Family Indonesia

Uncategorized

Good Habit Good Life

Hidup yang bahagia, sukses, dan berumur panjang adalah impian dari banyak orang. Namun, banyak dari mereka yang kesulitan untuk mencapai hal tersebut dalam hidupnya. Meskipun setiap orang memiliki situasi dan tekanan yang berbeda dalam keseharian, kita semua memiliki kontrol terhadap kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan.

Kebiasaan adalah hal-hal yang dapat kita lakukan dengan cepat dan tanpa perlu berpikir panjang karena kita sudah sering untuk melakukannya (autopilot). Hidup kita hari ini didasari oleh gabungan dari kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Kebahagiaan, bentuk tubuh, bahkan kesuksesan kita ditentukan oleh kebiasaan yang dimiliki.

Good habit umumnya berdampak positif pada kesejahteraan fisik, mental, dan emosional diri.  Kebiasaan baik dapat memengaruhi rasa puas dan kebahagiaan seseorang dalam menjalani hidup, karena kebiasaan yang baik meningkatkan personal growth. Contohnya, olahraga secara rutin dan makan makanan sehat berkontribusi pada kesehatan fisik yang lebih baik. Olahraga juga berdampak dengan mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati individu. Kebiasaan baik cenderung berorientasi pada masa depan dan memberikan manfaat jangka panjang, yang seringkali memerlukan kesabaran dan ketekunan sebelum kita dapat melihat hasil yang signifikan. Kebiasaan baik akan mendorong kita untuk mencapai tujuan jangka panjang, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun masa depan yang lebih baik. Misalnya, dengan belajar secara giat adalah kebiasaan yang berinvestasi pada pendidikan dan karier di masa depan.

Kebiasaan baik memberikan banyak manfaat yang mendalam, baik dalam aspek pribadi, profesional, maupun sosial individu. Maka dari itu, membangun dan mempertahankan kebiasaan baik harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Berikut adalah beberapa kebiasaan baik yang dapat champs jalankan ke dalam kehidupan.

1.     Makan dengan seimbang dan sehat

Makan dengan benar adalah makan beragam makanan dan fokus pada makanan segar, seperti sayuran dan buah-buahan. Menjaga waktu makan yang teratur dan engatur porsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, yaitu tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kita juga bisa sebisa mungkin menghindari makanan olahan, seperti makanan kalengan, fast food, dan camilan yang mengandung banyak gula, garam, dan lemak trans.

2.     Minum banyak air

Minum air yang cukup setiap hari (sekitar 8 gelas atau 2 liter) sangat penting untuk menjaga tubuh untuk tetap terhidrasi. Memilih untuk minum air putih, daripada minuman manis atau berkafein dapat meninhkatkan kesehatan ginjal dan pencernaan kita. Champs, bisa mencoba untuk selalu membawa botol air kemanapun dan mencoba memulai hari dengan segelas air putih di pagi hari.

3. Peregangan

Peregangan sama pentingnya dengan olahraga, terutama ketika kita menghabiskan banyak waktu hanya dengan duduk dan bekerja di depan layar. Terlalu lama bekerja di depan layar dapat membuat otot tubuh kita tegang dan kaku. Peregangan dapat membuat tubuh merasa lebih rileks dan nyaman, serta meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi. Peregangan bisa dilakukan secara teratur, baik sebelum atau setelah berolahraga maupun di antara aktivitas sehari-hari.

4 .Get some exercise

Semua orang tentu tahu bahwa olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan emosional kita. Aktif secara fisik dapat meningkatkan kesehatan otak, membantu mengatur berat badan, mengurangi risiko penyakit, memperkuat tulang dan otot, serta meningkatkan kemampuan beraktivitas sehari-hari. Olahraga juga dapat meningkatkan energi dan suasana hati individu. Olahraga yang dapat dimulai pertama kali adalah dengan berjalan kaki. Jalan kaki secara teratur merupakan kebiasaan sederhana namun efektif yang juga memberikan kesempatan kita untuk relaksasi, melepaskan stres, dan menjernihkan pikiran. Cobalah untuk berjalan kaki sekitar 30-60 menit sehari, sebanyak 3-5 kali seminggu.

5. Tidur yang cukup

Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh untuk memulihkan diri, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta memperbaiki suasana hati. Usahakan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas selama 7-9 jam setiap malam. Durasi tidur yang cukup memungkinkan tubuh dan otak memulihkan diri. Champs, juga dapat tidur secara teratur, yaitu tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari untuk membantu mengatur ritme sirkadian tubuh. Tidur yang nyenyak dapat menciptakan perasaan bahagia ketika kita bangun.

6. Menghabiskan waktu di alam

Alam memiliki kemampuan luar biasa untuk membantu individu memelihara pikiran dan tubuh. Aktivitas seperti berjalan di hutan, berjalan di pantai, atau duduk di taman memungkinkan tubuh untuk meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi stres, serta meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. Menghabiskan waktu di alam juga dapat membantu meningkatkan kekuatan fisik, stamina, dan kesehatan jantung.

7. Stress management

Kita semua tentu mengalami stres dalam keseharian kita, tetapi bagaimana kita mengelola stres tersebut akan berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup  kita. Langkah pertama adalah mengidentifikasi stressor serta pemicu perasaan stres. Mengetahui apa yang menyebabkan stres dapat membantu mengurangi perasaan kewalahan dan mengarahkan individu untuk menemukan solusi. Mengelola stres dengan cara yang sehat dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya berolahraga, beristirahat cukup, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.

8. Menjaga Hubungan

Hubungan yang sehat dan positif dengan keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan sehat. Hubungan sosial yang baik memberikan dukungan emosional yang kita butuhkan di saat kita sedang mengalami kesulitan, kesedihan, ataupun tantangan hidup.

9. Mengurangi screen time ponsel

Di masa sekarang ini, banyak orang yang kesulitan untuk konsisten terhadap hal yang dikerjakan karena distraksi besar dari ponsel di setiap genggaman tangan kita.  Screen time yang tinggi pada ponsel bisa berdampak buruk pada produktivitas kita sehari-hari, terutama bila penggunaan ponsel banyak dilakukan hanya untuk scroll media sosial dalam yang  waktu lama.

10. Membaca setiap hari

Membaca adalah kebiasaan yang baik untuk menambah pengetahuan, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat, dan untuk menghabiskan waktu luang.

 

Champs, itu adalah beberapa contoh kebiasaan baik yang dapat diaplikasikan untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. Perlu diingat, bahwa setiap orang memiliki perbedaan dalam kebiasaan yang dimiliki. Jadi ini adalah saatnya untuk kita semua, dapat menemukan kebiasaan yang paling sesuai dan tentunya memberikan dampak yang baik pada tubuh, serta kesehatan mental kita.

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

Uncategorized

Membangun Kebiasaan Baru yang Positif: Menjadi Versi Terbaik Diri

Champs,  penelitian menunjukkan bahwa sekitar setengah dari tindakan kita setiap hari didorong oleh proses pengulangan. Proses pengulangan ini bisa disebut sebagai kebiasaan. Habit atau kebiasaan digunakan untuk menggambarkan perilaku yang sering dilakukan, cenderung terjadi secara teratur, dan dapat diprediksi. Kebiasaan pada dasarnya adalah perilaku yang diulang secara teratur yang terjadi hampir secara otomatis, dengan sedikit atau tanpa pemikiran. Mungkin ini alasan dari mengapa banyak orang yang menulis cara membangun dan mempertahankan kebiasaan yang positif.

“What you do every day matters more than what you do every once in a while.”Gretchen Rubin

Menciptakan kebiasaan baru bisa jadi tampak menantang dan sulit untuk dilakukan. Entah itu memulai untuk berolahraga, konsumsi makanan yang lebih sehat, ataupun practice mindfulness. Beberapa dari kita mungkin memiliki motivasi yang rendah, kegagalan dalam menjalankan kebiasaan baru karena tidak konsisten, dan lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Namun, menciptakan kebiasaan baru dapat membantu kita meningkatkan kesehatan dan mencapai tujuan jangka panjang. Kebiasaan positif ini, seperti tidur yang cukup, olahraga, dan pola makan yang sehat. Namun, membangun kebiasaan yang bertahan lama membutuhkan usaha dan waktu. Mengubah tindakan kita menjadi respons otomatis yang selaras dengan tujuan dan nilai-nilai kita, tentunya membutuhkan dedikasi, strategi, kesabaran, dan pendekatan yang sistematis.

Apa itu Habit?

Habit atau kebiasaan adalah perilaku yang konsisten dan diulang-ulang. Perilaku cenderung menjadi kebiasaan ketika dilakukan secara sering dan konsisten dalam konteks yang sama (Ouellette & Wood, 1998). Contohnya, ketika seseorang sering dan secara konsisten makan sayur untuk makan siang, pada suatu waktu makan sayur saat makan siang akan menjadi sebuah kebiasaan bagi individu tersebut. Pembentukan kebiasaan menawarkan mekanisme untuk pemeliharaan perilaku. Upaya perubahan perilaku yang awalnya berhasil sering kali gagal dalam jangka panjang, tetapi suatu teori menyatakan bahwa perilaku yang menjadi kebiasaan akan bertahan bahkan ketika motivasi terkikis (Verplanken & Wood, 2006).

Kebiasaan tidak selalu terbentuk secara sadar, kebiasaan dapat berkembang ketika kita beroperasi secara autopilot. Kebiasaan di sisi lain, sudah mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga terasa aneh jika tidak melakukannya. Jika kita sudah terbiasa untuk sikat gigi sebelum tidur atau sarapan ditemani secangkir kopi hangat di pagi hari, dan ketika kita tidak melakukannya, mungkin akan ada rasa tidak nyaman yang hadir. Maka, kebiasaan adalah hal-hal yang kita lakukan secara teratur tanpa banyak berpikir atau berusaha (autopilot). Kebiasaan adalah perilaku otomatis yang kita pelajari dari waktu ke waktu melalui pengulangan dan latihan terus-menerus. Meskipun beberapa kebiasaan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup kita, ada juga kebiasaan lain yang berbahaya dan menyebabkan konsekuensi tidak menyenangkan untuk kita.

Kebiasaan yang baik berkontribusi pada perkembangan pribadi, membantu kita mencapai tujuan, dan menjalani gaya hidup sehat. Sedangkan, kebiasaan buruk dapat merugikan kesehatan fisik, emosional, dan mental kita karena mereka menghambat perkembangan pribadi dan dapat mengganggu hubungan yang kita miliki. Kebiasaan buruk seperti, merokok, minum-minuman beralkohol, mengonsumsi kafein berlebih, dan kebiasaan buruk lainnya. Beberapa kebiasaan yang telah terbentuk, bahkan akan sulit untuk dihilangkan.

Building a New Habit

Dalam membentuk suatu kebiasaan, waktu yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru tersebut dapat bervariasi, tergantung pada orangnya dan kompleksitas perilakunya. Penelitian menunjukkan bahwa, secara rata-rata dibutuhkan waktu antara 18 hingga 254 hari untuk membentuk kebiasaan baru (Lally et al., 2009). Kisaran yang luas ini mencerminkan keragaman kebiasaan yang dicoba oleh orang-orang, mulai dari hal yang sederhana seperti meminum segelas air putih setiap pagi, hingga perilaku yang lebih kompleks seperti berolahraga selama 30 menit setiap hari. Meskipun, pembentukan kebiasaan memiliki jangka waktu yang bervariasi dari orang ke orang, kita dapat berfokus pada tiga hal ini dibandingkan dengan waktu:

  • Seberapa kompleks perilaku tersebut?
  • Seberapa sering perilaku itu diulang?
  • Apa imbalan untuk perilaku tersebut?

The Four Stage of Habit

Proses membangun kebiasaan dapat dibagi menjadi empat langkah sederhana, yaitu cue, craving, response, dan reward. Pembagian menjadi bagian-bagian mendasar ini membantu kita memahami apa itu kebiasaan, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana cara meningkatkan kebiasaan tersebut.

