Family Indonesia

Uncategorized

Mengajarkan Tiga Kata Ajaib untuk Membangun Karakter Anak

Parents, pendidikan karakter pada anak menjadi penting untuk diajarkan sedini mungkin. Pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal kecil yang sering kali dianggap sepele, seperti penggunaan tiga kata ajaib, tolong, terima kasih, dan maaf. Meskipun sederhana, ketiga kata ini memiliki dampak yang luar biasa dalam membentuk kepribadian anak sejak dini.

Anak usia dini (0-6 tahun) adalah masa anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat atau biasa disebut dengan masa emas (golden age) (Pujianti et al., 2021). Pada masa ini, anak juga membentuk karakter pribadinya melalui rasa ingin tahu terhadap keadaan lingkungannya, bagaimana cara mereka dapat menjadi bagian dari lingkungannya, dan juga pada masa awal anak memasuki dunia pendidikan, dimana mereka mulai berinteraksi lebih banyak dengan teman-teman sebayanya secara positif maupun negatif, sehingga hal ini dapat membantu anak dalam mengembangkan sosialnya (Andarbeni, 2013). Pembentukan karakter pada anak sejalan juga dengan perkembangan sosial mereka. Perkembangan sosial adalah proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam bergaul dan bersosial di lingkungan masyarakat (Aprily et al., 2023).

Pendidikan karakter sejak dini dapat parents atau tenaga pendidik tanamkan melalui pengalaman positif dengan pembiasaan hal-hal kecil, seperti mengajarkan anak untuk membiasakan mengucapkan tiga kata ajaib. Meskipun terlihat sederhana, membiasakan mengucapkan tiga kata ajaib kepada anak dan membantu anak mempraktekkan hal tersebut, menjadi modal dasar untuk anak belajar berinteraksi sosial dengan baik di lingkungannya, serta akan memberikan dampak baik untuk kehidupan di masa depan. Manfaat dari tiga kata ajaib (tolong, terima kasih, dan maaf) lebih dari sekadar sopan santun. Ketiga kata ini mengajarkan nilai-nilai penting seperti rasa hormat, rendah hati, empati, serta tanggung jawab.

Ketika anak diajarkan untuk menggunakan kata “tolong, mereka belajar untuk menghargai orang lain dan menunjukkan permintaan yang sopan. Kata “terima kasih” secara tulus akan menumbuhkan rasa syukur dalam diri anak atas segala kebaikan yang telah diterimanya. Sementara kata “maaf mengajarkan anak untuk mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan, kesempatan untuk memperbaiki diri, dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya. Mempraktikkan ketiga kata ini secara konsisten, anak tidak hanya menjadi pribadi yang lebih sopan ketika berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga membangun kepekaan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan belajar bahwa komunikasi yang baik bukan hanya melibatkan perkataan mereka, tetapi juga dicerminkan melalui sikap dan penghargaan terhadap orang di sekitar.

Baca juga: Bimbing Anak untuk Mengenal Sentuhan yang Aman (Good Touch Bad Touch)

Parents memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong anak untuk menggunakan ketiga kata ini dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini ada empat cara yang dapat parents terapkan untuk membentuk karakter anak dengan tiga kata ajaib.

1 .  Jelaskan Pengertian dari Tiga Kata Ajaib

Mengajari anak mengenai makna dari ketiga kata ajaib dengan cara yang anak mudah pahami, akan membantu mereka mudah dalam menerapkannya. Kata “terima kasih” digunakan saat kita ingin menunjukkan rasa syukur terhadap suatu kebaikan, seperti ketika ada orang lain yang membantu anak. Kata “tolong” digunakan saat anak ingin meminta bantuan dari orang lain, parents dapat juga menambahkan bahwa permintaan tolong perlu disebutkan dengan nada yang  lembut dan sopan.  Kata “maaf” merupakan ungkapan tulus saat anak berbuat salah lalu ingin mengakui kesalahannya, serta anak berusaha untuk memperbaiki kesalahannya.

2.  Orang Tua sebagai Teladan

Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari orang tua. Ketika parents memperlakukan orang di sekitar dengan penuh hormat, termasuk kepada anak-anak, mereka juga akan belajar untuk melakukan hal tersebut. Jika kita dengan sengaja menggunakan kata tolong, maaf, dan terima kasih dalam percakapan bersama anak, mereka akan lebih mudah memahami dan mengikuti perilaku tersebut. Selain itu, ketika parents secara konsisten menggunakan ketiga kata ini, menunjukkan kepada anak bahwa sopan santun bukan hanya sekedar formalitas, tetapi bagian dari nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua yang menjadi teladan akan membantu anak untuk internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri. 

Contoh kalimat yang bisa orang tua berikan kepada anak, seperti:

  • “Terima kasih sudah membantu Mama membereskan mainan dan merapikan tempat tidurnya ya.”
  • “Maaf, tadi Ayah sedang menyetir sehingga tidak bisa mengangkat panggilan videonya.”
  • “Nak, boleh tolong ambilkan kursi kecil untuk Mama kah? Terima kasih ya.”

Kalimat-kalimat tersebut bukan hanya berisikan tiga kata ajaib, tetapi juga alasan dari mengapa ketiga kata tersebut digunakan.

3. Berlatih dengan Permainan atau Cerita

Bila anak merasa kesulitan atau bingung ketika memahami penjelasan terkait tiga kata ajaib secara langsung. Parents dapat menggunakan metode yang lebih interaktif dan kreatif, seperti bermain peran dan membacakan anak buku cerita. Ketika bermain peran, orang tua dapat menyisipkan adegan yang terdiri dari permintaan tolong, ucapan terima kasih, dan maaf. Aktivitas seperti ini tidak hanya menyenangkan untuk anak, tetapi juga membantu mereka mempraktikkan penggunaan kata-kata tersebut dalam situasi yang relevan. Parents juga dapat menggunakan buku cerita yang memasukkan percakapan tiga kata ajaib di dalamnya.

4. Percaya pada Proses dan Apresiasi Anak Ketika Berhasil

Percaya bahwa anak sedang melakukan proses yang signifikan, juga bahwa mereka sedang belajar dari melihat tindakan kita sebagai orang tuanya. Dengan tidak memaksa anak untuk “bersikap sopan”’, kita menyiapkan mereka untuk sukses dengan belajar menghargai apa arti ketiga kata tersebut dan seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh ketiganya. Bila anak lupa untuk mengatakan tolong, terima kasih, dan maaf. Cara terbaik yang dapat parents lakukan adalah dengan mendorong anak melalui pengingat yang lembut, daripada memarahi mereka. Jika anak lupa mengucapkan “terima kasih” setelah mendapatkan bantuan, coba ingatkan dengan perlahan seperti berikut ini. “Barusan Mama membantu mengambilkan tas tersebut, lalu yang harus dilakukan adalah…”. Ketika anak diberikan pengingat seperti ini, mereka akan lebih mudah menerima dan memberikan respon positif terhadap pendekatan tersebut.  

Memberikan apresiasi kepada anak ketika mereka berhasil menggunakan tiga kata ajaib, sangat penting dalam proses pembelajaran mereka. Apresiasi diberikan sebagai penguatan positif agar untuk anak akan terus melakukan perilaku yang baik di masa depan. Juga memperkuat perilaku baik yang mereka tunjukkan.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan menghadapi banyak interaksi dengan orang lain, baik di sekolah, lingkungan sosial, atau bahkan dalam dunia kerja nantinya. Memiliki kebiasaan untuk selalu mengucapkan tolong, terima kasih, dan maaf, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi dengan berbagai situasi sosial dan membangun hubungan yang sehat dengan orang di sekitarnya. Bekal ini sangat berharga bagi anak untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati dan kemampuan sosial yang baik.

Perlu diingat oleh parents bahwa cara terbaik untuk mendidik anak yang menghormati orang lain dan berbelas kasih adalah dengan mencontohkan hal tersebut dalam cara kita memperlakukan mereka. Memperlakukan anak-anak dengan hormat akan membantu orang tua membesarkan anak-anak yang penuh rasa hormat juga.

“Children learn to be kind by experiencing kindness.”

 

Bila parents ingin mendapatkan informasi seputar tips-tips parenting dari ahli, parents dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @focusonthefamilyindonesia.

Referensi:

Andarbeni, S. L. (2013). Studi Tentang Tentang Kemampuan Interaksi Sosial Anak Kelompok A Dalam Kegiatan Metode Proyek Di Tk Plus Al-Falah Pungging Mojokerto. Jurnal Mahasiswa Bimbingan Konseling UNESA, 4(1), 249562. http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bk-unesa/article/view/6592 

Aprily, N. M., Rosidah, A. K., & Hashipah, H. (2023). Maaf, terima kasih, tolong dan permisi: empat kata ajaib dalam pembentukan karakter sosial anak. As-Sibyan Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1), 123–132. https://doi.org/10.32678/assibyan.v8i1.8312 

Pujianti, R., Sumardi, S., & Mulyadi, S. (2021). Perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun selama pembelajaran jarak jauh di Raudhatul Athfal. As-Sibyan Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 117–126. https://doi.org/10.32678/as-sibyan.v6i2.4919

Uncategorized

Memahami Diri Sendiri: Kunci Kesiapan Berkomitmen

Couples, banyak orang yang tentu menginginkan hubungan yang sehat dan serius, tetapi menginginkannya bukan berarti tanda bahwa kita benar-benar siap untuk itu. Ketidaksiapan berkomitmen dalam hubungan akan menimbulkan berbagai konsekuensi, antara lain kita tidak dapat melangkah ke suatu hubungan sama sekali, atau kita akan masuk ke dalam hubungan jangka pendek, atau bahkan kita dapat berakhir ke dalam toxic relationship.

Banyak orang yang masuk ke dalam komitmen serius dengan pikiran bahwa mereka sudah siap karena mereka menginginkannya atau karena merasa tertekan dengan tuntutan dari sekitar. Memiliki kesiapan lebih dari sekadar merasa nyaman ketika bersama pasangan. Hal ini melibatkan kesiapan mental dan emosional untuk mendukung kebahagiaan orang lain seperti halnya kebahagiaan diri kita sendiri. Kesiapan yang sejati tidak hanya ditemukan begitu saja, tetapi membutuhkan refleksi diri yang mendalam sebelumnya.

Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa orang-orang yang memasuki hubungan dengan kesiapan yang lebih tinggi menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap hubungan tersebut. Kesiapan yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan penggunaan strategi pemeliharaan hubungan yang lebih besar (Agnew et al., 2019), yang tidak hanya meningkatkan komitmen individu terhadap suatu hubungan, tetapi juga dikaitkan dengan pemberlakuan perilaku yang terbuka, seperti respons yang tidak begitu destruktif dalam menghadapi konflik.

Jadi, bagaimana caranya mengetahui, apakah kita sudah siap untuk menjalin hubungan jangka panjang?

1 . You love yourself

Kita mungkin tidak akan merasa siap untuk mencintai orang lain, sebelum kita belajar untuk mencintai diri sendiri. Menerima dan mencintai diri sendiri sebagai manusia seutuhnya dan merasa nyaman dengan diri sendiri, berarti melihat diri sendiri dengan jujur, percaya diri, penuh kasih, memaafkan diri sendiri, serta menghormati batasan dan waktu yang dimiliki. Ketika kita sudah sepenuhnya nyaman dan memahami bahwa diri berharga, kita tidak lagi menjalin hubungan untuk sekadar mencari validasi atau pengakuan dari orang lain. Berangkat dari ruang yang positif dalam diri, bisa jadi penting karena hal ini dapat membuat kita lebih mudah untuk mencintai seseorang dan melanjutkan hubungan yang sehat dan tahan lama. Mencintai diri sendiri juga dapat membantu menetapkan batasan-batasan yang sehat untuk diri.

“If you have the ability to love, love yourself first” – Charles Bukowski

 

2.  Kamu memiliki harapan yang realistis

Pemahaman bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, kemudian memiliki kesiapan untuk menghadapi tantangan bersama adalah hal yang sangat penting dalam hubungan jangka panjang. Menerima ketidaksempurnaan dalam diri sendiri dan pasangan, menunjukkan pendekatan yang matang terhadap hubungan dan membentuk harapan yang realistis untuk membangun hubungan menjadi lebih sehat dan bahagia.

3. Kesetaraan dalam hubungan 

Hubungan yang sehat adalah ketika kita mengizinkan orang lain untuk memberikan perhatian, cinta, dan dukungan mereka kepada kita. Alih-alih berada dalam hubungan, di mana kita yang terus memberikan perhatian, cinta, dan dukungan kepada orang lain, tetapi kita tidak mendapatkan balasannya. Ketika kita dapat menikmati diperhatikan sebagaimana kita memperhatikan orang lain, maka kita siap untuk menjalin hubungan yang sehat.

