting dan memberikan dukungan profesional lebih lanjut.

Cara Mendorong Dialog Terapeutik dengan Inner Child

1.  Menulis Surat Kepada Inner Child 

Menulis surat adalah salah satu cara efektif untuk memulai dialog dengan bagian diri yang lebih muda. Kita bisa mulai dengan menyiapkan dua lembar kertas dan dua amplop, yang masing-masing surat akan ditujukan kepada diri kita saat ini dan diri kita di masa kecil. Surat-surat ini sebagai ruang untuk mengekspresikan, melepaskan, dan menyembuhkan diri. Surat yang ditulis kepada versi dewasa diri yang berasal dari inner child kita, seharusnya bebas dari segala batasan. Kita bisa mengekspresikan emosi tanpa rasa takut akan penilaian atau pengekangan, sesuai dengan perspektif inner child kita. Dalam surat kepada inner child, penting untuk memilih kata-kata dengan hati-hati karena kita sedang berbicara dengan bagian diri yang sangat rentan, yang akan menyerap kata-kata baik secara sadar maupun tidak sadar. Proses ini bertujuan untuk memberikan kasih sayang, validasi, dan dukungan kepada inner child di masa lalu, guna membantu menyembuhkan luka emosional yang masih ada.

2.  Berkomunikasi dengan Inner Child 

Dalam latihan ini, champs dapat duduk atau berdiri di depan cermin, atau juga duduk dengan nyaman tanpa cermin. Jika menggunakan cermin, champs dapat berbicara secara langsung dengan bayangan diri, lalu ajukan pertanyaan dan jawab dengan bebas tanpa menahan diri sendiri. Jika kita mulai merasa tegang atau tertekan, coba berikan penghiburan kepada bayangan kita di cermin. Ucapkan kata-kata yang sangat ingin kita dengar dari seseorang yang dicintai, yang dulunya tidak pernah kita dengar saat masih kecil atau berikan pelukan yang sangat ingin didapatkan. Sampaikan dengan tepat apa yang perlu didengar oleh inner child kita sekarang untuk menyembuhkan dan menenangkan inner child, agar diri kita yang sekarang juga bisa merasakan kedamaian dan ketenangan.

3. Membuat Jurnal 

Seperti halnya menulis jurnal dapat membantu kita mengidentifikasi pola-pola dalam kehidupan dewasa yang ingin diubah, menulis jurnal dari sudut pandang inner child juga bisa membantu kita melihat pola-pola negatif yang sudah terbentuk sejak masa kecil. Saat latihan jurnal ini, coba tinggalkan sejenak diri kita yang sekarang dan coba salurkan sebagai diri yang masih anak-anak. Kita bisa mencoba foto atau latihan visualisasi singkat untuk membantu mengingat kembali bagaimana perasaan atau peristiwa pada usia tertentu yang ingin dieksplorasi.

4. Meluangkan Waktu untuk Bermain 

Cobalah luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai saat masih kecil. Ambil buku mewarnai, dengarkan musik, bermain dengan tanah liat, menulis cerita, berlari tanpa alas kaki di rumput, atau bahkan menonton film kartun. Hal yang terpenting adalah agar kita bisa merasakan kembali kreativitas dan inspirasi saat kecil dulu. Champs dapat membuat daftar acara, film, buku, dan aktivitas yang disukai ketika kecil. Lalu, coba tonton kembali beberapa acara dari daftar atau baca buku tersebut yang membawa kita ke masa yang berbeda. Tidak masalah jika hal itu terasa kekanak-kanakan atau aneh karena setelah dewasa pun, kita masih berhak untuk bermain. Kesenangan dari bermain ini dapat membantu kita lebih dekat dengan diri sendiri.

“We don’t stop playing because we grow old. We grow old because we stop playing” – George Bernard Shaw

 

Dengan waktu, usaha dan bimbingan yang berkelanjutan, mereparasi inner child dapat membuka pintu-pintu baru dalam perjalanan penyembuhan kita. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, inner child kita masih menunggu pelukan penuh kasih yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pelukan kepada diri sendiri adalah sesuatu yang dapat kita ciptakan dan pertahankan selalu kepada diri kita sendiri. Juga, memvalidasi rasa sakit yang muncul akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi saat masih kecil dan meyakinkan inner child kita, bahwa meskipun kita mungkin pernah berada dalam situasi yang tidak aman pada waktu itu, sekarang kita adalah orang dewasa yang mampu dan akan melindungi anak itu dengan cara apa pun.

“Healing your inner child means giving yourself the love, protection, and safety that was missing. It’s never too late to rewrite your story with kindness.” – Sunrise Serenity

 

Jika champs tertarik untuk mengeksplorasi masa lalu dan mengenal inner child diri, champs dapat meminta bantuan oleh terapis atau profesional yang memiliki pengalaman di bidang ini. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs berproses dalam menavigasi gejolak emosi ini dan mempelajari strategi yang bermanfaat untuk menyembuhkan inner child melalui program konseling. Champs dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Ford, D. (2021, July 16). Reparenting your Inner Child: Ways to encourage therapeutic dialogue. Step up for Mental Health – to Educate. Fight Causes. Change Minds on Mental Health. https://www.stepupformentalhealth.org/reparenting-your-inner-child/#:~:text=When%20you%20communicate%20with%20your,%2C%20important%2C%20and%20in%20control 

8 Ways to start Healing your inner Child. (2023, February 13). Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/inner-child-healing#reach-out

Uncategorized

Figur Ayah, Cinta Pertama di Kehidupan Anak Perempuannya

Ungkapan bahwa ayah merupakan cinta pertama bagi putrinya bukan sekadar kata-kata tanpa makna. Namun, kalimat tersebut menegaskan bahwa selalu ada tempat dalam jiwa seorang perempuan yang dikhususkan untuk sosok ayahnya. Tentu saja, tidak semua anak perempuan sama, tetapi hampir setiap anak perempuan pasti menginginkan ikatan yang erat dengan pria paling penting dalam hidupnya. Hubungan antara ayah dan anak perempuannya sangat memengaruhi bagaimana sang anak akan memandang pria lain dalam hidupnya.