Pembentukan kebiasaan melibatkan empat tahap utama:

  1. Cue (Isyarat): Pemicu perilaku.
  2. Craving (Keinginan ): Kekuatan motivasi di balik perilaku .
  3. Respon: Perilaku itu sendiri.
  4. Reward (Imbalan): Manfaat yang diterima dari perilaku tersebut.

Mengidentifikasi dan memanipulasi isyarat dan penghargaan dapat membantu kita memperkuat kebiasaan baru yang kita inginkan. Isyarat memicu otak kita untuk memulai suatu perilaku dengan memprediksi hadiah yang akan didapatkan. Kita semua, berada di suatu proses mempelajari isyarat di sekitar, sekaligus memprediksi imbalan sekunder yang bisa didapatkan, seperti uang, kekuasaan, status, pujian, cinta, persahabatan, atau rasa kepuasan pribadi. Isyarat merupakan indikasi pertama bahwa kita sudah dekat dengan sebuah hadiah/imbalan, yang secara alamiah akan menimbulkan keinginan.

Keinginan adalah langkah kedua dari lingkaran kebiasaan dan merupakan kekuatan motivasi di balik setiap kebiasaan. Tanpa adanya motivasi atau keinginan untuk melakukan perubahan, kita tidak memiliki alasan untuk bertindak. Yang sebenarnya kita inginkan bukanlah perubahan tersebut, namun hasil dari perubahannya. Contohnya kita tidak termotivasi untuk menyikat gigi, melainkan perasaan dari mulut yang bersih. Kita tidak berkeinginan untuk menyalakan televisi, tapi kita ingin dihibur.

Langkah ketiga adalah respon. Respon adalah kebiasaan aktual yang dilakukan, yang dapat berupa pikiran atau tindakan. Respon bergantung pada seberapa besar motivasi yang kita miliki dan juga tergantung pada kemampuan diri. Kebiasaan hanya dapat terjadi hanya jika kita mampu melakukannya. Terakhir, adalah respons yang menciptakan hadiah/imbalan. Imbalan adalah tujuan akhir dari setiap kebiasaan. Isyarat adalah tentang memperhatikan hadiah. Keinginan adalah tentang menginginkan hadiah. Respon adalah tentang mendapatkan hadiah. Kita mengejar suatu imbalan karena dua tujuan, yaitu imbalan itu memuaskan kita dan imbalan tersebut mengajari kita sesuatu.

Proses empat tahap pembentukan kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang terjadi sesekali, melainkan sebuah lingkaran umpan balik tanpa akhir yang berjalan dan aktif selama kita hidup. Otak akan secara terus-menerus memindai lingkungan, memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, mencoba berbagai respons, dan belajar dari hasilnya. 

Strategies to Create Habits 

  • Set a specific goal

Cara kita mendefinisikan sebuah tujuan untuk dijadikan kebiasaan sangatlah penting. Tujuan seperti “berjalan kaki” terlalu abstrak dan kurang jelas dibandingkan dengan, “saya akan berjalan kaki selama 15 menit di pagi hari”. Tujuan yang jelas akan mengurangi rasa takut kita untuk memulai dan membantu kita untuk lebih mudah melihat kemajuan yang terjadi setelahnya. 

  1. Start small and build slowly 

Perubahan besar dalam hidup kita tentu membutuhkan motivasi yang tinggi pula. Ketimbang mencoba melakukan sesuatu yang luar biasa dari awal, kita dapat memulai dari hal yang kecil dan tingkatkan secara bertahap. Seiring berjalannya waktu, kemauan dan motivasi akan meningkat, yang akan membuat kita lebih mudah untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Cobalah mulai dengan kebiasaan baru yang cukup mudah sehingga kita tidak perlu motivasi untuk melakukannya. Seperti contoh, daripada langsung melakukan jogging selama satu jam per hari, mulailah dengan jalan santai atau lari-lari kecil 15 menit setiap harinya. Buatlah kebiasaan yang cukup mudah yang dapat kita selesaikan tanpa motivasi. 

“Make it so easy you can’t say no.” Leo Babauta 

  • When you slip, get back on track quickly.

Ketika kita keluar dari jalur atau melewati satu hari tanpa melakukan kebiasaan tersebut, cobalah untuk kembali ke jalur yang benar, melakukan kebiasaan tersebut secepat mungkin. Kita semua pasti pernah membuat kesalahan atau keluar dari kebiasaan yang ingin dilakukan, namun langkah terbaiknya adalah segera kembali ke jalur kebiasaan tersebut.

  1. Reward new behaviors  

Pemberian penguatan positif pada perilaku baru dapat membantu perilaku tersebut bertahan menjadi kebiasaan. Misalnya, mendengarkan musik atau podcast favorit saat melakukan perilaku baru, dapat membantu membangun motivasi untuk melanjutkannya. Akan lebih baik jika kita dapat menemukan reward intrinsik (dari dalam diri), seperti bagaimana perilaku yang baru membuat suatu perasaan kepada kita . 

  • Build a support network 

Kita dapat membagikan tujuan yang ingin kita capai dengan teman, keluarga, atau support group yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk mendapatkan motivasi dan dukungan yang kuat dari orang lain, agar kita dapat mempertahankan kebiasaan yang dimiliki. 

Jika champs kesulitan untuk membuat kebiasaan baru yang bertahan, jangan berkecil hati dan jangan menyerah begitu saja dengan kebiasaan tersebut. Pun, bila waktu yang champs butuhkan ternyata lebih lama dari orang lain, itu bukanlah suatu masalah untuk membentuk kebiasaan baru yang positif. Champs dapat memulainya dari yang kecil, secara konsisten, dan tetap berkomitmen pada tujuan melalui dukungan orang sekitar. Ingatlah, semua hasil dari kebiasaan yang dilakukan berasal dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap harinya.

 

“The quality of our lives often depends on the quality of our habits.”James Clear

 

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

Referensi: 

Clear, J. (2022, October 20). How to start new habits that actually stick. James Clear. https://jamesclear.com/three-steps-habit-change

Harris, M., PhD. (2023, September 19). How do we successfully build a new habit? – Marc Harris, PhD – Medium. Medium. https://medium.com/@MarcHarrisPhD/how-do-we-successfully-build-a-new-habit-2cb9cd9e1c92 

Lally, P., Van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2009). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. https://doi.org/10.1002/ejsp.674 

Ouellette, J. A., & Wood, W. (1998). Habit and intention in everyday life: The multiple processes by which past behavior predicts future behavior. Psychological Bulletin, 124(1), 54–74. https://doi.org/10.1037/0033-2909.124.1.54

Verplanken, B., & Wood, W. (2006). Interventions to break and create consumer habits. Journal of Public Policy & Marketing, 25(1), 90–103. https://doi.org/10.1509/jppm.25.1.90

 

Uncategorized

Ayah Hebat: Cara Ayah Mendukung Istri Selama Kehamilan

Parents, ketika ibu menjalani kehamilan, bukan hanya peran ibu yang penting, tetapi juga peran ayah menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting dalam proses tumbuh kembang bayi dalam kandungan. Peran ayah menaungi dua manusia, sang ibu dan calon anaknya. Sebagai kepala keluarga, peran ayah dalam keluarga tidak hanya sebatas pencari nafkah, tetapi juga berperan dalam  mendukung kesehatan ibu dan bayi.

Keterlibatan aktif ayah dalam menjaga kesehatan keluarga dapat memberikan dampak positif yang signifikan, terutama bagi kondisi psikologis ibu dan tumbuh kembang bayi dalam kandungan. Hal ini membuat ibu dan bayi merasa aman dan nyaman. Baik ayah dan ibu, keduanya perlu menekankan gagasan “kebersamaan” selama kehamilan dan setelahnya, yang dapat memberikan rasa aman yang besar bagi ibu. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak memiliki minat dan tanggung jawab yang sama dalam memiliki anak. Hal ini penting agar sang ibu merasa bahwa dia tidak sendirian melewati proses tersebut.

Persiapan Menjadi Seorang Ayah

Gejala depresi dan tekanan psikologis ibu selama masa kehamilan telah dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap hasil kelahiran yang negatif, seperti kelahiran prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah, depresi pasca persalinan, dan interaksi ibu-bayi yang maladaptif. Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko gejala depresi dan tekanan psikologis selama kehamilan termasuk status sosial ekonomi yang rendah, tinggal di lingkungan yang kurang beruntung, dan komplikasi medis (misalnya hipertensi kronis dan kehamilan berisiko tinggi). Sebaliknya, keterlibatan ayah mungkin mempunyai dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis ibu hamil, pengaruh positif, dan pengalaman emosional yang menyenangkan (Diener, 1984). Keterlibatan ayah selama kehamilan telah terbukti mempengaruhi hasil akhir ibu dan bayi. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa dukungan dari ayah berfungsi untuk meringankan beban stres (Ghosh et al., 2010) dan meningkatkan kesejahteraan ibu (Feldman et al., 2000), yang keduanya merupakan cara untuk meningkatkan keberhasilan proses kelahiran.

Peran ayah dalam mendukung sang istri melewati proses kehamilan dapat dilihat dari pendampingan, baik secara fisik dan emosional. Selama kehamilan, anggota keluarga termasuk calon ayah dapat mengoptimalkan fungsi keluarga. Menjalankan fungsi keluarga secara optimal mampu mengalokasikan sumber daya untuk meningkatkan kualitas kehamilan pada ibu hamil. Fungsi keluarga ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan emosional dan perkembangan seperti, moralitas, loyalitas, dan sosialisasi. Fungsi keluarga dapat berjalan, bila ada pembagian tanggung jawab yang jelas bagi setiap anggota keluarga berdasarkan status mereka dalam keluarga tersebut. Ayah sebagai kepala keluarga bertanggung jawab atas pengambilan keputusan pada masa kehamilan ibu, seperti pemeriksaan rutin kehamilan, pemilihan dokter kandungan, dan fasilitas kesehatan (Estuningtyas & Lestari, 2020). Sosok ayah juga mendukung ibu dengan memberikan bantuan-bantuan kecil, seperti melakukan pekerjaan rumah, memijat istri yang kelelahan, membantu menjaga kesehatan dan asupan ibu, dan banyak hal lainnya.

Selama proses kehamilan, ibu mengalami perubahan hormonal yang memengaruhi perubahan fisiologis dan psikologis sang ibu. Perubahan hormon kehamilan, seperti estrogen dan progesteron, dapat menyebabkan mood ibu hamil berubah secara tiba-tiba. Perubahan hormonal juga menyebabkan masalah psikologis, seperti kecemasan yang terjadi pada ibu hamil yang dapat menyebabkan tingkat stress yang tinggi pula. Stress pada ibu hamil menjadi salah satu faktor penyebab pemenuhan akan kebutuhan janin terhambat. Maka dari itu, ayah berperan penting dalam memberikan dukungan verbal untuk mengurangi kecemasan meningkatkan rasa aman, dan rasa percaya diri ibu hamil. Dukungan secara langsung dari ayah dengan memberikan kasih sayang dan perhatian secara moril kepada ibu yang baru pertama kali menghadapi kehamilan, dapat meningkatkan hormon endorfin sehingga ibu merasa senang menjalani peran barunya. Tak kalah penting, peran ayah sangat membantu untuk mengurangi kecemasan dan mengembalikan rasa percaya diri pada ibu yang baru pertama kali mempersiapkan persalinan. Setelah bayi lahir, para ayah dapat terlibat aktif dalam pengasuhan dan menyaksikan tumbuh kembang bayi, hal ini akan membuat ayah lebih dekat dengan ibu dan anaknya.