4. Kehidupan yang Stabil

Stabilitas dalam kehidupan pribadi dan karier memberikan fondasi yang kuat untuk hubungan jangka panjang. Ketika kita memiliki pekerjaan tetap, rutinitas yang konsisten, dan dapat mengelola tanggung jawab dengan baik, maka hal tersebut dapat dikatakan kehidupan yang stabil. Dimana kita dapat menangani komitmen hubungan jangka panjang   karena sudah siap menerima dan menjalankan tanggung jawab baru sebagai pasangan

5.  You can communicate effectively

Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah landasan dari setiap hubungan yang bertahan lama. Jika kita merasa mudah untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, serta merupakan pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif juga dapat membantu pasangan ketika menyelesaikan konflik dan memperdalam pemahaman di antara pasangan. Ketidaksepakatan tentu tidak dapat dihindari dalam hubungan apa pun. Menangani perbedaan pendapat dengan tenang dan konstruktif, tanpa menyimpan dendam menunjukkan kedewasaan emosional kita. Konflik yang dikelola dengan baik, dapat memperdalam pemahaman dan komitmen di antara pasangan. Cara kita berkomunikasi dan mengelola perselisihan dalam suatu hubungan menentukan masa hubungan yang akan dijalani.

Baca juga: Embracing Changes: Menyikapi Peralihan dari Pacaran ke Pernikahan

6. Memiliki growth mindset

Pola pikir yang berkembang berarti kita terbuka dan mencari informasi yang akan meningkatkan kehidupan kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bahagia, lebih sehat, dan tidak mudah stres. Individu dengan growth mindset melihat konflik sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki hubungan, bukan sebagai hal yang harus dihindari atau dihindarkan. Juga, individu akan berusaha untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pasangan yang lebih baik, serta berusaha untuk lebih memahami perasaan dan perspektif satu sama lain.

7. Memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang diinginkan di masa depan

Gambaran yang jelas tentang kehidupan akan membantu dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hubungan, seperti keputusan untuk menikah, memiliki anak, atau membeli rumah untuk ditinggali. Ketika visi tersebut sejalan, potensi konflik karena perbedaan tujuan akan berkurang dan  dapat mencegah kekecewaan di kemudian hari.

8.  Sudah berdamai dari hubungan terakhir

Kita hanya akan siap untuk seseorang yang baru jika kita telah mengatasi putus cinta, melewati kesedihan, meninggalkan kenangan-kenangan lalu, serta berdamai dengan masa tersebut. Ketika kita sudah tidak memiliki penyesalan, kebencian, atau perasaan romantis yang tersisa terhadap hubungan di masa lalu. Memulai hubungan yang baru artinya tidak membawa-bawa segala hal di masa lalu untuk menghindari kemungkinan membanding-bandingkan di masa depan.

9. You can trust and be trusted

Kepercayaan adalah hal mendasar dalam hubungan apa pun. Jika kita dapat mempercayai dan dipercaya, hal ini akan menjadi dasar yang kuat untuk sebuah komitmen jangka panjang. Mengetahui bahwa pasangan dapat mengandalkan satu sama lain akan membangun ikatan yang kuat dan langgeng. Kepercayaan sering kali menjadi inti dari pembahasan mengenai apakah hubungan jangka panjang itu sepadan.

10. Kematangan Emosional

Kematangan emosi adalah ketika individu mempunyai kemampuan dalam mengendalikan atau mengatur emosinya tanpa mudah terganggu oleh rangsangan emosi internal atau eksternal. Orang yang matang secara emosional mampu bereaksi dan bertindak secara tepat dan wajar sesuai situasi, serta keadaan yang ada. Kematangan emosi pada individu dapat membantu dirinya untuk mengelola konflik secara bijak dan memungkinkan seseorang untuk tetap tenang, objektif, dan rasional dalam situasi yang menantang, terutama ketika berkonflik dalam suatu hubungan.

Coba luangkan waktu sejenak untuk benar-benar memahami diri sendiri secara emosional dan pribadi. Menjadi bagian dari sebuah hubungan yang sehat membutuhkan seorang pribadi yang utuh dan sehat. Meskipun sangat menyenangkan untuk memiliki pendamping di hidup kita, penting untuk merasa nyaman dengan diri sendiri dan dengan kehidupan ketika kita sendirian, sebelum memutuskan untuk memasuki hubungan baru. Mengetahui apakah diri kita siap adalah hal yang sangat penting sebelum memulai sebuah hubungan yang serius. Apakah kita benar-benar telah siap untuk peduli dengan kebahagiaan orang lain seperti halnya kebahagiaan kita sendiri?

“Never go in search of love, go in search of life, and life will find you the love you seek” – Atticus

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para individu dan pasangan untuk mempersiapkan diri menjalin komitmen untuk hubungan yang harmonis. Kami berkomitmen untuk membantu setiap individu agar dapat memelihara hubungan dengan premarital program yang kami miliki. Anda dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Agnew, C. R., Hadden, B. W., & Tan, K. (2019). It’s About Time: Readiness, Commitment, and Stability in Close Relationships. Social Psychological and Personality Science, 10(8), 1046–1055. https://doi.org/10.1177/1948550619829060

Cantor, C. (2022, January 15). 1. When chaos is a turn-off, not a turn-on. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/modern-sex/202201/how-to-tell-youre-ready-for-a-serious-relationship

Winslow, C. (2024, May 21). How Do You Know You’re Ready for a Long-Term Relationship? Marriage Advice – Expert Marriage Tips & Advice. https://www.marriage.com/advice/relationship/how-do-you-know-if-youre-ready-for-a-relationship/

Uncategorized

Kesadaran Finansial, Tips Menabung untuk Para Usia 20-an

Champs, beberapa waktu lalu ada salah satu film yang sedang tayang di bioskop dengan judul, “Home Sweet Loan”. Mungkin banyak dari champs yang sudah mengetahui atau bahkan menonton film tersebut. Pada kesempatan kali ini, mari bersama-sama kita menelusuri pembelajaran yang bisa didapatkan dari film “Home Sweet Loan”, terutama terkait dengan pengelolaan keuangan.

Film “Home Sweet Loan” menceritakan tentang Kaluna, seorang pekerja kantoran yang baru saja merintis kariernya. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara di rumah itu. Ia tinggal bersama orang tuanya dan dua keluarga kakaknya yang sudah menikah. Kondisi itu membuat rumah Kaluna sangat ramai dan membuatnya sering merasa terganggu. Kaluna memiliki mimpi sederhana yang menjadi tujuan utama dalam hidupnya, yakni ingin memiliki rumah pribadi. Tetapi, meskipun telah bekerja keras dan hidup sederhana untuk mencapai impiannya itu, banyak tantangan finansial dan tekanan dari keluarganya yang harus Kaluna lalui. Cerita ini menggambarkan perjalanannya sebagai bagian dari generasi sandwich, di mana dia harus menyeimbangkan tanggung jawab merawat orang tua dengan usaha menabung untuk masa depannya.

Generasi sandwich merujuk pada kelompok orang dewasa yang harus menanggung dan bertanggung jawab atas biaya hidup, dua generasi sekaligus. Di satu sisi, mereka merawat orang tua yang semakin tua dan membutuhkan dukungan baik finansial maupun emosional. Di sisi lain, mereka juga bertanggung jawab atas keluarga inti, seperti anak atau saudara yang masih membutuhkan perhatian penuh. Maka, bisa dikatakan generasi sandwich ini harus membiayai dirinya sendiri, generasi di atasnya, dan juga generasi di bawahnya. Berdasarkan laporan survei Tirto.id (2023), sebanyak 50,60 persen dari 1.500 responden mengidentifikasikan diri sebagai generasi sandwich, yang 47,04 persennya kebanyakan memberi sokongan finansial kepada anak dan orang tua mereka.

Perjuangan Kaluna untuk mewujudkan cita-citanya memiliki rumah sendiri, tentu bukan hal yang mudah. Kaluna rela menyisihkan sebagian besar penghasilannya untuk menabung agar dapat mewujudkan impian tersebut. Hal yang dilakukan Kaluna tentu bukan hal yang asing lagi bagi kita, yang juga merupakan pekerja yang baru merintis karier dan mencoba mencapai stabilitas finansial. Di tengah era modern ini, ketika biaya hidup menjadi semakin tinggi, ditambah dengan perubahan ekonomi yang tidak menentu, juga dibebani dengan tanggung jawab generasi sandwich, membuat banyak generasi muda dihadapkan pada dilema keuangan yang kompleks.

Berdasarkan dari perjalanan Kaluna, ada beberapa tips penting terkait menabung yang dapat kita aplikasikan, yaitu sebagai berikut.

1 . Menetapkan Tujuan Keuangan yang Jelas 

Senduk (2009) menyatakan bahwa pengelolaan keuangan pribadi adalah proses mengolah semua aset yang dimiliki dengan menentukan terlebih dahulu tujuan-tujuan keuangan jangka pendek, serta jangka panjang. Champs dapat membuat daftar impian-impian yang ingin dicapai secara jelas dan terperinci dengan metode 5W+1H. Membuat tujuan yang spesifik akan membuat kita lebih termotivasi untuk menabung dan merealisasikan tujuan tersebut. 

  • What: Apa impianmu secara spesifik?
    Contoh: Saya ingin memiliki rumah impian saya sendiri.
  • Why: Mengapa impian ini penting bagi kamu?
    Contoh: Karena saya ingin memiliki tempat untuk beristirahat yang tenang dan nyaman.
  • Who: Siapa saja yang bisa membantumu mencapai impian ini?
    Contoh: Teman terdekat dan komunitas pekerja yang saya ikuti.
  • When: Kapan kamu ingin mewujudkan impian ini? Buatlah tenggat waktu yang realistis.
    Contoh: Dalam 7 tahun ke depan, saya ingin mulai mencicil pembayaran rumah.
  • Where: Di mana kamu akan memulai langkah-langkah untuk mencapai impian ini?
    Contoh: Saya akan mulai dengan menabung setiap bulannya dari penghasilan saya dan mencari rumah-rumah dengan harga sesuai dengan penghasilan saya.
  • How: Bagaimana kamu akan mencapai impian ini? Buatlah rencana yang mendetail.
    Contoh: Saya akan menghitung pengeluaran dan pemasukan setiap minggu, menghitung berapa biaya yang diperlukan untuk mewujudkannya mimpi saya, dan beberapa langkah lainnya.

Baca juga: Membangun Kebiasaan Baru yang Positif: Menjadi Versi Terbaik Diri

2.  Membuat Anggaran yang Realistis

Membuat anggaran yang realistis adalah langkah pertama untuk mencapai tujuan dari keuangan kita. Mulailah dengan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran secara detail, baik itu tunai maupun non-tunai. Ada baiknya juga untuk mengategorikan pengeluaran, misalnya untuk makanan, transportasi, ataupun hiburan agar kita lebih mudah menganalisis pengeluaran. Champs dapat menggunakan bantuan teknologi, seperti aplikasi keuangan atau software spreadsheet untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran secara otomatis. Fitur pelacakan pengeluaran ini akan sangat membantu kita mengidentifikasi area-area pengeluaran yang perlu dikurangi. Perlu diingat bahwa anggaran bukanlah sesuatu yang kaku, jadi champs tentu dapat melakukan penyesuaian anggaran secara berkala sesuai dengan perubahan kondisi lingkungan atau keuangan yang terjadi.

3. Menyisihkan Uang untuk Tabungan

Setiap dari kita tentu memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda terkait keuangan. Namun, langkah paling penting yang dapat dilakukan adalah menentukan alokasi gaji untuk membuat persentase pengalokasian dari pendapatan itu sendiri. Pengelolaan keuangan yang baik akan membantu seseorang terhindar dari jebakan perilaku memenuhi keinginan yang tidak terbatas (Afandy & Niangsih, 2020). Pada dasarnya, persentase alokasi gaji bersifat fleksibel yang artinya persentase tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Ada beberapa metode persentase alokasi gaji yang dapat champs gunakan, seperti formula 40/30/20/10, metode 50/30/20, metode 45/25/20/10, dan metode lainnya yang dapat disesuaikan dengan situasi diri masing-masing.

Metode rincian persentase tabungan dari gaji yang paling umum digunakan dalam alokasi gaji bulanan adalah metode 45/25/20/10. 45% dari gaji digunakan untuk kebutuhan pokok, 25% untuk tabungan, 20% untuk pembayaran cicilan/utang, dan 10% untuk dana darurat.