Ketika Ayah Adalah Cinta Pertama Putrinya

Sebagai seorang ayah, mungkin anda masih mengingat dengan jelas momen ketika perawat pertama kali meletakkan bayi yang dibungkus selimut merah muda ke dalam pelukan anda. Ayah juga mungkin masih ingat betapa halus dan lembutnya saat kulit bayi perempuan anda bergesekan dengan jari jemari besar kita. Pada saat itu, ayah barangkali berjanji dalam hati bahwa akan selalu melindungi bayi kecil yang polos dan manis itu dari segala hal buruk. Ketika ia mulai tumbuh dan belajar berjalan, ayah ada di sana untuk menangkapnya setiap kali ia hampir terjatuh saat mencoba langkah pertamanya. Besar kemungkinan, anak perempuan kita pernah memandang wajah ayahnya dengan wajah tersenyum lebar dan dalam hati mengagumi sosok ayah yang hadir di hidupnya. Sejak momen itu, ayah sudah menempati ruang istimewa di hati anak perempuannya sebagai cinta pertama sang anak.

“The love between father and daughter knows no distance.”

Bagi seorang perempuan, ikatan dengan ayahnya merupakan pengalaman awal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan dengan sosok laki-laki lain dalam hidupnya. Ayah adalah pria pertama yang ingin ia kagumi dan dapatkan perhatiannya. Ayah adalah pria pertama yang diajak bercanda, yang memeluk dan mencium dengan penuh kasih, serta yang membuatnya merasa sebagai perempuan paling istimewa di antara yang lain. Semua momen berharga ini memainkan peran penting dalam membentuk sisi kewanitaannya. Cinta dan perhatian tulus seorang ayah turut mempersiapkan anak perempuannya untuk menjalani peran sebagai kekasih, tunangan, dan istri kelak.

Dalam konteks hubungan antara ayah dan anak, keterlibatan seorang ayah memiliki pengaruh yang khas dan mendalam. Pola interaksi dan persepsi anak perempuan terhadap ayahnya akan membentuk dasar bagi hubungan romantis yang ia jalani di masa depan, baik dalam aspek positif maupun negatif. Apabila ayah bersikap menolak atau mengabaikan, anak perempuan cenderung menghabiskan hidupnya dengan upaya untuk mengisi kekosongan emosional yang ditinggalkan figur ayah dalam dirinya. Sebaliknya, jika ayah menunjukkan sikap hangat, peduli, dan melindungi, anak perempuan akan cenderung mencari pasangan yang mencerminkan kualitas tersebut. Pandangan seorang ayah terhadap putrinya, seperti menganggapnya cantik, berharga, dan feminin, juga akan memengaruhi cara anak perempuan memandang dirinya sendiri.

Secara lebih luas, ayah berperan penting dalam memberi contoh bagaimana pria yang baik memperlakukan wanita, sekaligus menetapkan standar bagi hubungan interpersonal anak perempuan dengan sosok pria lainnya di kemudian hari. Ketidakhadiran kasih sayang dan perhatian dari ayah berisiko menimbulkan perasaan diabaikan, tidak dihargai, dan mendorong anak perempuan untuk mencari penerimaan di lingkungan lain. Dampak dari pengalaman ini bersifat jangka panjang, memengaruhi citra diri, kemampuan membangun relasi, dan peran sosial yang dijalani anak perempuan dalam lingkungan sosialnya.

1 .Harga diri yang rendah

Sejak masa kanak-kanak, interaksi dengan orang tua, terutama ayah berperan penting dalam membentuk konsep diri dan pandangan terhadap hubungan sosial. Anak perempuan yang tidak mendapatkan dukungan emosional dan kasih sayang yang memadai dari ayahnya cenderung merasa tidak dihargai atau tidak dicintai. Hal ini dapat menanamkan keyakinan bahwa dirinya tidak pantas menerima perhatian atau kasih sayang, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan harga diri.

2. Masalah keterikatan (attachment issues)

Anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah yang tidak hadir secara emosional berisiko mengalami masalah keterikatan saat dewasa. Gangguan keterikatan (attachment disorder) merupakan kondisi yang mempengaruhi perilaku dan suasana hati seseorang, sehingga menyulitkan mereka dalam membangun dan mempertahankan hubungan. Mereka bisa mengembangkan pola keterikatan yang menghindar (avoidant) atau cemas (anxious). Individu dengan pola avoidant cenderung menjauh dari keintiman, enggan berkomitmen, dan menahan diri dari ketergantungan pada orang lain. Sebaliknya, mereka yang anxious cenderung sangat mendambakan kedekatan, takut kehilangan, dan cenderung bersikap posesif atau terlalu bergantung pada pasangannya.

3. Rasa takut diabaikan

Hubungan yang renggang atau jauh dengan ayah dapat membuat anak perempuan merasa terabaikan. Kondisi ini berisiko menimbulkan ketakutan akan penolakan atau pengabaian. Dalam upaya mengatasi rasa takut tersebut, mereka mungkin mencari perhatian dari lingkungan lain, seperti teman, pasangan, atau komunitas tertentu karena mereka merasa kekurangan dan berusaha memastikan agar keberadaannya tidak diabaikan.

4. Masalah kepercayaan (trust issues)

Pengalaman awal anak perempuan dengan figur pria atau ayah yang tidak aman dan tidak stabil, membuat anak perempuan sering kali kesulitan mempercayai pria lain. Jika mereka tidak merasa aman, terlindungi, atau didukung oleh ayahnya, akan muncul ketakutan akan ditinggalkan, dikhianati, atau disakiti dalam hubungan selanjutnya yang mereka miliki. Kondisi ini juga dapat merusak kepercayaan terhadap diri sendiri, membuat mereka terlalu waspada dan curiga terhadap orang lain.