“Knowing your baby has a great dad for life is the best feeling ever.”-Anonymous

Characteristics of the “Ideal” Father

Ayah yang ideal adalah ketika anda dapat hadir, bersedia, dan turut serta secara aktif mendampingi selama proses kehamilan istri anda.

  • Melibatkan diri dalam proses kehamilan: Seorang ayah yang aktif dan peduli dengan mengajukan pertanyaan terkait kondisi ibu dan bayi, serta berkeinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang proses kehamilan dan apa yang diperlukan untuk mencapai kehamilan yang sehat. Ayah juga dapat menemani sang istri selama proses pemeriksaan kehamilan dan membantu dalam persiapan persalinan. 
  • Memberikan dukungan fisik: 
    • Membantu pekerjaan rumah tangga.
    • Membantu ibu membuat keputusan penting, seperti membuat rencana kelahiran atau memilih nama untuk calon anak. 
    • Membantu mengurangi rasa sakit dan memberikan pijatan ketika ibu hamil kelelahan.
    • Memastikan ibu dan bayi mendapatkan nutrisi yang cukup.
  • Memberikan dukungan emosional: 
    • Menyemangati sang ibu dan memberikan afirmasi positif tentang citra tubuh.
    • Memberikan keyakinan tentang kemampuan istri bahwa ia bisa menjadi ibu yang baik. Memahami pengaruh pada hormon perubahan suasana hati dan fisik.
    • Berempati dan bersabar ketika menghadapi kecemasan yang dirasakan istri.
    • Menjadi pendengar yang baik ketika istri menyampaikan keluhan, cerita, dan perasaannya.
  • Penghibur dan pelindung bagi istri dan calon anak untuk memastikan mereka merasa senyaman mungkin.
  • Ayah bertugas untuk mendorong perilaku sehat selama kehamilan, membantu ibu mengatur pola makan dan berolahraga selama kehamilan. Ayah dapat memastikan bahwa asupan makan dengan makanan yang sehat dan seimbang, mengajak berjalan-jalan di taman, dan ikut berolahraga bersama.
  • Membangun ikatan dengan calon bayi, ayah dapat mengajak bayi dalam kandungan ibu berbicara, membacakan buku, dan memutarkan lagu. 
  • Mencari informasi seputar parenting dan belajar tentang perawatan bayi.

Perjalanan menjadi seorang ayah tentulah tidak mudah, ayah akan bertemu banyak hal baru yang harus dipelajari dan tantangan yang harus dihadapi. Menjadi seorang ayah adalah sebuah perjalanan yang penuh cinta dan kasih sayang, baik kepada istri dan juga calon anak. Tidak semua perjalanan kehamilan akan sama untuk setiap pasangan. Setiap orang tua akan belajar hal-hal baru setiap hari, maka jangan ragu untuk bertanya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan diri melalui kehamilan bersama-sama.

Baca juga: Bagaimana Sosok Ayah di Hidup Anaknya?

Bagian terpenting dalam proses tersebut adalah calon orang tua yang saling mendukung dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang, guna menyambut kehadiran anggota keluarga baru. Suami istri yang saling mendukung dan bekerja sama, akan mampu melewati semua tantangan dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi sang buah hati. Dukungan ayah yang tak tergantikan selama masa kehamilan akan menjadi fondasi yang kuat bagi keluarga kecil anda.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai persiapan kehamilan, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Beberapa program terkait parenting yang tersedia, yaitu raising future-ready kids, parental guidance, parental seminar, dan beberapa program lainnya. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program intentional fathering. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

““The only thing better than having you for a husband, is our children having you for a daddy.”-Anonymous

Referensi:

Alio, A. P., Lewis, C. A., Scarborough, K., Harris, K., & Fiscella, K. (2013). A community perspective on the role of fathers during pregnancy: a qualitative study. BMC Pregnancy and Childbirth, 13(1). https://doi.org/10.1186/1471-2393-13-60 

Azizah, D. R., & Yulian, V. (2023). Peran Ayah dalam Meningkatkan Kesehatan pada Ibu Hamil. Jurnal Keperawatan Silampari, 6(2), 1371–1379. https://doi.org/10.31539/jks.v6i2.5478

Diener, E. (1984). Subjective well-being. PubMed, 95(3), 542–575. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6399758 

Estuningtyas, A., & Lestari, P. (2020). Peran Serta Suami dalam Menjalani Proses Kehamilan pada Ibu Hamil: Systematic Review. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat 2022, 1(1), 121–137. https://conference.upnvj.ac.id/index.php 

Feldman, P. J., Dunkel-Schetter, C., Sandman, C. A., & Wadhwa, P. D. (2000). Maternal social support predicts birth weight and fetal growth in human pregnancy. Psychosomatic Medicine, 62(5), 715–725. https://doi.org/10.1097/00006842-200009000-00016 

Ghosh, J. K. C., Wilhelm, M. H., Dunkel-Schetter, C., Lombardi, C. A., & Ritz, B. R. (2010). Paternal support and preterm birth, and the moderation of effects of chronic stress: a study in Los Angeles County mothers. Archives of Women S Mental Health, 13(4), 327–338. https://doi.org/10.1007/s00737-009-0135-9

Uncategorized

Apa Itu Love Language dan Mengapa Itu Penting dalam Kehidupan Pernikahan?

Dalam suatu pernikahan, couples tentunya membuat komitmen untuk saling mengasihi dengan sepenuh hati melalui setiap tindakan kita. Cinta kita terhadap suami/istri kita adalah segala cara hidup, berpikir, dan bertindak kita kepada pasangan. Maka dari itu, penting untuk setiap pasangan mengetahui dan memahami bahasa cinta pasangannya. Dengan memahami bahasa cinta pasangan kita, akan membantu untuk membina hubungan yang mendalam, bermakna, dan memuaskan bagi kedua belah pihak. 

 

Apakah couples pernah berada di posisi ketika mencoba menunjukkan cinta kepada pasangan kita. Namun, kemudian bertanya-tanya mengapa mereka tidak membalas atau memberikan respon yang bahagia terhadap tindakan kita tersebut. Hal ini mungkin saja menyebabkan rasa frustrasi bagi kita yang sudah mencoba untuk menunjukkan cinta dengan usaha yang ada. Seiring waktu, hal ini akan menimbulkan kelelahan bagi pemberi cinta dan perasaan tidak dipahami bagi penerima cinta. Pasangan kita bukanlah masalah di sini dan kita pun juga bukan masalahnya, masalahnya di sini adalah bahasa cinta yang digunakan tidak dimengerti oleh pasangan kita. Perlu dipahami juga, bahwa kita semua memiliki bahasa cinta yang berbeda, yang merupakan cara kita merasakan dan mengekspresikan cinta.

 

Apa itu Love Languages (Bahasa Cinta)?

Love Languages adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Gary Chapman yang menggambarkan berbagai cara yang berbeda dari orang-orang untuk memberi dan menerima cinta. Memahami bahasa cinta dapat membantu individu mengenali bahwa ekspresi cinta pasangannya mungkin berbeda dengan ekspresi cinta mereka sendiri, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan komunikasi. Bahasa cinta setiap orang mencerminkan kebutuhan dan keinginan emosional yang unik, yang memengaruhi bagaimana mereka merasa paling dihargai dan dihormati dalam suatu hubungan. Dengan mengenali dan menerima bahasa cinta masing-masing, pasangan dapat lebih efektif mengekspresikan kasih sayang dan dukungan, memperdalam hubungan emosional, serta meningkatkan kualitas hubungan secara keseluruhan.

5 Love Languages

Konsep Love Languages diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman pada tahun 1992 dalam bukunya yang berjudul, “The 5 Love Languages: The Secret to Love That Lasts.” Ada lima bahasa cinta utama yang diperkenalkan melalui buku ini, yaitu: 

  1. Words of Affirmation

Words of affirmation atau kata-kata afirmasi yang berarti mengekspresikan cinta dan penghargaan melalui kata-kata. Mereka yang memiliki bahasa cinta ini akan merasa dicintai ketika pasangannya mengekspresikan kasih sayang melalui dukungan, pujian, kutipan yang menggembirakan, catatan cinta, dan juga penghargaan kepada dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengucapkan “Aku mencintaimu”, menunjukkan apa yang mereka lakukan dengan baik, atau sekadar memberi tahu bahwa kita bersyukur atas mereka. Bila pasangan merupakan orang dengan bahasa cinta ini, hindari untuk memberikan kritik yang tidak membangun atau tidak menghargai usaha mereka. 

  1. Quality Time

Bentuk love language lainnya bisa berupa menghabiskan waktu bersama yang berarti kita memberikan perhatian penuh kepada pasangan dan berusaha untuk terhubung dengan mereka secara mendalam. Hal ini biasanya dilakukan dengan menghabiskan waktu berkualitas bersama, baik dengan berkencan, jalan bersama, atau sekadar menghabiskan waktu dengan berbicara dan mendengarkan satu sama lain.

  1. Receiving Gifts

Bagi sebagian orang, menerima hadiah yang tulus dan bermakna adalah hal yang menunjukkan perhatian dan membuat mereka merasa paling dicintai. Orang dengan bahasa cinta receiving gifts, tidak selalu mengharapkan hadiah yang besar atau mahal dari pasangannya. Namun, yang terpenting adalah usaha dan perhatian di balik hadiah tersebut, yang dapat berupa apa saja, mulai dari seikat bunga hingga catatan tulisan tangan.

  1. Acts of Service

Bagi orang dengan bahasa cinta ini, tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Mereka akan merasa dicintai saat pasangannya menunjukkan kesediaan untuk membantu hal-hal yang mereka butuhkan. Pernyataan cinta melalui tindakan dapat dilakukan dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan sarapan, atau sekadar membantu mengambilkan sesuatu yang mereka butuhkan. Tindakan-tindakan ini meski sederhana dan kecil, tapi dapat sangat berarti bagi seseorang dengan bahasa cinta acts of service. 

  1. Physical Touch

Bahasa cinta terakhir adalah sentuhan fisik, hal ini dapat berupa pelukan, ciuman, berpegangan tangan, atau sekadar duduk dekat dengan pasangannya, yang dapat memberikan rasa kedekatan, aman, dan kenyamanan. Bahkan hal-hal kecil seperti berpegangan tangan saat berjalan bersama atau membelai rambut pasangan bisa terasa sangat berarti. Bahasa cinta ini menunjukkan bahwa untuk merasa dicintai, seseorang membutuhkan kontak fisik yang konsisten dan penuh perhatian dari pasangannya.

“When you speak your partner’s love language, you can express your love for them in a way that is truly meaningful to them.”

 

Why It’s Important to Know Your Partner’s Love Language

  • Komunikasi yang Efektif

Mengetahui bahasa cinta pasangan kita memungkinkan kita untuk mengomunikasikan cinta dan kasih sayang dengan cara yang paling berkesan bagi mereka, bukan hanya berdasarkan cara kita sendiri mengungkapkan cinta. Hal ini yang akan meningkatkan hubungan emosional  dan ikatan antara pasangan karena pasangan yang saling merasa dipahami dan dihargai.

  • Apresiasi yang Lebih Baik

Dengan mengetahui bahasa cinta pasangan kita, kita akan dapat mengekspresikan perasaan dan apresiasi terhadap pasangan dengan tepat, serta membuat mereka merasa paling dicintai dengan cara tersebut. 

  • Enhanced Intimacy

Bahasa cinta dapat meningkatkan keintiman yang memungkinkan kedua pasangan untuk memenuhi kebutuhan emosional satu sama lain secara lebih efektif, yang dapat mengarah pada hubungan yang lebih dalam dan memuaskan keduanya.