“It’s not your salary that makes you rich, it’s your spending habits.” –  Charles A. Jaffe

 

4. Memprioritaskan Kebutuhan

Pengelolaan keuangan didasarkan pada prioritas kebutuhan. Prioritas kebutuhan adalah fondasi dari keuangan yang sehat, dimana kita memahami mana yang menjadi kebutuhan utama dan mana yang sekadar keinginan semata. Membuat skala prioritas dapat menghindari kita dari pengeluaran yang tidak perlu dan memastikan setiap penghasilan yang kita miliki digunakan secara efektif dan terfokus pada kebutuhan dasar. Gaya hidup frugal living dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan hidup sederhana dan menghindari pemborosan, sehingga kita dapat lebih bijak dalam mengatur pengeluaran.

  • Menghindari Perilaku FOMO: Aktivitas di media sosial sekarang ini membuat banyak orang mengalami Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut ketinggalan sesuatu yang menyenangkan atau penting yang sedang dialami orang lain. FOMO dapat mendorong seseorang untuk melakukan pembelian impulsif karena terpengaruh oleh tren atau keinginan untuk memiliki barang-barang terbaru. Maka, champs perlu mengingat untuk selalu bijak menggunakan uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan utama yaitu sandang, pangan, dan papan serta pembayaran penting lainnya terlebih dahulu. Apabila masih ada sisa, alokasikan dana tersebut untuk ditabung atau disimpan sebagai dana darurat. Perilaku FOMO dan konsumtif hanya akan membuat kita melakukan pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu atau urgent
  • Masak di Rumah: Membawa bekal dari rumah atau masak di rumah akan jauh lebih hemat dibandingkan kita selalu membeli makanan di luar. 
  • Memanfaatkan Promo: Mencari promo atau diskon untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan harga yang lebih murah.

5.  Mencari Sumber Pendapatan Tambahan

Jika champs merasa pendapatan saat ini tidak mencukupi, cobalah untuk mencari pekerjaan sampingan atau side hustle. Side hustle diartikan sebagai pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama yang sifatnya fleksibel. Beberapa pekerjaan sampingan yang dapat dilakukan adalah menjadi freelancer dalam bidang tertentu, seperti menulis, mengajar, membuat konten media sosial, dan lainnya.

6.  Konsisten dan Disiplin

Konsisten dan disiplin adalah kunci menuju kebebasan finansial. Komitmen dengan diri sendiri untuk menabung mulai dari hal yang kecil dan melakukannya secara konsisten. Ketika kita disiplin dalam menabung, hal ini akan mengajarkan kita untuk menghargai setiap pendapatan yang dihasilkan. Kita akan menjadi lebih bijak dalam membelanjakan dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial.

 

Cara terbaik untuk menabung adalah dengan menemukan cara yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita. Semakin mudah bagi kita untuk berkomitmen dalam menabung, semakin rutin kita akan melakukannya dan semakin cepat kita dapat mencapai tujuan yang diimpikan. Langkah pentingnya adalah membuat menabung menjadi sebuah kebiasaan dalam keseharian kita. 

Champs yang ingin mendapatkan info beragam terkait pengembangan diri, life skills, dan tips-tips aplikatif lainnya. Champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

“Financial freedom is available to those who learn about it and work for it.” – Robert Kiyosaki

Referensi:

Afandy, C., & Niangsih, F. F. (2020). LITERASI KEUANGAN DAN MANAJEMEN KEUANGAN PRIBADI MAHASISWA DI PROVINSI BENGKULU. The Manager Review, 2(2), 68–98. https://doi.org/10.33369/tmr.v2i2.16329

Rohmah, F. N., & Susanty, F. (2023, October 20). Riset: Separuh Responden Usia Produktif Adalah Generasi Sandwich tirto.id. https://tirto.id/riset-lebih-dari-separuh-usia-produktif-jadi-generasi-isandwichi-gRin

Senduk, S. 2009. Mengelola Keuangan Keluarga. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

Uncategorized

Pelajaran Berharga dari Drama “When Life Gives You Tangerines”: Marriage Edition

Couples, apa ada dari anda yang menyaksikan serial drama korea “When Life Gives You Tangerines”?

Secara harfiah judul drama ini merupakan terjemahan dari frasa dalam dialek Jeju, “Pokssak Sogatsuda,” yang berarti “Kamu sudah bekerja keras.” Jika ditelaah lebih jauh, makna yang terkandung dalam judul ini sejalan dengan pepatah bahasa Inggris yang cukup populer, “When life gives you lemons, make lemonade.” Keduanya menyiratkan pesan yang sama, yaitu ketika hidup memberimu sesuatu yang mungkin asam, sulit, atau pahit, ubahlah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berarti. Namun, alih-alih lemons, drama ini memilih tangerines sebagai simbol yang lebih dekat dengan latar budaya dan geografis cerita, yaitu Pulau Jeju yang terkenal sebagai penghasil jeruk keprok terbaik di Korea Selatan.

Melalui simbol buah tangerines, drama ini menyampaikan bahwa kehidupan yang dijalani dengan ketulusan hati dan kerja keras akan membuahkan hasil. Seperti pohon jeruk yang dirawat dengan sepenuh hati akan menghasilkan buah yang manis dan menyegarkan di waktu yang tepat. Demikian pula kisah para karakter dalam drama ini, yang meski hidup dalam keterbatasan, tetap mampu menunjukkan cinta dan upaya terbaik bagi keluarga dan pernikahan mereka.

Perjalanan pernikahan Gwan-sik dan Ae-sun bukan sekadar kisah tentang sepasang suami istri yang hidup dalam kemiskinan dan berjuang untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka. Lebih dari itu, hubungan mereka tumbuh dari cinta yang tulus, pengorbanan yang senyap, dan keteguhan hati untuk selalu saling menjaga. Kisah mereka mengajarkan kita tentang makna cinta sejati, kesabaran, dan kesetiaan yang tidak bergantung pada kata-kata, melainkan tampak dari tindakan kecil sehari-hari. Mari bersama-sama menyelami setiap pelajaran berharga dari kisah perjalanan pernikahan Gwan-sik dan Ae-sun

1. Cinta bukan Hanya Tentang Kesempurnaan

Pernikahan bukanlah perjalanan yang selalu dipenuhi dengan kebahagiaan. Seperti hidup itu sendiri, pernikahan juga terkadang diwarnai oleh berbagai kesedihan, kesulitan, dan tantangan. Namun, fase-fase ini tidak akan terasa terlalu berat jika kita menjalaninya bersama orang yang tepat, seseorang yang bersedia mendampingi kita dalam suka maupun duka, tetap setia, dan mau berjuang bersama melewati segala rintangan. Inti dari sebuah pernikahan yang kuat bukan hanya terletak pada janji yang diucapkan di hari pernikahan atau pada peran sebagai orang tua nantinya, tapi merupakan komitmen yang terus diperbarui berkali-kali bersama pasangan. Komitmen untuk terus memilih satu sama lain, bukan hanya saat semuanya terasa mudah, menyenangkan, atau sempurna, tapi juga saat keadaan sedang terasa sulit, membosankan, atau bahkan melelahkan. Pernikahan yang berumur panjang dibangun dari setiap keputusan kecil yang konsisten, yaitu untuk tetap saling memilih di setiap waktu, tanpa lelah.

“Was our time together good? It was more than perfect. It was wonderful that I couldn’t have asked for more”  –  Ae-sun

 

2. Menemukan Seseorang yang Penuh Cinta 

Sebagai seorang suami, Gwan-sik adalah sosok yang telah menetapkan standar begitu tinggi tentang bagaimana ia mencintai Ae-sun dengan segala cara terbaik yang bisa dilakukan. Gwan-sik mendapat julukan “hati baja” yang merupakan gambaran dari cinta yang penuh dedikasi, kesetiaan, dan keteguhan hatinya kepada Ae-sun. Seluruh hidupnya ia curahkan demi kebahagiaan Ae-sun dan kesejahteraan anak-anak mereka, meskipun ia harus menanggung banyak beban dan luka batin secara diam-diam. Cintanya pada Ae-sun tidak dalam bentuk kata-kata romantis, tetapi selalu tampak dalam tindakan nyata baik dalam hal-hal besar, maupun dalam hal-hal sederhana, seperti menyediakan jepit rambut untuk sang istri. Gwan-sik juga dengan tegas menegur putrinya ketika Ae-sun terluka oleh ucapan sang anak. Seperti yang kemudian diungkapkan oleh Geum-myeong (sang putri), meskipun ia menjadi “nomor satu” di hati sang ayah, ia tahu betul bahwa ibunya, Ae-sun adalah “nomor nol”, seseorang yang tak tergantikan dan selalu berada di posisi paling istimewa dalam hati Gwan-sik.

3. Masalah Keungan bukan Masalah Besar

Gwan-sik dan Ae-sun menjalani kehidupan yang penuh tantangan, terutama karena kondisi ekonomi mereka yang terbatas. Namun, di tengah kesulitan itu, mereka tidak pernah menyerah terhadap satu sama lain. Justru, kepercayaan dan keyakinan mereka terhadap pasangan menjadi kekuatan utama yang membuat mereka terus bertahan. Masalah keuangan, meskipun berat, bukanlah sesuatu yang harus meruntuhkan pernikahan, selama pasangan mampu berbagi beban dan berjuang bersama untuk bangkit. Dalam banyak kasus, tanggung jawab keuangan memang lebih banyak dipegang oleh suami. Namun, ketika suami memilih untuk memendam semua masalah keuangan seorang diri dan menyembunyikannya dari istri, beban itu bisa terasa semakin berat. Perasaan tertekan, sendirian, dan tak ada tempat bersandar bisa membuat suami menjadi mudah untuk menyalahkan keadaan, bahkan orang lain karena merasa tak ada yang mengerti dan membantu di situasi tersebut. Dalam situasi seperti ini, istri bisa menjadi tempat bagi suami untuk mencurahkan isi hati, menjadi sumber kekuatan emosional, serta menjadi rekan yang turut mencari jalan keluar. Ketika pasangan saling mendukung dalam menghadapi kesulitan, mereka tidak hanya memperkuat ikatan cinta, tetapi juga membangun fondasi pernikahan yang lebih kokoh dan tahan uji.

“I don’t mind if it’s a stuffy apartment or your parents’ spare room. You are my home, that’s enough for me.” – Ae-sun

 

4.Pentingnya Kesetiaan dan Kesabaran

Di sepanjang episode yang telah tayang, kita semua dapat melihat banyak bentuk kesetiaan dan kesabaran oleh Gwan-sik dan Ae-sun. Gwan-sik yang mencintai Ae-sun sejak kecil dan tak pernah berpaling, meskipun banyak hal berubah seiring waktu dan banyak hal yang dilewati mereka berdua, perasaan Gwan-sik terhadap Ae-sun tetap sama hingga akhir hayatnya. Gwan-sik tidak pernah berhenti memperjuangkan Ae-sun, kesetiaan Gwan-sik terlihat dari hal-hal sederhana, seperti menghadiahkan jepit rambut untuk Ae-sun atau mengirimkan ikan makarel saat Ae-sun kesulitan makan. Gwan-sik menunjukkan kesetiaannya, bukan hanya dalam cinta besar, tapi juga dalam perhatian kecil di setiap hari. Kesabaran dan kesetiaan Ae-sun juga tergambar dari bagaimana ia tetap memilih untuk bersama dengan Gwan-sik di setiap musim kehidupan yang keluarga mereka alami. Mereka berdua adalah sosok yang tidak sempurna dan bertolak belakang dalam kepribadian, tapi mereka selalu kembali untuk saling memilih. Ketika masalah datang, mereka tidak lari atau saling menyalahkan, melainkan berusaha bertahan, belajar, dan mencari jalan bersama.

Selama enam puluh lima tahun Gwan-sik selalu ada, setia di sisi Ae-sun. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, mereka menemukan jutaan cara untuk menunjukkan cinta yang tak terbatas hanya dalam ungkapan cinta. Cinta mereka tidak dinyatakan lewat kata-kata manis, tetapi melalui tindakan-tindakan kecil yang penuh makna, perhatian yang tulus, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan perlindungan yang konsisten.

Bersama-sama, Gwan-sik dan Ae-sun melewati berbagai musim kehidupan yang ada, baik dalam suka dan duka, terang dan gelap dengan hati serta komitmen untuk tetap saling memilih. Dalam setiap kesulitan yang datang, Gwan-sik terus membuktikan dedikasinya kepada Ae-sun, tak hanya sebagai suami, tetapi juga sebagai sahabat dalam perjalanan hidup. Keteguhan dan ketenangannya menjadi jangkar yang membantu Ae-sun tetap berdiri di saat badai kehidupan datang silih berganti.