5. Berusaha keras demi mendapatkan cinta

Kurangnya dukungan emosional dari ayah bisa membuat anak perempuan terdorong untuk mendapatkan cinta dengan segala cara di masa depan. Mereka cenderung mengorbankan kebutuhan dan batasan diri demi pasangan, dengan harapan bahwa upaya tersebut akan menghasilkan cinta yang diinginkan. Sikap ini membuat seseorang sering menempatkan diri di posisi terakhir dan tidak mendapatkan  perlakuan yang setara dari pasangan.

Peran Ayah dalam Menyayangi Anak Perempuannya 

Pada setiap tahap perkembangan, ayah memiliki peran yang krusial dalam membentuk kehidupan emosional dan sosial anak perempuannya. Terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan ayah untuk menunjukkan kasih sayang dan penerimaan kepada anak perempuannya.

  • Masa bayi dan balita

Pada tahap awal kehidupan ini, keterlibatan aktif ayah dalam perawatan sehari-hari sangat penting. Partisipasi dalam kegiatan seperti memandikan, memberi makan, atau menidurkan anak di malam hari dapat memperkuat ikatan emosional di antara keduanya. Selain itu, meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung, seperti mengajak bicara, bernyanyi, memperlihatkan gambar atau mainan, dan membacakan cerita akan memberikan stimulasi positif bagi perkembangan anak. Mengajak anak dalam aktivitas sederhana seperti berjalan-jalan ke taman, taman bermain, toko buku, atau bahkan berbelanja juga menciptakan momen kebersamaan yang berarti. 

  • Masa sekolah dasar

Pada periode ini, berbagi kegiatan yang disukai bersama, seperti bersepeda, berolahraga, atau menjelajahi alam dapat mempererat hubungan ayah dan anak. Selain itu, mengajak anak pada “kencan dad & daughter” secara berkala, seperti makan es krim atau menonton film di bioskop dapat menjadi contoh kegiatan yang membuat anak merasa disayangi terus-menerus dan menjadi contoh bagaimana ia memiliki perhatian yang sama dari pria lain di masa depannya. 

  • Masa remaja dan dewasa awal

Ketika anak memasuki masa remaja, penting bagi ayah untuk menunjukkan minat terhadap hal-hal yang diminati oleh anak, meskipun tidak sepenuhnya memahami semua hal yang sedang disukai. Menghindari sikap meremehkan atau menghakimi, serta menunjukkan rasa hormat, menjadi kunci dalam menjaga kedekatan emosional ini. Penting juga untuk tetap menyediakan waktu untuk berbagi cerita yang penuh perhatian, ini menunjukkan kesediaan ayah untuk mendengarkan dan membuka ruang aman untuk berdialog dengan anak. Gestur sederhana seperti memberi bunga, meninggalkan catatan dukungan, dan memberikan pujian yang spesifik atas pilihan atau prestasi anak, juga dapat memperkuat keyakinan diri dan rasa aman emosional anak perempuan.

Saat ini, tidak sedikit anak perempuan yang tumbuh tanpa memiliki figur laki-laki yang menjadi teladan positif dalam kehidupannya. Seorang ayah adalah pria pertama yang diharapkan dekat secara emosional dengan anak perempuan. Hubungan ini akan membentuk standar dan ekspektasi anak terhadap pria lain yang akan hadir dalam hidupnya di kemudian hari. Ayah yang menjadi panutan yang baik, akan membantu putrinya dalam mengembangkan kemampuan untuk memilih pasangan yang sehat dan mendukung di masa depan.

Kasih sayang seorang ayah bersifat tanpa syarat dan konsisten. Melalui kehadiran dan keterlibatan aktif, ayah menciptakan ruang yang aman bagi anak perempuannya untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasinya. Dukungan ini berkontribusi pada pengembangan kecerdasan emosional yang sehat serta membentuk dasar yang kokoh bagi kemampuan anak perempuan dalam menjalin relasi yang positif di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk berani terlibat, berempati, dan memberikan dukungan yang konsisten dalam setiap tahap kehidupan anak perempuannya.

“A father’s job isn’t to teach his daughter how to be a lady. It’s to teach her how a lady should be treated.”

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara ayah dan anak perempuannya, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program bonding event yaitu Dad and Daughter Date. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Focus on the Family Australia. (2022, August 23). The impact a father’s love has on his daughter – Focus on the Family Australia. https://families.org.au/article/impact-fathers-love-has-his-daughter/

Uncategorized

Figur Ayah, Cinta Pertama di Kehidupan Anak Perempuannya

Ungkapan bahwa ayah merupakan cinta pertama bagi putrinya bukan sekadar kata-kata tanpa makna. Namun, kalimat tersebut menegaskan bahwa selalu ada tempat dalam jiwa seorang perempuan yang dikhususkan untuk sosok ayahnya. Tentu saja, tidak semua anak perempuan sama, tetapi hampir setiap anak perempuan pasti menginginkan ikatan yang erat dengan pria paling penting dalam hidupnya. Hubungan antara ayah dan anak perempuannya sangat memengaruhi bagaimana sang anak akan memandang pria lain dalam hidupnya.

Ketika Ayah Adalah Cinta Pertama Putrinya

Sebagai seorang ayah, mungkin anda masih mengingat dengan jelas momen ketika perawat pertama kali meletakkan bayi yang dibungkus selimut merah muda ke dalam pelukan anda. Ayah juga mungkin masih ingat betapa halus dan lembutnya saat kulit bayi perempuan anda bergesekan dengan jari jemari besar kita. Pada saat itu, ayah barangkali berjanji dalam hati bahwa akan selalu melindungi bayi kecil yang polos dan manis itu dari segala hal buruk. Ketika ia mulai tumbuh dan belajar berjalan, ayah ada di sana untuk menangkapnya setiap kali ia hampir terjatuh saat mencoba langkah pertamanya. Besar kemungkinan, anak perempuan kita pernah memandang wajah ayahnya dengan wajah tersenyum lebar dan dalam hati mengagumi sosok ayah yang hadir di hidupnya. Sejak momen itu, ayah sudah menempati ruang istimewa di hati anak perempuannya sebagai cinta pertama sang anak.