  • Memperdalam Pemahaman Satu Sama Lain

Mengetahui bahasa cinta pasangan kita, membantu untuk pasangan dapat terhubung pada tingkat yang lebih dalam dan menunjukkan kepada pasangan bahwa kita benar-benar peduli akan kebutuhannya dan mengusahakan cinta yang mereka inginkan

  • Mengurangi Kesalahpahaman

Mengetahui bahasa cinta pasangan kita dapat mengurangi kesalahpahaman dan konflik. Kita dapat dengan lebih jelas dan tepat dalam mengekspresikan perasaan kita. Hal ini membantu untuk menghindari pengabaian emosional yang tidak sengaja ataupun miskomunikasi, di mana pasangan merasa tidak dicintai atau tidak diperhatikan oleh karena cara kita mengekspresikan bahasa cinta yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

  • Kepuasan Jangka Panjang

Pemahaman akan bahasa cinta pasangan dapat membantu memperdalam hubungan dan pemahaman satu sama lain yang membuat hubungan menjadi semakin kuat. Hal ini juga dapat membantu mengisi “kesenjangan” cinta yang mungkin ada dalam hubungan tersebut. Dengan secara aktif terlibat dan menghormati bahasa cinta pasangan kita, kita berkontribusi membangun hubungan yang lebih tangguh, memuaskan, dan kemungkinan besar akan mempertahankan kebahagiaan dan kepuasan jangka panjang.

Cara Mengidentifikasi Bahasa Cinta 

Jika kita tidak begitu yakin dengan bahasa cinta yang dimiliki oleh pasangan kita, jangan ragu untuk bertanya kepada mereka. Minta mereka untuk membayangkan cara apa yang paling membuat mereka merasa dicintai dan dihargai ketika bersama dengan kita. Juga, jangan lupa untuk menceritakan dan berbagi apa yang paling membuat kita merasa dicintai dan disayangi oleh pasangan kita. 

Beberapa pertanyaan di bawah ini dapat digunakan untuk membuka pembicaraan seputar bahasa cinta yang dimiliki oleh pasangan kita.

  • Dalam suatu hubungan, kamu akan merasa paling dicintai ketika:
  1. Aku mengatakan, “Aku mencintaimu,” atau memuji sesuatu yang kamu lakukan?
  2. Aku membuat rencana perjalanan hanya untuk kita berdua?
  3. Aku memberikan kejutan dengan hadiah yang spesial untukmu?
  4. Aku menyelesaikan pekerjaan rumah saat kamu sedang istirahat?
  5. Aku menggenggam tanganmu saat kita berjalan bersama?  

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi petunjuk tentang bahasa cinta pasangan kita. Kita juga bisa menggunakan tes-tes di internet untuk memastikan bahasa cinta yang sesuai dengan kebutuhan pasangan. 

Memahami bahasa cinta pasangan adalah langkah penting untuk memperkuat ikatan emosional dan menciptakan hubungan yang harmonis. Dengan saling mengenal cara terbaik untuk mengekspresikan cinta, kita dapat membangun komunikasi yang lebih efektif, mengurangi kesalahpahaman, dan meningkatkan rasa saling menghargai. Terakhir, memahami bahasa cinta dapat membuat pasangan kita merasa dicintai, dihargai, dan dihormati, yang semuanya merupakan unsur penting untuk hubungan pernikahan yang bahagia dan sehat.

“We must first understand what love means to them, in order to love someone well.”

 

Focus on the Family Indonesia menyusun acara khusus untuk pasangan suami istri yang ingin mempererat hubungan dalam pernikahan anda. Kegiatan “Date Night ini akan mencakup aktivitas seputar bahasa cinta pasangan yang disertai dengan  makan malam bersama dengan orang terkasih. Informasi lebih lanjut dapat couples dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Celebrant, K. W. (2025, January 5). Love languages: 5 Benefits of Speaking Your Partner’s Love Language. KWC. https://www.kerriwatkinscelebrant.com.au/love-languages-5-benefits-of-speaking-your-partners#:~:text=Love%20languages%20are%20a%20valuable%20tool%20for%20connection%20in%20a,your%20partner%20speaks%2C%20ask%20them  

What are The 5 Love Languages? (n.d.). Northfield Publishing. https://5lovelanguages.com/learn

 

 

Parenting

Terlalu Sayang? Waspada Overparenting pada Anak

Parents, selama menjadi orang tua, apakah anda selalu mengawasi dan khawatir dengan setiap gerak-gerik anak? Tidak sampai di situ saja, parents juga berperan dalam membuat setiap keputusan dan memecahkan setiap masalah yang dimiliki oleh anak anda. 

Jika hal-hal tersebut parents lakukan, ada kemungkinan bahwa anda menunjukkan tanda-tanda overparenting. Pengasuhan dengan pendekatan ini bermaksud baik karena menyalurkan rasa cinta dan kepedulian pada anak, namun karena diberikan dalam porsi besar, secara tidak sengaja dapat menghambat pertumbuhan dan kemandirian anak. Orang tua biasanya akan melibatkan diri dalam semua aspek kehidupan anak yang terkadang berdampak dan merugikan diri anak tersebut.

Apa itu Overparenting?

Overparenting atau yang sering disebut sebagai “helicopter parenting” adalah perilaku orang tua yang melibatkan diri secara berlebihan dalam setiap aspek kehidupan anak mereka. Pendekatan ini ditandai dengan keinginan yang mendalam untuk melindungi anak dari segala bentuk kegagalan, ketidaknyamanan, atau tantangan. Helicopter parenting akan merasa bangga karena dapat terlibat dalam kehidupan anak mereka dan sering kali tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan gaya pengasuhan yang dilakukan. 

Overparenting berbeda dengan pengasuhan biasa terutama dalam hal pemberian otonomi dan kontrol terhadap anak. Pengasuhan yang wajar melibatkan bimbingan kepada anak, penetapan batasan, dan membiarkan mereka mengalami konsekuensi alamiah untuk memupuk kemandirian dan ketangguhan anak. Sebaliknya, overparenting ditandai dengan keterlibatan dan kontrol yang berlebihan, di mana orang tua mengatur setiap aspek kehidupan anak, mulai dari memecahkan masalah hingga membuat keputusan untuk mereka. Pendekatan ini membuat anak tidak berani menghadapi tantangan dan belajar dari kesalahan, sehingga menimbulkan ketergantungan dan berkurangnya rasa percaya diri. Pengasuhan yang teratur mendukung pertumbuhan anak menjadi individu yang mandiri, pengasuhan yang berlebihan justru menghambat kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan hidup secara mandiri.

 

Contoh Overparenting dalam Kehidupan Sehari-hari: 

 

Terlalu mengatur segala hal:

  • Menentukan semua jadwal anak, dari bangun tidur hingga waktu belajar.
  • Memilih semua teman yang boleh bermain dengan anak.
Melakukan semua tugas anak:

  • Membantu anak menyelesaikan tugas sekolah hingga detail terkecil.
  • Menyiapkan semua keperluan anak, tanpa melibatkan anak untuk membantu dan mandiri.
Tidak membiarkan anak mengalami kegagalan:

  • Selalu siap sedia membantu anak ketika menghadapi kesulitan.
  • Menghindari anak dari situasi yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman atau gagal.
  • Menyalahkan orang lain jika anak membuat kesalahan.
Terlalu khawatir dengan keselamatan anak:

  • Menjemput dan mengantar anak ke mana pun, bahkan di jarak yang dekat.
  • Tidak mengizinkan anak bermain di luar rumah karena takut terjadi sesuatu.
  • Selalu memantau aktivitas anak.

Remembering to look for opportunities to take one step back from solving our child’s problems will help us build the resilient, self-confident kids we need.Deborah Gilboa, Md

Efek dari Overparenting

  • Berkurangnya kepercayaan dan harga diri karena anak merasa bahwa orang tua tidak mempercayainya untuk melakukan hal tertentu sendirian. Anak juga dapat merasa bahwa ia tidak akan mampu mengatasi tantangan, tanpa campur tangan orang tuanya.
  • Coping skill yang tidak terlatih karena anak merasa kewalahan atau tidak berdaya saat menghadapi tantangan. Hal ini disebabkan anak tidak belajar bagaimana mengelola stres, kekecewaan, atau kegagalan mereka karena jarang terpapar dengan pengalaman-pengalaman tersebut.
  • Defisit keterampilan sosial, anak-anak yang diasuh secara berlebihan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara bebas dengan teman sebaya, sehingga kurang berkembangnya keterampilan sosial mereka. Anak mungkin akan kesulitan dalam menyelesaikan konflik, bekerja dalam tim, dan memiliki empati terhadap sesama karena tidak pernah mengalami situasi sosial secara mandiri.
  • Ketidakmampuan untuk menangani kritik atau feedback.
  • Rasa berhak atas sesuatu, anak-anak yang kehidupan sosial dan akademiknya selalu diatur oleh orang tua, dapat menjadi terbiasa untuk selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang dapat menimbulkan sikap merasa berhak atas banyak hal.
  • Keterampilan hidup yang tidak berkembang, orang tua yang selalu mengikatkan sepatu anak, mencuci piring, menyiapkan makan, dan mencuci pakaian, bahkan setelah anak secara mental dan fisik mampu melakukan tugas tersebut, dapat mencegah anak untuk menguasai life skills yang ada.

Penelitian menunjukkan banyak konsekuensi negatif dari pengasuhan yang berlebihan di antara anak-anak yang sedang tumbuh menjadi dewasa, seperti masalah kepribadian dan psikologis (menuntut hak, perfeksionisme), kurangnya kompetensi yang memadai (self-regulation, coping skills, kompetensi pertemanan dan berpacaran), internalisasi (kecemasan, depresi, kepuasan hidup yang rendah) dan masalah yang bersifat eksternal misalnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan kecanduan media sosial (Cook, 2020; Hong & Cui, 2019; Segrin et al., 2015). Candel (2022) menyoroti efek tidak langsung yang signifikan dari pengasuhan yang berlebihan terhadap kepuasan relasi orang dewasa dan strategi fungsional untuk mengelola konflik dengan pasangan.

Penelitian menunjukkan banyak konsekuensi negatif dari pengasuhan yang berlebihan di antara anak-anak yang sedang tumbuh menjadi dewasa, seperti masalah kepribadian dan psikologis (menuntut hak, perfeksionisme), kurangnya kompetensi yang memadai (self-regulation, coping skills, kompetensi pertemanan dan berpacaran), internalisasi (kecemasan, depresi, kepuasan hidup yang rendah) dan masalah yang bersifat eksternal misalnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan kecanduan media sosial (Cook, 2020; Hong & Cui, 2019; Segrin et al., 2015). Candel (2022) menyoroti efek tidak langsung yang signifikan dari pengasuhan yang berlebihan terhadap kepuasan relasi orang dewasa dan strategi fungsional untuk mengelola konflik dengan pasangan.

Membenahi Pola Pengasuhan yang Berlebihan

Parents, mengenali tanda-tanda overparenting adalah langkah pertama untuk membina hubungan yang lebih harmonis dengan anak. Selanjutnya, parents dapat menetapkan batasan yang jelas untuk menjauhkan diri dari perilaku overparenting. Tanda-tanda lain dari overparenting adalah terlalu menekankan pada kesuksesan dan pencapaian. Coba sesuaikan ekspektasi orang tua untuk lebih fokus pada usaha, pembelajaran, dan kemajuan anak. Hal ini dapat membantu anak menghargai proses pertumbuhan mereka sendiri dan mengurangi tekanan yang tidak semestinya. Orang tua juga dapat mulai belajar untuk mendorong anak mengambil keputusan dan mengambil tanggung jawab yang sesuai untuk menumbuhkan kemandirian mereka. Alih-alih melindungi anak dari setiap masalah, biarkan anak menghadapi tantangan dan belajar dari setiap kesalahan mereka.