Hubungan antara Ae-sun dan Gwan-sik menunjukkan betapa pentingnya memiliki seseorang yang selalu mendukung dan memahami kita. Sekalipun mereka tidak sempurna dan pernah melakukan kesalahan di masa lalu, Ae-sun dan Gwan-sik terus bertahan dan memperjuangkan pernikahan hingga maut memisahkan mereka. Karena pernikahan itu terlalu berharga, maka mari bersama-sama dengan pasangan, kembali mencari alasan mengapa kita memilih mengarungi perjalanan pernikahan bersama pasangan kita saat ini. Jadikan hal tersebut sebagai komitmen untuk tetap saling memilih, bahkan di tengah badai dan menjadi versi yang lebih baik lagi untuk satu sama lain.

“Whatever path we take, life is hard anyway. Be with someone you’d be happy to see each morning, so when life gives you tangerines, you wouldn’t be afraid to face the bitter, sweet, and sour mix life has to offer”

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para couple melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Uncategorized

Membebaskan Anak dari Label: Dampak Negatif Label Pada Anak

Parents, apakah pernah mendengar istilah labelling pada anak? 

Labelling pada anak seringkali terjadi tanpa disadari, baik oleh orang tua, guru, atau lingkungan di sekitar anak. Contohnya adalah anak yang tidak membereskan tempat tidurnya akan dicap sebagai “Anak malas”. Bagi anak yang tidak bisa diam, akan diberikan label sebagai “Anak nakal”, tapi mereka yang tidak suka berbicara juga akan diberikan label “Anak pendiam”. Pemberian label-label ini pada anak dapat memengaruhi cara mereka melihat dirinya sendiri dan cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Labelling bukan hanya akan berdampak pada bagaimana anak melihat dirinya, tapi juga bagaimana orang tua atau orang sekitarnya melihat anak tersebut. Meskipun niatnya mungkin baik, seperti memberikan motivasi atau menjelaskan sifat anak, label yang diberikan seringkali memberikan dampak yang negatif bagi anak

Apa itu Labelling?

Labelling merupakan pemberian cap atau julukan kepada seseorang yang memiliki gejala-gejala perilaku tertentu. Pemberian label berarti menggunakan kata sifat untuk menggambarkan karakter anak.  Dengan demikian, orang yang diberikan label seringkali dinilai secara keseluruhan berdasarkan label tersebut tanpa memerhatikan perilaku-perilaku spesifiknya (Ahmadi & Nuraini, 2005). Akibatnya, individu yang diberi label cenderung mengalami perubahan peran dan lebih cenderung berperilaku sesuai dengan label yang telah diberikan kepadanya (Anggraeni & Khusumadewi, 2018). Hal ini juga berlaku pada label negatif yang diberikan kepada anak, yang bisa membentuk konsep diri anak tersebut hingga mereka dewasa. Seperti yang dijelaskan oleh Sigmund Freud, konsep diri berkembang melalui pengalaman, termasuk perilaku orang lain terhadap dirinya yang terjadi secara konsisten atau berulang (Kushendar & Maba, 2017).

Sebagian besar label, baik yang positif maupun negatif, cenderung menghasilkan dampak yang negatif. Hal ini terjadi karena label memiliki sifat yang membatasi. Label memberi tahu anak-anak karakteristik apa yang “seharusnya” mereka miliki (sesuai dengan label) dan karakteristik yang “tidak seharusnya” mereka miliki (yang umumnya tidak berhubungan dengan label tersebut). Label sering kali membatasi anak pada peran atau perilaku tertentu. Anak yang sering disebut “nakal” atau “pembuat onar” akan menganggap dirinya demikian dan hidup sesuai dengan label tersebut. Hal ini lama kelamaan akan membentuk pola pikir yang meyakinkannya bahwa itulah identitas dirinya. Hal ini terjadi karena anak cenderung menginterpretasikan diri mereka berdasarkan apa yang dikatakan oleh lingkungan mereka, sehingga mereka akhirnya menginternalisasi label tersebut dan berperilaku sesuai dengan apa yang diasumsikan.

Fenomena ini bisa dijelaskan melalui “Pygmalion Effect”. Efek ini menggambarkan bagaimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh keyakinan yang dimiliki orang lain atau diri kita sendiri tentang kemampuan kita serta apa yang bisa atau tidak bisa kita capai. Misalnya, jika kita menganggap seorang anak lebih cakap dalam berolahraga, kita cenderung memberinya lebih banyak kesempatan untuk berlatih, lebih banyak dukungan, dan waktu lebih untuk meningkatkan keterampilannya. Anak tersebut kemudian akan merespons dengan mengonfirmasi harapan kita dengan melakukan lebih banyak olahraga dan akhirnya mencapai hasil yang positif. Sebaliknya, jika kita memberi label negatif, seperti menganggap anak tidak pandai berolahraga dan menghalangi dia untuk melakukannya, anggapan tersebut bisa jadi menjadi kenyataan.

“Children become what they are told they are.”  –Dorothy Delay

Dampak Negatif Label Pada Anak

       1.Generalisasi Sifat Anak

Anak-anak tidak selalu berperilaku dengan cara yang sama, namun, karena kita sering memberikan label, kita cenderung menggeneralisasi dan beranggapan bahwa mereka akan berperilaku seperti itu dalam semua situasi dan sepanjang waktu, padahal hal tersebut tidaklah benar.

       2 .Tidak Melihat Perilaku Anak yang Lain

Saat kita memberi label pada anak, perhatian kita cenderung terfokus pada perilaku-perilaku yang mengonfirmasi label yang diberikan, sehingga menjadi lebih sulit untuk melihat perilaku-perilaku positif atau yang bertentangan dengan label tersebut. Juga, faktanya bahwa setiap karakteristik anak memiliki dua sisi yang dapat diasah. Ketika kita hanya memusatkan perhatian pada sisi negatif dari perilaku anak, kita melewatkan kenyataan bahwa sifat-sifat tersebut juga bisa memiliki aspek yang positif. Misalnya:

  • Anak yang “suka memerintah” bisa menjadi pemimpin yang hebat.
  • Anak yang “enerjik” adalah anak yang penuh semangat.
  • Anak yang “suka berimajinasi” adalah anak yang kreatif dan berbakat dalam berimajinasi.
  • Anak yang “suka menentang” adalah anak yang tegas dan memiliki pendirian.                                                                                                                                                                                              

          3.Anak Bersikap Berdasarkan Label

Anak-anak akan bertindak berdasarkan apa yang diharapkan dari mereka dan peran yang diberikan kepada mereka, anak akan menyesuaikan tindakan mereka untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Hal ini berkaitan dengan konsep “self-fulfilling prophecy” atau ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya, di mana harapan atau label yang diberikan pada anak bisa memengaruhi cara mereka berperilaku, dan seiring waktu, anak tersebut akan mulai berperilaku sesuai dengan peran atau harapan yang telah ditetapkan. Misalnya, jika seorang anak sering dipandang sebagai pemimpin atau yang cakap dalam memimpin, mereka akan lebih cenderung untuk mengambil peran tersebut dan menunjukkan perilaku kepemimpinan.

          4.Memengaruhi Self-Esteem Anak

Ketika anak-anak terus mendengar label yang diberikan kepada mereka, terutama label negatif, mereka mulai menginternalisasi label tersebut dan menganggapnya sebagai bagian dari identitas diri mereka. Jika anak sering diberi label seperti “nakal,” “tidak pandai,” atau “pemalas,” mereka mungkin mulai percaya bahwa label tersebut menggambarkan siapa mereka sebenarnya. Hal ini dapat merusak harga diri dan berdampak buruk bagi perkembangan emosional psikologis anak karena mereka cenderung melihat diri mereka hanya dari sudut pandang yang negatif. Anak-anak perlu memahami bahwa mereka lebih dari sekadar satu atau dua sifat negatif. 

Baca juga: Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

           5. Pelabelan Membatasi Potensi Anak

Meskipun label positif dapat memberikan dorongan bagi anak-anak, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelabelan positif tetap dapat membatasi potensi mereka. Meskipun label seperti “Anak pintar,” “Anak bijaksana,” atau “Anak baik hati” terdengar baik, label ini tetap membatasi anak-anak menjadi satu sifat tertentu, yang dapat membebani mereka dengan harapan atau tekanan yang berlebihan untuk selalu menunjukkan sifat tersebut. Contoh lainnya, bila anak diberi label “kreatif” akan mungkin membuat anak merasa harus selalu berkreasi dan terjun pada bidang seni, meskipun mereka memiliki ketertarikan pada bidang lain. Labelling membuat anak tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai minat dan aktivitas yang diinginkannya karena sudah dibatasi oleh label-label yang ada.

Cara Mencegah Labelling

  • Choosing the Right Words

Orang tua dapat lebih berfokus pada tindakan anak daripada memberikan label pada karakter anak. Misalnya, saat anak tidak membereskan tempat tidurnya, coba katakan bahwa itu adalah “tindakan yang kurang bertanggung jawab” agar anak menyadari bahwa perilaku tersebut bisa diperbaiki, tanpa merendahkan dirinya sebagai pribadi yang “malas.” Hal ini memberi anak kesempatan untuk memperbaiki perilakunya tanpa merasa dihukum atau dipermalukan. Begitu juga saat anak mencapai prestasi positif, coba berikan pujian yang menekankan pada usaha dan bukan pada hasil atau karakter anak. Contohnya, “Kamu sudah melakukannya dengan baik hingga akhir”, alih-alih mengatakan, “Kamu anak terpintar”. Kalimat pertama akan memberikan dorongan yang lebih positif dan mengajarkan anak untuk terus berusaha, tanpa terbebani pada tekanan atau harapan yang berlebihan. Pendekatan ini akan membantu anak mengembangkan pandangan yang lebih sehat tentang dirinya dan membantu mereka memahami bahwa perilaku yang mereka lakukan dapat diperbaiki atau ditingkatkan tanpa mengaitkannya dengan identitas diri mereka.

  • Penilaian yang Menyeluruh 

Melihat anak secara utuh termasuk berbagai aspek dan potensi dalam diri mereka, bukan hanya berdasarkan satu sifat atau tindakan saja. Hal ini dapat menghindari perilaku pemberian label negatif atau positif yang berlebihan pada anak, yang nantinya dapat memengaruhi persepsi dan rasa percaya diri mereka.

  • Hindari Perbandingan

Tidak membandingkan anak dengan saudara kandung, sepupu, teman, atau orang lain karena setiap anak memiliki kepribadian, minat, dan cara belajar yang berbeda. Meskipun dua anak mungkin berada dalam situasi yang serupa, cara mereka merespons, berkembang, atau berperilaku bisa sangat berbeda. Perbandingan semacam ini dapat memicu rasa tidak aman, stres, atau rasa tidak dihargai pada anak. Selain itu, setiap anak memiliki waktu dan cara yang berbeda dalam mencapai tujuan atau mengatasi tantangan. Beberapa anak mungkin lebih cepat berkembang dalam aspek tertentu, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak waktu atau pendekatan yang berbeda untuk dapat berkembang. Dengan menghindari perbandingan kepada anak, orang tua memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi mereka, tanpa merasa terbebani oleh standar atau ekspektasi yang tidak relevan.

Parents, anak-anak kita akan terus tumbuh, berkembang, dan memiliki potensi yang tak terbatas. Penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk tumbuh tanpa dibatasi oleh label. Kita perlu melihat mereka sebagai individu yang berkembang, dimana kita memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi diri, belajar dari pengalaman, dan berusaha mencapai potensi terbaik mereka, tanpa ada rasa takut atau ragu akibat label yang menyakitkan. Maka dari itu, dibutuhkan dukungan penuh kasih oleh orang tua dan pemahaman bahwa setiap anak memiliki perjalanannya masing-masing. Penting bagi kita untuk tidak menghalangi hal ini dengan memberikan label yang berbahaya atau menyakitkan bagi anak.