“The love between father and daughter knows no distance.”

Bagi seorang perempuan, ikatan dengan ayahnya merupakan pengalaman awal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan dengan sosok laki-laki lain dalam hidupnya. Ayah adalah pria pertama yang ingin ia kagumi dan dapatkan perhatiannya. Ayah adalah pria pertama yang diajak bercanda, yang memeluk dan mencium dengan penuh kasih, serta yang membuatnya merasa sebagai perempuan paling istimewa di antara yang lain. Semua momen berharga ini memainkan peran penting dalam membentuk sisi kewanitaannya. Cinta dan perhatian tulus seorang ayah turut mempersiapkan anak perempuannya untuk menjalani peran sebagai kekasih, tunangan, dan istri kelak.

Dalam konteks hubungan antara ayah dan anak, keterlibatan seorang ayah memiliki pengaruh yang khas dan mendalam. Pola interaksi dan persepsi anak perempuan terhadap ayahnya akan membentuk dasar bagi hubungan romantis yang ia jalani di masa depan, baik dalam aspek positif maupun negatif. Apabila ayah bersikap menolak atau mengabaikan, anak perempuan cenderung menghabiskan hidupnya dengan upaya untuk mengisi kekosongan emosional yang ditinggalkan figur ayah dalam dirinya. Sebaliknya, jika ayah menunjukkan sikap hangat, peduli, dan melindungi, anak perempuan akan cenderung mencari pasangan yang mencerminkan kualitas tersebut. Pandangan seorang ayah terhadap putrinya, seperti menganggapnya cantik, berharga, dan feminin, juga akan memengaruhi cara anak perempuan memandang dirinya sendiri.

Secara lebih luas, ayah berperan penting dalam memberi contoh bagaimana pria yang baik memperlakukan wanita, sekaligus menetapkan standar bagi hubungan interpersonal anak perempuan dengan sosok pria lainnya di kemudian hari. Ketidakhadiran kasih sayang dan perhatian dari ayah berisiko menimbulkan perasaan diabaikan, tidak dihargai, dan mendorong anak perempuan untuk mencari penerimaan di lingkungan lain. Dampak dari pengalaman ini bersifat jangka panjang, memengaruhi citra diri, kemampuan membangun relasi, dan peran sosial yang dijalani anak perempuan dalam lingkungan sosialnya.

  1. Harga diri yang rendah

Sejak masa kanak-kanak, interaksi dengan orang tua, terutama ayah berperan penting dalam membentuk konsep diri dan pandangan terhadap hubungan sosial. Anak perempuan yang tidak mendapatkan dukungan emosional dan kasih sayang yang memadai dari ayahnya cenderung merasa tidak dihargai atau tidak dicintai. Hal ini dapat menanamkan keyakinan bahwa dirinya tidak pantas menerima perhatian atau kasih sayang, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan harga diri.

  2. Masalah keterikatan (attachment issues)

Anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah yang tidak hadir secara emosional berisiko mengalami masalah keterikatan saat dewasa. Gangguan keterikatan (attachment disorder) merupakan kondisi yang mempengaruhi perilaku dan suasana hati seseorang, sehingga menyulitkan mereka dalam membangun dan mempertahankan hubungan. Mereka bisa mengembangkan pola keterikatan yang menghindar (avoidant) atau cemas (anxious). Individu dengan pola avoidant cenderung menjauh dari keintiman, enggan berkomitmen, dan menahan diri dari ketergantungan pada orang lain. Sebaliknya, mereka yang anxious cenderung sangat mendambakan kedekatan, takut kehilangan, dan cenderung bersikap posesif atau terlalu bergantung pada pasangannya.

3. Rasa takut diabaikan

Hubungan yang renggang atau jauh dengan ayah dapat membuat anak perempuan merasa terabaikan. Kondisi ini berisiko menimbulkan ketakutan akan penolakan atau pengabaian. Dalam upaya mengatasi rasa takut tersebut, mereka mungkin mencari perhatian dari lingkungan lain, seperti teman, pasangan, atau komunitas tertentu karena mereka merasa kekurangan dan berusaha memastikan agar keberadaannya tidak diabaikan.

4.  Masalah kepercayaan (trust issues)

Pengalaman awal anak perempuan dengan figur pria atau ayah yang tidak aman dan tidak stabil, membuat anak perempuan sering kali kesulitan mempercayai pria lain. Jika mereka tidak merasa aman, terlindungi, atau didukung oleh ayahnya, akan muncul ketakutan akan ditinggalkan, dikhianati, atau disakiti dalam hubungan selanjutnya yang mereka miliki. Kondisi ini juga dapat merusak kepercayaan terhadap diri sendiri, membuat mereka terlalu waspada dan curiga terhadap orang lain.

5. Berusaha keras demi mendapatkan cinta

Kurangnya dukungan emosional dari ayah bisa membuat anak perempuan terdorong untuk mendapatkan cinta dengan segala cara di masa depan. Mereka cenderung mengorbankan kebutuhan dan batasan diri demi pasangan, dengan harapan bahwa upaya tersebut akan menghasilkan cinta yang diinginkan. Sikap ini membuat seseorang sering menempatkan diri di posisi terakhir dan tidak mendapatkan  perlakuan yang setara dari pasangan.