Aspek yang tak kalah penting dalam memperbaiki pola asuh yang berlebihan adalah menanamkan rasa percaya pada kemampuan anak. Kepercayaan ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong anak untuk menghadapi tantangan baru secara mandiri dan membiarkan mereka berjuang. Hal ini juga berarti membiarkan anak melakukan tugas-tugas yang mampu mereka lakukan dengan baik secara fisik dan mental mereka.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai parenting yang sesuai dengan anak anda, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Beberapa program terkait parenting yang tersedia, yaitu raising future-ready kids, parental guidance, parental seminar, dan beberapa program lainnya. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

The key, however, is being involved while still giving your child room to grow, learn new skills, and rebound from failure on their own.” – Kate Bayless

 

Referensi:

Bayless, K. (2024, April 26). What is helicopter parenting, and how does it impact kids? Parents. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/what-is-helicopter-parenting/ 

Candel, O. (2022). The Link between Parenting Behaviors and Emerging Adults’ Relationship Outcomes: The Mediating Role of Relational Entitlement. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(2), 828. https://doi.org/10.3390/ijerph19020828 

Cook, E. C. (2020). Understanding the Associations between Helicopter Parenting and Emerging Adults’ Adjustment. Journal of Child and Family Studies, 29(7), 1899–1913. https://doi.org/10.1007/s10826-020-01716-2 

Hong, P., & Cui, M. (2019). Helicopter parenting and college students’ psychological maladjustment: the role of self-control and living arrangement. Journal of Child and Family Studies, 29(2), 338–347. https://doi.org/10.1007/s10826-019-01541-2 

Segrin, C., Givertz, M., Swaitkowski, P., & Montgomery, N. (2013). Overparenting is Associated with Child Problems and a Critical Family Environment. Journal of Child and Family Studies, 24(2), 470–479. https://doi.org/10.1007/s10826-013-9858-3

 

 

 

Parenting

Edukasi Seksualitas Anak dari Perspektif Orang Tua dan Guru “ConnecTime”

Parents, berbicara seksualitas dengan anak bukan hanya sekedar pembahasan mengenai hubungan seks di luar nikah, seks bebas, ataupun pornografi.

 

Seksualitas termasuk memiliki aspek biopsikososial (biologis, psikologis, dan sosial) bagi anak dan perlu dikenalkan kepada anak sedini mungkin. Contohnya, pendekatan seksual secara sosial berkaitan dengan gender, peran gender, hubungan dengan orang lain, dan bagaimana seseorang mengomunikasikan perasaan tertentu terhadap orang lain. Maka dari itu, seksualitas merupakan spektrum yang sangat luas, bukan hanya berkaitan dengan hubungan suami istri.

Pandangan manusia yang seringkali terlalu sempit mengenai seksualitas membuat pembahasan mengenai hal ini menjadi tabu dan dinilai tidak baik. Padahal, seksualitas merupakan hal yang sangat luas dan bermakna untuk Parents kelola. Tanpa kita sadari, seksualitas dapat ditemukan di banyak media, seperti lirik lagu, bacaan, komik, dan film-film yang tersebar luas. Seksualitas dalam bentuk lirik lagu menggambarkan perasaan suka atau tertarik pada seseorang dan hal ini lumrah terjadi. Maka, ketika orang tua tidak membicarakan seksualitas dengan anak, orang tua menjadi satu-satunya pihak yang tidak berbicara hal tersebut di kehidupan anak.

Pembicaraan mengenai seksualitas harus bisa dibicarakan seperti hal biasa agar persepsi bahwa hal tersebut tabu, tidak terjadi lagi.

Di bawah ini akan dibahas mengenai topik seputaran seksualitas pada anak melalui perspektif orang tua dan guru.

“Apa tantangan membicarakan seksualitas bersama anak?”

Dari sudut pandang orang tua, tantangan pertama berkaitan dengan pengetahuan orang tua terkait seksualitas. Kurangnya pengetahuan akan membuat orang tua kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sang anak. Hal ini juga dapat menghadirkan perasaan tidak nyaman dan tabu untuk membicarakan seputar seksualitas dengan anak.

Dari sudut pandang guru, tantangan ini berkaitan dengan perbedaan tingkat pengetahuan dan keterpaan anak terkait seksualitas, membuat edukasi di sekolah mengenai seksualitas tidak bisa disamaratakan untuk semua anak.

“Hal yang dapat terjadi ketika tidak ada perbincangan mengenai seksualitas dengan anak?”

Anak yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya di dalam keluarga. Juga, karena mudahnya akses mendapatkan informasi melalui media sosial. Anak akan mencari informasi terlebih dahulu dari luar yang bisa jadi informasi tersebut keliru. Pengetahuan keliru ini dapat membentuk perilaku keliru yang tidak sesuai norma karena rasa penasaran pada anak. Membicarakan seksualitas dengan anak mendorong langkah untuk anak tau dari sumber yang benar. 

Anak yang tidak mendapatkan edukasi seksual di rumah, dapat mudah terbawa oleh perkataan temannya dan ikut arus pergaulan yang salah ketika di sekolah.

Pubertas dan Seksualitas

Remaja yang memasuki fase pubertas mengalami peningkatan hormon yang diartikan secara biologi, merupakan dorongan natural untuk mencari informasi mengenai seksualitas sebanyak-banyaknya.

”Apa dampak media sosial terhadap pengetahuan seksualitas anak?”

Bila anak tidak mendapatkan edukasi seks sejak dini, mereka dapat terpapar dan menonton video pornografi yang bertebaran di medsos karena rasa penasaran, juga melakukan penyimpangan seksual. Anak dapat berdalih bahwa dirinya tidak tahu atau hanya sekedar bercanda untuk melakukan penyimpangan seksual.

“Kapan waktu yang tepat atau di usia berapa anak perlu mendapatkan edukasi seks?”

Bicara seksualitas dengan anak dimulai dari sedini mungkin yang berkaitan dengan konsep seksualitas secara luas. Pembicaraan ini juga dapat dilakukan dengan mengikuti perkembangan kognitif anak.

  • Memperkenalkan edukasi seks bisa dimulai dari bayi. Ketika bayi dipeluk, dijaga, diberikan asi merupakan pendidikan seks. Titik pertama dimana manusia merasa dicintai dan diinginkan oleh orang tuanya. Pendidikan seks nomor satu pada bayi melalui sentuhan dengan kulit. 
  • Pada anak usia dini dengan memperkenalkan anggota tubuh termasuk dengan jenis kelamin, tanpa ada kata ganti yang bisa memiliki makna ganda. Parents, memperkenalkan bahwa ada yang namanya penis dan vagina, sama seperti orang tua memperkenalkan anggota tubuh yang lain. Parents, tidak perlu menggunakan kata ganti seperti burung atau roti tawar karena hal ini akan membingungkan untuk anak. Anak juga dapat diajarkan tentang area privasi yang tidak boleh disentuh, dipermainkan, dan dilihat orang lain.
  • Ketika anak masuk sekolah dasar, anak dapat dibimbing bagaimana menghargai orang lain, memperkenalkan fase pubertas, dan terkait dengan kesehatan tubuh. 
  • Saat remaja, ajak anak berdiskusi mengenai perilaku seksual dan memperkuat anak dalam aspek sosial seperti, pembahasan mengenai pacaran, pernikahan, dan hubungan seks setelah menikah. 

Langkah pertama yang dapat Parents lakukan adalah membangun trust dengan anak, agar anak dapat merasa nyaman dan aman untuk berbicara mengenai seksualitas dengan orang tua. Kedua, Parents dapat melakukan pendampingan penggunaan alat elektronik anak, orang tua tahu apa yang anaknya lihat dan akses di internet. Ketiga, di zaman serba digital ini orang tua dapat mengakses berbagai informasi dari sumber yang terpercaya dan berdasarkan ahlinya melalui media internet, buku, dan sosial media. Hal ini untuk mempersiapkan dan membenarkan pengetahuan anak terkait seksualitas.

Baca juga: Pentingnya Diskusi Tentang Seks Dengan Anak melalui website Focus on the Family Indonesia.

Parenting

Bagaimana Sosok Ayah di Hidup Anaknya?

“Ketika anak menangis, siapa yang pertama mereka cari? Ibu”

“Ketika anak sedang senang, siapa yang mereka bagikan kabar bahagia tersebut? Ibu”

Lalu dimana porsi Ayah dalam hidup sang anak?

Mengapa banyak anak yang mendahulukan sang Ibu ketimbang Ayah disebabkan oleh beberapa hal dasar dalam perjalanan hidup anak. Pertama, secara umum dan banyak terjadi di kehidupan kita, peran mengasuh anak banyak dilimpahkan hanya kepada Ibu, sehingga kebanyakan anak memilih Ibu sebagai figur lekat yang utama (Muslihatun & Santi, 2022). Hal ini akan sangat mungkin membuat anak merasa bahwa sang Ayah tidak hadir secara emosional, yang juga dapat terjadi karena kualitas interaksi ibu-anak cenderung lebih mendalam dibanding interaksi ayah-anak (Nasution, 2021). Kedua, di hampir semua negara dapat terlihat bahwa Ibu menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak karena Ayah yang sibuk bekerja. Hal ini juga yang dapat membuat anak merasa lebih mudah berbicara dengan Ibu terkait perasaan dan kehidupannya. Oleh karena itu, peran Ayah sering kali tidak terlihat dan dirasa tidak seimbang dengan peran Ibu dalam masyarakat kita. Namun, seperti yang kita tahu bahwa Ayah memiliki peran penting untuk potensi dalam hidup anak, bahkan ketika anak sudah dewasa.

Beberapa orang mungkin kesulitan untuk menjelaskan bentuk kasih sayang Ayah kepada anak-anaknya karena seringkali Ayah tidak mengungkapkan hal tersebut secara langsung. Namun, peran Ayah sangat penting untuk anaknya, anak-anak membutuhkan Ayah sebagaimana mereka membutuhkan Ibu untuk merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti. Keterlibatan Ayah yang berkualitas tinggi selama masa kanak-kanak mendorong angka kerja yang lebih tinggi, hubungan yang lebih sehat, dan kualitas hidup yang menguntungkan bagi anak hingga dewasa (Nettle, 2008). Ikatan antara Ayah dan anaknya melibatkan pembentukan pola interaksi yang kuat dan keterikatan emosional erat yang dibangun melalui interaksi terbuka, kasih sayang, kenyamanan, dan keterlibatan.

“Their love may be hidden, but it is unconditional.”

Bila dilihat dari sisi Ayah, banyak dari mereka yang tidak terbiasa untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak seperti yang dilakukan oleh Ibu. Maka, seringkali anak melihat Ayah sebagai sosok yang cuekkepada anak anak-nya. Namun, yang sebenarnya, mungkin begitulah cara Ayah dapat menunjukkan rasa sayang. Mereka, para laki-laki kesulitan menunjukkan kasih sayang secara langsung karena beberapa alasan. Mereka mungkin memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi dan terkadang mendapatkan tekanan sosial berupa stereotip gender, yaitu laki-laki yang menunjukkan sisi emosional mereka mungkin diejek atau dianggap lemah. Ayah seringkali harus berjuang di luar sana melawan kerasnya dunia untuk menghidupi keluarga kecilnya, menciptakan rasa aman, dan menjamin kesejahteraan juga kebahagian anak dan istrinya. Bentuk pengorbanan kecil yang diberikan oleh seorang Ayah seringkali luput dari pandangan kita semua.

Belakangan ini, para Ayah modern telah mendobrak stereotip Ayah yang “cuek” dengan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan dan pendidikan anak. 