“Children learn by doing, and doing is noisy, untidy, messy, and unpredictable.” – Maggie Dent

 

Focus on the Family Indonesia mendukung parents, memperlengkapi anak dengan nilai-nilai dan kasih untuk anak dapat berkembang dan mengeksplorasi potensi yang mereka inginkan. Oleh sebab itu, FOFI menyediakan program konseling untuk parents agar bisa berdiskusi dengan tenaga profesional terkait parenting. FOFI juga menyediakan program parenting ‘Raising Future Ready Kids’ yang dapat membekali parents dengan skills untuk mendampingi pertumbuhan anak dalam membangun komunikasi yang efektif. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Ahmadi, D., & Nuraini, A. (2005). Teori penjulukan. MediaTor (Jurnal Komunikasi), 6(2), 297–306. https://doi.org/10.29313/mediator.v6i2.1209 

Anggraeni, A., & Khusumadewi, A. (2018). BIBLIOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN LABELLING NEGATIF PADA SISWA SMP. Jurnal Bikotetik (Bimbingan Dan Konseling Teori Dan Praktik), 2(1), 109. https://doi.org/10.26740/bikotetik.v2n1.p109-114 

Avoid labeling your child | Extension | University of Nevada, Reno. (n.d.). Extension | University of Nevada, Reno. https://extension.unr.edu/publication.aspx?PubID=3011#:~:text=Labeling%20affects%20the%20way%20children,goodby%20putting%20children%20in%20boxes 

Fireman, P. (2024, August 16). 10 reasons parents should stop labeling their children. Childrens Health Council. https://www.chconline.org/resourcelibrary/10-reasons-parents-should-stop-labeling-their-children 

Kushendar, K., & Maba, A. P. (2017). Bahaya label negatif terhadap pembentukan konsep diri anak dengan gangguan belajar. Nidhomul Haq Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(3), 95–102. https://doi.org/10.31538/nidhomulhaq.v2i3.52

 

Uncategorized

Brain Rot: Apa Itu dan Bagaimana Cara Menghadapinya?

Champs, banyak dari kita yang mungkin pernah mengalami kesulitan untuk fokus, produktivitas yang menurun, atau bahkan perasaan gelisah dan cemas. Saat ini, banyak dari kita yang mengalami perasaan-perasaan tersebut, bahkan ketika kita beristirahat dengan cukup dan memiliki pola makan yang sehat. Faktor penyebabnya bisa berasal dari kebiasaan menghabiskan berjam-jam di depan ponsel dan layar komputer, yang mengakibatkan paparan informasi digital secara berlebihan. Dampaknya adalah pada penurunan fungsi otak yang dikenal sebagai “Brain Rot“, yang dapat mempengaruhi kesehatan mental terutama pada dewasa muda.

Apa itu Brain Rot?

Brain rot didefinisikan sebagai kemunduran kondisi mental atau intelektual seseorang yang sering kali disebabkan oleh konsumsi materi yang dianggap remeh atau tidak menantang, secara berlebihan. Meskipun tidak diakui sebagai kondisi medis, fenomena ini nyata adanya. Menurut para ahli Oxford, istilah ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai dampak konsumsi konten online berkualitas rendah dalam jumlah yang berlebihan, terutama di media sosial

Ketika kita menghabiskan berjam-jam untuk scrolling dan menjelajah di media sosial, kita menjadi terpapar oleh banyak informasi yang tidak bermakna, entah itu berita negatif, hoax, atau dan postingan orang lain yang menunjukkan kehidupan yang sempurna. Informasi-informasi ini  yang sering kali membuat kita merasa tidak pernah cukup. Ketika individu menyerap begitu banyak konten yang tidak penting, hal ini dapat menyebabkan kelelahan mental yang lama-kelamaan dapat menurunkan motivasi, fokus, produktivitas, dan energi, terutama pada generasi muda saat ini. Kondisi ini juga mengurangi kemampuan kita untuk terlibat dalam aktivitas yang lebih bermakna, seperti menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang tercinta tanpa gangguan gadget.

What Causes Brain Rot?

Brain rot disebabkan oleh penggunaan teknologi secara berlebihan, seperti menonton video di YouTube, menggulir media sosial, atau beralih antar aplikasi ke aplikasi lainnya. Selain itu, kita kemungkinan juga melakukan beberapa aktivitas sekaligus, seperti menjelajahi internet, mengirim pesan, dan memeriksa email dalam satu waktu. Akibatnya, otak akan terlalu terstimulasi. Ketika kita membanjiri diri dengan banyaknya informasi digital, maka besar risiko untuk kita mengalami brain rot.

Scrolling media sosial dapat meningkatkan produksi hormon dopamin, yang sering disebut sebagai “hormon kebahagiaan” karena kemampuannya untuk menciptakan perasaan senang dan puas. Ketika kita scrolling media sosial dan setiap kali kita menemukan sesuatu yang menarik, seperti gambar, video, atau informasi yang menarik. Otak kita akan melepaskan hormon dopamin sebagai respon terhadap rangsangan tersebut. Semakin sering kita terpapar dengan rangsangan yang mengeluarkan dopamin, semakin besar keinginan kita untuk mengulangi perilaku tersebut di kemudian hari. Hal ini yang menyebabkan kita merasa terdorong untuk terus scrolling dengan harapan untuk menemukan “kepuasan” yang sama seperti sebelumnya.

Namun, meskipun kita juga menyadari bahwa terlalu banyak waktu yang dihabiskan di media sosial dapat membawa dampak negatif, seperti menurunnya produktivitas atau gangguan dalam kehidupan sosial, otak kita masih menginginkan lebih. Proses ini menciptakan siklus di mana kita terus mencari stimulus yang dapat memicu pelepasan dopamin, meskipun kita mengetahui dampak buruk yang menyertainya. Inilah yang menyebabkan kebiasaan scrolling menjadi perilaku adiktif.

Tanda-tanda brain rot sebagai berikut ini: (Manwell, 2024)

  • Gangguan konsentrasi yang konsisten.
  • Mudah atau sering mengalami disorientasi.
  • Kesulitan dalam membuat dan menyimpan ingatan baru, terutama tentang kejadian yang baru saja terjadi.
  • Masalah dalam merawat diri sendiri secara fisik.
  • Perubahan dalam kepribadian dan kemampuan bersosialisasi.

Perubahan yang berkelanjutan dalam suasana hati, penalaran, dan kemampuan decision making.

Efek Brain Rot terhadap Otak

Brain rot dapat memiliki beberapa efek negatif pada kesehatan mental, fisik, dan sosial seseorang.

  • Penurunan kemampuan daya ingat: Seseorang mungkin akan merasa sulit untuk mengingat nama, tanggal, atau peristiwa yang baru saja terjadi. Hal ini tentunya dapat memengaruhi kinerja akademis, produktivitas kerja, dan kehidupan pribadi seseorang.
  • Kemampuan problem solving dan attention span yang lebih rendah: Kita mungkin akan lebih sulit untuk berfokus pada tugas-tugas yang membutuhkan perhatian berkelanjutan, seperti belajar atau mengerjakan proyek.  Brain rot juga dapat memengaruhi kemampuan analitis dan kemampuan pemecahan masalah individu. 
  • Kelelahan mental: Paparan konten berkualitas rendah secara terus-menerus dapat membuat kita merasa lelah dan tidak termotivasi untuk melakukan kegiatan yang lebih bermakna. Juga, individu mungkin merasa lebih terisolasi atau kurang terhubung dengan dunia nyata karena lebih banyak menghabiskan waktu di sosial media, yang berisiko pada meningkatnya perasaan kesepian.
  • Kehilangan keterampilan sosial: Semakin banyaknya waktu yang dihabiskan di dunia digital, kemampuan individu untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain bisa berkurang. Brain rot sangat memungkinkan individu merasa lebih canggung atau tidak nyaman ketika berada dalam situasi sosial, yang membuat berkurangnya kualitas hubungan interpersonal individu dengan orang di sekitarnya.

Penurunan produktivitas: Brain rot dapat mengarah pada menurunnya motivasi dan energi untuk menyelesaikan tugas sehari-hari, baik itu pekerjaan, studi, atau kegiatan lainnya. Brain rot dapat memengaruhi produktivitas karena individu lebih memilih aktivitas yang memberikan kenyamanan instan, seperti scrolling media sosial, daripada mengerjakan tugas yang memerlukan usaha lebih.

Mencegah Brain Rot

Scrolling media sosial sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya salah, terutama bila kita menggunakan hal ini untuk merasa rileks atau bersantai sejenak setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, penting bagi kita untuk mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap kebiasaan scrolling yang berlebihan agar kita tetap dapat menjaga keseimbangan dalam hidup.

1.Mengurangi Screen Time                                                                                                                              Kita bisa menggunakan aplikasi atau pengaturan pada ponsel untuk memantau dan membatasi screen time di aplikasi-aplikasi yang sering digunakan. Champs juga dapat menggunakan teknik 20-20-20, yaitu setiap 20 menit penggunaan gadget cobalah untuk istirahat selama 20 detik dan melihat sesuatu yang berjarak 20 langkah dari kita. Teknik ini dapat membantu mengurangi ketegangan pada mata dan kelelahan mental setelah menggunakan gadget.

2.Seleksi Konten yang Dilihat
Champs dapat mengikuti akun atau halaman yang menyajikan konten bernilai positif dan informatif, yang dapat menginspirasi atau merangsang pemikiran kita. Jika, champs merasa kesulitan berhenti mengikuti akun yang memicu perasaan negatif, misalnya seorang teman, champs dapat menggunakan fitur mute untuk menghindari gangguan tanpa harus berhenti mengikuti teman tersebut.

3.Mengikuti Aktivitas yang Merangsang Pikiran
Coba luangkan waktu untuk membaca lebih banyak, mengikuti kelas, atau mempelajari keterampilan baru. Menantang diri sendiri untuk meng-upgrade diri untuk tujuan jangka panjang, bukan hanya mencari kepuasan sesaat. Jika kita merasa bosan, champs dapat mencoba kegiatan yang merangsang otak, seperti teka-teki silang, sudoku, atau permainan yang memerlukan berpikir kritis.

“Learning is forging new connections. Every time you learn something new, your brain physically changes.” – Dr. Joe Dispenza

4. Berolahraga Secara Teratur                                                                                                                          Olahraga ringan selama 20-30 menit setiap hari, seperti jalan kaki, jogging, bersepeda, atau berenang. Aktivitas fisik dapat meningkatkan aliran darah ke otak yang penting untuk meningkatkan fungsi kognitif, memperbaiki mood, dan mengurangi stres. Selain itu, olahraga juga merangsang pelepasan endorfin yang membantu seseorang merasa lebih segar dan fokus. 

 5.Menciptakan Rutinitas yang Terstruktur                                                                                                  Champs dapat membuat to do list atau jadwal harian untuk menciptakan keseimbangan antara waktu bekerja, waktu bersantai, dan waktu beristirahat untuk menjaga kesehatan mental dan fisik. Ketika kita memiliki rutinitas yang seimbang, kita dapat memprioritaskan tugas yang perlu diselesaikan tanpa merasa tertekan atau kehabisan energi karena pekerjaan yang menumpuk. Memiliki waktu untuk bersantai dan beristirahat, juga penting untuk memberikan stimulasi yang positif dan menjaga pikiran tetap segar. 

 6. Berlatih Menggunakan Media Sosial Secara Bijaksana
Menentukan batasan waktu dalam penggunaan media sosial setiap harinya, sangat penting untuk menghindari kecanduan atau konsumsi informasi yang berlebihan. Dengan membuat aturan mengenai berapa lama kita boleh menghabiskan waktu di media sosial, kita dapat mengontrol kebiasaan scrolling tanpa akhir yang tidak memberikan manfaat yang produktif. Metode ini juga dapat membantu kita lebih berfokus pada aktivitas lain yang lebih bermakna, seperti pekerjaan, bersosialisasi, atau melakukan hobi yang disenangi. Bila champs kesulitan untuk menghentikan kebiasaan doom scrolling, yaitu scrolling media sosial secara terus-menerus dengan konten yang cenderung negatif atau mengkhawatirkan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasinya adalah dengan melakukan detoks digital. Detoks digital adalah pengurangan atau bahkan penghentian sementara penggunaan perangkat digital dan media sosial, yang bisa membantu meredakan kecemasan, stres, dan kelelahan mental.

7.Mencari Dukungan                                                                                                                                               Bila champs merasa kesulitan untuk melepaskan kebiasaan scrolling yang berlebihan, champs dapat menjangkau bantuan dari orang sekitar ataupun seorang profesional. Bantuan dan dukungan dari orang sekitar dapat mengatasi masalah mendasar yang mungkin berkontribusi pada brain rot dan memberikan alternatif jalan keluar dari kebiasaan scrolling ini. 

Memang tidak mudah untuk sepenuhnya menghindari teknologi dan media sosial, terutama ketika kita terus-menerus terpapar pada berbagai stimulus eksternal yang menarik perhatian, baik itu informasi ataupun hiburan. Namun, kita dapat berfokus dengan mengutamakan kualitas dan kuantitas waktu yang dihabiskan di layar gadget kita. Champs dapat mengakses konten-konten edukatif dan bermanfaat yang bisa membantu kita tetap mendapatkan manfaat dari teknologi, tanpa jatuh ke dalam perangkap kecanduan atau penggunaan yang tidak produktif.