Peran Ayah dalam Menyayangi Anak Perempuannya 

Pada setiap tahap perkembangan, ayah memiliki peran yang krusial dalam membentuk kehidupan emosional dan sosial anak perempuannya. Terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan ayah untuk menunjukkan kasih sayang dan penerimaan kepada anak perempuannya.

  • Masa bayi dan balita

Pada tahap awal kehidupan ini, keterlibatan aktif ayah dalam perawatan sehari-hari sangat penting. Partisipasi dalam kegiatan seperti memandikan, memberi makan, atau menidurkan anak di malam hari dapat memperkuat ikatan emosional di antara keduanya. Selain itu, meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung, seperti mengajak bicara, bernyanyi, memperlihatkan gambar atau mainan, dan membacakan cerita akan memberikan stimulasi positif bagi perkembangan anak. Mengajak anak dalam aktivitas sederhana seperti berjalan-jalan ke taman, taman bermain, toko buku, atau bahkan berbelanja juga menciptakan momen kebersamaan yang berarti.

  • Masa sekolah dasar

Pada periode ini, berbagi kegiatan yang disukai bersama, seperti bersepeda, berolahraga, atau menjelajahi alam dapat mempererat hubungan ayah dan anak. Selain itu, mengajak anak pada “kencan dad & daughter” secara berkala, seperti makan es krim atau menonton film di bioskop dapat menjadi contoh kegiatan yang membuat anak merasa disayangi terus-menerus dan menjadi contoh bagaimana ia memiliki perhatian yang sama dari pria lain di masa depannya.

  • Masa remaja dan dewasa awal

Ketika anak memasuki masa remaja, penting bagi ayah untuk menunjukkan minat terhadap hal-hal yang diminati oleh anak, meskipun tidak sepenuhnya memahami semua hal yang sedang disukai. Menghindari sikap meremehkan atau menghakimi, serta menunjukkan rasa hormat, menjadi kunci dalam menjaga kedekatan emosional ini. Penting juga untuk tetap menyediakan waktu untuk berbagi cerita yang penuh perhatian, ini menunjukkan kesediaan ayah untuk mendengarkan dan membuka ruang aman untuk berdialog dengan anak. Gestur sederhana seperti memberi bunga, meninggalkan catatan dukungan, dan memberikan pujian yang spesifik atas pilihan atau prestasi anak, juga dapat memperkuat keyakinan diri dan rasa aman emosional anak perempuan.

Saat ini, tidak sedikit anak perempuan yang tumbuh tanpa memiliki figur laki-laki yang menjadi teladan positif dalam kehidupannya. Seorang ayah adalah pria pertama yang diharapkan dekat secara emosional dengan anak perempuan. Hubungan ini akan membentuk standar dan ekspektasi anak terhadap pria lain yang akan hadir dalam hidupnya di kemudian hari. Ayah yang menjadi panutan yang baik, akan membantu putrinya dalam mengembangkan kemampuan untuk memilih pasangan yang sehat dan mendukung di masa depan.

Kasih sayang seorang ayah bersifat tanpa syarat dan konsisten. Melalui kehadiran dan keterlibatan aktif, ayah menciptakan ruang yang aman bagi anak perempuannya untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasinya. Dukungan ini berkontribusi pada pengembangan kecerdasan emosional yang sehat serta membentuk dasar yang kokoh bagi kemampuan anak perempuan dalam menjalin relasi yang positif di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk berani terlibat, berempati, dan memberikan dukungan yang konsisten dalam setiap tahap kehidupan anak perempuannya.

“A father’s job isn’t to teach his daughter how to be a lady. It’s to teach her how a lady should be treated.”

 

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara ayah dan anak perempuannya, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program bonding event yaitu Dad and Daughter Date. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Focus on the Family Australia. (2022, August 23). The impact a father’s love has on his daughter – Focus on the Family Australia. https://families.org.au/article/impact-fathers-love-has-his-daughter/

 

Uncategorized

The Power of Self Hug

Kapan terakhir kali champs memberikan pelukan pada diri sendiri atau mendapatkan pelukan dari orang lain? Pelukan yang hangat dan menenangkan?

Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memulihkan diri. Beberapa orang dapat merasa lebih baik ketika mendapatkan sebuah pelukan, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, seperti keluarga dan teman dekat. Pelukan memiliki kekuatan luar biasa yang memberikan kenyamanan dan efek penyembuhan.

Kulit merupakan indera terbesar di tubuh manusia dan melalui kulit kita dapat merasakan rangsangan/sentuhan dari lingkungan sekitar. Kontak kulit-ke-kulit dan bentuk lain dari stimulasi sentuhan membantu meningkatkan penanganan stres pada hewan dan manusia (Dunbar, 2008). Sentuhan adalah indera pertama yang mulai bekerja ketika kita berada dalam rahim ibu, yaitu sekitar usia kehamilan 14 minggu. Kemudian, sejak kita dilahirkan, kita mendapatkan belaian lembut seorang ibu yang bermanfaat pada kesehatan, seperti menurunkan detak jantung dan mendorong pertumbuhan koneksi sel otak.

Pelukan adalah bentuk kontak fisik yang intim, non-verbal, dan non-seksual di mana manusia (dan primata lain) dapat mengomunikasikan konsep emosional seperti kebaikan, kehangatan, kelembutan, dukungan, penyembuhan, keamanan, serta cinta dan penerimaan tanpa syarat (Washington, 2014). Pelukan adalah hal yang universal dan merupakan tindakan penting untuk menciptakan dan memelihara ikatan sosial.

Individu yang sering menerima pelukan berkorelasi dengan penurunan tekanan darah dan detak jantung (Light et al., 2004). Penelitian oleh Dreisoerner et al. (2021), menemukan bahwa individu yang menerima pelukan dari orang lain atau bahkan memeluk dirinya sendiri dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stres. Pelukan dapat meningkatkan rasa saling memiliki, rasa keterhubungan, dan perasaan dicintai.