  1. Ikut serta dalam menjaga bayi yang baru lahir dengan mengganti popok dan membantu memandikan bayi.
  2. Menjadi pendengar yang baik ketika anak sedang membuka diri dan berbagi pikiran serta emosinya. Ayah dapat mendorong mereka untuk mengekspresikan diri, hal ini akan membantu menumbuhkan kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan antara ayah-anak.
  3. Menghabiskan waktu bersama anak, Ayah hadir secara fisik dan emosional melalui interaksi dengan anak. Aktivitas yang dapat dilakukan, yaitu bermain game, membaca buku, olahraga, dan kegiatan lainnya. 
  4. Selalu ada waktu untuk anak, sebagai contoh duduk di samping anak saat mereka bermain, menjemput pulang dari sekolah, dan makan malam bersama. 
  5. Katakan pada anak bahwa Anda mencintai mereka. Setiap orang tua tentu menyayangi anak mereka. Namun, seberapa sering kita mengatakan hal tersebut kepada mereka? Ayah dapat meyakinkan anak bahwa mereka dicintai setiap hari dengan mengatakan rasa sayang kepada mereka. Ketika anak tahu bahwa Ayah menyayangi mereka, anak akan merasa aman dan didukung saat berada di sekitar Ayahnya.
  6. Membangun rasa saling menghargai dengan menghargai anak. Menanggapi pikiran dan emosi anak dengan serius, meskipun Ayah mungkin tidak dapat memahami beberapa kekhawatiran anak. Meluangkan waktu dan peka terhadap kebutuhan mereka, baik secara fisik maupun emosional.
  7. Mengembangkan minat bersama untuk menjalin ikatan melalui kegiatan yang menyenangkan yang Ayah dan anak sukai. Saling berbagi minat dan kegemaran dengan anak, atau ikut serta dalam kegiatan yang mereka sukai. Misalnya, anak suka bersepeda, Ayah dapat pergi bersepeda dengan anak di setiap minggu.

Menemukan waktu berkualitas dengan anak-anak sering kali bisa menjadi tantangan mengingat tuntutan kehidupan sehari-hari. Namun, para Ayah yang secara aktif mencari waktu untuk terlibat dalam pengalaman ikatan dengan anak-anak mereka akan menciptakan kenangan yang abadi dan memperkuat hubungan ayah-anak. Melalui kata-kata dan tindakan, para Ayah menanamkan pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang berharga, mulai dari mengajari mereka menghormati orang lain hingga menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan, yang menjadikan Ayah sebagai panutan bagi anak-anak mereka.

Dampak dari figur Ayah yang positif akan beresonansi di sepanjang kehidupan anak yang memengaruhi sikap, perilaku, dan keyakinan mereka di masa depan. Beberapa kenangan terindah di masa kanak-kanak sering kali berpusat pada saat-saat yang dibagikan bersama dengan Ayah. Ikatan antara Ayah dan anak adalah hubungan yang tak tergantikan yang membentuk kehidupan keduanya dengan berbagai cara. Mulai dari mematahkan stereotip hingga membangun kepercayaan diri dan menciptakan kenangan indah bersama sang anak, para Ayah memainkan peran penting dalam proses pengasuhan anak. Bahwa, cinta seorang ayah adalah cinta yang membangun kepercayaan diri dan rasa aman pada anak-anaknya.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara Ayah dan anak, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program intentional fathering. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

“If the family is a tree, the father is the root. His efforts aren’t visible, but he keeps the tree alive”- Shipa Goel

 

Referensi:

Muslihatun, W. N., & Santi, M. Y. (2022). Faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini. Window of Health Jurnal Kesehatan, 404–418. https://doi.org/10.33096/woh.vi.131 

Nasution, E. S. (2021). GAMBARAN KELEKATAN ANAK DENGAN ORANG TUA DARI KELUARGA COMMUTER MARRIAGE. Jurnal Psikologi Pendidikan Dna Pengembangan SDM, 10(2), 19–29. https://ejournal.borobudur.ac.id/index.php/psikologi/article/download/857/796 

Nettle, D. (2008). Why do some dads get more involved than others? Evidence from a large British cohort. Evolution and Human Behavior, 29(6), 416-423.e1. https://doi.org/10.1016/j.evolhumbehav.2008.06.002

Youngacademics. (2024, August 5). Father and child connections – young academics. Young Academics. https://www.youngacademics.com.au/father-and-child-connections/ 

Uncategorized

Fondasi Utama dalam Membangun Pernikahan yang Kokoh Seumur Hidup

Couples, bagi banyak pasangan, memiliki pernikahan yang langgeng adalah tujuan utama dari perjalanan mereka. Namun, membangun rumah tangga yang harmonis bukanlah perkara mudah. Adakalanya, dalam hubungan pernikahan menemui berbagai ujian, tantangan, dan rintangan yang menerpa hubungan. Hal ini terkadang, justru menimbulkan kekhawatiran dan kesedihan bagi pasangan. Maka, diperlukan fondasi yang kuat untuk setiap pasangan menghadapi ujian di masa mendatang dan meningkatkan peluang untuk memiliki pernikahan langgeng pun bahagia.

Banyak pasangan yang meyakini bahwa cinta adalah satu-satunya fondasi dari setiap pernikahan yang bahagia. Namun, cinta saja tidak cukup untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Dibutuhkan beberapa komponen inti yang mendalam, antara kedua pasangan untuk membangun pernikahan yang langgeng dan mampu melewati badai dalam hubungan mereka.

Apa itu fondasi dalam pernikahan?

Fondasi dalam hubungan didefinisikan sebagai aspek-aspek yang mendasari hubungan tersebut. Fondasi pernikahan yang baik dibangun atas dasar rasa saling menghormati, komunikasi yang efektif, kepercayaan, nilai-nilai bersama, dan komitmen terhadap pertumbuhan dan kompromi terhadap pasangan. Hal ini juga melibatkan perkembangan hubungan emosional yang mendalam, mendukung tujuan dan impian satu sama lain, dan melakukan dialog yang terbuka dan jujur ​​untuk menghadapi tantangan secara bersama-sama dengan cinta dan pengertian.

Baca juga: Rahasia Pasangan Bahagia: Bagaimana Tetap Jatuh Cinta dalam Pernikahan

Berikut beberapa fondasi utama untuk membangun pernikahan yang kokoh:

  1. Commitment

Komitmen berarti menempatkan kebutuhan pasangan di atas kebutuhan kita sendiri. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa indikator terbaik dari pernikahan yang sejahtera adalah seberapa baik setiap pasangan merasa kebutuhannya terpenuhi. Contohnya, ketika suami yang hanya berfokus pada kebutuhan dirinya sendiri dan melupakan kebutuhan sang istri. Suami akan cenderung merasa jengkel dan kecewa ketika kebutuhannya tidak terpenuhi. Di sisi lain, suami akan merasa puas ketika ia berfokus pada kebutuhan sang istri dan bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara kreatif.

Komitmen juga berarti menunjukkan keinginan untuk melanjutkan pernikahan, memiliki stabilitas pernikahan, mengekspresikan cinta, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih tepat.  Komitmen berarti bahwa setiap anggota keluarga saling setia satu sama lain ketika sedih dan bahagia, juga pada saat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam hidup (Gao, 2001).

Menurut Temple (2023), terdapat tiga jenis komitmen yang dapat memberikan keseimbangan dan pengabdian dalam hubungan:

  • Komitmen Pribadi dimulai dengan kalimat, “Saya ingin”. Jika couples memiliki komitmen pribadi, pikiran yang muncul terkait pernikahan adalah “Saya ingin bertahan dalam pernikahan saya.” Couples akan merasakan kesenangan atau kegembiraan dari hal-hal yang menjadi komitmen pribadi.
  • Komitmen Moral juga dikenal sebagai, “Saya Harus”. Komitmen moral berarti berkomitmen karena kepercayaan bahwa hal tersebut adalah hal yang benar untuk dilakukan. Hal ini dapat mencakup bertahan dalam sebuah pernikahan karena seperangkat nilai atau keyakinan tertentu. Contohnya, “Saya membuat komitmen di hadapan Tuhan dan saya harus menepati komitmen saya”.
  • Komitmen Struktural dimulai dengan kalimat, “Saya Harus”. Komitmen struktural berarti couples akan merasa bahwa alasan untuk harus tetap bertahan dalam pernikahan adalah demi anak-anak, biaya perceraian yang mahal, atau tetap bersama karena anda mungkin khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri.

Komitmen adalah faktor utama untuk kehidupan pernikahan dan memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan dan kesejahteraan pernikahan. Ketiadaan komitmen akan dapat merusak janji pernikahan dan menggoyahkan fondasi keluarga, yang dapat berujung pada perceraian (Hosseini et al., 2015).

“If you truly love someone, you will work hard for the relationship. That is what commitment means in marriage.”

 

2. Communication

Jenis komunikasi ini bukan hanya tentang bertukar informasi,  tetapi mengenai komunikasi yang mendalam untuk saling berbagi perasaan, rasa sakit, dan sukacita. Namun, membangun komunikasi tentu bukan hal yang mudah, salah satu faktornya karena pria dan wanita memiliki perbedaan dalam kemampuan linguistik, terutama dalam menyampaikan perasaan yang dirasakan. Couples perlu memahami bahwa meskipun sulit, komunikasi adalah keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh setiap individu. Pergi bersama pasangan sekadar untuk jalan santai atau keluar untuk makan malam, dapat menjadi cara untuk memancing terjadinya percakapan bersama pasangan, hal ini dapat menjaga hubungan dan cinta tetap hidup. Couples dapat menyediakan waktu untuk membangun percakapan yang bermakna dengan pasangan anda.

Komunikasi yang baik dicerminkan dengan pasangan yang lebih siap untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan mereka secara efektif. Komunikasi ini mengarah pada pemahaman dan empati yang lebih besar dalam hubungan, sehingga setiap pasangan nantinya akan belajar bagaimana mendengarkan secara aktif, memvalidasi perspektif satu sama lain, dan berkomunikasi secara konstruktif, bahkan selama masa-masa konflik. Komunikasi yang lebih baik, tidak hanya memfasilitasi penyelesaian konflik yang ada, tetapi juga menumbuhkan rasa keterhubungan dan keintiman yang lebih dalam. Pembekalan keterampilan berkomunikasi secara terbuka dan jujur, memainkan peranan penting dalam memperkuat fondasi hubungan pernikahan dan meningkatkan kepuasan pernikahan jangka panjang.

3. Patience

Di dunia yang didominasi oleh kehidupan yang serba cepat, kesabaran adalah sebuah kebajikan yang sering diabaikan, terutama dalam dinamika hubungan yang kompleks. Dalam masyarakat modern, kualitas yang penting dan sakral ini tidak hanya langka tetapi juga sering diremehkan, dibayangi oleh kesibukan dan kesegeraan yang menjadi tuntutan kehidupan modern.

Pernikahan, terutamanya membutuhkan waktu dan perhatian untuk menjadi benar-benar indah. Itu berarti kita semua belajar yang namanya kesabaran. Kesabaran berarti tetap bersikap terbuka dan hadir (bertahan) dalam suatu hubungan, bahkan ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan kita. Hal ini mencakup sikap menerima ketidakpastian dan cukup perhatian untuk memahami emosi kita, sehingga kita dapat merespons dengan bijaksana daripada bereaksi secara impulsif. Kesabaran memungkinkan kita untuk memberikan pasangan kita ruang yang mereka butuhkan untuk tumbuh, sambil juga memberikan kita kesempatan untuk mengelola konflik secara lapang dada.

Di luar kebiasaan sehari-hari dan kekurangan pasangan yang harus kita terima, kesabaran dibutuhkan untuk jangka panjang pernikahan. Mungkin perlu waktu bertahun-tahun bagi couples untuk dapat mengembangkan jenis hubungan yang memuaskan kedua belah pihak. Dimana banyak orang yang tidak memiliki kesabaran untuk menunggu hal-hal tersebut terjadi dan berkembang dalam pernikahan mereka. Tapi, jika kita bersedia untuk sabar dan bertahan, pernikahan bersama pasangan dapat menjadi perjalanan yang menakjubkan akhirnya.