“The brain is wider than the sky.” – Emily Dickinson

Apabila champs mengalami kebingungan dalam proses mengadaptasi kebiasaan scrolling yang bermakna. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

Referensi:

Calm Editorial Team. (2024, December 3). Do you have brain rot? Here’s how to know — Calm Blog. Calm Blog. https://www.calm.com/blog/brainrot  

Newport Institute Staff. (2024, January 10). Brain Rot: The impact on young adult Mental health. Newport Institute. https://www.newportinstitute.com/resources/co-occurring-disorders/brain-rot/ 

Rapaport, L. (2024, December 13). What is brain rot and how can you prevent it? EverydayHealth.com. https://www.everydayhealth.com/healthy-aging/what-is-brain-rot-and-how-can-you-prevent-it/ 

Uncategorized

Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Parents, apakah anda pernah mendengar istilah inner child wounds?

Beberapa dari kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah ini karena banyaknya unggahan yang membahas mengenai inner child. Langkah ini menjadi bukti bahwa banyak orang yang mulai menyadari kehadiran anak kecil yang menjadi bagian dalam diri setiap individu. Bahkan ketika seseorang menjadi dewasa, inner child akan selalu ada bersama kita, entah itu sebagai sumber kreativitas dan kegembiraan atau sebagai trauma masa lalu.

Apa itu Inner Child?

Inner child adalah kumpulan peristiwa baik dan buruk yang terjadi selama masa pengasuhan oleh orang tua dan lingkungan sekitar, yang mempengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan seseorang di masa dewasa (Raniyah & Nasution, 2024). Ketika inner child seseorang sehat, maka ia akan menjadi sumber kreativitas, kegembiraan, dan inspirasi. Namun, pada inner child yang terluka, hal ini dapat berujung pada rendahnya harga diri, kesulitan untuk mempercayai orang lain, atau kesulitan dalam mengekspresikan emosi saat seseorang tumbuh menjadi individu dewasa.

Inner child yang terluka dapat terjadi karena pengasuhan yang melibatkan pengabaian, kekerasan, kurangnya kasih sayang, dan minimnya kehadiran orang tua yang meninggalkan luka batin pada anak (Surianti, 2022). Cara orang tua membesarkan atau mengasuh anak dapat memengaruhi perkembangan anak, baik dalam aspek intelektual, emosional, kepribadian, sosial, dan psikologis. Setiap orang tua tentu ingin anaknya hidup sesuai harapan mereka, sehingga para orang tua berusaha sebaik mungkin memberikan pengasuhan, pendidikan, dan bimbingan agar anaknya memenuhi ekspektasi tersebut. Namun, dalam kenyataannya, sering kali terdapat penyimpangan atau bahkan kontradiksi antara harapan dan kenyataan dalam pola pengasuhan, yang dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Ketika seorang anak tidak merasa aman, dicintai, atau diakui, mereka akan sangat mungkin mengalami luka batin yang dapat bertahan hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka memandang dunia, diri mereka sendiri, dan hubungan yang mereka miliki.

Seseorang dengan inner child yang terluka sering kali mencoba menghindari rasa sakit tersebut, dengan mengabaikan, menekan, atau menghindari perasaan yang ada, dan mendorongnya ke alam bawah sadar dengan harapan penderitaan itu akan hilang. Namun, inner child yang terluka tidak akan hilang begitu saja tanpa proses penyembuhan, dan dapat muncul pada individu dewasa dalam bentuk perilaku atau kondisi emosional yang seringkali tidak disadari. Proses penyembuhan inner child berfokus untuk memastikan bahwa seseorang merasakan nilai, cinta, dan perlindungan yang tidak ia dapatkan selama masa kanak-kanak.

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki pengalaman masa kanak-kanak yang membentuk siapa kita sekarang. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa selama masa tumbuh kembang, kita mungkin mengalami berbagai peristiwa atau perlakuan yang membekas, baik itu berupa pengabaian, kekerasan, atau pengalaman emosional lainnya. Meskipun, saat ini kita sudah menjadi orang dewasa dan berperan sebagai orang tua, luka batin yang belum sepenuhnya sembuh di masa lalu bisa tetap mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan anak-anak kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menyadari luka batin ini agar kita bisa melakukan proses penyembuhan, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi agar kita bisa memberikan pengasuhan yang lebih baik kepada anak-anak kita saat ini.

“The wound is not my fault. But, the healing is my responsibility.” – Marianne Williamson

Empat Tipe Inner Child Wound

  1. Neglect Wounds

Luka ini berkembang ketika kebutuhan dasar emosional atau fisik seorang anak tidak terpenuhi secara konsisten. Hal ini bisa berupa pengabaian kebutuhan fisik (makanan, pakaian, dan tempat tinggal) atau kebutuhan emosional (kasih sayang, pengakuan, dan bimbingan). Kondisi ini merupakan akibat langsung dari ketidakmampuan orang tua atau orang dewasa lain dalam memenuhi kebutuhan anak selama masa kanak-kanak. Misalnya, orang tua mungkin tidak hadir secara fisik untuk mengawasi atau melindungi anak dari bahaya fisik, atau anak mungkin tidak diberikan barang-barang dasar yang diperlukan, seperti pakaian, makanan, atau tempat tinggal yang layak. Luka pengabaian juga dapat disebut luka prioritas, dimana anak dan kebutuhannya tidak diperlakukan sebagai prioritas.

Tanda-tanda dari Luka Pengabaian:

  • Kesulitan mengekspresikan emosi.
  • Harga diri yang rendah.
  • Merasa tidak terlihat atau tidak penting.
  • Kesulitan menetapkan batasan.
  • Kecenderungan untuk menyenangkan orang lain

2. Guilt Wounds

Luka ini berasal dari perasaan bersalah atas kesalahan di masa lalu, yang mengendap dan terus melekat pada diri seseorang sepanjang kehidupan dewasa mereka. Perasaan bersalah ini bisa timbul karena anak dibesarkan dalam lingkungan di mana disiplin yang diterapkan orang tua mengandalkan rasa bersalah dan malu yang dirasakan oleh anak.

Tanda-tanda dari Luka Rasa Bersalah:

  • Menggunakan rasa bersalah untuk memenuhi kebutuhan emosional.
  • Tidak mengungkapkan apa yang dirasakan atau diinginkan.
  • Kesulitan meminta apa yang mereka butuhkan.
  • Menggunakan rasa bersalah untuk memanipulasi orang lain.
  • Takut menerapkan batasan.
  • Menekan atau mengabaikan perasaan sendiri.
  • Cenderung menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu, kritis terhadap diri sendiri

3. Abandonment Wounds

Luka ini berasal dari pengalaman yang dirasakan atau pengalaman nyata tentang ditinggalkan, tidak diinginkan, atau tidak dicintai. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidakhadiran fisik misalnya orang tua yang bekerja berjam-jam, ketidakhadiran emosional seperti orang tua yang tinggal jauh, atau bahkan ancaman pengabaian yang terjadi berulang kali.

Tanda-tanda dari Luka Pengabaian:

  • Takut akan keintiman dan komitmen.
  • Sering merasa sendirian meski sedang berada di keramaian.
  • Ketakutan akan ditinggalkan orang terdekat.
  • Kesulitan memercayai orang lain.
  • Perilaku melekat dalam hubungan atau malah terlalu mandiri.
  • Posesif dan cemburu.
  • Perasaan takut ditolak.

4. Trust Wounds

Luka ini muncul akibat pengalaman masa kecil di mana kepercayaan dan rasa aman dilanggar atau hilang. Luka ini menyebabkan seseorang kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat, serta kesulitan memercayai diri sendiri dan orang lain.

Tanda-tanda dari Luka Kepercayaan:

  • Sulit memercayai diri sendiri.
  • Perasaan curiga yang intens saat berada dalam suatu hubungan.
  • Merasa tidak aman dan membutuhkan validasi orang lain.
  • Takut membuka diri kepada orang lain.
  • Pikiran negatif bahwa orang lain akan memanfaatkan dirinya.
  • Kesulitan masuk ke dalam lingkungan yang benar-benar baru.

Jika parents, sebagai individu atau juga anak anda merasakan salah satu dari luka-luka tersebut, anda dapat mengambil langkah penyembuhan dengan pertama-tama mengakui rasa sakit yang dimiliki. Ketika individu dapat mengenali dampak dari pengalaman masa kecil mereka, ini adalah langkah pertama menuju penyembuhan. Kedua, mencari dukungan baik melalui orang terdekat ataupun terapi bersama profesional untuk memberikan ruang aman saat mengeksplorasi luka batin dan mengembangkan mekanisme koping yang lebih sehat. Terakhir, adalah mengembangkan belas kasih kepada diri sendiri. Diri kita sendiri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan kebaikan dan pengertian yang kita butuhkan.

Ingatlah, bahwa anda tidak sendirian dalam hal ini dan ada banyak orang yang siap membantu, serta mendukung proses penyembuhan diri ini. Percayalah, bahwa proses penyembuhan diri bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan untuk pulih dan akhirnya menemukan kedamaian diri.

“Your inner child deserves to feel safe, loved, and heard.”

Jika parents tertarik untuk mengeksplorasi dan mengenal inner child, parents dapat berkomunikasi dengan terapis atau profesional untuk memahami pentingnya masa kecil dalam membentuk kehidupan anak. Focus on the Family Indonesia juga siap membantu parents yang masih berproses dan menyembuhkan inner child diri anda melalui program konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Raniyah, Q., & Nasution, N. (2024). THE INNER CHILD PHENOMENON: PARENTING STYLE AS a PREDICTOR OF THE INNER CHILD. Raniyah | Proceeding International Seminar of Islamic Studies. https://doi.org/10.3059/insis.v0i1.18622

Surianti, S. (2022). Inner Child: Memahami dan Mengatasi Luka MasaKecil. Jurnal Mimbar Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani, 8(2), 10–18. https://doi.org/10.47435/mimbar.v8i2.123

Uncategorized

Embracing Changes: Menyikapi Peralihan dari Pacaran ke Pernikahan

Couples,  pernikahan seringkali menjadi salah satu keputusan terpenting dalam hidup dan dapat menjadi momen perubahan yang signifikan. Ini adalah langkah besar ketika seseorang berkomitmen untuk memilih menghabiskan sisa hidup dengan satu pasangan, untuk tetap mencintai dan menghargai baik dalam suka maupun duka. Transisi dari berpacaran menuju pernikahan lebih dari sekadar perubahan status dari seorang pacar menjadi suami/istri. Namun, merupakan peralihan besar yang melibatkan peningkatan komitmen, pemahaman, dan tanggung jawab yang lebih mendalam.

Perubahan yang terjadi dari pacaran ke pernikahan dapat mencakup berbagai aspek, baik emosional, sosial, maupun praktis. Fase ini menjadi waktu untuk pasangan mempersiapkan diri memahami harapan satu sama lain dan membangun fondasi yang kokoh berdasarkan rasa percaya dan saling menghormati. Namun, untuk menciptakan pernikahan yang berhasil dan bertahan seumur hidup, perlu adanya beberapa hal yang dipersiapkan untuk menghadapi setiap perubahan, baik dalam perjalanan selama pernikahan ataupun perubahan oleh pasangan kita.

How to Embrace Changes in Marriage

1.Menghormati Perbedaan

Saat dua individu dengan berbagai perbedaan berkomitmen untuk hidup bersama, konflik tentu menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Couples, jangan biarkan perbedaan antara anda dan pasangan, menciptakan jarak emosional maupun konflik besar di masa mendatang. Sebaliknya, couples dapat belajar untuk bekerja sama sebagai sebuah tim untuk membangun sikap positif dan saling menghargai. Perbedaan tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk pasangan tumbuh bersama dan saling memahami.

2 .Membangun Komunikasi yang Kuat

Komunikasi adalah fondasi utama dalam sebuah hubungan yang sehat. Kurangnya komunikasi sering kali menjadi salah satu penyebab utama perceraian oleh banyak pasangan. Ada beberapa hal penting yang perlu dibicarakan couples sebelum menikah untuk memastikan keduanya memiliki pemahaman yang sejalan terhadap satu sama lain . Jika seseorang tidak bisa terbuka dan jujur dalam percakapan bersama pasangannya, hubungan tersebut sangat mungkin bergejolak karena konflik. Komunikasi yang terbuka dan jujur, juga menjadi cara terbaik untuk membangun kepercayaan antara pasangan. Meskipun couples kurang nyaman untuk membicarakan beberapa hal, seperti masalah keuangan, tujuan hidup, atau hal lainnya. Namun, cobalah untuk perlahan terbuka dan mempercayai pasangan anda. Beberapa hal tersebut mungkin sulit untuk dikomunikasikan, tapi penting untuk dilakukan agar hubungan tetap kuat. Kuncinya adalah saling menghargai dan bekerja sama untuk menemukan jalan tengah di tengah konflik.