Baca juga: Memahami Self-Hatred: Langkah Menuju Penerimaan Diri

Ketika seseorang memeluk kita, stimulasi c-tactile afferents di kulit kita bekerja untuk mendeteksi rangsangan yang bersifat menyenangkan dan penuh kasih, seperti pelukan dan belaian. C-tactile afferents sendiri adalah jenis serabut saraf (neurons) di kulit yang sangat sensitif terhadap sentuhan lembut atau halus. Lalu, c-tactile afferents akan mengirimkan sinyal elektrik ke sumsum tulang belakang dan diteruskan ke bagian otak yang mengendalikan pemrosesan rasa sentuhan dan emosi. Setelah sinyal-sinyal ini sampai di jaringan otak yang terkait dengan emosi, otak akan merespons dengan melepaskan neurotransmitter dan hormon kimia yang memainkan peran dalam kesejahteraan fisik dan emosional, seperti oksitosin dan endorfin.

“I have learned that there is more power in a good strong hug than in a thousand meaningful words.” – Ann Hood

 

Manfaat dari Pelukan

Pelukan dapat disertai dengan senyuman dan kata-kata penghibur, baik yang diberikan oleh orang lain (keluarga dan sahabat) maupun saat kita memeluk diri sendiri. Pelukan terhadap diri dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik melalui berbagai cara, yaitu sebagai berikut.

1 . Meningkatkan Produksi Oksitosin

Oksitosin yang dikenal sebagai ‘hormon cinta’ atau ‘hormon pelukan’, dilepaskan ketika kita memeluk seseorang yang disayangi. Oksitosin memainkan peran penting dalam mengatur perasaan ikatan sosial dan meningkatkan rasa percaya diri, kenyamanan, serta kedekatan emosional. Kadar oksitosin yang meningkat, menyebabkan berkurangnya perasaan marah, kesepian, dan terisolasi dalam diri individu.

2 .  Mengurangi Tingkat Stres

Pelukan membantu tubuh meredakan stres dan mengurangi kecemasan, yaitu dengan mengurangi kadar hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh. Ketika kortisol berkurang, seseorang akan merasa lebih tenang dan rileks. Pelukan juga dapat memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Hal ini menyebabkan tubuh beralih ke respon relaksasi saat dipeluk. Jadi, ketika kita sedang merasa tertekan oleh masalah di kehidupan, kita dapat membuat suasana hati yang lebih baik dengan meluangkan waktu untuk berpelukan. Berpelukan baik dengan keluarga, teman, atau hewan peliharaan, membantu untuk meredakan stres dan memperbaiki suasana hati.

3.  Meningkatkan Kesehatan Mental

Berpelukan secara rutin dapat meningkatkan kadar serotonin (hormon kebahagiaan), yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan. Peningkatan kadar serotonin dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik, menciptakan rasa nyaman, dan membantu menyeimbangkan siklus tidur. Ketika kita sedang merasa sedih, cobalah untuk memeluk diri sendiri. Pelukan kepada diri sendiri memberikan efek yang sama seperti saat orang lain memeluk kita. Rasa dukungan yang diterima melalui pelukan membuat seseorang merasa lebih kuat dalam menghadapi tantangan emosional dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.

4.  Meningkatkan Mood dan Perasaan Bahagia

Pelukan merangsang pelepasan endorfin, hormon yang dapat menciptakan perasaan bahagia, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan suasana hati. Sebagai pereda nyeri alami tubuh, endorfin yang dilepaskan saat berpelukan juga membantu meredakan rasa sakit dan ketegangan. Selain itu, pelepasan oksitosin selama pelukan memiliki peran penting dalam meningkatkan suasana hati, memberikan kebahagiaan, serta memperkuat ikatan emosional antar individu.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa kita bisa memberikan pelukan kepada diri sendiri atau yang biasa disebut sebagai “Self Hug”. Saat seseorang sedang membutuhkan pelukan, namun pelukan dari orang lain tidak tersedia atau tidak terasa nyaman untuk diri. Pelukan yang menenangkan diri sendiri dapat menjadi cara alternatif untuk memberikan dukungan dan kasih sayang dalam menghadapi stres. Sentuhan yang menenangkan diri merupakan bentuk dari belas kasih terhadap diri kita (Neff, 2003). Sentuhan ini dapat diartikan sebagai sikap penuh perhatian dan kebaikan terhadap diri sendiri saat sedang mengalami penderitaan, serta terbukti efektif dalam membantu mengatasi stres.

How to Give Yourself a Hug

  1. Cari tempat yang tenang dan nyaman di mana champs bisa duduk atau berdiri tanpa gangguan. Hal ini bisa dilakukan di ruang tamu, kamar tidur, atau di luar ruangan yang sepi.
  2. Lalu, letakkan kedua tangan di bahu atau di sekitar lengan atas. Champs bisa saling merangkul kedua lengan atau menempatkan satu tangan di bagian belakang punggung/pinggang dan tangan satunya di depan dada. Pelukan ini juga dapat disertai dengan tepukan lembut di bahu untuk memberikan efek menenangkan.
  3. Ambil napas secara perlahan dan dalam untuk membantu tubuh menjadi lebih rileks. Champs dapat mencoba untuk merasakan setiap tarikan napas yang masuk dan keluar.
  4. Sambil memeluk diri sendiri dan mengatur napas secara teratur, champs dapat memfokuskan diri pada perasaan hangat dan nyaman yang dirasakan saat memeluk diri. Kita juga memberikan afirmasi positif dan kata-kata penyemangat bila diinginkan.
  5. Coba untuk mempertahankan posisi memeluk diri selama beberapa detik hingga beberapa menit untuk merasakan manfaat relaksasi yang lebih mendalam.