“True love stands by each other’s side on good days and stands closer on bad days”

 

4. Honor and Respect

Setiap orang tentu mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Memahami, menghargai, dan beradaptasi dengan perubahan pasangan dan dinamika rumah tangga, menjadi hal yang sangat penting bagi setiap hubungan. Menghargai seseorang berarti menghormati dan mengapresiasi orang tersebut. Memberi kehormatan berarti menerima dan menghargai seseorang apa adanya tanpa harus setuju dengan mereka dalam semua hal.

Menunjukkan rasa hormat tidak didasarkan pada perasaan, namun melalui sebuah tindakan. Ini adalah sikap penuh kasih untuk bertanya kepada pasangan terkait apa yang dirasa membuat mereka merasa dihormati atau tidak dihormati. Ketika kita saling menghargai satu sama lain, kita menjunjung tinggi batasan-batasan yang sehat dengan menunjukkan rasa saling menghargai.

Couples dapat memulai dengan membuat sebuah daftar yang berisi hal-hal tentang mereka yang membuat diri kita tersenyum. Daftar ini bisa berisi hal-hal luar biasa yang mereka katakan atau lakukan, momen-momen lucu bersama, dan hal-hal yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya yang kita sangat hargai. Daftar ini mengingatkan akan alasan mengapa kita mencintai pasangan kita dan akan sangat membantu untuk melihatnya kembali saat kita sedang merasa kesal dengan pasangan kita. Latihan ini akan membantu kita mengingat mengapa kita jatuh cinta pada mereka sejak awal. Hal ini juga membantu untuk menyuarakan seberapa besar kita menghargai dan menerima segala keunikan pasangan kita.

Fondasi penting lainnya terkait dengan kepuasan pernikahan jangka panjang meliputi menemukan titik tengah, penerimaan, dan penghormatan terhadap kepribadian satu sama lain, serta mendukung pertumbuhan individu satu sama lain, dan menanamkan rasa puas terhadap kemampuan pasangan kita.

Jangan pernah berhenti untuk memperkuat fondasi pernikahan karena membangun fondasi pernikahan seperti halnya menanam pohon. Dibutuhkan banyak waktu, kesabaran, dan perawatan yang tepat untuk pohon dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah yang manis, sama seperti pernikahan yang dijalani. Mari kita bersama dengan pasangan kita, terus membangun fondasi pernikahan yang kokoh yang mampu menghadapi segala badai kehidupan.

“No relationship is all sunshine. But two people, who can share one umbrella and survive the storm together.”

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program khusus bagi anda dan pasangan yaitu Journey to Us. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram ke @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Gao, G. (2001). Intimacy, passion, and commitment in Chinese and US American romantic relationships. International Journal of Intercultural Relations, 25(3), 329–342. https://doi.org/10.1016/s0147-1767(01)00007-4 

Hosseini, A., Zahrakar, K., Davarnia, R., Shakarami, M., & Mohammadi, B. (2015). The Relationship between Marital Commitment with Personality Traits. Journal of Sabzevar University of Medical Sciences, 22(5), 788–796. http://jsums.medsab.ac.ir/article_757.html?lang=en 

Singapore, F. (2024, November 1). Foundations of a Lifelong Marriage – Focus on the family Singapore. Focus on the Family Singapore – Helping Families Thrive. https://family.org.sg/articles/foundations-of-a-lifelong-marriage/ 

Temple, M. (2023, December 13). Make your marriage a stronghold. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/marriage/strengthening-marital-commitment/

 

Marriage

Ketika Diam Menjadi Masalah, Menangani Silent Treatment dalam Pernikahan

Couples, apakah anda pernah mengalami ketidaknyamanan karena keheningan yang diberikan oleh pasangan anda?

Silent treatment bisa menjadi salah satu pengalaman yang paling menyakitkan dalam suatu hubungan. Pengalaman ini dapat membuat kita merasa tidak terlihat, tidak didengar, dan merasa  sendirian. Maka dari itu, perlu adanya pemahaman terkait silent treatment agar pasangan dapat bekerja sama untuk menciptakan komunikasi yang lebih sehat dan konstruktif. 

Apa itu Silent treatment?

Silent treatment mengacu pada berbagai perilaku, seperti menghilangkan kontak mata, tidak berbicara dan mendengarkan yang dimaksudkan untuk menghindari komunikasi verbal atau/dan mengabaikan orang lain (Williams, 1997). Silent treatment sering kali digunakan sebagai sarana hukuman, manipulasi emosional, atau kontrol. Hal ini dapat membuat pasangan yang menerima perlakuan merasa tidak berharga, tidak dicintai, terluka, bingung, frustrasi, dan kecewa. Meskipun perilaku ini sering terjadi dalam hubungan intim atau romantis, silent treatment juga dapat terjadi dalam hubungan antar anggota keluarga, teman, atau rekan kerja.

Semakin lama, silent treatment yang dilakukan dapat berubah menjadi bentuk kekerasan emosi bagi pihak yang diabaikan. Walaupun ada berbagai alasan mengapa seseorang memilih untuk mengabaikan, tindakan ini kerap membawa dampak buruk pada suatu hubungan. Ketika diam digunakan sebagai alat untuk mengendalikan hubungan, maka diam tersebut menjadi bentuk manipulasi yang tidak sehat. Akan tetapi, jika diam hanya dijadikan sebagai jeda sementara untuk mengumpulkan pikiran sebelum kembali membahas persoalan, maka hal tersebut memiliki makna yang berbeda.

Mengapa Pasangan Menggunakan Silent Treatment 

Buss et al. (1987) berpendapat bahwa dalam hubungan asmara, pasangan seringkali saling memanipulasi dengan cara mengabaikan (silent treatment) untuk mencapai tujuan masing-masing.

  • Gangguan Komunikasi

Salah satu alasan utama pasangan melakukan silent treatment adalah gangguan komunikasi. Ketika individu kesulitan dalam mengkomunikasikan perasaan, pikiran, atau kebutuhannya dengan jelas, hal ini dapat menimbulkan rasa frustrasi dan ketidakberdayaan. Dalam kondisi demikian, diam mungkin menjadi satu-satunya cara yang mereka anggap paling mudah untuk mengatasi emosi yang bergejolak.

  • Tindakan perlindungan diri secara emosional

Dalam beberapa situasi, individu mungkin memilih untuk melakukan silent treatment sebagai bentuk perlindungan diri secara emosional. Mereka mungkin merasa rentan atau terancam oleh tindakan atau perkataan pasangannya dan memilih untuk menarik diri sebagai bentuk pertahanan diri. Perilaku ini seringkali dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu atau trauma yang membuat individu sulit untuk mempercayai dan membuka diri pada orang lain.

  • Menegaskan kekuasaan dan kontrol

Dorongan untuk mendominasi dan mengendalikan pasangan seringkali menjadi motivasi di balik silent treatment. Individu yang melakukan hal ini bertujuan untuk menunjukkan kekuasaannya, mengendalikan situasi, atau memberikan hukuman atas kesalahan yang dianggap telah dilakukan oleh pasangannya. Dinamika kekuasaan yang tidak sehat ini dapat memicu kebencian dan kemarahan yang lebih dalam dalam hubungan. Ketika komunikasi terputus akibat silent treatment, pihak yang diabaikan akan berusaha keras untuk menjalin kembali komunikasi verbal. Sikap mengabaikan ini justru membuat pelaku merasa dirinya benar, berkuasa, dan mengendalikan situasi, sementara korban merasa kebingungan dan takut kehilangan.

The Negative Impact of Silent Treatment

Meski silent treatment digunakan dalam waktu yang singkat, hal ini tetap dapat menyebabkan rasa sakit sosial pada pihak yang diabaikan karena mengaktifkan daerah otak yang sama yang bertanggung jawab atas rasa sakit fisik (Eisenberger, Lieberman, & Williams, 2003). Silent treatment juga dapat mengganggu kestabilan seseorang karena hal ini dapat menyebabkan banyak kebingungan dan keraguan dalam diri individu. Mereka yang diabaikan akan mempertanyakan diri mereka sendiri, terutama saat ia bahkan tidak tahu mengapa pasangan mereka memberikan silent treatment. Secara khusus, silent treatment mengancam empat kebutuhan dasar manusia, yaitu needs of belonging, self-esteem, control, and meaningful existence (Williams 2009).

Salah satu dampak paling nyata dari tindakan mengabaikan adalah tekanan emosional dan perasaan terisolasi. Individu yang diabaikan akan merasa terputus dari kasih sayang dan dukungan pasangannya, sehingga menimbulkan perasaan kesepian, ditinggalkan, dan perasaan tidak dicintai atau tidak dianggap penting. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membahayakan kesehatan mental dan emosional. Selain itu, kepercayaan dan keintiman dalam hubungan juga akan terkikis. Jarak emosional yang semakin lebar akibat silent treatment akan melemahkan ikatan pasangan, menyebabkan hilangnya kepercayaan dan berkurangnya rasa aman. Hilangnya kepercayaan ini dapat menyulitkan pasangan untuk berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka secara terbuka, sehingga semakin memperburuk gangguan komunikasi. Ketika pasangan terlibat dalam kondisi silent treatment, konflik sering kali tidak terselesaikan. Kurangnya komunikasi membuat pasangan tidak dapat mendiskusikan masalah mereka, menemukan titik temu, dan bekerja sama untuk menemukan solusi. Akibatnya, konflik yang tidak terselesaikan ini dapat menciptakan lingkungan yang tidak baik bagi kedua pasangan dan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Silent treatment is abusive for empaths. They thrive in relationships where communication is a key” – Jane Light

 

Bentuk-bentuk Silent treatment

  • Dengan sengaja atau secara terang-terangan mengabaikan pasangannya.
  • Pergi tanpa memberi tahu kemana mereka akan pergi atau kapan mereka akan kembali.
  • Tidak memberikan respons ketika pasangannya mencoba berkomunikasi, baik secara langsung atau melalui media elektronik.
  • Mereka berbicara dengan orang lain, tetapi tidak mau berbicara dengan pasangan.
  • Menghindari kontak fisik, percakapan, dan menarik diri dari aktivitas bersama pasangan.

Merespons Silent Treatment oleh Pasangan

Couples, dengan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif, kita dapat meminimalisir penggunaan silent treatment, memperkuat hubungan, membuka peluang untuk memperbaiki interaksi, serta mengelola konflik dengan cara yang lebih sehat.

  • Tetapkan Batasan yang Sehat

Menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan adalah penting untuk menentukan kapan diam dan jarak sudah melewati batas toleransi bersama. Batasan ini dapat sekaligus menjadi cara menyampaikan bahwa apa yang pasangan lakukan (silent treatment) menyakitkan dan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan atau akan ditolerir dalam hubungan tersebut.

  • Ciptakan Percakapan yang Terstruktur

Cara untuk menciptakan komunikasi yang sehat dalam sebuah hubungan adalah dengan menciptakan percakapan yang terstruktur. Salah satu caranya adalah dengan mengubah pola komunikasi kita, termasuk mempelajari cara berdebat yang sehat. Meskipun kita merasa marah atau ingin membalas pasangan kita, cobalah gunakan pernyataan “Aku” untuk mengungkapkan perasaan tanpa menyalahkan pasangan. Misalnya, “Aku merasa terluka ketika kamu mengabaikanku”. Selain itu, ajak pasangan untuk membicarakan masalah ini dengan cara yang lebih konstruktif.

  • Meminta Pasangan untuk Berbagi Perasaan

Hal ini akan membuat mereka tahu bahwa perasaan mereka penting dan valid, cara ini dapat  membuka jalan untuk membangun percakapan yang lebih terbuka. Cobalah untuk tetap hadir dan dengarkan dengan penuh empati, ketika pasangan sedang mencoba untuk berbagi mengenai perasaannya.

  • Minta Maaf Bila Melakukan Kesalahan

Hindari meminta maaf atau menyalahkan diri sendiri atas silent treatment yang diberikan oleh pasangan. Namun, jika kita telah melakukan kesalahan yang menyebabkan perasaan pasangan terluka, permintaan maaf adalah langkah yang bijaksana.