3. Membahas Keuangan

Sebelum memutuskan untuk menikah, penting bagi couples untuk berbicara secara terbuka mengenai masalah keuangan. Setelah menikah, mengelola anggaran bisa menjadi lebih sulit karena meskipun pendapatan keluarga mungkin meningkat, pengeluaran juga akan semakin besar. Couples dapat menyusun kesepakatan mengenai keuangan karena merupakan hal yang sangat krusial dalam sebuah hubungan sebelum menikah. Anda dan pasangan perlu memutuskan apakah akan memiliki satu rekening bersama, memisahkan rekening, atau memilih kompromi dengan memiliki rekening bersama, tetapi tetap mempertahankan rekening pribadi untuk keperluan masing-masing.

4. Memupuk Cinta

Cinta memiliki kekuatan luar biasa dalam memberikan dukungan emosional dan mental ketika menghadapi berbagai tantangan hidup. Cinta tidak hanya sekadar perasaan romantis, tetapi juga komitmen dan keterikatan yang mendalam antara dua orang yang saling memahami dan mendukung. Dalam konteks pernikahan, cinta menjadi landasan untuk mengatasi hambatan yang muncul, baik itu masalah komunikasi, perbedaan pendapat, atau kesulitan kehidupan lainnya. Cinta memiliki kemampuan untuk menjaga semangat pasangan, bahkan ketika menghadapi kesulitan. Misalnya, meskipun masalah keuangan, perubahan karier, atau peran dalam keluarga dapat menimbulkan tekanan, rasa cinta yang kuat akan mendorong pasangan untuk saling mendukung dan mencari solusi bersama. Cinta memberikan motivasi untuk tetap berjuang, berpikir positif, dan tidak mudah menyerah.

Menjaga hubungan romantis dengan terus memelihara cinta juga berarti berusaha untuk selalu menghidupkan kembali kehangatan hubungan, berbagi kebahagiaan, dan memperkuat ikatan meskipun kehidupan pasca-pernikahan membawa perubahan. Dengan memupuk cinta secara terus-menerus, hubungan akan tumbuh semakin kuat seiring waktu. Sebaliknya, jika cinta tidak dipelihara dengan baik, hubungan bisa terabaikan atau bahkan retak. Cinta yang sehat memungkinkan couples untuk terus berkembang sebagai individu dan sebagai pasangan, serta memberi ruang penyembuhan bagi satu sama lain ketika menghadapi konflik atau masalah.

“Marriage is a full time job. It must always be tended like a fire in the fireplace so that it will keep burning well.”

 

5. Menghormati Satu Sama Lain

Rasa hormat merupakan salah satu aspek fundamental dalam pernikahan yang sehat. Sebelum memutuskan untuk menikah, sangat penting untuk memastikan bahwa couples dapat saling menghargai. Rasa hormat ini vital untuk hubungan yang sehat karena dapat memudahkan couples menghadapi tantangan dan perbedaan pendapat, serta membantu memahami pandangan pasangan dalam membuat keputusan yang besar maupun yang kecil.

6. Membangun Kesatuan sebagai Tim

Couples perlu menjadi satu tim yang kokoh karena pernikahan adalah perjalanan bersama yang penuh dengan tantangan, keputusan, dan pengalaman hidup. Ketika pasangan saling mendukung dan bekerja sama sebagai tim, couples dapat mengatasi kesulitan dengan lebih efektif, membagi beban satu sama lain, dan memperkuat ikatan emosional. Sebagai tim, couples dapat saling melengkapi, memperkuat satu sama lain, dan mampu melihat masalah dari berbagai perspektif. Kolaborasi bersama pasangan anda ini menciptakan rasa saling percaya dan menghargai yang sangat penting untuk menjaga hubungan yang sehat dan tahan lama.

7. Belajar Memberi dan Menerima

Dalam hubungan yang sehat, kedua belah pihak perlu belajar untuk saling memberi dan menerima. Dengan saling memberi, setiap pasangan menunjukkan perhatian, empati, dan komitmen untuk mendukung pasangannya dalam berbagai situasi. Sebaliknya, dengan saling menerima, pasangan menunjukkan keterbukaan dan rasa hormat terhadap kebutuhan dan keinginan satu sama lain. Kedua proses ini menciptakan rasa saling memahami dan membantu membangun hubungan yang saling mendukung, serta penuh kasih. Tanpa keseimbangan ini, hubungan dapat terjebak dalam ketegangan atau ketidakadilan yang berpotensi merusak keharmonisan hubungan anda.

Pernikahan adalah perjalanan yang terus berkembang, yang mengharuskan pasangan untuk beradaptasi, bertumbuh, dan secara aktif menjaga cinta di dalamnya. Menerima setiap perubahan yang terjadi, mengingat alasan awal jatuh cinta, berusaha untuk tetap terhubung, serta terus jatuh cinta lagi adalah hal-hal penting dalam membangun pernikahan yang bertahan lama. Meskipun cinta bisa berubah seiring waktu, komitmen untuk menjadi pasangan yang terbaik bagi satu sama lain harus terus dijaga. Ingatlah, bahwa tujuan pernikahan bukan hanya untuk membuat segalanya menjadi mudah, tetapi untuk membangun kekuatan, kebersamaan, dan komitmen yang kokoh dalam menghadapi segala tantangan.

Bagi couples yang ingin memperkuat hubungan dengan pasangan anda dan sama-sama mempersiapkan diri menuju ke jenjang pernikahan. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan untuk memperlengkapi pasangan menuju pernikahan yang harmonis. Program “Marriage Preparation” yang terdiri dari sesi belajar dan juga konseling pranikah dapat couples dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

“Trust redirection, embrace change, and enjoy the journey.” – Wetheurban

Reference:

Authors, G. (2023, June 6). 11 Valuable lessons to learn before you commit to marrying your partner. Greatness. https://greatness.com/11-valuable-lessons-to-learn-before-you-commit-to-marrying-your-partner/

Instagram. Focus on the Family Singapore. https://www.instagram.com/p/DEkFbbZhRh7/?igsh=bDNtaWN2dXVtaHli&img_index=1

Kalra, P. (2023, February 26). Young and dreamy, here’s how I dealt with changes after marriage. Healthshots. https://www.healthshots.com/mind/emotional-health/tips-to-deal-with-changes-after-marriage/#google_vignette

Uncategorized

Good Habit Good Life

Hidup yang bahagia, sukses, dan berumur panjang adalah impian dari banyak orang. Namun, banyak dari mereka yang kesulitan untuk mencapai hal tersebut dalam hidupnya. Meskipun setiap orang memiliki situasi dan tekanan yang berbeda dalam keseharian, kita semua memiliki kontrol terhadap kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan.

Kebiasaan adalah hal-hal yang dapat kita lakukan dengan cepat dan tanpa perlu berpikir panjang karena kita sudah sering untuk melakukannya (autopilot). Hidup kita hari ini didasari oleh gabungan dari kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Kebahagiaan, bentuk tubuh, bahkan kesuksesan kita ditentukan oleh kebiasaan yang dimiliki.

Good habit umumnya berdampak positif pada kesejahteraan fisik, mental, dan emosional diri.  Kebiasaan baik dapat memengaruhi rasa puas dan kebahagiaan seseorang dalam menjalani hidup, karena kebiasaan yang baik meningkatkan personal growth. Contohnya, olahraga secara rutin dan makan makanan sehat berkontribusi pada kesehatan fisik yang lebih baik. Olahraga juga berdampak dengan mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati individu. Kebiasaan baik cenderung berorientasi pada masa depan dan memberikan manfaat jangka panjang, yang seringkali memerlukan kesabaran dan ketekunan sebelum kita dapat melihat hasil yang signifikan. Kebiasaan baik akan mendorong kita untuk mencapai tujuan jangka panjang, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun masa depan yang lebih baik. Misalnya, dengan belajar secara giat adalah kebiasaan yang berinvestasi pada pendidikan dan karier di masa depan.

Kebiasaan baik memberikan banyak manfaat yang mendalam, baik dalam aspek pribadi, profesional, maupun sosial individu. Maka dari itu, membangun dan mempertahankan kebiasaan baik harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Berikut adalah beberapa kebiasaan baik yang dapat champs jalankan ke dalam kehidupan.

1.     Makan dengan seimbang dan sehat

Makan dengan benar adalah makan beragam makanan dan fokus pada makanan segar, seperti sayuran dan buah-buahan. Menjaga waktu makan yang teratur dan engatur porsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, yaitu tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kita juga bisa sebisa mungkin menghindari makanan olahan, seperti makanan kalengan, fast food, dan camilan yang mengandung banyak gula, garam, dan lemak trans.

2.     Minum banyak air

Minum air yang cukup setiap hari (sekitar 8 gelas atau 2 liter) sangat penting untuk menjaga tubuh untuk tetap terhidrasi. Memilih untuk minum air putih, daripada minuman manis atau berkafein dapat meninhkatkan kesehatan ginjal dan pencernaan kita. Champs, bisa mencoba untuk selalu membawa botol air kemanapun dan mencoba memulai hari dengan segelas air putih di pagi hari.

3. Peregangan

Peregangan sama pentingnya dengan olahraga, terutama ketika kita menghabiskan banyak waktu hanya dengan duduk dan bekerja di depan layar. Terlalu lama bekerja di depan layar dapat membuat otot tubuh kita tegang dan kaku. Peregangan dapat membuat tubuh merasa lebih rileks dan nyaman, serta meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi. Peregangan bisa dilakukan secara teratur, baik sebelum atau setelah berolahraga maupun di antara aktivitas sehari-hari.

4 .Get some exercise

Semua orang tentu tahu bahwa olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan emosional kita. Aktif secara fisik dapat meningkatkan kesehatan otak, membantu mengatur berat badan, mengurangi risiko penyakit, memperkuat tulang dan otot, serta meningkatkan kemampuan beraktivitas sehari-hari. Olahraga juga dapat meningkatkan energi dan suasana hati individu. Olahraga yang dapat dimulai pertama kali adalah dengan berjalan kaki. Jalan kaki secara teratur merupakan kebiasaan sederhana namun efektif yang juga memberikan kesempatan kita untuk relaksasi, melepaskan stres, dan menjernihkan pikiran. Cobalah untuk berjalan kaki sekitar 30-60 menit sehari, sebanyak 3-5 kali seminggu.

5. Tidur yang cukup

Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh untuk memulihkan diri, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta memperbaiki suasana hati. Usahakan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas selama 7-9 jam setiap malam. Durasi tidur yang cukup memungkinkan tubuh dan otak memulihkan diri. Champs, juga dapat tidur secara teratur, yaitu tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari untuk membantu mengatur ritme sirkadian tubuh. Tidur yang nyenyak dapat menciptakan perasaan bahagia ketika kita bangun.

6. Menghabiskan waktu di alam

Alam memiliki kemampuan luar biasa untuk membantu individu memelihara pikiran dan tubuh. Aktivitas seperti berjalan di hutan, berjalan di pantai, atau duduk di taman memungkinkan tubuh untuk meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi stres, serta meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. Menghabiskan waktu di alam juga dapat membantu meningkatkan kekuatan fisik, stamina, dan kesehatan jantung.

7. Stress management

Kita semua tentu mengalami stres dalam keseharian kita, tetapi bagaimana kita mengelola stres tersebut akan berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup  kita. Langkah pertama adalah mengidentifikasi stressor serta pemicu perasaan stres. Mengetahui apa yang menyebabkan stres dapat membantu mengurangi perasaan kewalahan dan mengarahkan individu untuk menemukan solusi. Mengelola stres dengan cara yang sehat dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya berolahraga, beristirahat cukup, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.

8. Menjaga Hubungan

Hubungan yang sehat dan positif dengan keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan sehat. Hubungan sosial yang baik memberikan dukungan emosional yang kita butuhkan di saat kita sedang mengalami kesulitan, kesedihan, ataupun tantangan hidup.

9. Mengurangi screen time ponsel

Di masa sekarang ini, banyak orang yang kesulitan untuk konsisten terhadap hal yang dikerjakan karena distraksi besar dari ponsel di setiap genggaman tangan kita.  Screen time yang tinggi pada ponsel bisa berdampak buruk pada produktivitas kita sehari-hari, terutama bila penggunaan ponsel banyak dilakukan hanya untuk scroll media sosial dalam yang  waktu lama.