Memeluk diri sendiri dapat membuat kita merasa dicintai, rileks, dan menghadirkan rasa tenang. Self hug juga membantu melepaskan diri dari perasaan cemas atau ketegangan yang sering muncul dalam situasi stres. Pilihan untuk memeluk diri sendiri dilakukan karena cara ini adalah yang paling mudah, gratis, dan bisa dilakukan kapan saja ketika kita membutuhkannya. Memeluk diri kita juga dapat menjadi kesempatan untuk terhubung lebih dalam dengan diri kita sendiri. 

Jika champs merasa ingin membutuhkan pelukan, namun sedang sendirian. Mengapa tidak mencoba memeluk diri kita sendiri?

Self-hugging is an incredible way to help lessen those feelings while growing confidence in our own ability to soothe, love and take care of ourselves.” – Gerrilyn Smith

 

Bila champs sedang membutuhkan pelukan atau ruang yang aman untuk berbicara. FOFI menyediakan layanan konseling yang siap mendengarkan dan memberikan dukungan yang diperlukan oleh Anda. Champs juga dapat menemukan tips-tips seputar diri dan kesehatan mental di laman Instagram kami. Champs dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi: 

Dunbar, R. (2008). The social role of touch in humans and primates: Behavioural function and neurobiological mechanisms. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 34(2), 260–268. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2008.07.001  

Dreisoerner, A., Junker, N. M., Schlotz, W., Heimrich, J., Bloemeke, S., Ditzen, B., & Van Dick, R. (2021). Self-soothing touch and being hugged reduce cortisol responses to stress: A randomized controlled trial on stress, physical touch, and social identity. Comprehensive Psychoneuroendocrinology, 8, 100091. https://doi.org/10.1016/j.cpnec.2021.100091

Light, K. C., Grewen, K. M., & Amico, J. A. (2004). More frequent partner hugs and higher oxytocin levels are linked to lower blood pressure and heart rate in premenopausal women. Biological Psychology, 69(1), 5–21. https://doi.org/10.1016/j.biopsycho.2004.11.002

Neff, K. (2003). Self-Compassion: an alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101. https://doi.org/10.1080/15298860309032 

Washington, G. D. M. (2014). The healing power of hugs. Rockies. https://www.academia.edu/8062471/The_Healing_Power_of_Hugs

 

Uncategorized

Tips Membangun Rasa Percaya Diri Pada Anak

Parents, pernahkah anda melihat anak kecil yang begitu percaya diri saat tampil di depan kelas? Atau mungkin anda mengenal seorang anak yang selalu ragu dengan kemampuan dirinya? 

Kedua contoh di atas merupakan bentuk nyata dari perbedaan tingkat kepercayaan diri pada anak, nyatanya rasa percaya diri adalah fondasi yang penting untuk masa depannya.

 

Kepercayaan diri adalah kemampuan untuk percaya pada diri sendiri dan pada kemampuan yang dimiliki (Messaoud, 2022). Orang yang percaya diri adalah mereka yang yakin akan kemampuannya dan memiliki harapan yang realistis, sekalipun harapannya tidak terwujud, mereka tetap positif dan dapat menerimanya. Maka, saat mereka dihadapi oleh kegagalan, mereka dapat menerima kesalahan dan kekurangannya tanpa merasa takut akan hal tersebut.  Sedangkan, orang yang tidak percaya diri adalah mereka yang memiliki konsep diri yang negatif, juga kurang yakin akan kemampuan yang dimilikinya karena mereka seringkali bersikap menutup diri.

Kepercayaan diri adalah salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam diri seseorang. Hal ini dikarenakan rasa percaya diri dapat membuat seseorang mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya dan memungkinkan seseorang untuk mengambil risiko, serta mencoba hal-hal baru yang akan membawanya pada kesuksesan.

Setiap manusia diciptakan dengan rasa percaya diri, namun rasa percaya diri yang dimiliki berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap orang dapat hidup dengan penuh percaya diri selama mereka terus melatih dan mengembangkannya. Pada anak, kepercayaan diri dapat dikembangkan atau dirangsang melalui lingkungan keluarga (Hulukati, 2016). Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Salah satu upaya pembentukan karakter adalah dengan membangun rasa percaya diri pada anak. Pola asuh yang diberikan kepada anak dengan baik akan membuat anak merasa berharga dan percaya diri (Rahman et al., 2022).

Peran orang tua dalam membangun kepercayaan diri anak, antara lain adalah dengan menjadi pendengar yang baik bagi anak, menunjukkan respek, memberikan anak kesempatan untuk membantu, melatih kemandirian anak, memberi pujian kepada anak, membantu anak untuk lebih optimis, menumbuhkan minat dan bakat anak, mengajak anak untuk memecahkan masalah, memberi kesempatan anak untuk berkumpul dengan orang dewasa, dan mengarahkan anak untuk mempersiapkan masa depan (Rahman, 2013). Percaya diri penting untuk anak dapat beradaptasi di lingkungan baru terlebih saat anak masuk ke lingkungan sekolah, anak harus menghadapi situasi baru, seperti bertemu dengan teman dan guru baru.

Baca juga: Terlalu Sayang? Waspada Overparenting pada Anak

Adapun, anak yang memiliki kepercayaan diri yang rendah akan memiliki ciri-ciri dan perilaku antara lain (Adywibowo, 2010). 

  • Tidak mau mencoba hal-hal baru.
  • Merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan.
  • Memiliki kecenderungan menyalahkan orang lain.
  • Memiliki emosi yang kaku dan disembunyikan.
  • Mudah frustasi dan meremehkan bakat, serta kemampuan diri sendiri.
  • Mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Tips Membangun Kepercayaan Diri Anak

Parents, membangun kepercayaan diri pada anak-anak adalah bagian penting dalam membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tangguh dan memiliki keterampilan sosial yang baik.