  • Konseling Pasangan

Konseling mungkin bisa membantu, jika couples mengalami kesulitan untuk mengubah pola komunikasi dalam hubungan. Dengan bantuan orang yang netral, couples berdua dapat belajar  untuk mengekspresikan perasaan, sehingga dapat menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat dan memiliki cara yang lebih efektif dalam berkomunikasi bersama pasangan. 

Silent treatment bukanlah cara yang sehat untuk menyelesaikan konflik dalam hubungan.  Silent treatment mungkin tampak seperti solusi mudah untuk menghindari konflik, namun dampaknya yang merusak dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam dan sulit disembuhkan. Menghukum pasangan dengan bersikap diam bukanlah solusi yang tepat untuk dilakukan. Komunikasi yang sehat adalah fondasi dari hubungan yang baik. Dengan berbicara terbuka, kita dapat menyelesaikan masalah dan memperkuat ikatan di antara pasangan. Jika couples merasa kesulitan untuk dapat berkomunikasi dan mengutarakan perasaan, jangan ragu untuk mencari bantuan

“Unexpressed emotions will never die. They are buried alive, and will come forth later, in uglier ways.”Sigmund Freud

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program khusus bagi anda dan pasangan yaitu Journey to Us. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram ke @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Buss, D. M., Gomes, M., Higgins, D. S., & Lauterbach, K. (1987). Tactics of manipulation. Journal of Personality and Social Psychology, 52(6), 1219–1229. https://doi.org/10.1037/0022-3514.52.6.1219 

Eisenberger, N. I., Lieberman, M. D., & Williams, K. D. (2003). Does rejection hurt? An FMRI study of social exclusion. Science, 302(5643), 290–292. https://doi.org/10.1126/science.1089134 

Gomes, W. (2023, April 6). The Toxic Echoes of Silence: Unmasking the harmful impact of the silent treatment in romantic relationship. Medium. https://medium.com/@wngomes/the-toxic-echoes-of-silence-unmasking-the-harmful-impact-of-the-silent-treatment-in-romantic-7c5cc2b0abe6 

Williams, K. D. (1997). Social ostracism. In Springer eBooks (pp. 133–170). https://doi.org/10.1007/978-1-4757-9354-3_7 

Williams, K. D. (2009). Chapter 6 Ostracism. In Advances in experimental social psychology (pp. 275–314). https://doi.org/10.1016/s0065-2601(08)00406-1

UncategorizedParenting

Apresiasi untuk Para Ibu di Seluruh Dunia

Menjadi seorang Ibu adalah perjalanan panjang yang penuh pengorbanan, kerja keras, dan cinta yang tak terhitung. Dimana setiap langkah yang Ibu ambil selalu ditujukan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anaknya. Meskipun, sering kali kita menyepelekan atau “take it for granted” setiap perjuangan yang sudah dilakukan Ibu kepada kita, anaknya.

Sejarah Hari Ibu bermula dari berbagai tradisi di berbagai negara. Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember, yang bertepatan dengan peringatan Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diadakan pada 22-25 Desember 1928. Kongres tersebut menjadi momentum penting dalam perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Salah satu hasilnya adalah pengakuan terhadap peran ibu dalam membangun bangsa melalui pendidikan dan pembentukan karakter keluarga. Setiap tanggal 22 Desember bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga dapat kita gunakan untuk merefleksikan dan mengapresiasi peran ibu dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Hari tersebut memberikan kesempatan untuk setiap anak dan keluarga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Ibu yang telah mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan kasih sayang demi kebahagiaan mereka. Ibu bukan sebatas figur biasa, tetapi Ibu adalah figur luar biasa di setiap keluarga. Ibu bukan hanya berperan besar dalam hidup sang anak, tapi Ibu sering kali menjadi tiang utama dalam keluarga yang menjaga keharmonisan rumah tangga, serta memberikan ketenangan dan motivasi untuk anak-anaknya.

I can imagine no heroism greater than motherhood” – Lance Conrad

 

Ibu adalah sosok yang sangat spesial dalam hidup kita karena peran dan pengorbanannya yang luar biasa. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Ibu menjadi sosok yang begitu spesial dan sangat mungkin bila kita tidak akan pernah bisa mendeskripsikan keseluruhan cinta Ibu pada anak dan keluarganya.

  • Kasih Sayang Tanpa Syarat

Ibu adalah orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat karena kasih sayang Ibu tidak tergantung pada apapun, di segala waktu dan kondisi yang ada. Cinta ibu adalah cinta yang tulus dan abadi yang selalu ada, bahkan saat kita membuat kesalahan dan dunia tidak berpihak pada kita.

  • Pengorbanan dan Perjuangan

Ibu adalah orang pertama yang mencintai kita tanpa syarat karena kasih sayang Ibu tidak tergantung pada apapun, di segala waktu dan kondisi yang ada. Cinta ibu adalah cinta yang tulus dan abadi yang selalu ada, bahkan saat kita membuat kesalahan dan dunia tidak berpihak pada kita.

  • Pendukung Terbesar

Saat semuanya terasa sulit, saat banyak tantangan dan kesulitan yang kita rasakan. Ibu akan selalu ada untuk menjadi tempat kita pulang dan menemukan kembali semangat, juga keyakinan untuk bangkit.

  • Pendidik Pertama

Seperti yang banyak orang ketahui, Ibu adalah guru pertama bagi anak. Ia mengajarkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, rasa hormat, kerja keras, kasih sayang, dan banyak lagi. Dari ibu, kita belajar tentang kehidupan dan peran mereka sebagai pendidik sangat menentukan bagaimana kita tumbuh dan berkembang.

  • Pemahaman Tanpa Kata

Ibu sering kali dapat memahami perasaan kita tanpa kita perlu mengungkapkannya. Hubungan Ibu dan anak sering kali begitu dekat, sehingga Ibu bisa merasakan apa yang anaknya rasakan bahkan ketika kita tidak mengatakannya. Kemampuan ibu untuk memahami kebutuhan emosional sang anak menjadikannya sosok yang sangat istimewa.

  • Pengaruh yang Mendalam dalam Kehidupan

Ibu memiliki pengaruh yang mendalam dalam membentuk siapa kita hari ini. Ia tidak hanya membimbing kita dalam hal-hal praktis, tetapi juga memberikan nilai dan keyakinan yang memengaruhi pandangan hidup kita. Dalam banyak hal, cara kita melihat dunia ini sangat dipengaruhi oleh ajaran dan contoh yang diberikan oleh Ibu.

All that I am or hope to be. I owe it to my mother” – Abrahan Lincoln

Cara merayakan Hari Ibu akan berbeda tergantung dengan situasi dan kondisi setiap keluarga. Namun, ada banyak cara pula yang bisa kita lakukan untuk mengekspresikan tanda terima kasih dan kasih sayang kepada Ibu. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk merayakan hari tersebut, yang penting adalah ketulusan dalam menunjukkan rasa terima kasih kita.

Memberikan Hadiah Spesial

Hadiah adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada ibu. Hadiah yang diberikan bisa berupa barang yang Ibu sukai atau pengalaman yang dapat mempererat hubungan, seperti makan malam bersama atau pergi liburan singkat.

Berkumpul Bersama Keluarga

Hari Ibu adalah waktu yang sempurna untuk berkumpul bersama keluarga. Mengadakan makan bersama atau berkumpul di rumah untuk mengenang kenangan indah bersama Ibu akan memberikan suasana yang hangat dan penuh cinta. Selain makan bersama, keluarga juga dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan di rumah, seperti memasak bersama, menonton film, karaoke, atau kegiatan lain yang Ibu sukai.

Membantu Ibu dengan Pekerjaan Rumah

Pada Hari Ibu, memberikan ibu kesempatan untuk beristirahat dan tidak terjebak dengan pekerjaan rumah tangga adalah cara yang penuh makna. Menawarkan bantuan untuk memasak dan membersihkan rumah, bisa menjadi bentuk apresiasi yang sangat dihargai oleh Ibu.

Memberikan Perhatian Emosional

Terkadang, setelah dalam waktu lama Ibu menjadi sosok yang kuat dan tangguh dalam keluarga. Ibu juga membutuhkan waktu untuk berbicara dan merasa didengar. Kita dapat menjadi pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita Ibu, berbagi momen kebahagiaan, kesulitan, atau hanya memberikan pelukan hangat kepada Ibu. Hal-hal ini dapat membuatnya merasa sangat dihargai.

Menulis Surat atau Pesan Terima Kasih

Menulis surat atau pesan terima kasih yang tulus adalah cara yang sangat berarti untuk mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih kita. Mulai dengan menceritakan betapa besar peran Ibu dalam hidup kita dan bagaimana Ia membentuk siapa kita sekarang. Melalui surat atau pesan, kita bisa menunjukkan betapa berharganya Ibu dalam hidup kita.

Membuat Kolase Kenangan atau Album Foto

Kolase foto kenangan atau album foto dapat dibuat sebagai cara untuk mengenang momen-momen indah bersama Ibu. Album foto dapat menjadi hadiah yang menyentuh hati dan mengumpulkan semua kenangan yang tak terlupakan.

Mendukung Ibu dalam Hobi atau Aktivitasnya

Memberikan waktu kepada Ibu untuk melakukan hobi atau aktivitas yang Ia cintai, bisa menjadi cara yang sangat berarti untuk merayakan Hari Ibu. Misalnya, jika Ibu suka berkebun, kita bisa membelikan Ibu beberapa koleksi tanaman baru, peralatan berkebun, dan membantu menghias kebunnya agar Ibu bisa terus berkebun dengan nyaman. 

Piknik di Taman

Menghabiskan waktu bersama ibu dengan piknik di taman adalah cara yang santai dan menyenangkan, kita bisa membawa makanan favorit Ibu dan menikmati waktu berkualitas di alam terbuka, sambil berbincang atau menikmati pemandangan. 

Berjalan-jalan di Pantai atau Taman Alam

Jika ibu menyukai alam, kita bisa mengajak Ibu untuk berjalan-jalan di pantai, hutan, atau taman alam agar Ibu merasa lebih rileks dan tenang.

Mengikuti Kelas atau Workshop Bersama

Kelas atau workshop yang bisa diikuti bersama Ibu, seperti kelas memasak, melukis, atau membuat kerajinan tangan. Hasil dari mengikuti kelas tersebut dapat dijadikan hadiah atau kenang-kenangan untuk Ibu.

Menyaksikan Pertunjukan atau Acara Hiburan

Mengajak Ibu untuk menonton pertunjukan atau menghadiri acara yang Ia sukai, seperti konser musik, teater, atau film. 

Hari Ibu adalah momen yang penuh makna untuk mengenang jasa dan pengorbanan Ibu. Perayaan ini tidak hanya sekadar memberikan hadiah, tetapi juga menghargai setiap peran yang telah Ibu berikan dalam kehidupan kita. Baik dengan cara yang sederhana atau istimewa, kita dapat membuat Hari Ibu menjadi momen yang tak terlupakan bagi sosok Ibu yang kita cintai. Bahkan kadang yang Ibu perlukan dari sang anak bukan sesuatu yang besar dan mewah, tapi sesederhana ketika kita dapat meluangkan waktu untuk menemui, mengobrol, dan menikmati masakan mereka.

Apa yang kita lakukan untuk merayakan Hari Ibu, tidak hanya terbatas pada tanggal 22 Desember atau hari tertentu, tetapi setiap hari adalah kesempatan untuk menunjukkan rasa cinta, penghargaan, dan terima kasih kepada Ibu.

Life doesn’t come with a manual, it comes with a Mum.” – Martha Brook

 

Bagi anda yang ingin mendapatkan info dan tips-tips untuk membangun keluarga, anda dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @focusonthefamilyindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi karena FOFI berdedikasi untuk memperlengkapi anda, membangun keluarga yang bahagia