10. Membaca setiap hari

Membaca adalah kebiasaan yang baik untuk menambah pengetahuan, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat, dan untuk menghabiskan waktu luang.

 

Champs, itu adalah beberapa contoh kebiasaan baik yang dapat diaplikasikan untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. Perlu diingat, bahwa setiap orang memiliki perbedaan dalam kebiasaan yang dimiliki. Jadi ini adalah saatnya untuk kita semua, dapat menemukan kebiasaan yang paling sesuai dan tentunya memberikan dampak yang baik pada tubuh, serta kesehatan mental kita.

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

Uncategorized

Membangun Kebiasaan Baru yang Positif: Menjadi Versi Terbaik Diri

Champs,  penelitian menunjukkan bahwa sekitar setengah dari tindakan kita setiap hari didorong oleh proses pengulangan. Proses pengulangan ini bisa disebut sebagai kebiasaan. Habit atau kebiasaan digunakan untuk menggambarkan perilaku yang sering dilakukan, cenderung terjadi secara teratur, dan dapat diprediksi. Kebiasaan pada dasarnya adalah perilaku yang diulang secara teratur yang terjadi hampir secara otomatis, dengan sedikit atau tanpa pemikiran. Mungkin ini alasan dari mengapa banyak orang yang menulis cara membangun dan mempertahankan kebiasaan yang positif.

“What you do every day matters more than what you do every once in a while.”Gretchen Rubin

Menciptakan kebiasaan baru bisa jadi tampak menantang dan sulit untuk dilakukan. Entah itu memulai untuk berolahraga, konsumsi makanan yang lebih sehat, ataupun practice mindfulness. Beberapa dari kita mungkin memiliki motivasi yang rendah, kegagalan dalam menjalankan kebiasaan baru karena tidak konsisten, dan lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Namun, menciptakan kebiasaan baru dapat membantu kita meningkatkan kesehatan dan mencapai tujuan jangka panjang. Kebiasaan positif ini, seperti tidur yang cukup, olahraga, dan pola makan yang sehat. Namun, membangun kebiasaan yang bertahan lama membutuhkan usaha dan waktu. Mengubah tindakan kita menjadi respons otomatis yang selaras dengan tujuan dan nilai-nilai kita, tentunya membutuhkan dedikasi, strategi, kesabaran, dan pendekatan yang sistematis.

Apa itu Habit?

Habit atau kebiasaan adalah perilaku yang konsisten dan diulang-ulang. Perilaku cenderung menjadi kebiasaan ketika dilakukan secara sering dan konsisten dalam konteks yang sama (Ouellette & Wood, 1998). Contohnya, ketika seseorang sering dan secara konsisten makan sayur untuk makan siang, pada suatu waktu makan sayur saat makan siang akan menjadi sebuah kebiasaan bagi individu tersebut. Pembentukan kebiasaan menawarkan mekanisme untuk pemeliharaan perilaku. Upaya perubahan perilaku yang awalnya berhasil sering kali gagal dalam jangka panjang, tetapi suatu teori menyatakan bahwa perilaku yang menjadi kebiasaan akan bertahan bahkan ketika motivasi terkikis (Verplanken & Wood, 2006).

Kebiasaan tidak selalu terbentuk secara sadar, kebiasaan dapat berkembang ketika kita beroperasi secara autopilot. Kebiasaan di sisi lain, sudah mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga terasa aneh jika tidak melakukannya. Jika kita sudah terbiasa untuk sikat gigi sebelum tidur atau sarapan ditemani secangkir kopi hangat di pagi hari, dan ketika kita tidak melakukannya, mungkin akan ada rasa tidak nyaman yang hadir. Maka, kebiasaan adalah hal-hal yang kita lakukan secara teratur tanpa banyak berpikir atau berusaha (autopilot). Kebiasaan adalah perilaku otomatis yang kita pelajari dari waktu ke waktu melalui pengulangan dan latihan terus-menerus. Meskipun beberapa kebiasaan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup kita, ada juga kebiasaan lain yang berbahaya dan menyebabkan konsekuensi tidak menyenangkan untuk kita.

Kebiasaan yang baik berkontribusi pada perkembangan pribadi, membantu kita mencapai tujuan, dan menjalani gaya hidup sehat. Sedangkan, kebiasaan buruk dapat merugikan kesehatan fisik, emosional, dan mental kita karena mereka menghambat perkembangan pribadi dan dapat mengganggu hubungan yang kita miliki. Kebiasaan buruk seperti, merokok, minum-minuman beralkohol, mengonsumsi kafein berlebih, dan kebiasaan buruk lainnya. Beberapa kebiasaan yang telah terbentuk, bahkan akan sulit untuk dihilangkan.

Building a New Habit

Dalam membentuk suatu kebiasaan, waktu yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru tersebut dapat bervariasi, tergantung pada orangnya dan kompleksitas perilakunya. Penelitian menunjukkan bahwa, secara rata-rata dibutuhkan waktu antara 18 hingga 254 hari untuk membentuk kebiasaan baru (Lally et al., 2009). Kisaran yang luas ini mencerminkan keragaman kebiasaan yang dicoba oleh orang-orang, mulai dari hal yang sederhana seperti meminum segelas air putih setiap pagi, hingga perilaku yang lebih kompleks seperti berolahraga selama 30 menit setiap hari. Meskipun, pembentukan kebiasaan memiliki jangka waktu yang bervariasi dari orang ke orang, kita dapat berfokus pada tiga hal ini dibandingkan dengan waktu:

  • Seberapa kompleks perilaku tersebut?
  • Seberapa sering perilaku itu diulang?
  • Apa imbalan untuk perilaku tersebut?

The Four Stage of Habit

Proses membangun kebiasaan dapat dibagi menjadi empat langkah sederhana, yaitu cue, craving, response, dan reward. Pembagian menjadi bagian-bagian mendasar ini membantu kita memahami apa itu kebiasaan, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana cara meningkatkan kebiasaan tersebut.

Pembentukan kebiasaan melibatkan empat tahap utama:

  1. Cue (Isyarat): Pemicu perilaku.
  2. Craving (Keinginan ): Kekuatan motivasi di balik perilaku .
  3. Respon: Perilaku itu sendiri.
  4. Reward (Imbalan): Manfaat yang diterima dari perilaku tersebut.

Mengidentifikasi dan memanipulasi isyarat dan penghargaan dapat membantu kita memperkuat kebiasaan baru yang kita inginkan. Isyarat memicu otak kita untuk memulai suatu perilaku dengan memprediksi hadiah yang akan didapatkan. Kita semua, berada di suatu proses mempelajari isyarat di sekitar, sekaligus memprediksi imbalan sekunder yang bisa didapatkan, seperti uang, kekuasaan, status, pujian, cinta, persahabatan, atau rasa kepuasan pribadi. Isyarat merupakan indikasi pertama bahwa kita sudah dekat dengan sebuah hadiah/imbalan, yang secara alamiah akan menimbulkan keinginan.

Keinginan adalah langkah kedua dari lingkaran kebiasaan dan merupakan kekuatan motivasi di balik setiap kebiasaan. Tanpa adanya motivasi atau keinginan untuk melakukan perubahan, kita tidak memiliki alasan untuk bertindak. Yang sebenarnya kita inginkan bukanlah perubahan tersebut, namun hasil dari perubahannya. Contohnya kita tidak termotivasi untuk menyikat gigi, melainkan perasaan dari mulut yang bersih. Kita tidak berkeinginan untuk menyalakan televisi, tapi kita ingin dihibur.

Langkah ketiga adalah respon. Respon adalah kebiasaan aktual yang dilakukan, yang dapat berupa pikiran atau tindakan. Respon bergantung pada seberapa besar motivasi yang kita miliki dan juga tergantung pada kemampuan diri. Kebiasaan hanya dapat terjadi hanya jika kita mampu melakukannya. Terakhir, adalah respons yang menciptakan hadiah/imbalan. Imbalan adalah tujuan akhir dari setiap kebiasaan. Isyarat adalah tentang memperhatikan hadiah. Keinginan adalah tentang menginginkan hadiah. Respon adalah tentang mendapatkan hadiah. Kita mengejar suatu imbalan karena dua tujuan, yaitu imbalan itu memuaskan kita dan imbalan tersebut mengajari kita sesuatu.

Proses empat tahap pembentukan kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang terjadi sesekali, melainkan sebuah lingkaran umpan balik tanpa akhir yang berjalan dan aktif selama kita hidup. Otak akan secara terus-menerus memindai lingkungan, memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, mencoba berbagai respons, dan belajar dari hasilnya. 

Strategies to Create Habits 

  • Set a specific goal

Cara kita mendefinisikan sebuah tujuan untuk dijadikan kebiasaan sangatlah penting. Tujuan seperti “berjalan kaki” terlalu abstrak dan kurang jelas dibandingkan dengan, “saya akan berjalan kaki selama 15 menit di pagi hari”. Tujuan yang jelas akan mengurangi rasa takut kita untuk memulai dan membantu kita untuk lebih mudah melihat kemajuan yang terjadi setelahnya. 

  1. Start small and build slowly 

Perubahan besar dalam hidup kita tentu membutuhkan motivasi yang tinggi pula. Ketimbang mencoba melakukan sesuatu yang luar biasa dari awal, kita dapat memulai dari hal yang kecil dan tingkatkan secara bertahap. Seiring berjalannya waktu, kemauan dan motivasi akan meningkat, yang akan membuat kita lebih mudah untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Cobalah mulai dengan kebiasaan baru yang cukup mudah sehingga kita tidak perlu motivasi untuk melakukannya. Seperti contoh, daripada langsung melakukan jogging selama satu jam per hari, mulailah dengan jalan santai atau lari-lari kecil 15 menit setiap harinya. Buatlah kebiasaan yang cukup mudah yang dapat kita selesaikan tanpa motivasi. 

“Make it so easy you can’t say no.” Leo Babauta 

  • When you slip, get back on track quickly.

Ketika kita keluar dari jalur atau melewati satu hari tanpa melakukan kebiasaan tersebut, cobalah untuk kembali ke jalur yang benar, melakukan kebiasaan tersebut secepat mungkin. Kita semua pasti pernah membuat kesalahan atau keluar dari kebiasaan yang ingin dilakukan, namun langkah terbaiknya adalah segera kembali ke jalur kebiasaan tersebut.

  1. Reward new behaviors  

Pemberian penguatan positif pada perilaku baru dapat membantu perilaku tersebut bertahan menjadi kebiasaan. Misalnya, mendengarkan musik atau podcast favorit saat melakukan perilaku baru, dapat membantu membangun motivasi untuk melanjutkannya. Akan lebih baik jika kita dapat menemukan reward intrinsik (dari dalam diri), seperti bagaimana perilaku yang baru membuat suatu perasaan kepada kita . 

  • Build a support network 

Kita dapat membagikan tujuan yang ingin kita capai dengan teman, keluarga, atau support group yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk mendapatkan motivasi dan dukungan yang kuat dari orang lain, agar kita dapat mempertahankan kebiasaan yang dimiliki. 

Jika champs kesulitan untuk membuat kebiasaan baru yang bertahan, jangan berkecil hati dan jangan menyerah begitu saja dengan kebiasaan tersebut. Pun, bila waktu yang champs butuhkan ternyata lebih lama dari orang lain, itu bukanlah suatu masalah untuk membentuk kebiasaan baru yang positif. Champs dapat memulainya dari yang kecil, secara konsisten, dan tetap berkomitmen pada tujuan melalui dukungan orang sekitar. Ingatlah, semua hasil dari kebiasaan yang dilakukan berasal dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap harinya.

 

“The quality of our lives often depends on the quality of our habits.”James Clear

 

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

Referensi: 

Clear, J. (2022, October 20). How to start new habits that actually stick. James Clear. https://jamesclear.com/three-steps-habit-change

Harris, M., PhD. (2023, September 19). How do we successfully build a new habit? – Marc Harris, PhD – Medium. Medium. https://medium.com/@MarcHarrisPhD/how-do-we-successfully-build-a-new-habit-2cb9cd9e1c92 

Lally, P., Van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2009). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. https://doi.org/10.1002/ejsp.674 

Ouellette, J. A., & Wood, W. (1998). Habit and intention in everyday life: The multiple processes by which past behavior predicts future behavior. Psychological Bulletin, 124(1), 54–74. https://doi.org/10.1037/0033-2909.124.1.54

Verplanken, B., & Wood, W. (2006). Interventions to break and create consumer habits. Journal of Public Policy & Marketing, 25(1), 90–103. https://doi.org/10.1509/jppm.25.1.90