1.  Mengutamakan proses daripada hasil

Daripada hanya menilai hasil akhirnya, tunjukkan apresiasi kita pada usaha keras yang dilakukan anak. Pujilah setiap langkah yang mereka ambil, setiap tantangan yang mereka hadapi, dan setiap upaya yang telah mereka lakukan. Ketika kita memuji proses yang mereka lalui, mereka akan terdorong untuk terus mencoba dan belajar, terlepas dari apakah mereka berhasil atau tidak. Sebagai contoh, saat anak membuat sebuah karya seni cobalah untuk memuji pilihan gambar atau cara mereka membuat karya tersebut.

2.  Mendukung kebranian mengambil risiko

Memberikan dukungan kepada anak saat mereka mencoba hal baru atau memiliki ide baru, dengan menekankan bahwa kegagalan bukanlah masalah dan merupakan bagian dari proses belajar. Dorongan ini dapat membantu mereka belajar bahwa kegagalan dapat menjadi langkah penting menuju kesuksesan. Menciptakan lingkungan yang aman dimana anak dapat menguji batas kemampuan mereka dan belajar dari kesalahan tanpa takut dikritik.

3. Orang tua Sebagai Role Model

Sebagai orang tua, penting untuk menunjukkan rasa percaya diri dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil, terutama ketika menghadapi tantangan dan kegagalan dengan penuh keteguhan. Berbagi proses berpikir kita kepada anak, dalam membuat keputusan atau menyelesaikan masalah dapat mengajarkan anak bahwa merasa ragu atau tidak yakin adalah hal yang wajar. Dengan memberi contoh nyata tentang bagaimana mengatasi kesulitan dengan sikap positif, kita dapat mengajarkan anak-anak cara menghadapi tantangan dengan percaya diri.

4. Berikan Dukungan Tanpa Syarat

Tunjukkan cinta dan dukungan tanpa syarat kepada anak kita, terlepas dari keberhasilan atau kegagalan mereka. Membiarkan mereka mengeksplorasi kemampuan dan minat mereka secara bebas dapat membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri.

5. Dorong interaksi sosial anak 

Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, seperti olahraga, klub, atau teman bermain dapat membantu mereka membangun keterampilan komunikasi, memahami isyarat sosial, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berhubungan dengan orang lain. Lalu, diskusikan pengalaman mereka dengan fokus pada apa yang mereka nikmati dan pelajari saat berinteraksi dengan orang lain.

6. Mengajarkan keterampilan problem-solving

Membimbing anak untuk mengembangkan solusi mereka sendiri daripada terburu-buru ingin menyelesaikan masalah untuk mereka. Hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dan berpikir kritis anak, serta mendorong kemandirian anak. Hal ini bisa dimulai dengan meminta anak memecahkan masalah sederhana di rumah atau pekerjaan rumah, lalu mendiskusikan solusi yang memungkinkan.

7. Mendukung anak untuk mengutarakan pendapatnya

Ajak anak untuk berbagi pemikiran dan pendapat mereka tentang berbagai hal. Saat mereka menyampaikan pendapatnya, tunjukkan ketertarikan yang tulus, dan ikuti saran mereka kapan pun kita bisa untuk menunjukkan bahwa pendapat mereka dihargai.

8. Mendukung anak mencoba hal baru

Ketika anak mencoba hal-hal baru, mereka akan belajar untuk keluar dari zona nyaman mereka. Doronglah anak untuk mengeksplorasi minat dan hobi baru yang positif sebagai sarana untuk tumbuh dan mengekspresikan diri. Saat mereka mencapai hal-hal baru dari proses ini, anak akan merasa mampu dan percaya diri karena mereka telah memiliki keberanian untuk menghadapinya.

9. Biarkan anak mengalami kegagalan

Kegagalan adalah proses untuk anak dapat belajar dan mengetahui cara untuk dapat bangkit kembali. Belajar untuk berani gagal akan mengajarkan anak menjadi percaya diri menghadapi apa pun yang terjadi. Hal ini juga dapat mendorong anak-anak untuk berusaha lebih keras, yang akan sangat berguna bagi mereka saat dewasa.

10. Menerima ketidaksempurnaan

Sebagai orang dewasa, kita tahu bahwa kesempurnaan adalah hal yang tidak realistis. Penting bagi anak untuk mengetahui fakta tersebut sedini mungkin. Sampaikan kepada anak bahwa menjadi tidak sempurna adalah hal yang manusiawi.

Parents, membangun rasa percaya diri pada anak bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses. Dengan memberikan dukungan, penguatan positif, dan kesempatan untuk berkembang, kita membantu mereka mengembangkan potensi terbaik yang ada dalam diri mereka. Jadi, jangan pernah lelah untuk memberikan dukungan kepada anak, baik di saat-saat terbaik maupun terburuknya. Katakan pada anak kita, bahwa kita akan selalu mendukung dan berada di sisinya.

“Confidence isn’t about feeling good about yourself, it’s about trusting yourself no matter what you’re feeling.”

 

Untuk parents yang mengalami hambatan membangun kepercayaan diri anak dan ingin berkonsultasi dengan tenaga ahli, FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Adywibowo, I. P. (2010). Memperkuat Kepercayaan Diri Anak melalui Percakapan Referensial. Jurnal Pendidikan Penabur, 37

Hulukati, W. (2016, April 9). Buku Pengembangan Diri Siswa Sma. Ung Repository. https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/569/buku-pengembangan-diri-siswa-sma.html 

Messaoud, H. E. B. (2022). A Review on Self-Confidence and How to Improve It. Global Journal of Human Resource Management, 10(5), 26-32.

Rahman, M. M. (2013). Peran Orang Tua Dalam Membangun Kepercayaan Diri Pada Anak Usia Dini. Edukasia Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 8(2). https://doi.org/10.21043/edukasia.v8i2.759

Sitepu, D. L., Opod, H., & Pali, C. (2016). Hubungan tingkat kepercayaan diri dengan obesitas pada siswa SMA Negeri 1 Manado. eBiomedik, 4(1).